<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Solidaritas Untuk Flores NTT &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/solidaritas-untuk-flores-ntt/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Sep 2026 08:33:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Solidaritas Untuk Flores NTT &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>TORA BUNGA GENJER — “DUKA IBU PERTIWI”</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/umum/tora-bunga-genjer-duka-ibu-pertiwi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2026 08:30:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Duka Ibu Pertiwi]]></category>
		<category><![CDATA[Front Penggerak Seniman TIM (FSP-TIM)]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat Aksi Seni (JAS)]]></category>
		<category><![CDATA[Solidaritas Untuk Flores NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Tora Bunga Genjer]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10839</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Nuyang Jaimee Tora Bunga Genjer menghadirkan nada yang berbeda melalui puisi “Duka Ibu Pertiwi”. Puisi ini bergerak dari kesedihan menuju kritik sosial. Ia berbicara tentang kemiskinan, ketimpangan, korupsi, buruh, petani, penggusuran, bencana, serta jarak antara rakyat dan penguasa. Ketika dibawakan dalam JAS Solidaritas NTT, 4 September 2026 lalu, puisi yang ditulis pada Mei 2020 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #0000ff;">Oleh: Nuyang Jaimee</span></strong></p>
<p>Tora Bunga Genjer menghadirkan nada yang berbeda melalui puisi “Duka Ibu Pertiwi”. Puisi ini bergerak dari kesedihan menuju kritik sosial. Ia berbicara tentang kemiskinan, ketimpangan, korupsi, buruh, petani, penggusuran, bencana, serta jarak antara rakyat dan penguasa.</p>
<p>Ketika dibawakan dalam JAS Solidaritas NTT, 4 September 2026 lalu, puisi yang ditulis pada Mei 2020 ini menemukan kembali relevansinya. Bencana menjadi pintu untuk melihat persoalan yang lebih luas: bagaimana rakyat miskin menghadapi krisis dan bagaimana negara menjalankan keberpihakannya.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10853" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260906-WA0008-300x252.jpg" alt="" width="300" height="252" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260906-WA0008-300x252.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260906-WA0008.jpg 685w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Sejak larik pertama, “Kita miskin di negeri kaya raya/Jutaan warga lapar di negara pancasila”, Tora langsung membuka puisi dengan paradoks. Indonesia disebut negeri kaya, tetapi rakyatnya masih lapar. Kekayaan dan kesejahteraan tidak otomatis berjalan bersama. Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya tentang kekayaan negeri, melainkan siapa yang menikmatinya.</p>
<p>Larik “Makna merdeka hanya milik penguasa/Pejabat korup rumahnya bagai istana” memperkeras kritik. Kemerdekaan dipertanyakan ketika sebagian rakyat masih hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. “Merdeka” tidak lagi sekadar slogan nasionalisme, tetapi menjadi pertanyaan tentang siapa yang benar-benar merasakan kemerdekaan.</p>
<p>Kritik itu kemudian diarahkan kepada kehidupan buruh:</p>
<p><em>&#8220;Sementara buruh terusir dari gubuk sewa/Kehilangan pekerjaan hidup terlunta/Para pemimpin sibuk menyusun kata/Pidato di layar kaca mahal harganya&#8221;.</em></p>
<p>“Gubuk sewa”, “kehilangan pekerjaan”, dan “hidup terlunta” menghadirkan penderitaan secara konkret. Di sisi lain, pemimpin digambarkan sibuk dengan kata-kata dan pidato. Larik “Pidato di layar kaca mahal harganya” menjadi sindiran terhadap retorika kekuasaan yang tidak selalu berbanding lurus dengan tindakan. Ketika rakyat membutuhkan pekerjaan, pangan, rumah, dan perlindungan, pidato saja tidak akan cukup.</p>
<p>Bait berikutnya mempertemukan rakyat dengan kekuasaan ketika bencana datang:</p>
<p><em>&#8220;Semua ribut bantuan setiap bencana tiba/Solusi terjebak dalam diskusi dimeja kerja/Warga miskin bahu membahu berbuat nyata/Pejabat dan pengusaha asik bercengkrama&#8221;.</em></p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10854" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260905-WA0069-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260905-WA0069-300x200.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260905-WA0069-1024x684.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260905-WA0069-768x513.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260905-WA0069.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Di sini bencana menjadi ujian bagi negara. Bantuan dan solusi ramai dibicarakan, tetapi rakyat justru digambarkan bergerak lebih nyata. “Warga miskin bahu membahu berbuat nyata” menjadi salah satu larik penting karena menunjukkan solidaritas dari bawah. Mereka yang mengalami kesulitan justru saling membantu.</p>
<p>Sebaliknya, pejabat dan pengusaha ditempatkan dalam gambaran “asik bercengkrama”. Kontras ini sederhana, tetapi satir. Ada rakyat yang bekerja menghadapi penderitaan, sementara mereka yang memiliki kekuasaan dan modal digambarkan berada dalam ruang yang berbeda.</p>
<p>Puisi kemudian kembali pada pengalaman pandemi:</p>
<p><span style="color: #030202;"><em>&#8220;Bencana wabah menyerang dada dan perut kita/Semua teringat falsafah dan keberkahan desa/Petani ditengah sawah kembali jadi garda/Banyak rakyat perutnya lapar tak bisa ditunda&#8221;.</em></span></p>
<p>Karena ditulis pada Mei 2020, pengalaman pandemi menjadi latar penting. Namun Tora tidak hanya melihat wabah sebagai persoalan kesehatan. “Dada dan perut” membawa persoalan pada tubuh dan kebutuhan hidup. Wabah menyerang kesehatan, sementara krisis ekonomi membuat rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.</p>
<p>Di tengah keadaan tersebut, petani kembali menjadi garda. “Petani ditengah sawah kembali jadi garda” menunjukkan pentingnya sektor pertanian ketika sistem kehidupan terguncang. Mereka memastikan pangan tetap tersedia. Namun di sinilah ironi muncul: petani yang menjadi penyangga kehidupan justru sering berada dalam posisi rentan.</p>
<p>Bait terakhir menjadi puncak kritik:</p>
<p><em>&#8220;Meski sering petani digusur tanahnya/Dihilangkan nyawa oleh aparat negara/Tapi petani tetap sedia menjadi garda/Sebab istana sibuk melayani pengusaha&#8221;.</em></p>
<p>Puisi masuk lebih jauh ke persoalan agraria dan kekuasaan. Petani digambarkan mengalami penggusuran, bahkan kehilangan nyawa. Aparat negara hadir dalam gambaran kekerasan, sementara “istana” menjadi simbol kekuasaan yang disebut sibuk melayani pengusaha.</p>
<p>Larik terakhir tersebut menjadi pukulan paling keras. Pertanyaannya sederhana: kepada siapa negara berpihak? Kepada rakyat yang menjaga pangan dan menjadi bagian terbesar dari kehidupan negeri, atau kepada kepentingan modal?</p>
<p>Judul “Duka Ibu Pertiwi” memperkuat ironi tersebut. Ibu Pertiwi adalah metafora tanah air. Dalam puisi Tora, tanah air sedang berduka karena anak-anaknya mengalami kelaparan, kehilangan pekerjaan, kehilangan tanah, bahkan kehilangan nyawa. Dukanya bukan hanya akibat bencana, tetapi akibat ketidakadilan yang terus berlangsung.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10855" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0032-300x136.jpg" alt="" width="300" height="136" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0032-300x136.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0032-1024x464.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0032-768x348.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0032.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Dalam konteks JAS Solidaritas NTT, puisi ini mendapatkan lapisan makna baru. Bencana tidak hanya dilihat sebagai peristiwa alam. Ia membawa kita kepada persoalan tentang kelompok rentan, solidaritas masyarakat, kemiskinan, dan tanggung jawab negara. Puisi mengingatkan bahwa penderitaan korban tidak boleh berhenti menjadi angka atau berita sesaat.</p>
