Senin, 19 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

WOR FAN NANGGI DI BIAK: TRADISI SYUKUR MENUNTUT DILAKSANAKAN DAN DIWARISKAN

BIAK NUMFOR, SUARA ANAK NEGERI NEWS — 19 Oktober 2026| Suasana jantung Kota Biak, tepatnya di Jalan Imam Bonjol, Minggu (18/10/2026), menjadi saksi kebangkitan ingatan kolektif masyarakat terhadap salah satu warisan budaya orang Biak, yakni Wor Fan Nanggi. Kegiatan yang menghadirkan pertunjukan drama kolosal dan sajian makanan tradisional ini menarik perhatian masyarakat dalam jumlah besar. Namun, di tengah antusiasme pengunjung, muncul satu persoalan yang berulang kali disampaikan masyarakat: makanan yang disediakan tidak mencukupi kebutuhan pengunjung yang memadati lokasi acara.

Sejumlah narasumber memperkirakan jumlah pengunjung mencapai hampir 17.000 orang sejak sore hingga malam hari. Banyak warga datang bukan saja untuk menikmati pertunjukan atau mencicipi makanan khas Biak, melainkan juga untuk mengenal kembali tradisi leluhur yang mulai terlupakan, terutama oleh generasi muda.

Suara Anak Negeri News berkesempatan menghimpun testimoni masyarakat yang hidup dan tinggal di Biak, termasuk warga dari luar Papua yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Dari berbagai kesaksian, muncul pesan yang sama: Fan Nanggi merupakan warisan budaya yang perlu dihidupkan kembali melalui pendidikan, dokumentasi, pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi keluarga, dan praktik kebersamaan yang nyata.

Baca juga: Wakil Gubernur Papua, Resmi Membuka Festival Budaya Biak Melanesia 2026, Dua Festival Internasional dalam Setahun, Menandai Kebangkitan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Biak Numfor

Ronal Paat: Dari tradisi Pengucapan Syukur di Manado, belajar memahami Fan Nanggi

Ronal Paat, warga asal Kamangta, Manado, Sulawesi Utara, yang telah 25 tahun hidup dan tinggal di Biak, melihat adanya kemiripan nilai antara Fan Nanggi dan tradisi Pengucapan Syukur yang dikenal masyarakat Minahasa dan sejumlah wilayah di Sulawesi Utara.

Baca juga: PETA AGAMA DUNIA 2026: Islam Tumbuh Paling Cepat, Bagaimana Komposisinya pada 2036?

Dalam tradisi Pengucapan Syukur, masyarakat membawa hasil kebun, hasil usaha, makanan, dan minuman sebagai ungkapan syukur atas berkat yang diterima sepanjang tahun. Hidangan disediakan bagi orang-orang yang datang berkunjung, bahkan dalam praktik tertentu, tamu dapat membawa pulang makanan.

Bagi Ronal, tradisi seperti ini mengajarkan bahwa berkat tidak semata-mata dinikmati secara pribadi, tetapi dibagikan kepada sesama.

Pengalamannya hidup selama seperempat abad di Biak membuatnya dapat melihat Fan Nanggi sebagai ruang perjumpaan nilai-nilai kebudayaan yang berbeda, tetapi memiliki semangat serupa: bersyukur, berbagi, dan mempererat hubungan antarmanusia.

Kesamaan itu menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi jembatan dialog kebudayaan antardaerah di Indonesia tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing masyarakat.

Emi Sombuk: Munara Fan Nanggi harus menjadi agenda tahunan

Emi Sombuk menegaskan bahwa Munara Fan Nanggi perlu dilaksanakan setiap tahun agar menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda mengenai makna mengucap syukur atas rahmat Tuhan sepanjang tahun.

Menurutnya, Fan Nanggi bukan saja kegiatan makan bersama. Tradisi ini menyimpan nilai spiritual dan sosial yang diwariskan oleh leluhur orang Biak.

