<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan puisi Sebelum Langit Lupa Cara Biru &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/kumpulan-puisi-sebelum-langit-lupa-cara-biru/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Sep 2026 15:11:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Kumpulan puisi Sebelum Langit Lupa Cara Biru &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kumpulan puisi Sebelum Langit Lupa Cara Biru</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/internasional/kumpulan-puisi-sebelum-langit-lupa-cara-biru</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2026 15:11:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan puisi Sebelum Langit Lupa Cara Biru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=11601</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Era Nurza &#8211; 1. Paru-Paru yang Dibakar Kabut turun bukan lagi embun tapi asap yang kau beri nama pembangunan Pagi tak lagi bening ia batuk, sesak, dan hitam di tenggorokan Pohon-pohon berdiri seperti jenazah daunnya abu, akarnya doa yang tak sampai Burung lupa cara pulang karena langitnya sudah kau jual Kau tebang untuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Era Nurza</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>1. Paru-Paru yang Dibakar</strong></p>
<p>Kabut turun bukan lagi embun<br />
tapi asap yang kau beri nama pembangunan<br />
Pagi tak lagi bening<br />
ia batuk, sesak, dan hitam di tenggorokan</p>
<p>Pohon-pohon berdiri seperti jenazah<br />
daunnya abu, akarnya doa yang tak sampai<br />
Burung lupa cara pulang<br />
karena langitnya sudah kau jual</p>
<p>Kau tebang untuk meja makanmu<br />
kau bakar untuk perluas tamakmu<br />
lalu kau tulis di spanduk: jaga alam<br />
dengan tangan yang masih berlumur arang</p>
<p>Alam tidak butuh puisimu<br />
alam butuh kau berhenti</p>
<p>Padang,September 2026</p>
<p><strong>2. Ketika Gunung Menahan Napas</strong></p>
<p>Gunung tidak lagi biru<br />
ia kelabu, dibekap kabut dan jelaga<br />
Sungai tidak lagi mengalir<br />
ia merayap, membawa racun dan plastik</p>
<p>Kau sebut itu kabut musim<br />
padahal itu asap dari keserakahanmu sendiri<br />
Kau sebut itu cuaca buruk<br />
padahal itu alam yang sedang mengutuk</p>
<p>Jangan tunggu hutan berlutut<br />
jangan tunggu tanah benar-benar mati<br />
Sekali ia diam, ia tak akan kembali</p>
<p>Jaga alam<br />
sebelum alam tak lagi mau menjagamu</p>
<p>Padang, September 2026</p>
<p><strong>3. Doa Pohon di Dalam Asap</strong></p>
<p>Aku masih di sini<br />
dalam kabut yang bukan lagi kabut<br />
Daunku kau catat sebagai oksigen<br />
tapi kau hisap lebih rakus dari api</p>
<p>Aku tak minta dipuja<br />
hanya jangan dibakar diam-diam<br />
Aku tak minta disembah<br />
hanya beri aku hujan yang bersih<br />
bukan hujan yang membawa abu namamu</p>
<p>Padang, September 2026</p>
<p><strong>4. Langit Sudah Muak</strong></p>
<p>Sudah kuberi biru, kau balas jelaga<br />
Sudah kuberi hujan, kau balas limbah<br />
Sudah kuberi napas, kau balas knalpot dan cerobong</p>
<p>Kau pikir kabut ini romantis?<br />
Ini kafanku<br />
Kau pikir asap ini estetika?<br />
Ini sumpahku</p>
<p>Teruslah tebang<br />
sampai oksigen tinggal di museum<br />
sampai anakmu menghirup debu<br />
dan menyebutnya udara.</p>
<p>Padang, September 2026</p>
<p>&#8211;</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-11604" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era2-169x300.jpg" alt="" width="253" height="449" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era2-169x300.jpg 169w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era2-576x1024.jpg 576w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/09/era2.jpg 768w" sizes="(max-width: 253px) 100vw, 253px" /></p>
<p><strong>Tentang Penulis</strong></p>
<p>Edrawati, M.Pd., yang dikenal dengan nama pena Era Nurza, adalah penulis, penyair, dan sosok guru inspiratif yang percaya bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, tetapi membentuk karakter dan menyalakan semangat belajar. Ia membimbing murid-muridnya untuk berani menulis dan mengekspresikan gagasan melalui karya. Hingga kini, ia telah melahirkan buku tunggal dan lebih dari 50 antologi, karyanya fiksi maupun nonfiksi. Aktif di berbagai komunitas literasi nasionl dan internasional. Era Nurza terus menebarkan cahaya literasi dan motivasi agar generasi muda mencintai ilmu dan menulis dengan hati.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
