<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Puisi Leni Marlina &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/kumpulan-puisi-leni-marlina/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jul 2026 20:28:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Kumpulan Puisi Leni Marlina &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kumpulan Puisi Leni Marlina: &#8220;BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kumpulan-puisi-leni-marlina-burung-yang-terbang-membawa-namamu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 20:28:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA["BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU"]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Leni Marlina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7890</guid>

					<description><![CDATA[/1/ BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU Puisi: Leni Marlina &#8211; Wahai engkau yang di sana. Meskipun pagi belum sepenuhnya membuka mata, Kubangunkan engkau dengan suara embun. Di antara dua gumpal embun, seekor burung sedang mengasah suaranya pada tulang cahaya. Aku menyebut namamu. Tidak keras. Hanya seperti akar yang menukar garam dengan tanah. Namamu bergerak perlahan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Wahai engkau yang di sana.<br />
Meskipun pagi belum sepenuhnya membuka mata,<br />
Kubangunkan engkau dengan suara embun.<br />
Di antara dua gumpal embun,<br />
seekor burung sedang mengasah suaranya<br />
pada tulang cahaya.</p>
<p>Aku menyebut namamu.<br />
Tidak keras.<br />
Hanya seperti akar<br />
yang menukar garam dengan tanah.</p>
<p>Namamu bergerak perlahan<br />
ke dalam tenggorokan burung itu,<br />
lalu berubah menjadi sesuatu<br />
yang tidak lagi menyerupai bahasa:<br />
Sebutir aroma.<br />
Warna yang belum ditemukan mata.<br />
Suhu tipis pada batu<br />
setelah sungai berpindah usia.</p>
<p>Burung itu terbang.<br />
Bukan ke arahmu.<br />
Langit tidak mengenal arah.<br />
Ia terbang ke dalam jarak<br />
yang terus menumbuhkan dirinya sendiri.</p>
<p>Di bawahnya,<br />
sawah-sawah sedang menghafal bentuk hujan yang akan datang.<br />
Kabut menggembalakan kehilangan<br />
dari bukit ke bukit.<br />
Dan waktu—<br />
waktu duduk di tunggul pohon<br />
mengupas kulitnya sendiri.</p>
<p>Aku menunggumu seperti lumut<br />
pada sisi utara batu.<br />
Menunggumu seperti biji-biji liar<br />
di bawah lidah musim kemarau.<br />
Menunggumu seperti cahaya<br />
yang terperangkap bertahun-tahun<br />
di dalam getah.</p>
<p>Maka aku menyimak<br />
dari hal-hal yang tidak bergerak.<br />
Dari batang bambu<br />
yang menyimpan suara hujan<br />
tanpa pernah mengucapkannya.<br />
Dari tanah<br />
yang merahasiakan ribuan akar<br />
namun tetap mengangkat hutan.<br />
Dari embun<br />
yang setiap pagi mati<br />
tanpa kehilangan keyakinan<br />
kepada matahari.</p>
<p>Burung yang membawa namamu masih terbang.<br />
Kini sayapnya dipenuhi<br />
serbuk-serbuk fajar.<br />
Paruhnya berbau daun muda.<br />
Matanya menyimpan pantulan<br />
sesuatu yang belum terjadi.</p>
<p>Aku tidak tahu<br />
kapan ia akan tiba.<br />
Tetapi pagi yang sama<br />
yang menumbuhkan suaranya<br />
di antara dua gumpal embun,<br />
sedang tumbuh juga<br />
di dalam darahmu.</p>
<p>Dan barangkali itulah sebabnya<br />
ketika seekor burung bernyanyi,<br />
udara di sekitarku<br />
seakan membuka sebuah jendela tak terlihat,<br />
sementara jauh di sana,<br />
tanpa kita ketahui,<br />
sesuatu yang lama terpisah<br />
sedang mengganti kulitnya<br />
menjadi satu musim untuk kita.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>BURUNG YANG MENYIMPAN MUSIM DI PARUHNYA</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau mungkin masih tertidur di sana.<br />
Pagi datang dengan kantong-kantong kabut yang belum selesai dijahit angin.<br />
Seekor burung hinggap di dahan tertinggi cahaya.<br />
Paruhnya tertutup rapat,<br />
seolah sedang menyembunyikan sesuatu.</p>
<p>Aku mengira itu biji.<br />
Atau serpihan langit yang jatuh saat malam berganti kulit.<br />
