Empat Jam Menuju Akad Nikah, Suara Saya Lenyap!
Catatan Alek: Pinto Janir
–
Baca juga: Boat “UNP Berdampak” Hadir di Danau Atas Alahan Panjang, UNP Dorong Wisata Air Berbasis Masyarakat
Empat jam menjelang akad nikah putri saya, suara saya lenyap.
Saya mencoba melafalkan kata, tetapi tak satu pun bunyi yang kunjung keluar. Yang terdengar hanya angin hampa dari kerongkongan.
Ondeh mak oi.
Ba-a aka lai ko?
Baca juga: Dosa
Inilah salah satu peristiwa paling menakutkan yang pernah saya alami.
Mungkin inilah yang disebut induk cameh itu. Kecemasan yang menyergap, seperti mancakik batang leher pita suara.
Putri saya satu-satunya akan menikah. Apa jadinya jika pada prosesi akad nanti suara saya tetap tak keluar?
Saya akan menyesal seumur hidup. Saya akan terus menyalahkan diri sendiri.
Saya merasa gagal sebagai seorang bapak jika tak bisa menikahkan anak sendiri hanya lantaran suara tak keluar.
Tak terbayangkan.
Baiklah, saya akan menceritakan rangkaian peristiwa menjelang pernikahan anak kami, 3 Oktober 2026, di Adzkia Conventions Padang.
Saya tiba di Padang pada Minggu, 13 September 2026. Pukul 10.30 WIB, saya sampai di BIM.
Kepulangan kali ini bukan hanya untuk mengecek persiapan akhir pernikahan putri kami dan bertemu dengan OW Wedding Organizer, tetapi juga menghadiri special screening film Urang Bunian di Basko City Mall XXI.
Di BIM sudah ada Fauzan Nasrul, Rendy Herpy selaku sutradara, Mas Jo sebagai produser, serta Dipo dari tim kreatif Urang Bunian.
Sebelum menghadiri pemutaran film, kami dijadwalkan mengunjungi Radio Piaman FM, kemudian Sushi FM. Selepas Magrib, kami menuju Basko City Mall.
Pemutaran berlangsung sukses dan ramai.
Keesokan siangnya, para pemain, sutradara, dan produser Urang Bunian memenuhi undangan Arbes FM.
Setelah itu, tim kembali bergerak ke beberapa kota. Fauzan dan Mas Jo berangkat ke Banjarmasin, sementara Rendy ke Bandung.
Saya memilih bertahan di Padang meskipun ada pekerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta.
Hari pernikahan semakin dekat. Keluarga menyarankan agar saya tetap di Padang sampai prosesi berlangsung.
Selama sekitar tujuh hari, saya berada di Bukittinggi. Ada dua pekerjaan yang harus diselesaikan.
Pertama, membongkar restoran dan kafe Labrazzo di Belakangbalok karena pemilik menjual tempat tersebut.
Labrazzo sudah lima tahun berdiri di sana. Kontrak sewanya tak bisa lagi diperpanjang.
Mengosongkan restoran, memindahkan perabotan, membongkar kanopi, dan mengurus segala macamnya bukan pekerjaan mudah.
Ke mana semua barang itu akan disimpan? Saya pun harus membangun gudang semi permanen di rumah kami di Suraugadang.
Semua itu tentu saja membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.
Syukurlah, pengosongan selesai hingga penyerahan kunci kepada pemilik.
Kini, Labrazzo Restoran dan Kafe tinggal satu, yakni di Suraugadang, Bukittinggi.
Di sela-sela kesibukan itu, saya juga harus ke Kecamatan IV Koto, Agam, untuk melakukan riset sederhana tentang potensi wisata berbasis kecamatan dan masyarakat.
Ini merupakan tugas khusus dari senator kita, Pak Irman Gusman.
Pekerjaan itu belum sepenuhnya tuntas karena keterbatasan waktu.
Seminggu menjelang pernikahan, kami beberapa kali bertemu dengan WO. Pertemuan terakhir berlangsung tiga hari sebelum hari H.
Sejak masih di Jakarta, saya telah mengirimkan undangan fisik kepada beberapa kerabat.
