<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Senja dan Cahaya di Matamu &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/senja-dan-cahaya-di-matamu/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 24 May 2026 16:52:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Senja dan Cahaya di Matamu &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kumpulan Puisi Leni Marlina &#8220;Senja dan Cahaya di Matamu&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/kumpulan-puisi-leni-marlina-senja-dan-cahaya-di-matamu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 16:52:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[Senja dan Cahaya di Matamu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=5396</guid>

					<description><![CDATA[/1/ Senja dan Cahaya di Matamu Puisi: Leni Marlina — Senja meminum pelan cahaya dari matamu sementara angkutan kota, angkot tua warna hijau batuk-batuk di tikungan jalan mengangkut buruh, doa, dan bau hujan. Kursi-kursinya yang sobek lebih hafal bentuk tulang belakang pejuang keluarga daripada mikrofon-mikrofon istana Di trotoar basah, seorang anak penjual tisu berlari mengejar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>Senja dan Cahaya di Matamu</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Senja meminum pelan<br />
cahaya dari matamu<br />
sementara angkutan kota, angkot tua warna hijau<br />
batuk-batuk di tikungan jalan<br />
mengangkut buruh, doa, dan bau hujan.</p>
<p>Kursi-kursinya yang sobek<br />
lebih hafal bentuk tulang belakang pejuang keluarga<br />
daripada mikrofon-mikrofon istana</p>
<p>Di trotoar basah,<br />
seorang anak penjual tisu<br />
berlari mengejar lampu merah<br />
yang selalu lebih cepat darinya.</p>
<p>Namun matamu tetap hangat:<br />
roti terakhir<br />
di tangan bocah pengungsi<br />
yang mulai lupa aroma tanah selepas hujan di kampung halamannya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>Kota Mengunyah Langit</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Gedung-gedung tinggi<br />
mengunyah langit sore<br />
dengan rahang beton<br />
yang bau semen dan keserakahan.</p>
<p>Sebuah angkot tua<br />
merayap pelan di bawah flyover,<br />
tubuhnya gemetar<br />
seperti dada ayah<br />
yang memikul cicilan hidup.</p>
<p>Dari jendelanya yang berdebu,<br />
anak kecil menjual mawar<br />
dengan suara serak<br />
seperti payung patah<br />
terseret got penuh iklan pemilu</p>
<p>Lalu matamu muncul<br />
dan seolah senja berdarah pelan<br />
di kaca angkot yang suram.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p>Hujan Tidur di Pelupukmu</p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Hujan tidur di pelupukmu<br />
seperti burung basah<br />
yang kehilangan arah migrasi.</p>
<p>Angkot, angkutan kota, terakhir malam itu<br />
melaju lambat<br />
membawa bau solar, pakaian buruh,<br />
dan kantuk para ibu pasar.</p>
<p>Tangan angkot yang berkarat<br />
mencengkeram jalan berlubang<br />
seperti nelayan tua<br />
memegang sisa ombak.</p>
<p>Di bawah jembatan,<br />
lelaki tua mengunyah nasi dingin<br />
dan deru kendaraan<br />
serta bau got yang ikut masuk ke mulutnya,<br />
seolah memakan<br />
sisa hidupnya sendiri.</p>
<p>Dan matamu<br />
menjelma lampu kecil<br />
di kaca depan angkot<br />
yang menolak padam di hujan deras.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>Langit Sore Robek Perlahan</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Langit sore robek perlahan.<br />
Matahari meneteskan warna jingga<br />
seperti darah tipis<br />
di bibir bumi yang demam.</p>
<p>Di terminal sempit,<br />
angkot-angkot tua berjajar<br />
seperti kuda renta<br />
yang dipaksa terus menarik<br />
beban kehidupan kota.</p>
<p>Knalpot mereka batuk hitam<br />
ke paru-paru senja,<br />
namun tetap setia<br />
mengantar manusia pulang<br />
meski tak pernah benar-benar sampai.</p>
<p>Dan matamu menjahit semua itu<br />
dengan cahaya kecil<br />
setabah sopir tua<br />
yang tetap mengemudi<br />
meski matanya mulai kabur oleh usia.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>Tenggorokan Malam Penuh Semen dan Iklan</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Malam menelan kota<br />
dengan mulut hitam<br />
berbau asap, kopi basi,<br />
dan kesepian terminal terakhir.</p>
<p>Angkot tua melintas pelan<br />
dengan tubuh penuh lecet,<br />
seperti veteran perang<br />
yang tak pernah diberi medali.</p>
<p>Lampunya berkedip lemah-<br />
di antara hujan dan billboard raksasa,<br />
tetapi ia tetap berjalan<br />
mengangkut manusia-manusia letih<br />
menuju kamar sempit<br />
dan mimpi-mimpi cacat<br />
yang tetap dipelihara sampai pagi.</p>
<p>Kulihat sisa matahari di matamu,<br />
senja masih menyala kecil<br />
seperti lampu angkot terakhir<br />
yang bertahan hidup<br />
di tenggorokan malam penuh sesak dengan semen dan iklan.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-4493" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21-236x300.jpeg" alt="" width="236" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21-236x300.jpeg 236w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21-806x1024.jpeg 806w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21-768x976.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21.jpeg 952w" sizes="(max-width: 236px) 100vw, 236px" /></p>
<p><strong>Tentang Penyair – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina merupakab seorang penyair, penulis, penerjemah, dan akademisi di Departemen Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.</p>
<p>Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan sebagai praktik kreatif sekaligus dialog moral dengan dunia.</p>
<p>Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia juga menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional dan internasional. Tulisan-tulisannya sering mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.</p>
<p>Di samping karier akademiknya, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis dan editor lepas di platform media digital seperti Suara Anak Negeri News dan Negeri News, tempat ia menerbitkan artikel tentang pendidikan, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Kedua platform tersebut memiliki misi yang sama, yaitu “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”</p>
<p>Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari beberapa komunitas sastra dan literasi, di antaranya PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, serta pengembangan literasi lintas budaya.</p>
<p>Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif di beberapa organisasi kepenulisan, termasuk SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan PLS. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia &amp; sejak tahun 2024 juga berrgabung sebagai anggota Shanghai Huifeng International Literarty Association (ACC SHILA).</p>
<p>Kontribusinya dalam dunia sastra telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam acara International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta menerima penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
