<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pameran Lukisan Galeri Cemara &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/pameran-lukisan-galeri-cemara/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Oct 2026 18:56:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Pameran Lukisan Galeri Cemara &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yusuf Susilo Hartono: Menangkap Momen, Menegosiasikan Tubuh Urban</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/kolom/yusuf-susilo-hartono-menangkap-momen-menegosiasikan-tubuh-urban</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2026 18:50:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran Lukisan]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran Lukisan Galeri Cemara]]></category>
		<category><![CDATA[YSH Pamerkan Tubuh Urban]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Susilo Hartono (YSH)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12010</guid>

					<description><![CDATA[Nuyang Jaimee &#124; Penulis JAKARTA — Ada perjalanan panjang yang membuat Yusuf Susilo Hartono (YSH) sulit ditempatkan hanya dalam satu dunia. Ia pelukis, penyair, sekaligus jurnalis senior. Tiga bidang itu bukan berjalan sendiri-sendiri, melainkan seperti tiga aliran yang bertemu dalam satu sungai kreativitas: melihat, mencatat, lalu mengendapkannya menjadi karya. Kini, menjelang pameran tunggalnya yang ke-14, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Nuyang Jaimee | Penulis</strong></span></p>
<p><strong>JAKARTA</strong> — Ada perjalanan panjang yang membuat Yusuf Susilo Hartono (YSH) sulit ditempatkan hanya dalam satu dunia. Ia pelukis, penyair, sekaligus jurnalis senior. Tiga bidang itu bukan berjalan sendiri-sendiri, melainkan seperti tiga aliran yang bertemu dalam satu sungai kreativitas: melihat, mencatat, lalu mengendapkannya menjadi karya.</p>
<figure id="attachment_11999" aria-describedby="caption-attachment-11999" style="width: 202px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-11999 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0009-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0009-202x300.jpg 202w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0009-688x1024.jpg 688w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0009-768x1143.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0009.jpg 860w" sizes="(max-width: 202px) 100vw, 202px" /><figcaption id="caption-attachment-11999" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Dewabrata, 2018 (Foto: YSH)</figcaption></figure>
<p>Kini, menjelang pameran tunggalnya yang ke-14, YSH kembali membawa publik memasuki wilayah yang sejak lama menjadi perhatiannya: manusia dan kehidupannya. Bertajuk <strong>“Negosiasi Tubuh Urban: Tradisi, Warisan dan Gaya Hidup”</strong>, pameran berlangsung 9–18 Oktober 2026 di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, Jakarta Pusat. Pameran menampilkan lukisan, sketsa, ilustrasi, dan gambar dengan beragam medium serta rentang tahun penciptaan.</p>
<p>Tetapi pameran itu bukan titik awal. Ia adalah salah satu persinggahan dari perjalanan yang dimulai sejak awal 1980-an.</p>
<figure id="attachment_12004" aria-describedby="caption-attachment-12004" style="width: 225px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-12004 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0002-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0002-225x300.jpg 225w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0002-767x1024.jpg 767w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0002-768x1025.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0002.jpg 959w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /><figcaption id="caption-attachment-12004" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono (YSH)</figcaption></figure>
<p>Lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 18 Maret 1958, YSH merupakan mantan guru yang kemudian menekuni dunia jurnalistik dan seni. Sejak dekade 1980-an ia telah aktif berpameran, baik tunggal maupun bersama. Rekam jejaknya mencakup Balai Budaya Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Galeri Nasional Indonesia, Museum Nasional Indonesia, Pusat Kebudayaan Jepang-Jakarta, hingga sejumlah galeri di Jakarta dan Surabaya. Pada 2022, ia menggelar pameran tunggal <strong>“Among Jiwo”</strong>, sebagai refleksi 40 tahun berkarya, di Museum Nasional.</p>
<p>Salah satu ciri penting perjalanan keseniannya adalah sketsa. Bagi YSH, sketsa bukan sekadar latihan tangan atau catatan visual. Ia dapat menjadi semacam catatan jurnalistik. Pada 2013, ketika memamerkan 75 sketsa jurnalistik di Emmitan Gallery Surabaya, YSH menyebut karya-karyanya sebagai bentuk syukur atas sekitar 2.000 karya yang telah dibuat selama lebih dari tiga dekade. Tema sketsanya bergerak dari kehidupan pribadi, lingkungan, bangsa dan negeri, hingga peristiwa di luar negeri.</p>
