<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>IOSoP 2026 &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/iosop-2026/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Jun 2026 17:41:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>IOSoP 2026 &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title></title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/internasional/6965</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 17:41:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Winda Setia Sari]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Multilingualisme dan Identitas Puitik]]></category>
		<category><![CDATA[IOSoP 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis Puisi dalam Bahasa Kedua]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa Kehilangan Jati Diri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=6965</guid>

					<description><![CDATA[Laporan Paulus Laratmase &#8211; Salah satu sesi yang paling reflektif dalam The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP) 2026 menghadirkan Dr. Winda Setia Sari, dosen Universitas Negeri Medan yang sebelumnya mengabdi sebagai dosen Universitas Negeri Padang. Dalam presentasinya yang berjudul &#8220;Writing Poetry in a Second Language: Exploring Multilingualism and Poetic Identity&#8221;(Menulis Puisi dalam Bahasa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Laporan Paulus Laratmase</p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Salah satu sesi yang paling reflektif dalam <em>The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP) 202</em><strong>6</strong> menghadirkan <strong>Dr. Winda Setia Sari</strong>, dosen Universitas Negeri Medan yang sebelumnya mengabdi sebagai dosen Universitas Negeri Padang. Dalam presentasinya yang berjudul <em>&#8220;Writing Poetry in a Second Language: Exploring Multilingualism and Poetic Identity&#8221;</em>(Menulis Puisi dalam Bahasa Kedua: Mengeksplorasi Multilingualisme dan Identitas Puitik), ia mengajak peserta memasuki pergulatan batin seorang penyair yang berkarya menggunakan bahasa kedua.</p>
<p>Dengan memadukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, presentasi tersebut tidak hanya menyampaikan hasil penelitian berbasis praktik (<em>practice-based research</em>), tetapi juga menghadirkan perjalanan personal seorang perempuan Minangkabau Muslim yang berusaha menemukan suara autentiknya dalam puisi berbahasa Inggris.</p>
<p><strong>Dari Keberanian Menulis Menuju Perjalanan Akademik Internasional</strong></p>
<p>Dr. Winda mengawali kisahnya dengan mengenang tahun 2017 ketika ia mulai berani mempublikasikan karya sastra pertamanya dalam bahasa Inggris.</p>
<p><em>&#8220;In 2017 I started to publish my first English writing.&#8221;</em></p>
<p>(&#8220;Pada tahun 2017 saya mulai memberanikan diri mempublikasikan tulisan pertama saya dalam bahasa Inggris.&#8221;)</p>
<p>Keputusan tersebut kemudian membawanya melanjutkan studi doktoral di Inggris. Di sanalah ia mulai menyadari bahwa menulis puisi dalam bahasa kedua bukan sekadar persoalan tata bahasa (<em>grammar</em>) atau pilihan diksi (<em>word choice</em>), melainkan pergulatan identitas.</p>
<p><strong>Puisi sebagai Ruang Pergulatan Identitas</strong></p>
<p>Salah satu puisinya menggambarkan kegelisahan tersebut. Ia mengaku pernah merasa bahwa ketika menulis dalam bahasa Inggris, dirinya justru sedang meniru tradisi sastra Barat.</p>
<p>Ia menggunakan ungkapan:</p>
<p>&#8220;White mimic.&#8221;</p>
<p>yang dapat diterjemahkan sebagai:</p>
<p>&#8220;Meniru cara pandang dan ekspresi dunia kulit putih.&#8221;</p>
<p>Perasaan tersebut melahirkan pertanyaan besar:</p>
<p>Apakah menulis dalam bahasa kedua membuat seorang penyair kehilangan identitas budayanya sendiri?</p>
<p>Menurutnya, pada masa awal menulis ia belum menemukan dirinya sebagai perempuan Asia, perempuan Indonesia, sekaligus perempuan Minangkabau dalam puisi-puisi berbahasa Inggris.</p>
<p><strong>Pertanyaan Mahasiswa yang Mengubah Arah Penelitian</strong></p>
<p>Momentum penting terjadi ketika masih mengajar mata kuliah puisi di Universitas Negeri Padang.</p>
<p>Salah seorang mahasiswanya bertanya:</p>
<p>&#8220;How could you write an English poem if you cannot sense and express your authentic inner feeling unless you wrote in your native language?&#8221;</p>
<p>Terjemahan:</p>
<p><em>&#8220;Bagaimana mungkin Ibu dapat menulis puisi dalam bahasa Inggris apabila perasaan terdalam hanya dapat diungkapkan melalui bahasa ibu?&#8221;</em></p>
<p>Mahasiswa itu juga bertanya:</p>
<p>&#8220;How can the reader recognize you through your poem if you don&#8217;t write your story in your language?&#8221;</p>
<p>Terjemahan:</p>
