Jumat, 04 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

JACK AL-GHOZALI: “ANAK TIMUR”, PUISI TENTANG DUKA,  DAN DAYA HIDUP

Oleh: Nuyang Jaimee

Jack Al-Ghozali hadir dalam JAS Solidaritas untuk NTT, Jumat, 28 Agustus 2026, melalui puisi “Anak Timur”. Berbeda dari puisi yang menjadikan bencana sebagai pusat narasi, Jack memilih masuk melalui pintu identitas. Ia berbicara tentang Nusa Tenggara Timur dari sudut pandang seseorang yang merasa menjadi bagian dari tanah itu—tanah yang sering dilihat dari kejauhan, disebut “paling timur”, tetapi menyimpan kehidupan, kebudayaan, sejarah, dan daya tahan yang panjang.

Sejak larik pertama, puisi ini sudah menawarkan cara pandang yang menarik: “Aku anak tanah yang sering dilupakan peta, dibilang ‘paling timur’ padahal di sinilah matahari pertama belajar bangun.” Kalimat tersebut bukan sekadar pengenalan geografis. Ia seperti membalik posisi Timur dalam cara pandang Indonesia. Wilayah yang selama ini kerap dianggap berada di ujung peta justru ditempatkan sebagai tempat matahari pertama kali bangun. Timur bukan akhir, melainkan awal.

Baca juga: FLS3N PROVINSI PAPUA BARAT DIBUKA, KOMPETISI SISWA BIDANG SENI DAN SASTRA.

Dalam performansnya, Jack membawa puisi dengan energi yang terasa personal. Ia tidak hanya sedang membacakan sebuah teks tentang NTT, tetapi seperti sedang memperkenalkan sebuah rumah yang ia cintai kepada orang-orang yang mungkin hanya mengenalnya melalui berita tentang bencana, kemiskinan, atau keterbelakangan. Ada kebanggaan yang terus tumbuh di balik setiap bagian puisi, sekaligus kesadaran bahwa tanah yang dicintai itu memiliki banyak persoalan.

Kekuatan puisi “Anak Timur” justru terletak pada keberaniannya mempertemukan dua sisi tersebut: luka dan kebanggaan. Jack tidak menutupi kesulitan yang dihadapi masyarakat NTT. Ia menyebut hujan yang datang pelit, air yang lebih mahal dari janji, anak-anak yang harus berjalan berkilo-kilo menuju sekolah, hingga mereka yang memilih merantau membawa koper dan cinta, lalu kembali membawa nama baik atau luka.

Baca juga: ANTO NARASOMA, [BUKAN] SAMPAH PERADABAN SASTRA

Bagian ini membuat NTT hadir bukan sebagai wilayah abstrak. Ada anak-anak yang berjalan menuju sekolah. Ada keluarga yang berhadapan dengan keterbatasan air. Ada orang-orang yang pergi merantau karena ingin mengubah kehidupan. Ada pula mereka yang pulang dengan pengalaman yang tidak selalu sesuai harapan. NTT hadir sebagai ruang kehidupan manusia yang nyata.

Namun Jack tidak membiarkan puisinya tenggelam dalam kesedihan. Setelah menghadirkan keterbatasan, ia segera membangun kebanggaan: “Tapi aku bangga, aku bangga karena dari tanah kering ini, lahir orang-orang yang hatinya basah oleh gotong royong.”

Kontras “tanah kering” dan “hati yang basah” menjadi salah satu metafora yang kuat. Kekeringan tidak selalu berarti kekurangan rasa. Justru dari tanah yang keras itu tumbuh manusia dengan semangat kebersamaan. Dalam konteks JAS Solidaritas untuk NTT, bagian ini terasa penting karena solidaritas bukan hanya datang dari luar untuk membantu korban. Masyarakat sendiri memiliki tradisi saling menopang yang menjadi kekuatan ketika bencana datang.

Kebanggaan Jack kemudian bergerak kepada kebudayaan. Tenun, laut, gunung, dan adat hadir bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai identitas yang harus dijaga. Kalimat “Satu helai = satu sejarah” menjadi penegasan bahwa kain tenun bukan sekadar benda budaya. Di dalam satu helai terdapat ingatan, warisan, tangan para penenun, serta pengetahuan yang diteruskan kepada generasi berikutnya.

Begitu pula ketika Jack mengatakan bahwa laut mereka adalah jagoan, gunung mereka suci, dan adat mereka tidak dijual. Ada sikap yang tegas terhadap komersialisasi identitas. Kebudayaan tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas. Ia adalah bagian dari martabat sebuah masyarakat.

