<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ijazah bagi Kekuasaan &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/ijazah-bagi-kekuasaan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2026 22:14:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Ijazah bagi Kekuasaan &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ijazah bagi Kekuasaan</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/ijazah-bagi-kekuasaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2026 22:14:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah bagi Kekuasaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12693</guid>

					<description><![CDATA[Yudi Latif &#8211; YOGYAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Di berbagai belahan dunia, demokrasi tumbuh dengan keyakinan yang berbeda tentang siapa yang berhak memimpin sebuah bangsa. Setiap negara merumuskan persyaratannya sendiri untuk memastikan bahwa kekuasaan diperoleh melalui proses yang sah. Namun, tidak semua negara menjadikan pendidikan formal sebagai syarat untuk menjadi presiden. Di Amerika Serikat, seseorang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<header class="x1n2onr6 x9f619 x78zum5 x6s0dn4 xh8yej3 x185czh x1j6awrg x1te75w5 x1iygr5g x4eaejv xcock1l xl9llhp x1qj619r x1r9ni5o xb1pvdl x16uhe5s x889kno x1a8lsjc xdx6fka xvtqlqk x1s928wv x1h1zc6f x1280gxy xstzfhl x11iowje" data-testid="conversation-header">
<div class="x78zum5 x6s0dn4 x1iyjqo2 x1r8uery xeuugli x101abm8 x1s73dr8 xbzw7fd">
<div class="x78zum5 xdt5ytf x1iyjqo2 xl56j7k xeuugli xtnn1bt x9v5kkp xmw7ebm xrdum7p" tabindex="0" role="button" data-testid="conversation-info-header" data-tab="6"></div>
</div>
</header>
<div class="x1n2onr6 x1vjfegm x1cqoux5 x14yy4lh" data-testid="conversation-panel-body">
<div class="x5yr21d">
<div class="xnpuxes x5yr21d copyable-area">
<div class="x10l6tqk x13vifvy x1o0tod xupqr0c x9f619 x78zum5 xdt5ytf xh8yej3 x5yr21d x6ikm8r x1rife3k xjbqb8w x1ewm37j" tabindex="0" data-testid="conversation-panel-messages" data-scrolltracepolicy="wa.web.conversation.messages">
<div class="x3psx0u x12xbjc7 x1c1uobl x1yjeaew xh8yej3 xquzyny xvc5jky x11t971q" tabindex="0" data-tab="8">
<div class="x1n2onr6">
<div class="" tabindex="-1" role="row">
<div class="x1n2onr6 xscbp6u" tabindex="-1" data-id="ACA695FBAD3DE44D5F9472229C1B1BA1" data-testid="conv-msg-ACA695FBAD3DE44D5F9472229C1B1BA1">
<div class="x78zum5 xdt5ytf" data-virtualized="false">
<div class="x78zum5 xdt5ytf x1hx0egp x1h3r9g6 x1ld4j5a x1q6425o x1h2wzp9 x13bx8za xgmf7it xcjqink xg7f59e xxfb629 x141l45o x1n33gsf xa25jmb xg5uraw xt5wqpu x1utqab1 x1ijczrz xqxqsie x10amw33 x1cy8zhl focusable-list-item x1klvx2g xahtqtb">
<div class="x1liijdw xu342n7 xelbjmh x16pgt24 x14ug900 x1c4vz4f x2lah0s xdl72j9 x12lqup9 x17fgdl5 x1n2onr6 x1qg1ob xxx6ivz" data-testid="msg-container">
<div class="xu342n7 xelbjmh x16pgt24 x1n2onr6 x12xzxwr x1ew7x2d x1bczwif xgdw1sx false false">
<div class="x9f619 x13nahy2 xyqdw3p x1im30kd xg8j3zb x1djpfga x1n2onr6 x1vjfegm copyable-text" data-pre-plain-text="[08.38, 8/10/2026] +62 878-1640-4138: ">
<div class="xs9asl8 x25sj25 xyqdw3p x11lfxj5">
<div class="x193iq5w xj9w6cj x19v9tvf xk50ysn x78zum5 x1srln1p xvwrcih" role=""><strong>Yudi Latif</strong></div>
<div>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>YOGYAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Di berbagai belahan dunia, demokrasi tumbuh dengan keyakinan yang berbeda tentang siapa yang berhak memimpin sebuah bangsa. Setiap negara merumuskan persyaratannya sendiri untuk memastikan bahwa kekuasaan diperoleh melalui proses yang sah. Namun, tidak semua negara menjadikan pendidikan formal sebagai syarat untuk menjadi presiden.</p>
<p>Di Amerika Serikat, seseorang tidak harus memiliki ijazah SMA, apalagi gelar sarjana, untuk menjadi presiden. Konstitusinya menetapkan persyaratan kewarganegaraan, usia minimum, dan masa tinggal, tanpa mencantumkan jenjang pendidikan formal.</p>
<p>India dan Prancis tidak menetapkan syarat minimum pendidikan formal untuk menjadi presiden. Keduanya mengatur persyaratan lain terkait kelayakan dan proses pencalonan, tetapi tidak menjadikan ijazah sebagai prasyarat hukum.</p>
