<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Merawat Ingatan &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/merawat-ingatan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Sep 2026 21:12:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Merawat Ingatan &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BERTEMU WIJI THUKUL: MENOLAK LUPA, MERAWAT INGATAN, DAN MENGHIDUPKAN KEMBALI SUARA PERLAWANAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/nasional/bertemu-wiji-thukul-menolak-lupa-merawat-ingatan-dan-menghidupkan-kembali-suara-perlawanan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 20:55:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Deskripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bertemu Wiji Thukul]]></category>
		<category><![CDATA[Front Penggerak Seniman TIM (FSP-TIM)]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Pekerja Seni Indonesia (MPSI)]]></category>
		<category><![CDATA[Menolak Lupa]]></category>
		<category><![CDATA[Merawat Ingatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10635</guid>

					<description><![CDATA[Nuyang Jaimee &#124; Penulis Ada alasan mengapa nama Wiji Thukul tidak pernah benar-benar hilang. Tubuhnya memang tidak diketahui keberadaannya sejak 1998, tetapi kata-katanya justru terus berjalan. Ia berpindah dari buku ke panggung, dari panggung ke jalan, dari poster ke mural, dari mulut penyair ke suara buruh, mahasiswa, aktivis, dan rakyat yang merasa haknya dirampas. Karena [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><span style="color: #0000ff;">Nuyang Jaimee | Penulis</span></strong></p>
<p style="text-align: left;">Ada alasan mengapa nama Wiji Thukul tidak pernah benar-benar hilang. Tubuhnya memang tidak diketahui keberadaannya sejak 1998, tetapi kata-katanya justru terus berjalan. Ia berpindah dari buku ke panggung, dari panggung ke jalan, dari poster ke mural, dari mulut penyair ke suara buruh, mahasiswa, aktivis, dan rakyat yang merasa haknya dirampas. Karena itu, ketika kegiatan “Bertemu Wiji Thukul” digelar pada Minggu, 30 Agustus 2026 di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pertemuan itu sesungguhnya bukan sekadar acara mengenang seorang penyair. Ia adalah pertemuan antara ingatan sejarah dengan kegelisahan hari ini.</p>
<p style="text-align: left;">Acara yang mengangkat semangat “Seni untuk Rakyat”, “Seni Adalah Senjata”, dan berkaitan dengan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional, menjadi penting justru karena ada sejarah yang belum selesai. Wiji Thukul bukan hanya nama yang melekat pada sebuah masa politik yang represif. Ia adalah salah satu simbol dari pertanyaan besar yang hingga sekarang belum memperoleh jawaban tuntas: di mana orang-orang yang dihilangkan secara paksa, apa yang terjadi kepada mereka, dan siapa yang harus bertanggung jawab?</p>
<p style="text-align: left;">Wiji Thukul adalah penyair sekaligus aktivis yang tumbuh dari lingkungan rakyat biasa. Ia tidak menulis dari menara gading. Puisinya lahir dari kampung, dari pengalaman rakyat kecil, dari persoalan buruh, penggusuran, kemiskinan, ketidakadilan, represi, dan pengalaman berhadapan dengan kekuasaan. Ia aktif dalam kegiatan kesenian sekaligus terlibat dalam gerakan sosial-politik. Puisi baginya bukan sekadar permainan estetika, melainkan alat untuk mengatakan sesuatu yang sering tidak boleh dikatakan.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10636" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0029-300x300.webp" alt="" width="300" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0029-300x300.webp 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0029-1024x1024.webp 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0029-150x150.webp 150w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0029-768x768.webp 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0029-1536x1536.webp 1536w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0029.webp 1600w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p style="text-align: left;">Kekuatan Thukul justru terletak pada bahasa yang relatif sederhana tetapi menghantam. “Peringatan”, “Sajak Suara”, dan “Bunga dan Tembok” menjadi karya yang sangat dikenal dan kerap dibacakan dalam aksi-aksi massa. Ketiganya bahkan tercatat sebagai karya yang populer dalam gerakan massa dan terdapat dalam antologi Mencari Tanah Lapang.