<p>Kekuatan “Duka Ibu Pertiwi” terletak pada bahasa yang langsung. Tora tidak menggunakan metafora yang rumit. Kata-kata seperti “miskin”, “lapar”, “penguasa”, “korup”, “buruh”, “petani”, “digusur”, “aparat”, dan “pengusaha” menjadi perangkat kritik yang mudah ditangkap. Kesederhanaan ini justru sesuai dengan karakter puisi perlawanan yang dibawa ke ruang publik.</p>
<p>Dalam pembacaan di panggung JAS, kata-kata tersebut membutuhkan tekanan vokal yang jelas. Puisi ini tidak membutuhkan gestur berlebihan. Energinya berada pada keberanian menyampaikan kritik. Jeda dapat digunakan untuk memberi bobot pada larik-larik penting, terutama ketika puisi berpindah dari penderitaan rakyat menuju kritik terhadap kekuasaan.</p>
<p>Pada akhirnya, “Duka Ibu Pertiwi” bukan sekadar puisi tentang kesedihan. Duka digunakan sebagai jalan menuju pertanyaan tentang keadilan. Siapa yang menikmati kemerdekaan? Siapa yang menanggung beban ketika bencana datang? Mengapa petani yang menjadi garda pangan justru dapat kehilangan tanahnya?</p>
<p>Dalam JAS Solidaritas NTT, Tora Bunga Genjer menghadirkan puisi sebagai suara kritik dari bawah. Solidaritas tidak hanya berarti membantu korban, tetapi juga berani membaca akar persoalan yang membuat rakyat miskin selalu menjadi kelompok paling rentan. “Duka Ibu Pertiwi” akhirnya menjadi pertanyaan kepada kekuasaan: ketika rakyat terus lapar, kehilangan pekerjaan, terusir dari tanahnya, bahkan kehilangan nyawa, sebenarnya siapa yang sedang dilayani oleh negara?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10642" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg" alt="" width="231" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg 231w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563.jpg 369w" sizes="(max-width: 231px) 100vw, 231px" /></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Tentang Penulis:</span></strong></p>
<p><em>Nuyang Jaimee</em> adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya <strong><em>“Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”</em></strong> terbit 2023.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>YON BAYU: “AIR MATA AIR”, LUKA PERJUANGAN YANG TERUS BERULANG</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/umum/yon-bayu-air-mata-air-luka-perjuangan-yang-terus-berulang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2026 02:31:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Deskripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Karya]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Front Penggerak Seniman TIM (FSP-TIM)]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat Aksi Seni (JAS)]]></category>
		<category><![CDATA[Solidaritas Untuk Flores NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Yon Bayu Wahyono]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10760</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Nuyang Jaimee Yon Bayu hadir membacakan puisi karyanya berjudul &#8220;Air Mata Air&#8221; dalam JAS Solidaritas untuk NTT, Jumat, 28 Agustus 2026. Puisi ini memiliki karakter yang berbeda dari puisi-puisi lain yang dibacakan malam itu. Ia tidak banyak menggunakan kata-kata besar, tidak mengumbar kemarahan, dan tidak secara langsung menjelaskan panjang lebar tentang bencana Flores. Justru [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #0000ff;">Oleh: Nuyang Jaimee</span></strong></p>
<p>Yon Bayu hadir membacakan puisi karyanya berjudul &#8220;Air Mata Air&#8221; dalam JAS Solidaritas untuk NTT, Jumat, 28 Agustus 2026. Puisi ini memiliki karakter yang berbeda dari puisi-puisi lain yang dibacakan malam itu. Ia tidak banyak menggunakan kata-kata besar, tidak mengumbar kemarahan, dan tidak secara langsung menjelaskan panjang lebar tentang bencana Flores. Justru melalui bahasa yang sederhana, repetisi, dan suasana yang tenang, Yon menghadirkan pertanyaan tentang sebuah bangsa yang seolah terus mengulang luka dan perjuangannya.</p>
<p>Puisi dibuka dengan kalimat, “Hari ini aku lihat / orang-orang berkumpul di rumah besar.” Rumah besar dalam puisi ini dapat dibaca sebagai ruang kekuasaan, ruang tempat harapan dan tuntutan rakyat disampaikan atau bisa jadi rumah besar sebuah aktifitas kesenian dan kebudayaan yang lahir di sana. Tetapi yang jelas “rumah besar” itu segera memperlihatkan wajah lain: tempat yang menerima kedatangan rakyat, tetapi belum tentu memberikan jawaban atas suara yang mereka bawa.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10771" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095547-213x300.jpg" alt="" width="213" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095547-213x300.jpg 213w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095547-729x1024.jpg 729w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095547-768x1079.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095547.jpg 972w" sizes="(max-width: 213px) 100vw, 213px" /></p>
<p>Kekuatan “Air Mata Air” mulai terasa melalui pengulangan. “Mengulang harapan/dan jerit yang telah disuarakan/kakak, ayah, juga kakek.” Kata “mengulang” menjadi penting karena memperlihatkan bahwa apa yang diperjuangkan hari ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Harapan dan jerit itu sudah pernah disampaikan oleh generasi sebelumnya.</p>
<p>Kakak, ayah, dan kakek bukan hanya hubungan keluarga. Ketiganya menjadi simbol pergantian generasi. Ada suara yang diwariskan, tetapi juga ada persoalan yang ternyata belum selesai. Generasi berganti, wajah berubah, zaman bergerak, tetapi tuntutan masih terdengar sama.</p>
<p>Pengulangan itu semakin kuat ketika Yon menulis, “Mereka masih aama/Mengangkat tangan/dengan kepalan yang sama/Melantang suara/dengan tuntutan yang sama.” Di sini tubuh manusia menjadi bahasa politik. Tangan yang mengepal adalah simbol perlawanan, keberanian, dan tuntutan. Tetapi ketika “kepalan yang sama” dan “tuntutan yang sama” terus berulang, muncul pertanyaan yang lebih dalam: mengapa generasi berikutnya masih harus melakukan hal yang sama?</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10770" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095534-213x300.jpg" alt="" width="213" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095534-213x300.jpg 213w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095534-728x1024.jpg 728w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095534-768x1080.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_095534.jpg 971w" sizes="(max-width: 213px) 100vw, 213px" /></p>
<p>Dalam pembacaannya, kekuatan puisi Yon justru terletak pada kesederhanaan dan ketenangan yang memberi ruang bagi setiap larik untuk bekerja. Ia tidak perlu menjelaskan seluruh konteks kepada penonton. Repetisi kata dan gambaran visual dalam puisi sudah membangun suasana. Pendengar diajak melihat kerumunan, tangan yang mengepal, suara yang dilantangkan, lalu berhadapan dengan gedung yang tetap berdiri seperti sebelumnya.</p>
