<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menanam Jiwa Entrepreneurship dari Pulau &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/menanam-jiwa-entrepreneurship-dari-pulau/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Aug 2026 03:20:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Menanam Jiwa Entrepreneurship dari Pulau &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SMK Negeri 3 Kemaritiman Numfor: Menanam Jiwa Entrepreneurship dari Pulau</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/smk-negeri-3-kemaritiman-numfor-menanam-jiwa-entrepreneurship-dari-pulau</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 03:20:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Menanam Jiwa Entrepreneurship dari Pulau]]></category>
		<category><![CDATA[SMK Negeri 3 Kemaritiman Numfor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9824</guid>

					<description><![CDATA[Paulus Laratmase&#124; Penulis &#8211; BIAK  – SUARA ANAK NEGERI&#124; 20 Agustus 2026 — Di tengah riuh pembukaan Festival Literasi Biak Cerdas Tahun 2026 di Lapangan Cenderawasih Biak, Kamis (20/8/2026), ada sebuah cerita yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat Biak Numfor. Cerita itu datang dari sebuah sekolah yang berdiri di pulau, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota: [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Paulus Laratmase| Penulis</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p><strong>BIAK  – SUARA ANAK NEGERI| 20 Agustus 2026</strong> — Di tengah riuh pembukaan <strong>Festival Literasi Biak Cerdas Tahun 2026</strong> di Lapangan Cenderawasih Biak, Kamis (20/8/2026), ada sebuah cerita yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat Biak Numfor. Cerita itu datang dari sebuah sekolah yang berdiri di pulau, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota: <em>SMK Negeri 3 Kemaritiman Biak Numfor.</em></p>
<p>Festival literasi bagi sekolah ini bukan semata-mata sebuah panggung untuk hadir, mengikuti lomba, atau memamerkan produk. Lebih dari itu, festival menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas sekolah sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan kejuruan di wilayah kepulauan dapat tumbuh dengan kekuatan dan karakter yang khas.</p>
<p>Kepala SMK Negeri 3 Kemaritiman Biak Numfor, <strong>Hamjah, S.Pd.</strong>, mengatakan kehadiran sekolahnya dalam festival merupakan kesempatan penting untuk memperkenalkan keberadaan sekolah kepada masyarakat.</p>
<p>“Ini salah satu ajang yang baik bagi saya dan tim. Inilah kesempatan kita di pulau untuk bisa mempromosikan sekolah kita,” ungkap Hamjah ketika ditemui di sela-sela kegiatan.</p>
<p>Menurutnya, selama ini masih banyak masyarakat yang mengenal pendidikan kemaritiman di Biak Numfor hanya dari sekolah yang berada di wilayah Biak Barat. Padahal, terdapat sekolah kemaritiman lainnya yang berada di Pulau Numfor.</p>
<p>Karena itu, kehadiran SMK Negeri 3 Kemaritiman Numfor dalam Festival Literasi Biak Cerdas menjadi semacam penanda bahwa pendidikan kemaritiman tidak hanya tumbuh di daratan utama Biak, tetapi juga berkembang di pulau-pulau.</p>
<p>“Kami ingin masyarakat tahu bahwa SMK Kemaritiman di Biak Numfor itu ada dua. Salah satunya ada di Pulau Numfor,” katanya.</p>
<p><strong>Belajar dari laut, belajar dari kehidupan</strong></p>
<p>SMK Negeri 3 Kemaritiman Biak Numfor memiliki tiga kompetensi keahlian. Ketiganya menggambarkan hubungan sekolah dengan dunia kerja dan potensi ekonomi masyarakat kepulauan.</p>
<p>Pertama, <em>Agribisnis Perikanan Payau dan Laut.</em> Kedua, <em>Nautika Kapal Penangkapan Ikan.</em> Ketiga, <em>Teknik Kendaraan Ringan dan Otomotif.</em></p>
<p>Namun, yang menarik dari sekolah ini bukan hanya nama jurusannya. Ada upaya untuk membawa pembelajaran keluar dari ruang kelas, mendekatkannya dengan kehidupan nyata masyarakat.</p>
<p>Produk kewirausahaan yang dibawa dalam festival, misalnya, hasil praktik siswa yang dibuat sekali kemudian selesai. Produk ini lahir dari konsep <em>teaching factory</em>, sebuah pembelajaran yang berusaha mendekatkan sekolah dengan dunia produksi dan dunia usaha.</p>
<p>Hamjah menyebut kegiatan produksi dimaksud telah berjalan secara berkelanjutan selama sekitar dua tahun.</p>
<p>“Ini hasil praktik, yang dikenal dengan  teaching factory. Sudah dua tahun kami tidak pernah putus untuk terus berproduksi,” jelasnya.</p>
<p>Di titik inilah sekolah dan masyarakat bertemu.</p>
