<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Puisi &#8211; Puisi Karya Leni Marlina dan Zulkifli Abdy &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/puisi-puisi-karya-leni-marlina-dan-zulkifli-abdy/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Aug 2026 12:31:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Puisi &#8211; Puisi Karya Leni Marlina dan Zulkifli Abdy &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Puisi &#8211; Puisi Karya Leni Marlina dan Zulkifli Abdy</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/puisi-puisi-karya-leni-marlina-dan-zulkifli-abdy</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 12:27:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi - Puisi Karya Leni Marlina dan Zulkifli Abdy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10347</guid>

					<description><![CDATA[/1/ KUNCI YANG TUMBUH DI TANGANMU Puisi: Leni Marlina &#8211; Engkau lahir dari tanah, dari hujan, dari nadi, sebuah peta belum tentu menjadi negeri, kau berjalan membawa luka, membawa sunyi, lalu belajar: rumah bukan tempat, melainkan cara memberi. Di pasar timbangan tidur sebelah mata, beras menguning di bawah lidah harga, engkau luruskan jarumnya dengan telapak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>KUNCI YANG TUMBUH DI TANGANMU</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10351" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-29-at-21.30.13-300x225.jpeg" alt="" width="300" height="225" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-29-at-21.30.13-300x225.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-29-at-21.30.13-1024x768.jpeg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-29-at-21.30.13-768x576.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-29-at-21.30.13.jpeg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Engkau lahir dari tanah, dari hujan, dari nadi,<br />
sebuah peta belum tentu menjadi negeri,<br />
kau berjalan membawa luka, membawa sunyi,<br />
lalu belajar: rumah bukan tempat, melainkan cara memberi.</p>
<p>Di pasar timbangan tidur sebelah mata,<br />
beras menguning di bawah lidah harga,<br />
engkau luruskan jarumnya dengan telapak terluka,<br />
dan besi yang dingin pun mengenal malu pada manusia.</p>
<p>Di jalan lubang membuka mulut yang lapar,<br />
menelan roda, menelan upah, menelan sabar,<br />
engkau isi dengan batu, tambal dengan akar,<br />
hingga langkah orang kecil tak lagi patah di tengah jalan yang liar.</p>
<p>Di meja kantor stempel berkaki mengejar nama,<br />
mengunyah wajah, menggemukkan angka,<br />
engkau tahan tanganmu agar tak berubah menjadi gigi mereka,<br />
sebab manusia bukan kertas yang selesai oleh satu cap semata.</p>
<p>Anakmu menggambar rumah di bawah cahaya pagi,<br />
empat dinding, satu jendela, pintu tanpa kunci,<br />
“Siapa boleh masuk?” ia bertanya sekali lagi,<br />
engkau membuka pintu: “Yang datang sebagai manusia, masuklah kemari.”</p>
<p>Malam menjahit bendera dengan benang luka,<br />
merah dari darah, putih dari napas yang dijaga,<br />
angin menyusup ke seratnya, membuat kain itu bernyawa,<br />
ia berkibar bukan untuk disembah, melainkan mengingatkan siapa menjaga sesama.</p>
<p>Engkau tak mengangkat negeri dengan pidato dan puja,<br />
tapi mengangkat tubuh yang jatuh di pinggir jalan raya,<br />
sepotong roti dibelah menjadi dua tanpa bertanya,<br />
dan meja sempitmu tiba-tiba lebih luas daripada peta.</p>
<p>Engkau berjalan tanpa mahkota, tanpa prasasti, tanpa puji,<br />
tak meminta sejarah menghafal jejakmu setiap hari,<br />
sebab bangsa bukan patung yang menunggu manusia berlutut di kaki,<br />
ia bernapas melalui pilihanmu ketika tak seorang pun melihat diri.</p>
<p>Jika suatu hari pintu berkata, “Bukan untukmu tempat ini,”<br />
jangan mengecilkan tubuh, jangan menyerahkan kunci,<br />
sentuh engselnya—dengarkan karat menyimpan jerit sunyi,<br />
lalu buka dari dalam: sebuah negeri menjadi rumah ketika tak ada manusia yang harus mengecil untuk tinggal di dalamnya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2025</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>BELUM JADI TUAN DI NEGERI SENDIRI</strong></p>
<p>Puisi: Zulkifli Abdy</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Setelah 81 tahun Indonesia merdeka<br />
Hari kemerdekaan berulang-ulang<br />
Kita rayakan setiap 17 Agustus<br />
Benarkah kita telah merdeka<br />
Secara de jure tentu sudah<br />
Dan dunia mengakuinya<br />
De facto terasa belum<br />
Bangsa belum bebas<br />
Dari jerat kemiskinan<br />
Bayar pajak ini dan itu<br />
Dari rasa ketidakadilan<br />
Harga yang serba mahal<br />
Berbagai kebijakan negara<br />
Yang tak berpihak pada rakyat<br />
Kesempatan kerja yang terbatas<br />
Anehnya, tenaga asing relatif bebas<br />
Rakyat belum jadi tuan di negeri sendiri.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>(Banda Aceh, 17 Agustus 2026).</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>KALI INI BUKAN BARANGKALI</strong></p>
<p>Puisi: Zulkifli Abdy</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kali ini<br />
Aku tak ingin menulis metafora angin<br />
Tetapi lebih tentang napas<br />
Kehidupan<br />
Tak juga tentang matahari dan bulan<br />
Tetapi lebih tentang energi<br />
Kekuatan</p>
<p>Kali ini<br />
Aku tak ingin bercerita tentang daun<br />
Tetapi lebih tentang buah<br />
Kemanfaatan<br />
Tak juga ingin bertanya tentang janji<br />
Tetapi lebih tentang bukti<br />
Kenyataan</p>
<p>Kali ini<br />
Aku tak menuntut penegakan hukum<br />
Tetapi lebih daripada itu<br />
Keadilan<br />
Tak lagi bicara tentang kemerdekaan<br />
Tetapi lebih daripada itu<br />
Kesejahteraan.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>(Banda Aceh, 8 Agustus 2026).</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p>Tentang Penyair &#8211; Zulkifli Abdy</p>
<p>Zulkifli Abdy merupakan penulis dan penyair senior kelahiran Jambi yang berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia merupakan lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas untuk mengisi kesenggangan, tetapi salah satu cara untuk menuangkan perasaan secara imajinatif, juga sebagai pengganti catatan harian.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>NEGERI BUKAN YANG KAU MILIKI</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pagi itu kau membeli beras; timbangan berkedip sebelah mata,<br />
butir-butir bergeser, menggigil di bawah harga,<br />
satu koin jatuh—lantai menelannya tanpa suara,<br />
kau membungkuk: wajahmu sendiri mengapung di sana.</p>
<p>Di jalan, lubang membuka lambung, lapar dan lebar,<br />
menelan roda, memuntahkan sandal yang masih hangat benar,<br />
kau jongkok, memasukkan batu ke mulutnya yang liar,<br />
jalan mengatup pelan—kakimu pulang tanpa gentar.</p>
<p>Di kantor, stempel berlari mengejar nama,<br />
mengunyah wajah menjadi nomor, menggemukkan angka,<br />
kau tangkap sebelum tinta menyelesaikan mangsa,<br />
merah di telapakmu: luka, atau bendera yang lupa.</p>
<p>Pulang, anakmu menggambar rumah tanpa pagar,<br />
satu pintu, satu jendela, langit tanpa kawat berduri dan pagar,<br />
“Jika negeri ada di dada, mengapa dadaku sempit, Ayah?”<br />
kau diam—piring di meja cuma cukup untuk separuh lapar.</p>
<p>Tanah di halaman membuka retak, mengeluarkan akar,<br />
akar menyentuh kakimu—bukan mengikat, hanya mengajar,<br />
pohon tidak tumbuh sendirian; ia berbagi tanah, air, dan sabar,<br />
kau berlutut—debu masuk kuku, dan sesuatu di dalam dirimu mekar.</p>
<p>Di kursi, bendera tergeletak; jahitannya terlepas di sisi,<br />
kau mengambil jarum, tinta, tanah, darah masih tinggal di jari,<br />
kau jahit bagian yang robek—bukan agar kain tampak rapi,<br />
tetapi agar tanganmu tahu: yang koyak tak selalu harus dibuang pergi.</p>
<p>Angin datang; kain bergerak, tidak tinggi—hanya lebih dekat ke bumi,<br />
kau membuka telapak: merah, tanah, benang, sedikit nyeri,<br />
di antara menggenggam dan melepas, kau menemukan arti,<br />
negeri bukan yang kau miliki—melainkan manusia yang kau pilih untuk kau lindungi.</p>
<p>&#8211;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
