<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>HARI APA? &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/hari-apa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Sep 2026 19:46:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>HARI APA? &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>HARI APA?</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/cerpen/hari-apa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2026 19:45:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[HARI APA?]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10986</guid>

					<description><![CDATA[Ilhamdi Sulaiman &#8211; Pagi itu, pintu HCU telah dibuka. Keluarga pasien yang sejak tadi menunggu di luar diperbolehkan masuk. Satu per satu mereka melangkah dengan wajah yang menyimpan kecemasan masing-masing. Ada yang membawa doa. Ada yang membawa makanan. Ada pula yang datang hanya membawa harapan, karena memang tidak ada lagi yang bisa dibawa. Aku berjalan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ilhamdi Sulaiman</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pagi itu, pintu HCU telah dibuka.<br />
Keluarga pasien yang sejak tadi menunggu di luar diperbolehkan masuk. Satu per satu mereka melangkah dengan wajah yang menyimpan kecemasan masing-masing. Ada yang membawa doa. Ada yang membawa makanan. Ada pula yang datang hanya membawa harapan, karena memang tidak ada lagi yang bisa dibawa.<br />
Aku berjalan menuju ranjang nomor enam.<br />
Anakku terbaring di sana.<br />
Tubuhnya tampak lemah. Selang infus menjuntai dari tangannya. Selang oksigen terpasang. Kabel-kabel monitor melekat pada tubuhnya, seperti tangan-tangan asing yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya.<br />
Matanya terpejam.<br />
Aku berdiri di samping ranjangnya beberapa saat. Entah mengapa aku takut menyentuhnya. Seolah dengan menyentuhnya aku akan menemukan sesuatu yang tidak ingin kutemukan.<br />
Tetapi aku adalah ayahnya.<br />
Aku harus memastikan bahwa ia tahu aku datang.<br />
Kusap keningnya perlahan.<br />
Matanya bergerak.<br />
Kemudian terbuka sedikit.<br />
Ia menatapku.<br />
Tatapan yang samar, seperti seseorang yang baru saja kembali dari perjalanan yang sangat jauh.<br />
Bibirnya bergerak.<br />
Aku mendekatkan telingaku.<br />
Suaranya begitu pelan, nyaris tenggelam di antara bunyi monitor dan desis oksigen.<br />
“&#8230;Hari apa?”<br />
Aku terdiam.<br />
“Hari apa?”<br />
Pertanyaan itu terdengar sederhana.<br />
Tetapi pagi itu, pertanyaan tersebut seperti sebuah jarum yang menusuk berkali-kali ke dalam pikiranku.<br />
Hari apa?<br />
Aku menatap wajahnya.<br />
Aku ingin menjawab cepat.<br />
Selasa.<br />
Atau Rabu.<br />
Atau Kamis.<br />
Tetapi tiba-tiba aku tidak yakin.<br />
Bukan karena aku lupa hari.<br />
Aku hanya tidak tahu hari seperti apa yang sedang kami jalani.<br />
Hari ketika seorang anak terbaring di HCU dan seorang ayah berdiri di sampingnya dengan doa yang tak pernah selesai?<br />
Hari ketika kehidupan hanya berjarak beberapa angka di layar monitor?<br />
Ataukah hari ketika aku harus belajar bahwa waktu tidak selalu berjalan bersama manusia?<br />
Aku menggenggam tangannya.<br />
“Ini hari Selasa, Nak.”<br />
Ia tidak menjawab.<br />
Matanya kembali terpejam.<br />
Aku tetap menggenggam tangannya.<br />
Di luar ruangan, dunia mungkin sedang berjalan seperti biasa.<br />
Orang-orang pergi bekerja.<br />
Anak-anak berangkat sekolah.<br />
Bus-bus memenuhi jalan.<br />
Pedagang membuka warung.<br />
Burung-burung mungkin sedang mencari tempat untuk hinggap.<br />
Tetapi bagiku, dunia berhenti di ranjang nomor enam.<br />
Aku baru sadar, selama anakku sakit, aku tidak lagi menghitung hari berdasarkan kalender.<br />
Aku menghitungnya berdasarkan napas.<br />
Satu napas.<br />
Kemudian napas berikutnya.<br />
Satu kali monitor berbunyi.<br />
Kemudian bunyi berikutnya.<br />
Aku menghitung berapa kali matanya terbuka.<br />
Berapa kali ia mampu menelan.<br />
Berapa kali ia meminta air.<br />
Berapa kali lendir harus disedot.<br />
Berapa kali dokter datang memeriksa.<br />
Dan setiap malam, sebelum meninggalkan rumah sakit, aku selalu membawa satu pertanyaan yang sama:<br />
“Besok anakku masih ada?”<br />
Mungkin itulah sebabnya ketika ia bertanya, “Hari apa?”, aku tidak segera menjawab.<br />
Sebab aku tiba-tiba ingin bertanya kepadanya:<br />
“Nak, kau tahu hari apa sekarang?”<br />
Hari ketika ayahmu semakin tua?<br />
Hari ketika rambut ayahmu semakin banyak putihnya?<br />
Hari ketika ayahmu belajar menangis tanpa suara?<br />
Hari ketika doa menjadi satu-satunya percakapan yang bisa dilakukan seorang ayah kepada Tuhan?<br />
Atau&#8230;<br />
hari ketika kita masih diberi kesempatan untuk bersama?<br />
Aku menunduk.<br />
Kucium keningnya.<br />
“Selasa, Nak.”<br />
Kali ini suaraku bergetar.<br />
“Dan kalau besok kau tanya lagi&#8230;”<br />
Aku berhenti.<br />
Dadaku sesak.<br />
“&#8230;ayah akan jawab lagi.”<br />
Monitor di samping ranjang tetap berbunyi.<br />
Teratur.<br />
Seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu kehidupan.<br />
Aku duduk di kursi kecil di sampingnya.<br />
Tangannya masih kugenggam.<br />
Dan pagi itu aku mengerti sesuatu.<br />
Selama ini aku mengira yang paling menakutkan dari rumah sakit adalah kematian.<br />
Ternyata bukan.<br />
Yang paling menakutkan adalah ketika seseorang yang kita cintai mulai kehilangan hitungan hari, sementara kita yang berada di sampingnya justru mulai menghitung setiap detik agar ia tetap tinggal.<br />
Aku menatap wajah anakku.<br />
Matanya masih terpejam.<br />
Aku berbisik:<br />
“Tidurlah, Nak.”<br />
“Tidak perlu tahu hari apa.”<br />
“Yang penting&#8230;”<br />
“Besok masih ada.”</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
