Kamis, 15 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Asap Itu Begitu Mencekik

Oleh: Swary Utami Dewi

–

JAKARTA – SUARA ANAK NEGERI| “Hari ini saya sudah menghabiskan dua tabung oksigen kecil. Napas sesak. Jarang pandang terbatas. Sekarang hanya sekitar 20 meter jarak pandang di dalam rumah. Asap kuning ini membuat kami merasa hidup di dunia lain.”

Baca juga: MENELAAH PASAL 37 UUD 1945 BAGI RAKYAT KITA

Itulah komentar sedih kakak saya di grup WhatsApp (WA) keluarga. Ini sudah kesekian kalinya keluhan derita karena sesak napas, mata perih, kerongkongan tercekat, dan sebagainya muncul dari keluarga saya, yang bermukim di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Di grup WA lain khusus Kalimantan Selatan kawan-kawan menceritakan hal yang kurang lebih sama. Jarak pandang pendek karena kabut yang begitu tebal menghalangi jarak pandang dan tentu saja membuat mereka merasa tersiksa karena sesak napas.

Begitulah yang dialami keluarga dan kawan-kawanku di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Saya tahu bahwa keluhan yang sama muncul dari kawan-kawan daerah lain, yang sudah berbulan-bulan terkepung asap tebal. Di beberapa daerah seperti Kalimantan Tengah asap seolah tak ada surutnya. Bahkan dirasa makin tebal dan mencekik seperti cerita hari ini di Palangkaraya. Ada pula asap di beberapa daerah lain, yang kadang tebal, kadang sedikit menurun, lalu tebal lagi. Intinya asap itu masih ada, belum mereda seperti yang diharapkan.

Baca juga: SAYA TAK BISA SEPERTI CHAIRIL ANWAR

Tentu saja kita semua sudah tahu asal-muasal asap ini. Tak perlu diperjelas lagi. Kebakaran hutan dan lahan alias karhutla-lah yang sedang terjadi, yang membuat begitu banyak orang di Kalimantan dan Sumatra tercekik berbulan-bulan. Aktivitas sosial dan ekonomi penduduk pun terhambat. Bahaya kecelakaan di jalan, terpaan infeksi saluran pernapasan jangka panjang, dan ancaman kesehatan lain sudah pasti mengintai mereka.

Parahkah karhutla kali ini dibanding kebakaran tahun-tahun sebelumnya? Saya mengintip data dan mendapatkan kesimpulan bahwa karhutla tahun 2026 ini tergolong sangat parah dan menjadi salah satu yang paling intens dalam 11 tahun terakhir. Meski dalam catatan intensitasnya tak separah kejadian tahun 1997, karhutla tetaplah karhutla. Ia tentu bukan hal sepele yang bisa diremehkan.

Kita juga tahu bahwa dalam setiap karhutla tidak hanya manusia yang terdampak. Tengoklah cuplikan satwa-satwa langka di Kalimantan Tengah, seperti orangutan dan burung enggang, yang harus menyelamatkan diri keluar dari hutan yang terbakar tanpa ampun. Satwa-satwa kunci ini harus berlarian keluar. Mereka tak tahu harus marah dan mengeluh ke siapa. Makin jelas bahwa dalam setiap karhutla kelangsungan ekosistem dan biodiversitas Indonesia –yang dikenal sebagai salah satu yang paling kaya dan beragam di dunia– terancam dan porak-poranda.

Sampai kapan semua ini berhenti? Kapan karhutla di Indonesia tak terjadi lagi? Siapakah yang harus disalahkan? Para pengusaha, yang bisa saja nakal curi-curi membakar demi menanam sawit? Para petani dan peladang berpindah yang kerap dikenai tuduhan membakar ? (Padahal setahu saya, untuk orang Dayak, mereka punya tradisi membuka lahan yang tak menyebabkan hutan terbakar.) Siapa yang harus bertanggung jawab dan dihukum? Bagaimana memastikan bahwa semua itu tak terulang lagi? Entahlah, semua ini masih bercampur aduk di kepala. Kegelisahan itu persis asap yang sedang mencekik leher saudara-saudara dan sahabat-sahabat saya di Kalimantan dan Sumatra.

Jika pada Senin, 12 Oktober 2026, ada laporan ke Presiden bahwa kebakaran hanya tersisa di 639,23 hektare di enam provinsi apakah ini artinya semua sudah terkendali? Lagi-lagi jawabannya, entahlah. Nyatanya sampai hari ini asap masih tebal dan bahkan meluas ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Pada akhirnya, kita semua berharap bahwa asap yang mencekik itu segera berlalu dan negara punya cara yang terbaik untuk memastikan karhutla tak pernah dan tak akan terjadi lagi.

15 Oktober 2026

–

Kategori:
Tags:

Terkini