Pesan ini semakin terasa setelah masyarakat menyaksikan pementasan drama kolosal yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat Biak sejak dahulu kala. Pertunjukan itu mengingatkan bahwa leluhur telah membangun relasi spiritual dengan Manseren, memelihara kekerabatan, dan menjalani kehidupan yang selaras dengan alam.

Alam tidak dipandang semata-mata sebagai sumber kekayaan ekonomi, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dirawat. Hasil bumi, sagu, keladi, umbi-umbian, dan ikan menjadi bagian dari berkat yang memungkinkan masyarakat bertahan hidup.

Emi juga menyoroti persoalan makanan yang tidak mencukupi bagi pengunjung yang jumlahnya sangat besar. Baginya, tingginya antusiasme masyarakat harus menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan berikutnya lebih siap, terutama dalam penyediaan makanan lokal.

Wilem Marwa: Fan Nanggi memperkuat persatuan dalam masyarakat majemuk

Sekretaris IKEMAL, Wilem Marwa, memandang Fan Nanggi sebagai momentum untuk merajut persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman suku, bahasa, agama, dan kebudayaan. Karena itu, tradisi seperti Fan Nanggi memiliki arti penting untuk memperkuat inklusivitas dan mempertemukan masyarakat dalam semangat kebersamaan.

Fan Nanggi, dalam pandangannya, dapat menjadi ruang sosial tempat warga dari berbagai latar belakang saling mengenal, menghargai, dan merasakan ikatan sebagai sesama manusia.

Namun, Wilem juga menyoroti persoalan yang dirasakan pengunjung: makanan tidak mencukupi karena masyarakat datang dalam jumlah yang begitu banyak.

Baginya, keberhasilan sebuah festival budaya bukan hanya diukur dari ramainya pengunjung, tetapi juga dari sejauh mana nilai kebersamaan benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang hadir.

Imelda Kawer: Jangan ada sekat antara makanan pejabat dan makanan rakyat

Imelda Kawer menekankan pentingnya memperbanyak makanan khas Biak pada pelaksanaan Fan Nanggi berikutnya.

Menurutnya, makanan lokal bukan  pelengkap kegiatan, melainkan bagian dari identitas budaya dan sarana memperkuat relasi kekerabatan dalam kehidupan masyarakat.

Ia menghubungkan tradisi makan bersama dengan relasi Manseren, sesama manusia, dan alam sebagai sumber berkat yang patut disyukuri.

Imelda juga menyampaikan harapan agar tidak terdapat perbedaan perlakuan dalam penyajian makanan antara pejabat, tamu kehormatan, dan masyarakat umum.

Ia menginginkan semua orang dapat mengambil makanan dari tempat yang sama, duduk bersama, dan menikmati hidangan tanpa sekat sosial.

Dalam pandangannya, nilai Fan Nanggi justru menjadi lebih kuat ketika masyarakat menyaksikan bahwa semua orang diperlakukan setara. Kebersamaan tidak cukup hanya diucapkan dalam sambutan, tetapi harus diwujudkan melalui cara penyelenggara memperlakukan setiap orang yang datang.

Trisila Adadikam: Budaya yang hampir terlupakan harus kembali diajarkan di sekolah

Trisila Adadikam menilai pelaksanaan Fan Nanggi sebagai kegiatan luar biasa karena membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaannya sendiri.

Ia mengapresiasi perhatian pemerintah daerah, khususnya Bupati Biak Numfor, yang dinilainya berupaya menggali kembali adat istiadat yang mulai terlupakan.

Namun, menurut Trisila, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada pertunjukan atau festival tahunan.

Ia berharap nilai-nilai Fan Nanggi dapat diajarkan di sekolah agar anak-anak dan generasi muda memahami bahwa masyarakat Biak memiliki tradisi kekerabatan yang kuat, baik dalam hubungan dengan sesama manusia, alam, maupun Manseren.

