<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sastra &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/category/sastra/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Oct 2026 02:48:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Sastra &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bilingual Poems by Khairani Piliang &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;THE TREE WITHIN THE BODY OF TIME&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/bilingual-poems-by-khairani-piliang-translated-by-leni-marlina-the-tree-within-the-body-of-time</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2026 02:48:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bilingual Poems]]></category>
		<category><![CDATA[Khairani Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Dwibahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Translated by Leni Marlina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12079</guid>

					<description><![CDATA[Bilingual (Indonesia &#8211; English) Poems by Khairani Piliang &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;THE TREE WITHIN THE BODY OF TIME Indonesian Version Puisi &#8211; Puisi Dwibahasa Karya Khairani Piliang: &#8220;Syair Pohon dalam Tubuh Waktu&#8221; /1/ Syair Pohon dalam Tubuh Waktu Puisi: Khairani Piliang &#8211; //Akar masuk ke sumur paling purba di bawah lidah bumi ia [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bilingual (Indonesia &#8211; English) Poems by Khairani Piliang &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;THE TREE WITHIN THE BODY OF TIME</strong></p>
<p>Indonesian Version</p>
<p>Puisi &#8211; Puisi Dwibahasa Karya Khairani Piliang: &#8220;Syair Pohon dalam Tubuh Waktu&#8221;</p>
<p>/1/</p>
<p><strong>Syair Pohon dalam Tubuh Waktu</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Khairani Piliang</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>//Akar</p>
<p>masuk ke sumur paling purba<br />
di bawah lidah bumi<br />
ia menyusu pada gelap<br />
memeras getir dari batu<br />
mengunyah dingin<br />
berlumut di sela usia</p>
<p>di sana<br />
tak ada musim dan kicau burung<br />
hanya desir tanah mengaji sunyi<br />
dalam bahasa paling sakral</p>
<p>begitupun manusia bermula<br />
dari kedalaman serupa<br />
jatuh ke tubuh sendiri<br />
lalu hidup dan haus<br />
mencari oase di tanah retak</p>
<p>//Batang</p>
<p>menjelma tiang musim<br />
cincin-cincin tahunnya<br />
adalah tasbih<br />
diputar waktu perlahan</p>
<p>kadang petir singgah di tubuhnya<br />
angin mengikir kulit<br />
hingga bau hujan lindap<br />
sebagai ingatan panjang</p>
<p>Ia tegak<br />
serupa hurup tak selesai dibaca<br />
di bawah rindangnya<br />
pengembara berteduh<br />
burung-burung menukar nyanyian<br />
dari kesepian panjang</p>
<p>lampu redup di serambi senja<br />
usia kian menua<br />
semakin penuh lorong<br />
tak sanggup digapai lidah</p>
<p>//Ranting</p>
<p>jari-jari menjulur<br />
dari tubuh kian renta<br />
jalan-jalan kecil<br />
yang keluar dari dada harapan</p>
<p>sebagian patah<br />
oleh angin datang terlalu dini<br />
sebagian lagi beku<br />
dalam musim tanpa hujan</p>
<p>namun pohon<br />
tetap menumbuhkan arah<br />
meski langit berkali-kali<br />
menghapus jawabannya<br />
sebab keinginan<br />
ialah burung malam<br />
yang selalu kembali<br />
meski sayapnya berdarah</p>
<p>//Daun</p>
<p>bergetar di deru angin<br />
ribuan tangan kecil sedang melambai<br />
hiijau yang singgah sebentar<br />
sesudah menguning<br />
lalu luruh ke pangkuan ibu</p>
<p>tak pernah menolak apa pun<br />
:gugur<br />
suara lirih dari kehidupan<br />
belajar melepas nama<br />
bercahaya sebentar<br />
lalu senyap</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Jakarta, 25 Juni 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>Jam Makan Siang di Kota yang Sibuk</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Khairani Piliang</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pukul dua belas siang<br />
jalanan penuh langkah tergesa<br />
layar-layar ponsel menyala<br />
orang-orang menunduk<br />
berdoa kepada notifikasi<br />
di lampu merah seorang anak menjajakan tisu<br />
berteriak dengan suara serak<br />
yang kalah bising dari klakson dan promosi diskon akhir bulan<br />
Ia hafal cara mengetuk kaca mobil<br />
lebih lihai ketimbang mengeja namanya sendiri</p>
<p>Sementara itu di lantai dua belas sebuah gedung<br />
rapat sedang berlangsung<br />
tentang pertumbuhan angka-angka dan grafik<br />
yang harus naik butuh diselamatkan<br />
agar dunia tampak baik-baik saja</p>
<p>Tak ada yang salah<br />
ibu tetap menanak nasi<br />
meski harga beras membuat matanya lebih pedas dari rawit merah<br />
ayah tetap berangkat subuh menembus gelap demi menutupi cicilan<br />
mahasiswa menghapus riwayat pencarian di ponsel:<br />
“cara bertahan hidup dengan uang dua puluh ribu.”</p>
<p>Kita ada di zaman:<br />
ketika belas kasih sering kalah cepat<br />
dari koneksi internet<br />
seseorang merekam orang jatuh lebih dulu daripada menolongnya<br />
adalagi yang membuat konten dari air mata orang lain<br />
lalu menyebutnya dengan kata empati<br />
duka dipotong menjadi durasi satu menit<br />
ditambah musik sendu, diberi tanda pagar</p>
<p>Malam hari, berita perang lewat di beranda<br />
mayat-mayat muncul seperti cuaca:<br />
sebentar dibicarakan lalu dilupakan<br />
dan kita mengunyah keadaan seperti makan malam tak terlewatkan</p>
<p>di sudut kota lain<br />
seorang kurir berhenti di bawah jembatan<br />
membuka bekal dingin sambil memeriksa rating penilaian pelanggan<br />
lima bintang bisa menentukan harga dirinya malam itu<br />
ia tertawa kecil membaca komentar:<br />
“pengiriman lambat.”<br />
padahal hujan yang membuat jalan lebih panjang dari biasanya</p>
<p>Barangkali, beginilah dunia konoha<br />
manusia berubah menjadi target jam kerja dan data statistik<br />
suara digital bisa dibisukan kapan saja<br />
namun selalu ada hal kecil dapat menyelamatkan bumi</p>
<p>Seorang perempuan berbagi payung<br />
kepada orang asing di bawah hujan<br />
pemuda membeli dagangan nenek tua<br />
tanpa menawar<br />
anak kecil mengembalikan uang terjatuh di depan warung<br />
meski tak seorang pun melihat</p>
<p>Kemanusiaan tak lagi datang sebagai pengakuan<br />
tapi dari tangan tetap terulur di zaman yang serba individualistis<br />
tetap terjaga pada orang-orang yang masih percaya<br />
bahwa sesama manusia masih punya hati untuk sesama</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Jakarta, 10 Juni 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>Kembali Tentang Gerimis</strong></p>
<p><strong>Puisi: Khairani Piliang</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Gerimis turun<br />
dzikir tak bersuara<br />
mengukir langit pada dada retak<br />
tiap tetes mengganti huruf yang hilang<br />
jatuh perlahan menyapu luka</p>
<p>Di ambang pagi embun menggantung<br />
menjadi doa tertahan di bibir bumi<br />
menitik satu persatu<br />
menyusup ke ranting-ranting kering</p>
<p>Gerimis<br />
aku mengenalmu sejak tubuhku belum berpola<br />
kau datang sebagai petuah<br />
menetap sebagai janji<br />
mengalir di sela-sela sunyi diri<br />
tak pernah selesai kupahami</p>
<p>Kau basuh wajah letih menatap dunia<br />
mengurai perih tersembunyi<br />
di antara jatuh dan bangkit<br />
aku menemukanmu<br />
sebagai jeda yang menghidupkan</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Bekasi, 26 April 2026</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>Tentang Penyair &#8211; </strong><strong>Khairani Piliang</strong></p>
<p>Khairani Piliang penulis buku kumpulan cerpen judul Suatu Pagi di Dermaga yang rilis tahun 2017, dan kumpulan puisi judul &#8220;Seduh Sedih yang Bertasbih&#8221;, rilis tahun 2025. Berkontribusi lebih dari 50 buku antologi bersama, cerpen maupun puisi. Karyanya tersebar di berbagai media cetak dan daring nasional.<br />
Terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan juri di sejumlah lomba penulisan. Pernah menorehkan prestasi sebagai pemenang lomba penulisan kreatif buku, menegaskan reputasinya sebagai penulis produktif dan berpengaruh.<br />
Email: khairanipiliang76@gmail.com</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>English Version</p>
<p>/1/</p>
<p><strong>THE TREE WITHIN THE BODY OF TIME</strong></p>
<p><em><strong>Poem by Khairani Piliang</strong></em><br />
<em><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>//Root</p>
<p>descending into the oldest well<br />
beneath the earth&#8217;s tongue<br />
it nurses on darkness<br />
wrings bitterness from stone<br />
chews the cold<br />
and gathers moss between the ribs of age</p>
<p>there<br />
no season stirs, no bird breaks the silence<br />
only the whisper of soil reciting its solitude<br />
in a language more sacred than speech</p>
<p>so, too, the human begins<br />
from a depth much like this<br />
falling inward, into the body<br />
then living, thirsting<br />
seeking an oasis in the cracked earth</p>
<p>//Trunk</p>
<p>becoming a pillar of seasons<br />
its rings of years<br />
a rosary of time<br />
turned bead by bead</p>
<p>sometimes lightning lays its hand upon the bark<br />
wind slowly files the skin away<br />
until the scent of rain sinks into it<br />
and becomes a memory without an ending</p>
<p>It stands<br />
like a letter no one has finished reading<br />
beneath its shade<br />
wanderers find a place to rest<br />
birds trade their songs<br />
after long apprenticeships in solitude</p>
<p>a dim lamp on the veranda of dusk<br />
age deepens<br />
and the corridors within grow crowded<br />
with things the tongue<br />
can no longer reach</p>
<p>//Branch</p>
<p>fingers reaching outward<br />
from an aging body<br />
little roads<br />
threading out from the heart of hope</p>
<p>some break<br />
under winds that arrive too early<br />
others stiffen<br />
beneath a season that has forgotten rain</p>
<p>yet the tree<br />
keeps growing toward somewhere<br />
though the sky, again and again,<br />
erases the answer<br />
because desire<br />
is a bird of the night<br />
always finding its way home<br />
even with blood on its wings</p>
<p>//Leaf</p>
<p>trembling in the rush of wind<br />
a thousand little hands waving<br />
green, here for only a moment<br />
then turning gold<br />
and falling into the mother&#8217;s lap</p>
<p>never refusing anything<br />
:the falling</p>
<p>the quietest utterance of life<br />
learning to surrender its name<br />
burning briefly with light<br />
then entering silence</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Jakarta, Indonesia, June 25th, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>LUNCH HOUR IN A CITY THAT NEVER PAUSES</strong></p>
<p><em><strong>Poem by Khairani Piliang</strong></em><br />
<em><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>At noon<br />
the streets are thick with hurried footsteps<br />
phone screens flare<br />
heads bow<br />
in devotion to the next notification<br />
at the red light a child sells tissues<br />
calling out through a hoarse throat<br />
his voice swallowed by horns and end-of-month bargains<br />
He has learned the art of tapping on car windows<br />
with more certainty<br />
than he can spell his own name</p>
<p>Meanwhile, on the twelfth floor of a tower<br />
a meeting is taking place<br />
about rising figures and obedient graphs<br />
about numbers that must be lifted, rescued<br />
so the world may continue<br />
to look well</p>
<p>Nothing is wrong<br />
mother still cooks the rice<br />
though its rising price stings her eyes<br />
sharper than red chilli<br />
father still leaves before dawn<br />
crossing the dark to outrun the installments<br />
a student erases the search history from her phone:<br />
“how to survive on twenty thousand rupiah.”</p>
<p>We live in an age<br />
when mercy is often slower<br />
than the internet<br />
someone reaches for a camera<br />
before reaching for the fallen<br />
someone turns another person&#8217;s tears into content<br />
then gives the wound the name of empathy<br />
grief is trimmed to sixty seconds<br />
dressed in mournful music<br />
and crowned with a hashtag</p>
<p>At night, war crosses the screen<br />
the dead arrive like weather:<br />
spoken of for a moment, then gone<br />
and we chew the evening&#8217;s condition<br />
as though nothing must interrupt<br />
the ritual of dinner</p>
<p>in another corner of the city<br />
a courier stops beneath a bridge<br />
opens a cold meal<br />
while checking the stars beside his name<br />
five little stars may decide<br />
how much he is worth that night<br />
he smiles faintly at the comment:<br />
“delivery was slow.”<br />
as if rain had not lengthened<br />
every road he travelled</p>
<p>Perhaps this is what the world has become<br />
human beings reduced<br />
to shifts, targets, figures<br />
a digital voice can be silenced<br />
with a single touch<br />
yet somewhere, always,<br />
something small remains<br />
capable of keeping the earth alive</p>
<p>A woman tilts her umbrella<br />
toward a stranger in the rain<br />
a young man buys from an old woman<br />
without asking for a lower price<br />
a child returns the money<br />
someone dropped outside a little shop<br />
though no one is there to witness it</p>
<p>Humanity no longer arrives<br />
wearing the name of virtue<br />
it comes instead<br />
as a hand that stays extended<br />
in an age teaching everyone to stand alone<br />
still alive in those who believe<br />
that one human heart<br />
has not forgotten<br />
how to shelter another</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Jakarta, Indonesia, June 10th, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>ABOUT THE DRIZZLE AGAIN</strong></p>
<p><em><strong>Poem by Khairani Piliang </strong></em><br />
<em><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Drizzle falls<br />
a dhikr without a voice<br />
inscribing the sky upon a wounded chest<br />
each drop restores a missing letter<br />
descending slowly, washing over the wound</p>
<p>At the edge of morning, dew hangs<br />
a prayer suspended upon the lips of earth<br />
falling, one drop at a time<br />
into the waiting fingers of dry branches</p>
<p>Drizzle<br />
I have known you since my body was still without a shape<br />
you came to me as a word of wisdom<br />
remained as a promise<br />
flowed quietly through the chambers of my solitude<br />
and never yielded all your meaning</p>
<p>You rinse the tired face<br />
that keeps looking toward the world<br />
untying the pain hidden<br />
between falling and rising<br />
and I find you there<br />
a pause in which life<br />
finds its breath again</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Bekasi, Indonesia, April 26th, 2026</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p><strong>About the Poet &#8211; Khairani Piliang</strong></p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12082" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0039-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0039-225x300.jpg 225w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0039-768x1025.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0039.jpg 1024w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></p>
<p>Khairani Piliang is the author of the short-story collection Suatu Pagi di Dermaga, published in 2017, and the poetry collection Seduh Sedih yang Bertasbih, published in 2025. She has contributed to more than fifty collaborative anthologies of poetry and short fiction. Her work has appeared in various national print and online publications. She is active in literary and literacy initiatives and has served as a judge for a number of writing competitions. She has also received recognition as a winner of a creative book-writing competition, affirming her standing as a prolific and engaged literary writer. Email: khairanipiliang76@gmail.com</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Translator &#8211; Leni Marlina</strong></p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-7206" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-212x300.jpeg" alt="" width="212" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-212x300.jpeg 212w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-723x1024.jpeg 723w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina.jpeg 762w" sizes="(max-width: 212px) 100vw, 212px" /></p>
<p>Leni Marlina is an Indonesian poet, writer, translator, and lecturer in the English Department, Faculty of Languages and Arts, at Universitas Negeri Padang, Indonesia since 2006. Her creative and scholarly work spans poetry, fiction, essays, literary criticism, review, translation, and literacy studies.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MANUSIAKU</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/refleksi/manusiaku</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2026 12:37:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[MANUSIAKU]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12064</guid>

					<description><![CDATA[Secangkir Kopi Cak Mus &#8211; manusiaku begitu belam pencapaian sering sembunyi bawah tanah manusiawi kemanusiaan yang jahil dan berdebu insannya hilang berperikehewanan melata basyar sasar tak berhaluan setengah abad tidak jadi manusia serigala berbulu parah domba halus tutur sesampah di jiwa menerkam mangsa nafsu serakahnya kuku-kuku tajam mencakar dalam tertawa menindih nestapa sesama wuih, manusiaku [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secangkir Kopi Cak Mus</p>
<p>&#8211;</p>
<p><iframe title="MANUSIAKU" width="800" height="450" src="https://www.youtube.com/embed/fHNVDfp1ug4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></p>
<p>manusiaku begitu belam pencapaian<br />
sering sembunyi bawah tanah manusiawi<br />
kemanusiaan yang jahil dan berdebu<br />
insannya hilang berperikehewanan<br />
melata basyar sasar tak berhaluan</p>
<p>setengah abad tidak jadi manusia<br />
serigala berbulu parah domba<br />
halus tutur sesampah di jiwa<br />
menerkam mangsa nafsu serakahnya<br />
kuku-kuku tajam mencakar dalam<br />
tertawa menindih nestapa sesama</p>
<p>wuih, manusiaku begitu jumpalit jumawa<br />
berakrobat menadah husnul khotimah<br />
senyampang napas masih menyembur angkara<br />
menyumbat taubat masih ada waktu<br />
katanya, tiba-tiba maut itu biasa<br />
berharap angin tenggara mengusung doa<br />
padahal senyap peduli nirsembada</p>
<p>sesungguhnya manusiaku dalam kerugian<br />
mengapa masih gulita bertahan<br />
tak gegas menuju Cahaya-Nya binar<br />
subtil diri meluruh pekatan<br />
aku tak ingin menyasar jahanam<br />
sia-sia manusiaku di-ada-kan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menafsir Ulang Kolaborasi dalam Pembelajaran di Era Kecerdasan Artifisial   </title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/menafsir-ulang-kolaborasi-dalam-pembelajaran-di-era-kecerdasan-artifisial</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2026 05:41:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Menafsir Ulang Kolaborasi dalam Pembelajaran di Era Kecerdasan Artifisial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12045</guid>

					<description><![CDATA[Heri Isnaini&#124; Penulis &#8211; Beberapa tahun lalu, ketika seorang guru meminta peserta didiknya menulis esai, ruang belajar hampir selalu dapat dibayangkan dengan cara yang sederhana. Seorang siswa membuka buku, mencatat beberapa gagasan, mencari artikel di perpustakaan, bertanya kepada guru, lalu mendiskusikan persoalan yang belum dipahaminya dengan teman-teman sekelas. Pengetahuan bergerak dari satu manusia kepada manusia [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Heri Isnaini</strong><strong>| Penulis</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Beberapa tahun lalu, ketika seorang guru meminta peserta didiknya menulis esai, ruang belajar hampir selalu dapat dibayangkan dengan cara yang sederhana. Seorang siswa membuka buku, mencatat beberapa gagasan, mencari artikel di perpustakaan, bertanya kepada guru, lalu mendiskusikan persoalan yang belum dipahaminya dengan teman-teman sekelas. Pengetahuan bergerak dari satu manusia kepada manusia lain melalui percakapan, pembacaan, pengalaman, dan perdebatan kecil yang sering kali justru melahirkan pemahaman baru.</p>
<p>Proses itu tidak selalu cepat, tetapi di dalam kelambatan tersebut terdapat sesuatu yang penting: siswa mengalami sendiri bagaimana sebuah pengetahuan ditemukan, dipertanyakan, diuji, dan kemudian menjadi bagian dari cara berpikirnya.</p>
<p>Ruang belajar hari ini tidak lagi sesederhana itu. Ketika seorang siswa mendapatkan tugas menulis tentang sastra, sejarah, bahasa, atau bahkan persoalan sosial, sebuah mesin dapat hadir di sampingnya dan memberikan respons dalam hitungan detik. Ia dapat meminta penjelasan tentang teori, memperoleh contoh, menyusun kerangka tulisan, membandingkan beberapa konsep, meminta alternatif judul, bahkan menyerahkan draf tulisannya untuk memperoleh masukan. Percakapan yang dahulu berlangsung antara siswa dengan guru, siswa dengan buku, atau siswa dengan teman sebaya, kini memiliki satu interlocutor baru: kecerdasan artifisial.</p>
<p>Perubahan tersebut tentu menghadirkan kegelisahan. Guru bertanya-tanya apakah siswa masih benar-benar berpikir ketika sebagian proses berpikir dapat dibantu mesin. Dosen mempertanyakan keaslian tulisan mahasiswa ketika sebuah esai dapat disusun dengan bantuan AI. Orang tua mungkin khawatir anak-anak menjadi terlalu bergantung pada teknologi. Kekhawatiran semacam itu mempunyai alasan, terutama jika kecerdasan artifisial digunakan sekadar sebagai jalan pintas untuk menghindari proses belajar.</p>
<p>Namun, saya kira persoalannya menjadi terlalu sederhana jika AI hanya ditempatkan sebagai ancaman. Teknologi tidak pernah hadir dalam ruang pendidikan tanpa mengubah cara manusia berhubungan dengan pengetahuan. Yang perlu kita perhatikan bukan hanya apa yang dapat dilakukan oleh teknologi, melainkan apa yang terjadi pada manusia ketika teknologi tersebut menjadi bagian dari proses belajar.</p>
<p>Di sinilah gagasan tentang pembelajaran kolaboratif perlu dibaca kembali. Selama ini, kolaborasi dalam pembelajaran terutama dipahami sebagai aktivitas beberapa orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Siswa berdiskusi, membagi tugas, mengemukakan pendapat, memberi tanggapan, dan menyusun kesimpulan bersama. Guru berperan sebagai pendamping yang mengarahkan proses agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada pembagian pekerjaan, tetapi menghasilkan pertukaran gagasan. Kolaborasi dengan demikian bukan sekadar bekerja dalam kelompok. Intinya terletak pada proses ketika seseorang belajar melalui keberadaan orang lain.</p>
<p>Kehadiran AI membuat konfigurasi tersebut berubah. Seorang siswa kini dapat bekerja dalam kelompok bersama teman-temannya, tetapi pada saat yang sama kelompok tersebut dapat menggunakan AI untuk menguji gagasan, mencari kemungkinan penjelasan, atau memperoleh perspektif alternatif. Seorang siswa yang mengalami kesulitan memahami konsep tertentu dapat berdialog dengan AI sebelum membawa persoalan itu ke dalam diskusi kelompok. Bahkan, dalam situasi tertentu, AI dapat menjadi semacam ruang latihan sebelum siswa berhadapan dengan guru atau teman-temannya.</p>
<p>Perubahan ini menarik sebab memperluas pengertian tentang siapa atau apa yang dapat hadir dalam ekosistem belajar. Jika dahulu kolaborasi hampir selalu berarti manusia dengan manusia, sekarang kita berhadapan dengan kemungkinan manusia belajar bersama manusia melalui perantaraan mesin, bahkan manusia berdialog dengan mesin untuk mempersiapkan dialog berikutnya dengan manusia.</p>
<p>Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. AI dapat memberikan respons, tetapi respons bukanlah pengalaman. AI dapat menjelaskan konsep, tetapi penjelasan bukanlah pemahaman. AI dapat menyusun argumentasi, tetapi argumentasi yang dihasilkan mesin tidak serta-merta menjadi sikap intelektual orang yang menggunakannya. Sebuah jawaban dapat benar secara informasi, tetapi tetap tidak memiliki makna bagi seseorang yang tidak pernah menguji, mempertanyakan, atau menghubungkannya dengan pengalaman dan pengetahuannya sendiri.</p>
<p>Persoalan tersebut menjadi semakin jelas jika kita kembali kepada pemikiran Lev Vygotsky. Belajar, dalam perspektif Vygotsky, berlangsung melalui proses sosial. Seseorang dapat berkembang melampaui kemampuan aktualnya melalui bantuan dari pihak lain dalam wilayah yang dikenal sebagai <em>zone of proximal development</em>. Guru, teman sebaya, orang tua, dan lingkungan sosial dapat menjadi bagian dari proses <em>scaffolding</em> yang membantu peserta didik melakukan sesuatu yang sebelumnya belum mampu dilakukan secara mandiri.</p>
<p>Dalam konteks baru, sebagian fungsi <em>scaffolding</em> tersebut memang dapat dibantu oleh AI. Ketika seorang siswa tidak memahami istilah tertentu, AI dapat memberikan penjelasan. Ketika siswa kesulitan mencari contoh, AI dapat menyediakannya. Ketika siswa ingin menguji sebuah gagasan, AI dapat memberikan respons awal. Dalam batas tertentu, AI dapat menjadi semacam pendamping kognitif yang membantu siswa bergerak dari ketidaktahuan menuju pemahaman.</p>
<p>Akan tetapi, pendampingan pedagogis tidak berhenti pada pemberian jawaban. Guru mengetahui bahwa seorang siswa yang diam belum tentu memahami materi, sebagaimana siswa yang banyak bertanya belum tentu mengalami kesulitan. Guru dapat membaca ekspresi, intonasi, kebiasaan, latar belakang, bahkan perubahan kecil dalam perilaku peserta didik. Pengetahuan pedagogis tumbuh dari hubungan yang berlangsung terus-menerus. Di dalam hubungan tersebut terdapat empati, keteladanan, teguran, kesabaran, dan keputusan-keputusan yang tidak selalu dapat dirumuskan menjadi algoritma.</p>
<p>Oleh sebab itu, AI dapat membantu proses pedagogis, tetapi tidak otomatis menjadi hubungan pedagogis. Perbedaan tersebut penting sebab pendidikan pada dasarnya tidak hanya berurusan dengan transfer informasi. Pendidikan berurusan dengan manusia yang sedang tumbuh. Seorang siswa tidak hanya perlu mengetahui bagaimana menulis paragraf argumentatif, tetapi juga perlu belajar mengapa sebuah argumen harus bertanggung jawab. Ia tidak hanya perlu mengetahui cara mencari informasi, tetapi perlu memahami mengapa informasi harus diperiksa. Ia tidak hanya membutuhkan jawaban, tetapi juga membutuhkan pengalaman ketika jawaban yang diyakininya ternyata keliru.</p>
<p>Di sinilah teknologi justru menghadirkan sebuah paradoks. Semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting kemampuan untuk menilai informasi. Semakin mudah teks diproduksi, semakin penting kemampuan untuk menentukan apakah teks tersebut memiliki gagasan. Semakin cepat sebuah jawaban tersedia, semakin penting kemampuan untuk menunda penerimaan dan mengajukan pertanyaan: benarkah demikian?</p>
<p>Marshall McLuhan pernah menunjukkan bahwa medium bukan sekadar saluran yang membawa pesan. Medium turut membentuk cara manusia mengalami pesan tersebut. Jika gagasan ini ditempatkan dalam konteks AI, maka kecerdasan artifisial tidak cukup dipahami sebagai perangkat yang membantu menyelesaikan tugas. Ia merupakan bagian dari perubahan ekologi belajar. Ketika siswa terbiasa memperoleh jawaban melalui dialog dengan mesin, cara mereka bertanya, membaca, menulis, mengingat, dan memeriksa informasi pun berpotensi berubah.</p>
<p>Perubahan semacam ini menuntut reposisi pembelajaran kolaboratif. Guru tidak cukup hanya mengatakan bahwa siswa boleh atau tidak boleh menggunakan AI. Yang lebih penting adalah mengajarkan bagaimana AI ditempatkan dalam proses berpikir. Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat diminta menulis sebuah esai tentang cerita rakyat Nusantara. Tahap pertama tidak harus langsung menggunakan AI. Mereka dapat membaca teks, mendiskusikan persoalan, menentukan pertanyaan, dan merumuskan tafsir awal.</p>
<p>Setelah itu, AI dapat digunakan sebagai mitra untuk menguji kemungkinan pembacaan: apakah terdapat perspektif lain, apakah argumentasi tertentu memiliki kelemahan, atau adakah konteks yang belum dipertimbangkan. Setelah memperoleh respons dari AI, siswa kembali kepada teks dan memeriksa apakah respons tersebut benar-benar sesuai dengan data yang mereka temukan.</p>
<p>Dalam pola seperti itu, AI tidak menjadi penulis pengganti. Ia menjadi bagian dari proses negosiasi pengetahuan. Siswa tetap membaca. Siswa tetap menafsirkan. Siswa tetap berdiskusi. Siswa tetap mengambil keputusan. Mesin memberikan kemungkinan, sementara manusia menentukan arah.</p>
<p>Gagasan George Siemens tentang <em>connectivism</em> menjadi relevan dalam konteks tersebut. Dalam pembelajaran digital, pengetahuan tidak hanya berada di dalam diri seseorang, tetapi tersebar dalam jaringan yang menghubungkan manusia, informasi, teknologi, dan berbagai sumber pengetahuan. Kemampuan belajar kemudian tidak cukup diukur dari seberapa banyak seseorang mampu mengingat, tetapi juga dari kemampuannya menemukan, memilih, menghubungkan, dan mengevaluasi pengetahuan.</p>
<p>Persoalannya, jaringan pengetahuan yang semakin luas juga membawa risiko yang semakin besar. AI dapat menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan meskipun tidak selalu benar. Ia dapat menyusun referensi, tetapi pengguna tetap harus memeriksa keberadaan dan relevansinya. Ia dapat menghasilkan tafsir sastra yang tampak canggih, tetapi tafsir tersebut tetap perlu diuji melalui teks. Ia dapat menyusun argumen yang rapi, tetapi kerapian bahasa tidak menjamin kedalaman pemikiran.</p>
<p>Oleh sebab itu, literasi AI pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari literasi kritis. Siswa perlu belajar bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi juga bagaimana meragukannya secara sehat. Mereka perlu mengetahui kapan harus menerima sebuah jawaban sebagai hipotesis, kapan harus mencari sumber lain, dan kapan harus mengatakan bahwa mesin tersebut keliru.</p>
<p>Bagi pembelajaran Bahasa Indonesia, persoalan ini menjadi semakin menarik sebab bahasa merupakan wilayah tempat manusia membentuk dan mengekspresikan pikirannya. Jika siswa menyerahkan seluruh proses penulisan kepada mesin, yang hilang bukan sekadar latihan menulis. Yang berpotensi hilang adalah proses menemukan suara. Padahal, dalam pembelajaran bahasa dan sastra, suara personal merupakan bagian penting dari perkembangan intelektual.</p>
<p>Seseorang belajar menulis bukan hanya agar dapat menghasilkan teks yang benar secara gramatikal, tetapi agar mampu mengatakan sesuatu dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai gagasannya sendiri. Sebab itu, penggunaan AI dalam pembelajaran menuntut perubahan tugas. Guru tidak cukup memberikan perintah, “Tulislah esai tentang tema tertentu.” Tugas semacam itu terlalu mudah dialihkan kepada mesin. Guru dapat merancang tugas yang meminta siswa menunjukkan proses: bagaimana pertanyaan dirumuskan, sumber apa yang digunakan, bagaimana AI dimanfaatkan, jawaban mana yang ditolak, mengapa sebuah argumen dipilih, dan bagaimana hasil akhir mengalami perubahan setelah melalui diskusi.</p>
<p>Dengan cara tersebut, yang dinilai bukan hanya produk, tetapi juga perjalanan intelektual yang menghasilkan produk tersebut. Saya kira di sinilah masa depan pembelajaran kolaboratif menemukan persoalan yang sesungguhnya. Kita tidak sedang menuju kelas yang seluruhnya dikuasai mesin, sebagaimana kita juga tidak sedang kembali kepada kelas yang sepenuhnya bergantung pada buku dan papan tulis. Kita sedang memasuki ruang belajar yang lebih berlapis. Guru, siswa, teman sebaya, buku, internet, dan AI berada dalam satu ekosistem yang saling berhubungan.</p>
<p>Namun, semakin banyak unsur yang hadir dalam ekosistem tersebut, semakin penting manusia menentukan pusatnya. Pusat pendidikan tetap manusia. AI dapat membantu siswa menemukan kemungkinan, tetapi siswa harus menentukan makna. AI dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi manusia tetap harus menentukan apakah informasi tersebut layak dipercaya. AI dapat memberikan alternatif argumentasi, tetapi manusia harus bertanggung jawab terhadap argumen yang akhirnya dipilih. AI dapat membantu memperbaiki kalimat, tetapi manusia tetap harus mengetahui apa yang sebenarnya ingin dikatakannya.</p>
<p>Pada titik ini, pertanyaan tentang AI dalam pendidikan bergeser. Kita tidak lagi cukup bertanya apakah AI akan menggantikan guru atau membuat siswa malas berpikir. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah “M<strong>anusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui pembelajaran yang semakin dekat dengan mesin?”</strong></p>
<p>Pertanyaan tersebut penting sebab pendidikan selalu mempunyai dimensi yang lebih luas daripada teknologi yang digunakannya. Mesin dapat berubah, aplikasi dapat berganti, dan algoritma dapat berkembang, tetapi pendidikan tetap berhadapan dengan manusia yang harus belajar mengambil keputusan. Ia harus belajar mendengarkan orang lain, menerima perbedaan, menguji pendapat, mengakui kesalahan, dan mempertanggungjawabkan pilihan.</p>
<p>Oleh sebab itu, saya tidak melihat kehadiran AI sebagai alasan untuk mengakhiri pembelajaran kolaboratif. Sebaliknya, AI justru memberi alasan yang lebih kuat untuk memperluas dan memperdalamnya. Jika sebelumnya siswa belajar bekerja sama dengan manusia, kini mereka juga perlu belajar bagaimana menggunakan mesin tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir bersama manusia.</p>
<p>Barangkali inilah reposisi yang diperlukan. Kolaborasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai pembagian tugas dalam kelompok. Kolaborasi perlu dipahami sebagai proses mempertemukan gagasan, sumber pengetahuan, teknologi, pengalaman, dan pertimbangan manusia untuk menghasilkan pemahaman yang lebih matang. Dalam proses itu, AI boleh menjadi mitra, tetapi tidak boleh menjadi pusat kesadaran belajar.</p>
<p>Sebab, belajar pada akhirnya bukan perkara siapa yang paling cepat memberikan jawaban. Belajar adalah proses ketika seseorang perlahan-lahan menemukan cara untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik, mempertimbangkan jawaban dengan lebih hati-hati, dan memahami alasan di balik keputusan yang diambilnya.</p>
<p>Mesin mungkin dapat membantu kita sampai lebih cepat. Akan tetapi, pendidikan tetap mempunyai tugas yang lebih panjang, yakni memastikan bahwa manusia yang sampai di sana memahami mengapa ia pergi, apa yang ditemukannya, dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.</p>
<p>Di tengah kecerdasan artifisial yang semakin dekat dengan ruang kelas, mungkin itulah bentuk kolaborasi yang perlu kita pertahankan bahwa <strong><em>manusia menggunakan kecanggihan mesin tanpa menyerahkan kemanusiaannya kepada mesin.</em></strong></p>
<p>Bandung, 6 Oktober 2026</p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p><strong>Penulis:</strong></p>
<p>Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: <a href="mailto:heriisnaini.heriisnaini@gmail.com">heriisnaini.heriisnaini@gmail.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mitos-Dekonstruktif pada Cerpen-Cerpen Karya Heri Isnaini</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/mitos-dekonstruktif-pada-cerpen-cerpen-karya-heri-isnaini</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2026 05:30:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mitos-Dekonstruktif pada Cerpen-Cerpen Karya Heri Isnaini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12042</guid>

