<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Refleksi Sejarah dan Solidaritas Sosial: &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/refleksi-sejarah-dan-solidaritas-sosial/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 May 2026 09:09:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Refleksi Sejarah dan Solidaritas Sosial: &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Refleksi Sejarah dan Solidaritas Sosial: Perayaan Hari Pattimura ke-209 Digelar Meriah di Supiori</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/papua/refleksi-sejarah-dan-solidaritas-sosial-perayaan-hari-pattimura-ke-209-digelar-meriah-di-supiori</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2026 05:58:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[Digelar Meriah di Supiori]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Hari Pattimura ke-209]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi Sejarah dan Solidaritas Sosial:]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=5172</guid>

					<description><![CDATA[Penulis: Yohanis Chris Rumaropen  &#8211; SUARA ANAK NEGERI &#124; SUPIORI, 15 Mei 2026 -Di tengah arus pembangunan daerah yang kerap mengabaikan dimensi historis, masyarakat Maluku di Tanah Papua menegaskan eksistensi identitas kolektifnya melalui Peringatan Hari Pahlawan Nasional Pattimura ke-209 Tahun 2026. Acara yang digelar oleh Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Biak Numfor dan Supiori pada Rabu, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff6600;">Penulis: Yohanis Chris Rumaropen </span></p>
<p>&#8211;</p>
<p><span style="color: #000080;"><strong>SUARA ANAK NEGERI | SUPIORI,</strong> </span>15 Mei 2026 -Di tengah arus pembangunan daerah yang kerap mengabaikan dimensi historis, masyarakat Maluku di Tanah Papua menegaskan eksistensi identitas kolektifnya melalui <strong>Peringatan Hari Pahlawan Nasional Pattimura ke-209 Tahun 2026.</strong> Acara yang digelar oleh <strong>Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Biak Numfor dan Supiori</strong> pada Rabu, 15 Mei 2026, di Lapangan Apel Kantor Bupati Supiori, Kota Sorendiweri, berlangsung meriah, khidmat, dan sarat makna—menjadi ruang publik untuk merefleksikan nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan keberlanjutan budaya.</p>
<p>Perayaan ini dirancang sebagai <strong>gerakan partisipatif lintas generasi</strong>. Rangkaian kegiatannya mencakup <strong>bhakti sosial, donor darah, pelatihan public speaking, kompetisi olahraga rakyat, hingga panggung apresiasi seni</strong> yang melibatkan pemuda dan masyarakat umum. Pendekatan ini menunjukkan upaya strategis <strong>IKEMAL</strong> dalam mentransformasikan memori sejarah menjadi aksi sosial yang relevan dengan realitas kekinian.</p>
<p>Dalam sambutan pembuka, <strong><em>Ketua IKEMAL Biak Numfor dan Supiori, Turbey Onny Dangeubun, S.Pi., M.S.,</em></strong> menyampaikan penghormatan mendalam kepada <strong>Upulatu—</strong>istilah adat yang merujuk pada pemimpin formal dan spiritual—di Kabupaten Biak Numfor dan Supiori. Penghargaan tersebut ditujukan kepada <strong>Bupati, Wakil Bupati, Ketua dan anggota DPRD, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan TNI/Polri, Sekretaris Daerah, pejabat eselon II, serta para sesepuh dan Ketua Ikatan Kampung</strong>, yang disebut sebagai “kekuatan spiritual dalam semangat ale rasa beta rasa” untuk menjaga citra dan martabat orang Maluku di kedua kabupaten.</p>
<p>Tema tahun ini, <strong>“Pattimura Panggil Pulang: Pela Gandong Bikin Menang”,</strong> diusung berdasarkan arahan Pengurus Pusat <strong>IKEMAL</strong> Tanah Papua. Intinya, menurut panitia, adalah memperkuat kembali ikatan persaudaraan yang selama ini diikat oleh filosofi universal Maluku:</p>
<p>“<strong><em>Ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging.”</em></strong></p>
<p>Filosofi tersebut bukan sekadar ungkapan retoris, melainkan <strong>prinsip hidup yang menyatukan Maluku dari Halmahera hingga Tenggara Jauh,</strong> diwujudkan melalui empat nilai luhur warisan leluhur:</p>
<p>1. Lawamena Haulala – maju terus, pantang mundur;</p>
<p>2. Hotumese – berkembang dalam tantangan, tak gentar menghadapi kesulitan;</p>
<p>3. Hiti Hiti Hala Hala – berat sama dipikul, ringan sama dijinjing;</p>
<p>4. Masohi/Maren – semangat gotong royong dalam membangun kehidupan bersama.</p>
<p>“<strong><em>Kekuatan orang Maluku adalah soliditas, solidaritas, dan semangat persaudaraan,” tegas Onny Dangeubun, mengutip pesan turun-temurun: “Hidup orang saudara itu layang-layang: potong di kuku, rasa di daging.”</em></strong></p>
<p>Lebih jauh, ia menekankan bahwa <strong>Maluku bukan satu pulau, melainkan gugusan pulau yang ‘dijahit’ oleh lautan</strong>—sehingga karakter masyarakatnya dibentuk oleh samudera, ombak, dan harmoni dengan alam. Dalam konteks migrasi historis, <strong>Papua—khususnya Biak—disebut sebagai “pulau bapak”, </strong>sementara <strong>Maluku sebagai “pulau ibu”,</strong> menciptakan ikatan genealogis-simbolis yang memperkuat relasi antar etnis.</p>
<p>“Orang Maluku dan orang Biak adalah saudara. Banyak kesamaan, banyak persamaan. Kita punya rahim yang sama,” ujarnya, menegaskan bahwa hubungan ini telah terbangun selama puluhan, bahkan ratusan tahun melalui <strong>kulturasi budaya, perkawinan silang, dan kehidupan sosial yang saling menguatkan.</strong></p>
<p>Puncak acara ditandai dengan pertunjukan budaya simbolis—<strong>tari Cakalele</strong> sebagai representasi semangat perlawanan, <strong>pembakaran obor</strong> yang mengingatkan pada api perjuangan 1817, serta <strong>malam Badong</strong>, tradisi vokal kolektif Maluku yang menjadi metafora solidaritas. Penampilan artis lokal seperti <strong>Insos Ira</strong> turut memperkuat narasi inklusivitas, menghubungkan nostalgia budaya dengan ekspresi seni kontemporer.</p>
<p>Yang patut dicatat, kehadiran <strong>Bupati dan Wakil Bupati Supiori</strong>, serta <strong>Bupati dan Wakil Bupati Biak Numfor</strong> beserta rombongan, memberikan legitimasi politik terhadap inisiatif masyarakat sipil dalam melestarikan warisan sejarah. Dukungan institusional semacam ini penting dalam memastikan bahwa <strong>penghormatan terhadap pahlawan nasional</strong> <strong>tidak hanya menjadi retorika kenegaraan</strong>, tetapi juga diwujudkan dalam kebijakan yang mendukung keberagaman budaya dan hak-hak komunitas etnis minoritas.</p>
<p>Melalui momentum ini, <strong>nasionalisme Indonesia dibuktikan bukan sebagai homogenisasi budaya, melainkan sebagai rumah bagi keberagaman yang saling menghormati.</strong> Dalam konteks otonomi khusus dan desentralisasi, peristiwa semacam ini membuktikan bahwa <strong>komunitas etnis dapat menjadi aktor kunci dalam membangun ketahanan sosial budaya</strong>, selama ruang partisipasi dan pengakuan diberikan secara adil oleh negara.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