Tetapi ketika ia mengepakkan sayap,<br />
aku melihat musim-musim keluar dari sela bulunya:<br />
musim hujan yang masih basah oleh bau tanah,<br />
musim kemarau yang menyimpan suara retak pada punggung sungai,<br />
dan musim kehilangan yang selalu tumbuh lebih cepat dari rerumputan.</p>
<p>Burung itu tidak bernyanyi.<br />
Ia hanya terbang melintasi lembah-lembah waktu.<br />
Di bawahnya,<br />
pepohonan membuka daun seperti membuka surat lama.<br />
Gunung-gunung menundukkan kepala.<br />
Batu-batu tua menggeser ingatan mereka beberapa sentimeter lebih dekat kepada lumut.</p>
<p>Aku mengikuti bayangannya.<br />
Tetapi bayangan ternyata tidak pernah tinggal di tempat yang sama.<br />
Ia berpindah dari tanah ke air, dari air ke awan,<br />
dari awan ke sesuatu yang bahkan belum memiliki nama.</p>
<p>Menjelang senja,<br />
burung itu menghilang,<br />
seperti dirimu yang menghilang sejak lama.<br />
Namun udara masih dipenuhi aroma musim yang tertinggal.</p>
<p>Dan aku mengerti:<br />
beberapa perjumpaan tidak datang untuk menetap.<br />
Ia datang agar dunia mengingat kembali cara berubah.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>SARANG YANG DITINGGALKAN ANGIN</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>Lihatlah!<br />
Di cabang terakhir pohon tua, sebuah sarang menggantung.<br />
Tidak kosong.<br />
Di dalamnya masih ada sisa hangat bulu,<br />
bau hujan yang telah berlalu,<br />
dan sebutir pagi yang gagal menetas.</p>
<p>Rasakanlah!<br />
Angin datang setiap hari.<br />
Ia mengelus tepi sarang itu seperti seseorang yang belum selesai mengucapkan selamat tinggal.<br />
Daun-daun gugur satu demi satu.</p>
<p>Musim berpindah rumah.<br />
Bahkan langit mengganti warna matanya.<br />
Tetapi sarang itu tetap tinggal.<br />
Bukan karena kuat.<br />
Melainkan karena tahu:<br />
ada hal-hal yang tidak bisa dibawa pergi,<br />
bahkan oleh waktu.</p>
<p>Pagi ini,<br />
seekor burung muda hinggap.<br />
Ia tidak mengenal siapa yang pernah tinggal di sana.<br />
Tidak mengenal nyanyian yang pernah mengisi ranting-rantingnya.<br />
Namun ia membawa sehelai rumput baru.<br />
Lalu sehelai lagi.<br />
Dan sehelai lagi.<br />
Aku melihatnya bekerja sampai matahari tumbuh penuh.</p>
<p>Saat itulah kita mengerti:<br />
alam tidak pernah menghapus kehilangan.<br />
Ia hanya menanam kehidupan di tempat yang sama hingga luka belajar menjadi rumah.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>KETIKA LANGIT BELAJAR MENJADI SUNGAI</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Suatu pagi<br />
langit lupa bahwa dirinya langit.<br />
Ia mengalir.<br />
Mula-mula sebagai garis tipis cahaya di sela dedaunan.<br />
Lalu sebagai desir biru yang merambat di punggung bukit.</p>
<p>Awan-awan hanyut.<br />
Matahari menjadi ikan emas yang berenang perlahan di antara arus udara.<br />
Burung-burung mengangkat sayap mereka seperti perahu kecil.</p>
<p>Aku berdiri di tepi hari.<br />
Melihat waktu mengapung bersama daun-daun.</p>
<p>Melihat kenangan berputar seperti pusaran yang tidak menuju mana-mana.<br />
Jauh di hulu,<br />
sebuah gunung sedang mencair menjadi doa.<br />
Jauh di muara,<br />
laut membuka kedua tangannya untuk menerima segala yang pergi.</p>
<p>Tidak ada yang tenggelam.<br />
Tidak ada yang tiba.<br />
Semuanya hanya berubah bentuk.<br />
Termasuk aku.<br />
Termasuk engkau.<br />
Kita semuanya.<br />
Termasuk nama-nama yang selama ini kita kira lebih kekal daripada air.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>POHON YANG MENUMBUHKAN BAYANGAN</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Tahukah dirimu?<br />
Di halaman yang jarang dikunjungi musim,<br />
tumbuh sebuah pohon.<br />
Batangnya tua.<br />
Akarnya memasuki tanah lebih dalam daripada ingatan.</p>
<p>Setiap pagi ia menumbuhkan bayangan.<br />
Bukan daun.<br />
Bukan bunga.<br />
Melainkan bayangan.<br />
Bayangan yang memanjang ke jalan-jalan sunyi.<br />
Bayangan yang menyentuh jendela rumah-rumah kosong.<br />
Bayangan yang duduk diam di bahu orang-orang yang sedang menyembunyikan kesedihan.</p>
