<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Puisi Karya Zulkifli: &#8220;KALI INI BUKAN BARANGKALI&#8221; &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/kumpulan-puisi-karya-zulkifli-kali-ini-bukan-barangkali/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Sep 2026 22:06:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Kumpulan Puisi Karya Zulkifli: &#8220;KALI INI BUKAN BARANGKALI&#8221; &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Zulkifli: &#8220;KALI INI BUKAN BARANGKALI&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kumpulan-puisi-karya-zulkifli-kali-ini-bukan-barangkali</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 22:06:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Karya Zulkifli: "KALI INI BUKAN BARANGKALI"]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10556</guid>

					<description><![CDATA[/1/ BELUM JADI TUAN DI NEGERI SENDIRI Puisi: Zulkifli Abdy &#8211; Setelah 81 tahun Indonesia merdeka Hari kemerdekaan berulang-ulang Kita rayakan setiap 17 Agustus Benarkah kita telah merdeka Secara de jure tentu sudah Dan dunia mengakuinya De facto terasa belum Bangsa belum bebas Dari jerat kemiskinan Bayar pajak ini dan itu Dari rasa ketidakadilan Harga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>BELUM JADI TUAN</strong><br />
<strong>DI NEGERI SENDIRI</strong></p>
<p>Puisi: Zulkifli Abdy</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Setelah 81 tahun Indonesia merdeka<br />
Hari kemerdekaan berulang-ulang<br />
Kita rayakan setiap 17 Agustus<br />
Benarkah kita telah merdeka<br />
Secara de jure tentu sudah<br />
Dan dunia mengakuinya<br />
De facto terasa belum<br />
Bangsa belum bebas<br />
Dari jerat kemiskinan<br />
Bayar pajak ini dan itu<br />
Dari rasa ketidakadilan<br />
Harga yang serba mahal<br />
Berbagai kebijakan negara<br />
Yang tak berpihak pada rakyat<br />
Kesempatan kerja yang terbatas<br />
Anehnya, tenaga asing relatif bebas<br />
Rakyat belum jadi tuan di negeri sendiri.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>(Banda Aceh, 17 Agustus 2026).</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>KALI INI BUKAN BARANGKALI</strong></p>
<p>Puisi: Zulkifli Abdy</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kali ini<br />
Aku tak ingin menulis metafora angin<br />
Tetapi lebih tentang napas<br />
Kehidupan<br />
Tak juga tentang matahari dan bulan<br />
Tetapi lebih tentang energi<br />
Kekuatan</p>
<p>Kali ini<br />
Aku tak ingin bercerita tentang daun<br />
Tetapi lebih tentang buah<br />
Kemanfaatan<br />
Tak juga ingin bertanya tentang janji<br />
Tetapi lebih tentang bukti<br />
Kenyataan</p>
<p>Kali ini<br />
Aku tak menuntut penegakan hukum<br />
Tetapi lebih daripada itu<br />
Keadilan<br />
Tak lagi bicara tentang kemerdekaan<br />
Tetapi lebih daripada itu<br />
Kesejahteraan.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>(Banda Aceh, 8 Agustus 2026).</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>MERDEKA TAPI BELUM</strong></p>
<p>Puisi: Zulkifli Abdy</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Indonesia merdeka 81 tahun silam<br />
Tapi sudah merdekakah kita<br />
Aku pun nelangsa<br />
Aku teringat ucapan pemimpin lugu<br />
Sudah, tapi belum<br />
Lalu untuk apa kita merdeka<br />
Kalau hanya untuk perayaan belaka</p>
<p>Indonesia merdeka 81 tahun silam<br />
Kita telah lalui beberapa orde<br />
Ada orde lama<br />
Setelah itu kita menjalani orde baru<br />
Lalu reformasi<br />
Yang digerakkan mahasiswa<br />
Semua tidak membawa perubahan</p>
<p>Ingin kutelisik jejak kemerdekaan<br />
Aku pun berbisik lirih di dalam renungan<br />
Batinku bergejolak<br />
Jiwaku kini berontak<br />
Dalam igau aku bertanya<br />
Untuk apa juga kita merdeka<br />
Aku ingatkan, sadarlah wahai pemimpin<br />
Jangan kalian lupa<br />
Sehingga kami semakin tak merdeka<br />
Kalian adalah khalifah<br />
Kami bukan hamba sahaya<br />
Kami empunya daulat<br />
Maka kami ini adalah juga penguasa<br />
Kalian itu pelayan<br />
Maka sepatutnya lah kalian berkhidmat<br />
Hanyalah untuk kami semata<br />
Bukan kepada siapa-siapa<br />
Bukan pula kelompok<br />
Atau partai kalian<br />
Apalagi pada oligarki di balik kekuasaan<br />
Supaya kita benar-benar merdeka.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>(Bandar Udara Kualanamu, 9 Juni 2026)</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penyair &#8211; Zulkifli Abdy</strong></p>
<p>Zulkifli Abdy merupakan penulis dan penyair senior kelahiran Jambi yang berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia merupakan lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas untuk mengisi kesenggangan, tetapi salah satu cara untuk menuangkan perasaan secara imajinatif, juga sebagai pengganti catatan harian.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