<figure id="attachment_12013" aria-describedby="caption-attachment-12013" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-12013" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0004-300x205.jpg" alt="" width="300" height="205" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0004-300x205.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0004-1024x700.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0004-768x525.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0004.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-12013" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Lanskap Kopi, 2025, medium tinta dan kopi pada kertas. (Foto: YSH)</figcaption></figure>
<p>Pengalaman tersebut kemudian dihimpun dalam buku <strong><em>Menangkap Momen, Memaknai Esensi (Moment and Essence)</em></strong> yang terbit pada 2013. Buku itu mendokumentasikan pilihan sketsa dari perjalanan panjangnya. Dengan demikian, proses menggambar bagi YSH sekaligus menjadi proses menangkap waktu: apa yang dilihat mata, dicatat tangan, kemudian dimaknai kembali oleh batin.</p>
<p>Di luar seni rupa, YSH menjalani perjalanan panjang sebagai wartawan. Karier jurnalistiknya bermula dari Bojonegoro, kemudian berlanjut ke Jakarta. Ia pernah menjadi wartawan <strong>Surabaya Post</strong>, termasuk di perwakilan Jakarta, dan kemudian berkarya di berbagai media seni dan kebudayaan. Ia juga pernah memimpin redaksi <strong>Visual Arts</strong> serta <strong>Majalah Galeri</strong>, yang terkait dengan Galeri Nasional Indonesia. Ia tercatat sebagai pemegang Kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers sejak 2017 dan aktif dalam organisasi kewartawanan, termasuk PWI.</p>
<p>Jurnalistik tampaknya memberi YSH satu kebiasaan penting: melihat kenyataan secara dekat. Kebiasaan itu kemudian bertemu dengan naluri seorang seniman. Ia tidak hanya melihat bentuk, tetapi mencari persoalan di balik bentuk.</p>
<p>Hal serupa tampak dalam perjalanan kepenyairannya. YSH menulis dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Antologi <strong><em>Ombak Wengi</em></strong>, kumpulan 99 geguritan yang merekam puisi Jawa pilihan sepanjang 1981–2011, memperoleh <strong>Hadiah Sastra Rancage 2012</strong> untuk karya sastra Jawa.</p>
<p>Ia juga menerbitkan karya-karya puisi lain, antara lain <em>Aku Memilih Jadi Cahaya</em>, <em>Serat Plerok</em>, dan <em>Gurit Saidu</em>. Dalam perjalanan sastra Jawanya, YSH tidak sekadar mempertahankan tradisi, tetapi mengeksplorasi bentuk dan cara ungkap yang lebih kontemporer.</p>
<figure id="attachment_12012" aria-describedby="caption-attachment-12012" style="width: 211px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-12012 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0003-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0003-211x300.jpg 211w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0003-719x1024.jpg 719w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0003-768x1093.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0003.jpg 899w" sizes="(max-width: 211px) 100vw, 211px" /><figcaption id="caption-attachment-12012" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Haryono, Drama Tamara Blezinsky, 2002, Tinta dan Kopi. (Foto: YSH)</figcaption></figure>
<p>Kini, semua pengalaman itu seperti kembali bertemu di atas kanvas.</p>
<p>Kurator pameran, Dr. Citra Smara Dewi, melihat <em>Negosiasi Tubuh Urban</em> bukan sekadar pameran tentang tubuh. Menurutnya, karya-karya YSH merupakan muara perenungan batin dan perjalanan spiritual yang panjang. Melukis dan menulis, kata Citra, telah menyatu sebagai tarikan napas kontemplatif untuk mengendapkan nilai moral dan kebajikan.</p>
<p>Dalam karya-karya terbarunya, “tubuh” tidak semata-mata dipahami sebagai anatomi manusia. Tubuh menjadi medan negosiasi antara modernitas, tradisi, warisan, dan gaya hidup konsumtif. Jakarta dan kehidupan metropolitan menjadi ruang tempat manusia berhadapan dengan tekanan sosial, ekonomi, politik, sekaligus godaan konsumsi.</p>
<figure id="attachment_11996" aria-describedby="caption-attachment-11996" style="width: 227px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-11996 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003-227x300.jpg 227w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003-774x1024.jpg 774w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003-768x1016.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003.jpg 968w" sizes="(max-width: 227px) 100vw, 227px" /><figcaption id="caption-attachment-11996" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Perempuan Kafé (Hamburger), 2026. (Foto YSH)</figcaption></figure>
