<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seni &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/seni/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Oct 2026 12:27:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Seni &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merajut Kasih, Seni, dan Pengabdian: Menyelami Perjalanan Hidup Mas Dwikaton Singoyudo di Usia ke-83</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/komunitas/merajut-kasih-seni-dan-pengabdian-menyelami-perjalanan-hidup-mas-dwikaton-singoyudo-di-usia-ke-83</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2026 12:27:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[dan Pengabdian: Menyelami Perjalanan Hidup Mas Dwikaton Singoyudo di Usia ke-83]]></category>
		<category><![CDATA[Merajut Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12767</guid>

					<description><![CDATA[MALANG &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Hidup bukanlah tentang seberapa lama kita bernapas, tetapi tentang seberapa banyak jejak kebaikan dan karya yang kita tinggalkan untuk sesama. Peribahasa lama ini menemukan wujud nyatanya pada sosok Mas Dwikaton Singoyudo, seorang seniman, tokoh masyarakat, sekaligus pembelajar seumur hidup yang baru saja merayakan Ambal Warso (hari ulang tahun) yang ke-83 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MALANG &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Hidup bukanlah tentang seberapa lama kita bernapas, tetapi tentang seberapa banyak jejak kebaikan dan karya yang kita tinggalkan untuk sesama. Peribahasa lama ini menemukan wujud nyatanya pada sosok Mas Dwikaton Singoyudo, seorang seniman, tokoh masyarakat, sekaligus pembelajar seumur hidup yang baru saja merayakan Ambal Warso (hari ulang tahun) yang ke-83 pada Jumat Pon, 23 Oktober 2026 ini.</p>
<p>Bertempat di kediamannya yang hangat di Jalan Abdul Rahman No. 6A, Ngaglik, Kota Batu, perayaan sederhana namun sarat makna tersebut menjadi saksi indahnya merajut tali silaturahmi di senja usia.</p>
<p><strong>Akar Perjalanan dan Ketangguhan Jiwa</strong></p>
<p>Lahir di Blora pada 23 Oktober 1942, Mas Dwikaton tumbuh dalam gelombang sejarah bangsa yang dinamis. Jiwa nasionalismenya telah tertempa sejak usia muda, terlihat dari keaktifannya dalam kepanduan Pandu Rakyat di Blora pada tahun 1956.</p>
<p>Perjalanan hidupnya kemudian membawanya melintasi berbagai kota dan disiplin ilmu—mulai dari Malang, Surabaya, Jakarta, hingga Bali.</p>
<p>Yang mengagumkan dari sosok Mas Dwikaton adalah rasa ingin tahunya yang tak pernah padam. Riwayat pendidikannya mencakup spektrum yang sangat luas, mulai dari pelayaran (APM Surabaya), lanskap pertamanan (AKIP Jakarta), ilmu ekonomi (UBAYA), hingga teknik sipil (UNTAG Surabaya).</p>
<p>Ketekunan ini membentuknya menjadi seorang profesional yang multitalenta. Dalam dunia kerja, kontribusinya terbentang luas, mulai dari perancangan lanskap hotel dan industri terkemuka di Indonesia hingga memimpin proyek-proyek pembangunan sipil dan perumahan berskala besar.</p>
<p><strong>Menyatukan Logika Teknik dan Kelembutan Seni</strong></p>
<p>Di balik ketegasannya sebagai seorang insinyur sipil dan perencana lanskap, bersemayam jiwa seorang seniman sejati. Mas Dwikaton dikenal luas tidak hanya karena karya bangunannya, tetapi juga melalui goresan kuasnya sebagai pelukis, pahatan tangannya sebagai pematung, serta senandung suaranya sebagai seorang vokalis.</p>
<p>Seni baginya bukan sekadar hobi, melainkan bentuk ekspresi spiritual dan cara merayakan kehidupan. Dinding-dinding dan sudut rumahnya di Ngaglik, Kota Batu, menjadi saksi bisu bagaimana estetika seni menyatu dengan kehangatan ruang tamu tempat ia menyambut para sahabat.</p>
