<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAT UNTUK ANAK MUDA (2): Tanya Kenapa? &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/surat-untuk-anak-muda-2-tanya-kenapa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Apr 2026 02:43:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>SURAT UNTUK ANAK MUDA (2): Tanya Kenapa? &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SURAT UNTUK ANAK MUDA (2): Tanya Kenapa?</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/politik/surat-untuk-anak-muda-2-tanya-kenapa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2026 02:42:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[SURAT UNTUK ANAK MUDA (2): Tanya Kenapa?]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=4593</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Mila Muzakkar&#124; Founder Generasi Literat &#8211; Sepuluh lebih anak berseragam seadanya berhamburan keluar dari kelas yang terbuat dari kayu. Di bawah rintik hujan, mereka terburu-buru menyeberangi sungai dengan kaki telanjang. “Cepat, cepat, nyebrang sebelum banjir!” Suara Pak Guru terdengar di antara teriakan anak-anak. Ini bukan film Laskar Pelangi, guys. Bukan juga dongeng tentang negeri [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Mila Muzakkar| Founder Generasi Literat</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Sepuluh lebih anak berseragam seadanya berhamburan keluar dari kelas yang terbuat dari kayu. Di bawah rintik hujan, mereka terburu-buru menyeberangi sungai dengan kaki telanjang.</p>
<p>“Cepat, cepat, nyebrang sebelum banjir!” Suara Pak Guru terdengar di antara teriakan anak-anak.</p>
<p>Ini bukan film Laskar Pelangi, guys. Bukan juga dongeng tentang negeri impian.<br />
Ini kenyataan.</p>
<p>Kenyataan yang harus dilalui anak-anak di salah satu SD Negeri terpencil di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.</p>
<p>Setiap hujan turun, mereka gelisah.Cemas.Takut. Karena kalau sungai meluap, mereka nggak bisa pulang. Satu-satunya jalan ke rumah adalah sungai itu.</p>
<p>Sekarang, mari kita “jalan-jalan” ke Manggarai Barat, NTT. Di sana, puluhan anak belajar di bawah pohon. Di bawah matahari yang menyengat.</p>
<p>Mereka bukan sedang praktik luar kelas. Bukan juga tamasya. Mereka terpaksa belajar di luar, karena ruang kelas nggak cukup.<br />
Sekolah berdinding kayu, beralas tanah itu hanya mampu menampung sebagian siswa.</p>
<p>Ini bukan satu-dua kasus. Menurut data Kemendikdasmen, lebih dari 10 ribu sekolah di daerah 3T mengalami kerusakan, tanpa sarana dan prasarana yang layak.</p>
<p>Masih di NTT. Seorang guru honorer yang usianya nggak lagi muda, setiap hari menumpang truk pengangkut barang. Selain karena hemat, memang nggak ada akses lain.</p>
<p>Ia duduk di antara tumpukan barang, menelan debu jalanan, demi satu harapan: murid-muridnya bisa menjadi manusia yang lebih utuh. Untuk semua perjuangan itu, ia dibayar Rp223.000 per bulan.</p>
<p>Guys, sampai di sini, kita harus mulai bertanya. Bukan satu-dua pertanyaan. Tapi banyak.</p>
<p>Kenapa sekolah-sekolah yang murid dan gurunya harus “bertaruh nyawa” ini nggak menjadi prioritas pembangunan?<br />
Kenapa nggak dibangun jembatan, fasilitas layak, dan akses transportasi yang manusiawi?</p>
<p>Kenapa justru muncul program-program baru dengan anggaran besar, tapi nggak menyentuh akar masalah?<br />
Kenapa sekolah rakyat dibangun dengan dana Rp24,9 triliun, tapi sekolah yang sudah ada dibiarkan rusak?Sebenarnya, rakyat yang mana yang dimaksud?</p>
<p>Kenapa Rp223 triliun dianggarkan untuk program MBG, sementara fakta di lapangan:anak-anak lebih butuh ruang belajar layak, guru sejahtera, dan sistem pendidikan yang manusiawi?</p>
<p>Kenapa malah membuang-buang uang dalam program MBG dengan pengadaan kaos kaki 100 ribu, semir sepatu, motor, mobil mewah, dan dikelola oleh orang-orang kaya?</p>
<p>Guys… sadar nggak sih?<br />
Ini bukan cuma soal kebijakan yang kurang tepat. Ini sudah masuk ke wilayah pelanggaran!</p>
<p>Apa saja yang dilanggar?</p>
<p>1. Pelanggaran terhadap hak pendidikan<br />
Dalam aturan, 20% anggaran negara harus dialokasikan untuk pendidikan: untuk fasilitas sekolah, kualitas guru, bantuan pendidikan, dan pemerataan akses.</p>
<p>Tapi realitanya?<br />
Sekolah rusak dibiarkan. Guru nggak sejahtera.Akses pendidikan timpang.</p>
<p>MBG bukan program yang buruk banget.Sekolah rakyat juga bukan ide yang salah.<br />
Tapi pertanyaannya sederhana:kenapa membangun yang baru, sementara yang lama dibiarkan hancur?<br />
Kenapa gedung program MBG bisa megah, tapi sekolahnya sendiri nyaris roboh?</p>
<p>2. Ketidakadilan terhadap guru<br />
Kehadiran program tertentu justru berdampak pada pemotongan gaji guru.<br />
Gaji yang sudah kecil (sekitar Rp200–300 ribuan) dipotong lagi.</p>
<p>Lalu kita berharap guru harus sabar, lembut, penuh dedikasi?<br />
Ini bukan soal kesabaran.<br />
Ini soal dapur. Ini soal hidup.</p>
<p>Sementara di sisi lain, ada anggaran yang digunakan untuk hal-hal yang nggak menyentuh kebutuhan dasar pendidikan.<br />
Di titik ini, negara nggak hanya lalai. Tapi juga nggak adil.</p>
<p>Jadi, kita perlu terus bertanya:<br />
Kenapa negara kita kayak gini?<br />
Kenapa yang miskin semakin dibiarkan bertahan, sementara yang kaya semakin dimudahkan?</p>
<p>Karena kalau ini terus terjadi, korbannya bukan hanya guru. Bukan hanya siswa di daerah terpencil.</p>
<p>Tapi kita. Anak muda hari ini. Adik-adik kita. Dan mungkin… anak cucu kita nanti.</p>
<p>Jadi, mulai sekarang…<br />
jangan berhenti bertanya: kenapa negara ini melakukan pelanggaran?</p>
<p>19 April 2026</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
