<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Revitalisasi Budaya Biak Harus Inklusif &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/revitalisasi-budaya-biak-harus-inklusif/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Oct 2026 11:40:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Revitalisasi Budaya Biak Harus Inklusif &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>WOR FAN NANGGI,  BERKAT ADAT MENGALIR, HAMPIR Rp500 JUTA BERPUTAR DI EKONOMI RAKYAT</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/internasional/12623</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2026 08:40:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Kab Biak Numfor]]></category>
		<category><![CDATA[Kemitraan Pembangunan (SDGs 17)]]></category>
		<category><![CDATA[Mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan (SDGs 8)]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[dan Menjadi Investasi Masa Depan”]]></category>
		<category><![CDATA[Menggerakkan Pangan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Revitalisasi Budaya Biak Harus Inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[“Turbey O. Dangeubun]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12623</guid>

					<description><![CDATA[BIAK &#8211; SUARA ANAK NEGERI NEWS&#124; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey O. Dangeubun, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa Penyelenggaraan Festival Budaya Biak Melanesia, sampai acara “Fan Nanggi” memiliki tiga tujuan utama, yakni merevitalisasi kearifan lokal masyarakat Biak, meneguhkan nilai spiritual melalui tradisi berbagi berkat, serta menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat. “Wor Fan Nanggi yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BIAK &#8211; SUARA ANAK NEGERI NEWS| </strong>Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey O. Dangeubun, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa Penyelenggaraan Festival Budaya Biak Melanesia, sampai acara “Fan Nanggi” memiliki tiga tujuan utama, yakni <em>merevitalisasi kearifan lokal masyarakat Biak, meneguhkan nilai spiritual melalui tradisi berbagi berkat, serta menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat.</em></p>
<p>“Wor Fan Nanggi yang kita lakukan dalam perhelatan Festival Budaya Biak Melanesia,  mengandung kurang lebih tiga maksud,” ujar Turbey dalam wawancara bersama Suara Anak Negeri di sela-sela kegiatan &#8220;Sekolah Budaya&#8221; di Lapangan Cendrawasih Biak, 20 Oktober 2026.</p>
<p>Menurutnya, tujuan pertama adalah merevitalisasi kembali kearifan lokal suku Biak agar tidak lekang oleh waktu. Tradisi  harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus menjadi kebanggaan atas identitas budaya yang dimiliki masyarakat Biak.</p>
<p>“Kita mencoba memastikan bahwa kearifan lokal orang Biak, suku Biak, itu tidak lekang oleh waktu. Dia bisa sampai ke generasi berikutnya, termasuk orang Biak, tetapi juga menjadi sebuah <em>branding</em> kebanggaan terkait identitas yang mereka miliki,” katanya.</p>
<p>Turbey menegaskan bahwa kehadiran berbagai suku bangsa dalam perhelatan Munara Fanang-fanang menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Biak kepada masyarakat yang lebih luas. Tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga ditampilkan sebagai identitas yang memiliki nilai kebanggaan dan daya tarik kebudayaan.</p>
<p>Tujuan kedua, lanjutnya, berkaitan dengan keyakinan masyarakat terhadap Tuhan sebagai sumber berkat kehidupan. Melalui prosesi ritual Fan Nanggi, masyarakat menyampaikan rasa syukur sekaligus memohon berkat yang kemudian diwujudkan melalui kebersamaan dan kegiatan berbagi.</p>
<p>“Ini juga mau memastikan dan menyatakan bahwa orang Biak itu percaya akan Tuhan, sehingga berkat ini memang harus bisa mereka dapatkan dan bersifat inklusif. Karena itu, kita memohon kepada Tuhan lewat prosesi ritual Fanangi, dan setelah itu berbagi berkat bersama-sama dengan semua orang,” jelasnya.</p>