<p>Keaktifannya di berbagai wadah organisasi seni dan budaya—seperti Mayangsari, Pondok Seni di Batu, hingga memimpin organisasi seni rupa dan yayasan budaya—menunjukkan dedikasinya yang utuh untuk menghidupkan ekosistem kebudayaan lokal.</p>
<p><strong>Warisan Kasih Sayang di Senja Usia</strong></p>
<p>Perayaan hari ulang tahun ke-83 yang dihadiri oleh para sahabat dekat, tokoh rohaniwan, dan seniman—seperti Dr. Slamet Henkus, Ki Syamsu Soeid, Ki Itang Sufii, Ki H. MadBerlin, Akaha Taufan Aminudin, hingga Sri Sugiarti—bukanlah sekadar seremonial. Acara yang dipenuhi lantunan doa dan kebersamaan tersebut mencerminkan betapa besar cinta yang telah ditabur oleh Mas Dwikaton sepanjang hidupnya.</p>
<p>Dalam sebuah rekaman momen kebersamaan yang penuh haru, Mas Dwikaton mengungkapkan sebuah filosofi hidup yang mendalam. Dengan kerendahan hati, ia berpesan kepada generasi muda dan para sahabat yang hadir untuk senantiasa merangkul satu sama lain, berbagi kasih, dan mensyukuri setiap napas anugerah Tuhan:</p>
<p>&gt; &#8220;Saya merasa karena dikasih oleh Tuhan&#8230; saya ingin sekali menularkan kasih saya pada Anda dan keluarga. Jujur saja, berkat kasih saya merasa&#8230; karena saya dikasih oleh Tuhan dalam kepercayaan saya, saya ingin sekali menularkan kasih saya pada Anda dan keluarga.&#8221;<br />
&gt;</p>
<p><strong>Teladan yang Terus Mengalir</strong></p>
<p>Angka 83 tahun tentu bukan waktu yang singkat. Ia diisi dengan jatuh bangun, keringat kerja keras, goresan warna di atas kanvas, serta jalinan persaudaraan yang erat. Mas Dwikaton Singoyudo telah membuktikan bahwa usia senja bukanlah halangan untuk tetap memancarkan energi positif.</p>
<p>Lewat ketulusan senyumnya, ketajaman pemikirannya, dan kehangatan hatinya, beliau mengajarkan kita arti hidup yang sebenarnya: bahwa kekayaan sejati seorang manusia terletak pada seberapa tulus ia mencintai sesama dan mendedikasikan hidupnya bagi kebaikan bersama.</p>
<p>Selamat Ulang Tahun yang ke-83, Mas Dwikaton Singoyudo. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kedamaian, dan keberkahan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Kota Batu 23 Oktober 2026<br />
Akaha Taufan Aminudin<br />
SATUPENA JAWA TIMUR</p>
<p>Mas Dwi Katon<br />
Slamet Hendro Kusumo<br />
Syamsu Soeid<br />
Achmad Berlin Rifai<br />
Apink Sunartin<br />
Sri Sugiarti<br />
Itang Sufi<br />
Nurochman<br />
Denny J.A&#8217;s World</p>
<p>https://www.facebook.com/share/1FUao4DvpA/</p>
<p>https://studio.youtube.com/channel/UCdDUgsfASpVmiMGNIDYNuqg/content?d=ud</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peringatan Hari Pattimura ke-209: Integrasi Budaya Maluku-Biak melalui Olahraga, Seni, dan Pengabdian Sosial</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/refleksi/peringatan-hari-pattimura-ke-209-integrasi-budaya-maluku-biak-melalui-olahraga-seni-dan-pengabdian-sosial</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 11:16:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[dan Pengabdian Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Integrasi Budaya Maluku-Biak]]></category>
