Senin, 21 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menjawab Bisikan Kasih di Olilit Barat: Saat Gestur Sederhana Merengkuh Masa Depan 58 Anak Tanimbar

Senandung Kasih dari Hati Kudus Yesus: Menyemai Harapan, Mengukuhkan Pemuridan di Kepulauan Tanimbar

​Oleh: Johanis Kopong

Baca juga: Sinergi Legislatif-Eksekutif dalam Hearing Dialog DPRK Biak Numfor: Respons Cepat atas Aspirasi Nelayan Tanjung Barari

Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Senin, 21 September 2026. Di bawah naungan khidmat Pesta Santo Matius Rasul dan Pengarang Injil, yang bertepatan dengan pembukaan Novena Santo Padre Pio, keheningan dan kehangatan iman membalut Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan. Hari itu bukan sekadar peringatan liturgis biasa, melainkan momentum pembuktian konkret akan makna hakiki dari sebuah panggilan pemuridan. Beranjak dari refleksi Kitab Suci Matius 9:9-14, umat diajak menanggalkan keengganan untuk menyambut bisikan penuh kasih: “Ikutlah Aku.”

​Menjawab panggilan agung tersebut kerap tidak membutuhkan gestur megah atau megah gempita. Sering kali, wujud iman yang paling murni justru bertunas melalui langkah-langkah kecil yang berakar pada kepedulian tulus. Tergerak oleh kesadaran mendalam tersebut, Pastor Paroki HKY Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, menyisihkan sebagian intensi Misa untuk dibagikan kepada 58 anak, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMK, hingga penghuni dan pembina Panti Asuhan ALMA.

​Secara nominal, bantuan dana transportasi dan uang saku yang disalurkan tergolong sederhana. Namun, di balik angka-angka tersebut, terhembus wujud syukur yang mendalam, dorongan semangat, serta pelukan hangat Gereja. Langkah ini hadir agar keteguhan anak-anak Tanimbar dalam menuntut ilmu dan memperdalam iman tidak terhenti di tengah keterbatasan.

Baca juga: Kasih Tanpa Batas di Lamdesar Timur: Ketika Nurani Legislatif Menyapa Sunyi Para Lansia

Cermin Keheningan Iman dan Pendamping Langkah Masa Depan

​Peristiwa tersebut menghadirkan benang merah refleksi yang mendalam bagi setiap jenjang penerima. Pada raut wajah anak-anak usia TK dan SD, terpancar kejujuran serta kepasrahan yang polos. Kesetiaan mereka menghadiri Misa Kudus menjadi cermin keheningan iman yang menyejukkan. Bantuan transportasi kecil hari ini merupakan bentuk apresiasi tulus atas ketekunan langkah kaki mungil mereka dalam mendekatkan diri ke altar Tuhan.

​Sementara itu, bagi remaja tingkat SMP dan SMK yang mulai menapaki dinamika usia muda serta tantangan pendidikan yang makin kompleks, perhatian Gembala Paroki hadir bagai oase. Bantuan tersebut menegaskan pesan moral bahwa mereka tidak pernah berjalan sendirian. Perhatian Gereja menjadi bekal dan penyemangat langkah menuju bangku sekolah demi meraih cita-cita masa depan.

​Kasih pun membuktikan sifatnya yang melintasi segala batas. Sapaan kasih berupa uang saku bagi anak-anak serta para pembina Panti Asuhan ALMA menjadi penanda nyata bahwa Gereja senantiasa menjadi rumah yang merangkul dan memperhatikan seluruh buah hatinya tanpa terkecuali.

Nasihat Gembala: Menjadi Saluran Kasih Bagi Sesama

​Dalam penjelasannya, Pastor Paroki menekankan pentingnya memaknai panggilan iman dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.

​”Dipanggil menjadi murid berarti bersedia membuka hati untuk sesama, persis seperti Santo Matius yang merespons panggilan Yesus tanpa ragu. Kehadiran kita di dunia bukan sekadar untuk menikmati rahmat bagi diri sendiri, melainkan menjadi saluran kasih bagi orang lain,” ungkap RD Ponsio Ongirwalu.

​Ia juga berpesan agar nilai sebuah kebaikan tidak diukur dari besarnya materi yang diberikan, melainkan dari ketulusan hati yang mendasarinya.

​”Anak-anak ini adalah masa depan Gereja dan bangsa. Jangan pernah mengukur kebaikan dari besarnya jumlah, tetapi dari ketulusan hati yang mau berbagi. Ketika kita berbagi dalam kekurangan, di situlah kasih Tuhan bekerja secara nyata,” tambahnya menguatkan.

​Suasana penuh persaudaraan tersebut diakhiri dengan untaian doa dan salam adat khas Tanimbar yang sarat makna spiritualitas lokal: Ratu Norkit Monuk Dedesar. Ubu Naflahar Ita Didtinemun. Kidabela-Bela lolin. Salve.

(Sumber: RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar)

Kategori:
Tags:

Terkini