					<description><![CDATA[Yulia Herliani&#124; Penulis &#8211; Mitos selalu memiliki hubungan yang menarik dengan sastra. Ia hadir sebagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi pada saat yang sama tidak pernah benar-benar berhenti mengalami perubahan. Setiap generasi memiliki cara sendiri dalam menerima, mengingat, dan menafsirkan mitos. Sebab itu, mitos tidak semata-mata dapat dipahami sebagai cerita masa lalu, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yulia Herliani| Penulis</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Mitos selalu memiliki hubungan yang menarik dengan sastra. Ia hadir sebagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi pada saat yang sama tidak pernah benar-benar berhenti mengalami perubahan. Setiap generasi memiliki cara sendiri dalam menerima, mengingat, dan menafsirkan mitos. Sebab itu, mitos tidak semata-mata dapat dipahami sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai bagian dari ingatan kebudayaan yang terus bergerak mengikuti perubahan masyarakat.</p>
<p>Ketika seorang pengarang menjadikan mitos sebagai bahan penciptaan, yang dihadapi bukan hanya sebuah alur cerita, melainkan juga seperangkat nilai, simbol, keyakinan, dan konstruksi sosial yang telah melekat pada cerita tersebut.</p>
<p>Kecenderungan semacam itu tampak dalam sejumlah cerpen Heri Isnaini yang mengambil mitos sebagai sumber penciptaan. Cerpen seperti <em>Perahu yang Tidak Pernah Dibuat</em>, <em>Selendang yang Sengaja Kutinggalkan</em>, dan <em>Aku Tidak Pernah Mengejar Timun Mas</em> memperlihatkan cara yang khas dalam memperlakukan cerita-cerita yang telah dikenal masyarakat. Mitos tidak sekadar diceritakan kembali dalam bentuk yang lebih modern, tetapi dipertanyakan dari dalam struktur ceritanya sendiri. Tokoh, peristiwa, simbol, dan hubungan sebab-akibat yang selama ini dianggap mapan mengalami pergeseran sehingga pembaca memperoleh kesempatan untuk melihat mitos melalui perspektif yang berbeda. Kecenderungan inilah yang dapat disebut sebagai <strong>mitos-dekonstruktif</strong><strong>.</strong></p>
<p>Istilah tersebut menunjuk pada pertemuan antara mitos sebagai sumber narasi dan dekonstruksi sebagai cara membaca. Dalam pemikiran Jacques Derrida, dekonstruksi tidak sesederhana tindakan menghancurkan sebuah teks atau menolak makna yang telah ada. Dekonstruksi justru berusaha memperlihatkan ketidakstabilan makna dengan menemukan kontradiksi, ketegangan, dan hierarki yang bekerja di dalam sebuah teks.</p>
<p>Apa yang selama ini ditempatkan sebagai pusat dapat digeser, sedangkan sesuatu yang berada di pinggiran dapat memperoleh posisi yang lebih penting. Dengan cara tersebut, teks tidak lagi dipandang sebagai bangunan yang memiliki satu makna final, tetapi sebagai ruang yang memungkinkan munculnya berbagai kemungkinan tafsir.</p>
<p>Mitos sangat memungkinkan untuk dibaca melalui perspektif semacam itu sebab keberadaannya selalu bergantung pada proses pewarisan dan pengulangan. Ketika sebuah cerita terus-menerus diceritakan dengan pola yang sama, masyarakat perlahan menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang alamiah dan tidak perlu dipertanyakan. Sangkuriang, misalnya, telah begitu kuat melekat pada kisah tentang Dayang Sumbi, cinta yang terlarang, perahu yang harus selesai dalam satu malam, dan terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu.</p>
<p>Demikian pula kisah Timun Mas telah dikenal melalui struktur pengejaran antara seorang gadis dan raksasa. Sementara itu, kisah bidadari dan selendang telah berulang kali hadir dengan pola seorang perempuan dari dunia kayangan yang kehilangan jalan pulang sebab selendangnya disembunyikan oleh manusia.</p>
<p>Namun, justru sebab cerita-cerita tersebut telah begitu dikenal, sastra memperoleh kesempatan untuk mempertanyakan kembali bagian-bagian yang selama ini dianggap sudah selesai. Cerpen <em>Perahu yang Tidak Pernah Dibuat</em> menunjukkan strategi tersebut sejak dari judulnya. Dalam mitos Sangkuriang, perahu merupakan salah satu unsur penting yang menghubungkan keinginan tokoh dengan terbentuknya lanskap yang kemudian dikenal sebagai Tangkuban Parahu. Ketika cerpen Heri Isnaini menghadirkan perahu yang “tidak pernah dibuat”, sebuah kepastian dalam mitos tiba-tiba mengalami gangguan. Peristiwa yang selama ini menjadi bagian dari pengetahuan kolektif tidak lagi diterima sebagai sesuatu yang mutlak.</p>
<p>Ketiadaan perahu kemudian menjadi penting sebab sesuatu yang tidak ada justru memperoleh posisi sentral dalam cerita. Di sinilah permainan dekonstruktif bekerja. Yang dipertanyakan bukan sekadar apakah perahu itu ada atau tidak, tetapi bagaimana sebuah mitos membangun kebenarannya melalui peristiwa tertentu. Ketika satu unsur utama digeser, keseluruhan jaringan makna yang mengelilinginya ikut mengalami perubahan. Sangkuriang tidak lagi hanya menjadi tokoh yang mengulang kisah yang sudah dikenal, tetapi menjadi pintu untuk memasuki kemungkinan lain tentang hubungan antara manusia, ingatan, keinginan, dan mitos.</p>
<p>Strategi yang berbeda tetapi memiliki kecenderungan serupa terlihat dalam <em>Selendang yang Sengaja Kutinggalkan</em>. Kisah tentang bidadari dan selendang biasanya dibangun melalui motif kehilangan. Selendang menjadi benda yang hilang, disembunyikan, atau diambil sehingga sang bidadari tidak dapat kembali ke kayangan. Dalam struktur semacam itu, bidadari cenderung ditempatkan sebagai objek dari tindakan tokoh lain. Kehidupannya berubah sebab keputusan orang lain, sedangkan selendang menjadi simbol yang menentukan kebebasan bergeraknya.</p>
<p>Kata “sengaja” dalam judul cerpen Heri Isnaini mengubah struktur tersebut secara signifikan. Jika selendang sengaja ditinggalkan, maka kehilangan tidak lagi harus dibaca sebagai akibat dari tindakan orang lain. Kehilangan dapat menjadi keputusan personal. Perubahan kecil dalam struktur kalimat tersebut menghasilkan perubahan besar dalam posisi tokoh. Bidadari yang sebelumnya dapat dibaca sebagai korban memperoleh kemungkinan untuk menjadi subjek yang menentukan kehidupannya sendiri. Ia tidak semata-mata kehilangan jalan pulang, tetapi mungkin sedang mempertimbangkan apakah pulang merupakan pilihan yang masih diinginkannya.</p>
<p>Pada titik tersebut, mitos bertemu dengan persoalan kontemporer tentang kebebasan, kehendak, identitas, dan pilihan hidup. Cerita lama memperoleh resonansi baru sebab tokoh yang sebelumnya berada dalam struktur patriarkal dan relasional yang tertentu diberi kesempatan untuk memiliki kehendak. Dengan demikian, dekonstruksi tidak hanya mengubah alur cerita, tetapi juga menggeser relasi kuasa yang terdapat di dalamnya. Pembaca diajak untuk mempertanyakan apakah sesuatu yang selama ini disebut sebagai “kehilangan” memang selalu merupakan kehilangan, atau justru dapat menjadi bentuk pembebasan.</p>
<p>Sementara itu, <em>Aku Tidak Pernah Mengejar Timun Mas</em> memperlihatkan bentuk dekonstruksi melalui permainan perspektif. Cerita Timun Mas selama ini dikenal melalui struktur yang relatif mapan: seorang gadis berada dalam ancaman raksasa dan harus menyelamatkan diri melalui perjalanan yang penuh bahaya. Timun Mas berada pada posisi korban, sedangkan raksasa menempati posisi antagonis. Pembaca kemudian menerima hubungan tersebut sebagai bagian dari struktur moral cerita.</p>
<p>Judul cerpen Heri Isnaini mengganggu struktur tersebut dengan menghadirkan suara yang menyangkal tindakan pengejaran. Pernyataan bahwa “aku tidak pernah mengejar Timun Mas” membuat pembaca mempertanyakan siapa sebenarnya yang berbicara dan bagaimana peristiwa dalam cerita selama ini dibangun. Apabila suara tersebut berasal dari tokoh yang selama ini dianggap sebagai raksasa, maka pembaca mendapatkan kemungkinan untuk melihat cerita dari sisi yang sebelumnya tidak memperoleh ruang.</p>
<p>Yang penting dari strategi ini bukan sekadar kemungkinan bahwa raksasa ternyata baik atau Timun Mas ternyata tidak sepenuhnya benar. Dekonstruksi tidak harus menghasilkan pembalikan moral yang sederhana. Yang lebih penting adalah munculnya kesadaran bahwa pengetahuan pembaca mengenai sebuah cerita selalu dibentuk oleh perspektif tertentu. Ketika perspektif tersebut digeser, kategori seperti pahlawan, korban, penjahat, dan penyelamat tidak lagi tampak sebagai kategori yang sepenuhnya stabil.</p>
<p>Dengan demikian, cerpen-cerpen tersebut memperlihatkan perbedaan antara adaptasi dan dekonstruksi. Adaptasi pada umumnya memindahkan cerita lama ke dalam konteks baru dengan mempertahankan struktur utama yang telah dikenal. Cerita dapat ditempatkan di kota modern, tokohnya dapat menggunakan teknologi, atau konfliknya dapat disesuaikan dengan persoalan masa kini. Mitos-dekonstruktif bergerak lebih jauh sebab yang dipertanyakan bukan hanya bagaimana cerita lama diceritakan dalam konteks baru, melainkan bagaimana cerita lama tersebut selama ini membangun maknanya.</p>
<p>Dalam konteks itu, Heri Isnaini tidak sekadar melakukan <em>retelling</em>, tetapi melakukan <em>re-reading</em>. Mitos dibaca kembali melalui celah-celah yang terdapat di dalamnya. Tokoh yang selama ini berada di pusat dapat dipindahkan, sementara tokoh yang berada di pinggir memperoleh kesempatan untuk berbicara. Benda yang sebelumnya hanya menjadi unsur pendukung dapat berubah menjadi pusat simbolik. Peristiwa yang selama ini dianggap sebagai kepastian dapat dipertanyakan kembali. Proses tersebut membuat mitos menjadi teks yang terbuka terhadap kemungkinan baru.</p>
<p>Kecenderungan mitos-dekonstruktif tersebut pada akhirnya menunjukkan hubungan yang produktif antara tradisi dan kreativitas. Tradisi tidak harus dipelihara hanya dengan cara mengulang cerita lama secara persis. Tradisi juga dapat dirawat dengan cara mempertanyakannya, sebab pertanyaan memungkinkan sebuah warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ketika mitos dibaca ulang, yang terjadi bukan penghapusan terhadap masa lalu, melainkan pertemuan antara ingatan masa lalu dengan kesadaran masa kini.</p>
<p>Dalam cerpen Heri Isnaini, mitos menjadi semacam ruang negosiasi antara cerita yang telah diwariskan dan pengalaman manusia kontemporer. Sangkuriang, bidadari, dan Timun Mas tidak lagi hanya menjadi tokoh yang tinggal di dalam ingatan kolektif, tetapi menjadi figur yang dapat membawa persoalan baru mengenai pilihan, identitas, kekuasaan, ingatan, dan perspektif. Mitos kemudian memperoleh kehidupan kedua melalui sastra.</p>
<p>Pada akhirnya, mitos-dekonstruktif pada cerpen karya Heri Isnaini dapat dipahami sebagai kecenderungan estetik yang menggunakan mitologi sebagai medan untuk mempertanyakan kemapanan makna. Cerpen-cerpen tersebut tidak berusaha menghapus mitos, tetapi membuka kemungkinan agar mitos dapat dibaca melalui sudut pandang yang berbeda. Dengan cara demikian, cerita yang telah dikenal tidak kehilangan masa lalunya, tetapi memperoleh masa depan baru dalam bentuk tafsir.</p>
<p>Barangkali di situlah kekuatan sastra dalam berhadapan dengan mitos. Sastra tidak selalu harus menciptakan cerita yang sama sekali baru. Kadang-kadang ia hanya perlu kembali kepada cerita lama, membuka pintu yang selama ini tertutup, lalu bertanya dengan cara yang berbeda. Dari pertanyaan itulah muncul kemungkinan bahwa apa yang selama ini kita anggap sebagai akhir sebenarnya hanyalah satu versi dari cerita yang masih menyimpan banyak kemungkinan lain.</p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p><strong>Penulis:</strong></p>
<p>Yulia Herliani lahir di Bandung, 31 Juli. Saat ini dia bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK Profita Kota Bandung. Tulisan-tulisannya sudah dipublikasi di beberapa media massa daring. Selain menjadi guru, Yulia sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari ketiga anaknya. Yulia dan keluarga tinggal di Kota Bandung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BAYANG-BAYANG PENGGUSURAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/bayang-bayang-penggusuran</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2026 00:36:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[BAYANG-BAYANG PENGGUSURAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11924</guid>