Bagian berikutnya menjadi semakin kuat ketika Jack menggunakan alam sebagai cermin semangat masyarakat Timur. “Semangat kami ombak di Sawu, dihantam karang, pecah, tumbuh lagi.” Ombak menjadi metafora ketahanan. Ia boleh pecah ketika dihantam karang, tetapi tidak berhenti menjadi ombak. Ia kembali, bahkan dengan kekuatan yang lebih besar.

Metafora tersebut kemudian dilanjutkan dengan petani di Timor dan penenun Sumba. Tanah retak tidak menghentikan petani untuk bertanam. Benang yang putus tidak membuat penenun berhenti bekerja. Benang disambung kembali hingga menjadi kain yang dapat menghangatkan dunia.

Rangkaian metafora itu membuat “Anak Timur” tidak jatuh menjadi puisi belas kasihan. Jack justru menolak cara pandang yang hanya melihat NTT melalui kekurangan. Ada persoalan, tetapi ada pula kekuatan. Ada penderitaan, tetapi ada daya hidup. Ada kehilangan, tetapi ada kemampuan untuk menyambung kembali sesuatu yang putus.

Dalam konteks JAS Solidaritas untuk NTT, inilah posisi penting puisi Jack. Solidaritas tidak dibangun atas dasar rasa kasihan semata, melainkan penghormatan terhadap manusia yang sedang menghadapi bencana. Korban bukan hanya mereka yang harus ditolong. Mereka juga memiliki identitas, kebudayaan, harga diri, dan kekuatan untuk bangkit.

Puncak puisi hadir melalui pertanyaan: “Nusa Tenggara Timur itu apa?” Jawaban Jack menjadi semacam deklarasi identitas: NTT adalah tempat yang mengajarkan seseorang untuk boleh gelisah, boleh menangis, tetapi tidak boleh berhenti berdiri.

Di bagian ini, performans Jack mendapatkan energi yang lebih kuat. Kalimat “Ayo nak bangkit, ayo nak.. hidup lagi” bukan sekadar penutup puisi. Ia terdengar seperti seruan kepada mereka yang sedang kehilangan. Ada dorongan untuk kembali berdiri setelah bencana meruntuhkan rumah, kehidupan, bahkan mungkin harapan.

“Anak Timur” akhirnya bukan hanya puisi tentang NTT. Ia adalah puisi tentang bagaimana seseorang memandang tanah kelahirannya melalui luka sekaligus kebanggaan. Ia berbicara tentang keterbatasan tanpa merendahkan, tentang penderitaan tanpa menjadikan masyarakat sebagai objek belas kasihan, dan tentang kebudayaan sebagai sumber kekuatan.

Kehadiran Jack Al-Ghozali dalam JAS Solidaritas untuk NTT memperlihatkan bahwa solidaritas melalui seni dapat memiliki wajah yang berbeda. Jika sebagian puisi datang membawa kritik, kemarahan, atau pertanyaan kepada kekuasaan, Jack datang membawa suara dari dalam: suara yang berkata bahwa tanah yang sedang terluka itu masih memiliki martabat dan daya hidup.

Flores dan NTT dalam “Anak Timur” bukan sekadar wilayah yang sedang berduka. Ia adalah tanah yang memiliki sejarah, tenun, laut, gunung, adat, gotong royong, dan manusia yang terus belajar bangkit.

Karena itu, seruan “Ayo nak bangkit, ayo nak.. hidup lagi” terasa bukan hanya sebagai pesan untuk NTT, tetapi juga untuk kita semua. Bahwa ketika sebuah daerah tertimpa bencana, yang perlu kita selamatkan bukan hanya rumah dan harta benda, tetapi juga harapan, identitas, martabat, dan keyakinan bahwa kehidupan masih harus diteruskan.

Di panggung JAS, Jack Al-Ghozali mengingatkan bahwa solidaritas tidak selalu harus berbicara dengan suara keras. Kadang ia cukup dengan mengenalkan kembali sebuah tanah kepada dunia: tanah yang sering disebut paling timur, tetapi justru menjadi tempat matahari pertama belajar bangun.

Dan dari sana, dari Timur, suara itu kembali terdengar:

“Ayo nak bangkit, ayo nak.. hidup lagi.”

 

Tentang Penulis:

Nuyang Jaimee adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini