<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pesparani II Papua &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/pesparani-ii-papua/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Oct 2026 01:34:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Pesparani II Papua &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bernadetha Goo Mote: Waropen Mungkin Tak Mengikuti Semua Lomba, tetapi Semangat Iman Tak Pernah Setengah Hati</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/nasional/bernadetha-goo-mote-waropen-mungkin-tak-mengikuti-semua-lomba-tetapi-semangat-iman-tak-pernah-setengah-hati</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2026 01:34:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[dari Panggung Perlombaan]]></category>
		<category><![CDATA[Harapan bagi Gereja Katolik di Waropen]]></category>
		<category><![CDATA[Menuju Ziarah Persaudaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesparani II Papua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12948</guid>

					<description><![CDATA[BIAK, SUARA ANAK NEGERI NEWS — Tidak semua perjalanan iman diukur dari banyaknya langkah yang dapat diayunkan. Tidak semua partisipasi ditentukan oleh banyaknya piala yang bisa dibawa pulang. Ada kalanya, kehadiran yang sederhana justru menyimpan makna yang lebih dalam: kesetiaan, pengorbanan, dan kerinduan untuk tetap menjadi bagian dari sebuah keluarga besar. Semangat itulah yang terpancar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BIAK, SUARA ANAK NEGERI NEWS</strong> — Tidak semua perjalanan iman diukur dari banyaknya langkah yang dapat diayunkan. Tidak semua partisipasi ditentukan oleh banyaknya piala yang bisa dibawa pulang. Ada kalanya, kehadiran yang sederhana justru menyimpan makna yang lebih dalam: kesetiaan, pengorbanan, dan kerinduan untuk tetap menjadi bagian dari sebuah keluarga besar.</p>
<p>Semangat itulah yang terpancar dari keikutsertaan kontingen Kabupaten Waropen dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Tingkat Provinsi Papua di Biak, Rabu, 28 Oktober 2026.</p>
<p>Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik (LP3K) Kabupaten Waropen, Ny. Bernadetha Goo Mote, S.H., menegaskan bahwa kontingen Waropen tidak mengikuti seluruh mata lomba yang dipertandingkan dalam perhelatan iman ini. Namun, keterbatasan partisipasi itu sama sekali tidak mengurangi semangat umat Katolik Waropen untuk hadir, bersekutu, dan mengambil bagian dalam pesta iman bersama umat Katolik dari berbagai kabupaten di Provinsi Papua.</p>
<p>Pernyataan ini disampaikannya kepada awak media seusai acara pembukaan Pesparani II Papua di Gedung KSL, Jalan Sriwijaya, Biak, Rabu (28/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia didampingi suaminya, Bupati Kabupaten Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si.</p>
<p>Bagi Bernadetha, Pesparani bukan semata-mata panggung untuk menguji kemampuan bernyanyi, membaca Kitab Suci, atau menampilkan kecakapan dalam kategori perlombaan lainnya. Lebih dari itu, Pesparani merupakan ruang perjumpaan iman, tempat umat saling menguatkan, merawat persaudaraan, dan meneguhkan komitmen untuk membangun Papua sebagai tanah damai.</p>
<p><strong>Di Antara Panggilan Gereja dan Tanggung Jawab Pelayanan Publik</strong></p>
<p>Ada cerita di balik terbatasnya keikutsertaan Waropen. Sebuah cerita tentang umat yang sedang menata harapan, Gereja yang merindukan pertumbuhan, dan pemerintah daerah yang harus terus hadir menjawab kebutuhan masyarakat.</p>
<p>Bernadetha menjelaskan, pada 27 Oktober 2026, umat Katolik di Waropen menerima kunjungan Uskup Keuskupan Timika, Yang Mulia Mgr. Dr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A. Kunjungan ini menjadi peristiwa yang sangat didambakan umat Katolik Waropen, terutama karena jumlah mereka relatif sedikit dan kehidupan menggereja mereka selama ini masih berstatus stasi.</p>
<p>Kehadiran seorang uskup bagi umat yang hidup dalam komunitas kecil, perjumpaan dengan gembala Gereja merupakan kesempatan untuk meneguhkan iman, menyampaikan pergumulan, serta mengutarakan harapan tentang masa depan komunitas mereka.</p>
<p>Di Waropen, harapan itu memiliki arti yang sangat khusus: kerinduan agar status stasi dapat ditingkatkan menjadi paroki definitif.</p>
<p>Di balik kunjungan Uskup Timika, terdapat impian agar kehidupan menggereja semakin bertumbuh, pelayanan pastoral semakin dekat dengan umat, dan pembinaan iman dapat berlangsung lebih teratur serta berkelanjutan.</p>
<p>Karena itu, kunjungan Uskup Timika menjadi agenda penting yang telah dipersiapkan oleh umat. Dalam keadaan seperti ini, pilihan untuk memberikan perhatian pada kebutuhan pastoral di daerah sendiri merupakan bagian dari tanggung jawab yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan iman.</p>
<p>Di sisi lain, kesibukan pemerintahan juga menjadi pertimbangan. Sebagai Bupati Waropen, Drs. F.X. Mote, M.Si., memiliki tanggung jawab pelayanan publik yang menuntut perhatian dan kehadiran di tengah masyarakat. Pemerintahan tidak dapat berhenti berjalan hanya karena terdapat agenda besar di daerah lain.</p>
<p>Di antara panggilan Gereja dan tanggung jawab pemerintahan itulah Waropen menyusun langkahnya. Tidak semua mata lomba dapat diikuti, tetapi pintu partisipasi dalam Pesparani tetap terbuka. Kontingen Waropen hadir dengan kemampuan yang dimiliki, membawa semangat yang tidak dapat diukur hanya melalui jumlah peserta.</p>
<p><strong>Pesparani Bukan Hanya Tentang Piala</strong></p>
<p>Bagi Bernadetha Goo Mote, makna Pesparani jauh melampaui persaingan antarkontingen.</p>
<p>Pesta ini merupakan perayaan iman yang mempertemukan umat dalam satu semangat persaudaraan. Setiap lagu yang dinyanyikan, setiap ayat Kitab Suci yang direnungkan, dan setiap penampilan yang dipersembahkan menjadi bagian dari ungkapan syukur kepada Tuhan.</p>
<p>Di atas panggung, kontingen mungkin dinilai berdasarkan teknik, ketepatan, penampilan, dan kriteria perlombaan lainnya. Namun, di luar panggung, terdapat sesuatu yang lebih mendasar: kesediaan untuk datang, saling mengenal, menghargai perbedaan, dan berjalan bersama sebagai sesama umat beriman.</p>
<p>Dalam perspektif itulah keikutsertaan Waropen patut dimaknai. Sedikitnya kategori lomba yang diikuti tidak serta-merta berarti kecilnya komitmen terhadap kehidupan menggereja. Jumlah peserta tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman penghayatan iman.</p>
<p>Sebab, iman tidak hanya tumbuh di tengah sorak-sorai kemenangan. Iman juga berakar dalam kesetiaan pada tugas sehari-hari, dalam pelayanan kepada sesama, serta dalam keberanian menjaga harapan ketika sumber daya dan kesempatan masih terbatas.</p>
<p>“Kehadiran kami dari Waropen merupakan pernyataan bahwa umat Katolik Waropen ingin tetap berjalan bersama Gereja, bersama sesama umat, dan bersama seluruh masyarakat Papua,” ungkap Ny. Bernadetha, Goo Mote.</p>
<p><strong>Ketika Kehadiran Menjadi Kesaksian</strong></p>
<p>Di tengah gemerlap panggung Pesparani II Papua, kehadiran Waropen menyampaikan pesan yang sederhana tetapi mendalam: persaudaraan tidak mensyaratkan kesempurnaan, dan partisipasi tidak harus menunggu semua keadaan menjadi ideal.</p>
<p>&#8220;Ada keterbatasan yang harus diakui, ada prioritas yang perlu dijalankan, dan ada harapan yang masih diperjuangkan. Namun, semua itu tidak meniadakan kemungkinan untuk tetap berjalan bersama. Waropen mungkin tidak mengikuti semua mata lomba. Namun, dari kehadiran kami di Biak, tersimpan sebuah pesan: bahwa dalam perjalanan iman, yang terpenting bukanlah seberapa banyak piala yang dibawa pulang, melainkan seberapa teguh persaudaraan dipelihara dan seberapa besar harapan terus dihidupkan. Sebab, Papua tanah damai tidak dibangun oleh satu suara yang paling lantang, tetapi oleh banyak suara yang bersedia bernyanyi bersamadalam perbedaan, dalam kesetiaan, dan dalam kasih yang mempersatukan,&#8221; ungkap Ny. Bernadetha Goo Mote menutup sesi wawancaranya.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