<p>Kontras kemudian muncul melalui bait: “Dan gedung itu masih sama/Dinding membatu/Mikropon membisu/podium padam/tanpa kata.” Gedung menjadi simbol kekuasaan yang keras dan tidak bergerak. Dinding “membatu”, mikrofon “membisu”, podium “padam”. Semua benda yang seharusnya menjadi medium komunikasi justru kehilangan fungsinya. Rakyat datang membawa suara, tetapi ruang yang seharusnya mendengar justru diam.</p>
<p>Di titik ini, “Air Mata Air” bergerak dari puisi tentang kerumunan menjadi kritik terhadap kebuntuan. Ada rakyat yang terus datang, tetapi ada kekuasaan yang seolah tetap berada di tempatnya. Ada tuntutan yang terus disampaikan, tetapi jawaban tidak kunjung terdengar.</p>
<p>Kemudian muncul salah satu bagian yang paling menarik: “Mereka tetap datang/bukan untuk melihat taman.”<br />
Kalimat pendek ini membawa makna yang lebih luas. Mereka datang bukan sebagai pengunjung, bukan untuk menikmati ruang, dan bukan untuk melihat keindahan. Mereka datang karena ada sesuatu yang harus disampaikan. Ada persoalan yang memaksa mereka meninggalkan rumah dan datang ke ruang publik.</p>
<p>Lalu puisi mencapai titik emosionalnya: “Mereka datang/karena tanah airnya/dipenuhi air mata&#8211; /lagi.” Di sinilah judul “Air Mata Air” menemukan resonansinya. “Tanah air” yang selama ini menjadi ungkapan tentang negeri dan kebangsaan dipertemukan dengan “air mata”. Tanah air bukan lagi sekadar istilah geografis, tetapi tanah yang dipenuhi air mata karena luka yang terus berulang.</p>
<p>Kata “lagi” di akhir menjadi sangat penting. Hanya satu kata, tetapi mengandung sejarah panjang. Lagi berarti sebelumnya sudah terjadi. Lagi berarti persoalan belum selesai. Lagi berarti seseorang kembali menangis karena luka yang sama atau serupa. Dan lagi juga berarti generasi berikutnya mungkin akan kembali berdiri di tempat yang sama.</p>
<p>Pertanyaan terakhir menjadi pukulan paling reflektif: “Aku bertanya/akankah kelak cucu mereka/masih akan datang/dengan suara yang sama.” Yon tidak memberikan jawaban. Justru karena tidak ada jawaban, pertanyaan itu tinggal lebih lama di benak penonton. Cucu menjadi simbol masa depan. Jika tuntutan hari ini tidak pernah diselesaikan, apakah generasi mendatang akan mewarisi perjuangan yang sama?</p>
<p>Pertanyaan tersebut juga memberikan hubungan kuat dengan JAS Solidaritas untuk NTT. Bencana di Flores tidak hanya menyisakan persoalan hari ini. Ada rumah yang harus dibangun kembali, kehidupan yang harus dipulihkan, masyarakat yang harus bangkit, dan pertanyaan tentang bagaimana negara memastikan tragedi tidak terus berulang.</p>
<p>Solidaritas JAS dalam konteks ini menjadi lebih dari sekadar kepedulian sesaat terhadap korban bencana. Ia menjadi bagian dari kesadaran bahwa penderitaan rakyat harus terus diingat dan diperjuangkan sampai persoalan yang melahirkannya benar-benar mendapat perhatian.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10519" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711-209x300.jpg" alt="" width="209" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711-209x300.jpg 209w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711-712x1024.jpg 712w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711-768x1104.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711.jpg 950w" sizes="(max-width: 209px) 100vw, 209px" /></p>
<p>&#8220;Air Mata Air” juga memperluas makna solidaritas. Solidaritas bukan hanya hadir dengan bantuan ketika bencana terjadi, tetapi juga dengan menjaga suara korban agar tidak hilang setelah perhatian publik berpindah. Sebab seperti dalam puisi Yon, persoalan yang tidak diselesaikan dapat diwariskan menjadi tuntutan kepada generasi berikutnya.</p>
<p>Ada sesuatu yang getir dalam puisi ini. Di satu sisi, kita melihat keberanian rakyat yang terus datang, mengangkat kepalan dan melantangkan suara. Di sisi lain, kita melihat gedung yang tetap sama, terlihat kokoh dari luar, namun rapuh di dalam, dinding yang membatu, mikrofon yang membisu, dan podium yang padam.</p>
<p>Dalam JAS Solidaritas untuk NTT, Yon Bayu menghadirkan bentuk solidaritas yang tidak berteriak tentang rasa iba. Ia mengajak penonton berpikir lebih jauh tentang apa yang terjadi setelah solidaritas selesai, setelah bantuan diberikan, setelah berita berganti, dan setelah kerumunan kembali pulang.</p>
<p>&#8220;Air Mata Air” akhirnya menjadi puisi tentang ingatan, perjuangan, dan masa depan. Tentang suara yang diwariskan dari kakak, ayah, dan kakek. Tentang tanah air yang kembali dipenuhi air mata. Dan tentang kecemasan bahwa cucu-cucu mereka kelak masih harus datang dengan suara yang sama.</p>
<p>Apakah kita akan benar-benar mengubah keadaan, atau hanya mewariskan tuntutan yang sama kepada generasi berikutnya?</p>
<p>Pertanyaan itu mungkin belum selesai. Dan justru karena belum selesai, “Air Mata Air” menjadi suara yang patut terus diingat. [PM]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10642" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg" alt="" width="231" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg 231w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563.jpg 369w" sizes="(max-width: 231px) 100vw, 231px" /></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Tentang Penulis:</span></strong></p>
<p><em>Nuyang Jaime</em>e adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya <strong><em>“Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”</em></strong> terbit 2023.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JACK AL-GHOZALI: “ANAK TIMUR”, PUISI TENTANG DUKA,  DAN DAYA HIDUP</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/nasional/jack-al-ghozali-anak-timur-puisi-tentang-duka-dan-daya-hidup</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2026 17:47:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Front Penggerak Seniman TIM (FSP-TIM)]]></category>
		<category><![CDATA[Jack Al-Ghozali]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat Aksi Seni (JAS)]]></category>
		<category><![CDATA[Solidaritas Untuk Flores NTT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10732</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Nuyang Jaimee Jack Al-Ghozali hadir dalam JAS Solidaritas untuk NTT, Jumat, 28 Agustus 2026, melalui puisi “Anak Timur”. Berbeda dari puisi yang menjadikan bencana sebagai pusat narasi, Jack memilih masuk melalui pintu identitas. Ia berbicara tentang Nusa Tenggara Timur dari sudut pandang seseorang yang merasa menjadi bagian dari tanah itu—tanah yang sering dilihat dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #0000ff;">Oleh: Nuyang Jaimee</span></strong></p>
<p>Jack Al-Ghozali hadir dalam JAS Solidaritas untuk NTT, Jumat, 28 Agustus 2026, melalui puisi “Anak Timur”. Berbeda dari puisi yang menjadikan bencana sebagai pusat narasi, Jack memilih masuk melalui pintu identitas. Ia berbicara tentang Nusa Tenggara Timur dari sudut pandang seseorang yang merasa menjadi bagian dari tanah itu—tanah yang sering dilihat dari kejauhan, disebut “paling timur”, tetapi menyimpan kehidupan, kebudayaan, sejarah, dan daya tahan yang panjang.</p>
<p>Sejak larik pertama, puisi ini sudah menawarkan cara pandang yang menarik: “Aku anak tanah yang sering dilupakan peta, dibilang ‘paling timur’ padahal di sinilah matahari pertama belajar bangun.” Kalimat tersebut bukan sekadar pengenalan geografis. Ia seperti membalik posisi Timur dalam cara pandang Indonesia. Wilayah yang selama ini kerap dianggap berada di ujung peta justru ditempatkan sebagai tempat matahari pertama kali bangun. Timur bukan akhir, melainkan awal.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10733" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0015-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0015-300x225.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0015-1024x768.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0015-768x576.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0015.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Dalam performansnya, Jack membawa puisi dengan energi yang terasa personal. Ia tidak hanya sedang membacakan sebuah teks tentang NTT, tetapi seperti sedang memperkenalkan sebuah rumah yang ia cintai kepada orang-orang yang mungkin hanya mengenalnya melalui berita tentang bencana, kemiskinan, atau keterbelakangan. Ada kebanggaan yang terus tumbuh di balik setiap bagian puisi, sekaligus kesadaran bahwa tanah yang dicintai itu memiliki banyak persoalan.</p>
