Kamis, 03 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Main Padel di Usia 50+: Bukan Sekadar Olahraga

Elza Peldi Taher

Sudah dua bulan ini, setiap Rabu malam, ada pemandangan menarik di Padel District Ciputat. Sejumlah lelaki berusia 50 tahun ke atas datang membawa raket untuk bermain bersama dalam Mabar Golden Age 50+. Mabar seperti ini mungkin tidak banyak karena padel lebih sering dipenuhi pemain muda. Saya sendiri ikut bermain di dalamnya dan melihat bagaimana satu malam dalam seminggu ternyata bukan hanya menjadi waktu untuk berolahraga, tetapi juga ruang untuk bertemu, bercanda, dan menikmati hidup bersama orang-orang yang berada dalam fase usia yang kurang lebih sama.

Baca juga: DARI RUMAH, MENYALAKAN CAHAYA RANAH MINANG

Para pemain datang dengan beragam latar belakang dan usia. Ada Pak Tigor yang sudah berusia 74 tahun, tetapi masih bersemangat mengejar bola. Ada Pak Tom, seorang pilot yang masih aktif. Kadang-kadang begitu pesawat yang diterbangkannya mendarat, ia langsung menuju Padel District untuk bermain. Ada pula yang datang bersama anaknya. Sang anak terkadang ikut bermain, terkadang hanya duduk menonton ayahnya berlari mengejar bola. Pemandangan sederhana seperti itu terasa menyenangkan. Usia ternyata tidak harus membuat seseorang berhenti bermain.

Padel memang datang pada waktu yang tepat bagi generasi 50 tahun ke atas. Banyak di antara mereka sebelumnya adalah pemain tenis. Ketika usia bertambah, bermain tenis tentu semakin berat karena lapangannya luas dan membutuhkan stamina lebih besar. Padel menawarkan permainan yang tidak terlalu asing: ada raket, net, bola, forehand dan backhand, tetapi dengan ukuran lapangan yang jauh lebih kecil. Bagi mereka yang puluhan tahun akrab dengan tenis, berpindah ke padel seperti menemukan rumah baru. Mereka tetap bisa memukul bola, berlari, dan berkompetisi, tetapi dengan beban fisik yang relatif lebih bersahabat dengan usia.

Maka setiap Rabu malam menjadi sedikit istimewa. Para pemain datang bukan semata-mata untuk mengejar bola atau mencari kemenangan. Ada kegembiraan lain ketika bertemu dengan orang-orang yang berada dalam rentang usia hampir sama. Obrolan mudah tersambung: tentang pekerjaan, anak-anak yang sudah besar, pengalaman masa muda, masa pensiun, perjalanan hidup, hingga olahraga. Orang-orang seusia biasanya memiliki banyak referensi dan pengalaman yang serupa. Mereka tumbuh dalam zaman yang kurang lebih sama dan sedang melewati tahap kehidupan yang hampir sama pula. Barangkali itulah sebabnya berkumpul dengan teman sebaya terasa menyenangkan: ada banyak hal yang dapat dipahami tanpa harus diterangkan panjang lebar.

Baca juga: Jumat Aksi Seni FPS-TIM Angkat Solidaritas untuk Flores, NTT

Secara psikologis, ketika usia bertambah, orang memang cenderung semakin menghargai hubungan sosial yang memberi rasa nyaman dan bermakna. Lingkaran pergaulan mungkin tidak lagi seluas ketika muda, tetapi kualitas pertemuan menjadi semakin penting. Anak-anak telah tumbuh dengan kehidupan masing-masing, kesibukan pekerjaan mulai berkurang, bahkan sebagian sudah pensiun. Namun kebutuhan untuk mempunyai teman, bercanda, didengar, dan merasa menjadi bagian dari sebuah lingkungan sosial tidak ikut pensiun. Mabar Golden Age tanpa sengaja menyediakan ruang semacam itu. Olahraga menjadi pintu masuk, sementara pertemanan tumbuh di sekelilingnya.

Yang menarik, pembicaraan justru tidak banyak berkisar pada penyakit. Padahal ketika orang berusia 50, 60, bahkan 70 tahun berkumpul, percakapan mudah sekali berubah menjadi cerita tentang kolesterol, gula darah, lutut, obat, dokter, dan berbagai keluhan tubuh. Di lapangan padel ceritanya berbeda. Yang terdengar justru kapan bermain lagi, bagaimana menjaga badan tetap bergerak, siapa yang pukulannya semakin bagus, atau siapa yang malam itu paling banyak membuat kesalahan. Sesekali terdengar tawa ketika bola gagal dikembalikan atau pukulan yang dibayangkan hebat ternyata malah menyangkut di net. Daripada terus membicarakan penyakit, mereka memilih membicarakan kesehatan. Daripada mengeluhkan usia, mereka memilih menikmati usia.

Setelah dua bulan berada di dalamnya, saya mulai merasa bahwa yang dicari orang-orang ini sebenarnya bukan sekadar padel. Raket hanyalah alat yang mempertemukan. Bola yang memantul dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya menjadi alasan untuk terus bergerak. Tetapi di balik semuanya, ada sesuatu yang jauh lebih penting yang sedang dirawat: tubuh yang tetap aktif, pertemanan yang tetap hidup, dan kegembiraan yang jangan sampai hilang hanya karena usia terus bertambah.

Menjadi tua memang tidak dapat dihindari. Tubuh perlahan berubah dan kemampuan tidak lagi sama seperti ketika berusia 20 atau 30 tahun. Tetapi bagaimana menjalani usia yang terus bertambah masih dapat dipilih. Setiap Rabu malam, di sebuah lapangan padel di Ciputat, saya melihat orang-orang berusia 50, 60, bahkan 70 tahun memilih menjalaninya dengan raket di tangan, keringat di tubuh, dan tawa bersama teman-teman.

Barangkali ada pelajaran sederhana dari lapangan kecil itu: jangan berhenti bermain hanya karena kita bertambah tua. Justru teruslah bermain agar kita menikmati menjadi tua.

Pondok Cabe Udik 3 September 2026

Elza Peldi Taher

Kategori:
Tags:

Terkini