					<description><![CDATA[Sebuah Cerpen oleh  Dr. Satrio Arismunandar &#8211; Tiga Hari Sebelum Hujan lebih dulu tahu daripada kami bahwa atap posko ini sudah menyerah. Ia turun satu-satu di sudut kiri, jatuh ke ember seng dengan bunyi yang mirip hitungan mundur. Sudah dua minggu aku menggeser ember itu ke sana-sini, dan sudah dua minggu pula aku belajar tuli [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebuah Cerpen oleh  Dr. Satrio Arismunandar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Tiga Hari Sebelum<br />
Hujan lebih dulu tahu daripada kami bahwa atap posko ini sudah menyerah. Ia turun satu-satu di sudut kiri, jatuh ke ember seng dengan bunyi yang mirip hitungan mundur. Sudah dua minggu aku menggeser ember itu ke sana-sini, dan sudah dua minggu pula aku belajar tuli terhadapnya. Orang bisa tuli terhadap apa saja, asal cukup lama dibiarkan sendirian dengan bunyinya.<br />
Masalah yang sebenarnya ada di meja: sembilan puluh tujuh kepala keluarga, satu surat edaran, dan satu kalimat yang terus diulang di televisi. Warga telah menyetujui.<br />
“Mas Damar, ini yang tanda tangan bukan tanda tangan Pak Harun,” kata seorang ibu sambil mengacungkan lembar persetujuan. “Pak Harun itu tangannya gemetar. Ini rapi banget.”<br />
Aku mencatatnya. Sudah yang keempat belas.<br />
Di luar, gang Rawa Kering berjalan seperti biasa. Tukang gorengan lewat. Anak-anak melompati selokan. Seorang bapak menjemur kaus seragam pabrik yang lengannya sudah memutih. Semuanya biasa saja, dan justru itu yang membuatnya terasa seperti pameran barang yang sebentar lagi disita.<br />
Sekitar pukul sepuluh, dua perempuan muda berdiri ragu di depan pintu. Yang satu kukenal sebagai Tika, mahasiswi sosiologi yang beberapa kali ikut mengajar kelas baca di sini. Yang satunya mengenakan kemeja linen polos dan sepatu yang jelas belum pernah menginjak selokan.<br />
Aku mengenalinya sebelum Tika selesai bicara. Fotonya pernah terbit di halaman tiga sebuah koran nasional, di rubrik acara amal, memegang gunting pita di samping lelaki berjas yang tanda tangannya kini ada di semua surat di mejaku. Keterangan fotonya: didampingi putrinya, Kinanti.<br />
“Mas Damar, ini Kinan, temanku,” kata Tika. Ia berhenti sebentar di antara kata teman dan Kinan, dan aku langsung tahu bahwa Tika tahu. Dan bahwa Tika tahu aku tahu. Kami bertiga memutuskan, tanpa bicara, untuk memainkan permainan itu.<br />
“Silakan masuk,” kataku. “Hati-hati ember.”<br />
Ia melangkah melewatinya dengan hati-hati berlebihan, lalu duduk di bangku plastik yang kakinya pincang dan tidak mengeluh. Aku mencatat itu juga, meski tidak tahu untuk apa.<br />
“Saya Kinan,” katanya. Tanpa nama belakang. Aku tidak bertanya.<br />
Warga datang bergantian membawa map lecek dan cerita yang hampir sama. Surat sosialisasi yang tidak pernah mereka terima. Petugas yang datang malam hari meminta tanda tangan “cuma buat daftar hadir”. Angka ganti rugi yang tidak cukup membeli tanah seperempat luas rumah mereka di tempat lain. Aku menerjemahkan semuanya menjadi daftar poin, karena itu pekerjaanku: mengubah kepanikan menjadi dokumen yang bisa dibaca orang yang tidak mau mendengar.<br />
Kinanti tidak mencatat. Tidak merekam. Tidak mengambil gambar. Ia hanya mendengarkan dengan tubuh agak condong, dan di wajahnya tumbuh sesuatu yang kukenal dari mahasiswa baru yang pertama kali membaca laporan investigasi. Bukan iba, tapi rasa malu karena baru tahu.<br />
Menjelang siang, Bu Sarmi masuk membawa nampan berisi teh manis dalam gelas-gelas yang tepinya sudah buram. Ia pemilik warung di ujung gang, perempuan enam puluhan yang tidak pernah ikut rapat tapi selalu tahu isinya. Ia meletakkan gelas satu per satu, dan di depan Kinanti ia berhenti lebih lama dari yang perlu.<br />
“Mbak ini dari mana?”<br />
“Dari kampus, Bu. Temannya Tika.”<br />
“Oh.” Bu Sarmi mengangguk. Lalu, selembut pisau yang masih bersarung: “Mau lihat kami, atau mau dilihat sedang melihat kami?”<br />
Tika tersedak. Ruangan menahan napas. Hujan terus menetes ke dalam ember.<br />
Kinanti menunduk pada gelasnya, seakan jawaban bisa dibaca dari uap yang naik. Lalu ia mengangkat wajah.<br />
“Saya belum tahu, Bu. Tapi saya mau tahu bedanya.”<br />
Bu Sarmi menatapnya sebentar, lalu mendengus pendek, bukan tawa, bukan cibiran, dan kembali ke warungnya. Itu bukan penerimaan. Tapi di gang ini, tidak diusir sudah berarti sesuatu.<br />
Pukul tiga mereka pamit. Tika menyalami semua orang. Kinanti hanya mengangguk, dan di ambang pintu ia berhenti.<br />
“Terima kasih tehnya,” katanya, entah pada siapa.<br />
Mereka berjalan menyusuri gang. Aku berdiri di pintu, pura-pura menimbang mendung, padahal yang kuhitung adalah berapa kali ia menoleh.<br />
Sekali, di depan warung Bu Sarmi.<br />
Dua kali, di tiang listrik yang miring.<br />
Tiga kali, di mulut gang, sebelum gang itu menelannya.<br />
Di belakangku, ember sudah penuh sampai bibirnya. Untuk pertama kalinya, aku membiarkannya meluap.</p>
<p>Dua Hari Sebelum<br />
Fotonya sampai ke ponselku pukul enam pagi, sebelum aku sempat membuat kopi.<br />
Tidak ada keterangan. Hanya gambar yang diambil dari sudut jendela posko: Kinanti di bangku plastik yang pincang, gelas teh di tangannya, wajahnya setengah menunduk. Di bawahnya, di grup WhatsApp serikat yang isinya seratus dua belas orang, sudah ada tiga puluh balasan. Sebagian hanya tanda tanya. Sebagian menyebut nama ayahnya. Satu orang menulis, Posko kita kok jadi tempat wisata?<br />
Yang mengirim foto itu memakai nomor tak tersimpan. Aku tidak mencoba menebak. Aku sudah cukup lama di organisasi LSM ini untuk tahu bahwa pertanyaan siapa biasanya menghabiskan lebih banyak tenaga daripada pertanyaan kenapa.<br />
Rapat dimulai pukul sembilan, di posko yang sama, di antara meja dan map yang sama. Hari itu tidak hujan, dan ember di sudut ruangan kosong untuk pertama kalinya. Kesunyiannya terasa lebih keras daripada tetesan.<br />
Rangga duduk di ujung meja, tangannya terlipat. Kami berteman sejak mahasiswa, sejak sama-sama pernah ditahan semalam di kantor polisi karena membagikan selebaran di depan pabrik. Ia tahu cara aku makan, tahu cara aku menyembunyikan takut. Itu sebabnya ia tidak perlu berteriak.<br />
“Kamu tahu siapa dia,” katanya.<br />
Bukan pertanyaan. Aku tidak berpura-pura.<br />
“Tahu.”<br />
“Sejak kapan?”<br />
“Sejak ia masuk.”<br />
Ada yang menarik napas di sudut ruangan. Seseorang menggeser kursi.<br />
“Dan kamu biarkan dia duduk di bangku itu. Di depan dokumen kita. Di depan warga yang namanya ada di daftar.” Rangga tidak menaikkan nada. “Dam, kita ini lagi ngelawan bapaknya.”<br />
“Dia nggak lihat dokumen apa pun. Dia nggak pegang apa pun. Dia cuma dengerin.”<br />
“Dengerin,” ulang Rangga, dan kata itu terdengar murah di mulutnya. “Orang kayak dia nggak pernah cuma dengerin. Dia dengerin, terus pulang, terus cerita ke bapaknya, terus staf bapaknya tahu siapa yang paling vokal di antara warga. Siapa yang bakal didatangi duluan malam ini.”<br />
“Dia nggak begitu.”<br />
“Kamu kenal dia berapa jam? Lima? Enam?”<br />
Aku diam. Itu jawaban yang jujur, dan semua orang di ruangan itu mendengarnya.<br />
Bu Yati dari divisi pendampingan, yang selama ini hampir tak pernah bicara di rapat, berkata pelan, “Mas Damar, kami nggak nuduh kamu dikhianati. Kami cuma takut kamu senang.”<br />
Kata itu mengenai tempat yang tidak kuduga.<br />
Karena itulah masalahnya. Bukan bahwa Kinanti mungkin menjebakku. Masalahnya ada di perasaanku semalam, ketika foto itu belum beredar dan aku berbaring menatap langit-langit kontrakan sambil menghitung.<br />
Aku memang senang. Dan di bawah rasa senang itu ada hal lain yang tidak ingin kuberi nama, tapi akhirnya kuberi nama juga, karena aku bukan orang yang tahan menipu diriku sendiri terlalu lama.<br />
Aku berpikir: anak menteri. Akses. Dokumen kajian dampak yang konon disembunyikan.<br />
Tidak sekali pun aku memintanya. Tapi pikiran itu datang, duduk sebentar di kepalaku, dan aku tidak mengusirnya dengan cukup cepat.<br />
“Aku nggak minta apa-apa dari dia,” kataku akhirnya.<br />
“Tapi kamu mikir,” kata Rangga. Ia menatapku lama. Di matanya tidak ada kemenangan, hanya kelelahan seseorang yang sudah menebak jawabannya sebelum bertanya. “Kamu mikir, kan?”<br />
Aku bisa berbohong. Ruangan itu menunggu aku berbohong. Itu akan lebih sopan untuk semua orang.<br />
“Sempat,” kataku. “Satu malam.”<br />
Tidak ada yang bicara. Seseorang di luar menyalakan motor, lalu mematikannya lagi.<br />
“Oke,” kata Rangga. Ia berdiri, merapikan map di depannya. “Dua hal. Jangan bawa dia ke posko lagi. Dan kalau dia menghubungi kamu, kamu lapor ke aku. Bukan karena aku nggak percaya kamu, Dam. Karena aku nggak percaya keadaan.”<br />
Rapat bubar tanpa jabat tangan. Itu terjadi sesekali, dan selalu terasa seperti kehilangan sesuatu yang kecil tapi tak tergantikan.<br />
Sore itu aku pulang lewat gang yang sama. Warung Bu Sarmi buka. Ia sedang menyapu teras, dan ketika aku lewat, ia tidak mengangkat kepala. Hanya berkata, “Anak itu nggak datang lagi hari ini?”<br />
“Belum, Bu.”<br />
“Hm.” Sapunya bergerak, debu berpindah dari satu sisi ke sisi lain. “Tadi pagi ada orang pakai kemeja rapi nanya-nanya di sini. Katanya dari kelurahan. Nanya siapa yang paling sering ngomong di posko.”<br />
Aku berhenti.<br />
“Ibu jawab apa?”<br />
“Saya bilang saya cuma jual gorengan.”<br />
Ia tidak tersenyum, dan aku tidak berterima kasih. Kami berdua tahu ada hal-hal yang rusak kalau diucapkan.<br />
Telepon itu masuk pukul sebelas malam.<br />
Nomor tak dikenal. Aku membiarkannya berdering empat kali, menimbang pesan Rangga, lalu mengangkatnya juga.<br />
“Ini aku,” kata Kinanti. Suaranya pelan, dan ada gema di belakangnya, seperti ia berbicara dari kamar mandi atau dari balik pintu tertutup. “Aku nggak tahu kamu masih mau bicara atau nggak.”<br />
“Aku di sini.”<br />
Ia diam agak lama. Aku mendengar napasnya, dan di belakangnya sesuatu yang berdenting halus, mungkin sendok perak, mungkin hanya imajinasiku.<br />
“Tadi makan malam di rumah,” katanya. “Papa tahu aku ke sana. Dia nggak marah. Dia cuma tanya apa aku mau ikut program pemberdayaan warga terdampak. Posisi koordinator. Katanya, kalau aku peduli, lebih baik aku peduli dari dalam.”<br />
Aku menutup mata.<br />
“Dia bilang itu sambil tersenyum,” lanjutnya. “Dan aku hampir percaya. Itu yang bikin aku takut. Aku hampir percaya, Damar.”<br />
Di posko, di dalam kepalaku, suara Rangga berkata: lapor ke aku.<br />
“Kinan,” kataku. “Teman-temanku juga curiga sama kamu.”<br />
“Aku tahu.” Ia tertawa kecil, tapi tawa itu pecah di tengah. “Di rumah mereka bilang kamu mencuci otakku. Di tempatmu mereka bilang aku memanfaatkanmu. Dua-duanya yakin banget.”<br />
“Mungkin dua-duanya benar sedikit.”<br />
Hening.<br />
“Mungkin,” katanya akhirnya. Lalu, jauh lebih pelan, seperti ucapan yang tidak dimaksudkan untuk sampai: “Aku nggak tahu harus percaya siapa.”<br />
Aku ingin menjawab bahwa ia bisa percaya padaku. Kalimat itu sudah di ujung lidah, rapi dan hangat dan sangat mudah diucapkan. Tapi aku baru saja mengakui di depan seratus mata bahwa pernah ada satu malam ketika aku berpikir sebaliknya.<br />
Jadi aku hanya berkata, “Aku juga nggak tahu harus percaya siapa, Kinan. Termasuk diriku sendiri.”<br />
Sambungan diputus tanpa salam.<br />
Aku duduk lama di kontrakan, memikirkan ember kosong di posko yang menunggu hujan yang tidak datang, sampai lampu tetangga padam satu per satu.</p>
<p>Sehari Sebelum<br />
Aku tidak melapor ke Rangga.<br />
Itu keputusan pertama hari itu, dan aku membuatnya dengan cara paling pengecut: tidak melakukan apa-apa. Ponselku menyala dua kali pagi itu dengan namanya di layar, dan dua kali kubiarkan mati sendiri. Pukul dua siang aku menaiki angkot ke arah yang berlawanan dengan posko.<br />
Kinanti memilih tempatnya: warung kopi di dekat terminal lama, jauh dari kampus, jauh dari kompleks rumah dinas, jauh dari gang Rawa Kering. Tempat yang tidak dimiliki siapa pun. Lantainya keramik retak, meja-mejanya berminyak, dan di dinding ada kalender toko ban dari dua tahun lalu yang tidak pernah diganti.<br />
Ia sudah duduk di pojok ketika aku masuk. Kemeja linen itu diganti kaus abu-abu yang lehernya melar, rambutnya diikat seadanya. Ia berusaha tampak biasa, dan usaha itulah yang membuatnya mencolok. Di depannya ada segelas es teh yang belum disentuh.<br />
“Kamu datang,” katanya.<br />
“Kamu yang minta.”<br />
“Aku nggak yakin kamu bakal datang.”<br />
“Aku juga.”<br />
Ia tersenyum sedikit, dan senyum itu cepat hilang. Seorang bapak di meja sebelah menyedot kopinya dengan bunyi panjang. Televisi kecil di atas rak menayangkan sinetron dengan suara hampir mati.<br />
Kami diam cukup lama. Aku memesan kopi hitam karena butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangan.<br />
“Aku mau bilang sesuatu dulu,” kata Kinanti. “Supaya kamu nggak perlu nebak-nebak.”<br />
“Silakan.”<br />
“Aku tahu kamu tahu siapa aku. Dari awal.” Ia menatap gelasnya. “Waktu aku masuk ke posko, kamu bilang ‘hati-hati ember’. Orang yang nggak tahu apa-apa nggak akan ngomong sesopan itu ke perempuan asing. Kamu ngomong kayak orang yang lagi menjaga jarak.”<br />
Aku tidak menyangkal.<br />
“Aku diam karena mau lihat apa yang kamu lakukan,” lanjutnya. “Dan kamu nggak melakukan apa-apa. Nggak ngusir. Nggak ceramah. Kamu cuma ngebiarin aku duduk. Itu pertama kalinya dalam hidupku ada orang yang tahu siapa aku dan nggak mau apa-apa.”<br />
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia maksudkan. Aku mengaduk kopi yang belum perlu diaduk.<br />
“Kinan,” kataku. “Aku harus jujur juga.”<br />
“Aku tahu.”<br />
“Kamu tahu apa?”<br />
“Kamu mau bilang kamu sempat mikir aku berguna.”<br />
Kopiku berhenti berputar.<br />
“Rangga cerita?”<br />
“Nggak. Tapi aku nggak bodoh, Damar.” Suaranya tidak marah. Justru terlalu tenang, seperti kalimat yang sudah disiapkan semalaman. “Sejak umur lima belas, setiap laki-laki yang ngobrol lama sama aku, ujungnya selalu nanya sesuatu soal Papa. Kadang halus, kadang kasar. Aku bisa merasakannya, seperti orang merasakan hujan sebelum turun. Aku pikir kamu beda. Terus aku pikir mungkin kamu cuma jenis yang lain.”<br />
“Aku nggak pernah nanya apa pun.”<br />
“Itu juga yang bikin aku curiga.” Ia mengangkat mata. “Orang yang nggak minta apa-apa kadang cuma lebih sabar.”<br />
Aku ingin membantah, tapi bantahan butuh bahan, dan bahan yang kupunya hanyalah kejujuran yang tidak enak. Jadi aku memakainya.<br />
“Malam setelah kamu datang, aku sempat mikir soal dokumen kajian dampak. Yang katanya disembunyikan. Aku mikir mungkin kamu bisa ngakses. Satu malam. Besoknya aku bilang itu ke teman-temanku di rapat, supaya nggak perlu hidup dengan itu sendirian.”<br />
Kinanti tidak berkedip. Di televisi, seorang aktris menampar aktor.<br />
“Terima kasih sudah bilang,” katanya akhirnya.<br />
“Itu bukan hadiah.”<br />
“Aku tahu. Tapi tetap terima kasih.”<br />
Kami terdiam lagi, dan kali ini diam itu berubah bentuk, dari tegang menjadi capek, seperti dua orang yang sama-sama meletakkan barang bawaan di lantai sambil tahu mereka harus mengangkatnya lagi.<br />
“Boleh aku tanya sesuatu?” kataku.<br />
“Silakan.”<br />
“Kenapa kamu datang ke posko? Yang sebenarnya.”<br />
Ia berpikir lama. Es di gelasnya sudah mencair separuh.<br />
“Ada acara makan malam tiga bulan lalu,” katanya. “Seseorang di sebelahku cerita bahwa proyek ini disambut baik warga. Ia bilang dengan sangat yakin, sambil memotong daging. Aku tanya, ‘Warga yang mana?’, dan dia tertawa. Bukan tawa jahat. Tawa orang yang menganggap pertanyaanku lucu.”<br />
Ia menarik napas. “Waktu itu aku sadar aku nggak pernah sekali pun ketemu orang yang rumahnya mau diambil. Padahal tanda tangan Papa ada di sana. Aku hidup dari uang yang diputuskan lewat kertas, dan aku nggak tahu kertas itu jatuh di atas siapa.”<br />
“Jadi kamu mencari tahu.”<br />
“Aku mencari kamu,” katanya. “Awalnya karena namamu di artikel. Aku baca tiga tulisanmu, terus nyari tahu kamu siapa. Dan sebagian dari diriku&#8230;” Ia berhenti. “Sebagian dari diriku mau ketemu orang yang nggak akan memuji aku.”<br />
“Itu juga romantisasi, Kinan.”<br />
“Apa?”<br />
“Orang susah, orang kritis, orang yang nggak mau tunduk.” Aku mengucapkannya pelan, tanpa nada menuduh, karena yang kutuduh juga diriku. “Itu cerita yang enak dipercaya kalau kamu dibesarkan di antara orang-orang yang selalu tersenyum. Aku nggak mau jadi cerita itu.”<br />
Ia diam. Kupikir aku sudah menyakitinya. Tapi ia justru mengangguk pelan, dan matanya basah tanpa jatuh.<br />
“Aku tahu,” katanya. “Aku juga nggak mau kamu jadi cerita itu. Tapi aku nggak tahu cara membedakannya dari yang nyata.”<br />
“Aku juga nggak tahu cara membedakan kamu dari anak menteri.”<br />
Ia tertawa, tawa yang kali ini jujur, kecil, dan agak serak. “Itu pertama kalinya kamu menyebutnya begitu.”<br />
“Maaf.”<br />
“Jangan. Itu benar.”<br />
Sinetron berganti iklan. Seorang ibu di meja belakang memanggil anaknya yang bermain di dekat pintu. Dunia terus bergerak dengan tidak peduli, dan itu menenangkan dengan caranya sendiri.<br />
Kinanti merogoh tasnya. Aku menahan napas, tapi yang keluar hanya sehelai tisu, yang ia pakai untuk mengusap sudut mata.<br />
“Ada hal lain,” katanya. Suaranya merendah, dan aku tahu apa itu sebelum ia mengucapkannya. “Dokumen itu ada. Kajian dampaknya. Bukan cuma kabar. Aku pernah lihat sampulnya di ruang kerja Papa, di rak bawah, di balik map-map lain. Aku belum buka. Aku belum tahu isinya. Tapi aku tahu di mana letaknya.”<br />
Jantungku berdetak sekeras itu sampai kupikir semua orang di warung bisa mendengarnya.<br />
Ini jalannya. Persis yang diam-diam kutunggu sejak hari pertama. Dan di meja berminyak itu, dengan kopi yang sudah dingin, aku sadar bahwa pertanyaan yang tinggal kuucapkan, bisa kamu ambil?, akan mengubah segalanya. Bukan hanya untuk proyek. Untuk dia. Untuk aku.<br />
Aku menatap tanganku di atas meja. Buku jari yang kapalan karena terlalu banyak memegang spanduk untuk aksi protes. Tangan seorang laki-laki yang bertahun-tahun mengatakan kepada orang lain bahwa hak tidak boleh ditawar, dan yang baru sekarang tahu betapa murahnya ia bisa menawar dirinya sendiri.<br />
“Jangan ambil,” kataku.<br />
Kinanti mengerjap. “Apa?”<br />
“Kalau kamu ambil karena aku butuh, itu salah. Kalau kamu ambil karena aku nggak minta, itu juga salah, karena kamu akan merasa aku sedang menguji kamu. Kamu cuma boleh ambil kalau itu keputusanmu sendiri. Yang nggak ada hubungannya sama aku.” Aku menelan ludah. “Dan kalau kamu ambil, kamu harus tahu akibatnya buat kamu. Bukan buat proyeknya. Buat kamu. Papamu, rumahmu, namamu.”<br />
“Kenapa kamu bilang begitu?”<br />
“Karena kalau aku diam, aku sama saja dengan mereka yang tersenyum di meja makan.”<br />
Ia menatapku lama. Aku tidak bisa membaca apa yang ada di wajahnya, dan mungkin itu salah satu alasan aku jatuh cinta padanya, meski kata itu tidak pernah kuucapkan, bahkan dalam kepalaku, sampai saat itu.<br />
“Kamu nyebelin,” katanya pelan.<br />
“Aku tahu.”<br />
“Padahal aku udah siap kamu minta.”<br />
“Itu yang bikin aku takut.”<br />
Ia tertawa lagi, kali ini diselingi isak yang cepat-cepat ditutupnya dengan tisu. Di sela itu, tanpa sengaja, tangannya menyentuh tanganku di atas meja. Hanya sepersekian detik. Kami berdua menariknya kembali pada saat yang sama.<br />
Pukul lima sore, di luar warung, langit mulai berwarna jingga kotor. Kami berdiri di trotoar berdebu, di depan angkot-angkot yang menunggu penumpang.<br />
“Aku belum tahu,” kata Kinanti. “Soal dokumen. Soal semuanya.”<br />
“Jangan putuskan karena aku.”<br />
“Aku nggak janji apa-apa.”<br />
“Aku nggak minta janji.”<br />
Ia mengangguk. Lalu, tanpa menoleh, ia berjalan ke arah mobil yang menunggu di ujung jalan, mobil hitam yang terlalu bersih untuk terminal itu, dengan sopir yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.<br />
Aku menunggu. Satu, dua, tiga.<br />
Ia tidak menoleh. Tidak sekali pun.<br />
Itu yang paling kupahami dan paling tidak bisa kuterima. Di gang Rawa Kering, tengokannya bisa kuhitung. Di terminal itu, tidak ada yang tersisa untuk dihitung.<br />
Angkot terakhir ke arah Rawa Kering berangkat pukul enam. Aku naik, duduk di bangku paling belakang, dan memandangi kaca belakang sampai mobil hitam itu hilang di antara kendaraan lain.<br />
Besok pagi, alat berat akan masuk. Dan aku akhirnya mengerti satu hal yang tidak ingin kupahami: aku telah menaruh sebuah harapan di tempat yang tidak berhak kutaruh, dan sekarang tinggal menunggu apakah ia akan jatuh.</p>
<p>Hari H<br />
Mesinnya datang sebelum matahari.<br />
Aku mendengarnya dari kejauhan, sejak pukul empat, bunyi rendah yang merambat di tanah dan masuk lewat telapak kaki sebelum sampai ke telinga. Warga sudah berdiri di mulut gang dengan sarung dan jaket seadanya. Tidak ada yang berteriak. Orang jarang berteriak pada saat benar-benar terjadi. Teriakan itu untuk hari-hari sebelumnya.<br />
Ada tiga ekskavator kuning terang, dua belas truk, dan barisan aparat berseragam yang berdiri dengan wajah orang yang sedang menjalankan pekerjaan. Seorang lelaki berompi proyek memegang pengeras suara dan membacakan nomor surat keputusan. Aku tidak mendengar nomornya. Aku mendengar seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, “Itu mau ngapain, Bu?”<br />
Rangga berdiri di sebelahku. Kami belum bicara sejak rapat. Pagi ini ia hanya mengangguk, dan aku mengangguk balik, dan itu cukup untuk dua orang yang sedang berusaha tidak kehilangan satu sama lain.<br />
“Dia nggak datang,” kata Rangga, tanpa menoleh.<br />
“Aku nggak minta dia datang.”<br />
“Aku tahu.”<br />
Kami menatap lurus ke depan. Di tanganku ada map berisi salinan surat keberatan yang sudah kami kirim empat kali, dan yang sekarang tidak berguna selain untuk dipegang.<br />
Rumah pertama yang dirobohkan milik Pak Harun, lelaki yang tangannya gemetar. Ia berdiri di ambang pintu sampai petugas menyentuh bahunya, lalu melangkah keluar dengan satu kardus di dada. Tidak melawan. Tidak menoleh. Kaus seragam pabrik yang biasa dijemurnya masih tergantung di tali, bergoyang tertiup angin dari ekskavator.<br />
Lengan besi itu naik, lalu turun.<br />
Bunyi dinding yang runtuh bukan bunyi yang kukira. Kukira akan ada dentum. Ternyata hanya suara kering, pelan, seperti seseorang mendesah sangat panjang.<br />
Satu per satu. Aku menghitung, karena itu yang selalu kulakukan ketika tidak tahu harus berbuat apa. Rumah kesebelas. Dua belas. Seorang ibu terduduk di atas kasurnya yang dikeluarkan ke tanah. Seorang anak laki-laki memunguti kelereng yang berhamburan dari kantong plastik. Orang-orang serikat berteriak sebentar, lalu berhenti, karena teriakan itu seperti melempar batu ke laut.<br />
Menjelang pukul tujuh, matahari akhirnya muncul, kuning dan tidak peduli, menerangi debu yang naik dari reruntuhan seperti napas sesuatu yang sedang kehabisan.<br />
Pada saat itu aku melihatnya.<br />
Di seberang jalan, di balik barisan aparat. Kemeja linen polos itu, atau mungkin kaus abu-abu, aku tidak yakin. Rambutnya diikat seadanya. Tidak ada mobil hitam. Tidak ada sopir. Ia berdiri sendirian, jauh dari kamera, jauh dari barisan wartawan yang mengarahkan lensa ke wajah-wajah warga.<br />
Rangga melihatnya juga. Rahangnya mengeras. “Dia datang.”<br />
“Ya.”<br />
“Mau apa dia?”<br />
Aku tidak menjawab, karena aku tidak tahu. Dan karena, sejujurnya, aku tidak berani menebak.<br />
Kinanti tidak berjalan ke arahku. Ia tidak berjalan ke arah kamera, tidak ke arah aparat, tidak ke arah lelaki berompi dengan pengeras suara. Ia menyeberang pelan, menyelinap di antara dua petugas yang terlalu sibuk untuk menghentikannya, dan berhenti di depan warung Bu Sarmi.<br />
Warung itu belum disentuh. Bu Sarmi berdiri di terasnya dengan sapu di tangan, seperti hari-hari lain, seperti pagi biasa. Di belakangnya, etalase kaca berisi gorengan yang sudah dingin, dan rak-rak berisi sabun, kopi sachet, dan permen. Seluruh hidup yang bisa diangkut dalam satu truk kecil.<br />
Mereka berhadapan. Aku terlalu jauh untuk mendengar. Tapi aku melihat Bu Sarmi menatap Kinanti dari atas ke bawah, lama, dengan mata yang tidak berubah sejak hari pertama.<br />
Kinanti mengatakan sesuatu. Singkat.<br />
Bu Sarmi tidak menjawab.<br />
Lalu Kinanti melakukan hal yang paling tidak kuduga. Ia menaruh tasnya di tanah, menyingsingkan lengan kausnya, dan membungkuk untuk mengangkat salah satu sisi etalase itu.<br />
Terlalu berat untuk satu orang. Etalase itu goyah. Seorang pemuda dari warga, entah dari mana, melihat dan langsung memegang sisi lainnya tanpa bertanya. Mereka mengangkatnya bersama-sama, menuruni teras, menuju truk kecil yang menunggu di tepi gang.<br />
Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang merekam. Semua lensa sedang sibuk menyorot ekskavator dan wajah-wajah menangis, dan perempuan yang mengangkat etalase itu terlalu biasa untuk menjadi berita.<br />
Aku menyadari sesuatu yang mengganggu sekaligus melegakan: aku tidak ingin ada yang memotretnya. Aku ingin ini tetap menjadi tindakan tanpa saksi, karena hanya begitu ia tetap miliknya.<br />
Bu Sarmi mengikuti mereka dengan sapu masih di tangan. Di samping truk, setelah etalase terpasang, Kinanti merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat polos, tipis, tanpa tulisan. Ia menyerahkannya kepada Bu Sarmi.<br />
Bu Sarmi tidak langsung menerimanya.<br />
Aku tidak tahu isinya. Aku tidak akan pernah tahu. Dokumen kajian dampak, atau uang, atau surat, atau selembar kertas kosong yang ia harap bisa berarti. Mungkin ia sendiri belum memutuskan. Mungkin itu bagian dari keputusannya.<br />
Bu Sarmi menatap amplop itu, lalu menatap Kinanti, dan di wajah tuanya ada sesuatu yang bergerak sangat pelan: bukan penerimaan, bukan penolakan, hanya penundaan vonis yang sudah ia pegang sejak hari pertama.<br />
Ia mengangguk satu kali.<br />
Hanya itu. Ia mengambil amplop itu dan memasukkannya ke saku dasternya tanpa melihat isinya, lalu naik ke bak truk dan duduk di samping etalasenya, menghadap arah yang berlawanan dari gang tempat ia hidup empat puluh tahun.<br />
Kinanti berdiri sebentar di tepi jalan. Tangannya kosong. Debu menempel di lengannya.<br />
Lalu ia menengok.<br />
Ke arahku. Dari seberang jalan, melewati barisan aparat, melewati ekskavator, melewati semua yang runtuh dan semua yang belum.<br />
Satu kali.<br />
Aku tidak mengangkat tangan. Aku tidak bisa. Aku hanya berdiri di sana dengan map yang tidak berguna di dadaku, dan membiarkan ia melihatku melihatnya.<br />
Ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk, kecil sekali, seperti orang yang menyetujui sesuatu yang tidak perlu dikatakan. Atau seperti orang yang berpamitan.<br />
Lalu ia berbalik dan berjalan pergi, ke arah mulut gang yang sama tempat ia menghilang tiga hari lalu, dan aku tidak tahu apakah itu cinta atau rasa bersalah atau keduanya, dan aku tidak tahu apakah aku berhak menuntut jawabannya.<br />
Di belakangku, lengan besi naik, lalu turun. Dinding posko runtuh dengan desah panjang yang sama.<br />
Di dalamnya, di sudut kiri, ada sebuah ember seng yang tidak sempat kuselamatkan. Kosong. Menunggu hujan yang tidak akan datang ke tempat yang sudah tidak ada.<br />
Depok, 4 Oktober 2026</p>
<p>Satrio Arismunandar adalah anggota perkumpulan penulis SATUPENA sejak Agustus 2021. Banyak menulis cerpen remaja di majalah Anita Cemerlang, Gadis, dan lain-lain pada 1980-an.</p>
<p>CATATAN:<br />
Cerpen ini dibuat dengan bantuan perangkat Claude AI. Namun, gagasan awal dan pilihan plot cerita ditentukan oleh penulis sendiri.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Leni Marlina&#8217;s Bilingual Poems Collection: &#8220;THE TREE THAT REMEMBERS THE SEASONS&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/leni-marlinas-bilingual-poems-collection-the-tree-that-remembers-the-seasons</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2026 13:03:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Bilingual Poems Collection]]></category>
		<category><![CDATA[Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[POHON YANG MENGINGAT MUSIM]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Dwibahasa]]></category>
		<category><![CDATA[THE TREE THAT REMEMBERS THE SEASONS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11912</guid>