<p>Gagasan itu terlihat antara lain melalui konsep <strong>“Tubuh Konsumtif”</strong>, berdampingan dengan “Tubuh Sekuler”, “Tubuh Adaptif/Kreatif”, “Tubuh Religius”, dan “Tubuh Mengalam”. Wajah-wajah manusia yang tertutup makanan—ikan, telur, sate hingga minuman—menjadi metafora tentang manusia urban yang artikulasinya dapat dibungkam oleh kenikmatan konsumsi.</p>
<p>Di sinilah pengalaman seorang wartawan, penyair, dan pelukis bertemu. Wartawan merekam kenyataan. Penyair merasakan kedalaman makna. Pelukis mengubah pengalaman itu menjadi bahasa visual.</p>
<figure id="attachment_12001" aria-describedby="caption-attachment-12001" style="width: 226px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-12001 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0005-226x300.jpg" alt="" width="226" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0005-226x300.jpg 226w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0005-770x1024.jpg 770w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0005-768x1021.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0005.jpg 963w" sizes="(max-width: 226px) 100vw, 226px" /><figcaption id="caption-attachment-12001" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Berzikir Maka Aku Ada, 2026. (Foto YSH)</figcaption></figure>
<p>Maka perjalanan YSH sesungguhnya bukan sekadar perjalanan seorang pelukis dari satu pameran ke pameran berikutnya. Ia adalah perjalanan seseorang yang terus mengamati manusia, kota, zaman, tradisi, dan perubahan. Dari sketsa jurnalistik hingga puisi Jawa, dari catatan kehidupan hingga tubuh urban, YSH terus melakukan hal yang sama: <strong>menangkap momen, mencari esensi, lalu mempertanyakannya kembali melalui seni.</strong></p>
<p>Pada usia ketika banyak orang mulai mengurangi langkah, YSH justru kembali membuka ruang dialog melalui karya. Kali ini tubuh urban menjadi pintunya. Dan di balik tubuh itu, yang sebenarnya sedang ia ajak bicara adalah manusia: tentang siapa dirinya, apa yang diwarisinya, apa yang dikonsumsinya, dan ke mana ia akan membawa dirinya di tengah kota yang terus berubah. [PM]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-12014 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/image_39781f2e-245x300.jpg" alt="" width="245" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/image_39781f2e-245x300.jpg 245w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/image_39781f2e-837x1024.jpg 837w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/image_39781f2e-768x940.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/image_39781f2e.jpg 928w" sizes="(max-width: 245px) 100vw, 245px" /></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Tentang Penulis:</strong></span></p>
<p><em>Nuyang Jaimee</em> adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>YSH PAMERKAN TUBUH URBAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/nasional/ysh-pamerkan-tubuh-urban</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2026 17:52:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran Lukisan]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran Lukisan Galeri Cemara]]></category>
		<category><![CDATA[YSH Pamerkan Tubuh Urban]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Susilo Hartono (YSH)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11929</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Nuyang Jaimee JAKARTA- 5 Oktober 2026 Pelukis dan wartawan senior Yusuf Susilo Hartono (YSH) memamerkan tubuh urban di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, Jakarta Pusat, 9-18 Oktober 2026. Berupa lukisan, sketsa, ilustrasi dan gambar, bergaman medium dan tahun. Bertajuk Negoisasi Tubuh Urban : Tradisi, Warisan dan Gaya Hidup. Pameran akan diresmikan oleh Maya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Laporan: Nuyang Jaimee</strong></span></p>
<p>JAKARTA- 5 Oktober 2026</p>
<p>Pelukis dan wartawan senior Yusuf Susilo Hartono (YSH) memamerkan tubuh urban di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, Jakarta Pusat, 9-18 Oktober 2026. Berupa lukisan, sketsa, ilustrasi dan gambar, bergaman medium dan tahun. Bertajuk Negoisasi Tubuh Urban : Tradisi, Warisan dan Gaya Hidup. Pameran akan diresmikan oleh Maya Saraswati Rizano, professional komunikasi korporat dan pecinta seni.</p>
