Oleh: Nuyang Jaimee
Penampilan Dyah Kencono dalam pembacaan puisi “MEMBACA RAHASIA SEMESTA” menghadirkan suasana yang berbeda. Ia tidak sekadar membacakan puisi sebagai teks, tetapi membawa puisi tersebut ke dalam sebuah perenungan tentang hubungan manusia, alam, kekuasaan, kesombongan, bencana, dan kepasrahan kepada Tuhan. Puisi “Membaca Rahasia Semesta” karya Dyah Kencono hadir dalam JAS sebagai respons puitik terhadap bencana yang menimpa NTT.

Baca juga: RUMAH SAKIT SASTRA
Sejak awal, puisi ini membangun suasana kosmik melalui citraan laut, samudra, semesta, dan bumi. Alam tidak ditempatkan sekadar sebagai latar terjadinya bencana, tetapi seolah menjadi kekuatan yang memiliki bahasa dan kehendaknya sendiri. Puisi ini bergerak dari gambaran kekuatan semesta menuju tragedi kemanusiaan yang konkret, terutama ketika penyair menyebut korban, mereka yang terluka, dan ribuan keluarga yang kehilangan rumah. Dengan demikian, puisi tidak berhenti sebagai ungkapan kesedihan, tetapi menjadi pembacaan spiritual terhadap sebuah bencana dan penderitaan manusia di NTT.
MATA NYA MENEMBUS LAUT YANG DALAM/NAFAS NYA MENGGELOMBANGKAN GERAK YANG MISTIS/TANGAN NYA MENCENGKERAM AMARAH ATAS SEMESTA/MAKA, KUASA NYA PUN MENGGENGGAM LAUT/ MENGGONCANG SAMUDRA KEHENDAK ATAS UMAT YANG ANGKARA
Larik-larik pembuka tersebut langsung membawa pembaca ke ruang kosmik. “Laut”, “samudra”, “semesta”, dan “bumi” menjadi citraan yang membangun kesan bahwa manusia sedang berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada dirinya. Ungkapan “matanya menembus laut yang dalam/napasnya menggelombangkan gerak yang mistis” menghadirkan personifikasi kekuatan semesta yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh akal manusia. Gerak alam dalam puisi terasa hidup, bergerak, menggenggam, menggoncang, dan memiliki kehendak.
Baca juga: PATUNG BAGI PEMATUNG
Dari sinilah judul “Membaca Rahasia Semesta” menemukan pijakannya: manusia mencoba membaca sesuatu yang berada di balik peristiwa yang tampak di hadapan mata.

Dalam pembacaannya, Dyah Kencono memilih tubuh yang tidak banyak bergerak secara teatrikal. Ia duduk di atas panggung dengan sikap tubuh yang menyerupai orang sedang bermeditasi. Posisi duduk tersebut seperti menghadirkan seseorang yang sedang masuk ke dalam ruang batin untuk “membaca” sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar peristiwa bencana. Ketenangan visual tersebut justru memberi ruang kepada kata-kata untuk bekerja lebih dalam. Suara menjadi pusat perhatian, sementara tubuh menjadi semacam jangkar yang menjaga puisi tetap berada dalam suasana perenungan.
JENGGIRAT, INGATAN KU BANGKIT/ LALAI LALAI LALAI LALAI LALAI/ULAH YANG MEMBUAHKAN TULAH/ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA/ KESOMBONGAN MANUSIA YANG TELAH MENJAJAH KEAKUANNYA/ LALAI LALAI LALAI LALAI LALAI/ TUNDUKLAH PADA SUJUD YANG PASRAH/TEGURAN TELAH TERTUMPAH/LALAI LALAI LALAI LALAI LALAI/BUMI BERGONCANG SARAT AMARAH/HARTA BENDA PORAK PORANDA/SERATUS SEBELAS ORANG MENANGKUP TANAH/SERIBU ENAMRATUS TUJUHPULUH DELAPAN ORANG TERLUKA PARAH/SERATUS TUJUHPULUH ENAM RIBU ENAMRATUS DUAPULUH SATU ORANG PUN KEHILANGAN RUMAH/DERITA MERAJAM DADA/JERIT TANGIS MERENJIS/SEMESTA MENANGIS HATI/ PUN TERIRIS
Puisi kemudian bergerak dari persoalan alam menuju kritik terhadap manusia. Pengulangan kata “LALAI” menjadi salah satu kekuatan utama puisi. “Lalai” tidak hanya berarti lupa atau lengah, tetapi menjadi semacam tudingan moral terhadap manusia yang merasa memiliki kuasa atas kehidupan. Pengulangan “LALAI LALAI LALAI” juga bekerja seperti mantra sekaligus teguran. Secara musikal, pengulangan tersebut menciptakan ritme yang kuat dan dalam pembacaan Dyah Kencono dapat membangun suasana yang semakin ritualistik.