					<description><![CDATA[Leni Marlina&#8217;s Bilingual (English &#8211; Indonesia) Poems Collection: &#8220;THE TREE THAT REMEMBERS THE SEASONS&#8221; &#8211; English Version THE TREE THAT REMEMBERS THE SEASONS Poem by Leni Marlina &#8211; Lightning writes its name into the ancient wood, a white seam splitting the vein down into ember; after the sky has scrubbed away every sign, blackness slowly [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Leni Marlina&#8217;s Bilingual (English &#8211; Indonesia) Poems Collection: &#8220;THE TREE THAT REMEMBERS THE SEASONS&#8221;</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>English Version</p>
<p><strong>THE TREE THAT REMEMBERS THE SEASONS</strong></p>
<p><strong>Poem by Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Lightning writes its name into the ancient wood,<br />
a white seam splitting the vein down into ember;<br />
after the sky has scrubbed away every sign,<br />
blackness slowly blooms where brightness once burned.</p>
<p>I stand where the forest has fallen silent,<br />
roots hoarding night beneath the bones of earth;<br />
tree rings draw shut like the lids of eyes,<br />
as though even time fears counting its years.</p>
<p>Rain comes with cold, with creased and weathered fingers,<br />
tapping my bark as if calling someone within;<br />
water works its way through ash that will not burn,<br />
then slips away before it knows the wound.</p>
<p>Then you come from a far road, nameless, nowhere,<br />
mud drying on your feet, salt bright in your eyes;<br />
your breath bears a distance beyond every map,<br />
a homecoming whose address vanished before arrival.</p>
<p>You lean into my body, blackened by light,<br />
bringing no story, carrying no name;<br />
yet something slips slowly from your shoulders,<br />
through the old lightning scar, into the grain.</p>
<p>I cannot tell if it is sorrow, or only salt,<br />
or some name too long preserved in human blood;<br />
it enters me quietly, asking nothing of speech,<br />
like groundwater knowing the root before the eye.</p>
<p>One drop falls into the old, black earth,<br />
and underneath, the roots open their ears;<br />
they seek neither water, neither warmth nor light,<br />
only the faint stir of something without sound.</p>
<p>The old well suddenly shifts its level;<br />
water rises slowly, like a memory mislaid,<br />
over stone, over sand, touching the tired roots,<br />
carrying your body&#8217;s salt into the body&#8217;s earth.</p>
<p>Then comes a knock from the oldest ring—<br />
once—and silence swallows back the sound;<br />
once again—deeper than the depth of voice—<br />
root against earth, or earth against forgotten root.</p>
<p>On the blackest branch, something begins unnamed:<br />
not flower, not wound, only a swelling there;<br />
the wind brushes it, then wanders away,<br />
as though colour itself has yet to choose its shape.</p>
<p>Its red is iron long hidden inside embers,<br />
its white is mist before mist has learned the light;<br />
I cannot tell if both were born from rain or wound,<br />
or from lightning learning, in secret, how to flower.</p>
<p>You return when the season has changed its skin,<br />
standing before me without touching the old body;<br />
your eyes linger where the branch holds its colour,<br />
as if the lost were waiting somewhere within.</p>
<p>One petal loosens, catches on the ancient scar;<br />
it falls neither earthward nor back into air;<br />
beneath it, the roots reach farther from the light,<br />
digging for something still without a name.</p>
<p>Night keeps its murmur under the sightless soil,<br />
the moon hangs mute, a splinter of pale metal;<br />
seasons pass, bearing leaves that never ask why,<br />
while the tree rings close their mouths once more.</p>
<p>I remain the tree once struck by the sky&#8217;s fire,<br />
black in the bone, salt in the root, rain in the breast;<br />
yet deep below, where light has lost its reign,<br />
something stirs before the season speaks its word.</p>
<p>Perhaps the roots seek the body they once belonged to,<br />
perhaps the earth remembers shape before earth;<br />
perhaps you left behind what was never yours,<br />
or perhaps a season is learning to lose its name.</p>
<p>And when dawn draws colour from the voiceless dark,<br />
the black branch trembles—only once—<br />
one petal opens, or one wound,<br />
and I cannot tell which of them is flowering.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Melbourne, Australia, 2012</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>THE WORDS SERVICE AS THIN AS MIST</strong></p>
<p><strong>Poem by Leni Marlina</strong></p>
<p>—</p>
<p>At the tip of your tongue, you shelter a bee,<br />
honey gleaming along the veins, still wet;<br />
beneath the ribs, the gall begins to bloom,<br />
honing its bitterness before it breaks.</p>
<p>You serve the words as thin as mist,<br />
and those who lift their hands have no time to speak;<br />
they taste the sweetness shining on the tongue,<br />
while bitterness burrows, darkens, roots beneath.</p>
<p>A name comes close to carving itself<br />
into the wall of a heart that will not still;<br />
before a single letter learns its shape,<br />
the pulse pulls hard and tears it from the root.</p>
<p>From the fissure you have fastened shut,<br />
roots reach, searching out the earth&#8217;s deep vein;<br />
they ask no space, no shelter in which to stand,<br />
yet shift the soil from somewhere under skin.</p>
<p>Gall turns around, seeking its address;<br />
honey passes through hands and alters in passing;<br />
what should have been inherited loses its place,<br />
and blood refuses to become a book of blackened names.</p>
<p>Then earth draws its mouth tight, tightens into silence,<br />
swallowing the trace before its ending;<br />
beneath, something stirs—slow, secret, subterranean—<br />
perhaps root has found a vein,<br />
perhaps vein is finding root.</p>
<p>When earth grows still, there is no flower, no greeting,<br />
no sign, no syllable offered back.<br />
Only a pulse deep down, deliberate and low,<br />
knocking your name, softly,<br />
from a direction<br />
you never dared to name.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Melbourne, Australia, 2012</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p><strong>About the Poet – Leni Marlina3</strong></p>
<p>Leni Marlina is an Indonesian writer, poet, and a lectuter from West Sumatra who resides in Padang. Her passion for literacy and creative writing began during her school years and has remained a guiding force throughout her life. Her engagement with literature deepened further while pursuing a Master of Arts in Writing and Literature in Australia.</p>
<p>Since 2006, she has served as a lecturer in the Department of English Language and Literature at the Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang, Indonesia. Alongside her academic responsibilities, she writes poetry, short fiction, essays, and scholarly articles, while also participating in various translation and editorial projects.</p>
<p>For Leni, writing is far more than a creative endeavor; it is a way of learning to understand life, nurturing humanity, and sharing hope. This conviction has led her to engage actively in numerous literacy and writing communities. In addition to her literary work, she contributes to the development of educational and literary learning spaces, including PPIC (Poetry-Pen International Community), WCLC (World Children&#8217;s Literature Community), ACC SHILA (ACC Shanghai Huifeng International Literary Community), Littalk-C (Literary Talk Community) and Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community), which bring together individuals who share a passion for education, literacy, and literature.</p>
<p>Through both her writing and literacy initiatives, she seeks to make meaningful contribution, however modest, to the cultivation of reading, writing, and literary appreciation. Over the years, she has received a number of local, national, and international literary recognitions, which she regards not as destinations, but as milestones in an ongoing journey of learning, creativity, and service through literature. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>Indonesian Version</p>
<p>Puisi Dwi Bahasa Karya Leni Marlina: &#8220;<strong>POHON YANG MENGINGAT MUSIM&#8221;</strong></p>
<p>/1/</p>
<p><strong>POHON YANG MENGINGAT MUSIM</strong></p>
<p><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Petir menulis namanya ke kayu yang tua,<br />
segaris putih membelah nadi hingga bara;<br />
setelah langit selesai menghapus segala tanda,<br />
hitam perlahan berbunga di bekas cahaya.</p>
<p>Aku berdiri ketika hutan kehilangan suara,<br />
akar menimbun malam di bawah tulang tanah;<br />
lingkar tahun mengatup seperti kelopak mata,<br />
seakan waktu pun gentar menghitung usia.</p>
<p>Hujan datang dengan jemari dingin dan renta,<br />
mengetuk kulitku seolah memanggil seseorang di dalam;<br />
air menyusup melalui arang yang enggan menyala,<br />
lalu lenyap sebelum mengenali luka yang diam.</p>
<p>Kemudian engkau datang dari jalan jauh, entah di mana,<br />
lumpur mengering di kaki, garam berkilau di mata;<br />
napasmu membawa jarak yang tak mengenal peta,<br />
sebuah pulang yang kehilangan alamat sebelum tiba.</p>
<p>Engkau bersandar pada tubuhku yang dihitamkan cahaya,<br />
tanpa cerita, tanpa nama yang hendak dibawa;<br />
namun sesuatu turun perlahan dari bahumu,<br />
melewati parut petir, masuk ke serat kayu tua.</p>
<p>Aku tak tahu: kesedihan, atau sekadar garam yang tersisa,<br />
atau nama yang terlalu lama disimpan darah manusia;<br />
ia mengalir ke dalamku tanpa meminta bahasa,<br />
seperti air tanah mengenal akar sebelum mata.</p>
<p>Setetes jatuh ke tanah yang tua dan hitam,<br />
akar-akar di bawah membuka telinga dalam-dalam;<br />
mereka tak mencari air, tak pula mengejar cahaya,<br />
hanya meraba gerak yang tumbuh tanpa suara.</p>
<p>Sumur lama mendadak mengubah tinggi permukaan,<br />
air naik perlahan seperti ingatan kehilangan wajah;<br />
melewati batu, pasir, menyentuh akar yang renta,<br />
membawa asin tubuhmu ke tubuh bumi purba.</p>
<p>Lalu terdengar ketukan dari lingkar tahun tertua—<br />
sekali—dan sunyi menelan kembali bunyinya;<br />
sekali lagi—lebih dalam dari kedalaman suara—<br />
entah akar mengetuk tanah, entah tanah mengetuk akar terlupa.</p>
<p>Pada ranting paling hitam sesuatu tumbuh tanpa nama,<br />
bukan bunga, belum luka, hanya benjolan kecil di sana;<br />
angin menyentuhnya, lalu pergi tanpa makna,<br />
seakan warna sendiri belum memilih tubuhnya.</p>
<p>Merahnya seperti besi lama dikurung bara,<br />
putihnya seperti kabut sebelum mengenal cahaya;<br />
aku tak tahu keduanya lahir dari hujan atau luka,<br />
atau petir yang diam-diam belajar menjadi bunga.</p>
<p>Engkau kembali ketika musim mengganti wajahnya,<br />
berdiri di hadapanku tanpa menyentuh tubuh tua;<br />
matamu tertahan pada ranting yang menyimpan warna,<br />
seolah yang hilang sedang menunggu dari dalamnya.</p>
<p>Satu kelopak lepas, tersangkut pada parut petir tua,<br />
tak jatuh ke bumi, tak kembali kepada udara;<br />
di bawahnya akar merambat menjauh dari cahaya,<br />
menggali sesuatu yang bahkan belum bernama.</p>
<p>Malam menyimpan gumam di bawah tanah yang buta,<br />
bulan menggantung bisu, serpih logam di udara;<br />
musim berlalu membawa daun yang tak sempat bertanya,<br />
sementara lingkar tahun kembali mengatupkan mulutnya.</p>
<p>Aku tetap pohon yang pernah disambar bara langit,<br />
hitam di tulang, asin di akar, hujan di dada;<br />
namun jauh di bawah, tempat cahaya kehilangan kuasa,<br />
sesuatu bergerak sebelum musim menemukan kata.</p>
<p>Mungkin akar mencari tubuh yang pernah dimilikinya,<br />
mungkin tanah mengingat bentuk sebelum menjadi tanah;<br />
mungkin engkau meninggalkan sesuatu yang tak pernah menjadi milikmu,<br />
atau musim sedang belajar kehilangan namanya.</p>
<p>Dan ketika fajar menorehkan warna dari gelap tanpa suara,<br />
ranting hitam itu bergetar—hanya sekali—<br />
satu kelopak membuka, atau satu luka,<br />
dan aku tak sempat tahu mana yang sedang berbunga.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2012</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>HIDANGKAN KATA SETIPIS KABUT</strong></p>
<p><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di ujung lidah kau sembunyikan lebah,<br />
madu mengilat di urat yang basah;<br />
di bawah rusuk empedu merekah,<br />
mengasah getir sebelum tumpah.</p>
<p>Kau hidangkan kata setipis kabut,<br />
orang menadah, tak sempat menyebut;<br />
mereka mengecap manis di mulut,<br />
sementara pahit mengakar di perut.</p>
<p>Satu nama nyaris terukir<br />
di dinding jantung yang terus bergetar;<br />
sebelum huruf sempat lahir,<br />
denyut merobeknya dari akar.</p>
<p>Dari celah yang kau kunci sendiri,<br />
akar meraba nadi bumi;<br />
ia tak meminta ruang untuk berdiri,<br />
namun menggeser tanah dari dalam diri.</p>
<p>Empedu berputar mencari alamat,<br />
madu berpindah, mengubah sifat;<br />
yang hendak diwariskan kehilangan tempat,<br />
darah menolak menjadi catatan pekat.</p>
<p>Lalu tanah mengatupkan mulut rapat,<br />
menelan jejak yang belum sempat tamat.<br />
Di bawahnya sesuatu bergerak lambat—<br />
entah akar yang menemukan urat,<br />
entah urat yang sedang mencari akar.</p>
<p>Ketika tanah kembali diam,<br />
tak ada bunga, tak ada salam.<br />
Hanya denyut dari kedalaman—<br />
mengetuk namamu perlahan<br />
dari arah<br />
yang tak pernah kau sebutkan.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Melbourne, Australia, 2012</em></p>
<p>&#8212;<br />
<strong>Tentang Penyair – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina merupakan penerima penghargaan Juara Pertama Seleksi Mahasiswa Berprestasi Naional Tahun 2024, lebih dari dekade yang lalu. Sekarang ia merupakan seorang penyair, penulis, penerjemah, dan dosen asal di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.</p>
<p>Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025) &#8211; diluncurkan pada acara International Online Seminarc on Poetry (IOSoP 2025), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya tersebut, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan bukan hanya sebagai praktik kreatif, tetapi juga sebagai dialog moral dengan dunia.</p>
<p>Leni mulai menulis puisi secara intensif untuk koleksi pribadi sejak tahun 2000, ketika ia menempuh studi di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Padang. Perjalanan di dunia menulis dan kepenyairannya berkembang semakin mendalam pada tahun 2011–2013 saat ia menjalani studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia melalui beasiswa pemerintah Indonesia. Sejak tahun 2023, ia mulai mempublikasikan puisi-puisinya secara lebih luas, serius, dan konsisten melalui berbagai platform sastra digital.</p>
<p>Selain puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia turut menerjemahkan karya sastra dan teks jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional maupun internasional. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.</p>
<p>Di samping kegiatan akademis di kampus, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis dan editor, ia juga mengabdikan diri sebagai Redaktur sejumlah platform media digital seperti SAN Group (Suara Anak Negeri, Negeri News, dan Suara Anak Negeri News) tempat ia menerbitkan tulisan mengenai pendidikan, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Semua media tersebut memiliki semangat yang sama, yakni “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”</p>
<p>Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari sejumlah komunitas sastra dan literasi, di antaranya komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat (PPIPM-Indonesia), Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, dan pengembangan literasi lintas budaya.</p>
<p>Selain itu, ia aktif dalam berbagai organisasi kepenulisan, termasuk sebagai anggita SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan Penyala Literas Semesta. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia, dan sejak tahun 2024 menjadi anggota Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA). Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam ajang The 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huifeng International Literary Creative Media Centre serta memperoleh penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Zulkifli Abdy&#8217;s Bilingual Poems Collection &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;SHARDS OF PARADISE&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/zulkifli-abdys-bilingual-poems-collection-translated-by-leni-marlina-shards-of-paradise</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2026 12:49:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bilingual (Indonesia - English) Poems Collection]]></category>
		<category><![CDATA[NEGERI SERPIHAN SURGA]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Dwibahasa]]></category>
		<category><![CDATA[SHARDS OF PARADISE]]></category>
		<category><![CDATA[Translated by Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[Zulkifli Abdy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11908</guid>

					<description><![CDATA[Zulkifli Abdy&#8217;s Bilingual (English &#8211; Indonesia) Poems Collection &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;SHARDS OF PARADISE&#8221; &#8211; English Version /1/ SHARDS OF PARADISE Poem by Zulkifli Abdy Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina — My country is like a shard of paradise that fell upon the face of earth, resting upon the imaginary line [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Zulkifli Abdy&#8217;s Bilingual (English &#8211; Indonesia) Poems Collection &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;SHARDS OF PARADISE&#8221;</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>English Version</p>
<p>/1/</p>
<p><strong>SHARDS OF PARADISE</strong></p>
<p><strong>Poem by Zulkifli Abdy</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>—</p>
<p>My country is like a shard of paradise<br />
that fell upon the face of earth,<br />
resting upon the imaginary line of the Equator,<br />
fertile beneath its tropical forests,<br />
an archipelago of thousands<br />
of islands and immense seas.<br />
There is an old anecdote: a wooden stick<br />
or even a stone, once planted, becomes a living tree.</p>
<p>This country is among the world&#8217;s great<br />
producers of oil,<br />
yet its people queue and wait<br />
for fuel.<br />
The people need education,<br />
while the nation instead<br />
gives them food.</p>
<p>This country should, long ago,<br />
have become self-sufficient in food.<br />
Yet the fact remains: to meet<br />
its hunger, it must import<br />
from other countries.<br />
Its economy should have known<br />
a rapid rise,<br />
yet the balance runs a deficit,<br />
and the burden of debt grows heavier.</p>
<p>This country is, in truth, immensely rich,<br />
yet its wealth is plundered by corruptors<br />
and oligarchs through manipulated regulations.<br />
Its natural resources are seized and<br />
enjoyed by only a handful,<br />
leaving the people merely spectators<br />
in their own country.</p>
<p>On the Mahakam River, coal barges<br />
pass back and forth, day and night,<br />
yet in the city of Samarinda, electricity<br />
often disappears without warning.<br />
The river is drying into thirst;<br />
the sea arrives without invitation.<br />
Protected forests catch fire,<br />
smoke closes in, and the people are left bewildered.</p>
<p>Mount Krakatau coughs and coughs<br />
after sleeping for so long.<br />
Though much of the forest has burned,<br />
the oil palms still<br />
continue to flower.</p>
<p>Faintly, the sound of a sunken ship<br />
drifts from the waters of Masalembo,<br />
infamous for their dread.<br />
After being tossed upon the open sea,<br />
there, long ago, sank<br />
the Tampomas.</p>
<p>In Papua, turmoil tears through the land;<br />
a woman is killed in vain.<br />
Perhaps God is testing us,<br />
speaking to this country<br />
through upheaval<br />
and through disaster.</p>
<p>This country is like a great ship<br />
heaved upon restless waves,<br />
sailing without direction or destination.<br />
The captain seems to have forgotten the shore,<br />
while the sailors stand dazed at the stern.<br />
Only two possibilities remain:<br />
to run aground<br />
or to sink in the middle of the sea.</p>
<p>—</p>
<p><em>Banda Aceh, September 17th, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>WHEN THE SEASONS CHANGE</strong></p>
<p><strong>Poem by Zulkifli Abdy</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>—</p>
<p>Season after season we<br />
have crossed this country,<br />
a land standing steadfast<br />
upon its own feet.<br />
There is one season that has<br />
never departed<br />
from the memory of the nation&#8217;s children<br />
who still care for their country:<br />
the season in which<br />
Mother Earth herself<br />
was betrayed.</p>
<p>—</p>
<p><em>Banda Aceh, September 24th, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>A CELESTIAL CANTICLE</strong></p>
<p><strong>Poem by Zulkifli Abdy</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>—</p>
<p>Dawn lies perfectly still<br />
within the silence.<br />
The Divine Qalam, faintly, breaks<br />
the hush from the mosque&#8217;s minaret.<br />
A traveller bows in prayer,<br />
while another remains in remembrance.<br />
Among the rows of worshippers<br />
not yet perfectly aligned,<br />
birds flutter from pillar<br />
to pillar.<br />
Suddenly the muezzin calls<br />
with the resounding azan.<br />
Dawn itself begins to sing<br />
its celestial canticle.</p>
<p>—</p>
<p><em>Banda Aceh, October 4th, 2026</em></p>
<p>&#8212;-<br />
<strong>About the Poet &#8211; Zulkifli Abdy</strong></p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10537" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260901_211553_WhatsApp-157x300.jpg" alt="" width="157" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260901_211553_WhatsApp-157x300.jpg 157w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260901_211553_WhatsApp.jpg 435w" sizes="(max-width: 157px) 100vw, 157px" /></p>
<p>Zulkifli Abdy is a senior writer and poet from Jambi who has lived in Aceh since 1970. A Communication Studies graduate, he has pursued writing independently since his youth, with works published across various media.</p>
<p>For Zulkifli, writing is more than a profession—it is a private way of thinking, feeling, and remembering. His poems and essays transform lived experience into words, quietly preserving the moments that might otherwise disappear.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>About the Translator — Leni Marlina</strong></p>
<ul>
<li><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11236" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260913-WA0013-253x300.jpg" alt="" width="253" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260913-WA0013-253x300.jpg 253w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260913-WA0013.jpg 427w" sizes="(max-width: 253px) 100vw, 253px" /></li>
</ul>
<p>Leni Marlina is an Indonesian poet, writer, translator, and lecturer in the English Department, Faculty of Languages and Arts, at Universitas Negeri Padang, Indonesia since 2006. Her creative and scholarly work spans poetry, fiction, essays, literary criticism, review, translation, and literacy studies.</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p>Indonesian Version</p>
<p><strong>Kumpulan Puisi  Dwibahahasa Karya Zulkifli Abdy: &#8220;NEGERI SERPIHAN SURGA&#8221;</strong></p>
<p>/1/</p>
<p><strong>NEGERI SERPIHAN SURGA</strong></p>
<p><strong>Puisi: Zulkifli Abdy</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Negeriku laksana serpihan surga<br />
yang jatuh ke muka bumi<br />
Berada di garis imajiner khatulistiwa,<br />
yang subur berhutan tropis<br />
Negeri archipelago, dengan ribuan<br />
pulau dan lautan luas<br />
Konon ada anekdot, tongkat kayu<br />
dan batu pun jadi tanaman</p>
<p>Negeri ini salah satu penghasil<br />
minyak terbesar<br />
Tetapi rakyatnya antri menanti<br />
bahan bakar<br />
Rakyat butuh pendidikan<br />
Negeri justru memberi makan</p>
<p>Mestinya negeri ini sejak dahulu<br />
telah swasembada pangan<br />
Faktanya untuk mencukupi kebutuhan<br />
pangan, mesti impor ke negara lain<br />
Mestinya ekonomi mengalami<br />
pertumbuhan pesat<br />
Faktanya neraca defisit, bahkan<br />
beban utang semakin berat</p>
<p>Negeri ini sesungguhnya sangat kaya<br />
Tetapi kekayaannya di rampas koruptor<br />
dan oligarki lewat regulasi yang diakali<br />
Sumberdaya alam dikuasai dan<br />
dinikmati segelintir orang<br />
Sehingga rakyat hanya jadi penonton<br />
di negerinya sendiri</p>
<p>Di sungai Mahakam tongkang batubara<br />
lalu-lalang siang dan malam<br />
Tetapi di kota Samarinda listrik<br />
kerap tiba-tiba padam<br />
Sungai kini kerontang<br />
Air laut datang tak diundang<br />
Terjadi kebakaran hutan lindung<br />
Asap mengepung, rakyat pun bingung</p>
<p>Gunung Krakatau terbatuk-batuk<br />
Setelah lama terkantuk-kantuk<br />
Kendati hutan banyak yang terbakar<br />
Tetapi pohon sawit masih tetap mekar</p>
<p>Sayup terdengar kapal karam<br />
Nun di perairan Masalembo yang<br />
terkenal seram<br />
Setelah terobang-ambing di laut lepas<br />
Di sana dahulu pernah tenggelam<br />
kapal Tampomas</p>
<p>Di tanah Papua terjadi huru hara<br />
Ada perempuan terbunuh sia-sia<br />
Mungkin Tuhan sedang menguji kita<br />
Dengan menyapa negeri ini melalui<br />
huru hara dan bencana</p>
<p>Negeri ini laksana kapal besar dilamun<br />
ombak, berlayar tanpa arah dan tujuan<br />
Nakhoda seakan telah lupa daratan<br />
Sementara kelasi termangu di buritan<br />
Hanya ada dua kemungkinan;<br />
terdampar atau tenggelam di tengah<br />
lautan.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>(Banda Aceh, 17 September 2026)</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>KALA MUSIM BERGANTI</strong></p>
<p><strong>Puisi: Zulkifli Abdy</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Bermusim-musim kita<br />
arungi negeri<br />
Yang tegar berdiri di atas<br />
kaki sendiri<br />
Ada satu musim yang tak<br />
pernah pergi<br />
Dari ingatan anak bangsa<br />
peduli negeri<br />
Musim di mana Ibu Pertiwi<br />
ini dikhianati.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>(Banda Aceh, 24 September 2026)</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>SENANDUNG SURGAWI</strong></p>
<p><strong>Puisi: Zulkifli Abdy</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Subuh sempurna terdiam<br />
dalam keheningan<br />
Qalam Ilahi sayup memecah<br />
hening dari menara masjid<br />
Ada musafir yang bersujud,<br />
dan ada pula yang berzikir<br />
Di antara shaf-shaf yang<br />
belum sempurna<br />
Burung-burung beterbangan<br />
dari tiang ke tiang<br />
Seketika mu&#8217;azin memanggil<br />
dengan kumandang azan<br />
Subuh pun bernyanyi dalam<br />
senandung surgawi.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>(Banda Aceh, 4 Oktober 2026)</em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Tentang Penyair &#8211; Zulkifli Abdy</strong></p>
<p>Zulkifli Abdy merupakan seorang penulis senior dan penyair, berasal dari Jambi dan menetap di Aceh sejak tahun 1970. Lulusan Ilmu Komunikasi, ia menekuni dunia kepenulisan secara autodidak sejak masa muda dan karyanya sudah tersebar di berbagai media. Karya-karyanya, baik berupa artikel maupun puisi, mencerminkan semangat sastra yang mendalam. Bagi Zulkifli, menulis bukan sekadar profesi, melainkan sarana untuk mencurahkan perasaan, menggantikan halaman-halaman buku harian pribadi, tempat ia menuangkan pikiran dan pengalaman dengan ketulusan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penerjemah — Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina adalah penyair, penulis, penerjemah, dan dosen pada Departemen Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Indonesia, sejak 2006. Karya kreatif dan akademiknya meliputi puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mustiar Ar&#8217;s Bilingual Poems Collection &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;WALKING WITHOUT A HEAD&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/mustiar-ars-bilingual-poems-collection-translated-by-leni-marlina-walking-without-a-head</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2026 12:18:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Berjalan Tanpa Kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Bilingual Poems]]></category>
		<category><![CDATA[Mustiar Ar]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Dwibahahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Translated by Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[WALKING WITHOUT A HEAD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11899</guid>

