ilustrasi AI
Cerpen Anto Narasoma
SEJAK sepuluh tahun lalu –setelah ditinggal mati anaknya, nasib Mak Ani benar-benar sulit. Ia sangat menderita karena tak ada mata pencarian yang dapat menyejahterakan hidupnya.
————
Baca juga: Boat “UNP Berdampak” Hadir di Danau Atas Alahan Panjang, UNP Dorong Wisata Air Berbasis Masyarakat
Dalam perjuangan hidup yang teramat berat itu, Mak Ani mencoba mengais rezeki lewat berjualan cabe dan bumbu-bumbu masakan sisa sortiran di emperan pasar rakyat di kampungnya.
Cabe, kunyit, dan jahe yang ia jual, diperoleh Mak Ani dari hasil sortiran pedagang besar di pasar induk yang berjarak lima kilometar dari kampungnya.
Setiap pagi, dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer, Mak Ani membawa keranjang bambu di punggungnya.
Baca juga: Dosa
Mak Ani selalu membantu pekerja yang berusaha menyortir cabe dan bumbu-bumbu rempah lainnya seperti kunyit dan jahe.
Dari sortiran itu Mak Ani disilahkan mengambil sisa-sisa cabe, kunyit, dan jahe yang masih bisa dimanfaatkan.
“Terima kasih, adik. Saya ambil ya?” tukas Mak Ani saat diberikan sisa barang sortiran tersebut.
Kemudian Mak Ani mewadahinya ke keranjang yang ia bawa. Lalu ia permisi dan membawa sisa barang sortiran yang masih bagus. “Saya pamit adik-adik,” kata Mak Ani. Ia pun berlalu dari sana.
Dalam perjalanan panjang kembali ke kampungnya, cuaca siang cukup panas. Bagi Mak Ani, hal-hal seperti itu sudah biasa saja.
Meski demikian, dari wajahnya kelihatan begitu lelah dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Walaupun begitu, Mak Ani tak ambil peduli. Pokoknya ia harus sampai tepat waktu ke pasar rakyat untuk menjual cabe secara menghampar di atas lapisan plastik.
***
Siang itu suasana cukup panas. Sorot cahaya matahari begitu mencorong menyengat kulit.
Mak Ani tiba di pasar rakyat kampung sudah agak kesiangan karena berjalan kaki sejauh lima kilometer. Uh, alangkah lelahnya fisik Mak Ani.
Kebetulan saat ia tiba di pasar rakyat, hanya tinggal ruang kecil paling ujung. Sementara ruang-ruang yang dekat jalan besar sudah ditempati pedagang lain.
“”Ah, saya di posisi paling ujung dekat pembuangan sampah. Tak apalah. Tapi balak, maut, dan rezeki ada di tangan Tuhan. Biar saya jualan di sini saja,” tukas Mas Ani seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Ia meletakkan karung plastik di atas tanah dan menjajarkan dagangannya. Cabe yang ia himpun dibikin empat kelompok. Satu kelompok ia hargai sekitar Rp 5000.
Tak lama di antaranya seorang pembeli wanita datang dan menanyakan harga cabe yang tersusun rapi.
“Berapa seporsi cabe ini, Mak Ani?” tanya wanita itu. Mak Ani sudah banyak yang kenal dan diketahui pembeli. Mereka tahu sikap Mak Ani yang baik hati. Jadi orang begitu mudah mengingat nama Mak Ani.
“Seporsinya hanya lima ribu rupiah, Nak. Mak tak banyak mengambil untung. Tahu sendiri, Nak, mak jalan kaki dari pasar induk sejauh lima kilometer. Makanya mak tak banyak mencari untung,” jawab Mak Ani tersenyum.
Wajahnya yang penuh keriput dan becek keringat itu sangat menyentuh perasaan pembeli.
“Baik, Mak. Saya minta dua tumpuk ini saja,” tukas wanita itu seraya menyodorkan uangnya.
Mak Ani segera mewadahi dua tumpuk kecil cabe ke dalam kantong plastik hitam dan langsung memberikannya ke pembeli tersebut.
“Terima kasih, Nak,” ujar Mak Ani.
“Sama-sama, Mak,” jawab wanita itu dan segera berlaku dari situ.
Saat itu hari mulai siang. Cahaya matahari menyorot panas. Mak Ani sudah terbiasa dengan sengatan sinar matahari. Karena itu kulit lengannya terlihat hitam akibat terbakar matahari.
Ia berusaha jualan kecil-kecilan hanya untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Karena tak ada orang atau keluarga lainnya yang akan menafkahi Mak Ani.
Ia mencari barang dagangan setiap hari ke pasar induk. Karena tak mempunyai modal berdagang, ia membantu para pekerja untuk menyortir cabe, kunyit, jahe dan lengkuas.
Walaupun Mak Ani tidak mendapat upah bayaran, tapi ia memperoleh sisa-sisa cabe sortiran dan sisa bumbu lainnya.
“Alhamdulillah. Hari ini masih ada rezeki yang bisa saya manfaatkan untuk mengatasi kebutuhan makan saya,” ucap Mak Ani segera memasukkan uang sepuluh ribuan dari pembeli tadi.
