<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>RERASAN: MAK &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/rerasan-mak/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2026 10:24:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>RERASAN: MAK &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>RERASAN: MAK</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/rerasan-mak</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2026 10:24:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[RERASAN: MAK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12679</guid>

					<description><![CDATA[SECANGKIR KOPI CAK MUS &#8211; 22.10.26 &#8211; SURABAYA &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Mak, senyampang masih bisa melihat senyummu, njenengan adalah surga bagiku. Namun, bila bertemu aku menciptakan neraka di jiwamu. Sebagai lelaki seharusnya aku bisa menyimpan air mata dan menyembunyikan derita. Hidup memang tidak selalu indah, dan aku menumpahkan segala keruwetan di ruang hatimu. Njenengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SECANGKIR KOPI CAK MUS &#8211; 22.10.26</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>SURABAYA &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Mak, senyampang masih bisa melihat senyummu, njenengan adalah surga bagiku. Namun, bila bertemu aku menciptakan neraka di jiwamu. Sebagai lelaki seharusnya aku bisa menyimpan air mata dan menyembunyikan derita. Hidup memang tidak selalu indah, dan aku menumpahkan segala keruwetan di ruang hatimu. Njenengan selalu tersenyum, namun aku tahu sudut matamu menahan pedih air mata. Tak semestinya aku menuangkan racun nelangsa di hatimu. Seharusnya aku menyuguh madu bahagia di sanubarimu. Menutup rapat-rapat cerita masalah, mengungkap betapa indah menjalani hidup bahagia.</p>
<p>Namun, selalu saja serentak tubi sambatan menebas nuranimu. Lidahku pedang menjulur betapa keruwetan melilit tubuhku. Manusia yang dilanda aral tak henti berlalu. Padahal tak ada manusia tanpa diuji suka dan duka. Yang selalu kuingat hanya kehilangan: sakit, ekonomi cingkrang, anak bermasalah, dan sebagainya. Kulupakan semua pemberian-Nya tanpa perhitungan. Melupakan semua anugerah kebaikan, menjadikan Mak hanya sebagai wadah keluhan.</p>
<p>Sebelum pulang, aku selalu mohon doa-doa njenengan. Selalu saja telingaku mendengar: tanpa kamu minta, Mak tak pernah berhenti berdoa untukmu dan keluargamu. Padahal selalu sering kulupa mendoakan njenengan. Robbighfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro. Kasih anak sepanjang galah, kasih Mak sepanjang masa.</p>
<p>Mohon maafku, Mak, durhakaku menyia-nyia njenengan. Kecewa demi kecewa memenuhi ruang prihatin njenengan. Aku tidak menjadi anak sejuk dipandang. Tak ada kebanggaan yang indah diceritakan. Aku belum bisa membahagiakan. Namun, sebenarnya hatiku tangis mengungkapkan:</p>
<p>MAK</p>
<p>Mak,<br />
laut kasihmu tak bertepi<br />
mentari sayangmu hangat mengabadi<br />
tutur doamu semakbul para wali<br />
tangis malammalammu mengguncang bumi<br />
kau letih tak pernah berperih<br />
kau lelah tak pernah tengadah<br />
pada anakmu, segala kisah pedih<br />
kau rangkum dalam senyum bidadari</p>
<p>Mak,<br />
bukan sekadar telapak kaki<br />
jiwa ragamu surga utuhku<br />
purnama ikhlasmu menyilau aibku<br />
tak ada retak pada kaca riwayat anakmu<br />
sebinal aku, kau selalu berkata pada orang-orang:<br />
&#8220;dia masih anak-anak, kujaga doaku selalu<br />
Tuhan mengampuni, manusia merelai&#8221;</p>
<p>Mak,<br />
jika pun kupunya dunia seisinya<br />
takkan sanggup membalas jasa<br />
hanya doa ampunan diseluruhkan<br />
hanya doa rahmat dilimpahkan<br />
surga diliputi kebungahan<br />
untukmu<br />
abadi</p>
<p>Lamongan, 22 -10-2026</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
