<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Puisi &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/kumpulan-puisi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Sep 2026 07:08:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Kumpulan Puisi &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PELANGI YANG DITELAN JEREBU&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/lingkungan/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-pelangi-yang-ditelan-jerebu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 07:08:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[Pelangi Ditelan Jerebu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11652</guid>

					<description><![CDATA[Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PELANGI YANG DITELAN JEREBU&#8221; /1/ PELANGI YANG DITELAN JEREBU Puisi: Leni Marlina &#8211; Engkau tiba ketika hutan kehilangan dengung, serangga menyimpan sayap di bawah arang murung; langit meneteskan cahaya dari pori-pori bingung, tujuh warna lahir namun bumi menutup hidung. Engkau melengkung di atas kota demam, membawa spektrum tipis dari rahim [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PELANGI YANG DITELAN JEREBU&#8221;</strong></p>
<p>/1/</p>
<p><strong>PELANGI YANG DITELAN JEREBU</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Engkau tiba ketika hutan kehilangan dengung,<br />
serangga menyimpan sayap di bawah arang murung;<br />
langit meneteskan cahaya dari pori-pori bingung,<br />
tujuh warna lahir<br />
namun bumi menutup hidung.</p>
<p>Engkau melengkung di atas kota demam,<br />
membawa spektrum tipis dari rahim awan kelam;<br />
warna-warna berdenyut di antara kaca dan makam,<br />
seolah cahaya sedang mencari tubuhnya yang terpendam.</p>
<p>Lalu jerebu naik dari tanah menghitam,<br />
ia hanya datang perlahan dan diam;<br />
abu daun berpindah ke langit,<br />
menjadi semacam makam,<br />
sementara akar kehilangan alamat di ruang terdalam.</p>
<p>Merahmu disentuhnya<br />
merahmu menjadi bara,<br />
jinggamu digerogoti sampai kehilangan udara;<br />
kuning bergetar di kaca-kaca kota,<br />
hampir bicara,<br />
hijau menyimpan hutan terakhir di belakang mata.</p>
<p>Hijau paling lama bertahan di tubuhmu yang tipis,<br />
sebutir klorofil terakhir menolak habis;<br />
ia bersembunyi di matamu,<br />
menjadi denyut lirih,<br />
sementara peta melipat hutan hingga tak lagi berselisih.</p>
<p>Jerebu tak tergesa<br />
ia memiliki kesabaran tua,<br />
menyusup ke sela spektrum,<br />
mengubah cahaya menjadi luka;<br />
ia mengaburkan jarak,<br />
mengeruhkan nama dan udara,<br />
hingga namamu sendiri tinggal angka jarak pandang semata.</p>
<p>Di bawahmu,<br />
truk-truk mengangkut tanah tanpa akar,<br />
bukit sedikit demi sedikit dipotong perlahan,<br />
lalu dibawa ke luar;<br />
di atasmu,<br />
burung mengubah arah sebelum sempat bertanya,<br />
siapa menyewakan langit, dan siapa menerima bayarnya?</p>
<p>Engkau masih tersenyum di ambang petang asing,<br />
atau hanya cahaya lupa cara berpaling;<br />
wajahmu menyimpan warna bening,<br />
sementara asap menulis namanya pada paru-paru hening.</p>
<p>Petang menanggalkan warna terakhir dari tubuhmu,<br />
spektrum dikunyah sampai tinggal getir di udara kelu;<br />
merah menjadi debu,<br />
hijau menjadi rahasia bisu,<br />
langit menelan kembali apa yang pernah diberikannya kepadamu.</p>
<p>Engkau masih di sana:<br />
sebuah kromosom cahaya yang salah alamat di musim,<br />
terlempar ke dalam paru-paru dari udara makin asing;<br />
sepotong prisma kehilangan sisi beningnya,<br />
menjadi dingin,<br />
dan warna yang dipanggil tak lagi pulang sebagai angin.</p>