					<description><![CDATA[Mustiar Ar&#8217;s Bilingual (English &#8211; Indonesia) Poems Collection &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;WALKING WITHOUT A HEAD2&#8221; &#8211; English Version /1/ WALKING WITHOUT A HEAD Poem by Mustiar Ar Translated (Indonesia- English) by Leni Marlina _ He keeps walking without a head. Even the wind is bewildered. His feet move toward a road without a [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mustiar Ar&#8217;s Bilingual (English &#8211; Indonesia) Poems Collection &#8211; Translated by Leni Marlina: &#8220;WALKING WITHOUT A HEAD2&#8221;</p>
<p>&#8211;</p>
<p>English Version</p>
<p>/1/</p>
<p><strong>WALKING WITHOUT A HEAD</strong></p>
<p><strong>Poem by Mustiar Ar</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia- English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>_</p>
<p>He keeps walking<br />
without a head.<br />
Even the wind is bewildered.<br />
His feet move toward<br />
a road without a name.<br />
The land falls silent.<br />
His mouth keeps speaking,<br />
while reason is nowhere to be found.</p>
<p>_</p>
<p><em>Kp. Belakang, Aceh, 1980</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>TEUKU UMAR</strong></p>
<p><strong>Poem by Mustiar Ar</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>_</p>
<p>Teuku Umar rises<br />
from the pages of history.<br />
The rencong has become a household ornament.<br />
Once, lives were wagered for honor,<br />
but trust is now traded for applause and money.<br />
Flags are raised,<br />
speeches soar higher and higher,<br />
while beneath them, the people count their stale rice.<br />
If the hero were to ask:<br />
“Whom does this nation belong to?”<br />
perhaps the chairs<br />
would suddenly lose their legs.</p>
<p>_</p>
<p><em>Batu Putih, Aceh, February 10th, 2023</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>THE CHAIRS AT PLAY</strong></p>
<p><strong>Poem by Mustiar Ar</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>_</p>
<p>In the people&#8217;s house,<br />
the chairs embrace one another,<br />
dancing in silence.<br />
The people wait,<br />
their hands held out,<br />
their prayers falling onto the table.<br />
Hunger comes knocking.<br />
The nation becomes a game.<br />
Trust is slowly sawn apart.</p>
<p>_</p>
<p><em>Aceh, September 15th, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>NUTRITION AND TRUST</strong></p>
<p><strong>Poem by Mustiar Ar</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>_</p>
<p>Steam rises from the rice.<br />
Let trust never rot<br />
in the hands of power.<br />
Children wait<br />
for a plate of nourishment<br />
and honesty,<br />
not another sweet promise.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Meulaboh, Aceh, September 22nd, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>ACEH, PARADISE WITH A SCAR</strong></p>
<p><strong>Poem by Mustiar Ar</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>_</p>
<p>Aceh was born from prayer,<br />
and grew alongside history.<br />
Its seas are blue,<br />
holding wounds that do not easily spill.<br />
The rencong still glimmers<br />
against the chests of its people,<br />
yet trust sometimes fades<br />
beneath the chairs of power.</p>
<p>Its soil is fertile,<br />
its seas are rich,<br />
its sky is wide.<br />
The people learn patience<br />
from promises that evaporate too quickly.<br />
Development arrives<br />
with banners and smiles,<br />
then leaves,<br />
leaving roads<br />
still lost in thought.</p>
<p>We do not ask<br />
for palaces to rise in our yards.<br />
Just do not reduce the people<br />
to figures on a ledger.<br />
For paradise is not merely beautiful on a map.<br />
It is felt<br />
when justice truly<br />
finds its way<br />
into our homes.</p>
<p>_</p>
<p><em>Kuala Bubon, Aceh, September 20th, 2025</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/6/</p>
<p><strong>THE LAND THAT CALLED ME IN MY MOTHER&#8217;S VOICE</strong></p>
<p><strong>Poem by Mustiar Ar</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>_</p>
<p>Until the earth called me<br />
in my mother&#8217;s voice.<br />
When I awoke,<br />
my body was still whole,<br />
but my name<br />
had already been buried.<br />
Morning arrived carrying a hoe,<br />
digging silence<br />
from the chest of the earth.</p>
<p>I smiled at death.<br />
It turned out<br />
life had not yet finished<br />
writing me.</p>
<p>_</p>
<p><em>Meulaboh, Aceh, September 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>LIFE IN MOTION</strong></p>
<p><strong>Poem by Mustiar Ar</strong></p>
<p><strong>Translated (Indonesia &#8211; English) by Leni Marlina</strong></p>
<p>_</p>
<p>Morning grew legs.<br />
The sun guided<br />
my shadow.<br />
The road lost<br />
its ending,<br />
then grew again<br />
beneath my feet.<br />
I planted<br />
a single grain of time<br />
inside my chest.<br />
It grew<br />
into a day.<br />
Night smiled.<br />
Death had not yet arrived.<br />
Life whispered.</p>
<p>_</p>
<p><em>Kampung Pasir, Aceh, 1986</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Poet &#8211; Mustiar Ar</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10886" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_164316_WhatsApp-175x300.jpg" alt="" width="175" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_164316_WhatsApp-175x300.jpg 175w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_164316_WhatsApp-597x1024.jpg 597w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_164316_WhatsApp.jpg 657w" sizes="(max-width: 175px) 100vw, 175px" /></p>
<p>Mustiar Ar was born in Meulaboh, West Aceh, on April 15, 1967. He wrote poetry and reflections on life, humanity, Aceh, and the simple things he encountered in everyday life. He began writing at a young age and had published his work in various media outlets and anthologies. In his daily life, he worked as a parking attendant. For him, writing was never about becoming someone important. It was simply a way of tending to words, giving voice to what lay within, and continuing to create for as long as he was given the chance. Email: mustiarar5@gmail.com</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Translator— Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina is an Indonesian poet, writer, translator, and lecturer in the English Department, Faculty of Languages and Arts, at Universitas Negeri Padang, Indonesia since 2006. Her creative and scholarly work spans poetry, fiction, essays, literary criticism, review, translation, and literacy studies.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>About the Translator &#8211; Leni Marlina</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10891" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_172310_ChatGPT-263x300.jpg" alt="" width="263" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_172310_ChatGPT-263x300.jpg 263w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_172310_ChatGPT-897x1024.jpg 897w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_172310_ChatGPT-768x877.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/Screenshot_20260907_172310_ChatGPT.jpg 1080w" sizes="(max-width: 263px) 100vw, 263px" /></p>
<p>Leni Marlina is an Indonesian poet, writer, translator, and lecturer in the English Department, Faculty of Languages and Arts, at Universitas Negeri Padang, Indonesia since 2006. Her creative and scholarly work spans poetry, fiction, essays, literary criticism, review, translation, and literacy studies.</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>Indonesian Version</p>
<p><strong>Kumpulan Puisi Karya Mustiar Ar: &#8220;BERJALAN TANPA KEPALA&#8221;</strong></p>
<p>/1/</p>
<p><strong>BERJALAN TANPA KEPALA</strong></p>
<p><strong>Puisi: Mustiar Ar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ia terus berjalan<br />
tanpa kepala<br />
angin pun bingung<br />
Kakinya menuju<br />
jalan yang tak bernama<br />
negeri terdiam<br />
Mulutnya bicara<br />
akal entah di mana</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Kp. Belakang, Aceh, 1980</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>TEUKU UMAR</strong></p>
<p><strong>Puisi: Mustiar Ar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Teuku Umar bangkit<br />
Dari lembaran sejarah<br />
Rincong jadi hiasan rumah.<br />
Dulu nyawa dipertaruhkan demi marwah,<br />
Tapi amanah ditukar tepukan dan rupiah.<br />
Bendera berkibar,<br />
pidato makin tinggi,<br />
rakyat di bawahnya menghitung nasi basi<br />
Andai pahlawan bertanya:<br />
“Untuk siapa negeri?”<br />
mungkin kursi-kursi mendadak kehilangan kaki.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Batu Putih, Aceh, 10 Februari 2023</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>KURSI YANG SEDANG BERMAIN</strong></p>
<p><strong>Puisi: Mustiar Ar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di rumah rakyat,<br />
kursi saling berpeluk,<br />
menari diam.<br />
Rakyat menanti,<br />
tangan saling menadah,<br />
doa jatuh ke meja.<br />
Lapar mengetuk,<br />
negeri jadi permainan,<br />
amanah digergaji pelan.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Aceh, 15 September 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>GIZI DAN AMANAH</strong></p>
<p><strong>Puisi: Mustiar Ar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Nasi mengepul<br />
amanah jangan membusuk<br />
di tangan kuasa<br />
Anak menanti<br />
sepiring gizi dan jujur<br />
bukan janji manis</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Meulaboh, Aceh, 22 September 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>ACEH, TANAH SURGA YANG TERGORES</strong></p>
<p><strong>Puisi: Mustiar Ar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Aceh lahir dari doa, tumbuh bersama sejarah<br />
lautnya biru,<br />
menyimpan luka yang tak mudah tumpah<br />
rencong masih berkilau di dada anak negeri<br />
namun amanah kadang redup di bawah kursi</p>
<p>Tanahnya subur,<br />
lautnya kaya,<br />
langitnya luas<br />
rakyat belajar sabar dari janji yang lekas menguap<br />
pembangunan datang membawa spanduk dan senyum<br />
lalu pergi,<br />
meninggalkan jalan yang masih termenung</p>
<p>Kami tak meminta istana berdiri di halaman<br />
cukup jangan jadikan rakyat sekadar hitungan<br />
sebab surga bukan hanya indah di peta<br />
ia terasa ketika keadilan benar-benar sampai ke rumah kita.</p>
<p>&#8211;<br />
<em>Kuala Bubon, Aceh, 20 September 2025</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/6/</p>
<p><strong>TANAH YANG MEMANGGIL DENGAN SUARA IBU</strong></p>
<p><strong>Puisi: Mustiar Ar</strong></p>
<p>_</p>
<p>Hingga tanah memanggilku dengan suara ibu.<br />
Ketika terbangun,<br />
tubuhku masih utuh,<br />
tetapi namaku telah dikuburkan lebih dulu.<br />
Pagi datang membawa cangkul,<br />
menggali sunyi dari dada bumi.<br />
Aku tersenyum kepada kematian<br />
ternyata hidup belum selesai menulisku.</p>
<p>&#8211;<br />
<em>Meulaboh, Aceh, September 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>HIDUP YANG BERJALAN</strong></p>
<p><strong>Puisi: Mustiar Ar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pagi berkaki<br />
matahari menuntun<br />
bayanganku<br />
Jalan kehilangan<br />
ujungnya tumbuh kembali<br />
di telapak kaki<br />
Aku menanam<br />
sebutir waktu di dada<br />
tumbuh menjadi hari<br />
Malam tersenyum<br />
kematian belum datang<br />
hidup berbisik</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Kampung Pasir, Aceh, 1986</em></p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penyair &#8211; Mustiar Ar</strong></p>
<p>Mustiar Ar lahir di Meulaboh, Aceh Barat, 15 April 1967. Ia menulis puisi dan catatan tentang kehidupan, kemanusiaan, Aceh, serta hal-hal sederhana yang ditemuinya sehari-hari. Ia mulai menulis sejak usia muda dan pernah menerbitkan karya di sejumlah media dan antologi. Dalam keseharian, ia bekerja sebagai tukang parkir. Baginya, menulis bukan tentang menjadi siapa-siapa, melainkan cara sederhana untuk merawat kata, menyampaikan suara hati, dan tetap berkarya selama masih diberi kesempatan. Email: mustiarar5@gmail.com</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penerjemah — Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina adalah penyair, penulis, penerjemah, dan dosen pada Departemen Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Indonesia, sejak 2006. Karya kreatif dan akademiknya meliputi puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PANGGUNG DOA: SMMU DAN SES GELAR DOA BERSAMA UNTUK LIMA JURNALIS YANG HILANG DI LAUT SELAT SUNDA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/umum/panggung-doa-smmu-dan-ses-gelar-doa-bersama-untuk-lima-jurnalis-yang-hilang-di-laut-selat-sunda</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2026 16:20:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Lima Wartawan Hilang Di Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[Solidaritas Masyarakat Maluku Utara (SMMU)]]></category>
		<category><![CDATA[Spirit Entertaint Survive (SES)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11750</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Nuyang Jaimee BEKASI/JAKARTA — Komunitas Solidaritas Masyarakat Maluku Utara (SMMU) berkolaborasi dengan Komunitas Spirit Entertaint Survive (SES) menggelar “Panggung Doa — Menunggu Kabar Lima Jurnalis”, Selasa, 29 September 2026, di Taman Kuliner Kali Malang. Kegiatan tersebut digelar sebagai ruang doa, solidaritas dan kepedulian kemanusiaan bagi lima jurnalis yang diberitakan hilang di kawasan Laut Selat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;">Laporan:<strong> Nuyang Jaimee</strong></span></p>
<p>BEKASI/JAKARTA — Komunitas Solidaritas Masyarakat Maluku Utara (SMMU) berkolaborasi dengan Komunitas Spirit Entertaint Survive (SES) menggelar “Panggung Doa — Menunggu Kabar Lima Jurnalis”, Selasa, 29 September 2026, di Taman Kuliner Kali Malang.</p>
<p>Kegiatan tersebut digelar sebagai ruang doa, solidaritas dan kepedulian kemanusiaan bagi lima jurnalis yang diberitakan hilang di kawasan Laut Selat Sunda, sekaligus doa bagi para korban KM Virgo di Selat Jawa serta keluarga yang masih menunggu kabar.</p>
<p>Acara ini diinisiasi sekaligus dipimpin oleh Ina S. Kamariba, SHK, dari SMMU yang bertindak sebagai ketua panitia. Panggung doa tersebut mempertemukan unsur komunitas masyarakat, seniman, dan berbagai kalangan dalam suasana solidaritas kemanusiaan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11757" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0005-159x300.jpg" alt="" width="159" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0005-159x300.jpg 159w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0005.jpg 470w" sizes="(max-width: 159px) 100vw, 159px" /></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Sambutan Ketua Panitia</strong></span></p>
<p>Dalam sambutannya, Ina S. Kamariba, SHK, selaku inisiator acara sekaligus ketua panitia, menyampaikan bahwa Panggung Doa lahir dari kepedulian dan rasa kemanusiaan terhadap lima jurnalis yang belum diketahui kabarnya serta para korban musibah lainnya.</p>
<p>Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas bersama. Doa, menurut semangat kegiatan ini, menjadi cara masyarakat untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga yang sedang menunggu kabar. Kehadiran berbagai komunitas dan masyarakat dalam acara tersebut juga menjadi tanda bahwa mereka yang sedang menghadapi musibah tidak berjalan sendirian.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11758" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0004-257x300.jpg" alt="" width="257" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0004-257x300.jpg 257w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0004.jpg 360w" sizes="(max-width: 257px) 100vw, 257px" /></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Sambutan Ketua Umum SMMU</span></strong></p>
<p>Ketua Umum SMMU, Rusli Sudin, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya menjaga solidaritas masyarakat ketika terjadi musibah kemanusiaan. Ia mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama mendoakan mereka yang menjadi korban serta memberikan kekuatan kepada keluarga yang masih menunggu kabar.</p>
<p>Rusli juga menempatkan kegiatan tersebut sebagai ruang kebersamaan. Perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk berkumpul dalam satu tujuan kemanusiaan, yakni memberikan doa, perhatian dan dukungan kepada mereka yang sedang mengalami musibah.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11759" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0003-215x300.jpg" alt="" width="215" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0003-215x300.jpg 215w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0003.jpg 264w" sizes="(max-width: 215px) 100vw, 215px" /></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Sambutan Ketua Umum SES</span></strong></p>
<p>Sementara itu, Ketua Umum SES, Dian Atmaja, menyampaikan bahwa kolaborasi SMMU dan SES dalam Panggung Doa merupakan bentuk kepedulian bersama melalui ruang seni dan kebudayaan.</p>
<p>Menurutnya, seni dapat menjadi bahasa yang menyatukan perasaan manusia. Melalui musik, puisi dan doa, masyarakat dapat menyampaikan empati sekaligus menjaga ingatan terhadap para korban dan keluarga yang sedang menunggu kepastian.</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Doa Lintas Iman</span></strong></p>
<p>Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Ketua Umum SMMU, Rusli Sudin, dan Ketua Umum SES, Dian Atmaja. Keduanya menyampaikan pentingnya solidaritas masyarakat dalam menghadapi musibah, terutama ketika masih terdapat keluarga dan kerabat yang menunggu kepastian mengenai orang-orang yang belum kembali.</p>
<p>Nuansa lintas iman menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Edwin memimpin pembacaan doa secara Muslim, sementara Pdt. Alda Patricya memimpin doa secara Nasrani.</p>
<p>Kehadiran doa dari dua tradisi keagamaan tersebut menempatkan kegiatan bukan sekadar sebagai acara komunitas, melainkan sebagai ruang bersama untuk menyampaikan empati kepada para korban, keluarga korban, serta mereka yang masih menunggu kabar.</p>
<p>Pesan utama yang diangkat dalam kegiatan tersebut tercermin dalam tema pada poster acara: “Doa adalah jembatan hati yang tak pernah putus.”</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11760" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0002-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0002-225x300.jpg 225w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0002-769x1024.jpg 769w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0002-768x1022.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0002-1154x1536.jpg 1154w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260930-WA0002.jpg 1202w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Seni Menjadi Bahasa Solidaritas</span></strong></p>
<p>Selain doa, Panggung Doa juga menghadirkan ekspresi seni. Pertunjukan awal diisi Yeremia Naibaho melalui lagu penuh renungan berjudul &#8220;Damai&#8221; berkolaborasi dengan pembacaan puisi  Ina S. Kamariba, berjudul &#8220;Laut Bergejolak&#8221;, penuh getaran kesedihan.</p>
<p>Penampil lain adalah Nuyang Jaimee dg membacakan puisi “Lima Nama di Selat Sunda”, yang membawa suasana renungan menjadi lebih mengharukan tentang lima nama yang lenyap, laut, kehilangan dan penantian.</p>
<p>Lukman hadir dengan membacakan puisi bencana dan kemanusiaan, sementara pertunjukan musik dan lagu, dihangatkan dengan penampilan Merata dengan lagi &#8220;Kehilangan&#8221;. Ketiga penampilan tersebut memperkuat suasana duka, doa dan solidaritas yang menjadi napas utama panggung.</p>
<p>Dian Atmajaya juga ikut menyanyikan lagu sendu yang menyentuh hati. Dan ada yanyian yang dinyanyikan bersama seluruh hadirin yang hadir, berjudul “Berita kepada Kawan” dan “Untuk Kita Renungkan”. Nyanyian bersama tersebut menjadi bagian dari suasana reflektif dan ungkapan solidaritas seluruh peserta yang hadir terhadap para korban dan keluarga yang masih menunggu kabar.</p>
<p>Puisi dan musik ditempatkan sebagai bagian dari ungkapan duka, harapan dan solidaritas. Seni dalam konteks tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi menjadi medium untuk menyampaikan perasaan manusia ketika kata-kata biasa tidak cukup untuk menggambarkan kecemasan keluarga yang sedang menunggu.</p>
<p>Melalui panggung tersebut, para seniman dan komunitas menyuarakan pesan bahwa tragedi kemanusiaan tidak boleh berhenti sebagai pemberitaan sesaat. Di balik kabar mengenai orang hilang dan korban kecelakaan terdapat keluarga, sahabat, rekan kerja dan masyarakat yang menunggu kepastian.</p>
<p>Sebagai penutup, nyanyi bersama bertema renungan lainnya juga dipentaskan melalui kolaborasi seluruh anggota panitia penyelenggara, SMMU dan SES. Kolaborasi tersebut menjadi bagian akhir dari rangkaian acara sekaligus memperkuat pesan kebersamaan, doa, solidaritas dan kepedulian kemanusiaan yang menjadi semangat utama Panggung Doa.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11762" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260929-WA0060-1-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260929-WA0060-1-225x300.jpg 225w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260929-WA0060-1-769x1024.jpg 769w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260929-WA0060-1-768x1022.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260929-WA0060-1-1154x1536.jpg 1154w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260929-WA0060-1.jpg 1202w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></p>
<p>Kegiatan ini menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap mereka yang mengalami musibah, tanpa membedakan latar belakang agama, profesi maupun komunitas. Dan Doa sebagai bentuk kepedulian, ketika keberadaan seseorang belum diketahui dan keluarga masih menunggu, doa menjadi bentuk dukungan moral yang dapat diberikan masyarakat.</p>
<p>Dan Memberi perhatian kepada keluarga korban karna pusat perhatian tidak hanya diarahkan kepada peristiwa atau orang yang hilang, tetapi juga kepada keluarga yang menghadapi ketidakpastian dan menunggu kabar.</p>
<p>Pembacaan puisi dan musik juga mengambil peran bagaimana memperlihatkan kesenian dapat menjadi ruang refleksi, penghormatan, sekaligus penyampaian solidaritas terhadap persoalan kemanusiaan. Dan persatuan lintas iman dan komunitas. Doa Muslim dan Nasrani dalam satu panggung memperlihatkan pesan kebersamaan bahwa musibah kemanusiaan merupakan persoalan bersama.</p>
<p>Di tengah situasi ketika keluarga masih menunggu kabar, doa menjadi simbol harapan. Sementara puisi dan musik menjadi cara lain untuk menjaga ingatan publik terhadap mereka yang sedang menghadapi musibah.</p>
<p>Karena itu, pesan “Doa adalah jembatan hati yang tak pernah putus” menjadi relevan dengan keseluruhan acara. Jembatan tersebut menghubungkan mereka yang pergi dengan mereka yang menunggu, para korban dengan keluarga, serta masyarakat dengan rasa kemanusiaan.</p>
<p>Panggung Doa akhirnya menjadi ruang bersama untuk menyampaikan satu pesan sederhana: mereka yang hilang tidak boleh dilupakan, para korban harus didoakan, dan keluarga yang menunggu tidak boleh merasa sendirian. [PM]</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran Teks Hikayat di SMK: Menghidupkan Sastra Lama dalam Pengalaman Siswa</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/pembelajaran-teks-hikayat-di-smk-menghidupkan-sastra-lama-dalam-pengalaman-siswa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2026 23:17:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Teks Hikayat di SMK: Menghidupkan Sastra Lama dalam Pengalaman Siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11730</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Yulia Herliani &#8211; Sejak menjadi guru di SMK Profita pada 2018, saya semakin menyadari bahwa pembelajaran sastra di kelas tidak cukup jika hanya diarahkan pada kemampuan siswa untuk mengenali pengertian, struktur, ciri kebahasaan, dan unsur intrinsik sebuah karya. Sastra memiliki ruang yang jauh lebih luas. Sastra dapat menjadi jalan bagi siswa untuk mengenali dirinya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Yulia Herliani</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Sejak menjadi guru di SMK Profita pada 2018, saya semakin menyadari bahwa pembelajaran sastra di kelas tidak cukup jika hanya diarahkan pada kemampuan siswa untuk mengenali pengertian, struktur, ciri kebahasaan, dan unsur intrinsik sebuah karya. Sastra memiliki ruang yang jauh lebih luas.</p>
<p>Sastra dapat menjadi jalan bagi siswa untuk mengenali dirinya, memahami orang lain, membaca kebudayaan, sekaligus melihat bahwa pengalaman manusia pada masa lampau ternyata masih memiliki resonansi dengan kehidupan mereka hari ini. Salah satu teks sastra yang menurut saya memiliki kemungkinan besar untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran semacam itu adalah hikayat.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-11734" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era8-300x200.jpg" alt="" width="812" height="541" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era8-300x200.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era8-1024x683.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era8-768x512.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era8.jpg 1366w" sizes="(max-width: 812px) 100vw, 812px" /></p>
<p>Pada awalnya, hikayat mungkin tampak sebagai materi yang jauh dari kehidupan siswa SMK. Bahasa yang digunakan terasa asing, tokoh-tokohnya sering kali berada dalam dunia kerajaan, peristiwa yang ditampilkan penuh kemustahilan, dan alurnya berbeda dengan cerita yang biasa mereka baca atau tonton melalui media digital.</p>
<p>Akan tetapi, justru jarak tersebut dapat dijadikan pintu masuk pembelajaran. Guru tidak perlu memaksa siswa untuk segera menyukai hikayat, tetapi perlu membantu mereka menemukan alasan mengapa cerita tersebut masih layak dibaca.</p>
<p>Bagi saya, pembelajaran hikayat yang efektif dimulai dari perubahan cara pandang terhadap teks. Hikayat tidak diperlakukan sebagai benda mati dari masa lalu yang harus dihafalkan, melainkan sebagai karya yang menyimpan sistem pengetahuan, nilai, imajinasi, pandangan tentang kekuasaan, relasi sosial, keberanian, kesetiaan, pengkhianatan, cinta, keadilan, dan hubungan manusia dengan dunia yang lebih luas. Ketika siswa mulai melihat bahwa persoalan-persoalan tersebut ternyata juga hadir dalam kehidupan mereka, jarak antara hikayat dan kehidupan siswa perlahan menjadi lebih dekat.</p>
<p><strong>Hikayat sebagai Pengalaman Membaca</strong></p>
<p>Pembelajaran hikayat sebaiknya diawali dengan pengalaman membaca yang menarik. Guru dapat menghadirkan sebuah potongan cerita yang memiliki unsur ajaib atau konflik yang kuat, kemudian meminta siswa memberikan respons sebelum mereka mengetahui bahwa teks tersebut merupakan hikayat.</p>
<p>Misalnya, guru dapat bertanya: “Bagaimana jika seseorang tiba-tiba memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa? Apakah kekuatan tersebut selalu membawa kebahagiaan? Bagaimana jika seseorang harus memilih antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain?”</p>
<p>Pertanyaan semacam itu dapat menjadi jembatan menuju teks hikayat. Guru kemudian dapat memperkenalkan beberapa hikayat yang memiliki karakteristik dan persoalan berbeda sehingga siswa tidak memperoleh kesan bahwa seluruh hikayat hanya berkisah tentang kerajaan dan kesaktian.</p>
<p>Beberapa teks yang dapat digunakan antara lain Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Indera Bangsawan, Hikayat Si Miskin, Hikayat Abu Nawas, Hikayat Raja-Raja Pasai, dan Hikayat Amir Hamzah.</p>
<p>1. Hikayat Bayan Budiman: Sastra sebagai Nasihat dan Kecerdasan</p>
<p>Hikayat Bayan Budiman sangat menarik digunakan dalam pembelajaran karena menghadirkan persoalan tentang kesetiaan, godaan, kecerdikan, dan kemampuan menggunakan bahasa untuk menyelamatkan seseorang dari keputusan yang tergesa-gesa.</p>
<p>Tokoh Bayan dapat dijadikan pintu masuk untuk membicarakan fungsi cerita dalam kehidupan manusia. Bayan tidak sekadar menjadi burung yang berbicara, tetapi berfungsi sebagai pencerita yang menggunakan kisah untuk memengaruhi tindakan tokoh lain. Dari sini, siswa dapat diajak memahami bahwa cerita memiliki kekuatan persuasif.</p>
<p>Pembelajaran dapat dimulai dengan pertanyaan: “Mengapa seseorang terkadang lebih mudah menerima nasihat melalui cerita daripada melalui nasihat secara langsung?” Pertanyaan tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan storytelling. Siswa memilih salah satu cerita yang disampaikan Bayan, kemudian menceritakannya kembali menggunakan gaya bahasa mereka sendiri. Setelah itu, mereka diminta menjelaskan perubahan makna yang terjadi ketika cerita lama disampaikan dalam konteks kehidupan sekarang.</p>
<p>Untuk siswa SMK, kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi siniar cerita hikayat. Siswa bekerja dalam kelompok sebagai penulis naskah, pengisi suara, penyunting audio, dan penata musik. Dengan demikian, satu teks hikayat dapat sekaligus menjadi materi literasi, berbicara, menulis, menyimak, dan produksi media.</p>
<p>2. Hikayat Hang Tuah: Kepahlawanan, Kesetiaan, dan Identitas</p>
<p>Hikayat Hang Tuah dapat digunakan untuk membicarakan kepahlawanan dan kesetiaan. Tokoh Hang Tuah memiliki posisi penting dalam tradisi sastra Melayu karena kisahnya memperlihatkan hubungan antara individu, kerajaan, kehormatan, dan kesetiaan.</p>
<p>Namun, pembelajaran tidak perlu berhenti pada pertanyaan mengenai siapa Hang Tuah dan apa saja kesaktiannya. Justru bagian yang menarik adalah mengajak siswa mempertanyakan konsep kepahlawanan itu sendiri.</p>
<p>Guru dapat mengajukan pertanyaan: “Apakah seorang pahlawan hanya ditentukan oleh keberanian? Apa hubungan antara kesetiaan dan tanggung jawab? Apakah seseorang boleh mempertanyakan perintah ketika perintah tersebut dianggap tidak adil?”</p>
<p>Diskusi tersebut dapat membawa siswa kepada pembacaan kritis tanpa harus menghilangkan penghargaan terhadap teks. Siswa kemudian dapat membuat monolog tokoh Hang Tuah. Mereka diminta menulis monolog seolah-olah Hang Tuah sedang menjelaskan keputusan-keputusan penting yang pernah diambilnya. Kegiatan ini melatih kemampuan memahami karakter sekaligus kemampuan menulis kreatif.</p>
<p>Hikayat Hang Tuah juga dapat dibandingkan dengan figur kepahlawanan dalam kehidupan kontemporer. Perbandingan tersebut tidak diarahkan untuk mencari siapa yang paling hebat, tetapi untuk melihat bagaimana suatu masyarakat membangun konsep tentang keberanian, pengabdian, dan kehormatan.</p>
<p>3. Hikayat Indera Bangsawan: Imajinasi, Petualangan, dan Kemustahilan</p>
<p>Hikayat Indera Bangsawan sangat sesuai untuk memperkenalkan karakteristik hikayat berupa kesaktian, perjalanan, tokoh luar biasa, dan berbagai peristiwa yang berada di luar logika kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Bagian ini dapat menjadi kesempatan bagi guru untuk menjelaskan konsep kemustahilan dalam karya sastra. Siswa dapat mengidentifikasi peristiwa yang secara logika tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata, kemudian mendiskusikan fungsi kemustahilan tersebut.</p>
<p>Guru dapat bertanya: “Mengapa pengarang menghadirkan tokoh yang memiliki kemampuan luar biasa? Apakah sesuatu yang mustahil secara logika selalu tidak memiliki makna?” Dari sini, siswa dapat memahami bahwa sastra tidak selalu bertujuan menggambarkan realitas secara faktual. Sastra juga menciptakan dunia imajinatif untuk menyampaikan gagasan tertentu.</p>
<p>Sebagai proyek, siswa dapat diminta membuat hikayat modern. Mereka mempertahankan karakteristik hikayat, misalnya tokoh luar biasa, perjalanan, konflik, dan unsur ajaib, tetapi latarnya ditempatkan di dunia kontemporer.</p>
<p>Misalnya, seorang siswa dapat menciptakan tokoh yang memiliki kemampuan luar biasa dalam teknologi, tetapi kemampuan tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan sosial. Dengan cara demikian, siswa belajar bahwa bentuk lama dapat mengalami transformasi tanpa kehilangan identitas dasarnya.</p>
<p>4. Hikayat Si Miskin: Kemiskinan, Perubahan Nasib, dan Harapan</p>
<p>Hikayat Si Miskin dapat digunakan untuk mengembangkan pembelajaran yang berhubungan dengan kehidupan sosial. Cerita tentang kemiskinan dan perubahan nasib memungkinkan siswa mendiskusikan bagaimana masyarakat memandang orang yang berada dalam kondisi kurang beruntung.</p>
<p>Teks ini dapat dibaca melalui dua lapis. Pertama, siswa memahami jalan cerita dan karakteristik hikayat. Kedua, siswa diajak membaca nilai sosial yang berada di balik cerita. Guru dapat bertanya: “Bagaimana masyarakat memperlakukan seseorang berdasarkan status sosialnya? Apakah kekayaan selalu menjadi ukuran keberhasilan seseorang? Mengapa cerita tentang perubahan nasib begitu banyak ditemukan dalam sastra tradisional?”</p>
<p>Pertanyaan tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan menulis refleksi. Siswa tidak diminta menceritakan pengalaman pribadi secara langsung, tetapi dapat menulis tentang bagaimana mereka melihat hubungan antara usaha, kesempatan, keadaan sosial, dan keberhasilan.</p>
<p>Untuk siswa SMK, pembahasan ini dapat dikaitkan dengan dunia kerja. Siswa dapat mendiskusikan bahwa keberhasilan profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kesempatan, lingkungan, etos kerja, jaringan sosial, dan kemampuan beradaptasi.</p>
<p>5. Hikayat Abu Nawas: Kecerdikan sebagai Strategi Menghadapi Kekuasaan</p>
<p>Hikayat Abu Nawas menarik karena menghadirkan humor, kecerdikan, permainan bahasa, dan hubungan antara rakyat dengan penguasa. Cerita Abu Nawas sangat potensial untuk membangun pembelajaran yang menyenangkan karena konflik sering kali diselesaikan melalui kecerdikan tokohnya.</p>
<p>Guru dapat meminta siswa membaca satu cerita Abu Nawas, kemudian mengidentifikasi bagaimana tokoh tersebut menggunakan bahasa dan logika untuk menghadapi persoalan.</p>
<p>Pertanyaan pemantik dapat berupa: “Mengapa kecerdikan dapat menjadi kekuatan? Bagaimana bahasa dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik? Apa perbedaan antara kecerdikan dan kelicikan?” Bagian terakhir sangat penting karena siswa dapat membedakan strategi berpikir dengan manipulasi.</p>
<p>Aktivitas yang menarik adalah debat tokoh. Separuh kelas berperan sebagai pihak yang mendukung tindakan Abu Nawas, sementara kelompok lain mencari kelemahan dari tindakan tersebut. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami isi cerita, tetapi juga belajar menyusun argumentasi.</p>
<p>6. Hikayat Raja-Raja Pasai: Hikayat sebagai Ingatan Sejarah</p>
<p>Hikayat Raja-Raja Pasai dapat memperluas pemahaman siswa bahwa hikayat tidak hanya berisi cerita ajaib, tetapi juga berkaitan dengan sejarah dan ingatan kolektif masyarakat. Melalui teks ini, guru dapat memperkenalkan perbedaan antara sejarah sebagai rekonstruksi akademik dan hikayat sebagai representasi sastra terhadap masa lalu.</p>
<p>Siswa dapat diberikan dua jenis sumber tentang suatu peristiwa: satu berupa sumber sejarah dan satu berupa bagian hikayat. Mereka kemudian membandingkan cara kedua sumber tersebut menggambarkan tokoh dan peristiwa.</p>
<p>Kegiatan ini sangat baik untuk melatih literasi informasi. Siswa belajar bahwa sebuah teks perlu dibaca berdasarkan jenis, tujuan, konteks, dan cara pembentukannya.</p>
<p>7. Hikayat Amir Hamzah: Keberanian dan Dunia Kepahlawanan</p>
<p>Hikayat Amir Hamzah dapat digunakan untuk membahas kepahlawanan, keberanian, pengorbanan, dan perjalanan tokoh. Guru dapat meminta siswa membuat peta perjalanan tokoh, mulai dari latar belakang, konflik, perjalanan, lawan yang dihadapi, keputusan penting, hingga perubahan karakter.</p>
<p>Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara visual menggunakan mind map atau story map. Siswa kemudian mempresentasikan bagaimana perjalanan fisik tokoh sekaligus dapat dibaca sebagai perjalanan psikologis dan moral.</p>
<p><strong>Dari Hikayat ke Cerita Kontemporer</strong></p>
<p>Salah satu strategi yang menurut saya paling efektif dalam pembelajaran hikayat adalah transformasi teks. Setelah memahami sebuah hikayat, siswa tidak langsung diberikan tugas untuk menjawab soal, tetapi diberi kesempatan untuk menghidupkan kembali cerita tersebut.</p>
<p>Salah satu tantangan terbesar dalam pembelajaran hikayat adalah persepsi siswa bahwa hikayat merupakan cerita kuno yang tidak memiliki hubungan dengan kehidupan mereka. Tantangan tersebut menurut saya tidak perlu dilawan dengan penjelasan teoritis yang panjang. Cara yang lebih efektif adalah memperlihatkan hubungan tersebut melalui pengalaman membaca.</p>
<p>Ketika siswa membaca Hikayat Bayan Budiman, mereka dapat menemukan persoalan tentang nasihat dan godaan. Ketika membaca Hikayat Hang Tuah, mereka berhadapan dengan persoalan kesetiaan dan kehormatan. Ketika membaca Hikayat Si Miskin, mereka menemukan persoalan status sosial dan perubahan kehidupan. Ketika membaca Hikayat Abu Nawas, mereka menemukan kecerdikan dalam menghadapi persoalan. Ketika membaca Hikayat Indera Bangsawan, mereka menemukan dunia imajinasi dan kemustahilan.</p>
<p>Artinya, yang berubah adalah bentuk ceritanya, sementara persoalan kemanusiaan yang dibawanya tetap dapat ditemukan dalam kehidupan. Di sinilah saya melihat pentingnya guru sastra. Guru tidak sekadar menjelaskan bahwa hikayat memiliki ciri-ciri tertentu, tetapi membantu siswa menemukan mengapa ciri tersebut penting dan apa maknanya bagi pembaca hari ini.</p>
<p>Saya menyukai pembelajaran hikayat karena teks ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perjalanan lintas waktu. Mereka membaca bahasa yang mungkin terasa asing, bertemu dengan tokoh yang hidup dalam dunia kerajaan, menyaksikan kesaktian dan kemustahilan, tetapi kemudian menemukan bahwa di balik semua itu terdapat persoalan manusia yang masih mereka kenali.</p>
<p>Dengan demikian, pembelajaran hikayat di SMK bukanlah usaha untuk memaksa siswa mencintai karya lama. Pembelajaran tersebut merupakan usaha untuk memperkenalkan kepada mereka bahwa sastra selalu memiliki kemungkinan untuk dibaca kembali.</p>
<p>Hikayat dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah kebudayaan, perkembangan bahasa, sistem nilai, imajinasi masyarakat, sekaligus cara manusia memandang dirinya dan dunia. Ketika siswa mampu membaca hikayat dengan kesadaran semacam itu, mereka tidak lagi melihat sastra lama sebagai teks yang berjarak, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang manusia dalam menciptakan cerita.</p>
<p>Bagi saya, keberhasilan pembelajaran hikayat bukan ketika seluruh siswa mampu menghafalkan definisi hikayat, ciri-cirinya, atau struktur teksnya. Keberhasilan itu mulai tampak ketika seorang siswa yang semula mengatakan, “Hikayat itu membosankan,” kemudian menemukan satu tokoh, satu konflik, atau satu gagasan yang membuatnya ingin membaca lebih jauh. Pada saat itulah teks yang berasal dari masa lampau mulai menemukan kehidupan barunya di dalam pengalaman pembaca masa kini.</p>
<p>Bandung, 27 September 2026</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>Penulis</strong></p>
<p><strong>Yulia Herliani</strong> lahir di Bandung, 31 Juli. Saat ini ia bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK Profita Kota Bandung. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beberapa media massa daring. Selain menjadi guru, Yulia sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari tiga anaknya. Yulia dan keluarga tinggal di Kota Bandung.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Leni Marlina&#8217;s Bilingual Collected Poems : &#8220;THE RAINBOW SWALLOWED BY HAZE&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/leni-marlinas-bilingual-collected-poems-the-rainbow-swallowed-by-haze</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 09:55:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Bilingual Colleted Poems]]></category>
		<category><![CDATA[Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[THE RAINBOW SWALLOWED BY HAZE]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11657</guid>