Bagi Trisila, pengenalan kembali tradisi leluhur merupakan bagian dari pendidikan identitas dan karakter. Generasi muda perlu mengetahui bahwa kebudayaan mereka memiliki nilai-nilai luhur yang dapat menjadi pedoman menghadapi perubahan zaman.

Dora Wamafma: Dahulu tetangga saling mengenal, sekarang banyak yang mulai lupa

Dora Wamafma mengungkapkan kebanggaannya karena masyarakat diberi kesempatan untuk kembali mengenal Fan Nanggi.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana makanan yang tersedia habis ketika pengunjung datang dalam jumlah besar. Baginya, keadaan ini menunjukkan besarnya rasa ingin tahu masyarakat terhadap tradisi yang selama ini kurang dikenal.

Dora mengenang kehidupan masyarakat Biak pada masa lalu, ketika hubungan antartetangga terjalin erat. Orang saling mengenal dan peduli. Ketika ada tetangga yang lapar atau haus, orang lain dapat datang membantu.

Kehidupan masyarakat juga sangat dekat dengan alam. Keladi, ubi-ubian, sagu, dan ikan menjadi sumber pangan yang menopang kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, keadaan itu memperlihatkan bahwa kekerabatan tidak dibangun melalui kata-kata semata, tetapi melalui tindakan saling membantu dan berbagi.

Dora menyampaikan apresiasi kepada Bupati dan Wakil Bupati Biak Numfor yang memberi ruang bagi masyarakat untuk belajar kembali dari kebiasaan leluhur yang dinilainya baik dan layak dilestarikan.

Ia berharap Fan Nanggi dapat terus diperkenalkan kepada semua orang yang hidup dan tinggal di Biak, tanpa membedakan asal-usul mereka.

Triana Suweni: Waropen siap belajar melalui studi tiru

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Waropen, Triana Suweni, menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan budaya Biak.

Ia mengatakan bahwa Waropen juga memiliki kebiasaan masyarakat yang mempunyai kemiripan nilai, meskipun menggunakan istilah dan bentuk pelaksanaan yang berbeda.

Sebagai daerah yang terus mengembangkan pembangunan dan kebudayaannya, Waropen, menurut Triana, perlu belajar dari pengalaman Kabupaten Biak Numfor dalam mengangkat tradisi lokal menjadi kegiatan edukasi masyarakat.

Ia membuka kemungkinan pelaksanaan studi tiru untuk mempelajari program Dinas Pariwisata Biak  dan menyesuaikannya dengan kebudayaan masyarakat adat Waropen dalam program pemerintah daerah.

Triana juga menyebut rencana Festival 1.000 Bakau di Waropen pada akhir 2026. Agenda ini menunjukkan adanya peluang untuk mempertemukan pelestarian budaya dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Menurutnya, pelaksanaan Wor Fan Nanggi merupakan langkah maju karena tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menggali kebudayaan pada tataran pendidikan rakyat.

Ia berharap pengalaman dan nilai-nilai yang terkandung dalam Fan Nanggi dituliskan agar dapat dipelajari generasi muda. Ia juga mengakui bahwa dirinya datang ke stan makanan ketika banyak pengunjung sudah memadati lokasi, sehingga makanan tidak lagi mencukupi.

Yunus Rumaropen: Budaya harus ditulis agar tidak hilang bersama berakhirnya pertunjukan

Yunus Rumaropen menekankan bahwa kebudayaan Biak harus didokumentasikan secara tertulis.

Menurutnya, sebuah pertunjukan dapat berlangsung megah dan mengesankan, tetapi ketika acara selesai, masyarakat berisiko melupakan pesan yang disampaikan apabila tidak ada dokumentasi yang dapat dibaca kembali.

Ia mengingatkan pentingnya peran guru dalam memperkenalkan buku kepada siswa. Seorang guru bukan hanya bertugas mengajar di depan kelas, melainkan juga mendorong anak didiknya membaca dan memahami pengetahuan yang diwariskan melalui tulisan.