<p>Ia menjawab dengan batuk merambat dari rumah ke rumah setiap pagi;<br />
jendela-jendela tertutup menyimpan napas di balik sunyi,<br />
sementara hutan terus mengirimkan sesuatu<br />
yang tak pernah diberi nama dalam bahasa kami.</p>
<p>Dan ketika malam akhirnya mengambil seluruh warna,<br />
kami tak tahu<br />
apakah engkau telah lenyap atau justru<br />
masuk terlalu dalam ke tubuh kami<br />
hingga jerebu menemukan<br />
tujuh warnamu di dalam darah ini.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, September 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>SETAJAM TATAPANMU</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Setajam tatapanmu, garam kehilangan laut,<br />
bukit menyimpan denyut di bawah kulit kusut;<br />
kabut mengusap luka yang belum sempat disebut,<br />
sementara akar menghitung tanah surut.</p>
<p>Kau menatapku diam, tapi begitu tajam,<br />
seperti tanah mengenali cangkul sebelum terbenam;<br />
tak ada jerit terdengar dari lembah kelam,<br />
hanya satu bukit berkurang dari bentang alam.</p>
<p>Di bawah peta, sungai mengubah urat,<br />
garis merah menjalar, pelan-pelan mengikat;<br />
nadi bumi dipindahkan menjadi koordinat,<br />
dan hutan dibaca sebagai angka tercatat.</p>
<p>Pagi menggigit bukit dengan rahang besi,<br />
batu keluar dari tulang, berkilau, lalu pergi;<br />
kilau masuk neraca, debu tinggal di pori,<br />
gunung menjadi tonase sebelum sempat berkata: &#8220;Aku di sini!&#8221;</p>
<p>Truk-truk beriring membawa lereng dan musim,<br />
mengangkut warna tanah, mengangkut ingatan yang lirih;<br />
rumah tinggal alamat, sungai kehilangan bening,<br />
pulang berubah menjadi sesuatu yang sulit dikirim.</p>
<p>Di gudang, mineral kehilangan nama,<br />
menjadi kadar, menjadi tonase, menjadi harga;<br />
yang dahulu berkilau di rahim bumi tanpa suara,<br />
kini gemerlap di layar jauh dari mata air dan doa.</p>
<p>Di kampung, air keruh tidur dalam tempayan,<br />
anak-anak menunggu ikan yang tak kembali ke halaman;<br />
solar merembes ke sungai, hitam dan perlahan,<br />
menjadikan air mengeja sebuah kehilangan.</p>
<p>Namun kau menatapku selembut hujan yang terlambat,<br />
seolah tanganmu tak pernah mengenal berat;<br />
sementara gunung dipotong, sedikit demi sedikit terangkat,<br />
masuk ke perut pabrik<br />
menjadi sesuatu yang tak lagi dapat disebut dekat.</p>
<p>Di tepi jalan, papan berdiri tanpa ragu:<br />
&#8220;KAWASAN PRODUKSI&#8221;:<br />
dua kata, satu palu;<br />
sayap, akar, lumut, sarang, dan bisu<br />
mendadak tak memiliki bahasa selain angka dan laju.</p>
<p>Burung pergi; dahan menahan sisa,<br />
musim kehilangan kalender, kabut kehilangan nama;<br />
hutan tak tumbang dengan satu suara,<br />
ia susut perlahan, seperti napas yang dipinjam tanpa jeda.</p>
<p>Kau menggenggam tanganku cukup hangat,<br />
Namun telapak tanganmu menyimpan sesuatu yang lebih pekat:<br />
sebidang tanah dengan nomor tercetak rapat,<br />
sebelum sempat memiliki nama, ia telah menjadi rahasia pekat.</p>
<p>Selembut tatapanmu, bukit masih tinggal di mata,<br />
tetapi akar telah diberi garis, sungai diberi batas;<br />
batu yang belum lahir dari rahim tanah<br />
telah lebih dahulu mempunyai harga.</p>
<p>Mesin menyala; malam bergetar di antara tebing,<br />
sungai mengecil,<br />
seutas urat semakin asing;<br />
kalimat bumi dipotong sebelum selesai dibaca,<br />
dan sunyi mengambil alih tempat kata-kata.</p>
<p>Daun terakhir hanyut menyentuh wajah kita,<br />
dua pantulan bertemu sebentar di permukaan luka;<br />
satu riak menghapus batas antara aku dan kau,<br />
satu tangan masih menggenggam,<br />