<p>Aku bertanya kepada pohon itu:<br />
mengapa bukan buah?<br />
Pohon itu tidak menjawab.<br />
Anginlah yang berbicara<br />
Katanya, buah memberi makan tubuh.<br />
Tetapi bayangan memberi tempat beristirahat bagi jiwa yang kelelahan.</p>
<p>Sejak hari itu,<br />
aku sering duduk di bawahnya.<br />
Melihat matahari memahat bentuk-bentuk sementara.<br />
Melihat waktu jatuh perlahan dari cabang ke cabang.</p>
<p>Dan ketika senja datang,<br />
aku menemukan sesuatu yang selama ini kucari:<br />
tidak semua kehidupan harus berbunga untuk menjadi berguna.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/6/</p>
<p><strong>KETIKA BURUNG MEMINJAM TULANG PAGI</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pagi masih tidur di bawah kelopak rawa.<br />
Seekor burung membongkar tulang-tulang cahaya yang semalam dikuburkan kabut.<br />
Paruhnya berlumur warna kuning yang berbau akar basah.<br />
Ia mematuki matahari kecil yang tumbuh di bawah kuku rumput.<br />
Dari luka itu,<br />
langit mengeluarkan suara.<br />
Suara yang berbulu.<br />
Suara yang setiap helainya menyimpan sisa hujan dari abad yang telah lapuk.</p>
<p>Di kejauhan, sungai sedang menyisir rambutnya dengan sisir dari sisik ikan.<br />
Batu-batu tua mengunyah bayangan sendiri.<br />
Bukit membuka punggungnya, memperlihatkan ruas-ruas kenangan yang selama ini disembunyikan tanah.</p>
<p>Aku melihat waktu.<br />
Ia duduk di atas tunggul.<br />
Tubuhnya penuh bekas gigitan musim.<br />
Sesekali ia mencabut kulitnya lalu menjemurnya di jemuran angin.</p>
<p>Tidak ada yang aneh.<br />
Di negeri ini,<br />
kesedihan memang biasa tumbuh seperti jamur di sela gigi matahari.<br />
Sementara burung itu terus terbang.<br />
Sayapnya mengibaskan debu-debu umur.<br />
Dan setiap kepakannya,<br />
satu pohon kehilangan ingatan,<br />
satu awan menggugurkan mimpi,<br />
satu embun belajar cara menjadi laut.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>KETIKA KAMI MENJAHIT LANGITMU YANG ROBEK</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kami menemukan namamu<br />
tersangkut pada duri angin<br />
di punggung musim.<br />
Saat itu<br />
langit sedang mencabut paku-paku karat<br />
dari dadanya.</p>
<p>Burung-burung melintas rendah,<br />
membawa serpihan tawa anak-anak<br />
yang tercecer<br />
di jalan tanah kampung.<br />
Sungai menggendongnya<br />
ke muara.<br />
Airnya mulai lupa<br />
rasa lumpur<br />
yang dahulu membesarkannya.</p>
<p>Kami melihat padi-padi kurus<br />
berjalan dari sawah ke lumbung.<br />
Tetapi lumbung sibuk<br />
menghitung emas<br />
di balik dinding perutnya.</p>
<p>Di rumah-rumah tertentu<br />
beras menumpuk seperti musim panen.<br />
Di rumah-rumah lain<br />
periuk menggema kosong<br />
sepanjang malam.<br />
Maka hujan jatuh<br />
di atap-atap seng<br />
yang sudah basah.<br />
Sementara tanah pecah<br />
menjilati debu<br />
dari mulut kemarau.</p>
<p>Kami mendengar uang.<br />
Ia berdesis<br />
di bawah kulit hutan.<br />
Mengunyah meranti.<br />
Memamah bukit.<br />
Menelan sungai.</p>
<p>Malam demi malam<br />
ia mengangkut kampung-kampung<br />
ke dalam perut truk,<br />
meninggalkan tunggul,<br />
debu,<br />
dan nama-nama yang kehilangan alamat.</p>
<p>Tetapi jauh di bawah tanah,<br />
akar-akar masih bertukar kabar.<br />
Benih-benih masih berunding.<br />
Cacing-cacing menulis jalan pulang<br />
pada kitab gelap bumi.</p>
<p>Dan padi muda<br />
diam-diam mengasah keberanian<br />
di ruas batangnya.<br />
Sawah mulai melupakan<br />
jejak laras.<br />
Sungai kembali menghafal ikan.<br />
Bakau merajut ulang<br />
tepi laut yang koyak.</p>
<p>Anak-anak kampung<br />
membesarkan tawa mereka<br />
hingga lebih tinggi<br />
daripada pagar-pagar ketakutan.</p>
<p>Dan keadilan—<br />
seekor burung rangkong<br />
yang lama diburu keserakahan.<br />
Ia terbang<br />
membawa biji-biji hutan<br />
dari gunung yang terluka<br />
ke tanah yang nyaris lupa<br />
cara bertumbuh.</p>
<p>Jika langitmu robek lagi,<br />
panggillah kami.<br />
Kami akan datang<br />
membawa jarum<br />
dari tulang cahaya.<br />
Membawa benang<br />