Bagi Yunus, buku merupakan jendela dunia sekaligus sarana menjaga ingatan kolektif suatu masyarakat.

Ia memandang Fan Nanggi sebagai upacara syukur dalam tradisi kekerabatan orang Biak. Leluhur mengajarkan kehidupan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Nilai-nilai itu juga tercermin dalam kewajiban menjaga hutan dan laut. Hutan tidak semestinya dirusak, sedangkan laut harus dirawat agar terus menyediakan sumber kehidupan bagi manusia.

Yunus berharap harmoni yang diwariskan orang Biak tidak hanya dipraktikkan di antara sesama orang Biak, tetapi juga diperluas dalam hubungan dengan masyarakat dari luar Biak.

Dengan demikian, kebudayaan menjadi sarana membangun kedamaian, kenyamanan, dan penghargaan terhadap sesama dalam masyarakat yang majemuk.

Hesty Kbarek: Kegagalan panen tidak menghapus rasa syukur

Hesty Kbarek berpendapat bahwa kebudayaan orang Biak perlu dirawat melalui berbagai kegiatan yang mampu mengingatkan generasi sekarang terhadap jati diri mereka.

Sebagai bagian dari pemerintah, ia melihat pentingnya meningkatkan kegiatan kebudayaan agar warisan leluhur tidak hilang di tengah perubahan sosial.

Menurut Hesty, Fan Nanggi menunjukkan bahwa leluhur orang Biak telah membangun relasi spiritual dengan Manseren, relasi sosial dengan sesama, serta relasi ekologis dengan alam.

Ia juga mengingatkan bahwa ketika menghadapi kegagalan panen, masyarakat tidak semestinya kehilangan harapan. Relasi spiritual dengan Manseren menjadi sumber kekuatan untuk terus menjalani kehidupan.

Sebaliknya, ketika hasil panen berlimpah, masyarakat mengungkapkan rasa syukur melalui tradisi berbagi dan makan bersama.

Bagi Hesty, nilai inilah yang harus dipahami generasi muda: manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi bagian dari kehidupan bersama yang ditopang oleh berkat Tuhan, hubungan sosial, dan alam.

Ia menegaskan pentingnya dokumentasi tertulis agar nilai-nilai tersebut dapat menjadi pegangan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Fran Akobiarek: Fan Nanggi dapat menggerakkan ekonomi keluarga dan pariwisata

Fran Akobiarek, Sekretaris Pemberdayaan Perempuan, melihat Fan Nanggi dari sudut pandang pemberdayaan masyarakat dan ekonomi keluarga.

Menurutnya, kegiatan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan makanan lokal, mengembangkan usaha keluarga, dan meningkatkan daya tarik pariwisata Biak.

Masyarakat tidak hanya memperoleh kesempatan menikmati makanan secara gratis, tetapi juga diingatkan kembali pada tradisi leluhur melalui pengalaman berkumpul dan makan bersama.

Fran menilai pementasan drama kolosal yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut memiliki kekuatan edukatif. Cerita tentang kehidupan leluhur perlu terus disampaikan agar masyarakat tidak hanya terkesan ketika menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memahami nilai yang dikandungnya.

Ia berharap tradisi Fan Nanggi didokumentasikan dan diwariskan melalui tulisan sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat dan generasi muda.

Besarnya jumlah pengunjung, yang menurut sejumlah narasumber mencapai lebih dari 14.000 orang, menjadi petunjuk penting bahwa kegiatan ini memiliki daya tarik sosial dan budaya yang besar. Pada saat yang sama, antusiasme tersebut perlu diimbangi dengan perencanaan makanan, pelayanan pengunjung, dan pengelolaan acara yang lebih matang.