<p>Fakta ini menunjukkan bahwa tidak ada standar universal yang mewajibkan seorang presiden memiliki tingkat pendidikan tertentu. Ketiadaan syarat pendidikan bukan berarti pendidikan tidak penting, melainkan bahwa ijazah tidak dijadikan ukuran hukum untuk menentukan siapa yang boleh mencalonkan diri.</p>
<p>Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah pendidikan formal menjamin kecakapan seorang pemimpin, ataukah ia hanya salah satu jalan untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan dalam menjalankan kekuasaan?</p>
<p>Ijazah tentu memiliki arti. Ia menandai proses belajar, pengetahuan yang dipelajari, dan standar akademik yang telah dipenuhi. Pendidikan formal membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami persoalan kompleks, dan menyusun argumen secara sistematis. Dalam pemerintahan yang berhadapan dengan persoalan ekonomi, hukum, diplomasi, teknologi, dan kesejahteraan sosial, kemampuan semacam itu sangat dibutuhkan.</p>
<p>Namun, ijazah bukanlah cermin utuh dari manusia yang memilikinya. Ia tidak selalu mencerminkan kebijaksanaan dalam menghadapi konflik, keberanian mengakui kesalahan, kepekaan terhadap penderitaan rakyat, atau kemampuan membedakan kepentingan pribadi dari kepentingan bersama. Pendidikan tinggi tidak otomatis melahirkan integritas dan kecakapan memimpin. Sebaliknya, seseorang yang tidak menempuh pendidikan tinggi mungkin memiliki pengalaman, pengetahuan praktis, dan kepekaan sosial yang tumbuh dari kehidupan.</p>
<p>Pendidikan formal dan kecakapan memimpin dapat saling menguatkan, tetapi keduanya tidak identik. Ijazah merupakan salah satu indikator, bukan ukuran utuh kualitas seorang pemimpin.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan Indonesia?</p>
<p>Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum menetapkan bahwa calon presiden dan wakil presiden harus berpendidikan paling rendah tamat SMA, MA, SMK, MAK, atau sekolah lain yang sederajat. Indonesia tidak mensyaratkan gelar sarjana, tetapi menetapkan pendidikan setingkat SMA atau sederajat sebagai batas minimum pencalonan.</p>
<p>Ketentuan ini menjadi penting ketika ijazah SMA wakil presiden dipersoalkan di ruang publik. Perdebatan tentang dokumen pendidikan segera membuka pertanyaan yang lebih luas: bagaimana memastikan bahwa calon pemimpin memenuhi persyaratan hukum? Dan sejauh mana pendidikan formal seharusnya menjadi ukuran kelayakan seseorang memimpin?</p>
<p>Kedua pertanyaan itu berkaitan, tetapi tidak sama. Yang pertama menyangkut kepatuhan terhadap hukum dan keabsahan dokumen; yang kedua menyangkut gagasan tentang kepemimpinan dan kualitas orang yang dipercaya mengelola negara.</p>
<p>Jika undang-undang menetapkan syarat pendidikan, pemenuhannya harus diperiksa melalui prosedur yang sah, transparan, dan inklusif bagi setiap kandidat. Ini bukan semata-mata soal tinggi atau rendahnya pendidikan, melainkan soal kepastian hukum dan kesetaraan. Hukum kehilangan makna apabila persyaratan yang sama hanya menjadi formalitas bagi sebagian orang, tetapi diterapkan secara ketat kepada orang lain.</p>
<p>Pada saat yang sama, persoalan dokumen pendidikan harus dibahas secara cermat. Tidak adanya atau belum ditemukannya dokumen dalam bentuk tertentu tidak serta-merta membuktikan bahwa seseorang tidak pernah menempuh pendidikan yang dipersyaratkan. Riwayat pendidikan, jalur persekolahan, kesetaraan, dan keabsahan dokumen perlu diperiksa berdasarkan bukti serta prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Dugaan, kekurangan administrasi, ketidakcukupan bukti, dan pemalsuan adalah hal berbeda yang tidak boleh begitu saja disamakan.</p>
<p>Karena itu, polemik ijazah tidak semestinya berhenti pada kecurigaan atau penilaian pribadi. Persoalan pemenuhan syarat hukum harus diuji melalui mekanisme yang berwenang. Sementara itu, masyarakat tetap berhak mempertanyakan apakah peraturan yang berlaku sudah tepat dan diterapkan secara konsisten.</p>
<p>Kita perlu membedakan syarat untuk mencalonkan diri dari ukuran untuk menilai kualitas kepemimpinan. Syarat pencalonan ditetapkan oleh hukum dan harus dipenuhi setiap kandidat. Kualitas kepemimpinan, sebaliknya, terus diuji melalui rekam jejak, integritas, kemampuan mengambil keputusan, keterbukaan terhadap kritik, dan hasil kebijakan.</p>