entah cinta,<br />
entah sesuatu yang lain di sana.</p>
<p>Aku hampir bertanya: siapa yang sedang kita selamatkan?<br />
Namun kata selamat terdengar terlalu bening di tanah yang demikian;<br />
maka kubiarkan pertanyaan itu turun bersama hujan,<br />
menjadi sesuatu yang tak selesai disebutkan.</p>
<p>Kita diam.<br />
Dan ketika tanganmu perlahan membuka,<br />
tak ada akar, tak ada luka, tak ada apa-apa,<br />
hanya satu garis merah melingkar di telapak tangan kita,<br />
entah batas tanah, entah tanda harga,<br />
entah sesuatu yang sejak awal<br />
mengira tubuh kita<br />
sebidang tanah yang hilang di peta.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, September 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>KAU TELAH PERGI</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Aku tahu kau telah pergi<br />
jauh sebelum pintu belajar menutup;<br />
yang tertinggal bukan langkahmu,<br />
melainkan waktu yang tersangkut di engsel<br />
berkarat,<br />
namun masih berdenyut<br />
setiap kali aku hendak lupa.</p>
<p>Aku tak lagi begitu percaya pada jam.<br />
Ia terlalu pandai<br />
membuat kehilangan<br />
terlihat seperti perjalanan.</p>
<p>Di luar jendela,<br />
pelangi mencoba tumbuh<br />
di antara atap dan langit,<br />
tetapi jerebu datang<br />
dengan mulut kelabu<br />
dan menelan warna<br />
sebelum sempat menjadi petang.</p>
<p>Barangkali begitulah rindu:<br />
sesuatu yang ingin berwarna<br />
ketika udara<br />
tak lagi bening<br />
untuk menerimanya.</p>
<p>Aku tak memanggilmu.<br />
Aku membuka jendela<br />
dan membiarkan namamu<br />
bercampur dengan udara.<br />
warna<br />
seperti memiliki paru-paru.<br />
Merah menahan batuk.<br />
Kuning menguning di balik kabut.<br />
Hijau menggigil pada daun.<br />
Biru mengendap<br />
di tempat mata<br />
tak lagi sampai.</p>
<p>Cemburu datang tanpa langkah.<br />
Ia hanya menggeser kursi<br />
sedikit lebih dekat ke jendela,<br />
lalu diam-diam menunggu<br />
siapa yang pertama mengaku melihat.</p>
<p>Aku tak bertanya dari mana kau pulang.<br />
Aku memperhatikan sebutir debu di bahumu,<br />
entah bagaimana ia mengetahui jalan<br />
yang tak kutempuh.<br />
Mungkin bahagia<br />
hanyalah kaca untuk sesaat<br />
berhenti bertanya:<br />
siapa yang berdiri di hadapannya.</p>
<p>Pelangi ditelan jerebu.<br />
Namun entah mengapa<br />
aku masih melihat sisa warnanya<br />
di antara napas kita.<br />
Jangan bicara tentang kesetiaan.<br />
Kata itu terlalu licin<br />
untuk tangan gemetar ketika memilih.</p>
<p>Ada sesuatu dalam diriku<br />
yang selalu ingin menjadi pintu:<br />
dibuka dan ditutup olehmu,<br />
lalu diam-diam berharap<br />
engkau lupa membawa kuncinya.<br />
Tetapi malam<br />
tak pernah benar-benar gelap<br />
ketika langit menyimpan<br />
warna yang gagal dilahirkan.</p>
<p>Aku memandang kaki sendiri.<br />
Dua bayangan berdiri di lantai.<br />
Yang satu milikku.<br />
Yang satu lagi seperti hendak pergi,<br />
tetapi tertahan oleh udara.<br />
Lalu kau memanggil namaku begitu pelan<br />
hingga jam di dinding seolah<br />
kehilangan satu detik.<br />
Aku menoleh<br />
Tak ada siapa-siapa<br />
Hanya tujuh warna<br />
yang perlahan turun dari kaca<br />
ke ambang jendela.</p>
<p>Pagi mulai bergerak, seekor ngengat<br />
hinggap di sana<br />
dan tiba-tiba<br />
salah satu warna menempel di sayapnya.<br />
Ia terbang<br />
Aku tidak tahu<br />
apakah ia membawa pelangi,<br />
atau membawa sesuatu<br />
yang seharusnya tetap tinggal di sini.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, September 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penulis – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.</p>