					<description><![CDATA[Leni Marlina&#8217;s Bilingual (English &#38; Bahasa Indonesia) Collected Poems : &#8220;THE RAINBOW SWALLOWED BY HAZE&#8221; /1/ THE RAINBOW SWALLOWED BY HAZE Poem by Leni Marlina &#8211; You arrive when the forest has lost its hum, insects fold their wings beneath the sullen ash; the sky seeps light through bewildered pores, seven colours are born yet [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Leni Marlina&#8217;s Bilingual (English &amp; Bahasa Indonesia) Collected Poems : &#8220;THE RAINBOW SWALLOWED BY HAZE&#8221;</strong></p>
<p>/1/</p>
<p><strong>THE RAINBOW SWALLOWED BY HAZE</strong></p>
<p><em><strong>Poem by Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>You arrive when the forest has lost its hum,<br />
insects fold their wings beneath the sullen ash;<br />
the sky seeps light through bewildered pores,<br />
seven colours are born<br />
yet the earth holds its breath.</p>
<p>You arch above a fevered city,<br />
a fragile spectrum drawn from the womb of a darkened cloud;<br />
colours pulse between windows and graves,<br />
as though light were searching for the body it had lost.</p>
<p>Then the haze rises from the blackened earth,<br />
slowly, almost without a sound;<br />
leaf ash drifts into the sky,<br />
becoming something like a grave,<br />
while roots lose their bearings in the depths below.</p>
<p>It touches your red,<br />
and red turns to ember,<br />
your orange is gnawed away until it can scarcely breathe;<br />
yellow trembles against the city windows,<br />
almost speaking,<br />
while green shelters the last forest behind the eyes.</p>
<p>Green lingers longest upon your fragile body,<br />
one last grain of chlorophyll refuses to die;<br />
it hides within your eyes,<br />
a faint, stubborn pulse,<br />
while the map folds the forest out of existence.</p>
<p>The haze is in no hurry.<br />
It has the patience of something ancient,<br />
slipping between the colours,<br />
turning light into a wound;<br />
blurring distance,<br />
smudging names and air,<br />
until even your name becomes a measure of visibility.</p>
<p>Below you,<br />
trucks haul earth stripped of roots,<br />
hills are pared away, one slow cut at a time,<br />
then carried elsewhere;<br />
above you,<br />
birds veer off before they can ask:<br />
who owns the sky, and who gets paid for it?</p>
<p>You are still smiling at the edge of a strange dusk,<br />
or perhaps the light has forgotten how to turn away;<br />
your face still holds a translucent glow,<br />
while smoke writes its name<br />
inside silent lungs.</p>
<p>Dusk strips the last colours from you,<br />
chewing the spectrum down to bitterness;<br />
red becomes dust,<br />
green becomes a secret,<br />
and the sky takes back<br />
what it once gave.</p>
<p>You are still there:<br />
a stray chromosome of light misplaced in the season,<br />
cast into lungs breathing ever more foreign air;<br />
a shard of prism with one clear edge gone,<br />
turning cold,<br />
while the colour we called for<br />
never returns on the wind.</p>
<p>It answers with a cough<br />
moving from house to house each morning;<br />
windows close, guarding breath behind their silence,<br />
while the forest keeps sending something<br />
we have never learned to name.</p>
<p>And when night finally gathers every colour,<br />
we cannot tell<br />
whether you have vanished<br />
or entered so deeply into us<br />
that the haze has begun to find<br />
your seven colours<br />
running through our blood.</p>
<p>—</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, September 2026</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>AS SHARP AS YOUR GAZE</strong></p>
<p><em><strong>Poem by Leni Marlina</strong></em></p>
<p>—</p>
<p>As sharp as your gaze, salt forgets the sea,<br />
the hills keep their pulse beneath a weathered skin;<br />
mist grazes a wound not yet given a name,<br />
while roots count the soil slipping away.</p>
<p>You look at me in silence, but your gaze cuts deep,<br />
like earth sensing the blade before the hoe goes in;<br />
no cry rises from the shadowed valley,<br />
only one hill missing from the landscape.</p>
<p>Beneath the map, the river shifts its veins,<br />
a red line creeping outward, binding everything;<br />
the earth&#8217;s pulse is reduced to coordinates,<br />
and the forest becomes another number in a ledger.</p>
<p>Morning bites into the hills with iron jaws,<br />
stone is torn from bone, glints once, then disappears;<br />
its shine enters the books, dust settles in the pores,<br />
and the mountain becomes tonnage before it can say, “I am here!”</p>
<p>Truck after truck carries away the slopes and seasons,<br />
hauling the colours of soil, hauling what little memory remains;<br />
a house is reduced to an address, the river loses its clarity,<br />
and home becomes a destination no one can quite return to.</p>
<p>In the warehouse, minerals shed their names,<br />
becoming grade, tonnage, price;<br />
what once gleamed quietly in the earth&#8217;s deep womb<br />
now flashes across distant screens, far from springs and prayers.</p>
<p>In the village, muddy water settles in jars,<br />
children wait for fish that never return;<br />
diesel seeps into the river, dark and slow,<br />
teaching the water the language of loss.</p>
<p>Yet you look at me like rain arriving too late,<br />
as though your hands have never known the weight of anything;<br />
while the mountain is cut down, piece by piece,<br />
lifted into the belly of a factory<br />
until nothing remains that can still be called near.</p>
<p>At the roadside, a sign stands without apology:<br />
“PRODUCTION AREA”:<br />
two words, one hammer;<br />
wings, roots, moss, nests, and silence<br />
all suddenly reduced to numbers and speed.</p>
<p>Birds leave; branches hold what little remains,<br />
seasons lose their calendars, fog its name;<br />
the forest does not fall all at once,<br />
it dwindles slowly, like breath borrowed for too long.</p>
<p>You hold my hand, warm enough,<br />
but your palm conceals something darker:<br />
a parcel of earth stamped with a number;<br />
before it could acquire a name,<br />
it had already become a secret.</p>
<p>As gentle as your gaze, the hill remains in my eyes,<br />
though roots have been assigned boundaries, rivers their limits;<br />
stone not yet born from the earth&#8217;s deep womb<br />
already has its price.</p>
<p>Machines start; the night trembles between the cliffs,<br />
the river narrows,<br />
a vein growing stranger by the hour;<br />
the earth&#8217;s sentence is cut short before it can be read,<br />
and silence takes the place of language.</p>
<p>The last leaf drifts against our faces,<br />
our reflections meeting briefly upon the wounded water;<br />
one ripple erases the distance between us,<br />
one hand still holding,<br />
whether love,<br />
or something else.</p>
<p>I almost ask: who are we trying to save?<br />
But “save” sounds too pure<br />
on ground like this;<br />
so I let the question fall with the rain,<br />
where it becomes something we never quite finish saying.</p>
<p>We are silent.<br />
And when your hand slowly opens,<br />
there is no root, no wound, nothing<br />
only a thin red line circling our palms,<br />
a boundary, perhaps, a price,<br />
or something that has believed from the beginning<br />
that our bodies<br />
were simply another piece of land<br />
waiting to disappear from the map.</p>
<p>—</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, September 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>YOU HAVE GONE</strong></p>
<p><em><strong>Poem by Leni Marlina</strong></em></p>
<p>—</p>
<p>I knew you were gone<br />
long before the classroom door learned to close;<br />
what remained was not your footsteps,<br />
but time caught in a rusted hinge<br />
still pulsing<br />
whenever I try to forget.</p>
<p>I no longer trust the clock very much.<br />
It is too good<br />
at making absence<br />
look like a journey.</p>
<p>Outside the window,<br />
a rainbow tries to take shape<br />
between roof and sky,<br />
but the haze comes<br />
with its grey mouth<br />
and swallows the colours<br />
before evening can have them.</p>
<p>Perhaps that is longing:<br />
something reaching for colour<br />
when the air<br />
is no longer clear<br />
enough to receive it.</p>
<p>I do not call for you.<br />
I open the window<br />
and let your name<br />
drift into the air.<br />
Colour<br />
as though it had lungs.</p>
<p>Red holds back a cough.<br />
Yellow fades behind the mist.<br />
Green trembles on the leaves.<br />
Blue settles<br />
where the eyes<br />
can no longer reach.</p>
<p>Jealousy arrives without a sound.<br />
It only moves a chair<br />
a little closer to the window,<br />
then waits in silence<br />
to see who will be the first<br />
to admit what they have seen.</p>
<p>I do not ask where you have been.<br />
I notice a grain of dust upon your shoulder,<br />
how somehow it knows the road<br />
I never took.</p>
<p>Perhaps happiness<br />
is only a pane of glass<br />
that, for one brief moment,<br />
stops asking<br />
who stands before it.</p>
<p>The rainbow is swallowed by haze.<br />
Yet somehow<br />
I can still see traces of its colours<br />
between our breaths.</p>
<p>Do not speak to me of fidelity.<br />
The word is too slippery<br />
for hands that tremble when they choose.</p>
<p>There is something in me<br />
that has always wanted to be a door:<br />
opened and closed by you,<br />
then secretly hoping<br />
you will forget the key.</p>
<p>But night<br />
is never completely dark<br />
when the sky still holds<br />
the colours it failed to bring forth.</p>
<p>I look down at my feet.<br />
Two shadows lie across the floor.<br />
One is mine.<br />
The other seems ready to leave,<br />
yet something in the air<br />
keeps it there.</p>
<p>Then you say my name so softly<br />
the clock on the wall seems<br />
to lose a second.</p>
<p>I turn.<br />
No one is there.<br />
Only seven colours<br />
sliding slowly down the glass<br />
onto the windowsill.</p>
<p>Morning begins to stir. A moth<br />
settles there,<br />
and suddenly<br />
one of the colours catches on its wings.<br />
It flies.<br />
I do not know<br />
whether it carries the rainbow,<br />
or carries away something<br />
that was meant<br />
to stay here.</p>
<p>—</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, September 2026</em><br />
&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>About the Poet – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina is an Indonesian writer, poet, lecturer, from West Sumatra, Indonesia, where she resides in Padang. Her passion for literacy and creative writing began during her school years and has remained a guiding thread throughout her life. Her engagement with literature deepened while she pursued a Master of Arts in Writing and Literature in Australia.</p>
<p>The poems and nursery rhymes in this collection have a special place in her literary journey. They were first written in 2011, when Leni was taking a Children’s Literature course during her master’s studies. More than a decade later, she revisited these early works, reimagining and refining them with a deeper understanding of childhood, imagination, language, and the natural world. The poems and nursery rhymes were published for the first time in 2026.</p>
<p>Since 2006, Leni has served as a lecturer in the Department of English Language and Literature, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang, Indonesia. Alongside her academic work, she writes poetry, short fiction, essays, and scholarly articles, and takes part in translation, literary, and editorial projects.</p>
<p>For Leni, writing is more than a creative practice. It is a way of listening to life, learning from the world, nurturing humanity, and sharing hope. This belief has encouraged her to participate actively in literary and literacy communities and to contribute to educational and creative spaces that connect people through language and literature.</p>
<p>She has been involved in communities and international literary networks including PPIC (Poetry-Pen International Community), WCLC (World Children’s Literature Community), ACC SHILA (ACC Shanghai Huifeng International Literary Community), Littalk-C (Literary Talk Community), and Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</p>
<p>Through her writing, teaching, and literacy initiatives, Leni seeks to make a meaningful contribution—however modest—to the cultivation of reading, writing, imagination, and literary appreciation. Over the years, she has received a number of local, national, and international literary recognitions. She regards these achievements not as destinations, but as milestones in an ongoing journey of learning, creativity, and service through literature. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id<br />
Wattpad: @lenimarlina_write<br />
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
<p>&#8212;</p>
<p>The Indonesian version of the poems abova are available in the official link below:</p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="5yVMMJkcSc"><p><a href="https://www.suaraanaknegeri.com/lingkungan/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-pelangi-yang-ditelan-jerebu">Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PELANGI YANG DITELAN JEREBU&#8221;</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="“Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: “PELANGI YANG DITELAN JEREBU”” — Suara Anak Negeri" src="https://www.suaraanaknegeri.com/lingkungan/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-pelangi-yang-ditelan-jerebu/embed#?secret=PKbfEsGAFO#?secret=5yVMMJkcSc" data-secret="5yVMMJkcSc" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PELANGI YANG DITELAN JEREBU&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/lingkungan/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-pelangi-yang-ditelan-jerebu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 07:08:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[Pelangi Ditelan Jerebu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11652</guid>

					<description><![CDATA[Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PELANGI YANG DITELAN JEREBU&#8221; /1/ PELANGI YANG DITELAN JEREBU Puisi: Leni Marlina &#8211; Engkau tiba ketika hutan kehilangan dengung, serangga menyimpan sayap di bawah arang murung; langit meneteskan cahaya dari pori-pori bingung, tujuh warna lahir namun bumi menutup hidung. Engkau melengkung di atas kota demam, membawa spektrum tipis dari rahim [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PELANGI YANG DITELAN JEREBU&#8221;</strong></p>
<p>/1/</p>
<p><strong>PELANGI YANG DITELAN JEREBU</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Engkau tiba ketika hutan kehilangan dengung,<br />
serangga menyimpan sayap di bawah arang murung;<br />
langit meneteskan cahaya dari pori-pori bingung,<br />
tujuh warna lahir<br />
namun bumi menutup hidung.</p>
<p>Engkau melengkung di atas kota demam,<br />
membawa spektrum tipis dari rahim awan kelam;<br />
warna-warna berdenyut di antara kaca dan makam,<br />
seolah cahaya sedang mencari tubuhnya yang terpendam.</p>
<p>Lalu jerebu naik dari tanah menghitam,<br />
ia hanya datang perlahan dan diam;<br />
abu daun berpindah ke langit,<br />
menjadi semacam makam,<br />
sementara akar kehilangan alamat di ruang terdalam.</p>
<p>Merahmu disentuhnya<br />
merahmu menjadi bara,<br />
jinggamu digerogoti sampai kehilangan udara;<br />
kuning bergetar di kaca-kaca kota,<br />
hampir bicara,<br />
hijau menyimpan hutan terakhir di belakang mata.</p>
<p>Hijau paling lama bertahan di tubuhmu yang tipis,<br />
sebutir klorofil terakhir menolak habis;<br />
ia bersembunyi di matamu,<br />
menjadi denyut lirih,<br />
sementara peta melipat hutan hingga tak lagi berselisih.</p>
<p>Jerebu tak tergesa<br />
ia memiliki kesabaran tua,<br />
menyusup ke sela spektrum,<br />
mengubah cahaya menjadi luka;<br />
ia mengaburkan jarak,<br />
mengeruhkan nama dan udara,<br />
hingga namamu sendiri tinggal angka jarak pandang semata.</p>
<p>Di bawahmu,<br />
truk-truk mengangkut tanah tanpa akar,<br />
bukit sedikit demi sedikit dipotong perlahan,<br />
lalu dibawa ke luar;<br />
di atasmu,<br />
burung mengubah arah sebelum sempat bertanya,<br />
siapa menyewakan langit, dan siapa menerima bayarnya?</p>
<p>Engkau masih tersenyum di ambang petang asing,<br />
atau hanya cahaya lupa cara berpaling;<br />
wajahmu menyimpan warna bening,<br />
sementara asap menulis namanya pada paru-paru hening.</p>
<p>Petang menanggalkan warna terakhir dari tubuhmu,<br />
spektrum dikunyah sampai tinggal getir di udara kelu;<br />
merah menjadi debu,<br />
hijau menjadi rahasia bisu,<br />
langit menelan kembali apa yang pernah diberikannya kepadamu.</p>
<p>Engkau masih di sana:<br />
sebuah kromosom cahaya yang salah alamat di musim,<br />
terlempar ke dalam paru-paru dari udara makin asing;<br />
sepotong prisma kehilangan sisi beningnya,<br />
menjadi dingin,<br />
dan warna yang dipanggil tak lagi pulang sebagai angin.</p>
<p>Ia menjawab dengan batuk merambat dari rumah ke rumah setiap pagi;<br />
jendela-jendela tertutup menyimpan napas di balik sunyi,<br />
sementara hutan terus mengirimkan sesuatu<br />
yang tak pernah diberi nama dalam bahasa kami.</p>
<p>Dan ketika malam akhirnya mengambil seluruh warna,<br />
kami tak tahu<br />
apakah engkau telah lenyap atau justru<br />
masuk terlalu dalam ke tubuh kami<br />
hingga jerebu menemukan<br />
tujuh warnamu di dalam darah ini.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, September 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>SETAJAM TATAPANMU</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Setajam tatapanmu, garam kehilangan laut,<br />
bukit menyimpan denyut di bawah kulit kusut;<br />
kabut mengusap luka yang belum sempat disebut,<br />
sementara akar menghitung tanah surut.</p>
<p>Kau menatapku diam, tapi begitu tajam,<br />
seperti tanah mengenali cangkul sebelum terbenam;<br />
tak ada jerit terdengar dari lembah kelam,<br />
hanya satu bukit berkurang dari bentang alam.</p>
<p>Di bawah peta, sungai mengubah urat,<br />
garis merah menjalar, pelan-pelan mengikat;<br />
nadi bumi dipindahkan menjadi koordinat,<br />
dan hutan dibaca sebagai angka tercatat.</p>
<p>Pagi menggigit bukit dengan rahang besi,<br />
batu keluar dari tulang, berkilau, lalu pergi;<br />
kilau masuk neraca, debu tinggal di pori,<br />
gunung menjadi tonase sebelum sempat berkata: &#8220;Aku di sini!&#8221;</p>
<p>Truk-truk beriring membawa lereng dan musim,<br />
mengangkut warna tanah, mengangkut ingatan yang lirih;<br />
rumah tinggal alamat, sungai kehilangan bening,<br />
pulang berubah menjadi sesuatu yang sulit dikirim.</p>
<p>Di gudang, mineral kehilangan nama,<br />
menjadi kadar, menjadi tonase, menjadi harga;<br />
yang dahulu berkilau di rahim bumi tanpa suara,<br />
kini gemerlap di layar jauh dari mata air dan doa.</p>
<p>Di kampung, air keruh tidur dalam tempayan,<br />
anak-anak menunggu ikan yang tak kembali ke halaman;<br />
solar merembes ke sungai, hitam dan perlahan,<br />
menjadikan air mengeja sebuah kehilangan.</p>
<p>Namun kau menatapku selembut hujan yang terlambat,<br />
seolah tanganmu tak pernah mengenal berat;<br />
sementara gunung dipotong, sedikit demi sedikit terangkat,<br />
masuk ke perut pabrik<br />
menjadi sesuatu yang tak lagi dapat disebut dekat.</p>
<p>Di tepi jalan, papan berdiri tanpa ragu:<br />
&#8220;KAWASAN PRODUKSI&#8221;:<br />
dua kata, satu palu;<br />
sayap, akar, lumut, sarang, dan bisu<br />
mendadak tak memiliki bahasa selain angka dan laju.</p>
<p>Burung pergi; dahan menahan sisa,<br />
musim kehilangan kalender, kabut kehilangan nama;<br />
hutan tak tumbang dengan satu suara,<br />
ia susut perlahan, seperti napas yang dipinjam tanpa jeda.</p>
<p>Kau menggenggam tanganku cukup hangat,<br />
Namun telapak tanganmu menyimpan sesuatu yang lebih pekat:<br />
sebidang tanah dengan nomor tercetak rapat,<br />
sebelum sempat memiliki nama, ia telah menjadi rahasia pekat.</p>
<p>Selembut tatapanmu, bukit masih tinggal di mata,<br />
tetapi akar telah diberi garis, sungai diberi batas;<br />
batu yang belum lahir dari rahim tanah<br />
telah lebih dahulu mempunyai harga.</p>
<p>Mesin menyala; malam bergetar di antara tebing,<br />
sungai mengecil,<br />
seutas urat semakin asing;<br />
kalimat bumi dipotong sebelum selesai dibaca,<br />
dan sunyi mengambil alih tempat kata-kata.</p>
<p>Daun terakhir hanyut menyentuh wajah kita,<br />
dua pantulan bertemu sebentar di permukaan luka;<br />
satu riak menghapus batas antara aku dan kau,<br />
satu tangan masih menggenggam,<br />
entah cinta,<br />
entah sesuatu yang lain di sana.</p>
<p>Aku hampir bertanya: siapa yang sedang kita selamatkan?<br />
Namun kata selamat terdengar terlalu bening di tanah yang demikian;<br />
maka kubiarkan pertanyaan itu turun bersama hujan,<br />
menjadi sesuatu yang tak selesai disebutkan.</p>
<p>Kita diam.<br />
Dan ketika tanganmu perlahan membuka,<br />
tak ada akar, tak ada luka, tak ada apa-apa,<br />
hanya satu garis merah melingkar di telapak tangan kita,<br />
entah batas tanah, entah tanda harga,<br />
entah sesuatu yang sejak awal<br />
mengira tubuh kita<br />
sebidang tanah yang hilang di peta.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, September 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>KAU TELAH PERGI</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Aku tahu kau telah pergi<br />
jauh sebelum pintu belajar menutup;<br />
yang tertinggal bukan langkahmu,<br />
melainkan waktu yang tersangkut di engsel<br />
berkarat,<br />
namun masih berdenyut<br />
setiap kali aku hendak lupa.</p>
<p>Aku tak lagi begitu percaya pada jam.<br />
Ia terlalu pandai<br />
membuat kehilangan<br />
terlihat seperti perjalanan.</p>
<p>Di luar jendela,<br />
pelangi mencoba tumbuh<br />
di antara atap dan langit,<br />
tetapi jerebu datang<br />
dengan mulut kelabu<br />
dan menelan warna<br />
sebelum sempat menjadi petang.</p>
<p>Barangkali begitulah rindu:<br />
sesuatu yang ingin berwarna<br />
ketika udara<br />
tak lagi bening<br />
untuk menerimanya.</p>
<p>Aku tak memanggilmu.<br />
Aku membuka jendela<br />
dan membiarkan namamu<br />
bercampur dengan udara.<br />
warna<br />
seperti memiliki paru-paru.<br />
Merah menahan batuk.<br />
Kuning menguning di balik kabut.<br />
Hijau menggigil pada daun.<br />
Biru mengendap<br />
di tempat mata<br />
tak lagi sampai.</p>
<p>Cemburu datang tanpa langkah.<br />
Ia hanya menggeser kursi<br />
sedikit lebih dekat ke jendela,<br />
lalu diam-diam menunggu<br />
siapa yang pertama mengaku melihat.</p>
<p>Aku tak bertanya dari mana kau pulang.<br />
Aku memperhatikan sebutir debu di bahumu,<br />
entah bagaimana ia mengetahui jalan<br />
yang tak kutempuh.<br />
Mungkin bahagia<br />
hanyalah kaca untuk sesaat<br />
berhenti bertanya:<br />
siapa yang berdiri di hadapannya.</p>
<p>Pelangi ditelan jerebu.<br />
Namun entah mengapa<br />
aku masih melihat sisa warnanya<br />
di antara napas kita.<br />
Jangan bicara tentang kesetiaan.<br />
Kata itu terlalu licin<br />
untuk tangan gemetar ketika memilih.</p>
<p>Ada sesuatu dalam diriku<br />
yang selalu ingin menjadi pintu:<br />
dibuka dan ditutup olehmu,<br />
lalu diam-diam berharap<br />
engkau lupa membawa kuncinya.<br />
Tetapi malam<br />
tak pernah benar-benar gelap<br />
ketika langit menyimpan<br />
warna yang gagal dilahirkan.</p>
<p>Aku memandang kaki sendiri.<br />
Dua bayangan berdiri di lantai.<br />
Yang satu milikku.<br />
Yang satu lagi seperti hendak pergi,<br />
tetapi tertahan oleh udara.<br />
Lalu kau memanggil namaku begitu pelan<br />
hingga jam di dinding seolah<br />
kehilangan satu detik.<br />
Aku menoleh<br />
Tak ada siapa-siapa<br />
Hanya tujuh warna<br />
yang perlahan turun dari kaca<br />
ke ambang jendela.</p>
<p>Pagi mulai bergerak, seekor ngengat<br />
hinggap di sana<br />
dan tiba-tiba<br />
salah satu warna menempel di sayapnya.<br />
Ia terbang<br />
Aku tidak tahu<br />
apakah ia membawa pelangi,<br />
atau membawa sesuatu<br />
yang seharusnya tetap tinggal di sini.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, September 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penulis – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.</p>
<p>Sejak tahun 2006, Leni mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan.</p>
<p>Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</p>
<p>Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id | Wattpad: @lenimarlina_write | Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi Dwibahasa (Indonesia &#8211; Jawa) Karya Cak &#8220;WAKTU SORE&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/puisi-dwibahasa-indonesia-jawa-karya-cak-waktu-sore</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 05:24:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Dwibahasa (Indonesia - Jawa)]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu Sore]]></category>
		<category><![CDATA[Wayah Sore]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11636</guid>