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam Peringatan, misalnya, Thukul berbicara tentang hubungan rakyat dengan penguasa: ketika kritik dibungkam, suara tidak boleh dibantah, dan rakyat tidak diberi ruang untuk menyampaikan keberatan, maka demokrasi sedang berada dalam bahaya. Karena itu, kata-kata Thukul tidak pernah benar-benar menjadi milik masa lalu. Ia terus menemukan konteks baru setiap kali masyarakat berhadapan dengan pembungkaman, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan atau ketakutan untuk berbicara.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian pula Bunga dan Tembok. Bunga menjadi gambaran rakyat yang ingin tumbuh, sementara tembok menjadi simbol kekuasaan dan struktur yang menghalangi. Sedangkan Sajak Suara berbicara tentang suara yang tidak mudah dimatikan. Karya-karya tersebut menunjukkan bagaimana Thukul menjadikan puisi sebagai bahasa politik rakyat—bahasa yang tidak rumit, tetapi memiliki daya gugah. Sejumlah kajian sastra juga menempatkan karya-karya tersebut dalam tema kebebasan, demokrasi, politik dan kritik sosial.</p>
<p style="text-align: left;">Ada pula “Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa”, yang ditulis pada 18 Juni 1997. Puisi tersebut memperlihatkan keyakinan Thukul bahwa kata-kata dapat bertahan bahkan ketika tubuh seorang manusia berada dalam tekanan. Dalam konteks perjalanan hidupnya, kalimat itu kemudian memperoleh makna yang jauh lebih dalam: tubuhnya menghilang, tetapi kata-katanya justru semakin hidup.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10637" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203935-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203935-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203935-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203935-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203935.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p style="text-align: left;">Mengapa Wiji Thukul harus terus digaungkan?</p>
<p style="text-align: left;">Karena persoalan yang diperjuangkannya tidak berhenti bersama berakhirnya Orde Baru.<br />
Memang Indonesia telah berubah. Reformasi membuka ruang kebebasan yang jauh lebih luas dibandingkan masa sebelumnya. Tetapi demokrasi bukan benda yang sekali diperoleh lalu selesai. Demokrasi harus terus dijaga. Kebebasan berpendapat harus terus dipertahankan.</p>
<p style="text-align: left;">Hak rakyat untuk mengkritik kekuasaan harus terus dijamin. Dan ketika kekuasaan kembali menunjukkan kecenderungan untuk membungkam, membatasi, mengintimidasi atau mengabaikan suara masyarakat, maka ingatan terhadap perjuangan orang-orang seperti Thukul menjadi relevan.<br />
Di sinilah pentingnya “Bertemu Wiji Thukul”.</p>
<p style="text-align: left;">Mengenang Thukul bukan berarti mengajak masyarakat hidup dalam romantisme masa lalu. Sebaliknya, mengenang adalah cara untuk menguji masa kini. Apakah kita benar-benar telah belajar dari sejarah? Apakah kebebasan yang diperjuangkan pada masa Reformasi sudah menjadi milik semua orang? Apakah buruh, petani, masyarakat miskin kota, seniman, mahasiswa dan kelompok masyarakat lainnya benar-benar memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan keberatan tanpa ketakutan?</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10638" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213721-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213721-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213721-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213721-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213721.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p style="text-align: left;">Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Thukul tetap aktual.</p>
<p style="text-align: left;">Dan seni memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Ketika sebuah acara mengenang Thukul menghadirkan puisi, musik, teatrikal, diskusi dan film, sesungguhnya yang sedang dilakukan bukan sekadar pertunjukan. Seni sedang menjadi medium ingatan. Seni mengubah sejarah yang mungkin terasa jauh dan abstrak menjadi pengalaman emosional yang dapat dirasakan kembali oleh generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Menolak lupa terhadap orang-orang yang hilang</p>