<figure id="attachment_11995" aria-describedby="caption-attachment-11995" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-11995 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0004-300x181.jpg" alt="" width="300" height="181" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0004-300x181.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0004-1024x619.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0004-768x464.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0004.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-11995" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Lelaki dan Perempuan Wine, 2026 (Foto YSH)</figcaption></figure>
<p>“Pameran tunggal YSH ke 14 ini, bukan sekadar sublimasi visual atas dinamika ketubuhan dan keurbanan, melainkan muara dari perenungan batin dan perjalanan spiritual seorang Yusuf Susilo Hartono,” tutur Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Dr. Citra Smara Dewi, selaku kurator pameran.</p>
<p>Lebih lanjut Citra, yang juga anggota Tim Kurator Galeri Nasional Indonesia, menambahkan bahwa melukis dan menulis bagi YSH, yang juga dikenal sebagai wartawan senior, telah menyatu menjadi satu tarikan napas kontemplatif untuk mengendapkan nilai-nilai moralitas dan kebajikan.</p>
<figure id="attachment_12000" aria-describedby="caption-attachment-12000" style="width: 248px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-12000 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0007-248x300.jpg" alt="" width="248" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0007-248x300.jpg 248w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0007-846x1024.jpg 846w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0007-768x929.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0007.jpg 1058w" sizes="(max-width: 248px) 100vw, 248px" /><figcaption id="caption-attachment-12000" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Metropolitan dari Celah Pohon Pisang, 2026 (Foto YSH)</figcaption></figure>
<p>“Melalui pertaruhan estetis dan etis dalam pameran <em>Negosiasi Tubuh Urban</em> ini, YSH mengajak publik untuk memandangi cermin sosial perkotaan kita sendiri—sebuah ajakan untuk mengevaluasi wacana ketubuhan, identitas, dan jiwa kita di tengah riuh rendah zaman yang kian terasing dari esensinya,” tandasnya.</p>
<figure id="attachment_11994" aria-describedby="caption-attachment-11994" style="width: 222px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-11994 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0006-222x300.jpg" alt="" width="222" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0006-222x300.jpg 222w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0006-758x1024.jpg 758w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0006-768x1037.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0006.jpg 948w" sizes="(max-width: 222px) 100vw, 222px" /><figcaption id="caption-attachment-11994" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Melayang di Negeri Kabut ,2026 (Foto YSH)</figcaption></figure>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Tubuh sebagai Medan Pertarungan Ideologis</strong></span></p>
<p>Menurut Citra, YSH menjadikan Jakarta dan dinamika megalopolis sebagai ruang spekulasi dan kontemplasi  konseptual. &#8220;Tubuh&#8221; dalam karya-karya terbarunya bukan dibaca dan dinikmati  sebagai representasi anatomis ketubuhan,  melainkan sebuah medan pertarungan ideologis tempat berlangsungnya tawar-menawar atau negosiasi antara modernitas yang hegemonik, jejak tradisi, dan godaan gaya hidup konsumeris. “Kota besar hadir sebagai struktur yang terus bergolak tempat individu dipaksa melakukan kompromi eksistensial di tengah himpitan sosial, ekonomi, dan politik perkotaan.,” ujar Citra.</p>
<figure id="attachment_11996-2" aria-describedby="caption-attachment-11996-2" style="width: 227px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-11996 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003-227x300.jpg 227w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003-774x1024.jpg 774w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003-768x1016.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0003.jpg 968w" sizes="(max-width: 227px) 100vw, 227px" /><figcaption id="caption-attachment-11996-2" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Perempuan Kafé (Hamburger), 2026. (Foto YSH)</figcaption></figure>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Tubuh Konsumtif dan MBG</span></strong></p>
<p>Penajaman wacana ini mengkristal secara kuat pada karya-karyanya dengan pendekatan konsep &#8220;Tubuh Konsumtif&#8221;; disamping “Tubuh Sekuler”, “Tubuh Adaptif/Kreatif”, “Tubuh Religius”, dan “Tubuh Mengalam”. Melalui penggambaran objek wajah-wajah yang dibungkam oleh aneka komoditas pangan—seperti ikan, telur, sate, hingga minuman beralkohol—YSH secara kritis mendedahkan bagaimana gaya hidup urban membelenggu artikulasi manusia.</p>
