Oleh: Johanis Kopong
-
Pesta Pemuliaan Salib Suci: Belas Kasih dan Teladan Pengosongan Diri
Baca juga: KUCUCI OTAKKU
KEPULUAN TANIMBAR – SUARA ANAK NEGERI,- Senin, 14 September 2026, Di tengah riuk rendah kehidupan modern yang acap kali memicu keputusasaan, perenungan mendalam mengenai makna Pesta Pemuliaan Salib Suci menghadirkan keheningan spiritual tersendiri. Salib, yang berdiri teguh sebagai simbol utama iman Kristiani, menghadirkan panggilan reflektif bagi setiap pribadi untuk mengalihkan pandangan dari pelbagai tantangan hidup dan kembali menatap sumber kekuatan sejati.
Eksistensi salib dalam ruang spiritual tidak pernah dirancang sebagai lambang penghukuman, melainkan sebagai wujud paling murni dari belas kasih ilahi. Ketika manusia modern cenderung terjebak dalam keluh kesah saat menghadapi penderitaan, salib Kristus menawarkan perspektif yang memulihkan: sebuah ruang tempat penyembuhan, kekuatan, dan jalan keluar atas setiap pergumulan jiwa dihadirkan secara penuh.
Pesan intuitif mengenai hakikat Pemuliaan Salib Suci ini disampaikan secara mendalam oleh RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di UST Manila, Filipina. Beliau menyoroti bagaimana realitas dunia saat ini kerap mendorong manusia pada ambisi perorangan, yang amat kontras dengan teladan pengorbanan Kristus.
Baca juga: MENGUAK PANDANGAN IMMANUEL KANT DALAM PUISI “NASIHAT” KARYA ANTO NARASOMA
”Dunia mengajari kita untuk mencari kehormatan dan mementingkan diri sendiri. Namun, jalan Kristus adalah jalan kerendahan hati. Salib mengajarkan kita bahwa kemuliaan sejati tidak diperoleh dengan cara menyombongkan diri, melainkan dengan melayani dan taat pada kehendak Bapa,” tegas RD. Domincs Baldawins Masriat dari Central Seminary UST Manila.
Teladan Pengosongan Diri dan Kerendahan Hati
Melalui penegasan narasi Kitab Suci—khususnya dalam Pesta Pemuliaan Salib Suci ini—umat diajak menyelami esensi pengosongan diri (kenosis). Kristus, meski dalam rupa Allah, memilih untuk tidak mempertahankan kesetaraan-Nya. Ia mengambil rupa seorang hamba dan menunjukkan ketaatan radikal hingga wafat di kayu salib. Sikap ini menjadi kritik halus namun tajam bagi kebudayaan modern yang mengagungkan superioritas dan kehormatan semata.
Keagungan sejati justru lahir dari keberanian untuk menanggalkan egoisme. Kerendahan hati yang dicontohkan di atas salib membuktikan bahwa kehormatan tertinggi tidak didapatkan melalui dominasi atas orang lain, melainkan melalui penyerahan diri yang tulus dalam pelayanan dan ketaatan pada nilai-nilai kebaikan universal.
Panggilan Mengamalkan Belas Kasih
Pada puncaknya, refleksi ini menegaskan kembali misi utama perutusan ilahi di dunia: menyelamatkan, bukan menghukum. Keputusan Allah untuk tidak mengutus Anak-Nya guna menghukum dunia menjadi fondasi fundamental bagi tatanan relasi antarmanusia. Kasih yang telah tercurah secara sempurna di kayu salib menuntut sebuah respons konkret dalam kehidupan bermasyarakat.
Panggilan tersebut tidak berhenti pada perenungan abstrak, melainkan bermuara pada tindakan nyata. Setiap pribadi yang telah mengecap belas kasih itu diutus untuk saling mengasihi, membuka pintu pengampunan, serta memiliki kesediaan untuk berkorban demi kebaikan sesama di tengah dinamika sosial yang kian kompleks.
(Sumber: Bertempat di Central Seminary UST Manila, Filipina, Keterangan ini disampaikan oleh RD. Domincs Baldawins Masriat sebagai Pastor Mahasiswa di UST Manila – Filipina)