Setelah itu, undangan digital menyusul. Saya mencatat dengan teliti nama-nama karib kerabat, kawan, sahabat, konco, dan dunsanak yang akan diundang.
Namun, untuk dunsanak, bako, ipar, bisan, dan pambayan, undangan digital saja tak cukup. Harus hadir, tampak muka.
Semua itu membutuhkan tenaga dan waktu. Sementara hari pernikahan semakin dekat, masih ada pekerjaan lain yang harus saya tuntaskan.
Sebagai salah seorang Penasihat Panitia Besar Porprov XVI Sumatera Barat, saya mendapat amanah mengonsep acara pembukaan.
Semula, Porprov direncanakan dibuka di Kota Solok. Bersama tim panitia, saya mempresentasikan konsep itu kepada Asisten I Setko Solok, Zulkarnaini, yang bertindak sebagai ketua sekaligus penanggung jawab acara pembukaan.
Selepas salat Subuh, 23 September, saya melaju dari Bukittinggi ke Solok. Pertemuan dijadwalkan pukul sembilan pagi. Konsep dibahas hingga tuntas dan disepakati.
Pembukaan harus tematik, beraroma dramaturgi, serta sarat pesan yang mempertautkan olahraga dengan kebudayaan.
Seusai pertemuan, saya langsung menuju Padang.
Sekitar pukul lima sore, saya punya janji menonton Urang Bunian bersama kawan-kawan SMA dan beberapa seniman di Plaza Andalas.
Saya baru kembali ke Bukittinggi sekitar pukul 23.00 WIB.
Malam itu, saya mendapat kabar bahwa Kabupaten Solok ditimpa musibah. Galodo melanda. Akibatnya, pembukaan Porprov batal dilaksanakan di Solok dan dialihkan ke Istana Gubernur.
Konsep yang telah disusun rapi itu tak mungkin lagi diadaptasi sepenuhnya. Jadwal pembukaan tinggal hitungan hari. Pembukaan pun disederhanakan.
Meski demikian, saya tetap harus memeriksa kesiapan helat. Setelah yakin persiapan sudah tuntas, barulah saya beralih ke kegiatan lain.
Pada pagi 1 Oktober 2026, Pak Halius Hosen, S.H., yang pernah menjabat Ketua Komisi Kejaksaan RI serta Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat dan Jawa Barat, menelepon saya.
Beliau mengundang saya menghadiri peringatan 81 tahun Hari Jadi Sumatera Barat di sebuah restoran bersama sejumlah tokoh dan seniman.
Acara itu sekaligus menjadi soft launching Samba Jamba D’Harmony, grup band yang beliau dirikan.
Saya diminta menyerahkan plakat kepada Pak Halius sebagai tanda resmi berdirinya grup tersebut. Saya juga diminta berorasi.
Di tengah acara, telepon saya berdering. Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, menelepon sekitar pukul 22.00 WIB. Ia meminta saya datang ke kantornya saat itu juga.
Kebetulan, jarak kantor KONI Sumbar dengan restoran tempat acara berlangsung hanya sekitar satu kilometer.
Diam-diam, saya melucus ke sana.
Rupanya, Hamdanus meminta saya mengisi acara pembukaan Porprov XVI di Istana Gubernur pada malam berikutnya, 2 Oktober, selepas Magrib. Saya diminta membacakan puisi.
Saya menjelaskan bahwa puisi saya bukan puisi biasa. Saya menyebutnya puisi musik, bukan musikalisasi puisi. Dalam musikalisasi puisi, lirik dinyanyikan seperti lagu dengan irama yang telah dilatih sebelumnya.
Sementara itu, puisi musik berlangsung spontan bersama iringan musik. Puisi dan musik bertemu di tengah jalan, saling merespons, lalu mungkin melahirkan irama baru yang tak akan pernah persis sama jika diulang.
Musik bukan sekadar ilustrasi atau tempelan. Musik menjadi bagian dari puisi itu sendiri.
Saya bersedia, asalkan ada pengiring musik, biasanya berupa band atau orkestra.
“Bisa Abang menyiapkan para pengiringnya?” tanya Hamdanus.