Lena Bagre: Fan Nanggi dapat menjadi jembatan kebudayaan di Tanah Papua

Ibu Lena Bagre menilai Fan Nanggi memiliki kemiripan nilai dengan sejumlah tradisi masyarakat adat di Papua, termasuk di Merauke dan kabupaten/kota lainnya, meskipun istilah serta cara pelaksanaannya berbeda.

Ia mengusulkan agar momentum seperti Wor Fan Nanggi dimanfaatkan untuk membangun komunikasi antarpemerintah daerah dan masyarakat adat yang memiliki kesamaan nilai kebudayaan.

Menurutnya, perbedaan istilah dalam bahasa lokal tidak seharusnya menjadi alasan untuk memisahkan tradisi yang memiliki esensi serupa.

Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat memperkaya khazanah kebudayaan Papua. Setiap daerah tetap mempertahankan identitas dan istilah lokalnya, sembari membangun pemahaman bersama mengenai nilai syukur, persaudaraan, dan kebersamaan.

Lena bahkan membayangkan apabila Fan Nanggi dapat menjadi ruang pertemuan kebudayaan masyarakat adat di kawasan Saireri. Hal itu, menurutnya, akan menjadi langkah yang sangat berarti bagi penguatan hubungan antarmasyarakat adat.

Namun, ia juga menyoroti kekurangan makanan pada pelaksanaan kali ini. Ia berharap tahun depan makanan lokal diperbanyak dan tidak ada perlakuan khusus yang memisahkan pejabat atau tamu kehormatan dari masyarakat umum.

Yan Piter Kafiar: Fan Nanggi adalah ujian pelayanan publik tanpa sekat

Yan Piter Kafiar menilai praktik Fan Nanggi perlu terus dievaluasi agar pelaksanaannya tidak bergeser dari nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur.

Ia menyarankan agar penyelenggaraan berikutnya tidak menggunakan meja khusus yang memisahkan tamu kehormatan dari masyarakat. Menurutnya, seluruh peserta sebaiknya duduk bersama dan menikmati makanan dalam suasana persaudaraan.

Bagi Yan Piter, seorang mambri yang mengayomi masyarakat seharusnya hadir di tengah rakyat, terutama ketika masyarakat sedang merayakan berkat yang diterima bersama.

Ia berharap Bupati dan Wakil Bupati Biak Numfor terus mendorong pelaksanaan Fan Nanggi dengan pendekatan yang mengutamakan kebersamaan.

Ia juga menginginkan agar tahun depan masyarakat tidak pulang tanpa menikmati makanan. Jika memungkinkan, makanan lokal disediakan dalam jumlah yang cukup sehingga pengunjung dapat makan bersama sampai kenyang, sesuai kemampuan penyelenggara dan ketersediaan sumber daya.

Dalam pandangannya, nilai Fan Nanggi akan semakin bermakna apabila diterjemahkan menjadi praktik pelayanan publik yang setara, terbuka, dan berpihak kepada masyarakat.

Fan Nanggi: Dari tradisi syukur menuju pendidikan karakter dan keadilan sosial

Berbagai testimoni tersebut memperlihatkan bahwa Wor Fan Nanggi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sebuah festival budaya.

Pertama, Fan Nanggi merupakan ekspresi syukur atas berkat kehidupan. Makanan yang dibagikan menjadi simbol bahwa hasil bumi dan rezeki tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi dapat menjadi sarana mempererat hubungan dengan sesama.

Kedua, Fan Nanggi menghidupkan kembali kekerabatan yang mulai melemah akibat perubahan sosial. Kesaksian tentang tetangga yang dahulu saling mengenal, saling membantu, dan berbagi makanan memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jawaban atas renggangnya hubungan sosial.

Ketiga, Fan Nanggi mengandung pesan ekologis. Hutan, laut, sagu, keladi, umbi-umbian, dan ikan merupakan bagian dari sistem kehidupan yang harus dipelihara. Rasa syukur akan kehilangan makna apabila manusia merusak sumber kehidupan yang menopang keberadaannya.

