<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Apresiasi &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/catatan-apresiasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Oct 2026 22:18:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Catatan Apresiasi &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>PELA: Merawat Perbedaan, Menyambung Perjalanan</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/komunitas/pela-merawat-perbedaan-menyambung-perjalanan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2026 14:05:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran Lukisan]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[IndieArt House]]></category>
		<category><![CDATA[Menyambung Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran Tunggal]]></category>
		<category><![CDATA[PELA: Merawat Perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[William Robert]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12449</guid>

					<description><![CDATA[Catatan Apresiasi Atas Pameran Tunggal William Robert di IndieArt House Oleh: Edo Pop, Peguat Gugun Tanpa &#8211; Cengkeh, Pala dan Tifa untuk Tanah Baru, 200x290cm, Media Campuran di Atas Kanvas, 2026. Sumber Gambar: EP&#8217;s doc. via LM &#8211; SAN. Ada sesuatu yang menarik dari cara seseorang membawa masa lalunya ke dalam kehidupan yang terus bergerak. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Catatan Apresiasi Atas Pameran Tunggal William Robert di IndieArt House</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Edo Pop, Peguat Gugun Tanpa</strong></em></p>
<p style="text-align: right;">&#8211;</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12451" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/Screenshot_20261017_200834_WhatsApp-300x213.jpg" alt="" width="300" height="213" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/Screenshot_20261017_200834_WhatsApp-300x213.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/Screenshot_20261017_200834_WhatsApp-768x545.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/Screenshot_20261017_200834_WhatsApp.jpg 973w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p><em>Cengkeh, Pala dan Tifa untuk Tanah Baru, 200x290cm, Media Campuran di Atas Kanvas, 2026. Sumber Gambar: EP&#8217;s doc. via LM &#8211; SAN.</em></p>
<p>Ada sesuatu yang menarik dari cara seseorang membawa masa lalunya ke dalam kehidupan yang terus bergerak. Kita tidak pernah benar-benar berangkat dengan tangan kosong. Ada nama yang diberikan keluarga, bahasa yang pertama kali kita dengar, kebiasaan yang tumbuh di rumah, cerita tentang leluhur, juga ingatan tentang tempat yang mungkin sudah lama kita tinggalkan. Semua itu ikut membentuk cara kita memandang dunia, merasakan sesuatu, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Kadang-kadang kita menyadarinya, tetapi tidak jarang semuanya bekerja diam-diam, muncul dalam keputusan-keputusan kecil, bahkan dalam sesuatu yang kita ciptakan tanpa sengaja ingin menceritakan asal-usul kita.</p>
<p>Saya kira, dari situlah salah satu pintu untuk memasuki pameran tunggal William Robert, PELA, terbuka. Pameran ini berlangsung di IndieArt House, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pada 17–31 Oktober 2026, dan dibuka oleh Ibu Andonowati pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB. Perupa berdarah Ambon yang lahir di Medan ini kembali ke Yogyakarta dengan karya-karya mutakhir yang bertolak dari pengalaman empirisnya selama menjalani kehidupan dan perjalanan kesenian di Pulau Jawa, yang kerap ia sebut sebagai ufuk Barat.</p>
<p>*Warisan, Ingatan, dan Bahasa Rupa*</p>