Sementara ungkapan “ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA” membawa kritik terhadap manusia yang terjebak dalam kesombongan, kebesaran diri, dan merasa berkuasa atas kehidupan. Kalimat “kesombongan manusia yang telah menjajah keakuannya” mempertegas bahwa persoalan yang disorot bukan semata-mata bencana alam, tetapi juga manusia dengan segala keangkuhan dan keterbatasannya.
Bagian “Tunduklah pada sujud yang pasrah/ teguran telah tertumpah” kemudian membawa puisi ke wilayah spiritual.
Di sini Dyah Kencono menggunakan perspektif religius untuk menghadirkan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya. Namun, kepasrahan tersebut tidak berhenti sebagai ungkapan religius. Ia justru menjadi pintu menuju kesadaran: manusia perlu membaca kembali hubungan dirinya dengan alam dan kehidupan. Dalam konteks inilah kepasrahan bukan sekadar menyerah, melainkan sebuah upaya untuk menyadari posisi manusia di tengah semesta.

Ketika puisi memasuki bagian “BUMI BERGONCANG SARAT AMARAH”, energi pembacaan menjadi semakin kuat. Penyebutan angka korban kemudian mengubah bahasa puitik menjadi kesaksian. Angka-angka tersebut menghadirkan manusia secara konkret di tengah metafora semesta. Ada mereka yang meninggal, terluka parah, dan kehilangan rumah. Kekuatan berikutnya muncul ketika puisi menyebut angka-angka korban secara konkret: 111 orang meninggal, 1.678 orang terluka, dan 176.621 orang kehilangan rumah. Angka-angka tersebut membuat puisi meninggalkan wilayah simbolik dan masuk ke dalam realitas kemanusiaan.
Korban tidak lagi sekadar menjadi “angka statistik”, tetapi dihadirkan melalui larik “Derita merajam dada/jerit tangis merenjis/semesta menangis/hati pun teriris.” pada bait-bait inilah puisi Dyah Kencono berubah menjadi suara solidaritas.
Pada titik ini, puisi tidak lagi hanya berbicara mengenai alam dan Tuhan, tetapi berbicara mengenai manusia yang berada di dalam bencana: manusia yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan rasa aman, dan harus menanggung derita. Bahasa puisi menjadi jembatan antara fakta dan perasaan. Angka memberikan konkretisasi terhadap tragedi, sementara larik-larik setelahnya mengembalikan angka tersebut menjadi pengalaman manusiawi: derita, jerit, tangis, dan hati yang teriris.

Dalam konteks JAS Solidaritas NTT, bagian ini menjadi penting karena seni tidak hanya hadir untuk memperindah sebuah aksi, tetapi memberikan bahasa bagi penderitaan yang sering kali hanya muncul sebagai statistik dalam pemberitaan.
SAUDARA SAUDARAKU TERSANDAR PILU/TAK DAYA DAN KUASA APA/ MENADAH TANGAN MOHON AMPUNAN NYA/TUNDUK PASRAH IKHLAS PADA KEHENDAK NYA/ ADALAH RAHASIA YANG TERSIMPAN DALAM LIPATAN MASA/NTT BERDUKA/KITA MEMBACA/RAHASIA DIBALIK RAHASIA
Penutup puisi menjadi bagian yang paling kontemplatif. “NTT BERDUKA/KITA MEMBACA/RAHASIA DIBALIK RAHASIA” di titik ini, puisi menggeser pembacaan dari tragedi menuju perenungan. Ada kesadaran bahwa tidak semua tragedi dapat dijelaskan secara tuntas oleh manusia. Tetapi “membaca rahasia” dapat dimaknai sebagai ajakan untuk belajar dari peristiwa: membaca penderitaan korban, membaca hubungan manusia dengan alam, membaca kembali kesombongan manusia, sekaligus membaca keterbatasan manusia di hadapan kehidupan. Kata “membaca” menjadi penting karena bencana tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang terjadi, tetapi sebagai sesuatu yang perlu direnungkan dan dimaknai.

Dalam konteks Jumat Aksi Seni (JAS), pembacaan puisi ini menjadi lebih dari sekadar penampilan sastra. Puisi Dyah Kencono menjadi kesaksian artistik sekaligus ungkapan empati. Ketika persoalan bencana NTT hadir di ruang aksi, puisi memberi bahasa bagi sesuatu yang sering tidak mampu disampaikan oleh berita dan angka: kehilangan, ketakberdayaan, kesedihan, sekaligus pertanyaan tentang apa yang harus dipelajari manusia setelah bencana. Pembacaan tersebut akhirnya menjadi semacam ruang hening di tengah aksi solidaritas: sebuah ajakan agar penderitaan tidak sekadar disaksikan, tetapi direnungkan sebagai pengalaman kemanusiaan bersama.
Pada akhirnya, “MEMBACA RAHASIA SEMESTA” bukan hanya puisi tentang NTT yang berduka. Ia adalah puisi yang mengajak manusia bercermin: ketika bumi berguncang, apa sebenarnya yang sedang diguncang—tanah tempat kita berpijak, atau kesombongan yang selama ini kita bangun di dalam diri? Puisi ini pada akhirnya menjadi renungan tentang manusia yang berhadapan dengan alam, kesombongan yang berhadapan dengan kehancuran, dan kepasrahan yang berhadapan dengan sebuah rahasia kehidupan yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan. [PM]

Tentang Penulis:
Nuyang Jaimee adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.