Keempat, Fan Nanggi merupakan ruang inklusivitas. Warga asal Manado, masyarakat Biak, dan pengunjung dari daerah lain dapat menemukan nilai-nilai yang saling berdekatan melalui tradisi berbagi dan makan bersama.

Kelima, Fan Nanggi dapat menjadi penggerak ekonomi keluarga, terutama melalui pengembangan kuliner lokal, usaha masyarakat, dan promosi pariwisata berbasis budaya.

Namun, terdapat catatan penting: tingginya jumlah pengunjung tidak otomatis menunjukkan bahwa semua tujuan kegiatan telah tercapai. Ketika makanan tidak mencukupi, sebagian pengunjung tidak memperoleh pengalaman makan bersama sebagaimana diharapkan. Persoalan tersebut perlu dilihat sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan, bukan sebagai alasan untuk mengurangi nilai positif kegiatan.

Kesimpulan

Wor Fan Nanggi pada 18 Oktober 2026 telah memperlihatkan tingginya minat masyarakat untuk mengenal kembali kebudayaan Biak. Pertunjukan drama kolosal membangkitkan ingatan terhadap kehidupan leluhur, sedangkan makanan tradisional menghadirkan gambaran tentang syukur, berbagi, dan kekerabatan.

Akan tetapi, berbagai kesaksian juga menyampaikan pesan yang tegas: pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan acara tahunan.

Fan Nanggi perlu dihidupkan dalam kehidupan keluarga, diajarkan di sekolah, didokumentasikan dalam buku, dikembangkan melalui usaha ekonomi masyarakat, serta diwujudkan dalam hubungan sosial yang tidak membedakan orang berdasarkan jabatan atau kedudukan.

Kekurangan makanan menjadi pengingat bahwa keberhasilan festival tidak cukup dinilai dari banyaknya pengunjung, kemegahan panggung, atau dokumentasi kegiatan. Keberhasilan juga harus diukur dari pengalaman masyarakat, keterlibatan pelaku budaya, pemerataan manfaat ekonomi, dan keberlanjutan pendidikan budaya.

Dengan demikian, Fan Nanggi berpotensi menjadi warisan hidup yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan orang Biak.

Rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dan para pemangku kepentingan

  1. Menetapkan Wor Fan Nanggi sebagai agenda budaya tahunan yang berkelanjutan.

Pemerintah daerah bersama masyarakat adat perlu menyusun kalender kegiatan, tujuan pendidikan budaya, pembagian peran, serta mekanisme evaluasi setiap tahun. Pelaksanaan harus melibatkan tokoh adat, perempuan, pemuda, guru, pelaku usaha, dan komunitas masyarakat.

  1. Menyusun perencanaan makanan berdasarkan perkiraan pengunjung.

Pengalaman tahun 2026 perlu menjadi dasar untuk memperbaiki perhitungan kebutuhan makanan. Penyelenggara dapat melakukan pendataan pelaku kuliner, memperkirakan jumlah porsi, menyiapkan cadangan yang memadai, menyediakan air minum, serta mengatur distribusi agar pengunjung memperoleh kesempatan yang lebih merata.

Penyediaan makanan perlu disesuaikan dengan anggaran, kapasitas penyelenggara, dan kemampuan produksi masyarakat lokal.

  1. Mewujudkan makan bersama tanpa sekat sosial.

Pemerintah dan panitia perlu mempertimbangkan konsep makan bersama yang mencerminkan nilai kekerabatan Fan Nanggi. Pengaturan tempat bagi pejabat dan tamu dapat disesuaikan dengan kebutuhan protokoler, tetapi tidak semestinya menghilangkan kesempatan masyarakat untuk berinteraksi dan menikmati hidangan dalam semangat kesetaraan.