<p>Tajuk PELA membawa ingatan kita pada tradisi persaudaraan masyarakat Maluku, sebuah ikatan yang mempunyai sejarah, nilai, dan tata hubungan sosial tersendiri. Namun, saya tidak ingin berhenti pada pengertian pela sebagai tradisi atau menjadikannya sekadar tema yang harus diterangkan melalui karya. Saya justru tertarik pada kemungkinan lain: bagaimana sebuah warisan budaya hidup di dalam diri seseorang, berjumpa dengan pengalaman baru, lalu memperoleh bentuk dan pemaknaan yang mungkin tidak pernah sepenuhnya direncanakan sejak awal.</p>
<p>Sebagai sesama perupa, saya merasa persoalan ini dekat dengan perjalanan berkesenian. Kita sering membicarakan identitas seolah-olah ia sesuatu yang sudah selesai, semacam tanda pengenal yang cukup disebutkan untuk menjelaskan siapa seseorang. Padahal, identitas tidak sesederhana itu. Ada bagian yang kita terima sejak lahir, ada yang dibentuk oleh lingkungan, ada yang kita pilih setelah melewati pengalaman hidup, dan ada pula yang baru kita pahami ketika berhadapan dengan sesuatu yang sebelumnya tidak kita kenal. Kita memang tidak memilih seluruh keadaan yang membentuk diri kita, tetapi kita mempunyai kesempatan untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermakna.</p>
<p>Dalam seni rupa, proses semacam itu menarik karena tidak selalu berlangsung melalui cerita yang disusun secara sadar. Pengalaman hidup dapat hadir sebagai ingatan yang samar, emosi yang belum menemukan kata-kata, kerinduan yang sulit dijelaskan, atau perasaan yang muncul kembali ketika seseorang berhadapan dengan warna, bentuk, dan material tertentu. Sesuatu yang pernah dialami tidak selalu kembali sebagai gambaran yang utuh. Ia dapat muncul dalam pecahan, berubah bentuk, bercampur dengan pengalaman lain, bahkan menemukan arti yang berbeda setelah bertahun-tahun berlalu.</p>
<p>Saya tertarik melihat kemungkinan itu melalui salah satu karya William, Cengke, Pala, dan Tifa untuk Tanah Baru (2026), sebuah lukisan media campuran di atas kanvas berukuran 200 × 290 cm. Ukuran ini memberi ruang bagi perjumpaan berbagai unsur visual. Bidang-bidang warna saling mendekat, bertumpuk, berpotongan, dan sesekali seperti saling mendesak. Goresan hitam melintasi warna-warna yang kuat, sementara bentuk-bentuk yang menyerupai fragmen figur atau wajah muncul tanpa sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada pengenalan yang pasti.</p>
<p>Merah dan jingga mendominasi sebagian wilayah kiri. Biru tampil kuat di bagian bawah, berhadapan dengan hijau, toska, serta kuning-jingga di wilayah tengah. Di sisi kanan, biru kehijauan, abu-abu, putih, dan bentuk-bentuk yang mengingatkan pada figur saling berhubungan dalam susunan yang tidak sepenuhnya tenang. Ada bagian yang terasa padat, seolah menampung banyak hal sekaligus. Ada pula ruang yang memberi jeda, tetapi tidak benar-benar membebaskan mata dari tarikan unsur-unsur di sekitarnya.</p>
<p>Saya tidak melihat lukisan ini sebagai teka-teki yang harus diselesaikan dengan menemukan arti setiap warna atau mengenali semua bentuk yang tersembunyi. Cara melihat seperti itu justru berisiko membuat lukisan hanya menjadi kumpulan simbol yang menunggu diterjemahkan. Bagi saya, yang lebih menarik adalah bagaimana keseluruhan unsur tersebut bekerja membangun pengalaman visual. Mata bergerak, berhenti, berpindah, menemukan hubungan, lalu kembali berhadapan dengan sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Ada rasa sesak di satu bagian, gerak yang terasa lebih bebas di bagian lain, serta ketegangan yang muncul ketika dua unsur berbeda berada terlalu dekat.</p>
<p>Lukisan ini seolah mengajak kita mengalami sesuatu sebelum buru-buru menjelaskannya. Kita tidak langsung memperoleh sebuah cerita, melainkan memasuki ruang yang penuh pertemuan dan kemungkinan. Bentuk-bentuknya memberi petunjuk, tetapi tidak seluruhnya menyediakan jawaban. Saya menyukai keterbukaan semacam ini karena pengalaman manusia sendiri sering bekerja dengan cara yang serupa. Kita merasakan sesuatu lebih dahulu, menyimpannya dalam ingatan, kemudian baru mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita.</p>