<p><em>&#8220;Bagaimana pembaca dapat mengenali siapa diri kita apabila kisah hidup kita tidak ditulis menggunakan bahasa sendiri?&#8221;</em></p>
<p>Pertanyaan sederhana tersebut terus membayanginya selama bertahun-tahun hingga akhirnya menjadi fondasi penelitian doktoralnya.</p>
<p><strong>Membangun Identitas Puitik (<em>Poetic Identity</em>)</strong></p>
<p>Dalam perjalanan akademiknya, Dr. Winda merumuskan pertanyaan penelitian utama:</p>
<p>&#8220;How can I develop my poetic identity by drawing on the multi-self attached to me as a woman, as a Muslim Minangkabau woman, daughter, wife, and mother in my second language writing?&#8221;</p>
<p>Terjemahan:</p>
<p><em>&#8220;Bagaimana saya dapat membangun identitas kepenyairan dengan menghadirkan seluruh identitas diri saya sebagai perempuan, perempuan Muslim Minangkabau, anak, istri, dan ibu dalam tulisan berbahasa kedua?&#8221;</em></p>
<p>Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi kajian mengenai hubungan antara multilingualism (multilingualisme) dengan second language writing identity (identitas kepenulisan dalam bahasa kedua).</p>
<p><strong>Multilingualisme Bukan Ancaman Identitas</strong></p>
<p>Salah satu gagasan utama yang disampaikan adalah bahwa penggunaan bahasa kedua tidak otomatis menghapus identitas budaya.</p>
<p>Sebaliknya, multilingualisme justru membuka ruang baru bagi penyair untuk memperluas ekspresi artistik tanpa kehilangan akar budayanya.</p>
<p>Dalam pandangan Dr. Winda:</p>
<p><em>&#8220;</em>Writing in a second language does not make you lose your identity.&#8221;</p>
<p>Terjemahan:</p>
<p><em>&#8220;Menulis dalam bahasa kedua tidak membuat seseorang kehilangan identitasnya.&#8221;</em></p>
<p>Pernyataan ini menjadi tesis utama seluruh presentasinya.</p>
<p><strong>Practice-Based Research: Seni sebagai Metode Penelitian</strong></p>
<p>Penelitian doktoralnya menggunakan pendekatan “Practice-Based Research” <em>(Penelitian Berbasis Praktik)</em>.</p>
<p>Pendekatan ini tidak dimulai dari teori semata, melainkan dari proses penciptaan karya seni.</p>
<p>Selama hampir empat tahun ia: menulis puisi; merefleksikan proses kreatif; mengevaluasi karya-karya yang dihasilkan; membaca penyair-penyair Asia; membandingkan pengalaman estetik; menghasilkan pengetahuan baru melalui praktik penciptaan.</p>
<p>Dengan demikian, puisi tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi sekaligus metode untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah.</p>
<p><strong>Poetry as Identity, Not Mere Language</strong></p>
<p><em>(Puisi sebagai Identitas, Bukan Sekadar Bahasa)</em></p>
<p>Pesan terpenting yang disampaikan Dr. Winda ialah bahwa bahasa hanyalah medium.</p>
<p>Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengalaman hidup, budaya, agama, keluarga, sejarah, dan memori kolektif hadir di dalam puisi.</p>
<p>Seorang penyair Indonesia tetap dapat menjadi dirinya sendiri meskipun menulis dalam bahasa Inggris, selama pengalaman budaya tersebut tetap menjadi ruh karya yang diciptakannya.</p>
<p>Dengan kata lain, identitas bukan ditentukan oleh bahasa yang dipakai, melainkan oleh kesadaran penyair terhadap akar budayanya.</p>
<p><strong>Puisi Penutup sebagai Kesimpulan Artistik</strong></p>
<p>Sebagai penutup presentasi, Dr. Winda membacakan puisi yang merangkum seluruh perjalanan intelektual dan kreatifnya.</p>
<p><em>If my darling betrays,</em></p>
<p><em>I hide behind</em></p>
<p><em>the corpse</em></p>
<p><em>of my second language identity.</em></p>
<p>Terjemahan bebas:</p>
<p><em>Apabila kekasihku mengkhianatiku,</em></p>
<p><em>aku bersembunyi</em></p>
<p><em>di balik jasad</em></p>
<p><em>identitas bahasa keduaku.</em></p>
<p>Puisi singkat ini menjadi metafora mendalam mengenai pergulatan seorang penyair yang pernah merasa terasing dalam bahasa kedua, tetapi akhirnya menyadari bahwa identitas sejati tidak pernah benar-benar hilang. Bahasa hanyalah ruang ekspresi; sementara jati diri tetap hidup melalui pengalaman, budaya, ingatan, dan kesadaran akan asal-usul.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Presentasi Dr. Winda Setia Sari memperlihatkan bahwa menulis puisi dalam bahasa kedua bukanlah bentuk pengingkaran terhadap bahasa ibu, melainkan sebuah proses negosiasi identitas yang terus berkembang. Melalui pendekatan <em>practice-based research</em>, ia menunjukkan bahwa kreativitas dan penelitian ilmiah dapat berjalan beriringan untuk melahirkan pengetahuan baru.</p>