Sesungguhnya, saya tak yakin bisa menemukan grup musik yang siap mengiringi puisi saya dalam waktu satu hari.
Saya terdiam.
Rasanya mustahil menemukan band yang dapat berlatih dan tampil dalam waktu sesingkat itu di acara sekelas provinsi.
Namun, tiba-tiba ingatan saya tertuju kepada Samba Jamba D’Harmony, grup yang baru saja mendeklarasikan pendiriannya.
“Bisa!” jawab saya tanpa ragu.
Saya harus kembali ke restoran Dhamar Shaker, tempat acara peringatan Hari Jadi Sumatera Barat masih berlangsung. Saya ingin menawarkan pekerjaan itu kepada Samba Jamba.
“Oke, Pak Hamdanus. Saya siap. Tapi saya harus kembali ke restoran. Mudah-mudahan acaranya belum ditutup. Saya akan tawarkan ini kepada Samba Jamba D’Harmony.”
Hamdanus mengangguk. Saya pun segera kembali.
Benar, acara masih berlangsung. Saya langsung menghubungi Pak Halius selaku pembina Samba Jamba, menanyakan apakah grup itu sanggup mengiringi puisi musik saya pada pembukaan Porprov keesokan harinya.
Akhirnya, para personel Samba Jamba menyatakan kesediaan. Syaratnya, kami harus berlatih terlebih dahulu.
Sepakat.
Keesokan paginya, 2 Oktober, kami berlatih di studio Youth Center mulai pukul sembilan.
Latihan berlangsung hingga pukul setengah dua belas, menjelang salat Jumat.
Saya berlatih dengan totalitas. Tanpa disadari, suara saya mulai agak serak. Ketika Pak Halius datang melihat latihan sekaligus menyerahkan beberapa potong pakaian untuk penampilan malam nanti, Rustam Rusdi, pemimpin Samba Jamba, meminta saya kembali berpuisi.
Saya menolak. Saya khawatir suara akan semakin serak, padahal penampilan malam itu tinggal hitungan jam.
Pukul empat sore, kami mengikuti gladi bersih di Istana Gubernur Sumatera Barat.
Kegiatan berlangsung hingga pukul setengah enam. Setelah itu, saya kembali ke rumah di Parkit, Air Tawar.
Langit Padang mulai tak bersahabat. Hujan lebat mengguyur kota hingga pukul sembilan malam.
Pembukaan diundur beberapa jam dan akhirnya disederhanakan. Pembacaan puisi musik sempat dihapus dari susunan acara.
Hujan kemudian reda. Hamdanus, Sekretaris Umum KONI Sumbar Anandya Dipo Pratama, dan sejumlah pihak meminta agar puisi musik Pinto Janir tetap ditampilkan.
Olala!
Padahal, kabel-kabel menuju perangkat suara untuk gitar, bas, drum, dan kibor sudah dibongkar.
Dipo yang cekatan segera menginstruksikan teknisi melalui Andi, panitia lapangan, untuk memasang kembali kabel-kabel tersebut.
Sementara itu, saya sendiri hampir saja pulang. Suara mulai tak maksimal. Seraknya semakin nyata.
Ini berbahaya, pikir saya. Apalagi, keesokan paginya saya harus menikahkan anak.
Namun, begitulah.
Jika Tuhan sudah berkehendak, tak ada satu pun yang dapat menghalangi-Nya. Bukan badai, bukan pula hujan lebat.
Pembukaan Porprov dan penampilan puisi musik berlangsung meriah dan memukau.
Sekitar pukul dua belas tengah malam, saya meninggalkan Istana Gubernur untuk kembali ke rumah.
Saya diantar Ai, salah seorang gitaris terkemuka di Sumatera Barat sekaligus personel Samba Jamba.
Sekitar pukul satu dini hari, saya tertidur tanpa mimpi.
Pukul setengah empat, saya terbangun. Saya harus bersiap menuju Adzkia Conventions di Kampung Kalawi, Padang.
Seluruh pendukung acara pernikahan dijadwalkan hadir sekitar pukul lima pagi.