  1. Memasukkan nilai Fan Nanggi ke dalam pendidikan lokal.

Dinas Pendidikan bersama tokoh adat, guru, dan pegiat budaya dapat mengembangkan bahan ajar muatan lokal yang menjelaskan sejarah, istilah, nilai, dan praktik Fan Nanggi. Materi dapat disampaikan melalui pembelajaran, cerita rakyat, wawancara dengan tetua adat, kunjungan budaya, dan kegiatan proyek siswa.

  1. Menerbitkan buku dan dokumentasi resmi Fan Nanggi.

Pemerintah daerah, lembaga adat, sekolah, dan media perlu bekerja sama mendokumentasikan sejarah lisan, kisah para tetua, ritual, makanan tradisional, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dokumentasi perlu disusun melalui penelitian dan konsultasi dengan pemilik pengetahuan adat agar istilah, makna, dan praktik budaya tidak ditafsirkan secara keliru. Hasilnya dapat diterbitkan sebagai buku, modul pembelajaran, arsip digital, dan bahan bacaan untuk perpustakaan sekolah.

  1. Menghubungkan Fan Nanggi dengan pemberdayaan ekonomi keluarga.

Pelaksanaan festival perlu memberi ruang yang memadai bagi kelompok perempuan, petani, nelayan, pengolah sagu, pembuat makanan tradisional, dan pelaku UMKM. Mekanisme pengadaan makanan dan stan usaha hendaknya transparan, sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak.

  1. Mengembangkan kerja sama kebudayaan antardaerah di Papua.

Gagasan studi tiru dari Kabupaten Waropen dapat ditindaklanjuti melalui pertukaran pengetahuan, dokumentasi tradisi, dan dialog antarmasyarakat adat. Kerja sama dengan daerah lain di kawasan Saireri dan wilayah Papua yang memiliki tradisi serupa juga dapat dipertimbangkan.

Setiap daerah harus tetap mempertahankan nama, bahasa, dan identitas budayanya sendiri. Tujuannya bukan menyeragamkan tradisi, melainkan saling belajar dan memperkuat persaudaraan.

  1. Mengintegrasikan pelestarian budaya dengan perlindungan lingkungan.

Pesan tentang harmoni dengan alam perlu diterjemahkan melalui kegiatan nyata, seperti edukasi menjaga hutan dan laut, pengurangan sampah festival, penggunaan bahan pangan lokal, serta pengenalan praktik pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

  1. Melakukan evaluasi terbuka setelah kegiatan.

Pemerintah dan panitia perlu mengundang perwakilan masyarakat untuk mengevaluasi jumlah pengunjung, kecukupan makanan, keterlibatan pelaku lokal, kenyamanan lokasi, dampak ekonomi, dan manfaat pendidikan budaya. Hasil evaluasi dapat menjadi dasar perencanaan Wor Fan Nanggi berikutnya.

Penutup: Warisan leluhur harus hidup dalam tindakan

Fan Nanggi mengajarkan bahwa rasa syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan melalui kesediaan berbagi. Kekerabatan tidak cukup dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Harmoni dengan alam tidak cukup ditampilkan dalam drama kolosal, tetapi harus menjadi pedoman dalam menjaga hutan, laut, dan sumber pangan.

Karena itu, pesan masyarakat Biak melalui Wor Fan Nanggi layak menjadi perhatian bersama: jangan biarkan warisan leluhur hanya ramai dipentaskan, tetapi sepi dalam kehidupan nyata.

Jika Fan Nanggi dilaksanakan secara berkelanjutan, diajarkan di sekolah, ditulis dalam buku, dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat, dan diwujudkan dalam pelayanan publik yang setara, tradisi ini dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi pembangunan manusia dan kebudayaan di Biak Numfor.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Fan Nanggi bukan semata-mata berapa banyak orang yang datang, melainkan berapa banyak orang yang pulang dengan memahami makna syukur, membawa semangat persaudaraan, dan bersedia menjaga warisan leluhur untuk generasi berikutnya.

Biak, 19 Oktober 2026

Paulus Laratmase

 

Kategori:
Tags:

Terkini