<p>Bagi para penyair, akademisi, mahasiswa, dan pegiat sastra yang mengikuti IOSoP 2026, presentasi ini menghadirkan pesan penting bahwa multilingualisme bukan ancaman bagi identitas, melainkan jembatan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada dunia. Seorang penyair Indonesia tidak harus kehilangan keindonesiaannya ketika menulis dalam bahasa Inggris; sebaliknya, bahasa kedua dapat menjadi medium yang memperluas jangkauan suara budaya, nilai, dan pengalaman hidupnya ke panggung sastra internasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>IOSoP 2026 Tegaskan Puisi sebagai Suara Kemanusiaan di Era Digital, Ketua Panitia: Kualitas Seminar Tetap Terjaga Meski Digelar Sepenuhnya Daring</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/internasional/iosop-2026-tegaskan-puisi-sebagai-suara-kemanusiaan-di-era-digital-ketua-panitia-kualitas-seminar-tetap-terjaga-meski-digelar-sepenuhnya-daring</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 15:25:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[IOSoP 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Kualitas Seminar Tetap Terjaga Meski Digelar Sepenuhnya Daring]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi sebagai Suara Kemanusiaan di Era Digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=6955</guid>

					<description><![CDATA[Laporan Paulus Laratmase &#8211; PADANG — suaraanaknegeri.com&#124; Ketua Panitia The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP 2026), Yusuf Achmad, M.Pd., menegaskan bahwa pelaksanaan seminar yang tahun ini diselenggarakan sepenuhnya secara daring tidak mengurangi kualitas akademik maupun substansi kegiatan. Justru sebaliknya, format virtual menjadi ruang yang lebih luas bagi para akademisi, penyair, penulis, peneliti, guru, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Laporan Paulus Laratmase</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p><strong>PADANG — suaraanaknegeri.com|</strong> Ketua Panitia <em>The Second International Online Seminar on Poetry</em> (IOSoP 2026), Yusuf Achmad, M.Pd., menegaskan bahwa pelaksanaan seminar yang tahun ini diselenggarakan sepenuhnya secara daring tidak mengurangi kualitas akademik maupun substansi kegiatan. Justru sebaliknya, format virtual menjadi ruang yang lebih luas bagi para akademisi, penyair, penulis, peneliti, guru, mahasiswa, dan pegiat literasi dari berbagai negara untuk saling bertukar gagasan mengenai peran puisi dan karya kreatif dalam membangun literasi, kemanusiaan, perdamaian, serta mendukung pencapaian <em>Sustainable Development Goals</em> (SDGs).</p>
<p>Pernyataan ini disampaikan Yusuf Achmad dalam sambutannya pada pembukaan <em>The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP 2026) </em>yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 27 Juni 2026. Seminar internasional yang mengangkat tema <em>&#8220;Poetry and Creative Works for Literacy, Humanity, Peace, and Sustainable Development Goals: Giving Voice to the Voiceless in the Digital Era.&#8221;</em></p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-6957" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-27-at-13.10.19-300x180.jpeg" alt="" width="1487" height="892" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-27-at-13.10.19-300x180.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-27-at-13.10.19-1024x615.jpeg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-27-at-13.10.19-768x461.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-27-at-13.10.19.jpeg 1366w" sizes="(max-width: 1487px) 100vw, 1487px" /></p>
<p>Dalam sambutannya, Yusuf Achmad menyampaikan penghormatan kepada seluruh tamu undangan, narasumber, penyair, akademisi, pemerhati sastra, serta panitia pelaksana yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan seminar internasional tersebut. Ia juga memberikan apresiasi kepada CEO <em>SuaraNegeri.com</em>, Paulus Laratmase, beserta seluruh pihak yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan ilmiah dan kebudayaan tersebut.</p>
<p>Yusuf mengenang keberhasilan penyelenggaraan seminar internasional pertama yang dilaksanakan secara hibrida di Universitas Negeri Padang. Menurutnya, kegiatan tersebut memperoleh sambutan yang sangat positif dari kalangan akademisi, sastrawan, mahasiswa, hingga pemerintah daerah.</p>
<p>&#8220;Saya masih ingat betapa hangatnya sambutan para pecinta sastra, akademisi, sastrawan, bahkan dari Wakil Bupati Padang Pariaman. Antusiasme peserta yang hadir secara langsung maupun daring menjadi bukti bahwa puisi tetap memiliki ruang penting dalam dunia akademik dan kehidupan masyarakat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, Yusuf mengakui adanya perubahan format menjadi sepenuhnya daring. Namun, ia menegaskan bahwa perubahan metode pelaksanaan sama sekali tidak mengurangi mutu seminar.</p>