<p>Sejak tahun 2006, Leni mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan.</p>
<p>Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</p>
<p>Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id | Wattpad: @lenimarlina_write | Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-pabrik-yang-mengalengkan-hujan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2026 10:10:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=8033</guid>

					<description><![CDATA[/1/ PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN Puisi: Leni Marlina &#8211; Siapa yang memberi hak kepadamu? Siapa yang menyuruhmu menghitung denyut awan seperti menghitung laba? Siapa yang membisikkan bahwa hujan dapat dijinakkan oleh baut, angka dan pagar-pagar logam? Di pinggir musim, kau mendirikan sebuah pabrik. Cerobong-cerobongnya menjulur ke tubuh langit, seperti jarum raksasa yang menyedot darah dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Siapa yang memberi hak kepadamu?<br />
Siapa yang menyuruhmu menghitung denyut awan seperti menghitung laba?<br />
Siapa yang membisikkan<br />
bahwa hujan dapat dijinakkan oleh baut, angka dan pagar-pagar logam?</p>
<p>Di pinggir musim,<br />
kau mendirikan sebuah pabrik.<br />
Cerobong-cerobongnya menjulur ke tubuh langit,<br />
seperti jarum raksasa<br />
yang menyedot darah dari urat cuaca.</p>
<p>Setiap pagi, awan keluar dari sana lebih kurus daripada kemarin.<br />
Perutnya kempis hingga kelihatan tulang-tulang kapasnya.<br />
Dan angin berjalan terpincang-pincang<br />
membawa sisa napas yang belum habis diperah.</p>
<p>Kau menangkap gerimis.<br />
Mengalengkannya.<br />
Menyusunnya berjajar<br />
di rak-rak baja yang dingin seperti buku besar utang.<br />
Semua kaleng diberi label.<br />
Semua tetes diberi harga.<br />
Semua musim diberi nomor inventaris.<br />
Bahkan bau lumpur<br />
kau pisahkan dari tanahnya.<br />
Bahkan suara katak<br />
kau cabut dari rawa.<br />
Bahkan desir padi<br />
kau keluarkan dari tubuh sawah,<br />
seperti mencabut lidah<br />
dari mulut yang lapar.</p>
<p>Di gudang penyimpananmu,<br />
hujan-hujan tergantung terbalik.<br />
Dari tubuhnya menetes<br />
sisa kabut pegunungan, doa para benih,<br />
sungai yang belum selesai dilahirkan.<br />
Kau menyebutnya kemajuan.<br />
Kau menyebutnya pengelolaan.<br />
Kau menyebutnya masa depan.<br />
Namun malam selalu menyimpan sesuatu yang gagal dihitung oleh mesinmu.</p>
<p>Dari kedalaman bumi,<br />
seuntai akar beringin mulai bergerak.<br />
Ia tidak datang<br />
membawa pidato,<br />
tidak datang<br />
membawa dokumen,<br />
tapi datang<br />
membawa ingatan.</p>
<p>Ia mencium warna karat,<br />
meraba bau keserakahan<br />
yang merembes dari pondasi.<br />
Ia mendengar angka-angka<br />
menggerogoti tulang hujan<br />
hingga tinggal kerangka statistik.<br />
Perlahan, akar itu menyelinap<br />
ke jantung bangunan.<br />
Melilit baut dan mengunyah semen.<br />
Menyeret gelap keluar dari tempat persembunyiannya.</p>
<p>Dan ketika pondasi retak,<br />
yang muncrat terlebih dahulu<br />
bukan air.<br />
Melainkan segala yang selama ini<br />
kau rampas dari namanya sendiri: desir padi, napas sungai,<br />
lumut yang dipenjara,<br />
kabut yang diborgol,<br />
dan suara anak-anak<br />
yang pernah menggambar hujan<br />
dengan krayon biru.</p>
<p>Pabrik itu berguncang.<br />
Cerobong-cerobongnya patah<br />
seperti sumpah yang terlalu lama berdusta.<br />
Kaleng-kaleng pecah.<br />
Label-label beterbangan.<br />
Nomor-nomor berjatuhan<br />
seperti daun-daun kering<br />
yang akhirnya menyadari<br />
mereka bukan pohon.<br />