					<description><![CDATA[WAKTU SORE Puisi: Cak Mus &#8211; Di waktu sore burung kuntul pulang bersama-sama Hidup rukun mencari makan secukupnya Tidak menumpuk harta untuk tujuh turunan sampai berlebihan Dibantu merampok mencuri sekehendaknya Di waktu sore menyiram bunga di depan rumah Duduk di teras minum kopi makan kue Bunga segar memberi hawa yang tidak bosan Beda dengan kita [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>WAKTU SORE</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Cak Mus</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di waktu sore burung kuntul pulang bersama-sama<br />
Hidup rukun mencari makan secukupnya<br />
Tidak menumpuk harta untuk tujuh turunan sampai berlebihan<br />
Dibantu merampok mencuri sekehendaknya</p>
<p>Di waktu sore menyiram bunga di depan rumah<br />
Duduk di teras minum kopi makan kue<br />
Bunga segar memberi hawa yang tidak bosan<br />
Beda dengan kita kalau memberi mengharap hadiah</p>
<p>Di waktu sore orang pintar disebut jahat<br />
Para hadirin semua tertawa dengan mata melotot<br />
Kepalaku pusing sekarang malas membaca<br />
Manusia dianggap utama kalau penuh uang dan berkuasa</p>
<p>Di waktu sore musim kemarau (saatnya) layang-layang<br />
Anak-anak tertawa ramai penuh pertemanan<br />
Itu dulu, sekarang meringkuk sendirian<br />
Menggenggam HP badan sakit penuh pikiran</p>
<p>Di waktu sore anak-anak kecil mengaji bersama<br />
Dilatih kitab suci diajari tauhid<br />
Heran sudah besar tidak pernah ke masjid<br />
Dengar lagu langsung joget sampai mulas kebanyakan asam (gaul kebablasan)</p>
<p>Di waktu sore matahari berada di barat<br />
Semakin tua semakin berdosa, pikun terjadi<br />
Maka segeralah bertobat jangan menunggu seperti bunglon<br />
Berubah omongan gampang berubah ingkar prinsip</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Lamongan, Jatim, 20-9-2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Catatan Penyair:</em></p>
<p>Puisi &#8220;WAYAH SORE&#8221; ini jadi kelanjutan yang pas dari &#8220;WAYAH AWAN&#8221; . Kalau &#8220;Wayah Awan&#8221; tentang kebobrokan di siang hari yang terang-terangan, &#8220;Wayah Sore&#8221; ini tentang kesunyian dan penyesalan di senja, tentang anak kecil yang dulu rukun sekarang kesepian karena HP, dan orang tua yang semakin lupa tobat.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Versi Bahasa Jawa</p>
<p><strong>WAYAH SORE</strong></p>
<p><strong>Puisi: Cak Mus</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p><em>wayah sore manuk kuntul bareng muleh</em><br />
<em>guyup rukun golek pangan sakcukupe</em><br />
<em>ora numpuk pitung turunan sak mbledose</em><br />
<em>direwangi garong nyolong sak karepe</em></p>
<p><em>wayah sore nyiram kembang ngarep omah</em><br />
<em>lungguh teras ngombe kopi mangan juadah</em><br />
<em>kembang seger paring howo ora wegah</em><br />
<em>bedo kito yen maringi pamrih hadiah</em></p>
<p><em>wayah sore wong pinter diarani olo</em><br />
<em>poro rawuh podo ngguyu moto ombo</em><br />
<em>ndasku mumet saiki males moco</em><br />
<em>menungso utomo yen kebak duit kuoso</em></p>
<p><em>wayah sore mongso ketigo layangan</em><br />
<em>bocah-bocah guyu rame kekancanan</em><br />
<em>iku mbiyen saiki mlungker dewekan</em><br />
<em>nggegem hape awak gerah kebak pikiran</em></p>
<p><em>wayah sore podo ngaji bocah alit</em><br />
<em>digladi kitab suci diwulang tauhid</em><br />
<em>gumun gede ora podo sobo masjid</em><br />
<em>krungu lagu joget mules kakean pencit</em></p>
<p><em>wayah sore srengenge manggon ing kulon</em><br />
<em>tambah tuo tambah doso pikun kelakon</em><br />
<em>mulo enggal tobat ojo nunggu koyo bunglon</em><br />
<em>maleh omong gampang owah suloyo waton</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Lamongan, Jatim, 20-9-2026</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SANG KAMASAN SOWEK</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/sang-kamasan-sowek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2026 14:27:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[SANG KAMASAN SOWEK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11597</guid>

					<description><![CDATA[Elegi untuk Prof. Dr. Oscar Oswald Octavianus Wambrauw, S.E., M.Ec. Rektor Universitas Cenderawasih Oleh: Albert Rumbekwan Dibacakan oleh: Dr. Risamasu, S.E., M.Ec. Pada Upacara Penghormatan Jenazah Rektor Universitas Cenderawasih Auditorium Universitas Cenderawasih, Senin, 21 September 2026 &#8211; Kampungku adalah Kampung Sowek. Negeri yang berdiri di atas laut, di mana aibon menjadi penjaga pantai, ikan-ikan menari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Elegi untuk Prof. Dr. Oscar Oswald Octavianus Wambrauw, S.E., M.Ec.</strong></p>
<p><strong>Rektor Universitas Cenderawasih</strong></p>
<p><strong>Oleh: Albert Rumbekwan</strong><br />
<strong>Dibacakan oleh: Dr. Risamasu, S.E., M.Ec.</strong><br />
<strong>Pada Upacara Penghormatan Jenazah Rektor Universitas Cenderawasih</strong><br />
<strong>Auditorium Universitas Cenderawasih, Senin, 21 September 2026</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kampungku adalah Kampung Sowek.<br />
Negeri yang berdiri di atas laut,<br />
di mana <strong>aibon</strong> menjadi penjaga pantai,<br />
ikan-ikan menari di bawah rumah,<br />
dan samudra menjadi halaman kehidupan.</p>
<p>Di teluk yang teduh,<br />
suara <strong>kamasan</strong> bergema.</p>
<p>Besi dibakar dalam bara,<br />
dipukul, ditempa,<br />
diasah dengan kesabaran,<br />
hingga menjadi parang<br />
yang berguna bagi kehidupan.</p>
<p>Dari kamasan itulah<br />
seorang anak Sowek belajar tentang kehidupan.</p>
<p>Bahwa hidup tidak dibentuk oleh kemudahan,<br />
melainkan oleh ketekunan,<br />
kesabaran,<br />
kerja keras,<br />
dan pengabdian.</p>
<p><strong>Layar Waiman Susu terkembang.</strong></p>
<p>Angin <strong>Wambrau</strong> berembus kencang,<br />
mengantar sebuah perahu meninggalkan Sowek.</p>
<p>Di dalam perahu itu<br />
ada doa seorang ibu,<br />
ada harapan sebuah keluarga,<br />
dan ada cita-cita sebuah kampung.</p>
<p>Perahu itu akhirnya merapat di Jayapura.</p>
<p>Jauh dari keluarga,<br />
ia menapaki kehidupan baru.</p>
<p>Ia tinggal di Asrama Sakura<br />
Universitas Cenderawasih.</p>
<p>Di sana,<br />
ia diterima oleh buku.<br />
Ia ditempa oleh buku.<br />
Ia bertumbuh melalui diskusi,<br />
tugas, ujian,<br />
dan pergumulan panjang mencari ilmu.</p>
<p>Ia belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik<br />
Universitas Cenderawasih pada masa itu.</p>
<p>Namun perjalanan ilmunya<br />
tidak berhenti di Jayapura.</p>
<p>Ia melangkah ke Bogor,<br />
kemudian menyeberangi batas negeri<br />
hingga sampai ke Jerman.</p>
<p>Di sana ia mendalami agribisnis dan ekonomi,<br />
ilmu tentang kekuatan bersama,<br />
ilmu tentang kesejahteraan,<br />
ilmu yang kelak diabdikan<br />
bagi kehidupan manusia dan tanah Papua.</p>
<p>Kemudian ia kembali.</p>
<p>Kembali ke tanah leluhur.<br />
Kembali kepada Papua.<br />
Kembali kepada Universitas Cenderawasih.</p>
<p>Ia hadir sebagai pengajar,<br />
sebagai penuntun,<br />
sebagai guru kehidupan.</p>
<p>Ia menempa anak-anak negeri<br />
dari gunung,<br />
dari lembah,<br />
dari pesisir,<br />
dan dari pulau-pulau<br />
agar berani menatap masa depan.</p>
<p>Tahun-tahun pengabdian<br />
mengantarkannya pada sebuah amanat besar.</p>
<p>Ia dipercaya menjadi<br />
<strong>Rektor Universitas Cenderawasih.</strong></p>
<p>Sebagai Rektor,<br />
ia menjaga api pengetahuan,<br />
menguatkan pendidikan,<br />
dan membuka jalan<br />
bagi generasi Papua.</p>
<p>Ia bukan hanya seorang akademisi.<br />
Ia adalah guru.<br />
Ia adalah pemimpin.<br />
Ia adalah orang tua<br />
bagi banyak anak negeri.</p>
<p>Namun,<br />
pada <strong>Kamis, 17 September 2026</strong>,<br />
ketika fajar hendak menyingsing<br />
di ufuk Port Numbay,</p>
<p>Tuhan memanggilmu pulang.</p>
<p>Palu itu kini terdiam.</p>
<p>Rumah kamasan berduka.</p>
<p>Hati kami terluka.<br />
Mata kami sembab.<br />
Air mata membasahi wajah kami.</p>
<p>Kami kehilangan<br />
<strong>Prof. Dr. Oscar Oswald Octavianus Wambrauw, S.E., M.Ec.</strong></p>
<p>Seorang Rektor.<br />
Seorang dosen.<br />
Seorang guru.<br />
Seorang pemimpin.<br />
Seorang orang tua.</p>
<p>Dan bagi kami,<br />
engkau adalah<br />
<strong>Sang Kamasan Sowek.</strong></p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Terima kasih atas pengabdianmu.<br />
Terima kasih atas ilmu yang engkau wariskan.<br />
Terima kasih atas keteladananmu.<br />
Terima kasih atas kelembutanmu.<br />
Terima kasih atas semangatmu<br />
untuk membangun Universitas Cenderawasih.</p>
<p>Ilmu dan keteladananmu<br />
tidak akan berhenti bersama kepergianmu.</p>
<p>Keduanya akan tetap hidup<br />
dalam ingatan kami,<br />
dalam ruang-ruang kuliah,<br />
dalam buku-buku,<br />
dalam langkah para mahasiswa,<br />
dan dalam perjalanan Universitas Cenderawasih.</p>
<p>Kini,<br />
palu itu telah engkau serahkan kepada kami.</p>
<p>Api kamasan itu<br />
akan terus kami jaga.</p>
<p>Tongkat estafet pengabdianmu<br />
akan kami lanjutkan.</p>
<p>Kami akan terus membangun<br />
Universitas Cenderawasih<br />
sebagai rumah ilmu,<br />
rumah pengharapan,<br />
dan rumah masa depan<br />
bagi manusia Papua di tanah Papua.</p>
<p>Biarlah ombak Sowek<br />
menyanyikan perjalananmu.</p>
<p>Biarlah <strong>aibon</strong><br />
menjaga kenanganmu.</p>
<p>Biarlah angin <strong>Wamrau</strong><br />
membawa namamu<br />
menyeberangi samudra.</p>
<p>Dan biarlah layar <strong>Waiman Susu</strong><br />
mengantarmu<br />
menuju pelabuhan keabadian.</p>
<p>Selamat jalan, Bapak Rektor.</p>
<p>Selamat jalan, Guru kami.</p>
<p>Selamat jalan, Pemimpin kami.</p>
<p>Selamat jalan,<br />
<strong>Sang Kamasan Sowek.</strong></p>
<p>Palu telah terdiam,<br />
tetapi karya tidak akan berhenti.</p>
<p>Api telah engkau wariskan,<br />
tetapi cahayanya tidak akan padam.</p>
<p>Cahayanya akan terus menerangi<br />
jalan anak-anak Cenderawasih<br />
menuju Papua yang maju,<br />
bermartabat,<br />
adil,<br />
dan penuh harapan.</p>
<p><strong>Selamat jalan, Prof. Oscar O. Wambrauw.</strong></p>
<p><strong>Beristirahatlah dalam damai<br />
di rumah Bapa di Surga.</strong></p>
<p><strong>Sampai kita berjumpa<br />
di pelabuhan keabadian.</strong></p>
<p><strong>Abepura, 18 September 2026</strong><br />
<strong>Albert Rumbekwan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sastra Hidup Lagi Di Senen: 70 Pelajar Jakarta Pusat Ambil Estafet dalam Festival Komunitas 2026</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/nasional/festival-komunitas-2026-upaya-regenerasi-sastra-di-jantung-jakarta</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2026 07:26:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Komunitas 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Sastra Jakarta Pusat (Sajak Pusat)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11569</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Nuyang Jaimee Gelaran Festival Komunitas 2026 di Gelanggang Senen, Jakarta Pusat, 19 September 2026 cukup sukses dan meriah. Penyelenggaraan festival ini tidak sekadar menjadi ajang unjuk bakat biasa, melainkan sebuah manifestasi kebangkitan ruang-ruang kultural yang berakar kuat pada sejarah masa lalu untuk menjawab tantangan zaman di masa kini. Tercatat sekitar 70 siswa dari 15 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #0000ff;">Laporan: Nuyang Jaimee</span></strong></p>
<p>Gelaran Festival Komunitas 2026 di Gelanggang Senen, Jakarta Pusat, 19 September 2026 cukup sukses dan meriah. Penyelenggaraan festival ini tidak sekadar menjadi ajang unjuk bakat biasa, melainkan sebuah manifestasi kebangkitan ruang-ruang kultural yang berakar kuat pada sejarah masa lalu untuk menjawab tantangan zaman di masa kini.</p>
<p>Tercatat sekitar 70 siswa dari 15 SMA/SMK sederajat di wilayah Jakarta Pusat ambil bagian dalam rangkaian kegiatan utama. Para pelajar ini tampak antusias menunjukkan kemampuan terbaik mereka melalui berbagai mata lomba yang dikurasi secara saksama, mulai dari lomba baca puisi, cipta puisi, dan penulisan cerpen. Kehadiran wajah-wajah muda ini memberikan angin segar sekaligus bukti nyata bahwa estafet kepenulisan dan kecintaan terhadap seni sastra masih memiliki tempat yang istimewa di hati generasi Z.</p>
<p>Dalam laporannya, Ketua Panitia Festival Komunitas, Yon Bayu Wahyono, menegaskan bahwa pemilihan kawasan Senen sebagai lokasi penyelenggaraan bukanlah sebuah kebetulan semata. Kegiatan ini diinisiasi secara sadar sebagai upaya strategis untuk menumbuhkan dan menghidupkan kembali tradisi sastra yang pernah berurat akar di kawasan Senen.</p>
<p>Kawasan ini di masa lalu dikenal sebagai kawah candradimuka tempat bertemunya para pemikir, penyair, dan seniman besar tanah air.<br />
<em>“Ini merupakan gelaran kedua yang diinisiasi oleh Sajak Pusat. Selain sastra, kami juga menghadirkan bazar buku murah sebagai upaya mengembalikan citra Senen sebagai sentra buku murah,”</em> ujar Yon Bayu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11574" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142240-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142240-300x232.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142240-768x595.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142240.jpg 891w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Senada dengan hal tersebut, Kepala Pengelola Gelanggang Senen Jakarta Pusat, Mimi Karminingsih, dalam sambutannya yang penuh semangat mengenang kembali masa kejayaan kawasan Senen pada era 1950-an. Beliau bernostalgia bagaimana kawasan Senen dahulunya merupakan episentrum kebudayaan dan sastra yang sangat hidup. Berbagai nama besar sastrawan Nusantara, majalah-majalah sastra independen, hingga perdebatan intelektual kerap mewarnai hari-hari di kawasan jantung kota tersebut.</p>
<p><em>&#8220;Festival ini bukan sekadar sebuah perhelatan seremonial belaka di sini, tetapi festival ini juga menjadi ruang penting untuk mengingat, merawat, dan menjaga kreativitas yang pernah tumbuh dan berkembang di kawasan Senen. Mari kita jadikan Senen sebagai ruang tumbuh bagi para remaja untuk melahirkan sejarah kebudayaan baru,&#8221;</em> ungkap Mimi Karminingsih di hadapan para peserta dan tamu undangan.</p>
<p>Lebih lanjut, Mimi juga berpesan kepada para generasi muda agar tidak merasa takut untuk menulis, berkarya, dan menemukan identitas kreatif mereka masing-masing. Di tengah era digital dan gempuran teknologi yang bergerak sangat cepat, generasi muda dinilai memiliki keunggulan dalam hal kecepatan beradaptasi. Oleh karena itu, ia mengajak para pelajar untuk melihat teknologi dari sudut pandang positif—sebagai instrumen yang memperluas cakrawala ekspresi—tanpa harus kehilangan akar kepribadian dan nilai-nilai luhur sastra itu sendiri.</p>
<p>Menjaga Kemandirian Sastra<br />
Menyoroti dinamika kepenulisan modern, Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Martin Suryajaya, memberikan pandangan mendalam mengenai akar sejarah perkembangan sastra di Indonesia. Menurutnya, dalam catatan sejarah sastra tanah air, komunitas-komunitas kecil selalu memegang peranan yang sangat vital dan menentukan.</p>
<p>Banyak sekali perkembangan besar dalam dunia sastra Indonesia yang justru lahir bukan dari institusi-institusi besar atau lembaga formal, melainkan tumbuh dari gerakan akar rumput. Mulai dari sanggar seni independen, komunitas pembaca, kelompok diskusi informal, hingga majalah-majalah sastra yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat.</p>
<p><em>&#8220;Festival komunitas sastra ini memuat narasi penting tentang bagaimana kita bisa mempraktikkan kreativitas secara mandiri, terutama di tengah situasi ketika akal imitasi dan teknologi instan mengepung dari segala arah,&#8221;</em> jelas Martin di hadapan para audiens.</p>
<p>Ia mengingatkan para peserta didik bahwa ukuran keberhasilan dari sebuah festival sastra bukanlah sekadar selesai atau tidaknya acara tersebut, melainkan sejauh mana para peserta kembali tergerak untuk rajin membaca karya-karya besar, menulis puisi, menyusun cerpen, hingga melahirkan buku dengan tangan, pikiran, dan hati mereka sendiri setelah festival selesai. Para siswa diajak untuk tidak terlalu merasa cemas menghadapi gelombang perubahan zaman, melainkan meresponsnya dengan terus tekun membaca dan berkarya sebaik mungkin.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11573" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142258-218x300.jpg" alt="" width="218" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142258-218x300.jpg 218w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142258-745x1024.jpg 745w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142258-768x1055.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260920_142258.jpg 941w" sizes="(max-width: 218px) 100vw, 218px" /></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Jakarta Kota Sastra</strong></span></p>
<p>Dari sudut pandang kebijakan daerah, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat, Andri Ferdian, menyampaikan apresiasi yang mendalam serta dukungannya terhadap penyelenggaraan festival ini. Terlebih lagi, momentum perhelatan ini beriringan dengan pengakuan internasional di mana Jakarta telah resmi ditetapkan sebagai Kota Sastra oleh UNESCO.</p>
<p>Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya melalui Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat, berkomitmen penuh untuk menyambut dan merayakan status internasional tersebut dengan cara-cara yang membumi. Salah satunya adalah dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh komunitas seni, sastra, serta lintas sektor terkait—seperti bidang pendidikan, perpustakaan, kepemudaan, hingga olahraga—untuk berkolaborasi secara sinergis.</p>
<p>Meskipun di tengah tantangan efisiensi postur anggaran daerah yang cukup ketat, pihak pemerintah terus berupaya mencari formula terbaik agar kegiatan-kegiatan pembinaan kebudayaan dan ruang berekspresi bagi komunitas tetap dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor ini diyakini mampu menjadi katalisator untuk menghidupkan kembali ikon-ikon kebudayaan di Jakarta Pusat, menjadikan wilayah ini sebagai rumah yang ramah bagi para seniman, budayawan, dan masyarakat luas.</p>
<p>Menjelang penutupan rangkaian acara pembukaan, berbagai catatan reflektif mengemuka dari para narasumber dan panitia. Festival Komunitas 2026 dipandang sebagai sebuah jembatan penyeberangan yang menghubungkan antara lembaran sejarah masa lalu yang gemilang dengan dinamika kreatif masa kini dan masa depan.</p>
<p>Generasi muda diingatkan bahwa mereka tidak hadir untuk hidup di dalam bayang-bayang masa lalu, melainkan hadir untuk menyerap semangatnya, mempelajari kebijaksanaannya, dan kemudian melanjutkan proses kreatif tersebut sesuai dengan napas zaman yang sedang berjalan.</p>
<p>Jika di masa lalu para sastrawan menuangkan gagasan melalui buletin fisik, majalah cetak, panggung pertunjukan, dan pertemuan tatap muka secara langsung, maka hari ini generasi muda memiliki lanskap ruang kreatif yang jauh lebih luas dan tanpa batas melalui pemanfaatan ekosistem digital.</p>
<p>Namun demikian, esensi dari sebuah karya sastra yang lahir dari ketulusan, kejujuran batin, dan kepekaan terhadap realitas kehidupan tidak akan pernah berubah. Karya-karya yang jujur akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk menyentuh hati pembaca lintas generasi.</p>
<p>Oleh karena itu, melalui ajang Festival Komunitas Sastra Senen 2026 ini, tersimpan sebuah harapan besar agar para penulis muda, penyair pemula, penggiat teater, komunitas rekreasi seni, dan seluruh elemen generasi kreatif dapat terus merajut dialog, memperkuat jejaring kolaborasi, serta melahirkan karya-karya monumental yang baru.</p>
<p>Sastra tidak boleh hanya diposisikan sebagai barang museum yang sekadar menyimpan arsip sejarah di dalam lemari kaca, melainkan harus terus dihidupkan sebagai kekuatan aktif yang melahirkan sejarah kebudayaan baru di jantung ibu kota.</p>
<p>Setelah diskusi dan peluncuran buku Kumpulan cerpen Aku Pulang Saat Kamu Lupa Cara Mengingatku karya Yon Bayu Wahyono dengan pembahas Nanang R. Supriyatin dan Rissa Churria sementara moderator Endah Wijayanti, juri mengumumkan pemenang lomba. Juara 1, 2 dan 3 dari masing-masing lomba akan diikutkan dalam lomba serupa di tingkat provinsi dalam ajang Festival Sastra Jakarta 2026.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11571" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260920-WA0021-169x300.jpg" alt="" width="169" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260920-WA0021-169x300.jpg 169w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260920-WA0021-576x1024.jpg 576w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260920-WA0021.jpg 720w" sizes="(max-width: 169px) 100vw, 169px" /></p>
<p>Daftar Pemenang Festival Komunitas Sastra 2026</p>
<p>Lomba Baca Puisi<br />
Juara 1: Febrita (SMAN 30 )<br />
Juara 2: Rizki Putra Raya (SMAN 77)<br />
Juara 3: Marsya Keyla Afebr (SMAN 5)</p>
<p>Lomba Cipta Puisi<br />
Juara 1: Kenia Amalia Daulima (SMAN 77)<br />
Juara 2: Bintang Maharani (SMAN 1)<br />
Juara 3: Najwa Aqeela Bahanan (SMA Islam Said Na&#8217;um)</p>
<p>Lomba Cipta Cerpen<br />
Juara 1: Nazwa Alisyah Putri (SMAN 77)<br />
Juara 2: Najla Cetta Andini Firmansyah (SMAN 1 )<br />
Juara 3: Syifa Aryani Safitri (SMA Islam Said Na&#8217;um)</p>
<p>[Red/PM]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mancing di Belakang Rumah</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/mancing-di-belakang-rumah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2026 05:23:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Mancing di Belakang Rumah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11564</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Era Nurza &#8211; Di istana ia bicara angka Bukan mantra, bukan janji bunga &#8220;Angka tak bisa bohong,&#8221; katanya lantang Kata-kata lah yang pandai berdusta Ia hantam yang suka main belakang Ia bongkar laci yang lama mengendap Dana rakyat bukan untuk ditabung di bank Tapi untuk rakyat yang lapar dan sesak Terlalu jujur untuk sebuah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Era Nurza</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di istana ia bicara angka<br />
Bukan mantra, bukan janji bunga<br />
&#8220;Angka tak bisa bohong,&#8221; katanya lantang<br />
Kata-kata lah yang pandai berdusta</p>
<p>Ia hantam yang suka main belakang<br />
Ia bongkar laci yang lama mengendap<br />
Dana rakyat bukan untuk ditabung di bank<br />
Tapi untuk rakyat yang lapar dan sesak</p>
<p>Terlalu jujur untuk sebuah panggung<br />
Terlalu lurus untuk jalan yang bengkok<br />
Ia teknokrat tanpa seragam kuning, biru, merah<br />
Maka ia dianggap duri di dalam jongkok</p>
<p>Setahun ia injak gas<br />
Yang lain sibuk injak rem<br />
Ia bicara tentang tumbuh<br />
Mereka bicara tentang helm</p>
<p>Lalu datang surat pendek<br />
Tak perlu alasan, tak perlu debat<br />
&#8220;Terima kasih, kau sudah bekerja,&#8221;<br />
Pulanglah, ini bukan tempatmu yang hebat</p>
<p>kini ia tertawa di kolam belakang<br />
Mancing mujair, nila, dan tanya yang dalam<br />
&#8220;Kenapa dipecat?&#8221; tanyanya pada air<br />
Air menjawab: &#8220;Karena kau tak pandai menyelam.&#8221;</p>
<p>Selamat pensiun, Pak Purbaya<br />
Di negeri di mana yang jujur harus curiga<br />
Kau terlalu bersih untuk lumpur<br />
Maka lumpur lah yang memecatmu secara resmi negara</p>
<p>Padang, 20 September 2026</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Edi S Febri: &#8220;IMAJI TAK MENEPATI JANJI&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/refleksi/kumpulan-puisi-karya-edi-s-febri-imaji-tak-menepati-janji</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 09:06:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Karya Edi S Febri: "IMAJI TAK MENEPATI JANJI"]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11526</guid>