Ia segera membersihkan bekas dua tumpuk cabe tadi, dan mengatur dua tumpuk cabe yang belum laku untuk dijual kembali.
Setelah menyusun dua tumpuk cabe yang tampak menarik pembeli, Mak Ani duduk di belakang bak sampah yang agak jauh dari dagangannya.
Ia berlindung di bawah pohon sukun yang berbuah lebat tak jauh dari bak sampah. Mata orang tua itu tak lepas dari barang dagangannya.
Dari arah utara, ada tiga pemuda yang tangan dan wajah mereka penuh tato. Mereka jalan sempoyongan. Tampaknya kondisinya dalam keadaan mabuk.
“Ini dagangan siapa?” teriak pemuda berambut gondrong. Wajahnya terlihat seram dan tak terlihat adanya senyuman.
Mak Ani kaget. Ia segera datang dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat takut menatap tiga pemuda.
“Ini dagangan saya, Nak. Ada apa, ya?” tukas Mak Ani dengan tubuh bergetar.
“Minta duit keamanan,” kata pemuda pertama dengan suara tegas.
“O, ibu baru saja meletakkan dagangan ini, Nak. Baru laku sepuluh ribu rupiah. Nanti saja, ya, sebentar lagi,” jelas Mak Ani.
“Bayar sekarang. Kalau tidak memberi uang keamanan, dagangan ibu akan saya hancurkan,” kata pemuda itu dengan nada keras, sehingga orang-orang di sekitar itu memandang ke arah mereka.
Ada rasa takut di dalam diri Mak Ani. Ia merasakan bagaimana kekejaman para preman itu. Karena pada minggu lalu, ia memukuli pedagang mie goreng Jawa yang dinilainya tidak membayar uang keamanan.
Apakah uang sepuluh ribu hasil penjualan dua cumpuk (kelompok kecil) cabe yang ia peroleh dari hasil sortiran pemberian dari para sahabatnya di pasar induk.
Ah, uang ini tidak akan saya berikan kepada para preman tersebut. Sebab, cabe yang terjual itu ia peroleh setelah pagi-pagi sekali Mak Ani ke pasar induk.
Ya Allah, alangkah kejinya preman-preman ini, begitu bisik hati Mak Ani.
Mat Rompal yang menjadi pemimpin preman tersebut marah dan kelihatan mulai brutal. Ia mencabut golok yang terselip di pinggangnya.
Mak Ani tidak mau lari dari tempat itu. Sebab, ia merasa bahwa lokasi pasar tersebut sudah menjadi rumah kedua baginya.
Lagi pula Mak Ani merasa bahwa orang pasar sudah menjadikan dirinya sebagai orang tua. Mak Ani, sebutan akrab warga pasar.
“Nak, Emak belum bisa memberi uang jaga untuk kalian. Apalagi Emak baru sampai di pasar ini,” jelas Mak Ani.
“Saya lihat tadi dagangan Emak sudah laku. Makanya kami minta uang keamanan,” tukas Mat Rompal dengan suara tegas.
Matanya memerah memandang Mak Ani. Kelihatannya Mat Rompal ini mabuk berat. Ia berdiri agak sempoyongan.
Golok di tangannya itu ia sabetkan ke lima cabe tumpukan kecil. Bahkan anak buahnya segera mengerubungi dan menginjak-injak dagangan orang kecil.
“Yah Allah, alangkah teganya kau melakukan ini kepada Emak, Mat Rompal. Orang miskin seperti Emak masih kau tindas seperti ini,” Mak Ani mengucurkan air mata. Ia menangis sedih sekali. Suara tangisannya terdengar
parau.
***
Melihat Mak Ani diperlakukan kelompok Mat Rompal, mereka marah bukan main.
“Hei, Mat Rompal, jangan begitu caranya. Mak Ani itu wanita tua yang hidupnya sudah. Kalau mau minta duit, minta saja dengan pedagang besar di pasar ini,” teriak seseorang yang simpatik melihat Mak Ani diperlakukan tidak adil.
“Kau mau apa? Mau membela Mak Ani? Sini nanti aku penggal lehermu,” teriak Mat Rompal dengan suara marah..
Saat itu juga, para preman berusaha untuk menyerang orang tersebut. Tapi dengan kompaknya, para pedagang sekitar ikut menyerbu. Mereka membawa berbagai senjata. Ada yang membawa potongan kayu, batu, dan senjata seadanya
Mereka secara beramai-ramai mengeroyok Mat Rompal. Laki-laki pemabuk yang di tubuhnya banyak tato itu akhirnya terkulai mandi darah di tanah becek yang hitam dan busuk. Sedangkan anak-anak buahnya bergegas lari meninggalkan tempat itu.
Lalu bagaimana nasib Mak Ani? Ternyata, sebelum orang-orang pasar ikut mengeoroyok Mat Rompal, Mak Ani terkena sabetan golok Mat Rompal.
Wanita tua itu tergeletak diam di sudut dinding bak sampah pasar rakyat.
Matanya terbelalak, sedangkan tubuhnya mandi darah, dengan tangan kurusnya menggenggam plastik hitam tempat menyimpan uang Rp 10 ribu hasil jualan cabenya tadi.
Tak lama di antaranya, tiga polisi tiba di tempat tersebut. (*)
Palembang, 10 Oktober 2026