Lalu hujan keluar berlari menuju sungai dan sawah.<br />
Menuju segala tempat<br />
yang masih mengingat namanya.</p>
<p>Dan kau, berdiri di tengah reruntuhan,<br />
menyaksikan sesuatu<br />
yang tak pernah diajarkan oleh kepemilikan:<br />
bahwa hujan tidak diciptakan<br />
untuk menjadi barang dagangan.<br />
Ia diciptakan untuk jatuh,<br />
hingga bumi kembali percaya kepada langit.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>SEGALA YANG KAU RAMPAS</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;<br />
Untuk kau<br />
yang selalu mengira<br />
dunia diciptakan<br />
agar dapat dimiliki.</p>
<p>Kau mengalengkan hujan.<br />
Kau memajang tulang matahari.<br />
Kau menyelundupkan cakrawala.<br />
Kau memaksa pohon<br />
menandatangani akarnya sendiri.<br />
Kau membekukan fajar.<br />
Kau memberi nomor pada embun.<br />
Kau memberi label pada angin.<br />
Kau menimbang bayangan gunung.<br />
Kau mengukur panjang sungai<br />
dengan penggaris yang tak pernah mengenal haus.</p>
<p>Kau percaya<br />
segala yang bernapas<br />
dapat diubah menjadi arsip.<br />
Kau percaya<br />
segala yang tumbuh<br />
dapat dipindahkan ke kolom kepemilikan.<br />
Kau percaya<br />
nama lebih tua daripada asal-usul.</p>
<p>Padahal sebelum kertas ditemukan,<br />
hujan telah mengenal jalannya.<br />
Sebelum stempel dilahirkan,<br />
akar telah berbicara dengan tanah.<br />
Sebelum inventaris disusun,<br />
cakrawala telah mengajari laut<br />
cara memandang jauh.<br />
Sebelum kontrak ditandatangani,<br />
matahari telah membagikan terang<br />
tanpa memilih wajah.</p>
<p>Dan sebelum siapa pun menyebut dirinya pemilik,<br />
fajar telah membuka pintu pagi<br />
untuk semua makhluk.</p>
<p>Maka berkali-kali<br />
kau membangun kurungan.<br />
Dan berkali-kali pula<br />
kehidupan menemukan celah.<br />
Sebab hujan selalu mengingat awan.<br />
Cahaya selalu mengingat langit.<br />
Cakrawala selalu mengingat kejauhan.<br />
Akar selalu mengingat bumi.<br />
Dan fajar selalu mengingat Timur.</p>
<p>Inilah kisah<br />
tentang segala yang kau rampas.<br />
Dan segala yang,<br />
meski terluka,<br />
tetap menemukan jalan pulang<br />
kepada dirinya sendiri.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>MUSEUM PENYIMPAN TULANG MATAHARI</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau menggantung kerangka matahari di leher sebuah jam, sejak itu waktu berbau gandum hangus.<br />
Siapa mengajari angka memakan cahaya sampai tulang-tulang siang terdengar berderak dari balik kaca?</p>
<p>Sepotong fajar duduk di kursi inventaris,<br />
pergelangan jingganya diborgol oleh huruf-huruf yang terlalu dingin untuk menjadi bahasa.</p>
<p>Di luar, ladang menumbuhkan bayangan lebih cepat daripada padi.<br />
Lebah-lebah pulang membawa debu senja pada lututnya, bunga-bunga sibuk melupakan warna mereka sendiri.<br />
Bukankah langit hanya museum yang belum selesai ditutup?</p>
<p>Pada etalase ketiga,<br />
sepotong terang diawetkan dalam formalin,<br />
ia masih bergerak seperti ikan yang memimpikan api.<br />
Malam mengunyah sisik-sisik emas yang rontok dari tubuhnya,<br />
lalu menyembunyikan kunyahan itu di bawah kuku marmer.<br />
Dari sana tumbuh akar-akar pijar yang minum karat, menyusu pada baut, dan tidur di paru-paru gedung.</p>
<p>Tidakkah kau mendengar dinding-dinding itu mulai berfotosintesis dalam gelap?<br />
Anak-anak menggambar matahari dengan arang; lingkaran hitam mereka berkicau di halaman buku.</p>
<p>Pada malam kesepuluh, sumsum tulang matahari menetas menjadi kawanan burung yang terbuat dari arah timur.<br />
Paruh mereka mematuki kata “milik” sampai huruf-hurufnya berubah menjadi kawat berdarah.<br />