<p>&#8220;Apakah pembelajaran tahun ini berbeda? Jawabannya ya. Berbeda karena tahun ini kita melaksanakan sepenuhnya secara daring. Namun, apakah kualitasnya menurun? Jawabannya pasti tidak,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa panitia terus melakukan berbagai inovasi agar seminar tetap menghadirkan pengalaman akademik yang berkualitas. Selain mempertahankan mutu materi ilmiah yang dipresentasikan, panitia juga menghadirkan sejumlah pembaruan dalam pelaksanaan kegiatan sehingga interaksi peserta tetap berlangsung secara efektif meskipun melalui platform digital.</p>
<p>Menurut Yusuf, perkembangan teknologi digital justru membuka peluang yang lebih besar bagi generasi muda untuk memanfaatkan ruang virtual sebagai media penyebaran ilmu pengetahuan, sastra, dan budaya. Platform digital, katanya, tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga wahana membangun ekosistem literasi yang inklusif serta menjangkau masyarakat global.</p>
<p>Salah satu bentuk inovasi penyelenggaraan IOSoP 2026 adalah pemberian kesempatan kepada lebih banyak presenter untuk berpartisipasi. Mengingat keterbatasan waktu seminar, hanya sebagian presenter yang menyampaikan makalah secara langsung melalui Zoom Meeting. Sementara presenter lainnya tetap memperoleh kesempatan menyampaikan gagasannya melalui video presentasi yang ditayangkan pada kanal YouTube resmi seminar. Skema tersebut memungkinkan lebih banyak karya ilmiah dan kreatif dapat dipublikasikan kepada peserta dari berbagai negara.</p>
<p>Dalam kesempatan itu Yusuf juga memberikan penghargaan khusus kepada mahasiswa Universitas Negeri Padang yang menjadi tulang punggung kepanitiaan. Menurutnya, dedikasi para mahasiswa menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kapasitas untuk mengelola kegiatan ilmiah bertaraf internasional dengan profesional.</p>
<p>Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Sekretaris Panitia, <em>Leni Marlina</em>, dosen Universitas Negeri Padang yang dikenal sebagai akademisi dan sastrawan, atas bimbingan yang diberikan kepada mahasiswa selama proses persiapan hingga pelaksanaan seminar.</p>
<p>&#8220;Saya tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada panitia pelaksana yang bekerja keras menjaga mutu dan performa acara ini. Mereka adalah mahasiswa Universitas Negeri Padang yang dibimbing oleh Ibu Leni Marlina. Atas nama Ketua Panitia, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan mendoakan semoga seluruh panitia senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, serta terus berkarya bagi kemajuan sastra Indonesia,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Lebih lanjut, Yusuf menilai bahwa seminar internasional semacam IOSoP selain forum presentasi ilmiah, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi lintas negara yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kebudayaan, sastra, dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui dialog akademik tersebut, para peserta diajak untuk memahami bagaimana puisi mampu menjadi medium refleksi sosial sekaligus instrumen transformasi budaya.</p>
<p>Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh penyair, penulis, komunitas sastra, guru, dosen, peneliti, dan akademisi dari dalam maupun luar negeri yang telah berpartisipasi melalui pembacaan puisi, presentasi ilmiah, maupun diskusi akademik selama seminar berlangsung.</p>
<p>Menurut Yusuf, keberagaman perspektif yang hadir dalam seminar internasional dua tahun ini,  memperlihatkan bahwa sastra memiliki kemampuan melampaui batas geografis, bahasa, dan latar belakang budaya. Puisi tidak hanya dipahami sebagai karya estetis, tetapi juga sebagai media advokasi yang mampu menyuarakan kelompok-kelompok yang selama ini kurang memperoleh ruang dalam wacana publik.</p>
<p>Sejalan dengan tema seminar, Yusuf mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga keberlangsungan budaya literasi melalui karya-karya kreatif yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan.</p>
<p>&#8220;Mari kita nyalakan terus napas kebudayaan bangsa agar tetap bersinar dan tidak pernah padam. Sastra harus terus menjadi ruang yang menyatukan manusia, memperkuat literasi, serta membangun peradaban yang lebih damai dan berkeadilan,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>Penyelenggaraan <em>The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP 2026)</em> kembali menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak menjadi penghalang bagi pengembangan sastra dan budaya. Sebaliknya, ruang digital justru memperluas akses kolaborasi internasional, memperkuat jejaring akademik, serta menghadirkan kesempatan yang lebih luas bagi lahirnya berbagai gagasan kreatif yang berkontribusi terhadap literasi global, kemanusiaan, perdamaian, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