<p style="text-align: left;">Persoalan paling mendasar dalam kisah Wiji Thukul adalah bahwa sampai hari ini keberadaannya tidak diketahui.<br />
Ia termasuk dalam daftar aktivis yang hilang dalam rangkaian penghilangan paksa 1997–1998. Komnas HAM telah melakukan penyelidikan dan merekomendasikan tindak lanjut terhadap kasus tersebut. DPR pada 2009 juga merekomendasikan kepada Presiden pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc, pencarian terhadap 13 orang yang masih dinyatakan hilang, rehabilitasi serta kompensasi bagi keluarga korban, dan ratifikasi Konvensi Anti Penghilangan Paksa. Namun rekomendasi-rekomendasi tersebut belum menghasilkan penyelesaian yang memberikan keadilan secara efektif bagi korban dan keluarga, data ini seperti dilansir KontraS Surabaya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10627" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p style="text-align: left;">Di sinilah luka demokrasi itu berada.<br />
Sebuah negara demokratis bukan hanya negara yang menyelenggarakan pemilu. Demokrasi juga berarti negara mampu memberikan jawaban ketika warganya hilang. Negara harus mampu menjelaskan apa yang terjadi, melakukan pencarian, mengungkap kebenaran, memastikan pertanggungjawaban hukum dan memberikan pemulihan kepada korban serta keluarganya.</p>
<p style="text-align: left;">Sebab bagi keluarga korban, waktu tidak pernah benar-benar menyelesaikan kehilangan. Tidak tahu adalah bentuk penderitaan yang berbeda dari kematian yang telah diketahui. Selama keberadaan seseorang tidak diketahui, pertanyaan terus hidup. Apakah ia masih hidup? Di mana ia berada? Siapa yang terakhir melihatnya? Siapa yang membawa? Siapa yang memerintahkan? Apa yang sebenarnya terjadi?</p>
<p style="text-align: left;">Karena itu, menolak lupa bukan sekadar slogan. Menolak lupa adalah tuntutan terhadap kebenaran. Siapa yang bertanggung jawab?</p>
<p style="text-align: left;">Pertanyaan ini tidak boleh dijawab secara serampangan dengan menunjuk seseorang tanpa proses hukum. Tetapi justru karena itulah pertanyaan tersebut harus terus diajukan.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam negara hukum, tanggung jawab harus ditelusuri melalui penyelidikan, penyidikan dan proses peradilan yang transparan. Mereka yang terbukti terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Institusi negara juga memiliki kewajiban untuk membuka informasi yang relevan, membantu pencarian korban dan memastikan proses hukum tidak berhenti karena berlalunya waktu.</p>
<p style="text-align: left;">Komnas HAM sendiri menempatkan penghilangan orang secara paksa yang korbannya belum kembali sebagai persoalan yang terus berlangsung atau continuing crime, senada dikatakan detikNews.</p>
<p style="text-align: left;">Maka persoalannya bukan sekadar “siapa Wiji Thukul?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: mengapa setelah puluhan tahun kita masih belum memperoleh jawaban mengenai nasibnya?</p>
<p style="text-align: left;">Dan pertanyaan itu membawa kita kepada persoalan yang lebih besar: seberapa serius negara menjaga hak warganya dari kekerasan dan penghilangan paksa?</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10625" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p style="text-align: left;">Itulah mengapa acara seperti “Bertemu Wiji Thukul” perlu terus ada. Bukan untuk memuja seorang tokoh. Bukan pula untuk menjadikan Thukul sebagai ikon yang hanya dicetak di kaus, poster dan spanduk. Yang jauh lebih penting adalah membaca kembali pikirannya, memahami keberpihakannya kepada rakyat kecil, serta meneruskan keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan.</p>
<p style="text-align: left;">Sebab jika Wiji Thukul hanya dikenang sebagai penyair yang hilang, kita kehilangan separuh maknanya. Thukul adalah penyair yang bersuara sebelum ia dihilangkan. Dan setelah ia hilang, suara itu justru lebih keras menghantam nurani kita.</p>
<p style="text-align: left;">Hari ini, generasi yang lahir jauh setelah Reformasi dapat membaca puisinya tanpa harus bersembunyi. Mereka dapat membicarakannya di kampus, komunitas, panggung seni, media sosial dan ruang publik. Kebebasan itu sendiri adalah bagian dari warisan perjuangan yang harus dijaga.</p>