<p>Kekuatan puisi “Anak Timur” justru terletak pada keberaniannya mempertemukan dua sisi tersebut: luka dan kebanggaan. Jack tidak menutupi kesulitan yang dihadapi masyarakat NTT. Ia menyebut hujan yang datang pelit, air yang lebih mahal dari janji, anak-anak yang harus berjalan berkilo-kilo menuju sekolah, hingga mereka yang memilih merantau membawa koper dan cinta, lalu kembali membawa nama baik atau luka.</p>
<p>Bagian ini membuat NTT hadir bukan sebagai wilayah abstrak. Ada anak-anak yang berjalan menuju sekolah. Ada keluarga yang berhadapan dengan keterbatasan air. Ada orang-orang yang pergi merantau karena ingin mengubah kehidupan. Ada pula mereka yang pulang dengan pengalaman yang tidak selalu sesuai harapan. NTT hadir sebagai ruang kehidupan manusia yang nyata.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10734" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0037-300x283.jpg" alt="" width="300" height="283" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0037-300x283.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0037-1024x965.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0037-768x724.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0037.jpg 1258w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Namun Jack tidak membiarkan puisinya tenggelam dalam kesedihan. Setelah menghadirkan keterbatasan, ia segera membangun kebanggaan: “Tapi aku bangga, aku bangga karena dari tanah kering ini, lahir orang-orang yang hatinya basah oleh gotong royong.”</p>
<p>Kontras “tanah kering” dan “hati yang basah” menjadi salah satu metafora yang kuat. Kekeringan tidak selalu berarti kekurangan rasa. Justru dari tanah yang keras itu tumbuh manusia dengan semangat kebersamaan. Dalam konteks JAS Solidaritas untuk NTT, bagian ini terasa penting karena solidaritas bukan hanya datang dari luar untuk membantu korban. Masyarakat sendiri memiliki tradisi saling menopang yang menjadi kekuatan ketika bencana datang.</p>
<p>Kebanggaan Jack kemudian bergerak kepada kebudayaan. Tenun, laut, gunung, dan adat hadir bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai identitas yang harus dijaga. Kalimat “Satu helai = satu sejarah” menjadi penegasan bahwa kain tenun bukan sekadar benda budaya. Di dalam satu helai terdapat ingatan, warisan, tangan para penenun, serta pengetahuan yang diteruskan kepada generasi berikutnya.</p>
<p>Begitu pula ketika Jack mengatakan bahwa laut mereka adalah jagoan, gunung mereka suci, dan adat mereka tidak dijual. Ada sikap yang tegas terhadap komersialisasi identitas. Kebudayaan tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas. Ia adalah bagian dari martabat sebuah masyarakat.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10735" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260904-WA0000-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260904-WA0000-200x300.jpg 200w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260904-WA0000-681x1024.jpg 681w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260904-WA0000-768x1154.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260904-WA0000.jpg 893w" sizes="(max-width: 200px) 100vw, 200px" /></p>
<p>Bagian berikutnya menjadi semakin kuat ketika Jack menggunakan alam sebagai cermin semangat masyarakat Timur. “Semangat kami ombak di Sawu, dihantam karang, pecah, tumbuh lagi.” Ombak menjadi metafora ketahanan. Ia boleh pecah ketika dihantam karang, tetapi tidak berhenti menjadi ombak. Ia kembali, bahkan dengan kekuatan yang lebih besar.</p>
<p>Metafora tersebut kemudian dilanjutkan dengan petani di Timor dan penenun Sumba. Tanah retak tidak menghentikan petani untuk bertanam. Benang yang putus tidak membuat penenun berhenti bekerja. Benang disambung kembali hingga menjadi kain yang dapat menghangatkan dunia.</p>
<p>Rangkaian metafora itu membuat “Anak Timur” tidak jatuh menjadi puisi belas kasihan. Jack justru menolak cara pandang yang hanya melihat NTT melalui kekurangan. Ada persoalan, tetapi ada pula kekuatan. Ada penderitaan, tetapi ada daya hidup. Ada kehilangan, tetapi ada kemampuan untuk menyambung kembali sesuatu yang putus.</p>
<p>Dalam konteks JAS Solidaritas untuk NTT, inilah posisi penting puisi Jack. Solidaritas tidak dibangun atas dasar rasa kasihan semata, melainkan penghormatan terhadap manusia yang sedang menghadapi bencana. Korban bukan hanya mereka yang harus ditolong. Mereka juga memiliki identitas, kebudayaan, harga diri, dan kekuatan untuk bangkit.</p>
<p>Puncak puisi hadir melalui pertanyaan: “Nusa Tenggara Timur itu apa?” Jawaban Jack menjadi semacam deklarasi identitas: NTT adalah tempat yang mengajarkan seseorang untuk boleh gelisah, boleh menangis, tetapi tidak boleh berhenti berdiri.</p>
<p>Di bagian ini, performans Jack mendapatkan energi yang lebih kuat. Kalimat “Ayo nak bangkit, ayo nak.. hidup lagi” bukan sekadar penutup puisi. Ia terdengar seperti seruan kepada mereka yang sedang kehilangan. Ada dorongan untuk kembali berdiri setelah bencana meruntuhkan rumah, kehidupan, bahkan mungkin harapan.</p>
<p>“Anak Timur” akhirnya bukan hanya puisi tentang NTT. Ia adalah puisi tentang bagaimana seseorang memandang tanah kelahirannya melalui luka sekaligus kebanggaan. Ia berbicara tentang keterbatasan tanpa merendahkan, tentang penderitaan tanpa menjadikan masyarakat sebagai objek belas kasihan, dan tentang kebudayaan sebagai sumber kekuatan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10736" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260821-WA0030-300x197.jpg" alt="" width="300" height="197" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260821-WA0030-300x197.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260821-WA0030-1024x673.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260821-WA0030-768x505.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260821-WA0030.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Kehadiran Jack Al-Ghozali dalam JAS Solidaritas untuk NTT memperlihatkan bahwa solidaritas melalui seni dapat memiliki wajah yang berbeda. Jika sebagian puisi datang membawa kritik, kemarahan, atau pertanyaan kepada kekuasaan, Jack datang membawa suara dari dalam: suara yang berkata bahwa tanah yang sedang terluka itu masih memiliki martabat dan daya hidup.</p>
<p>Flores dan NTT dalam “Anak Timur” bukan sekadar wilayah yang sedang berduka. Ia adalah tanah yang memiliki sejarah, tenun, laut, gunung, adat, gotong royong, dan manusia yang terus belajar bangkit.</p>
<p>Karena itu, seruan “Ayo nak bangkit, ayo nak.. hidup lagi” terasa bukan hanya sebagai pesan untuk NTT, tetapi juga untuk kita semua. Bahwa ketika sebuah daerah tertimpa bencana, yang perlu kita selamatkan bukan hanya rumah dan harta benda, tetapi juga harapan, identitas, martabat, dan keyakinan bahwa kehidupan masih harus diteruskan.</p>
