<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nuyang Jaimee &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/nuyang-jaimee/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Sep 2026 18:19:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Nuyang Jaimee &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>NUYANG JAIMEE: Doa &#038; Rindu Lima Nama di Selat Sunda</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/umum/nuyang-jaimee-doa-rindu-lima-nama-di-selat-sunda</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2026 18:09:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Karya]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Lima Nama di Selat Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Nuyang Jaimee]]></category>
		<category><![CDATA[Pembacaan Puisi Nuyang Jaimee]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Nuyang Jaimee]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11467</guid>

					<description><![CDATA[Redaksi Suara Anak Negeri Kekuatan utama puisi Lima Nama di Selat Sunda karya Nuyang Jaimee yang dibacakan Senin malam 14 September 2026 di Plaza Taman Ismail Marzuki dibacara &#8220;Malam Doa dan Rindu, Menanti Kabar 5 Wartawan yang Hilang Di Krakatau&#8221; ini terletak pada pergeseran sudut pandang: dari sebuah peristiwa jurnalistik menjadi persoalan kemanusiaan. Pada awalnya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #0000ff;">Redaksi Suara Anak Negeri</span></strong></p>
<p>Kekuatan utama puisi Lima Nama di Selat Sunda karya Nuyang Jaimee yang dibacakan Senin malam 14 September 2026 di Plaza Taman Ismail Marzuki dibacara &#8220;Malam Doa dan Rindu, Menanti Kabar 5 Wartawan yang Hilang Di Krakatau&#8221; ini terletak pada pergeseran sudut pandang: dari sebuah peristiwa jurnalistik menjadi persoalan kemanusiaan.</p>
<p>Pada awalnya, lima wartawan digambarkan sebagai orang-orang yang menjalankan profesinya—membawa kamera, catatan, dan keinginan untuk melihat lebih dekat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tetapi setelah komunikasi terputus, mereka tidak lagi sekadar menjadi subjek berita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11458" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038-300x167.jpg" alt="" width="300" height="167" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038-300x167.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038-1024x571.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038-768x428.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0038.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Mereka berubah menjadi lima manusia yang sedang ditunggu kepulangannya.<br />
Kalimat:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Krakatau,</em><br />
<em>hari ini kami tidak sedang menulis</em><br />
<em>tentang letusan</em><br />
<em>Kami sedang menunggu</em><br />
<em>lima manusia pulang”</em></p>
<p>menjadi titik emosional penting dalam puisi. Di sini Nuyang membalik fungsi jurnalistik. Biasanya wartawan membawa berita kepada masyarakat. Kini justru masyarakat, keluarga, dan sesama wartawan menunggu berita tentang mereka.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11469" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430-245x300.jpg" alt="" width="245" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430-245x300.jpg 245w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430-837x1024.jpg 837w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430-768x940.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_010430.jpg 1080w" sizes="(max-width: 245px) 100vw, 245px" /></p>
<p>Puisi kemudian membangun pertentangan antara keberanian dan ketidakberdayaan. Lima wartawan pergi mendekati bencana agar masyarakat dapat mengetahui apa yang terjadi. Mereka<em> “menulis ketika yang lain memilih diam”, “bertanya ketika kekuasaan ingin pertanyaan hilang”</em>, dan “<em>membawa suara ketika seringkali suara tak terdengar dan dibungkam.”</em> Bagian ini memperluas makna profesi wartawan: bukan hanya pekerjaan mengambil gambar atau menulis berita, tetapi bagian dari upaya menghadirkan kesaksian kepada publik.</p>
<p>Namun paradoks terbesar muncul dalam bait:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>&#8220;Dan kini</em><br />
<em>suara mereka sendiri</em><br />
<em>yang sedang kami tunggu”</em></p>
<p>Inilah salah satu pusat kekuatan puisi. Orang-orang yang selama ini merekam suara orang lain, kini justru menjadi suara yang hilang. Kamera yang biasanya menghasilkan gambar, kini menjadi simbol penantian.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11461" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114-300x207.jpg" alt="" width="300" height="207" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114-300x207.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114-1024x708.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114-768x531.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_002114.jpg 1349w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Diksi “lima nama” juga sengaja lebih kuat daripada sekadar menyebut “lima wartawan”. Nama menunjukkan identitas manusia. Mereka bukan angka dalam laporan kehilangan. Karena itu, bagian akhir bergerak dari profesi menuju keluarga:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Sebab di balik setiap kamera</em><br />
<em>ada mata</em><br />
<em>di balik setiap berita</em><br />
<em>ada keberanian</em><br />
<em>di balik lima nama</em><br />
<em>yang malam ini</em><br />
<em>kami sebut dalam doa</em><br />
<em>ada lima keluarga</em><br />
<em>yang sedang menunggu”</em></p>
<p>Penutup ini mengembalikan seluruh persoalan kepada manusia. Wartawan tidak hanya memiliki kamera, profesi, dan tugas. Mereka memiliki keluarga, orang-orang yang mencintai, dan rumah untuk pulang.</p>
