<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tetapi Menghidupkan Dunia Nyata Anak &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/tetapi-menghidupkan-dunia-nyata-anak/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 16 Aug 2026 12:38:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Tetapi Menghidupkan Dunia Nyata Anak &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bukan Memusuhi Gadget, Tetapi Menghidupkan Dunia Nyata Anak</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/opini/bukan-memusuhi-gadget-tetapi-menghidupkan-dunia-nyata-anak</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2026 12:37:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Bukan Memusuhi Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Tetapi Menghidupkan Dunia Nyata Anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9563</guid>

					<description><![CDATA[Secangkir Kopi Cak Mus &#8211; 16.08.26 &#8211; Copas FB &#8211; Di sebuah desa di Sidoarjo, ada perubahan kecil yang mulai terasa beberapa tahun lalu. Anak-anak yang biasanya bermain di halaman atau berkumpul dengan teman mulai lebih sering mencari tempat yang memiliki akses Wi-Fi untuk bermain game. Di saat yang sama, permainan tradisional yang dulu mudah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secangkir Kopi Cak Mus &#8211; 16.08.26 &#8211; Copas FB</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di sebuah desa di Sidoarjo, ada perubahan kecil yang mulai terasa beberapa tahun lalu. Anak-anak yang biasanya bermain di halaman atau berkumpul dengan teman mulai lebih sering mencari tempat yang memiliki akses Wi-Fi untuk bermain game. Di saat yang sama, permainan tradisional yang dulu mudah ditemukan perlahan semakin jarang terlihat.</p>
<p>Kondisi itu kemudian mendorong lahirnya sebuah gerakan di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Pada 2018, Achmad Irfandi bersama sejumlah pemuda setempat mulai membuat kegiatan sederhana untuk anak-anak berupa membaca, mewarnai, mendongeng, dan aktivitas bermain bersama. Dari kegiatan tersebut kemudian berkembang konsep Dolanan Tanpa Gadget yang akhirnya dikenal sebagai Kampung Lali Gadget atau KLG.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-9567" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/7319d35a-9e4f-44f0-8b08-a950d3c0a0c6.webp" alt="" width="512" height="512" /></p>
<p>Gerakan ini mulai digagas pada 1 April 2018. Pendekatannya tidak dibangun dengan cara memusuhi teknologi atau melarang anak menggunakan telepon genggam sepenuhnya. Anak-anak justru diberi pilihan kegiatan lain yang cukup menarik sehingga perhatian mereka tidak terus-menerus tertuju pada layar.</p>
<p>Berbagai permainan tradisional kemudian dihidupkan kembali. Ada egrang, bakiak, gasing, dakon, ketapel, permainan kelompok, hingga kegiatan yang memanfaatkan sawah dan lingkungan sekitar. Ruang terbuka di desa digunakan sebagai tempat bermain sekaligus belajar.</p>
<p>Konsep kegiatannya juga dibuat berganti secara berkala. Permainan dan tema setiap pekan tidak selalu sama agar anak tidak cepat bosan. Hal ini menjadi penting karena kegiatan di dunia nyata harus bersaing dengan game dan tontonan digital yang hampir setiap saat menawarkan sesuatu yang baru.</p>
<p>Dari sinilah KLG berkembang bukan sekadar menjadi tempat bermain. Permainan digunakan untuk mengenalkan budaya, lingkungan, kebersamaan, dan aktivitas sosial kepada anak-anak. Proses belajar tidak dilakukan lewat kelas formal, melainkan melalui pengalaman langsung.</p>
<p>Perkembangannya kemudian mulai terlihat dari jumlah peserta yang datang. Berdasarkan keterangan pada 2022, sekitar 30 sampai 50 anak lokal menjadi bagian dari anak asuh KLG. Sementara kegiatan mingguan yang dibuka untuk masyarakat disebut mampu menarik kunjungan sekitar 6.000 anak dalam satu tahun.</p>