<p>Di panggung JAS, Jack Al-Ghozali mengingatkan bahwa solidaritas tidak selalu harus berbicara dengan suara keras. Kadang ia cukup dengan mengenalkan kembali sebuah tanah kepada dunia: tanah yang sering disebut paling timur, tetapi justru menjadi tempat matahari pertama belajar bangun.</p>
<p>Dan dari sana, dari Timur, suara itu kembali terdengar:</p>
<p>“Ayo nak bangkit, ayo nak.. hidup lagi.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10642" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg" alt="" width="231" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg 231w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563.jpg 369w" sizes="(max-width: 231px) 100vw, 231px" /></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Tentang Penulis:</span></strong></p>
<p><em>Nuyang Jaimee</em> adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya <strong><em>“Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”</em></strong> terbit 2023.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DEN CHUPANK: “NEGERI DI UJUNG AGUSTUS”, PUISI MENJADI SUARA JALANAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/umum/den-chupank-negeri-di-ujung-agustus-puisi-menjadi-suara-jalanan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2026 17:09:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Deskripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Den Cupank]]></category>
		<category><![CDATA[Front Penggerak Seniman TIM (FSP-TIM)]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat Aksi Seni (JAS)]]></category>
		<category><![CDATA[Solidaritas Untuk Flores NTT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10717</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Nuyang Jaimee Den Chupank hadir dalam JAS Solidaritas untuk Flores NTT, Jumat, 28 Agustus 2026, dengan puisi “Negeri di Ujung Agustus”. Puisi ini berangkat dari ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: secangkir kopi, warung, meja makan, harga kebutuhan yang naik, dan rakyat yang menghitung sisa rezekinya. Dari kesederhanaan itu, Den membawa pendengar memasuki persoalan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #0000ff;">Oleh: Nuyang Jaimee</span></strong></p>
<p>Den Chupank hadir dalam JAS Solidaritas untuk Flores NTT, Jumat, 28 Agustus 2026, dengan puisi “Negeri di Ujung Agustus”. Puisi ini berangkat dari ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: secangkir kopi, warung, meja makan, harga kebutuhan yang naik, dan rakyat yang menghitung sisa rezekinya. Dari kesederhanaan itu, Den membawa pendengar memasuki persoalan lebih besar: bencana, ketimpangan, lingkungan, kekuasaan, hukum, dan masa depan Indonesia.</p>
<p>Dalam performans pembacaannya, Den tidak menempatkan puisi sebagai teks yang sekadar disampaikan dengan keindahan suara. Ia membawanya sebagai suara kegelisahan. Setiap larik terasa diarahkan kepada seseorang, sebuah keadaan, bahkan kepada negeri yang sedang dipertanyakan. Ekspresi dan tekanan suara membuat puisinya terasa seperti suara dari jalanan—dari tempat rakyat berhadapan langsung dengan harga-harga, bencana, kehilangan, dan ketidakpastian.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10723" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204727-172x300.jpg" alt="" width="172" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204727-172x300.jpg 172w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204727-585x1024.jpg 585w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204727-768x1343.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204727.jpg 781w" sizes="(max-width: 172px) 100vw, 172px" /></p>
<p>Kekuatan performans Den terasa dari cara ia membangun pergerakan puisi. Ia tidak langsung meneriakkan kritik. Puisi dimulai dengan suasana akrab: “Pagi belum habis meneguk secangkir kopi, harga-harga melompat meninggalkan daya beli.” Den seperti mengajak penonton duduk di sebuah warung, melihat kehidupan rakyat dari dekat. Perlahan, ruang kecil itu melebar menjadi ruang Indonesia.</p>
<p>Dari warung dan meja makan, puisi bergerak menuju Aceh, Sumatera, NTT hingga Flores. Bencana hadir bukan sebagai berita yang jauh, tetapi bagian dari wajah negeri yang terluka. Air bah, longsor, dan kehilangan bertemu dengan persoalan ekonomi dan lingkungan. Ketika Den membawa Kalimantan dengan gambaran hutan terbakar dan asap yang menggantung di langit kehidupan, jelas bahwa yang dibicarakan bukan hanya satu bencana atau wilayah. Ia sedang membaca Indonesia melalui berbagai lukanya.</p>
<p>Di sinilah “Negeri di Ujung Agustus” memiliki kekuatan dalam konteks JAS Solidaritas untuk Flores NTT. Solidaritas terhadap Flores tidak berdiri sendiri. Flores ditempatkan dalam peta penderitaan yang lebih luas. Aceh, Sumatera, NTT, Flores, dan Kalimantan menjadi titik-titik yang memperlihatkan satu pertanyaan besar: bagaimana negara hadir ketika rakyat menghadapi kehilangan?</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10724" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0055-226x300.jpg" alt="" width="226" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0055-226x300.jpg 226w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0055-771x1024.jpg 771w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0055-768x1021.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0055-1156x1536.jpg 1156w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0055.jpg 1204w" sizes="(max-width: 226px) 100vw, 226px" /></p>
<p>Salah satu bagian kuat puisi ini muncul ketika Den berbicara tentang solidaritas. Ia mengakui rakyat tetap bergotong royong di tengah duka, membawa nasi, air, selimut, dan harapan ke antara puing kehidupan. Namun muncul peringatan: jangan sampai bencana hanya ramai ketika kamera menyorot keadaan, lalu sunyi ketika sorotan pergi dan korban kembali menghitung kehilangan.</p>
<p>Puisi Den tidak berhenti pada rasa iba. Ia mempertanyakan daya tahan kepedulian. Solidaritas yang hanya muncul ketika tragedi menjadi tontonan media mudah menjadi peristiwa sesaat. Bagi korban, bencana tidak selesai ketika kamera berhenti merekam. Kehilangan tetap tinggal setelah pemberitaan berganti.</p>
<p>Perubahan atmosfer semakin kuat ketika Den mengarahkan suaranya kepada “Penguasa Negeri”. Seruan “Haaaaayy&#8230; Penguasa Negeri” memberi warna performatif yang berbeda. Puisi meninggalkan ruang kontemplasi dan bergerak menjadi teguran. Suara tentang rakyat, harga kebutuhan, bencana, dan lingkungan kini menemukan alamatnya.</p>
<p>Namun Den tidak menempatkan rakyat hanya sebagai korban. Ia menghadirkan buruh, petani, pedagang, korban bencana, dan anak muda sebagai suara yang terus mempertanyakan masa depan. “Negeri di Ujung Agustus” bukan puisi tentang rakyat yang hanya menunggu pertolongan, tetapi tentang rakyat yang masih memiliki suara dan keberanian untuk bertanya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10741" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0054-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0054-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0054-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0054-768x578.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260828-WA0054.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Pertanyaan “Mengapa yang sederhana terasa mahal, sementara yang culas kadang justru hidup berjaya?” menjadi salah satu titik kritik paling tajam. Larik ini kuat karena berangkat dari paradoks kehidupan. Yang sederhana semakin sulit dijangkau, sementara mereka yang culas kadang justru menikmati keberjayaan. Di titik itu, puisi berubah menjadi cermin sosial.</p>