<p>Menurut Turbey, nilai inklusivitas menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Berkat tidak dimaknai sebagai sesuatu yang hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi harus membuka ruang kebersamaan agar semua orang dapat merasakan manfaatnya.</p>
<p>Dalam konteks ini, makanan tradisional tidak hanya menjadi sajian dalam sebuah festival. Makanan juga menjadi medium untuk mempererat persaudaraan, menghormati tradisi, dan membangun kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.</p>
<p><strong>Perputaran Ekonomi Mendekati Rp500 Juta</strong></p>
<p>Tujuan ketiga yang menjadi perhatian Turbey O Dangeubun adalah dampak ekonomi dari penyelenggaraan acara FBBM. Menurutnya, kegiatan FBBM menghasilkan efek berantai yang dapat dirasakan oleh masyarakat, terutama melalui penyerapan tenaga kerja dan distribusi pendapatan kepada pelaku usaha lokal.</p>
<p>“Kalau bicara dampak ekonomi, efek dominonya luar biasa. Yang pertama, serapan tenaga kerja. Orang menyiapkan makan dan minum, pangan lokal, kurang lebih 14.200 porsi,” ungkapnya.</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa penyediaan ribuan porsi makanan dan minuman itu melibatkan kegiatan ekonomi masyarakat. Bahan pangan harus disiapkan, makanan diolah, dan kebutuhan penyelenggaraan dipenuhi melalui aktivitas produksi serta perdagangan.</p>
<p>Menurut Dangeubun, kegiatan ini juga diarahkan untuk memberikan manfaat kepada pelaku usaha kecil dan menengah, khususnya orang asli Papua yang terlibat dalam penyediaan pangan lokal.</p>
<p>“Kalau kita hitung secara ekonomi, 14.200 kali sekali makan, dengan harga pasar Rp35.000, berarti uang yang terdistribusi kepada pihak-pihak yang berhak mendapatkan ini kurang lebih Rp500 juta,” katanya.</p>
<p>Berdasarkan perhitungan tersebut, 14.200 porsi dikalikan Rp35.000 menghasilkan estimasi nilai sebesar <strong>Rp497 juta</strong>.</p>
<p>Angka ini merupakan estimasi nilai ekonomi berdasarkan jumlah porsi dan asumsi harga per porsi, bukan angka keuntungan bersih. Nilai transaksi aktual dan pendapatan yang diterima masing-masing pelaku usaha tetap memerlukan pencatatan tersendiri.</p>
<p>Dangeubun menambahkan bahwa sekitar 90 persen produksi yang dibeli dalam kegiatan  berasal dari orang asli Papua. Hal ini memperlihatkan upaya penyelenggara untuk menghubungkan kegiatan kebudayaan dengan penguatan ekonomi masyarakat setempat.</p>
<p>“Jadi sebenarnya kita mencoba membaurkan budaya lokal kita dengan semangat ketahanan pangan lokal, kedaulatan pangan lokal, sembari memastikan bahwa perputaran uang dan distribusi pendapatan itu berlangsung dengan semestinya,” jelasnya.</p>
<p>Pernyataan ini menunjukkan bahwa festival budaya dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi melalui keterlibatan langsung dalam penyediaan kebutuhan kegiatan. Petani, nelayan, pemasok bahan pangan, pengolah makanan, dan pelaku usaha kecil berpeluang menjadi bagian dari rantai ekonomi tersebut.</p>
<p>Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya berbicara tentang menjaga tradisi dari kepunahan, tetapi juga tentang membuka peluang agar kebudayaan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat pemiliknya.</p>
<p><strong>Masyarakat Adat Turut Mendapat Manfaat</strong></p>
<p>Dangeubun juga menjelaskan bahwa manfaat kegiatan tidak hanya diarahkan kepada pemasok makanan dan pelaku usaha, tetapi juga kepada masyarakat adat yang terlibat dalam pelaksanaan ritual.</p>
<p>“Belum lagi secara ritual, itu dilakukan murni oleh teman-teman di Kampung Opiaref dan wilayah sekitarnya. Dana pembinaan atau jasa mereka dalam merevitalisasi budaya itu juga kita salurkan di sana. Jadi ada <em>fresh money</em> yang bisa mereka dapat,” ujarnya.</p>