<p>Masyarakat kampung sekitar yang memperoleh hasil tangkapan laut memiliki ruang untuk memasok hasil tangkapan mereka. Sekolah kemudian menjadi bagian dari mata rantai ekonomi tersebut melalui kegiatan kewirausahaan siswa.</p>
<p>Laut, dengan demikian, tidak hanya menjadi tempat siswa belajar mengenai ikan, kapal, dan penangkapan. Laut menjadi sumber pembelajaran tentang kehidupan, ekonomi, kerja keras, bahkan tentang bagaimana sebuah produk memiliki nilai ketika diolah dan dipasarkan.</p>
<p><strong>Membentuk mental wirausaha</strong></p>
<p>SMK sering kali dipahami sebatas tempat menyiapkan siswa agar siap bekerja. Tetapi bagi Hamjah, pendidikan kejuruan seharusnya memiliki tujuan yang lebih luas.</p>
<p>Ia ingin para siswa memiliki <em>jiwa entrepreneurship.</em></p>
<p>Harapan itu tidak berarti seluruh siswa kelak harus menjadi pedagang ikan atau bekerja di sektor perikanan. Yang lebih penting adalah terbentuknya mental untuk melihat peluang, berani mengambil keputusan, mampu bekerja, kreatif, mandiri, dan tidak mudah menyerah.</p>
<p>“Yang terpenting bagaimana para siswa mempunyai pengalaman, punya mental yang kuat dalam berwirausaha untuk mengarungi kehidupan besok,” ujarnya.</p>
<p>Bahkan, menurutnya, jiwa entrepreneurship tetap penting ketika seorang siswa kelak bekerja di kantor atau memilih profesi lain.</p>
<p>“Bukan berarti mereka harus menjual ikan. Inti dari semuanya adalah jiwa entrepreneurship. Saya harapkan di mana pun mereka berada, bahkan di kantor pun tetap jiwa entrepreneurship itu ada,” katanya.</p>
<p>Pernyataan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan gagasan besar tentang pendidikan.</p>
<p>Sebab, pendidikan sesungguhnya bukan hanya tentang memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa. Pendidikan adalah proses menyiapkan manusia agar mampu menghadapi kehidupan. Dan kehidupan tidak selalu datang dalam bentuk soal ujian.</p>
<p>Kadang kehidupan hadir sebagai laut yang luas, hasil tangkapan yang tidak menentu, peluang usaha yang harus dibaca, modal yang terbatas, atau kebutuhan untuk menciptakan sesuatu dari apa yang tersedia di sekitar.</p>
<p>Di situlah pendidikan kejuruan menemukan maknanya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>133 siswa dan mimpi dari Numfor</strong></p>
<p>Saat ini SMK Negeri 3 Kemaritiman Biak Numfor memiliki 133 siswa, dari kelas X hingga kelas XII. Dalam festival tersebut, para siswa hadir didampingi guru sebagai bagian dari upaya memperkenalkan sekolah sekaligus memberi pengalaman langsung kepada peserta didik.</p>
<p>Bagi Hamjah, pengalaman seperti ini merupakan bagian penting dari proses pendidikan.</p>
<p>Siswa tidak hanya melihat guru berbicara di depan kelas. Mereka belajar berinteraksi dengan masyarakat, memperkenalkan produk, memahami kebutuhan konsumen, dan merasakan bagaimana sebuah produk mendapatkan apresiasi.</p>
<p>Pengalaman tersebut mungkin tampak kecil hari ini. Namun, kelak bisa menjadi modal yang jauh lebih besar ketika mereka memasuki dunia kerja dan kehidupan masyarakat.</p>
<p>Ada satu pesan yang terasa kuat dari kehadiran SMK Negeri 3 Kemaritiman Numfor di tengah Festival Literasi Biak Cerdas: pulau bukan batas bagi pendidikan.</p>
<p>Justru dari pulau, pendidikan dapat menemukan bentuknya sendiri. Dari laut, siswa belajar ketekunan. Dari hasil tangkapan masyarakat, mereka belajar tentang ekonomi. Dari teaching factory, mereka belajar produksi. Dari festival, mereka belajar memasarkan dan berkomunikasi. Dan dari semua itu, mereka belajar menjadi manusia yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.</p>
<p>Festival Literasi Biak Cerdas Tahun 2026 yang dibuka secara resmi oleh Bupati Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, S.H., M.M., akhirnya bukan hanya menjadi panggung bagi literasi dalam pengertian membaca dan menulis.</p>
<p>Di dalamnya ada literasi kehidupan.</p>
<p>Ada literasi ekonomi.</p>
<p>Ada literasi maritim.</p>
<p>Dan ada literasi kewirausahaan yang sedang ditanamkan oleh sebuah sekolah dari Pulau Numfor.</p>
<p>SMK Negeri 3 Kemaritiman mungkin belum dikenal luas oleh masyarakat Biak Numfor. Tetapi melalui festival ini, sekolah tersebut sedang memperkenalkan dirinya dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling bermakna: <em>datang membawa karya, memperlihatkan kemampuan siswa, dan menunjukkan bahwa dari sebuah pulau pun masa depan dapat dipersiapkan.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