<p>Angka tersebut menunjukkan satu hal menarik. Permainan tradisional ternyata belum sepenuhnya kehilangan daya tarik di tengah generasi yang tumbuh bersama internet. Ketika permainan itu kembali disediakan dengan cara yang menyenangkan, anak-anak tetap tertarik mencoba.</p>
<p>Selama ini permainan tradisional sering dianggap ditinggalkan karena anak zaman sekarang lebih menyukai gadget. Padahal persoalannya tidak selalu sesederhana itu. Banyak permainan lama memang sudah tidak lagi mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Anak mengenal game digital karena perangkatnya tersedia, akses internetnya mudah, dan teman-temannya juga memainkannya. Sebaliknya, permainan tradisional membutuhkan ruang, alat, teman bermain, dan orang yang mengenalkan cara memainkannya. Ketika semua unsur itu hilang, wajar jika permainan tersebut ikut menghilang dari pilihan anak.</p>
<p>Karena itu, pendekatan KLG menjadi menarik. Gerakan ini tidak hanya meminta anak mengurangi waktu bermain gadget, tetapi menyediakan kegiatan yang bisa langsung dipilih sebagai penggantinya. Perbedaannya sederhana, tetapi efeknya cukup besar.</p>
<p>Ketika bermain bakiak, misalnya, anak harus belajar menyesuaikan langkah dengan anggota kelompoknya. Dalam permainan lain, mereka harus menunggu giliran, mengikuti aturan, berkomunikasi, menerima kekalahan, dan mencoba lagi. Semua proses itu terjadi secara alami tanpa harus dijelaskan panjang lebar.</p>
<p>Penelitian dari Universitas Negeri Surabaya pada 2022 juga mencatat bahwa kegiatan KLG tidak hanya berisi permainan. Anak mendapatkan pendampingan ketika bermain maupun membuat alat permainan, diajak bekerja bersama, serta diperkenalkan dengan nilai gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.</p>
<p>Dengan cara itu, permainan tradisional tidak berhenti menjadi hiburan. Ia menjadi sarana belajar yang menggabungkan aktivitas fisik, sosial, budaya, dan lingkungan sekaligus. Anak bergerak, berkomunikasi, mencoba sesuatu, sekaligus berinteraksi langsung dengan orang lain.</p>
<p>Hal ini menjadi semakin relevan ketika kehidupan anak semakin banyak bersentuhan dengan layar. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sejak lama menekankan pentingnya aktivitas fisik dan mengurangi terlalu banyak waktu tidak aktif, terutama pada usia dini. Bermain aktif menjadi salah satu bagian penting dalam tumbuh kembang anak.</p>
<p>Namun persoalan gadget juga tidak bisa dipahami secara hitam-putih. Teknologi tidak otomatis buruk bagi anak, sebab internet juga digunakan untuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengembangkan keterampilan. Yang menjadi persoalan adalah ketika aktivitas digital mulai menggantikan terlalu banyak kegiatan penting lainnya.</p>
<p>UNICEF dalam laporan tentang kehidupan anak di dunia digital juga menekankan bahwa dampak penggunaan perangkat tidak hanya ditentukan oleh berapa lama anak melihat layar. Jenis aktivitas, pengalaman yang dialami secara daring, kualitas konten, keamanan, serta kegiatan lain yang tergeser juga ikut menentukan.</p>
<p>Karena itu, tujuan mengurangi ketergantungan gadget seharusnya bukan membuat anak menjauhi teknologi sepenuhnya. Anak tetap akan tumbuh di dunia yang semakin digital dan pada akhirnya perlu memahami teknologi dengan baik. Tantangannya adalah menjaga agar kehidupan mereka tidak seluruhnya berpindah ke dalam layar.</p>
<p>Di sinilah nilai utama dari Kampung Lali Gadget terlihat. Gerakan ini berusaha menjaga agar anak tetap memiliki pengalaman nyata yang cukup beragam. Ada waktu untuk berlari, bermain bersama teman, mengenal lingkungan, membuat sesuatu dengan tangan, dan belajar melalui aktivitas langsung.</p>