<p>Den kemudian membawa Agustus sebagai simbol. Bulan kemerdekaan hampir selesai, Merah Putih masih berkibar, tetapi luka negeri belum selesai dan pertanyaan rakyat belum reda. Kontras antara simbol kemerdekaan dan kenyataan rakyat menjadi fondasi kritik puisi ini. Kemerdekaan tidak cukup dirayakan melalui bendera dan seremoni jika kehidupan sehari-hari masih dipenuhi kehilangan, ketidakadilan, bencana, dan ketidakpastian.</p>
<p>Karena itu, kalimat “Kami tak membenci Indonesia—justru karena cinta, kami memilih bersuara” menjadi penyangga moral puisi. Kritik tidak ditempatkan sebagai kebencian terhadap negeri. Justru kritik lahir dari kecintaan terhadap Indonesia. Mencintai negeri tidak berarti selalu memujinya. Dalam keadaan tertentu, cinta membutuhkan keberanian mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10751" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_073729-196x300.jpg" alt="" width="196" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_073729-196x300.jpg 196w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_073729-670x1024.jpg 670w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_073729-768x1174.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260904_073729.jpg 845w" sizes="(max-width: 196px) 100vw, 196px" /></p>
<p>Pada bagian akhir, Den memanggil Aceh, Sumatera, NTT, Flores, dan Kalimantan sebagai “suara tanah yang meminta dijaga”. Ia juga memanggil rakyat yang menginginkan hukum bekerja, bukan sekadar menjadi kata-kata. Persoalan lingkungan, bencana, ekonomi, dan hukum bertemu dalam satu garis kritik.<br />
Penutup “Agustus boleh berlalu, tetapi nurani jangan ikut sirna” menjadi kekuatan reflektif puisi ini. Agustus hanyalah kalender. Upacara selesai, bendera diturunkan, panggung dibongkar. Tetapi persoalan rakyat tidak ikut selesai bersama berakhirnya bulan kemerdekaan. Yang harus dipertahankan bukan hanya ingatan terhadap perayaan, melainkan nurani terhadap kenyataan.</p>
<p>Akhirnya Den menutup puisinya dengan kalimat sederhana sekaligus politis: “Indonesia adalah rumah kita semua.” Kalimat itu mengembalikan seluruh perjalanan puisi kepada kesadaran bahwa Indonesia bukan hanya milik penguasa atau segelintir manusia yang menentukan arah kehidupan banyak orang. Indonesia adalah rumah bersama. Karena itu, ketika rumah tersebut terluka, seluruh penghuninya memiliki alasan untuk ikut menjaga dan memperbaikinya.</p>
<p>Dalam konteks JAS Solidaritas untuk Flores NTT, performans Den Chupank bukan sekadar pembacaan puisi. Ia menjadi bagian dari suara kolektif agar penderitaan tidak berhenti sebagai berita. “Negeri di Ujung Agustus” membawa Flores ke dalam percakapan yang lebih luas tentang Indonesia: rakyat, bencana, lingkungan, harga kehidupan, hukum, kekuasaan, dan nurani.</p>
<p>Puisi itu mengingatkan bahwa setelah panggung selesai, mikrofon dimatikan, dan Agustus berlalu, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih akan tertinggal.</p>
<p>Selama pertanyaan itu masih hidup, puisi belum selesai. [PM]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10642" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg" alt="" width="231" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg 231w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563.jpg 369w" sizes="(max-width: 231px) 100vw, 231px" /></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Tentang Penulis:</strong></span></p>
<p><em>Nuyang Jaimee</em> adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya <strong><em>“Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”</em></strong> terbit 2023.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JAS Solidaritas untuk NTT: Pembacaan Puisi, Monolog, dan Musik Menjadi Suara Kemanusiaan</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/internasional/jas-solidaritas-untuk-ntt-pembacaan-puisi-monolog-dan-musik-menjadi-suara-kemanusiaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 14:13:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Deskripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Front Penggerak Seniman TIM (FSP-TIM)]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa di Flores NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat Aksi Seni (JAS)]]></category>
		<category><![CDATA[Solidaritas Untuk Flores NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Ismail Marzuki (TIM)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10506</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Suara Anak Negeri Jumat Aksi Seni (JAS) Solidaritas untuk NTT pada Jumat 28 Agustus 2026 kemaren tidak berhenti pada sebuah kegiatan kepedulian terhadap bencana. Di halaman Taman Ismail Marzuki itu, solidaritas menemukan bentuknya melalui kata, tubuh, suara, musik, dan ekspresi para seniman. Nuyang Jaimee, Dyah Kencono, Yogi S. Karmas, Megawati Nurdin, Jack Al-Ghozali, Yon [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Laporan: Suara Anak Negeri</strong></span></p>
<p style="text-align: left;">Jumat Aksi Seni (JAS) Solidaritas untuk NTT pada Jumat 28 Agustus 2026 kemaren tidak berhenti pada sebuah kegiatan kepedulian terhadap bencana. Di halaman Taman Ismail Marzuki itu, solidaritas menemukan bentuknya melalui kata, tubuh, suara, musik, dan ekspresi para seniman. Nuyang Jaimee, Dyah Kencono, Yogi S. Karmas, Megawati Nurdin, Jack Al-Ghozali, Yon Bayu, Sharon, Merry Tan, Mila, Den Chupank, hingga Tora Nyanyian Genjer hadir dengan medium masing-masing, menjadikan panggung JAS sebagai ruang kesaksian artistik atas penderitaan yang terjadi di NTT, khususnya Flores.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10447" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260826-WA0024-300x164.jpg" alt="" width="300" height="164" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260826-WA0024-300x164.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260826-WA0024-768x419.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260826-WA0024.jpg 994w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p style="text-align: left;">Yang dibawa para pengisi acara bukan sekadar pertunjukan. Mereka membawa kegelisahan, kemarahan, duka, empati, sekaligus pertanyaan tentang bagaimana sebuah bangsa memandang rakyatnya ketika bencana datang. Seni dalam konteks ini tidak ditempatkan sebagai hiburan yang berjarak dari kenyataan, tetapi menjadi bahasa lain untuk menyampaikan sesuatu yang terkadang terlalu pedih jika hanya dibicarakan melalui angka dan laporan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10540" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_212154-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_212154-300x245.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_212154-1024x835.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_212154-768x627.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_212154.jpg 1298w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p style="text-align: left;">Salah satu suara paling kuat adalah Nuyang Jaimee melalui puisinya “Indonesia, Jangan Mati di Tangan Penguasa.” Dengan gaya pembacaan yang dramatik, ekspresif, dan bertumpu pada kekuatan diksi, puisi tersebut dibawa sebagai kritik sosial yang tajam. Musik ilustrasi yang menyertainya memberi lapisan emosional, membawa pendengar masuk lebih jauh ke dalam persoalan yang sedang dibicarakan.</p>