		<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan Hari Pattimura ke-209]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=4641</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Yohanis Rumaropen &#8211; BIAK NUMFOR &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Rangkaian kegiatan memperingati Hari Pattimura ke-209 Tahun 2026 secara resmi diluncurkan pada Kamis, (23/4) di Biak Numfor, ditandai dengan pembukaan Turnamen Gawang Mini Pattimura Cup oleh Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy C. Rumbarar Kapissa, sekitar pukul 15.15 WIT. Kegiatan ini diprakarsai oleh panitia yang diketuai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Laporan: Yohanis Rumaropen</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>BIAK NUMFOR &#8211; SUARA ANAK NEGERI| </strong>Rangkaian kegiatan memperingati Hari Pattimura ke-209 Tahun 2026 secara resmi diluncurkan pada Kamis, (23/4) di Biak Numfor, ditandai dengan pembukaan Turnamen Gawang Mini Pattimura Cup oleh Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy C. Rumbarar Kapissa, sekitar pukul 15.15 WIT. Kegiatan ini diprakarsai oleh panitia yang diketuai oleh Yohanis Amboki, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Biak Numfor, sebagai wujud penghormatan terhadap nilai-nilai kepahlawanan, persatuan, dan kontribusi historis masyarakat Maluku di Tanah Papua.</p>
<p>Dalam jumpa pers usai acara pembukaan, Amboki menjelaskan bahwa turnamen sepak bola gawang mini ini merupakan bagian dari agenda tahunan yang kini memasuki edisi ke-209 dalam konteks peringatan nasional Hari Pattimura. Turnamen diikuti oleh 32 tim yang merepresentasikan ikatan rumpun Maluku di Biak, termasuk warga keturunan atau yang memiliki pertalian keluarga—seperti ipar, anak, atau nenek—asal Maluku. Bahkan, sejumlah warga asli Biak yang memiliki ikatan darah dengan komunitas Maluku turut dilibatkan, menegaskan semangat inklusi dan persaudaraan antaretnis.</p>
<p>“Motto kami: hari ini kita satu, kita kuat,” ujar Amboki. “Di mana kaki dipijak, di situ langit dijunjung—kita harus pelihara nilai kejujuran, persahabatan, dan tanggung jawab sosial.”</p>
<p>Selain turnamen olahraga yang akan berlangsung hingga 10 Mei 2026, rangkaian peringatan Hari Pattimura juga mencakup sejumlah kegiatan multidimensi:</p>
<p>1. Lomba Pop Singer Lagu Ambon, yang akan digelar di Biak Broadcasting Center (BBC) pada 8–9 Mei 2026, sebagai upaya pelestarian warisan budaya musikal Maluku;<br />
2. Donor Darah Massal, yang dipusatkan di Kabupaten Supiori, sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan lintas wilayah;<br />
3. Pelatihan Public Speaking dan Master of Ceremony, yang diselenggarakan di Supiori guna meningkatkan kapasitas generasi muda dalam komunikasi publik;<br />
4. Puncak Acara Peringatan Hari Pattimura, yang sesuai permintaan Bupati Supiori tahun lalu, akan dilaksanakan pada 15 Mei 2026 di Halaman Kantor Bupati Supiori.</p>
<p>Amboki menekankan bahwa kehadiran komunitas Maluku di Biak bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari jejak historis yang mendalam—sejak para leluhur membawa misi pendidikan dan pewartaan Injil ke Tanah Papua. Ia menegaskan bahwa generasi kini memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan warisan tersebut melalui kontribusi nyata bagi pembangunan sosial, budaya, dan kemanusiaan di Kabupaten Biak Numfor dan sekitarnya.</p>
<p>“Kita hadir bukan hanya sebagai pendatang, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang saling menguatkan,” tambahnya.</p>
<p>Peringatan Hari Pattimura tahun ini, dengan pendekatan multisektoral dan lintas wilayah (Biak–Supiori), mencerminkan upaya strategis untuk memperkuat integrasi sosial, melestarikan identitas budaya, dan membangun solidaritas kewilayahan di kawasan Teluk Cenderawasih. Melalui olahraga, seni, dan pelayanan publik, panitia berharap momentum Pattimura tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga ruang dialog antarbudaya yang produktif dan inklusif.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