<p style="text-align: left;">Namun kebebasan tidak akan berarti apabila sejarah dilupakan. Karena itu, “Bertemu Wiji Thukul” pada akhirnya bukan hanya tentang bertemu dengan masa lalu. Ia adalah cara untuk bertanya kepada masa kini: apakah kita akan membiarkan luka itu kembali tertutup oleh waktu, atau berani terus membuka ruang untuk kebenaran?</p>
<p style="text-align: left;">Selama Wiji Thukul belum ditemukan, selama keluarga korban masih menunggu jawaban, selama pertanggungjawaban atas penghilangan paksa belum dituntaskan, dan selama masih ada kekuasaan yang harus diawasi, semangat Wiji Thukul masih memiliki tempat di tengah perjuangan hari ini.</p>
<p style="text-align: left;">Sebab kata-kata bisa dibungkam. Tetapi ingatan tidak boleh dihilangkan.<br />
Dan sejarah tidak boleh dilupakan.[PM]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10642" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg" alt="" width="231" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563-231x300.jpg 231w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/FB_IMG_1783347588563.jpg 369w" sizes="(max-width: 231px) 100vw, 231px" /></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Tentang Penulis:</strong></span></p>
<p><em>Nuyang Jaimee</em> adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya <strong><em>“Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”</em></strong> terbit 2023.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BERTEMU WIJI THUKUL: Seni, Ingatan, dan Perlawanan di Taman Ismail Marzuki</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/nasional/bertemu-wiji-thukul-seni-ingatan-dan-perlawanan-di-taman-ismail-marzuki</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 20:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[FPS TIM]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Pekerja Seni Indonesia (MPSI)]]></category>
		<category><![CDATA[Menolak Lupa]]></category>
		<category><![CDATA[Merawat Ingatan]]></category>
		<category><![CDATA[Wiji Thukul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10622</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Nuyang Jaimee JAKARTA — Semangat mengenang perjuangan penyair dan aktivis Wiji Thukul kembali dihidupkan melalui kegiatan “Bertemu Wiji Thukul” yang digelar pada Minggu, 30 Agustus 2026 lalu, di Plaza/Halaman Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.30 WIB tersebut mengangkat tema “Seni untuk Rakyat” dan “Seni Adalah Senjata”, yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Laporan: Nuyang Jaimee</strong></span></p>
<p>JAKARTA — Semangat mengenang perjuangan penyair dan aktivis Wiji Thukul kembali dihidupkan melalui kegiatan “Bertemu Wiji Thukul” yang digelar pada Minggu, 30 Agustus 2026 lalu, di Plaza/Halaman Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.30 WIB tersebut mengangkat tema “Seni untuk Rakyat” dan “Seni Adalah Senjata”, yang sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional ini dilaksanakan oleh Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI).</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10623" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0008-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0008-300x200.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0008-1024x682.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0008-768x512.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260830-WA0008.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Acara ini mempertemukan berbagai unsur seniman, aktivis, komunitas, dan publik untuk membicarakan kembali gagasan, perjuangan, serta legasi Wiji Thukul—penyair yang dikenal melalui karya-karyanya yang tajam dalam menyuarakan ketidakadilan, kehidupan rakyat, dan perlawanan terhadap penindasan. Kegiatan tersebut menghadirkan rangkaian diskusi, testimoni, pembacaan puisi, musik, teatrikal, pemutaran film, serta kegiatan seni dan budaya.</p>
