Sabtu, 17 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Puisi dan Kenangan 40 Tahun Alumni SMP Negeri 1 Situbondo

Esai: Anies Septivirawan |Penulis Satu Pena di Situbondo, Jatim

–

Sinar matahari masih sepenggalah. Sinarnya melahirkan bayang hitam yang menunjuk pas pada angka 9. Itu artinya hari masih pagi pukul 9, Minggu, tanggal 4 Oktober 2026. Pada pagi itu sedang dihelat acara reuni SMP Negeri 1 Situbondo angkatan tahun 1986.

Baca juga: YULIATI: Dari Yuli Koboi, Sang Joki, hingga Bu Nyai

Meskipun tidak semuanya bisa hadir, namun ada garis – garis kebahagiaan yang mengarsir wajah – wajah mereka pada pagi itu. Acaranya digelar di tepi pantai, sebuah tempat wisata di Situbondo yang belum tenar.

Seperti nama dan karya – karya puisiku yang belum tenar dan tidak banyak dikenal orang. Namun aku merasakan kenikmatan pada batinku setiap aku menulis lalu membacakan puisi, meskipun puisi tidak mendapatkan ruang di hati orang – orang yang tidak mengerti dan tidak suka puisi atau berpuisi.

Kendati juga, ketika aku sedang membaca puisi berjudul “Menyulam Sepotong Senja” yang masih terkait erat dengan tema acara reuni SMP Negeri 1 Situbondo, yakni “Merawat Kenangan 40 Tahun”, para undangan reuni hampir semuanya tidak merespon aku membaca puisi tersebut.

Baca juga: DPRD DKI Janji Pelajari Dugaan Pelanggaran Pemilihan DKJ, FKSTIM Desak Musyawarah Luar Biasa

Namun kendati demikian, aku tidak bersedih. Bahkan aku bahagia suaraku yang berteriak didengar angin dan disaksikan pantai bersama ombak yang tenang.

Aku naik ke panggung reuni
dengan kertas yang sudah lecek di saku.
Panitia bilang: “Silakan, lima menit.”

Aku mulai:

Selamat datang, teman-teman

Di gazebo dua, ada yang tertawa keras tentang harga sawah.
Di gazebo tiga, ada yang pamer foto anaknya di luar negeri.
Pelayan lewat membawa ayam bakar.

Aku keraskan suara:

Empat puluh tahun lalu kita pernah berkumpul

Tidak ada yang menoleh.
Mikrofonku berdengung, kalah oleh sendok dan garpu.

Aku bacakan juga bait tentang guru yang sudah meninggal,
tentang lapangan yang kini jadi minimarket,
tentang nama-nama yang kita eja dulu bersama.

Seseorang berteriak: “Musiknya dong!”

Aku selesaikan puisiku
sampai titik terakhir,
bukan karena mereka mendengarkan,
tapi karena puisi itu harus selesai
demi anak lelaki berusia tujuh belas tahun
yang dulu menulisnya dengan malu-malu
di belakang kelas.

Turun dari panggung,
kertas itu masih di tanganku,
basah oleh keringat.

Tidak ada yang bertepuk tangan.
Tapi seorang ibu tua penjaga dapur
menatapku dan berkata pelan:
“Nak, puisinya bagus. Lanjutkan!”

–

Situbondo, Jatim, 4 Oktober 2026

—–

Tentang Penulis – Anies Septivirawan 

Anies Septivirawan merupakan seorang penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis  upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul “Luka dan Kota Sepi Literasi”, yang kedua adalah “Menimang Rindu Senja Kala” dan buku yang ketiga berjudul “Dua Senja Menyulam Damai”

Kategori:
Tags:

Terkini