<p>Secara struktur, puisi ini juga mengikuti perjalanan emosional sebuah malam doa: dimulai dari fakta dan kronologi, bergerak menuju kecemasan, kemudian menjadi doa, lalu ditutup dengan harapan. Pengulangan<em> “Kami masih hidup!”</em> tiga kali menjadi semacam suara imajiner dari mereka yang sedang dicari. Repetisi tersebut bukan sekadar penegasan, tetapi menjadi mantra harapan agar pencarian tidak berakhir pada kabar duka.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11468" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956-300x217.jpg" alt="" width="300" height="217" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956-300x217.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956-1024x742.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956-768x556.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260917_005956.jpg 1364w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Ada pula personifikasi terhadap Krakatau dan laut. Krakatau diajak berbicara:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Krakatau,</em><br />
<em>kalau kau masih menyimpan mereka</em><br />
<em>jangan sakiti mereka”</em></p>
<p>Laut yang dalam berita menjadi ruang pencarian, dalam puisi berubah menjadi kemungkinan jalan pulang: <em>“Biarkan laut menjadi jalan pulang.”</em> Dengan demikian, alam tidak hanya tampil sebagai ancaman, tetapi juga sebagai ruang yang masih mungkin mengembalikan mereka.<br />
Pada akhirnya,<em> “Lima Nama di Selat Sunda”</em> bukan puisi tentang kematian. Ia justru menolak mendahului takdir. Puisi ini berdiri di wilayah antara kehilangan dan harapan—antara kabar yang belum datang dan doa agar kabar itu membawa keselamatan.</p>
<p>Karena itu, baris:</p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Dan Indonesia,</em><br />
<em>jika esok mereka kembali,</em><br />
<em>jangan hanya sambut mereka</em><br />
<em>sebagai berita</em><br />
<em>Sambut mereka</em><br />
<em>sebagai manusia”</em></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-11463" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0076-300x170.jpg" alt="" width="300" height="170" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0076-300x170.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0076-768x435.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0076.jpg 896w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>menjadi penutup yang sangat penting. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap berita selalu ada manusia yang menjalankan tugas dengan risiko nyata.<br />
Untuk malam “Doa dan Rindu”, puisi ini berfungsi bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi sebagai kesaksian emosional dari komunitas pers dan masyarakat yang sedang menunggu.</p>
<p>Lima nama belum selesai menjadi berita. Lima nama masih dipanggil dalam doa. Dan selama harapan belum padam, laut Selat Sunda masih menyimpan kemungkinan: membawa mereka pulang!. [PM]</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SUARA PEREMPUAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/trending/suara-perempuan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 16:04:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Nuyang Jaimee]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA PEREMPUAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7650</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Nuyang Jaimee Seorang perempuan menggulung sanggulnya dadanya koyak matanya berkabut kekerasan datang seperti api rumah berubah jadi ruang eksekusi Almanak tak pernah selesai menghitung musim demi musim kekejaman tak bergeming setiap lebam adalah riwayat tubuh perempuan jadi hikayat jejak penyiksaan, kekuasaan yang menjadi pengadilan mengalahkan kuasa Tuhan Cinta tumbuh menyesakkan kesetiaan jadi doktrin [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Oleh : Nuyang Jaimee</strong></span></p>
<p>Seorang perempuan<br />
menggulung sanggulnya<br />
dadanya koyak<br />
matanya berkabut<br />
kekerasan datang seperti api<br />
rumah berubah jadi ruang eksekusi</p>
<p>Almanak tak pernah selesai<br />
menghitung musim demi musim<br />
kekejaman tak bergeming<br />
setiap lebam adalah riwayat<br />
tubuh perempuan jadi hikayat<br />
jejak penyiksaan, kekuasaan<br />
yang menjadi pengadilan<br />
mengalahkan kuasa Tuhan</p>
<p>Cinta tumbuh menyesakkan<br />
kesetiaan jadi doktrin kepatuhan<br />
setiap maaf adalah pisau yang menunda kematian<br />
hari demi hari mengumpulkan nyawa yang hilang</p>
<p>Anak-anak berhenti tertawa<br />
ibu tak punya jarik untuk mengusap airmata<br />
hentakan kaki datang menginjak harapan<br />
mengubah malam semakin mencekam<br />
setiap hari anak-anak memanen kebencian</p>
<p>keluarga adalah rahim yang melahirkan peradaban<br />
tak ada agama, adat, hukum bahkan kekuasaan yang layak<br />
jika masih ada perempuan dan seorang anak yang tidur<br />
dalam jerit dan ketakutan</p>
<p>Hari ini aku ingin mengembalikan suara<br />
kepada mereka yang dibungkam nestapa<br />
ketika mata perempuan dipenuhi telaga<br />
ketika kanak-kanak dipaksa memeras airmata<br />
sebab luka dan ketakutan bukan warisan<br />
sebab cinta tak melahirkan penindasan<br />
sebab cinta tak seharusnya ditulis<br />
dengan sejarah kelam</p>
<p><strong>Jatiasih, 13.06.26/22.09</strong></p>
<p><strong>BIONARASI</strong></p>
<p><strong>NUYANG JAIMEE</strong></p>
<p><em>Mengawali karir berkesenian melalui proses teater awal tahun 2000an. Lalu menulis cerpen dan puisi. Cerpen dan puisinya masuk di beberapa media massa di Jakarta, daerah dan majalah sastra di Indonesia. Masuk dalam antologi cerpen dan puisi bersama dalam dan luar negeri. Pendiri dan Direktur Pelaksana lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI), pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Bergabung di komunitas sastra Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ). Sampai saat ini aktif menginisiasi dan terlibat di berbagai pertemuan festival sastra dan event kesenian baik di Indonesia maupun di luar negeri. Sampai saat ini aktif sebagai entertainer, pemain teater, monolog, sutradara, pemerhati dan aktifis teater dan sastra. Sebagai penulis esai, features, cerpen, puisi, naskah drama, skenario dan sebagai pengajar/pelatih seni teater dan sastra di sekolah. Sebagai performer, pembaca puisi, narasumber, moderator sekaligus Master of Ceremony. Juara satu lomba baca puisi se-Asia Tenggara di Malaysia dalam acara ZKMUA. Juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa (lukisan) oleh Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya” terbit tahun 2023.</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