<p>Rangkaian acara dibuka dengan tarian Maluku Tenggara “Samrah Modern” dari Sanggar Wandan Batavia, yang dibawakan mahasiswa asal Wandan, Maluku. Setelah pembukaan oleh MC Tia Fairuz, acara dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya yang dipimpin Dyah Kencana Puspita, kemudian sambutan dari IKOHI oleh Jejen dan MPSI oleh Mujib Hermani.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10625" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830184113.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Salah satu agenda utama adalah diskusi “Legasi Wiji Thukul” yang dimoderatori Wilson Obrigados. Diskusi menghadirkan Dolorosa Sinaga, Hilmar Farid, Alfian S. Siagian, Lilik HS, dan Lukman Dewa sebagai panelis. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan sesi “Testimoni Mereka yang Mengenal Wiji Thukul”, menghadirkan Linda Christanty, Wahyu Susilo, Mokhtar, dan Moh. Irvan untuk berbagi kesaksian dan pengalaman mengenai sosok Wiji Thukul.</p>
<p>Setelah jeda ISHOMA, acara berlanjut dalam format pertunjukan seni. Redflag, Sokras, Pandai Api, Kembang Genjer, Merata, Konsultasi Massal, dan Lingkaran Band tampil dalam rangkaian musik, diselingi pembacaan puisi oleh Andi Rustono, Hardingga, Daniel Tangkilisan, Jack Al Ghozali, Dyah Kencono, dan Nuyang Jamee. Selain musik dan puisi, David Karo Karo menghadirkan pertunjukan teatrikal sebagai bagian dari ekspresi artistik untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan Wiji Thukul.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10626" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213432-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213432-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213432-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213432-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830213432.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Rangkaian kegiatan juga menghadirkan pemutaran film “Nyanyian Akar Rumput” yang sangat menyentuh, karya sutradara Yuda Kurniawan. Sebelum pemutaran, Yuda Kurniawan memberikan pengantar mengenai konteks film yang mengangkat kehidupan, karya, serta jejak perjuangan Wiji Thukul, melalui perjalanan tokoh Fajar Merah, yakni anak kedua Wiji Thukul pasca kehilangan sang bapak, terpuruk, dendam, tak percaya pada siapapun bahkan pada diri sendiri, lalu perlahan bangkit meneruskan perjuangan sang bapak ketika perlahan Fajar Merah melihat dan menyaksikan sendiri kenyataan bahwa sang bapak dicintai dan banyak orang belajar dari semangat puisi-puisinya perlawanannya.</p>
<p>Pemutaran film menjadi bagian penting karena memperluas pembacaan terhadap Wiji Thukul tidak hanya melalui teks puisi, tetapi juga melalui dokumentasi visual mengenai kehidupan dan perjuangannya yang diteruskan oleh keluarganya, Sipon (istrinya), Fitri (anak pertama) dan Fajar Merah (anak kedua).</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10628" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203945-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203945-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203945-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203945-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830203945.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Melalui “Bertemu Wiji Thukul”, penyelenggara tidak sekadar menghadirkan sebuah acara mengenang seorang penyair yang hilang, tetapi berupaya menjadikan seni sebagai ruang untuk merawat ingatan publik. Puisi, musik, teatrikal, diskusi dan film ditempatkan sebagai medium untuk membicarakan kembali persoalan demokrasi, kebebasan berekspresi, hak asasi manusia, serta penghilangan paksa.</p>
<p>Kegiatan yang mengusung semangat “Seni untuk Rakyat” dan “Seni Adalah Senjata” ini pada akhirnya menegaskan bahwa karya Wiji Thukul masih memiliki relevansi untuk dibaca dalam konteks Indonesia hari ini. Acara ditutup dengan menyanyikan “Darah Juang” bersama seluruh peserta sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-10627" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG20260830182829.jpg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Dengan demikian, siapa yang dipertemukan dalam “Bertemu Wiji Thukul”? Bukan hanya seniman dan aktivis, tetapi juga ingatan masa lalu dengan kegelisahan hari ini—sebuah pertemuan yang menempatkan seni sebagai cara untuk terus mengingat, bertanya, dan bersuara. [PM]</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