yang dipintal dari<br />
keringat petani,<br />
dayung nelayan,<br />
doa para ibu,<br />
dan mimpi anak-anak<br />
yang terus bertumbuh.</p>
<p>Lalu kita jahit kembali cakrawala.<br />
Agar padi dan palawija<br />
tidak asing bagi penanamnya.<br />
Agar laut<br />
tidak jauh dari nelayannya.<br />
Agar hutan<br />
tidak kehilangan nama pohonnya.<br />
Agar hujan<br />
tidak memilih alamat.<br />
Dan agar tak ada lagi pagar<br />
di antara lapar dan panen,<br />
di antara sungai dan haus,<br />
di antara tanah<br />
dan pemiliknya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;000&#8212;</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-7206" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-212x300.jpeg" alt="" width="212" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-212x300.jpeg 212w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-723x1024.jpeg 723w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina.jpeg 762w" sizes="(max-width: 212px) 100vw, 212px" /></p>
<p><strong>Tentang Penulis &#8211; Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.</p>
<p>Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan.</p>
<p>Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</p>
<p>Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.</p>
<p>Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id<br />
Wattpad: @lenimarlina_write<br />
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Leni Marlina &#8220;Senja dan Cahaya di Matamu&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/kumpulan-puisi-leni-marlina-senja-dan-cahaya-di-matamu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 16:52:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[Senja dan Cahaya di Matamu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=5396</guid>

					<description><![CDATA[/1/ Senja dan Cahaya di Matamu Puisi: Leni Marlina — Senja meminum pelan cahaya dari matamu sementara angkutan kota, angkot tua warna hijau batuk-batuk di tikungan jalan mengangkut buruh, doa, dan bau hujan. Kursi-kursinya yang sobek lebih hafal bentuk tulang belakang pejuang keluarga daripada mikrofon-mikrofon istana Di trotoar basah, seorang anak penjual tisu berlari mengejar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>Senja dan Cahaya di Matamu</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Senja meminum pelan<br />
cahaya dari matamu<br />
sementara angkutan kota, angkot tua warna hijau<br />
batuk-batuk di tikungan jalan<br />
mengangkut buruh, doa, dan bau hujan.</p>
<p>Kursi-kursinya yang sobek<br />
lebih hafal bentuk tulang belakang pejuang keluarga<br />
daripada mikrofon-mikrofon istana</p>
<p>Di trotoar basah,<br />
seorang anak penjual tisu<br />
berlari mengejar lampu merah<br />
yang selalu lebih cepat darinya.</p>
<p>Namun matamu tetap hangat:<br />
roti terakhir<br />
di tangan bocah pengungsi<br />
yang mulai lupa aroma tanah selepas hujan di kampung halamannya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>Kota Mengunyah Langit</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Gedung-gedung tinggi<br />
mengunyah langit sore<br />
dengan rahang beton<br />
yang bau semen dan keserakahan.</p>
<p>Sebuah angkot tua<br />
merayap pelan di bawah flyover,<br />
tubuhnya gemetar<br />
seperti dada ayah<br />
yang memikul cicilan hidup.</p>
<p>Dari jendelanya yang berdebu,<br />
anak kecil menjual mawar<br />
dengan suara serak<br />
seperti payung patah<br />
terseret got penuh iklan pemilu</p>
<p>Lalu matamu muncul<br />
dan seolah senja berdarah pelan<br />
di kaca angkot yang suram.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p>Hujan Tidur di Pelupukmu</p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Hujan tidur di pelupukmu<br />
seperti burung basah<br />
yang kehilangan arah migrasi.</p>
<p>Angkot, angkutan kota, terakhir malam itu<br />
melaju lambat<br />
membawa bau solar, pakaian buruh,<br />
dan kantuk para ibu pasar.</p>
<p>Tangan angkot yang berkarat<br />
mencengkeram jalan berlubang<br />
seperti nelayan tua<br />
memegang sisa ombak.</p>
<p>Di bawah jembatan,<br />