Persiapan rias dan keperluan lainnya tentu membutuhkan waktu.
Akad nikah direncanakan berlangsung pukul delapan pagi.
Saya bangun, hendak memanggil putra saya.
Tak ada suara.
Saya mencoba lagi. Tak keluar-keluar ia. Ondeh mak oi. Ba-a aka lai ko?
Berkali-kali saya menyebut nama putra saya, tetapi tak satu pun bunyi keluar dari tenggorokan. Yang keluar hanya angin hampa, tanpa bunyi.
Subuh itu, saya menyapa anak saya dengan bahasa isyarat. Wajahnya mulai tampak khawatir.
“Kok suara Pape tak keluar? Bagaimana cara Pape nanti menikahkan Kakak?”
Saya meletakkan telunjuk di tengah bibir. Saya memberi isyarat kepada Ivand agar diam. Jangan sampai kakaknya dan mamenya tahu. Mereka bisa panik.
Sungguh, kecemasan saya mencapai puncaknya. Apa jadinya jika suara tak kunjung keluar? Saya akan menyesal sepanjang usia bila tak bisa menikahkan putri saya dengan suara sendiri.
Istri, adik-adik, kakak-kakak, mertua, dan kerabat dekat yang mengetahui keadaan saya ikut cemas.
Saya berusaha menenangkan mereka dengan bahasa isyarat.
Satu jam menjelang prosesi pernikahan, suara saya masih belum keluar. Saya tak bisa berbuat banyak.
Yang terus saya lakukan hanyalah berzikir khafi, berzikir dalam hati tanpa menggerakkan bibir dan tanpa suara.
Waktu terus berjalan.
Kami tiba di meja persaksian pernikahan. Suara saya belum juga kembali.
Saya memberi tahu sahabat saya, Gusti Candra, Direktur Utama PT Bank Nagari sekaligus salah seorang saksi pernikahan putra-putri kami, bahwa suara saya sedang bermasalah. Saya menyampaikannya dengan bahasa isyarat.
Semula, Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi, direncanakan menjadi saksi.
Namun, beliau tak dapat hadir pagi itu karena ada urusan yang tak bisa ditinggalkan.
Pak Gubernur baru hadir pada siang hari dan langsung memberikan nasihat perkawinan.
Saya harus segera mengambil keputusan. Saksi yang semula direncanakan adalah Buya Mahyeldi. Karena beliau tak dapat hadir, saya mengalihkannya kepada mertua saya, Ir. H. Muchlis.
Klop.
Saya juga harus memikirkan kata sambutan yang sedianya saya sampaikan dalam pesta pernikahan.
Bagaimana saya akan berbicara, sementara suara saja tak keluar-keluar?
Saya segera mengirim WhatsApp kepada Vemil, mamak kandung Visi, putri kami.
“Mil, suara Abang tak keluar. Mohon kesediaan Vemil untuk memberikan kata sambutan di pesta pernikahan Visi.”
Tak menunggu lama, mamak kandung satu-satunya itu langsung merespons dan menyatakan kesediaan.
Alhamdulillah. Vemil benar-benar mamak yang bijak!
Saya menarik napas panjang. Zikir saya seirama dengan detak jantung.
Saya melirik Gusti Candra. Ia meyakinkan saya bahwa, insya Allah, saya bisa. Seorang bankir yang rendah hati dan hangat dalam pergaulan itu terus memberikan dukungan.
“Insya Allah, Bung bisa. Pelan-pelan saja. Yang penting, lafalkan dengan jelas.”
Ia mengulang keyakinannya.
“Insya Allah, Bung pasti bisa.”
Saya mengangguk. Zikir khafi semakin kuat di dalam hati.
Pak Penghulu kemudian menanyakan apakah saya sudah siap, sudah hafal, memahami, dan mengetahui apa yang akan saya lafalkan untuk menikahkan anak.
Saya menjawab dengan anggukan. Saya kira, beliau pun tak mengetahui bahwa suara saya sedang bermasalah.
Lalu, Pak penghulu melafalkan kalimat yang harus saya ucapkan. Saya menyimaknya pelan-pelan, berusaha menyimpannya dengan saksama.