<p>Memenuhi syarat pendidikan tidak otomatis menjamin seseorang menjadi pemimpin yang baik. Namun, anggapan bahwa ijazah bukan ukuran mutlak kepemimpinan juga tidak membenarkan pengabaian terhadap hukum yang berlaku.</p>
<p>Demokrasi membutuhkan penghormatan terhadap hukum sekaligus kesediaan untuk menguji apakah hukum itu dirumuskan secara masuk akal. Persyaratan pendidikan dapat diperdebatkan, ditinjau, dihilangkan, atau diubah melalui mekanisme yang sah. Apakah batas minimum SMA sudah memadai? Apakah pendidikan tinggi perlu diwajibkan? Ataukah persyaratan semacam itu justru berisiko membatasi kesempatan warga negara untuk berpartisipasi dalam politik?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut patut dibahas dengan mempertimbangkan kebutuhan jabatan, hak politik, dan kesetaraan kesempatan. Namun, selama aturan masih berlaku, penerapannya tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang diperiksa.</p>
<p>Perbandingan antarnegara memperlihatkan bahwa syarat pendidikan formal merupakan pilihan hukum dan politik, bukan ketentuan universal dalam demokrasi. Indonesia menetapkan batas minimum SMA atau sederajat, sementara Amerika Serikat, India, dan Prancis tidak menetapkan tingkat pendidikan formal tertentu sebagai syarat menjadi presiden.</p>
<p>Perbedaan ini membuka ruang bagi perdebatan yang sehat tentang hubungan antara pendidikan, kekuasaan, dan tanggung jawab. Yang dibutuhkan sebuah bangsa mungkin bukanlah pemimpin dengan gelar akademik setinggi mungkin, melainkan pemimpin yang terus bersedia belajar setelah meninggalkan bangku sekolah; yang mau mendengarkan kritik setelah menduduki jabatan; yang tidak merasa paling benar ketika memegang kekuasaan; dan yang memahami bahwa memimpin bukanlah hak istimewa untuk memerintah, melainkan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keputusan kepada rakyat.</p>
<p>Ijazah dapat menjadi bukti bahwa seseorang telah menempuh pendidikan, tetapi tidak menjamin bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya. Pendidikan dapat membuka jalan menuju pengetahuan, tetapi integritas ikut menentukan ke mana pengetahuan itu diarahkan.</p>
<p>Sejarah pada akhirnya tidak hanya mencatat nama sekolah atau gelar di belakang nama seorang pemimpin. Sejarah juga mencatat keputusan yang diambilnya, tanggung jawab yang dipikulnya, dan kehidupan rakyat yang dipengaruhinya.</p>
<p>Sebab, pertanyaan terakhir tentang kekuasaan jauh lebih besar daripada selembar ijazah: setelah memperoleh kekuasaan, untuk siapa ia bekerja, siapa yang ia lindungi, dan apakah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik karena kepemimpinannya?</p>
</div>
</div>
<div class="x6s0dn4 x1i282gy xx9ypkp xd15eu0 x11ecxm0 x78zum5 xl56j7k x193iq5w x6ikm8r x10wlt62 x1n2onr6" tabindex="0" role="button" data-testid="image-thumb" aria-label="Buka gambar">
<div class="x1n2onr6 xh8yej3 x5yr21d" data-testid="media-url-provider">
<div class="x10l6tqk x1vjfegm x78zum5 x6s0dn4 xl56j7k xh8yej3 x5yr21d"></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<div class="x1n2onr6">
<div class="" tabindex="-1" role="row">
<div class="x1n2onr6 xscbp6u" tabindex="-1" data-id="ACA287035A87CF9BA731C24196F37E6D" data-testid="conv-msg-ACA287035A87CF9BA731C24196F37E6D">
<div class="x78zum5 xdt5ytf" data-virtualized="false">
<div class="x78zum5 xdt5ytf x1hx0egp x1h3r9g6 x1ld4j5a x1q6425o x1h2wzp9 x13bx8za xgmf7it xcjqink xg7f59e xxfb629 x141l45o x1n33gsf xa25jmb xg5uraw xt5wqpu x1utqab1 x1ijczrz xqxqsie x10amw33 x1cy8zhl focusable-list-item x1klvx2g xahtqtb">
<div class="x1liijdw xu342n7 xelbjmh x16pgt24 x14ug900 x1c4vz4f x2lah0s xdl72j9 x12lqup9 x17fgdl5 x1n2onr6 x1qg1ob xxx6ivz" data-testid="msg-container">
<div class="xu342n7 xelbjmh x16pgt24 x1n2onr6 x12xzxwr x1ew7x2d x1bczwif xgdw1sx false false">
<div class="x9f619 x13nahy2 xyqdw3p x1im30kd xg8j3zb x1djpfga x1n2onr6 x1vjfegm copyable-text" data-pre-plain-text="[07.25, 13/10/2026] +62 878-1640-4138: ">
<div class="x9f619 x1xtabgy xm7lytj x11lfxj5 xs9asl8 x25sj25">
<div class="x1n2onr6 x1mzt3pk x126k92a x6ikm8r x10wlt62"></div>
<div></div>
<div class="x1n2onr6 x1mzt3pk x126k92a x6ikm8r x10wlt62"></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