<p>Keterangan ini menegaskan pentingnya memberikan penghargaan kepada masyarakat adat yang menjaga dan melaksanakan tradisi. Pengetahuan adat, keterampilan ritual, dan keterlibatan komunitas merupakan bagian penting dari keberlangsungan sebuah festival budaya.</p>
<p>Pelestarian tradisi membutuhkan partisipasi masyarakat pemilik budaya. Karena itu, penghargaan terhadap peran mereka, termasuk melalui dukungan pembinaan dan manfaat ekonomi yang layak, menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan.</p>
<p>Dangeubun mengatakan bahwa berdasarkan testimoni masyarakat, kegiatan kali ini memberikan dampak yang dirasakan secara langsung. Aspirasi yang muncul kemudian menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggaraan berikutnya.</p>
<p><strong>Aspirasi Masyarakat: Festival Harus Inklusif</strong></p>
<p>Dalam wawancara, Suara Anak Negeri juga mengangkat dua rekomendasi masyarakat. Pertama, pemerintah daerah diharapkan menetapkan Wor Fan Nanggi sebagai agenda tahunan melalui regulasi yang sesuai, minimal dengan mempertimbangkan peraturan bupati. Kedua, masyarakat mengusulkan agar pada pelaksanaan berikutnya tidak ada pembatasan VIP dalam pembagian makanan, sehingga semua pengunjung dapat memilih dan menikmati hidangan khas Biak.</p>
<p>Menanggapi rekomendasi itu, Dangeubun menyatakan bahwa aspirasi masyarakat merupakan masukan yang baik dan perlu ditindaklanjuti.</p>
<p>“Rekomendasi berdasarkan testimoni dan dinamika di lapangan, saya pikir itu sesuatu yang baik dan juga merupakan umpan balik terhadap penyelenggaraan kegiatan,” katanya.</p>
<p>Ia menegaskan bahwa pemerintah dan penyelenggara akan berupaya membangun kegiatan yang bersifat inklusif, menciptakan nilai baru, dan berkelanjutan.</p>
<p>“Tentu pasti akan kita tindak lanjuti dan kita berusaha agar memang bersifat inklusif seperti yang disampaikan, ada penciptaan nilai baru dan berkelanjutan,” ujarnya.</p>
<p>Menut Dangeubun, inklusivitas berarti tidak ada pembatas yang menghalangi masyarakat untuk merasakan kebersamaan. Sementara penciptaan nilai baru berkaitan dengan efek ekonomi yang dihasilkan, dan keberlanjutan berhubungan dengan upaya merevitalisasi budaya agar terus hidup dari generasi ke generasi.</p>
<p>“Budaya itu selain merupakan identitas, dia juga merupakan bentuk investasi masa depan,” tegasnya.</p>
<p>Pandangan itu memberikan penekanan bahwa kebudayaan tidak cukup hanya dirayakan dalam satu kesempatan. Kebudayaan perlu dirawat melalui kegiatan yang memberikan ruang bagi masyarakat adat, generasi muda, dan pelaku usaha lokal untuk terlibat secara berkelanjutan.</p>
<p><strong>Festival Tahunan dan Investasi Masa Depan</strong></p>
<p>Terkait usulan penetapan melalui peraturan bupati, Dangeubun menjelaskan bahwa Festival Budaya Biak Melanesia telah lolos kurasi Karisma Event Nusantara. Menurutnya, hal itu menjadi landasan bagi keberlanjutan festival sebagai agenda tahunan pemerintah daerah Kabupaten Biak Numfor.</p>
<p>Kepastian penyelenggaraan setiap tahun dapat menjadi peluang untuk memperkuat perencanaan pariwisata budaya, memperluas pasar bagi produk lokal, dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Meski demikian, bentuk regulasi yang diperlukan tetap dapat dikaji sesuai ketentuan dan kebutuhan pemerintah daerah.</p>
<p>Ke depan, keberhasilan Wor Fan Nanggi juga perlu dilihat melalui evaluasi yang terukur. Data mengenai nilai pembelian pangan lokal, jumlah pelaku usaha yang terlibat, pendapatan masyarakat adat, penyerapan tenaga kerja, dan transaksi aktual akan membantu memastikan bahwa manfaat ekonomi benar-benar dirasakan secara luas.</p>
<p>Dengan evaluasi ini, festival dapat berkembang dari kegiatan seremonial menjadi bagian dari pembangunan ekonomi berbasis budaya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