<p style="text-align: left;">Puisi itu tidak hanya berbicara tentang Flores sebagai wilayah yang dilanda bencana. Flores dijadikan pintu untuk mempertanyakan Indonesia secara lebih luas: tentang kemiskinan, korupsi, lemahnya keadilan, penyimpangan anggaran, dan tanggung jawab kekuasaan. Bencana tidak dibaca semata-mata sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai momentum untuk bertanya apakah negara telah melakukan cukup banyak untuk melindungi rakyatnya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10527" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210550-232x300.jpg" alt="" width="232" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210550-232x300.jpg 232w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210550-793x1024.jpg 793w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210550-768x991.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210550.jpg 874w" sizes="(max-width: 232px) 100vw, 232px" /></p>
<p style="text-align: left;">Ketika puisi menyebut ibu yang kehilangan anak, anak yang kehilangan rumah, petani yang kehilangan sawah, nelayan yang kehilangan laut, hingga rakyat kecil yang tetap bangun setiap pagi meskipun negara seolah tertegun, persoalan bencana bergerak menjadi persoalan kemanusiaan yang lebih luas.</p>
<p style="text-align: left;">Kekuatan puisi Nuyang Jaimee terletak pada keberaniannya mempertemukan tragedi kemanusiaan dengan kritik terhadap kekuasaan. Kalimat “Indonesia, kami mencintaimu. tetapi cinta bukan alasan untuk diam” menjadi semacam penegasan bahwa kritik tidak selalu lahir dari kebencian. Kritik dapat lahir justru karena seseorang masih memiliki kepedulian terhadap bangsanya.</p>
<p style="text-align: left;">Jika Nuyang Jaimee membawa suara kritik sosial dan kegelisahan kebangsaan, Dyah Kencono menghadirkan dimensi yang berbeda melalui puisi “Membaca Rahasia Semesta.” Puisi tersebut membaca tragedi NTT melalui hubungan manusia dengan alam, kesombongan manusia, spiritualitas, dan keterbatasan manusia di hadapan kekuatan semesta.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10513" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205129-221x300.jpg" alt="" width="221" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205129-221x300.jpg 221w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205129.jpg 610w" sizes="(max-width: 221px) 100vw, 221px" /></p>
<p style="text-align: left;">Dalam pembacaannya, Dyah Kencono duduk di panggung dengan posisi tubuh yang tenang, menyerupai seseorang yang sedang bermeditasi. Meski pilihan tubuh tersebut justru memberikan kontras dengan isi puisi yang berbicara tentang amarah semesta, bumi yang berguncang, korban, dan penderitaan, namun justru itu menjadi kekuatan magis terhadap puisi yang dibacakan.</p>
<p style="text-align: left;">Pengulangan kata “lalai” menjadi salah satu kekuatan dramatik puisi Dyah Kencono. Kata tersebut seperti teguran yang terus dikembalikan kepada manusia. Sementara ungkapan “adigang adigung adiguna” menjadi kritik terhadap kesombongan manusia yang merasa memiliki kuasa atas kehidupan. Bencana kemudian ditempatkan sebagai peristiwa yang mengajak manusia berhenti sejenak dan membaca kembali hubungan dirinya dengan alam dan kehidupan.</p>
<p style="text-align: left;">Puisi tersebut semakin menghentak ketika angka-angka korban disebutkan. Angka yang biasanya dingin dalam pemberitaan berubah menjadi bagian dari pengalaman emosional ketika disandingkan dengan larik tentang derita, jerit tangis, dan hati yang teriris. Pada bagian akhir, “NTT berduka / kita membaca / rahasia dibalik rahasia” membawa pembaca kepada kesadaran di balik sebuah tragedi selalu ada yang harus direnungkan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10514" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204805-208x300.jpg" alt="" width="208" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204805-208x300.jpg 208w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204805-710x1024.jpg 710w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204805-768x1108.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204805.jpg 832w" sizes="(max-width: 208px) 100vw, 208px" /></p>
<p style="text-align: left;">Jack Al-Ghozali hadir melalui puisi “Anak Timur”, sebuah suara yang berbicara dari kedekatan batin dengan tanah Nusa Tenggara Timur. Puisi ini tidak memulai perbincangan dari bencana semata, tetapi dari identitas, keterpinggiran, ketahanan, dan kebanggaan sebagai anak timur. Larik “Aku anak tanah yang sering dilupakan peta, dibilang ‘paling timur’ padahal di sinilah matahari pertama belajar bangun” segera membalik cara pandang kita terhadap Timur: bukan sebagai wilayah di ujung peta, melainkan sebagai tempat matahari menyapa pertama kali.</p>
<p style="text-align: left;">Kekuatan “Anak Timur” semakin terasa ketika semangat masyarakat NTT dianalogikan dengan ombak di Sawu, petani di tanah Timor, dan penenun Sumba. Tanah boleh retak, benang boleh putus, ombak boleh dihantam karang, tetapi semuanya memiliki kemampuan untuk kembali, bertahan, menyambung, dan tumbuh. Di sinilah puisi Jack tidak sekadar berbicara tentang penderitaan, tetapi juga tentang daya hidup.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10528" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260828_201837-214x300.jpg" alt="" width="214" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260828_201837-214x300.jpg 214w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260828_201837-730x1024.jpg 730w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260828_201837-768x1077.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260828_201837.jpg 974w" sizes="(max-width: 214px) 100vw, 214px" /></p>
<p style="text-align: left;">Sementara itu, Yogi S. Karmas hadir melalui monolog. Monolog memberikan kemungkinan lain bagi tubuh dan suara untuk menjadi medium kesaksian. Jika puisi bekerja terutama melalui kepadatan bahasa dan metafora, monolog memungkinkan kegelisahan itu menjelma menjadi sosok, suara, dan pengalaman dramatik. Kehadiran Yogi memperluas bentuk ekspresi JAS dari sekadar pembacaan teks menuju peristiwa teater yang mempertemukan aktor, tubuh, suara, dan penonton.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10516" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204701-236x300.jpg" alt="" width="236" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204701-236x300.jpg 236w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204701-805x1024.jpg 805w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204701-768x977.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204701.jpg 1074w" sizes="(max-width: 236px) 100vw, 236px" /></p>
<p style="text-align: left;">Megawati Nurdin turut hadir melalui pembacaan puisi “Sajak Orang Lapar” karya W.S. Rendra, memperkuat rangkaian suara sastra dalam panggung solidaritas tersebut. Puisi ini membawa persoalan kelaparan ke wilayah yang lebih dalam: bukan sekadar keadaan perut yang kosong, tetapi kondisi sosial yang dapat melahirkan pemberontakan, penipuan, pengkhianatan kehormatan, dan kekerasan. Pembacaan Megawati membuat persoalan NTT dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas, bahwa di balik bencana dan kemiskinan selalu ada manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidup dan martabatnya. Puisi menjadi medium yang memungkinkan persoalan NTT tidak berhenti sebagai berita yang lewat di layar, tetapi hadir kembali sebagai pengalaman batin yang didengar secara langsung.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10519" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711-209x300.jpg" alt="" width="209" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711-209x300.jpg 209w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711-712x1024.jpg 712w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711-768x1104.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_205711.jpg 950w" sizes="(max-width: 209px) 100vw, 209px" /></p>