Kaca pecah bukan ke luar,<br />
melainkan ke dalam,<br />
seperti danau yang tenggelam ke dasar dirinya sendiri.</p>
<p>Apakah cahaya pernah meminta alamat sebelum menyentuh wajah-wajah yang letih?<br />
Dan kau tinggal sendiri bersama segenggam angka yang menggigil,<br />
sementara langit mengenakan kembali tulang-tulangnya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>KAPAL YANG MENYELUNDUPKAN CAKRAWALA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau melipat cakrawala seperti surat tua,<br />
sejak itu laut berjalan pincang di atas tongkat ombaknya sendiri.<br />
Siapa mengajarimu bahwa kejauhan dapat dilipat tanpa membuat langit berdarah?</p>
<p>Di lambung kapalmu, garis-garis ufuk ditumpuk seperti kulit ular yang gagal berganti musim.<br />
Burung camar terbang membawa kompas patah di paruhnya;<br />
arah utara bocor dari matanya sepanjang pelayaran.<br />
Bukankah angin terdengar lebih tua ketika kehilangan tempat untuk pulang?</p>
<p>Di geladak, matahari mentah diasinkan dalam tong-tong besi,<br />
aromanya mengundang kawanan senja yang lapar.</p>
<p>Nelayan melempar pandangan ke laut, tetapi pandangan itu jatuh sebelum mencapai jarak.<br />
Jaring-jaring terangkat penuh dengan bayangan, ikan-ikan telah berubah menjadi pertanyaan.</p>
<p>Di ruang muatan, cakrawala berdenyut pelan seperti insang paus yang sedang memimpikan benua.<br />
Malam memerah susu bintang ke dalam peti-peti kayu,<br />
lalu menyegelnya dengan lilin dari bulan yang meleleh.</p>
<p>Tidakkah kau dengar samudra mulai berbicara melalui retakan paku-paku kapal?<br />
Seekor ikan terbang menabrak lambung; sisiknya berhamburan menjadi kawanan mata yang memandang ke segala arah.</p>
<p>Retakan itu tumbuh seperti akar cahaya, menjalar melalui papan, tali, dan tulang pelayaran.</p>
<p>Dari celahnya, horizon-horizon meloloskan diri,<br />
berlari di atas ombak seperti kuda biru yang baru dilepaskan dari kandang badai.</p>
<p>Apakah kejauhan pernah meminta izin sebelum memanggil manusia untuk berlayar?<br />
Kau hanya menyisakan segenggam peta yang menggigil,<br />
sementara cakrawala mengenakan kembali tubuhnya pada pertemuan laut dan langit.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>/5/</p>
<p><strong>MUSEUM PENYIMPAN TULANG MATAHARI</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau menggantung kerangka matahari di leher sebuah jam,<br />
sejak itu waktu berbau gandum hangus.<br />
Siapa mengajari angka memakan cahaya sampai tulang-tulang siang terdengar berderak dari balik kaca?</p>
<p>Sepotong fajar duduk di kursi inventaris,<br />
pergelangan jingganya diborgol oleh huruf-huruf yang terlalu dingin untuk menjadi bahasa.<br />
Di luar, ladang menumbuhkan bayangan lebih cepat daripada padi.<br />
Lebah-lebah pulang membawa debu senja pada lututnya, bunga-bunga sibuk melupakan warna mereka sendiri.<br />
Bukankah langit hanya museum yang belum selesai ditutup?</p>
<p>Pada etalase ketiga,<br />
sepotong terang diawetkan dalam formalin,<br />
ia masih bergerak seperti ikan yang memimpikan api.<br />
Malam mengunyah sisik-sisik emas yang rontok dari tubuhnya,<br />
lalu menyembunyikan kunyahan itu di bawah kuku marmer.</p>
<p>Dari sana tumbuh akar-akar pijar yang minum karat,<br />
menyusu pada baut,<br />
tidur di paru-paru gedung.<br />
Tidakkah kau mendengar dinding-dinding itu mulai berfotosintesis dalam gelap?</p>
<p>Anak-anak menggambar matahari dengan arang; lingkaran hitam mereka berkicau di halaman buku.<br />
Pada malam kesepuluh, sumsum tulang matahari menetas menjadi kawanan burung yang terbuat dari arah timur.<br />