lelaki tua mengunyah nasi dingin<br />
dan deru kendaraan<br />
serta bau got yang ikut masuk ke mulutnya,<br />
seolah memakan<br />
sisa hidupnya sendiri.</p>
<p>Dan matamu<br />
menjelma lampu kecil<br />
di kaca depan angkot<br />
yang menolak padam di hujan deras.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>Langit Sore Robek Perlahan</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Langit sore robek perlahan.<br />
Matahari meneteskan warna jingga<br />
seperti darah tipis<br />
di bibir bumi yang demam.</p>
<p>Di terminal sempit,<br />
angkot-angkot tua berjajar<br />
seperti kuda renta<br />
yang dipaksa terus menarik<br />
beban kehidupan kota.</p>
<p>Knalpot mereka batuk hitam<br />
ke paru-paru senja,<br />
namun tetap setia<br />
mengantar manusia pulang<br />
meski tak pernah benar-benar sampai.</p>
<p>Dan matamu menjahit semua itu<br />
dengan cahaya kecil<br />
setabah sopir tua<br />
yang tetap mengemudi<br />
meski matanya mulai kabur oleh usia.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>Tenggorokan Malam Penuh Semen dan Iklan</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>—</p>
<p>Malam menelan kota<br />
dengan mulut hitam<br />
berbau asap, kopi basi,<br />
dan kesepian terminal terakhir.</p>
<p>Angkot tua melintas pelan<br />
dengan tubuh penuh lecet,<br />
seperti veteran perang<br />
yang tak pernah diberi medali.</p>
<p>Lampunya berkedip lemah-<br />
di antara hujan dan billboard raksasa,<br />
tetapi ia tetap berjalan<br />
mengangkut manusia-manusia letih<br />
menuju kamar sempit<br />
dan mimpi-mimpi cacat<br />
yang tetap dipelihara sampai pagi.</p>
<p>Kulihat sisa matahari di matamu,<br />
senja masih menyala kecil<br />
seperti lampu angkot terakhir<br />
yang bertahan hidup<br />
di tenggorokan malam penuh sesak dengan semen dan iklan.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-4493" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21-236x300.jpeg" alt="" width="236" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21-236x300.jpeg 236w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21-806x1024.jpeg 806w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21-768x976.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-22.06.21.jpeg 952w" sizes="(max-width: 236px) 100vw, 236px" /></p>
<p><strong>Tentang Penyair – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina merupakab seorang penyair, penulis, penerjemah, dan akademisi di Departemen Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.</p>
<p>Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan sebagai praktik kreatif sekaligus dialog moral dengan dunia.</p>
<p>Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia juga menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional dan internasional. Tulisan-tulisannya sering mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.</p>
<p>Di samping karier akademiknya, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis dan editor lepas di platform media digital seperti Suara Anak Negeri News dan Negeri News, tempat ia menerbitkan artikel tentang pendidikan, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Kedua platform tersebut memiliki misi yang sama, yaitu “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”</p>
<p>Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari beberapa komunitas sastra dan literasi, di antaranya PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, serta pengembangan literasi lintas budaya.</p>
<p>Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif di beberapa organisasi kepenulisan, termasuk SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan PLS. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia &amp; sejak tahun 2024 juga berrgabung sebagai anggota Shanghai Huifeng International Literarty Association (ACC SHILA).</p>
<p>Kontribusinya dalam dunia sastra telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam acara International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta menerima penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
