<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hingga Bu Nyai &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/hingga-bu-nyai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Oct 2026 14:48:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>hingga Bu Nyai &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>YULIATI: Dari Yuli Koboi, Sang Joki, hingga Bu Nyai</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/yuliati-dari-yuli-koboi-sang-joki-hingga-bu-nyai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2026 14:48:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[hingga Bu Nyai]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Joki]]></category>
		<category><![CDATA[YULIATI: Dari Yuli Koboi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12419</guid>

					<description><![CDATA[### 1\. Perempuan yang Tak Takluk oleh Zaman Di Kota Batu, di antara dingin pegunungan dan kebun-kebun yang menghijau, ada kisah seorang perempuan bernama Yuliati. Ia lahir pada 9 Juli 1963 di Jember, ketika ayahnya, Darkasi, seorang tentara, sedang menjalankan tugas negara. Ibunya, Kartini, setia mendampingi suami. Meski lahir di tanah penugasan, akar keluarga Yuliati [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>### 1\. Perempuan yang Tak Takluk oleh Zaman</strong></p>
<p>Di Kota Batu, di antara dingin pegunungan dan kebun-kebun yang menghijau, ada kisah seorang perempuan bernama Yuliati.</p>
<p>Ia lahir pada 9 Juli 1963 di Jember, ketika ayahnya, Darkasi, seorang tentara, sedang menjalankan tugas negara. Ibunya, Kartini, setia mendampingi suami. Meski lahir di tanah penugasan, akar keluarga Yuliati tertanam di Batu—kota yang kelak menjadi panggung perjalanan hidupnya.</p>
<p>Orang-orang memanggilnya Yuli.</p>
<p>Namun, bagi kawan-kawannya di IMAKOBA, ia lebih dikenal sebagai Yuli Koboi.</p>
<p>Topi laken bertengger di kepala. Kepercayaan diri menyala di wajah. Ia tampil berbeda dari gambaran perempuan yang lazim dibayangkan masyarakat pada zamannya.</p>
<p>Ketika sebagian orang masih menganggap pacuan kuda sebagai dunia yang terlalu keras bagi perempuan, Yuli justru mendekatinya dengan keberanian.</p>
<p>Ia tak meminta dunia mengubah pandangannya terlebih dahulu.</p>
<p>Ia memilih membuktikan bahwa perempuan juga berhak menentukan lintasan hidupnya sendiri.</p>
<p><strong>### 2\. Sang Joki dan Kuda-Kuda Impian</strong></p>
<p>Tahun 1980–1985 menjadi salah satu babak penting dalam hidupnya.</p>
<p>Di arena pacuan kuda, Yuli bukan sekadar perempuan yang menunggangi kuda. Ia adalah seorang atlet yang berlatih, bertanding, menghadapi risiko, dan mengejar prestasi.</p>
<p>Bagi seorang joki, keseimbangan bukan hanya perkara tubuh. Ada keberanian membaca gerak, ketepatan mengambil keputusan, dan ketenangan menghadapi kecepatan.</p>
<p>Sekali kuda berlari, keraguan harus ditinggalkan.</p>
<p>Yuli pernah meraih prestasi tingkat nasional. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa keterbatasan pandangan masyarakat tidak harus menjadi batas kemampuan seseorang.</p>
<p>Kelak, ketika Kota Batu berkembang dan membutuhkan organisasi olahraga yang lebih tertata, Yuli turut berperan dalam pembentukan PORDASI, Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia, di tingkat lokal. Ia dipercaya menjadi ketua selama dua periode.</p>
<p>Dari arena pacuan, ia membawa pengalaman menuju ruang pengabdian.</p>
<p>Ia memahami bahwa kemenangan bukan semata-mata menjadi yang tercepat, melainkan membuka jalan agar orang lain juga memperoleh kesempatan.</p>