Paruh mereka mematuki kata “milik” sampai huruf-hurufnya berubah menjadi kawat berdarah.<br />
Kaca pecah ke dalam seperti danau yang tenggelam ke dasar dirinya sendiri.</p>
<p>Apakah cahaya pernah meminta alamat sebelum menyentuh wajah-wajah yang letih?<br />
Dan kau tinggal sendiri bersama segenggam angka yang menggigil,<br />
sementara langit mengenakan kembali tulang-tulangnya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/6/</p>
<p><strong>KAPAL YANG MENYELUNDUPKAN CAKRAWALA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau melipat cakrawala seperti surat tua,<br />
sejak itu laut berjalan pincang di atas tongkat ombaknya sendiri.<br />
Siapa mengajarimu bahwa kejauhan dapat dilipat tanpa membuat langit berdarah?</p>
<p>Di lambung kapalmu, garis-garis ufuk ditumpuk seperti kulit ular yang gagal berganti musim.<br />
Burung camar terbang membawa kompas patah di paruhnya,<br />
arah utara bocor dari matanya sepanjang pelayaran.<br />
Bukankah angin terdengar lebih tua ketika kehilangan tempat untuk pulang?</p>
<p>Pada geladak, matahari mentah diasinkan dalam tong-tong besi,<br />
aromanya mengundang kawanan senja yang lapar.<br />
Nelayan melempar pandangan ke laut,<br />
tetapi pandangan itu jatuh sebelum mencapai jarak.<br />
Jaring-jaring terangkat penuh dengan bayangan,<br />
ikan-ikan telah berubah menjadi pertanyaan.</p>
<p>Di ruang muatan, cakrawala berdenyut pelan seperti insang paus yang sedang memimpikan benua.<br />
Malam memerah susu bintang ke dalam peti-peti kayu,<br />
lalu menyegelnya dengan lilin dari bulan yang meleleh.<br />
Tidakkah kau dengar samudra mulai berbicara melalui retakan paku-paku kapal?</p>
<p>Seekor ikan terbang menabrak lambung,<br />
sisiknya berhamburan menjadi kawanan mata yang memandang ke segala arah.<br />
Retakan itu tumbuh seperti akar cahaya,<br />
menjalar melalui papan, tali, dan tulang pelayaran.</p>
<p>Dari celahnya, horizon-horizon meloloskan diri,<br />
berlari di atas ombak seperti kuda biru yang baru dilepaskan dari kandang badai.<br />
Apakah kejauhan pernah meminta izin sebelum memanggil manusia untuk berlayar?</p>
<p>Dan kau hanya menyisakan segenggam peta yang menggigil,<br />
sementara cakrawala mengenakan kembali tubuhnya pada pertemuan laut dan langit.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>POHON YANG DIPAKSA MENANDATANGANI AKARNYA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau menggelar selembar kertas di bawah pohon,<br />
sejak itu tanah berbau arsip yang baru digali dari kubur.<br />
Siapa mengajarimu bahwa akar membutuhkan tanda tangan untuk mengenali bumi?</p>
<p>Tinta hitam merangkak di batangnya seperti kawanan semut yang sedang memindahkan malam.<br />
Daun-daun saling berbisik dengan lidah hijau yang gemetar,<br />
angin mengumpulkan ketakutan mereka di saku-saku senja.</p>
<p>Bukankah hujan selalu menemukan pohonnya tanpa membaca dokumen apa pun?<br />
Satu per satu akar ditarik keluar,<br />
tanah mengerang seperti mulut tua yang kehilangan seluruh giginya sekaligus.</p>
<p>Cacing-cacing memikul serpihan gelap di punggungnya; mereka tampak seperti huruf-huruf yang melarikan diri dari kontrak.<br />
Pada lubang bekas akar,<br />
mata air menutup wajahnya dengan lumpur.</p>
<p>Burung-burung hinggap pada cabang yang kosong,<br />
paruh mereka dipenuhi serbuk sejarah yang belum selesai dikisahkan.<br />
Malam menjahit kembali retakan bumi dengan benang kabut,<br />
namun luka itu terus bernapas di bawah permukaan.<br />
Tidakkah kau dengar batu-batu menghafal nama yang lebih tua daripada peta?</p>
<p>Jauh di kedalaman, sehelai akar rambut masih hidup,<br />
ia meminum gelap seperti susu purba dari rahim tanah.<br />