Sebentar lagi.
Apakah saya siap?
Saya mengangguk.
Gema zikir khafi semakin kuat di dalam hati. Saya berserah diri kepada Allah. Saya memohon ampunan-Nya.
La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz-zalimin.
Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
Saya menarik napas dalam-dalam.
La ilaha illallah.
Tiada Tuhan selain Allah. Allahu Akbar.
Bismillahirrahmanirrahim.
Saya mendekatkan mikrofon ke mulut.
Lalu saya lafalkan kalimat akad itu.
Jelas.
Pak penghulu berpaling kepada para saksi.
“Bagaimana, saksi?”
Gusti Candra dan mertua saya serentak menjawab:
“SAH!”
Saat itu, hati dan kepala saya seakan bersujud syukur. Semua orang menarik napas lega.
Gusti Candra memandang saya dengan senyum bahagia, lalu menyalami saya. Saya segera menyalami Pak Penghulu dan putra-putri kami.
Allahu Akbar!
Akad itu selesai.
Saya berhasil menikahkan anak saya.
Namun, persoalan rupanya belum selesai. Bagaimana nanti pada acara pesta?
Bagaimana saya membalas sapaan para tamu?
Haruskah saya menggunakan bahasa isyarat juga?
Sebab, begitu selesai menikahkan anak, suara saya kembali lenyap.
Setiap kali tamu datang, saya mencolek istri. Ia segera mengerti dan menjelaskan kepada mereka, “Suara Abang habis, Dek karano mambaco puisi di pambukaan acara Porprov XVI malam tadi.”
Lucu juga rasanya. Mereka tahu saya suka bicara.
Mengapa sekarang saya diam saja?
Saya menyambut para tamu dengan senyum, sementara istri menjadi penerjemah bahasa isyarat saya.
Ada satu hal lagi yang saya pikirkan.
Bagaimana nanti saya bisa bernyanyi bersama band yang sudah saya siapkan jauh-jauh hari?
Apakah saya hanya akan menjadi pendengar, sementara kawan-kawan bernyanyi?
Bagaimana ini?
Alhamdulillah, helat berlangsung sukses dan meriah.
Hampir semua teman yang saya undang hadir. Saya dan keluarga bahagia melihat karangan bunga berjejer, datang dari berbagai tempat.
Pada perhelatan itu, saya menikmati pertunjukan silat, tarian tradisi, nyanyian kawan-kawan, bahkan puisi yang dibacakan oleh Syarifuddin Arifin, salah seorang penyair Asia Tenggara asal Minangkabau.
Rabu malam, seusai menghadiri sebuah kegiatan musik, 7 Oktober 2026, saya mendapat kabar bahwa Da IF, begitu ia akrab disapa, terbaring di rumah sakit.
Malam itu juga, sekitar pukul dua belas, saya menjenguknya ke RS Siti Rahmah, kamar Mina 12. Padahal, ia sudah dirawat sejak Senin, 5 Oktober.
Pada Kamis dini hari, saya mengunggah video yang mengabarkan bahwa Da IF sedang sakit.
Kamis pagi pukul sembilan, saya kembali ke Jakarta.
Pada hari yang sama, dengan pesawat berbeda, anak-anak kami berangkat berbulan madu.
Jumat, 9 Oktober 2026, saya menuliskan catatan ini.
Peristiwa itu tak mudah dilupakan. Setumpuk kecemasan itu tak sanggup dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Baru saya sadar, ketika manusia telah menyiapkan segala sesuatu, tetapi tiba-tiba dihadapkan pada sesuatu yang tak mampu dikendalikannya sendiri, berserah dirilah kepada Allah !
Ya Allah, Ya Rabb.
Pagi itu, saya hampir kehilangan suara pada saat suara paling saya butuhkan.
Saya tak tahu bagaimana akhirnya kalimat akad itu dapat terucap dengan jelas. Yang saya tahu, saya telah berusaha, berzikir, dan berserah diri.
Lalu, terdengarlah kata itu.
Sah.
Dan saya pun menarik napas lega.
Saya tulis catatan ini untuk dikenang.
Jakarta, 9 Oktober 2026