<p>Pendekatan semacam ini juga memberi refleksi kepada orang dewasa. Anak sering diminta mengurangi gadget, tetapi ruang bermain di sekitar mereka justru semakin terbatas. Halaman semakin sempit, tanah lapang berkurang, kegiatan bersama jarang dibuat, sementara akses internet tersedia hampir sepanjang hari.</p>
<p>Dalam kondisi seperti itu, gadget memang menjadi pilihan paling mudah. Satu perangkat kecil bisa menyediakan ribuan game, video, musik, dan hiburan kapan saja. Kalau alternatif di dunia nyata jauh lebih sedikit, menyalahkan anak karena memilih layar sebenarnya kurang menyelesaikan masalah.</p>
<p>Karena itu, orang tua dan lingkungan juga mempunyai pekerjaan yang sama pentingnya. Bukan hanya menetapkan batas penggunaan gadget, tetapi menciptakan aktivitas lain yang benar-benar bisa dinikmati anak. Bisa berupa olahraga, permainan kelompok, kegiatan kreatif, aktivitas di luar rumah, membaca, berkebun, atau kegiatan lain yang membuat mereka terlibat secara langsung.</p>
<p>KLG menunjukkan bahwa alternatif tersebut tidak harus selalu mahal atau menggunakan fasilitas modern. Banyak kegiatannya justru memanfaatkan permainan sederhana, bahan dari lingkungan sekitar, serta ruang desa yang sudah tersedia. Yang paling dibutuhkan adalah kreativitas dan orang-orang yang mau menghidupkan kegiatan tersebut.</p>
<p>Gerakan ini juga melibatkan pemuda sekitar sebagai fasilitator dan pendamping kegiatan. Mereka membantu merancang permainan, mendampingi anak, serta mengembangkan kegiatan edukasi. Dengan begitu, yang terbentuk bukan sekadar tempat wisata permainan tradisional, tetapi sebuah lingkungan belajar yang terus hidup.</p>
<p>Upaya tersebut kemudian mendapat pengakuan lebih luas. Pada 2021, Achmad Irfandi menerima Apresiasi 12th SATU Indonesia Awards di bidang Pendidikan atas pengembangan Kampung Lali Gadget. Gerakan ini dinilai mampu menggabungkan pendidikan anak, pelestarian budaya, dan kegiatan masyarakat dalam satu konsep.</p>
<p>Penghargaan tersebut bukan menjadi akhir kegiatan. Dalam beberapa tahun berikutnya, KLG tetap aktif dan terus mengembangkan program. Dukungan yang datang kemudian digunakan untuk memperkuat fasilitas, kegiatan festival, pendampingan, sampai program yang berkaitan dengan persoalan penggunaan gadget pada anak.</p>
<p>Hingga beberapa tahun setelah didirikan, gagasan dasarnya tetap sama. Anak tidak cukup hanya diberi tahu bahwa terlalu lama bermain gadget tidak baik. Mereka juga membutuhkan pengalaman lain yang bisa membuat perhatian mereka berpindah dengan sendirinya.</p>
<p>Pelajaran dari gerakan ini sebenarnya cukup sederhana. Ketika satu kebiasaan dianggap terlalu dominan, solusi tidak selalu harus dimulai dari larangan. Terkadang hasil yang lebih efektif datang ketika lingkungan menyediakan pilihan yang lebih sehat dan sama menariknya.</p>
<p>Permainan tradisional dalam konteks ini bukan sekadar usaha menghidupkan kembali masa lalu. Nilainya justru terletak pada pengalaman yang diberikan kepada anak hari ini. Ada ruang untuk bergerak, bekerja sama, mengenal budaya, bersosialisasi, dan belajar menghadapi dunia nyata.</p>
<p>Pada akhirnya, teknologi tetap akan menjadi bagian dari kehidupan anak. Gadget tidak perlu dijadikan musuh, dan permainan tradisional juga tidak perlu diposisikan sebagai lawannya. Keduanya bisa berada dalam kehidupan yang sama selama penggunaannya tetap seimbang.</p>
<p>Yang perlu dihindari adalah ketika layar menjadi satu-satunya tempat anak merasa menemukan kesenangan. Sebab sebelum terus meminta anak menaruh gadgetnya, mungkin ada pertanyaan yang juga perlu dijawab oleh orang dewasa: setelah gadget itu diletakkan, sudahkah tersedia kegiatan lain yang cukup menarik untuk membuat mereka ingin bermain di dunia nyata?<br />
&#8212;</p>
<p>#ceritainspirasi<br />
Disclaimer:<br />
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