<p><strong>### 3\. Ketika Pendidikan Harus Mengalah kepada Keluarga</strong></p>
<p>Tidak semua impian berjalan sampai garis akhir.</p>
<p>Yuliati pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi tidak sempat menuntaskannya. Ia memilih mengalah agar suaminya dapat menyelesaikan pendidikan sarjana teknik sipil.</p>
<p>Keputusan itu menyimpan kisah yang tak selalu terlihat dari luar.</p>
<p>Ada perempuan yang berhenti melangkah di satu jalan bukan karena kehilangan kemampuan, melainkan karena memilih menopang perjalanan orang yang dicintainya.</p>
<p>Tetapi apakah berhenti kuliah berarti berhenti belajar?</p>
<p>Tidak bagi Yuli.</p>
<p>Ia menemukan ruang pendidikan lain: kehidupan, kerja keras, tanggung jawab, dan keberanian membangun usaha.</p>
<p>Pada 1999, ia menjalankan CV Yuliana, sebuah usaha landscape contractor yang berfokus pada pembuatan taman dan penjualan tanaman hias. Ia menjadi pemilik sekaligus direktur. Usahanya bermitra dengan PT Damai Putra Grup, dengan pekerjaan di sejumlah wilayah, termasuk Yogyakarta, Sidoarjo, dan Magelang.</p>
<p>Di balik taman yang tertata, ada tangan-tangan pekerja yang menggantungkan penghidupan.</p>
<p>Di balik tanaman yang tumbuh, ada usaha, kesabaran, dan perencanaan.</p>
<p>Yuli yang dahulu dikenal sebagai Yuli Koboi kini mengelola dunia yang berbeda. Keberaniannya tidak lagi hanya diuji di arena pacuan, tetapi juga dalam dunia usaha dan tanggung jawab terhadap sesama.</p>
<p>Ia mungkin tidak menyelesaikan satu jenjang pendidikan, tetapi ia terus membangun pengetahuan melalui kehidupan.</p>
<p><strong>### 4\. Dari Pemimpin Organisasi Menjadi Sahabat Sesama</strong></p>
<p>Bagi teman-teman IMAKOBA, Yuli bukan hanya seorang atlet atau pengusaha.</p>
<p>Ia juga dikenal memiliki kepedulian terhadap kawan, sanak saudara, dan sahabat. Persahabatan baginya bukan sekadar foto bersama atau nama yang tersimpan dalam daftar kenalan.</p>
<p>Persahabatan adalah kesediaan hadir ketika dibutuhkan.</p>
<p>Ada ikatan yang tumbuh sejak masa muda, melewati kesibukan, perubahan zaman, dan perjalanan hidup masing-masing. Ketika rambut mulai memutih dan tenaga tidak lagi sama, kenangan bersama justru menemukan maknanya.</p>
<p>Di sanalah persaudaraan diuji.</p>
<p>Bukan ketika semua orang sedang berhasil, melainkan ketika seseorang membutuhkan uluran tangan tanpa harus mengumumkan kesulitannya.</p>
<p>Yuli menjalani kehidupan sosialnya dengan ikatan semacam itu. Ia tetap menjadi bagian dari keluarga besar IMAKOBA, komunitas yang menyimpan sejarah persahabatan mahasiswa asal Kota Batu.</p>
<p>Sebab umur boleh bertambah, profesi boleh berubah, tetapi persaudaraan yang dirawat dengan ketulusan tidak seharusnya ikut menua.</p>
<p><strong>### 5\. Ketika Yuli Koboi Menjadi Bu Nyai</strong></p>
<p>Tahun 2021 menandai babak lain dalam perjalanan Yuliati.</p>
<p>Ia merintis Majelis Sema&#8217;an Al-Qur&#8217;an dan Dzikrul Ghofilin di Kota Batu. Kegiatan tersebut diselenggarakan setiap dua pekan pada hari Selasa, bertempat di masjid atau tempat ziarah leluhur.</p>
<p>Di antara lokasi kegiatan yang pernah disebutkan adalah Masjid Jami Baiturrohman Kalangan, Pujon, dan makam Mbah Patok di Songgoriti.</p>
<p>Kini, sosok yang dahulu identik dengan topi laken dan dunia pacuan kuda tampil dengan hijab. Namun, perubahan penampilan itu bukan sekadar pergantian busana.</p>
<p>Ia menandai babak baru pengabdian.</p>
<p>Jika dahulu ia berlatih mengendalikan kuda yang berlari kencang, kini ia berusaha menjaga langkah menuju kehidupan yang lebih teduh.</p>