<p>Bungkaman makanan tersebut menjadi metafora ganda: menelanjangi fetisisme gaya hidup perkotaan sekaligus menyenggol secara tajam dinamika politik-ekonomi kontemporer, seperti persaingan perebutan ruang dan wacana kekuasaan di balik program kebijakan publik seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). “Wajah-wajah yang dibungkam oleh santapan lezat ini menandaskan bahwa dalam masyarakat konsumtif, artikulasi kritis sering kali dilumpuhkan oleh pemanjaan instan,” tutur Citra.</p>
<figure id="attachment_11997" aria-describedby="caption-attachment-11997" style="width: 239px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-11997 size-medium" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0010-239x300.jpg" alt="" width="239" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0010-239x300.jpg 239w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0010-815x1024.jpg 815w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0010-768x965.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261005-WA0010.jpg 1019w" sizes="(max-width: 239px) 100vw, 239px" /><figcaption id="caption-attachment-11997" class="wp-caption-text">Yusuf Susilo Hartono, Perempuan Kafé (Telur), 2026. (Foto YSH)</figcaption></figure>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Program Publik</span></strong></p>
<p>Pameran terbuka untuk umum dan gratis ini, dilengkapi dengan program publik. Berupa diskusi dengan pembicara Citra Smara Dewi dan Dhianita Kusuma Pertiwi mengangkat tema <em>Kedaulatan Tubuh dan Budaya Urban, </em>pada Jumat (14/10/2026) dengan moderator Hilmi Faiq (jurnalis/seniman). Dan YSH akan memberikan <em>Klinik Sketsa</em>, bagi para sketser pemula, selama berlangsungnya pameran. Pameran dan kegiatan publik ini didukung oleh Djarum Foundation, Cemara 6 Galeri, dan para pecinta seni rupa dari berbagai lintas bidang. (*) [PM]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12003" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0001-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0001-225x300.jpg 225w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0001-767x1024.jpg 767w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0001-768x1025.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261007-WA0001.jpg 959w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></p>
<p>PERJALANAN HIDUP YSH</p>
<p><em>Yusuf Susilo Hartono (YSH), dikenal sebagai pelukis,penyair, dan jurnalis senior. Mantan guru ini aktif berkarya dan pameran tunggal dan bersama sejak 1980-an sampai sekarang. Belasan kali pameran tunggal, antara lain di Balai Budaya Jakarta, Taman Ismail Marzuki</em><br />
<em>(TIM), Galeri Nasional Indonesia, Museum Nasional Indonesia, Pusat Kebudayaan Jepang &#8211; Jakarta, Galeri Masterpiece, Emmitan Contemporary Art Gallery Surabaya, dan Expose The C</em><em>afé. Sewaktu pandemi Covid-19 pameran daring di kanal YouTube &#8211; Kemdikbud. Pameran bersama antara lain di Bentara Budaya Jakarta, Menara Kompas, Galeri Hidayat Bandung, dan B</em><em>ank di Manado. Penghargaan seni rupa yang pernah diterima: Finalis Indonesia Art Award (2000), dan Indofood Art Award (2021). Buku kumpulan sketsanya Moment and Essence (2013), menghimpun 300-an karya dari ribuan sketsa, lukisan, drawing, dan ilustrasi. Pernah aktif sebagai pengurus Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) 1997-2015. Karya-karyanya dikoleksi para kolektor, pengusaha, birokrat, akademisi, wartawan, diplomat, dari dalam dan l</em><em>uar negeri. Karier jurnalistik pemegang Kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers (2017), dimulai dari kampung halaman Bojonegoro, Jawa Timur, berlanjut di Jakarta. Antara lain sebagai wartawan S</em><em>urabaya Post di Bojonegoro lanjut di perwakilan Jakarta (1986-1999), Harian Merdeka, pemred Majalah Seni Rupa Visual Arts (2017-2011), dan Majalah Galeri (Galeri Nasional Indonesia), 2012-2022. Selain itu sering menjadi juri lomba seni rupa, kurator, pembicara dan </em><em>moderator. Menulis buku biografi para pesohor antara lain diterbitkan oleh Penerbit Kompas dan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Pada perayaan Indonesia Emas menjadi Humas Kongres Kesenian Indonesia I/1995. Aktif di PWI Jaya 1990-an, dan berlanjut di PWI Pusat sejak 2008-sekarang, mengurus bidang kebudayaan dan seni. Tahun 2025, mendapat pengakuan dari Badan Bahasa sebagai (salah satu) Penyair Indonesia yang berpuisi selama 40 tahun lebih. Buku antologi puisi jawanya Ombak Wengi (2011) mendapat Hadiah Sastra Rancage.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