Dari tubuhnya tumbuh ribuan urat cahaya yang menjalar melalui batu, fosil, dan tulang hujan yang terkubur.<br />
Ketika fajar tiba,<br />
akar-akar itu muncul ke permukaan seperti tangan-tangan yang bangkit dari mimpi bumi.</p>
<p>Apakah sejarah pernah benar-benar mati hanya karena dikubur di bawah cap dan meterai?<br />
Dan kau hanya menyisakan segenggam kertas yang basah oleh embun,<br />
sementara pohon mengenakan kembali namanya pada tanah.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/8/</p>
<p><strong>KETIKA KATA ITU KEHILANGAN SUARANYA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pada akhir zaman inventaris,<br />
kata yang kaut emukan dahulu<br />
terbaring sendirian<br />
di antara karat dan lumut.<br />
Sayap hitamnya rontok.<br />
Giginya tanggal satu per satu.</p>
<p>Tak ada lagi yang takut kepadanya.<br />
Hujan telah melarutkan sebagian hurufnya.<br />
Akar telah meminum sisanya.</p>
<p>Angin membawa serpihan vokalnya<br />
ke sarang burung.<br />
Laut menggulung konsonannya<br />
ke dasar samudra.<br />
Matahari membakar bunyi-bunyi yang tersisa<br />
hingga menjadi abu cahaya.</p>
<p>Kini tak ada lagi pagar<br />
yang mampu mengurung cakrawala.<br />
Tak ada lagi label<br />
yang mampu menempel pada fajar.<br />
Tak ada lagi angka<br />
yang mampu menghitung<br />
berapa kali musim harus lahir.<br />
Siapa dapat memiliki hujan<br />
ketika hujan berubah menjadi awan?</p>
<p>Siapa dapat memiliki cahaya<br />
ketika cahaya berubah menjadi langit?<br />
Siapa dapat memiliki bumi<br />
ketika bumi sedang bermimpi<br />
menjadi hutan?</p>
<p>Malam itu,<br />
seluruh arsip dunia<br />
pelan-pelan berubah<br />
menjadi kawanan kunang-kunang.<br />
Mereka terbang<br />
membawa lembar demi lembar<br />
kepemilikan yang terbakar.</p>
<p>Dan dari abu yang jatuh,<br />
rumput-rumput liar tumbuh sangat kecil.<br />
Dari sanalah<br />
dunia memulai dirinya lagi.<br />
Tanpa pagar, label dan inventaris.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penulis – Leni Marlina</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-7943" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-212x300.jpg" alt="" width="125" height="177" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-212x300.jpg 212w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-723x1024.jpg 723w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002.jpg 762w" sizes="(max-width: 125px) 100vw, 125px" /></p>
<p>Leni Marlina merupakan penyair, penulis dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.</p>
<p>Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Ia juga mengabdikan diri sebagai kontributor dan redaktur di beberap media termasuk SAN (Suara Anak Negri) Media Group.</p>
<p>Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</p>
<p>Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.</p>
<p>Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id<br />
Wattpad: @lenimarlina_write<br />
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-8034" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM-200x300.jpeg" alt="" width="436" height="654" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM-200x300.jpeg 200w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM-682x1024.jpeg 682w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM-768x1152.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM.jpeg 853w" sizes="(max-width: 436px) 100vw, 436px" /></p>
<p>Ilustrasi Cover Kumpulan Puisi &#8220;Pabrik yang Mengalengkan Hujan&#8221; Karya Leni Marlina. Sumber gambar: Starcom Indonesia&#8217;s Cover No.922.21072026-LM.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