<p>Jika dahulu sorak penonton mengiringi perlombaan, kini lantunan ayat suci dan zikir mengisi ruang pertemuan.</p>
<p>Yuli Koboi tidak hilang. Sang joki tidak selesai. Keduanya tetap hidup dalam diri Bu Nyai yang terus bergerak mencari makna pengabdian.</p>
<p>Perjalanan ini bukan kisah tentang seseorang yang meninggalkan masa lalunya. Ini adalah kisah tentang seseorang yang membawa pengalaman masa lalu untuk menumbuhkan kebaikan pada masa kini.</p>
<p><strong>### 6\. Kota Batu dan Jejak Perempuan</strong></p>
<p>Kota Batu dikenal melalui pegunungan, kebun apel, taman wisata, dan udara sejuknya. Namun, sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh bentang alam dan pembangunan fisik.</p>
<p>Kota juga tumbuh melalui orang-orang yang bekerja, berorganisasi, membangun usaha, merawat persahabatan, dan menghidupkan kegiatan sosial.</p>
<p>Yuliati adalah salah satu bagian dari mozaik itu.</p>
<p>Kisahnya mengingatkan kita bahwa sejarah lokal tidak selalu tersimpan di gedung pemerintahan atau buku-buku resmi. Sebagian sejarah hidup dalam ingatan seorang perempuan yang pernah menjadi atlet, memimpin organisasi olahraga, mengembangkan usaha, dan merintis majelis keagamaan.</p>
<p>Bila kisah-kisah semacam ini tidak dituliskan, generasi berikutnya mungkin hanya mengenal nama tempat tanpa mengetahui manusia yang pernah menghidupkannya.</p>
<p>Karena itu, menuliskan Yuliati bukan sekadar menceritakan perjalanan seorang individu. Ini adalah upaya merawat ingatan tentang perempuan-perempuan yang berjuang dengan caranya sendiri.</p>
<p>Mereka tidak selalu berdiri di panggung utama. Namun, jejak mereka ikut membentuk wajah masyarakat.</p>
<p><strong>### 7\. Penutup: Lintasan yang Terus Memanjang</strong></p>
<p>Pada akhirnya, kehidupan bukan perlombaan yang hanya mengenal garis finis.</p>
<p>Ada orang yang berlari untuk meraih prestasi. Ada yang berhenti sejenak demi keluarga. Ada yang membangun usaha agar orang lain memperoleh pekerjaan. Ada pula yang menemukan kedamaian dalam doa dan pengabdian.</p>
<p>Yuliati pernah menapaki semuanya dengan caranya sendiri.</p>
<p>Dari Yuli Koboi yang berani menunggangi kuda, menjadi sang joki yang mengejar prestasi, menjadi pengusaha yang membuka kesempatan kerja, hingga Bu Nyai yang merawat majelis Al-Qur&#8217;an dan zikir.</p>
<p>Tidak semua jalannya mudah. Tidak semua impiannya terwujud sebagaimana direncanakan. Tetapi hidupnya menunjukkan bahwa perubahan arah tidak harus berarti kehilangan tujuan.</p>
<p>Di Kota Batu, kisahnya layak disimpan sebagai bagian dari sejarah perempuan dan sejarah persaudaraan.</p>
<p>Sebab keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari berapa banyak piala yang pernah diraih, berapa luas usaha yangCatatan: Tulisan Cak Sundjojo. dibangun, atau berapa tinggi jabatan yang diduduki.</p>
<p>Keberhasilan juga terletak pada berapa banyak kehidupan yang tersentuh oleh kehadirannya.</p>
<p>Dan ketika suatu hari nama Yuliati dikenang oleh generasi sesudahnya, semoga yang tertinggal bukan hanya cerita tentang seorang perempuan pemberani, melainkan juga teladan tentang kerja keras, kesetiaan, persaudaraan, dan pengabdian.</p>
<p>Dahulu ia menaklukkan lintasan pacuan. Kini ia merawat lintasan kebaikan. Kuda-kuda boleh berhenti berlari, tetapi jejak pengabdian seorang perempuan akan terus berjalan.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Sisir, 16 Oktober 2026<br />
Akaha Taufan Aminudin<br />
KYM Kota Batu Wisata<br />
SATUPENA JAWA TIMUR</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
