<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tanpa Kehilangan Jati Diri &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/tanpa-kehilangan-jati-diri/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Jun 2026 02:57:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>tanpa Kehilangan Jati Diri &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menulis Puisi dalam Bahasa Kedua tanpa Kehilangan Jati Diri: Eksplorasi Multilingualisme dan Identitas Puitik dalam Presentasi Dr. Winda Setia Sari pada IOSoP 2026</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/internasional/6965</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 17:41:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Winda Setia Sari]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Multilingualisme dan Identitas Puitik]]></category>
		<category><![CDATA[IOSoP 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis Puisi dalam Bahasa Kedua]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa Kehilangan Jati Diri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=6965</guid>

					<description><![CDATA[Laporan Paulus Laratmase &#8211; Salah satu sesi yang paling reflektif dalam The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP) 2026 menghadirkan Winda Setia Sari, PhD dosen Universitas Negeri Medan yang sebelumnya mengabdi sebagai dosen Universitas Negeri Padang. Dalam presentasinya yang berjudul &#8220;Writing Poetry in a Second Language: Exploring Multilingualism and Poetic Identity&#8221; (Menulis Puisi dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Laporan Paulus Laratmase</p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Salah satu sesi yang paling reflektif dalam <em>The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP) 2026</em> menghadirkan <strong>Winda Setia Sari</strong>,<strong> PhD</strong> dosen Universitas Negeri Medan yang sebelumnya mengabdi sebagai dosen Universitas Negeri Padang. Dalam presentasinya yang berjudul <em>&#8220;Writing Poetry in a Second Language: Exploring Multilingualism and Poetic Identity&#8221; </em>(Menulis Puisi dalam Bahasa Kedua: Mengeksplorasi Multilingualisme dan Identitas Puitik), ia mengajak peserta memasuki pergulatan batin seorang penyair yang berkarya menggunakan bahasa kedua.</p>
<p>Dengan memadukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, presentasinya selain  menyampaikan hasil penelitian berbasis praktik (<em>practice-based research</em>), tetapi juga menghadirkan perjalanan personal seorang perempuan Minangkabau Muslim yang berusaha menemukan suara autentiknya dalam puisi berbahasa Inggris.</p>
<p><strong>Dari Keberanian Menulis Menuju Perjalanan Akademik Internasional</strong></p>
<p>Winda Setia Sari, PhD mengawali kisahnya dengan mengenang tahun 2017 ketika ia mulai berani mempublikasikan karya sastra pertamanya dalam bahasa Inggris.</p>
<p><em>&#8220;In 2017 I started to publish my first English writing.&#8221;</em></p>
<p>(&#8220;Pada tahun 2017 saya mulai memberanikan diri mempublikasikan tulisan pertama saya dalam bahasa Inggris.&#8221;)</p>
<p>Keputusan itu, kemudian membawanya melanjutkan studi doktoral di Inggris. Di sanalah ia mulai menyadari bahwa menulis puisi dalam bahasa kedua bukan  persoalan tata bahasa (<em>grammar</em>) atau pilihan diksi (<em>word choice</em>), melainkan pergulatan identitas.</p>
<p><strong>Puisi sebagai Ruang Pergulatan Identitas</strong></p>
<p>Salah satu puisinya menggambarkan kegelisahan tersebut. Ia mengaku pernah merasa bahwa ketika menulis dalam bahasa Inggris, dirinya justru sedang meniru tradisi sastra Barat.</p>
<p>Ia menggunakan ungkapan:</p>
<p>&#8220;White mimic.&#8221;</p>
<p>yang dapat diterjemahkan sebagai:</p>
<p>&#8220;Meniru cara pandang dan ekspresi dunia kulit putih.&#8221;</p>
<p>Perasaan itu melahirkan pertanyaan besar:</p>
<p>Apakah menulis dalam bahasa kedua membuat seorang penyair kehilangan identitas budayanya sendiri?</p>
<p>Menurutnya, pada masa awal menulis ia belum menemukan dirinya sebagai perempuan Asia, perempuan Indonesia, sekaligus perempuan Minangkabau dalam puisi-puisi berbahasa Inggris.</p>
<p><strong>Pertanyaan Mahasiswa yang Mengubah Arah Penelitian</strong></p>
<p>Momentum penting terjadi ketika masih mengajar mata kuliah puisi di Universitas Negeri Padang.</p>
<p>Salah seorang mahasiswanya bertanya:</p>
<p>&#8220;How could you write an English poem if you cannot sense and express your authentic inner feeling unless you wrote in your native language?&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Bagaimana mungkin Ibu dapat menulis puisi dalam bahasa Inggris apabila perasaan terdalam hanya dapat diungkapkan melalui bahasa ibu?&#8221;</em></p>
<p>Mahasiswa itu juga bertanya:</p>
<p>&#8220;How can the reader recognize you through your poem if you don&#8217;t write your story in your language?&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Bagaimana pembaca dapat mengenali siapa diri kita apabila kisah hidup kita tidak ditulis menggunakan bahasa sendiri?&#8221;</em></p>