					<description><![CDATA[Kumpulan Puisi Karya Edi S Febri: &#8220;IMAJI TAK MENEPATI JANJI&#8221; /1/ SENJA (YANG SENGAJA) TERLUKA Puisi: Edi S Febri &#8211; Senja tak lagi mau bercerita Ada yang menghalang Menabur jebakan pada diam Menunggu kesempatan Kemudian mencincang Menghambur kata kata makian Alur cerita yang sama Mengancam perpisahan Berharap bisa kembali merendahkan kita memang berada di tempat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kumpulan Puisi Karya Edi S Febri: &#8220;IMAJI TAK MENEPATI JANJI&#8221;</strong></p>
<p>/1/</p>
<p><strong>SENJA (YANG SENGAJA) TERLUKA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Edi S Febri</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Senja tak lagi mau bercerita<br />
Ada yang menghalang<br />
Menabur jebakan pada diam<br />
Menunggu kesempatan<br />
Kemudian mencincang<br />
Menghambur kata kata makian</p>
<p>Alur cerita yang sama<br />
Mengancam perpisahan<br />
Berharap bisa kembali merendahkan</p>
<p>kita<br />
memang berada di tempat yang tak seharusnya<br />
tapi untuk mengakhiri<br />
masih ada rasa yang tak bisa diingkari</p>
<p>Bertingkah semaunya<br />
Memang seperti itulah tabiat senja<br />
Tak ada yang mampu merubah arah<br />
Daur mataharipun terkadang mengalah<br />
Sembunyi di balik awan<br />
Meski masih ada siang</p>
<p>Senja sedang tak ingin bercengkerama<br />
Lupa janji semesta<br />
Ingkari cerita</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Grinsing, JATENG, 12 Agustus 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>KEINGINAN YANG TERHEMPAS</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Edi S Febri</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Menunggu hujan meluruh di lingkar kemarau itu seibarat menghapus masa lalu dari hidupmu<br />
Tak mungkin mampu<br />
Karena kenangan bersamanya masih kau simpan<br />
Dan sesekali dihadirkan ketika ada kecewa melintas memupus harapan</p>
<p>Kau yang memulai prahara<br />
Tapi kau juga mengaku sebagai yang terluka<br />
Dua peran berbeda<br />
Disatukan dalam cerita<br />
Tak mengaku salah<br />
Mengingkari yang terucap di lidah</p>
<p>kau<br />
bukan peramu hujan</p>
<p>kau<br />
bukan susunan huruf yang terbasahkan</p>
<p>kau<br />
hanya selingan ketika hati sedang kesepian</p>
<p>Tak bisakah keluar dari jerat masa lalu yang memenjarakan langkahmu?<br />
Kau masih bermimpi di pelukan embun<br />
Tapi justru melupa jika saat ini sedang berpijak dikeringnya gurun</p>
<p>Kenangan itu menjadi pembatas<br />
Keinginan dua hati yang terampas</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Grinsing, JATENG, 12 Agustus 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>IMAJI TAK MENEPATI JANJI</strong></p>
<p><strong><em>Puisi: Edi S Febri</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Tidurlah<br />
Matahari sedari tadi telah terlelap<br />
Lepaskan sukma dari raga</p>
<p>Tidurlah<br />
Pejamkan mata<br />
Biarkan semua berlalu di garis semesta<br />
Tak usah disesali<br />
Atau mengingat kembali<br />
Anggap saja dia telah mati<br />
Membawa cerita yang selalu berganti</p>
<p>Tidurlah<br />
Nikmati semua di malam ini<br />
Sebelum menuju pagi</p>
<p>ada dingin<br />
angin kemarau meniup matahari</p>
<p>memeluk<br />
berbisik<br />
raga tetaplah sunyi<br />
tak ada yang menemani</p>
<p>Tidurlah<br />
Imaji juga butuh waktu untuk tak menepati janji</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Grinsing, JATENG, 6 September 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>PADA SEBUAH PERTEMUAN (02)</strong><br />
(teruntuk : Devita)<br />
<em><strong>Puisi: Edi S Febri</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Meski sekejap<br />
Tapi membuat segalanya berbunga<br />
Memecah kesunyian<br />
Singkirkan beban<br />
Lesap di pelukan</p>
<p>Pertemuan yang singkat<br />
Kangenpun tak lagi menyesak</p>
<p>Seluas mata memandang<br />
Hanya ada wajahmu di setiap ingatan</p>
<p>Kau<br />
Seakan kembali membuatku hidup<br />
Setelah sekian lama terkungkung laut kematian</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Grinsing, JATENG<br />
09 September 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>SEPENGGAL CERITA DI HARI INI</strong><br />
(teruntuk : Farshell yang menjemputku pada dini hari)</p>
<p><em><strong>Puisi: Edi S Febri</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>pulanglah<br />
malam telah merangkak menuju dini hari<br />
tak baik berada di sini<br />
gemerlap lampu dan alkohol justru semakin membuatmu terpuruk</p>
<p>Ucapmu begitu lembut<br />
Seibarat desau angin menyapu pucuk cemara</p>
<p>Aku diam<br />
Tak mampu beranjak<br />
Kepala terasa berat</p>
<p>aku antar ke rumah<br />
jangan melangkah sendiri<br />
jalanmu tak lagi tegak</p>
<p>Tanganmu melingkar di pundak<br />
Setengah memaksa berdiri</p>
<p>Perut tiba tiba mual<br />
Sedetik kemudian muntah</p>
<p>baguslah<br />
buang minuman itu dari perutmu<br />
nanti setelahnya akan lega</p>
<p>Langkah terhenti<br />
Rasa enggan kembali menggoda untuk tak pergi</p>
<p>Hari ini<br />
Terpaan badai terlalu kencang menghampiri<br />
Tak bisa dihindari</p>
<p>ayo pulanglah<br />
aku temani sampai kau ingat pada jati diri<br />
aku tak akan pergi<br />
meski dinding pemisah menghalangi</p>
<p>Kecupan lembut di kening membuatku tersadar<br />
Aku sedang tidak bermimpi</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Grinsing, JATENG, 16 Juli 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penyiar &#8211; Edi S Febri</strong></p>
<p>Edi S Febri tinggal di Batang Jawa Tengah dan bekerja sebagai penulis, penyair, jurnalis. Ia juga mengajar dan membimbing kegiatan sastra.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TATAPAN TERAKHIR</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/tatapan-terakhir</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 08:53:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[TATAPAN TERAKHIR]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11519</guid>

					<description><![CDATA[Anto Narasoma (bagi bang sam muchtar chaniago) &#8211; baru kulihat di ujung tatapan itu kau pandang sejauh lorong matamu yang terlalu jauh menembus waktu terakhir kali kau titipkan antologi pikiran &#8211;disaat api dalam jiwamu berkobar hebat, membakar kekecewaan atas ribuan koruptor dan pejabat yang lupa pada hukumnya dari ribuan naskah yang berkubang dalam pikiran dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Anto Narasoma</strong><br />
(bagi bang sam muchtar chaniago)</p>
<p>&#8211;</p>
<p>baru kulihat di ujung tatapan itu</p>
<p>kau pandang sejauh lorong matamu<br />
yang terlalu jauh menembus waktu</p>
<p>terakhir kali<br />
kau titipkan antologi pikiran &#8211;disaat api dalam jiwamu berkobar hebat,<br />
membakar kekecewaan atas ribuan koruptor dan pejabat yang lupa pada hukumnya</p>
<p>dari ribuan naskah<br />
yang berkubang dalam pikiran dan gejolak kekhawatiran<br />
satu satu beranjak dari diksi pilihan</p>
<p>lalu,<br />
kau tinggalkan duniamu yang diam tanpa sepercik hujan</p>
<p>karena asap pekat<br />
telah mengaburkan kata-kata terakhir dalam kumpulan puisi enam penyair</p>
<p>memang,<br />
sudah waktunya<br />
kau jawab panggilan<br />
yang tertidur di sepanjang kesempatan masih tersisa</p>
<p>karena tatapan panjang matamu<br />
yang menyimpan berjuta kata-kata itu harus meringkuk di balik tanah terakhir</p>
<p>Palembang,<br />
18 September 2026</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NUYANG JAIMEE: Doa &#038; Rindu Lima Nama di Selat Sunda</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/umum/nuyang-jaimee-doa-rindu-lima-nama-di-selat-sunda</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 18:09:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Karya]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Lima Nama di Selat Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Nuyang Jaimee]]></category>
		<category><![CDATA[Pembacaan Puisi Nuyang Jaimee]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Nuyang Jaimee]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11467</guid>

					<description><![CDATA[Redaksi Suara Anak Negeri Kekuatan utama puisi Lima Nama di Selat Sunda karya Nuyang Jaimee yang dibacakan Senin malam 14 September 2026 di Plaza Taman Ismail Marzuki dibacara &#8220;Malam Doa dan Rindu, Menanti Kabar 5 Wartawan yang Hilang Di Krakatau&#8221; ini terletak pada pergeseran sudut pandang: dari sebuah peristiwa jurnalistik menjadi persoalan kemanusiaan. Pada awalnya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #0000ff;">Redaksi Suara Anak Negeri</span></strong></p>
<p>Kekuatan utama puisi Lima Nama di Selat Sunda karya Nuyang Jaimee yang dibacakan Senin malam 14 September 2026 di Plaza Taman Ismail Marzuki dibacara &#8220;Malam Doa dan Rindu, Menanti Kabar 5 Wartawan yang Hilang Di Krakatau&#8221; ini terletak pada pergeseran sudut pandang: dari sebuah peristiwa jurnalistik menjadi persoalan kemanusiaan.</p>
<p>Pada awalnya, lima wartawan digambarkan sebagai orang-orang yang menjalankan profesinya—membawa kamera, catatan, dan keinginan untuk melihat lebih dekat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tetapi setelah komunikasi terputus, mereka tidak lagi sekadar menjadi subjek berita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11458" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038-300x167.jpg" alt="" width="300" height="167" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038-300x167.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038-1024x571.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038-768x428.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Mereka berubah menjadi lima manusia yang sedang ditunggu kepulangannya.<br />
Kalimat:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Krakatau,</em><br />
<em>hari ini kami tidak sedang menulis</em><br />
<em>tentang letusan</em><br />
<em>Kami sedang menunggu</em><br />
<em>lima manusia pulang”</em></p>
<p>menjadi titik emosional penting dalam puisi. Di sini Nuyang membalik fungsi jurnalistik. Biasanya wartawan membawa berita kepada masyarakat. Kini justru masyarakat, keluarga, dan sesama wartawan menunggu berita tentang mereka.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11469" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430-245x300.jpg" alt="" width="245" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430-245x300.jpg 245w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430-837x1024.jpg 837w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430-768x940.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430.jpg 1080w" sizes="(max-width: 245px) 100vw, 245px" /></p>
<p>Puisi kemudian membangun pertentangan antara keberanian dan ketidakberdayaan. Lima wartawan pergi mendekati bencana agar masyarakat dapat mengetahui apa yang terjadi. Mereka<em> “menulis ketika yang lain memilih diam”, “bertanya ketika kekuasaan ingin pertanyaan hilang”</em>, dan “<em>membawa suara ketika seringkali suara tak terdengar dan dibungkam.”</em> Bagian ini memperluas makna profesi wartawan: bukan hanya pekerjaan mengambil gambar atau menulis berita, tetapi bagian dari upaya menghadirkan kesaksian kepada publik.</p>
<p>Namun paradoks terbesar muncul dalam bait:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>&#8220;Dan kini</em><br />
<em>suara mereka sendiri</em><br />
<em>yang sedang kami tunggu”</em></p>
<p>Inilah salah satu pusat kekuatan puisi. Orang-orang yang selama ini merekam suara orang lain, kini justru menjadi suara yang hilang. Kamera yang biasanya menghasilkan gambar, kini menjadi simbol penantian.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11461" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114-300x207.jpg" alt="" width="300" height="207" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114-300x207.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114-1024x708.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114-768x531.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114.jpg 1349w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Diksi “lima nama” juga sengaja lebih kuat daripada sekadar menyebut “lima wartawan”. Nama menunjukkan identitas manusia. Mereka bukan angka dalam laporan kehilangan. Karena itu, bagian akhir bergerak dari profesi menuju keluarga:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Sebab di balik setiap kamera</em><br />
<em>ada mata</em><br />
<em>di balik setiap berita</em><br />
<em>ada keberanian</em><br />
<em>di balik lima nama</em><br />
<em>yang malam ini</em><br />
<em>kami sebut dalam doa</em><br />
<em>ada lima keluarga</em><br />
<em>yang sedang menunggu”</em></p>
<p>Penutup ini mengembalikan seluruh persoalan kepada manusia. Wartawan tidak hanya memiliki kamera, profesi, dan tugas. Mereka memiliki keluarga, orang-orang yang mencintai, dan rumah untuk pulang.</p>
<p>Secara struktur, puisi ini juga mengikuti perjalanan emosional sebuah malam doa: dimulai dari fakta dan kronologi, bergerak menuju kecemasan, kemudian menjadi doa, lalu ditutup dengan harapan. Pengulangan<em> “Kami masih hidup!”</em> tiga kali menjadi semacam suara imajiner dari mereka yang sedang dicari. Repetisi tersebut bukan sekadar penegasan, tetapi menjadi mantra harapan agar pencarian tidak berakhir pada kabar duka.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11468" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956-300x217.jpg" alt="" width="300" height="217" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956-300x217.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956-1024x742.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956-768x556.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956.jpg 1364w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Ada pula personifikasi terhadap Krakatau dan laut. Krakatau diajak berbicara:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Krakatau,</em><br />
<em>kalau kau masih menyimpan mereka</em><br />
<em>jangan sakiti mereka”</em></p>
<p>Laut yang dalam berita menjadi ruang pencarian, dalam puisi berubah menjadi kemungkinan jalan pulang: <em>“Biarkan laut menjadi jalan pulang.”</em> Dengan demikian, alam tidak hanya tampil sebagai ancaman, tetapi juga sebagai ruang yang masih mungkin mengembalikan mereka.<br />
Pada akhirnya,<em> “Lima Nama di Selat Sunda”</em> bukan puisi tentang kematian. Ia justru menolak mendahului takdir. Puisi ini berdiri di wilayah antara kehilangan dan harapan—antara kabar yang belum datang dan doa agar kabar itu membawa keselamatan.</p>
<p>Karena itu, baris:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Dan Indonesia,</em><br />
<em>jika esok mereka kembali,</em><br />
<em>jangan hanya sambut mereka</em><br />
<em>sebagai berita</em><br />
<em>Sambut mereka</em><br />
<em>sebagai manusia”</em></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11463" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0076-300x170.jpg" alt="" width="300" height="170" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0076-300x170.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0076-768x435.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0076.jpg 896w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>menjadi penutup yang sangat penting. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap berita selalu ada manusia yang menjalankan tugas dengan risiko nyata.<br />
Untuk malam “Doa dan Rindu”, puisi ini berfungsi bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi sebagai kesaksian emosional dari komunitas pers dan masyarakat yang sedang menunggu.</p>
<p>Lima nama belum selesai menjadi berita. Lima nama masih dipanggil dalam doa. Dan selama harapan belum padam, laut Selat Sunda masih menyimpan kemungkinan: membawa mereka pulang!. [PM]</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Leni Marlina&#8217;s Bilingual Poem Collection: &#8220;THE BIRD THAT FLIES CARRYING YOUR NAME&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/leni-marlinas-bilingual-poem-collection-the-bird-that-flies-carrying-your-name</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 09:34:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA["THE BIRD THAT FLIES CARRYING YOUR NAME"]]></category>
		<category><![CDATA[Bilingual Poem Collection]]></category>
		<category><![CDATA[Leni Marlina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11377</guid>

					<description><![CDATA[Leni Marlina&#8217;s Bilingual Poem Collection: &#8220;THE BIRD THAT FLIES CARRYING YOUR NAME&#8221; &#160; /1/ THE BIRD THAT FLIES CARRYING YOUR NAME Poem by Leni Marlina &#8211; O you who are there. Though morning has not yet fully opened its eyes, I awaken you with the voice of dew. Between two clusters of dew, a bird [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><strong>Leni Marlina&#8217;s Bilingual Poem Collection: &#8220;THE BIRD THAT FLIES CARRYING YOUR NAME&#8221;</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>/1/</p>
<p><strong>THE BIRD THAT FLIES CARRYING YOUR NAME</strong></p>
<p><strong>Poem by Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>O you who are there.<br />
Though morning has not yet fully opened its eyes,<br />
I awaken you with the voice of dew.<br />
Between two clusters of dew,<br />
a bird is sharpening its voice<br />
against the bones of light.</p>
<p>I speak your name.<br />
Not loudly.<br />
Only like roots<br />
exchanging salt for soil.</p>
<p>Your name moves slowly<br />
into the throat of that bird,<br />
then becomes something<br />
that no longer resembles language:<br />
A grain of fragrance.<br />
A color no eye has yet discovered.<br />
A faint warmth on a stone<br />
after the river has changed its age.</p>
<p>The bird takes flight.<br />
Not toward you.<br />
The sky knows no direction.<br />
It flies into a distance<br />
that keeps growing itself.</p>
<p>Beneath it,<br />
the rice fields are memorizing the shape of coming rain.<br />
Mist herds its losses<br />
from hill to hill.<br />
And time—<br />
time sits upon a tree stump<br />
peeling away its own skin.</p>
<p>I wait for you like moss<br />
on the northern side of stone.<br />
I wait for you like wild seeds<br />
beneath the tongue of the dry season.<br />
I wait for you like light<br />
trapped for years<br />
inside the sap.</p>
<p>So I listen<br />
to things that do not move.<br />
To bamboo stalks<br />
that keep the sound of rain<br />
without ever speaking it.<br />
To the earth<br />
that conceals a thousand roots<br />
yet still lifts the forest.<br />
To dew<br />
that dies every morning<br />
without losing faith<br />
in the sun.</p>
<p>The bird carrying your name is still flying.<br />
Now its wings are filled<br />
with the dust of dawn.<br />
Its beak smells of young leaves.<br />
Its eyes hold the reflection<br />
of something that has not yet happened.</p>
<p>I do not know<br />
when it will arrive.<br />
But the same morning<br />
that grows its voice<br />
between two clusters of dew<br />
is growing as well<br />
inside your blood.</p>
<p>And perhaps that is why<br />
when a bird sings,<br />
the air around me<br />
seems to open an invisible window,<br />
while far away,<br />
without either of us knowing,<br />
something long separated<br />
is shedding its skin<br />
into one season for us.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026</em></p>
<p><em>&#8212;</em></p>
<p>/2/</p>
<p><strong>THE BIRD THAT KEEPS SEASONS IN ITS BEAK</strong></p>
<p><strong>Poem by Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>You may still be sleeping there.<br />
Morning comes with pockets of mist not yet sewn by the wind.<br />
A bird perches on the highest branch of light.<br />
Its beak is tightly closed,<br />
as though it were hiding something.</p>
<p>I think it is a seed.<br />
Or a fragment of sky that fell when night shed its skin.<br />
But when it spreads its wings,<br />
I see seasons emerging from between its feathers:<br />
the rainy season, still wet with the scent of earth,<br />
the dry season, holding the sound of cracks along the river&#8217;s back,<br />
and the season of loss, which always grows faster than grass.</p>
<p>The bird does not sing.<br />
It merely flies across the valleys of time.<br />
Beneath it,<br />
the trees unfold their leaves like old letters.<br />
The mountains bow their heads.<br />
The ancient stones move their memories a few centimeters closer to the moss.</p>
<p>I follow its shadow.<br />
But a shadow, it turns out, never stays in the same place.<br />
It moves from earth to water, from water to cloud,<br />
from cloud to something that does not yet have a name.</p>
<p>Toward evening,<br />
the bird disappears,<br />
as you disappeared long ago.<br />
Yet the air remains filled with the fragrance of the season left behind.</p>
<p>And I understand:<br />
some encounters do not come to stay.<br />
They come so that the world may remember again how to change.<br />
&#8211;</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>THE NEST THE WIND LEFT BEHIND</strong></p>
<p><strong>Poem by Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Look!<br />
On the final branch of an old tree, a nest hangs.<br />
It is not empty.<br />
Inside it remain the warmth of feathers,<br />
the scent of rain that has passed,<br />
and a morning that failed to hatch.</p>
<p>Feel it!<br />
The wind comes every day.<br />
It caresses the edge of the nest like someone not yet finished saying goodbye.<br />
Leaves fall one by one.</p>
<p>The seasons move house.<br />
Even the sky changes the color of its eyes.<br />
But the nest remains.<br />
Not because it is strong.<br />
But because it knows:<br />
there are things that cannot be carried away,<br />
not even by time.</p>
<p>This morning,<br />
a young bird alights.<br />
It does not know who once lived there.<br />
It does not know the songs that once filled its branches.<br />
Yet it brings a blade of new grass.<br />
Then another.<br />
And another.<br />
I watch it work until the sun grows full.</p>
<p>That is when we understand:<br />
nature never erases loss.<br />
It only plants life in the same place until the wound learns to become a home.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>WHEN THE SKY LEARNS TO BECOME A RIVER</strong></p>
<p><strong>Poems by Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>One morning<br />
the sky forgot that it was the sky.<br />
It began to flow.<br />
At first, as a thin line of light between the leaves.<br />
Then as a blue whisper creeping along the backs of hills.</p>
<p>The clouds drifted away.<br />
The sun became a golden fish swimming slowly through currents of air.<br />
The birds lifted their wings like little boats.</p>
<p>I stood at the edge of the day.<br />
Watching time float together with the leaves.</p>
<p>Watching memories whirl like a vortex going nowhere.<br />
Far upstream,<br />
a mountain was melting into prayer.<br />
Far at the mouth,<br />
the sea opened both its arms to receive everything that leaves.</p>
<p>Nothing sinks.<br />
Nothing arrives.<br />
Everything only changes form.<br />
Including me.<br />
Including you.<br />
All of us.<br />
Including the names we once thought more eternal than water.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>THE TREE THAT GROWS SHADOWS</strong></p>
<p><strong>Poems by Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Do you know?<br />
In a courtyard rarely visited by the seasons,<br />
a tree grows.<br />
Its trunk is old.<br />
Its roots enter the earth deeper than memory.</p>
<p>Every morning it grows a shadow.<br />
Not leaves.<br />
Not flowers.<br />
But a shadow.<br />
A shadow stretching toward silent roads.<br />
A shadow touching the windows of empty houses.<br />
A shadow sitting quietly on the shoulders of people hiding their sorrow.</p>
<p>I ask the tree:<br />
why not fruit?<br />
The tree does not answer.<br />
The wind speaks instead.<br />
It says, fruit feeds the body.<br />
But a shadow gives a place to rest for a weary soul.</p>
<p>Since that day,<br />
I often sit beneath it.<br />
Watching the sun carve temporary shapes.<br />
Watching time fall slowly from branch to branch.</p>
<p>And when evening comes,<br />
I find something I have been seeking all this time:<br />
not every life must blossom in order to be useful.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/6/</p>
<p><strong>WHEN THE BIRD BORROWS THE BONES OF MORNING</strong></p>
<p><strong>Poems by Leni Marlina</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Morning is still sleeping beneath the eyelids of the marsh.<br />
A bird digs up the bones of light that the mist buried last night.<br />
Its beak is smeared with yellow, smelling of wet roots.<br />
It pecks at a little sun growing beneath the fingernails of grass.<br />
From that wound,<br />
the sky releases a sound.<br />
A feathered sound.<br />
A sound whose every strand holds the remnant of rain from an age long weathered away.</p>
<p>In the distance, the river is combing its hair with a comb of fish scales.<br />
Ancient stones chew their own shadows.<br />
The hills open their backs, revealing the joints of memories the earth has hidden all this time.</p>
<p>I see time.<br />
It sits upon a stump.<br />
Its body is covered with the bite marks of seasons.<br />
From time to time it tears off its skin and hangs it out to dry on the clothesline of the wind.</p>
<p>Nothing is strange.<br />
In this land,<br />
sorrow indeed grows like mushrooms between the teeth of sunlight.<br />
While the bird keeps flying.<br />
Its wings scatter the dust of age.<br />
And with every beat,<br />
one tree loses a memory,<br />
one cloud sheds a dream,<br />
one drop of dew learns how to become the sea.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>WHEN WE STITCH YOUR TORN SKY</strong></p>
<p><strong>Poems by Leni Marlina</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>We found your name<br />
caught upon a thorn of wind<br />
on the back of the season.<br />
At that moment<br />
the sky was pulling rusted nails<br />
from its chest.</p>
<p>Birds flew low,<br />
carrying fragments of children&#8217;s laughter<br />
scattered along the village dirt roads.<br />
The river carried them<br />
to the estuary.<br />
Its waters had begun to forget<br />
the taste of mud<br />
that once raised them.</p>
<p>We saw thin rice stalks<br />
walking from the fields to the granary.<br />
But the granary was busy<br />
counting gold<br />
behind the walls of its belly.</p>
<p>In certain houses<br />
rice piled up like harvest seasons.<br />
In other houses<br />
the cooking pots echoed empty<br />
throughout the night.<br />
Then rain fell<br />
upon roofs of tin<br />
already wet.<br />
While the earth cracked<br />
licking the dust<br />
from the mouth of drought.</p>
<p>We heard money.<br />
It hissed<br />
beneath the skin of the forest.<br />
Chewing meranti trees.<br />
Munching hills.<br />
Swallowing rivers.</p>
<p>Night after night<br />
it carried villages<br />
into the bellies of trucks,<br />
leaving behind stumps,<br />
dust,<br />
and names that had lost their addresses.</p>
<p>But deep beneath the earth,<br />
the roots still exchanged news.<br />
The seeds were still conferring.<br />
The worms were writing the road home<br />
in the dark scripture of the earth.</p>
<p>And young rice<br />
quietly sharpened courage<br />
within the joints of its stalk.<br />
The fields began to forget<br />
the tracks of gun barrels.<br />
The river learned the fish again.<br />
The mangroves rewove<br />
the torn edge of the sea.</p>
<p>The village children<br />
raised their laughter<br />
until it grew higher<br />
than the fences of fear.</p>
<p>And justice—<br />
a hornbill<br />
long hunted by greed.<br />
It flies<br />
carrying forest seeds<br />
from wounded mountains<br />
to soil that has nearly forgotten<br />
how to grow.</p>
<p>If your sky tears again,<br />
call us.<br />
We will come<br />
carrying needles<br />
made from the bones of light.<br />
Carrying thread<br />
spun from<br />
the sweat of farmers,<br />
the oars of fishermen,<br />
the prayers of mothers,<br />
and the dreams of children<br />
that keep on growing.</p>
<p>Then we will stitch the horizon back together.<br />
So that rice and secondary crops<br />
will not be strangers to their planters.<br />
So that the sea<br />
will not be far from its fishermen.<br />
So that the forest<br />
will not forget the names of its trees.<br />
So that rain<br />
will not choose its address.<br />
And so that there will be no more fences<br />
between hunger and harvest,<br />
between river and thirst,<br />
between the earth<br />
and its owners.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Poet &#8211; Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina is a poet, writer, translator, and academic in the Department of English, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang, where she has served as a civil-service lecturer since 2006. Her creative and scholarly work traverses a wide range of fields—including poetry, fiction, essays, literary criticism, translation, and literacy studies—reflecting her enduring commitment to language as a medium of reflection, empathy, and human dignity.</p>
<p>Among her recent publications are the poetry collections The Beloved Teachers (2025) and L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), as well as the educational trilogy English Stories for Literacy (2024–2025). Through these works, she explores the intersection of literature, education, and humanity, regarding writing not merely as a creative practice but also as a moral dialogue with the world. Beyond poetry, Leni is actively engaged in writing short stories, essays, literary criticism, and reviews. She also translates literary and journalistic texts for various national and international digital platforms. Her writings frequently address education, culture, literacy, peace, and human values, positioning literature as a bridge between knowledge, imagination, and social consciousness.</p>
<p>Alongside her academic career, Leni is actively involved in literary journalism and literacy advocacy. She contributes as a freelance writer and editor to digital media platforms such as Suara Anak Negeri, Suara Anak Negeri News and Negeri News, where she publishes articles on education, literature, culture, and humanitarian issues. Both platforms share a common mission: “to give voice to those who cannot speak for themselves.” Leni is also the founder and chair of several literary and literacy communities, including PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), and World Children’s Literature Community (WCLC). Through these communities, she promotes international literary dialogue, translation practice, and the development of cross-cultural literacy.<br />
She is also an active member of several writers’ organizations, including SatuPena Sumatera Barat, KEAI, and PLS. Since 2012, she has been affiliated with the Victorian Writers Centre in Australia, and since 2024, she has also been a member of the Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA). Leni’s contributions to the literary world have received recognition at both national and international levels. In 2025, she received the Best Writer Award from SatuPena Sumatera Barat at the International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3), chaired by Sastri Bakry. In the same year, she was also honored with the ACC International Literary Prize 2025 by the ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre, and received an award from the international literary community The Rhythm of Vietnam.<br />
&#8212;&#8211;<br />
The Indonesian version of the poem collection above is available to be accessed by public through the official link below:</p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="zvGLIxit71"><p><a href="https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kumpulan-puisi-leni-marlina-burung-yang-terbang-membawa-namamu">Kumpulan Puisi Leni Marlina: &#8220;BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU&#8221;</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="“Kumpulan Puisi Leni Marlina: “BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU”” — Suara Anak Negeri" src="https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kumpulan-puisi-leni-marlina-burung-yang-terbang-membawa-namamu/embed#?secret=n4WllSEWx4#?secret=zvGLIxit71" data-secret="zvGLIxit71" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