<p style="text-align: left;">Yon Bayu hadir melalui puisi “Air Mata Air”, yang mempertemukan persoalan solidaritas NTT dengan kegelisahan yang lebih luas tentang tanah air dan perjuangan rakyat. Larik tentang orang-orang yang terus datang, mengangkat kepalan dan menyuarakan tuntutan yang sama, menghadirkan gambaran tentang perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika ia menulis “Mereka datang / karena tanah airnya / dipenuhi air mata&#8211; / lagi”, air mata menjadi metafora luka bangsa yang terus berulang. Puisi ini juga memiliki resonansi dengan JAS FPS TIM: tentang suara yang tidak boleh dibungkam, tuntutan yang tidak boleh dilupakan, dan pertanyaan getir apakah generasi berikutnya masih harus datang membawa suara yang sama.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10520" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204859-217x300.jpg" alt="" width="217" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204859-217x300.jpg 217w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_204859.jpg 722w" sizes="(max-width: 217px) 100vw, 217px" /></p>
<p style="text-align: left;">Merry Tan melalui lagu “Kehilangan” menghadirkan lapisan kesedihan yang berbeda. Nyanyian itu menjadi relevan dengan suasana solidaritas NTT karena kehilangan bukan hanya tentang rumah dan harta benda, tetapi juga tentang orang-orang yang pergi, keluarga yang tercerai, dan kehidupan yang berubah setelah bencana. Suara lagu tersebut membawa kesedihan personal menjadi kesedihan bersama, menyentuh ruang batin mereka yang mendengar dan mengingatkan bahwa di balik setiap bencana selalu ada kehilangan yang tidak mudah dipulihkan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10554" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_221904-300x288.jpg" alt="" width="300" height="288" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_221904-300x288.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_221904.jpg 768w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Sama halnya dengan Merry, Mila Yang turut mengisi JAS Solidaritas untuk NTT melalui lagu RAP, menghadirkan energi yang lebih ritmis dan tegas di tengah rangkaian puisi, monolog, dan nyanyian. Rap menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan secara langsung, cepat, dan berdaya pukul, sehingga semangat solidaritas tidak hanya hadir dalam suasana haru, tetapi juga dalam keberanian menyuarakan keresahan atas bencana, ketidakadilan, dan keadaan rakyat. Kehadiran Mila Yang memperlihatkan bahwa musik juga dapat menjadi bahasa perlawanan sekaligus ruang untuk membangun keberanian bersama.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10525" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210312-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210312-227x300.jpg 227w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210312.jpg 546w" sizes="(max-width: 227px) 100vw, 227px" /></p>
<p style="text-align: left;">Kehadiran Tora Nyanyian Genjer, biasanya membaca puisi sambil bernyanyi, tapi malam itu Tora membaca puisi sambil duduk dan terpekur hikmat. Kali ini memang Tora tak bernyanyi, namun puisinya &#8220;Menanam Keberanian&#8221;  dan &#8220;Presiden Maling&#8221; dibacakannya penuh renungan kesadaran dan kebijaksanaan memiliki daya untuk mempertemukan banyak orang dalam satu suasana keresahan batin.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10523" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210205-238x300.jpg" alt="" width="238" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210205-238x300.jpg 238w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210205-813x1024.jpg 813w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210205-768x967.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260901_210205.jpg 832w" sizes="(max-width: 238px) 100vw, 238px" /></p>
<p style="text-align: left;">Den Chupank melalui puisi “Negeri di Ujung Agustus” memperluas cakrawala solidaritas dari NTT kepada berbagai luka ekologis dan sosial di Indonesia. Ia membuka puisinya dari kehidupan rakyat sehari-hari: harga-harga yang melompat, daya beli yang melemah, dan keluarga yang harus kembali menghitung biaya hidup. Ketika Aceh, Sumatera, NTT hingga Flores, serta Kalimantan disebut dalam satu tarikan napas, bencana hadir sebagai persoalan bersama yang menuntut perhatian negara. Namun Den tidak berhenti pada kritik; ia menegaskan kekuatan gotong royong rakyat sekaligus mengingatkan agar kepedulian tidak hanya hadir ketika kamera menyorot. Pertanyaan “Mengapa yang sederhana terasa mahal, sementara yang culas kadang justru hidup berjaya?” menjadi kritik sosial yang tajam, sementara penutupnya—“Indonesia adalah rumah kita semua”—mengembalikan solidaritas kepada kesadaran bahwa negeri ini bukan milik penguasa atau segelintir manusia, melainkan milik seluruh rakyat.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian pula dengan Sharon membacakan puisi yang menjadi bagian dari mosaik artistik JAS Solidaritas untuk NTT pada malam itu. Masing-masing membawa warna ekspresi yang berbeda, tetapi berada dalam satu garis besar yang sama: menjadikan seni sebagai ruang untuk menyatakan kepedulian terhadap sesama.</p>
<p style="text-align: left;">Sementara keberagaman pengisi acara menunjukkan bahwa solidaritas tidak harus datang dari satu bentuk seni. Puisi, monolog, pembacaan, musik, dan ekspresi pertunjukan dapat bertemu dalam satu ruang ketika persoalannya adalah kemanusiaan.</p>
<p style="text-align: left;">JAS Solidaritas untuk NTT dengan demikian memperlihatkan wajah seni yang lain. Seni tidak selalu harus berbicara tentang keindahan yang terpisah dari kehidupan. Seni dapat berdiri di tengah luka, menyebut nama penderitaan, mempertanyakan kekuasaan, mengingatkan manusia pada keterbatasannya, dan pada saat yang sama menjaga agar rasa kemanusiaan tidak ikut mati.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10549" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260828194130-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260828194130-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260828194130-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260828194130-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260828194130.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p style="text-align: left;">Di panggung JAS malam itu, NTT tidak hadir sebagai angka statistik. Ia hadir sebagai rumah yang kehilangan penghuninya, keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, manusia yang kehilangan tempat tinggal, dan masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari bencana.</p>
<p style="text-align: left;">Karena itu, solidaritas melalui seni bukan sekadar acara. Ia adalah sikap. Ketika negara memiliki bahasa administrasi, media memiliki bahasa berita, dan lembaga memiliki bahasa laporan, seniman memiliki bahasa lain: <strong>Bahasa Kesaksian.</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dan melalui JAS, kesaksian itu disuarakan. Bukan untuk menggantikan kerja kemanusiaan, tetapi untuk menjaga agar penderitaan tidak dilupakan. Bukan untuk mengambil alih suara korban, tetapi untuk ikut menggemakan suara mereka. Sebab ketika sebuah bangsa masih mampu menyanyikan luka, membacakan puisi, memainkan monolog, dan berdiri bersama mereka yang sedang tertimpa bencana, sesungguhnya masih ada sesuatu yang hidup di dalam tubuh bangsa itu: <strong>Nurani.</strong> [PM]</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