<p>Pertanyaan sederhana tersebut terus membayanginya selama bertahun-tahun hingga akhirnya menjadi fondasi penelitian doktoralnya.</p>
<p><strong>Membangun Identitas Puitik (<em>Poetic Identity</em>)</strong></p>
<p>Dalam perjalanan akademiknya, Winda  Setia Sari, PhD merumuskan pertanyaan penelitian utama:</p>
<p>&#8220;How can I develop my poetic identity by drawing on the multi-self attached to me as a woman, as a Muslim Minangkabau woman, daughter, wife, and mother in my second language writing?&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Bagaimana saya dapat membangun identitas kepenyairan dengan menghadirkan seluruh identitas diri saya sebagai perempuan, perempuan Muslim Minangkabau, anak, istri, dan ibu dalam tulisan berbahasa kedua?&#8221;</em></p>
<p>Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi kajian mengenai hubungan antara multilingualism (multilingualisme) dengan second language writing identity (identitas kepenulisan dalam bahasa kedua).</p>
<p><strong>Multilingualisme Bukan Ancaman Identitas</strong></p>
<p>Salah satu gagasan utama yang disampaikan adalah bahwa penggunaan bahasa kedua tidak otomatis menghapus identitas budaya.</p>
<p>Sebaliknya, multilingualisme justru membuka ruang baru bagi penyair untuk memperluas ekspresi artistik tanpa kehilangan akar budayanya.</p>
<p>Dalam pandangan Winda:</p>
<p><em>&#8220;</em>Writing in a second language does not make you lose your identity.&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Menulis dalam bahasa kedua tidak membuat seseorang kehilangan identitasnya.&#8221;</em></p>
<p>Pernyataan ini menjadi tesis utama seluruh presentasinya.</p>
<p><strong>Practice-Based Research: Seni sebagai Metode Penelitian</strong></p>
<p>Penelitian doktoralnya menggunakan pendekatan “Practice-Based Research” <em>(Penelitian Berbasis Praktik)</em>.</p>
<p>Pendekatan ini tidak dimulai dari teori semata, melainkan dari proses penciptaan karya seni.</p>
<p>Selama hampir empat tahun ia: menulis puisi; merefleksikan proses kreatif; mengevaluasi karya-karya yang dihasilkan; membaca penyair-penyair Asia; membandingkan pengalaman estetik; menghasilkan pengetahuan baru melalui praktik penciptaan.</p>
<p>Dengan demikian, puisi tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi sekaligus metode untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah.</p>
<p><strong>Poetry as Identity, Not Mere Language</strong></p>
<p><em>(Puisi sebagai Identitas, Bukan Sekadar Bahasa)</em></p>
<p>Pesan terpenting yang disampaikan Winda Setia Sari, PhD  ialah bahwa bahasa hanyalah medium.</p>
<p>Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengalaman hidup, budaya, agama, keluarga, sejarah, dan memori kolektif hadir di dalam puisi.</p>
<p>Seorang penyair Indonesia tetap dapat menjadi dirinya sendiri meskipun menulis dalam bahasa Inggris, selama pengalaman budaya tersebut tetap menjadi ruh karya yang diciptakannya.</p>
<p>Dengan kata lain, identitas bukan ditentukan oleh bahasa yang dipakai, melainkan oleh kesadaran penyair terhadap akar budayanya.</p>
<p><strong>Puisi Penutup sebagai Kesimpulan Artistik</strong></p>
<p>Sebagai penutup presentasi, Winda membacakan puisi yang merangkum seluruh perjalanan intelektual dan kreatifnya.</p>
<p><em>If my darling betrays,</em></p>
<p><em>I hide behind</em></p>
<p><em>the corpse</em></p>
<p><em>of my second language identity.</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Apabila kekasihku mengkhianatiku,</em></p>
<p><em>aku bersembunyi</em></p>
<p><em>di balik jasad</em></p>
<p><em>identitas bahasa keduaku.</em></p>
<p>Puisi singkat ini menjadi metafora mendalam mengenai pergulatan seorang penyair yang pernah merasa terasing dalam bahasa kedua, tetapi akhirnya menyadari bahwa identitas sejati tidak pernah benar-benar hilang. Bahasa hanyalah ruang ekspresi; sementara jati diri tetap hidup melalui pengalaman, budaya, ingatan, dan kesadaran akan asal-usul.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Presentasi Dr. Winda Setia Sari memperlihatkan bahwa menulis puisi dalam bahasa kedua bukanlah bentuk pengingkaran terhadap bahasa ibu, melainkan sebuah proses negosiasi identitas yang terus berkembang. Melalui pendekatan <em>practice-based research</em>, ia menunjukkan bahwa kreativitas dan penelitian ilmiah dapat berjalan beriringan untuk melahirkan pengetahuan baru.</p>
<p>Bagi para penyair, akademisi, mahasiswa, dan pegiat sastra yang mengikuti IOSoP 2026, presentasi ini menghadirkan pesan penting bahwa multilingualisme bukan ancaman bagi identitas, melainkan jembatan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada dunia. Seorang penyair Indonesia tidak harus kehilangan keindonesiaannya ketika menulis dalam bahasa Inggris; sebaliknya, bahasa kedua dapat menjadi medium yang memperluas jangkauan suara budaya, nilai, dan pengalaman hidupnya ke panggung sastra internasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