<p>Dalam pengalaman berkarya, saya membayangkan seorang perupa tidak selalu memulai lukisan dengan gagasan yang sudah tertata rapi. Kadang-kadang ada sesuatu yang mengendap lama, tetapi belum jelas bentuknya. Ada pengalaman yang meninggalkan bekas emosional, ada ingatan yang kembali tanpa diminta, atau ada persoalan yang terus bergerak di dalam pikiran meskipun kehidupan sehari-hari telah membawanya ke arah lain. Ketika bekerja, semua itu berhadapan dengan keputusan artistik: warna apa yang digunakan, bagaimana bentuk dibangun, bagian mana yang dibiarkan terbuka, apa yang ditindih, apa yang dihapus, dan kapan sebuah proses dirasakan cukup.</p>
<p>Di dalam proses itu, emosi tidak sekadar dipindahkan ke atas kanvas seperti seseorang memindahkan isi pikiran ke selembar kertas. Emosi mengalami perubahan ketika bertemu dengan material, teknik, dan pertimbangan visual. Ingatan pun tidak kembali sebagai rekaman yang persis sama dengan kejadian semula. Ia bercampur dengan perasaan hari ini, pengetahuan yang diperoleh kemudian, serta harapan tentang sesuatu yang belum terjadi. Pengalaman yang semula bersifat pribadi dapat menemukan bentuk baru yang memungkinkan orang lain ikut merasakan, meskipun mereka tidak pernah mengalami kejadian yang sama.</p>
<p>Di sinilah abstraksi memperoleh arti yang menarik bagi saya. Abstrak bukan semata-mata bentuk yang tidak menyerupai benda atau figur yang mudah dikenali. Ia juga dapat menjadi cara untuk mengolah pengalaman tanpa harus tunduk pada urutan cerita yang harfiah. Perasaan tidak selalu mempunyai bentuk yang pasti; ingatan tidak selalu datang secara lengkap; harapan bahkan belum mempunyai wujud yang dapat kita pegang. Melalui warna, garis, bidang, tekstur, dan hubungan antarbentuk, hal-hal semacam itu dapat memperoleh kehadiran visual tanpa harus berubah menjadi ilustrasi dari suatu peristiwa.</p>
<p>Dalam lukisan William, fragmen figur yang muncul dan menghilang, benturan warna, serta kepadatan goresan memungkinkan kita membayangkan pengalaman yang tidak tersusun sebagai satu kisah tunggal. Saya tidak hendak memastikan bahwa setiap unsur tersebut mewakili emosi atau ingatan tertentu dari dirinya. Itu akan menjadi klaim yang terlalu jauh jika tidak didukung oleh penuturan sang perupa sendiri. Akan tetapi, secara visual, susunan tersebut memberi ruang bagi pembacaan tentang pengalaman yang berlapis: sesuatu yang datang dari masa lalu, bertemu dengan keadaan hari ini, lalu bergerak menuju sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui.</p>
<p>Pengalaman personal, dalam hal ini, tidak harus hadir sebagai pengakuan autobiografis. Ia dapat bekerja lebih halus melalui cara seorang perupa menyusun ruang, memilih warna, mengembangkan bentuk, dan mempertahankan ketegangan dalam komposisi. Yang hadir bukan lagi semata-mata kisah tentang dirinya, melainkan pengalaman yang telah mengalami pengolahan artistik. Di titik itu, lukisan tidak berhenti menjadi milik pengalaman pembuatnya. Ia mulai membuka kemungkinan bagi pengalaman orang lain.</p>
<p>Judul Cengke, Pala, dan Tifa untuk Tanah Baru memberi lapisan pembacaan lain yang tidak kalah penting. Cengkeh dan pala mengingatkan kita pada kekhasan Maluku sekaligus perjalanan panjang rempah-rempah dalam sejarah perjumpaan antarmasyarakat. Keduanya tumbuh dari tanah tertentu, tetapi perjalanan keduanya tidak berhenti di tempat asal. Rempah-rempah melintasi laut, memasuki ruang perdagangan, berpindah tangan, dan menjadi bagian dari kehidupan berbagai masyarakat. Tifa membawa ingatan pada bunyi, irama, dan praktik kebudayaan yang tumbuh dalam kehidupan bersama.</p>
<p>Ketika ketiga unsur tersebut dipertemukan dengan frasa tanah baru, saya menangkap persoalan tentang apa yang dibawa seseorang ketika meninggalkan lingkungan asalnya dan mulai membangun kehidupan di tempat lain. Apa yang tetap tinggal dalam dirinya? Apa yang berubah setelah ia mengalami dunia yang berbeda? Dan bagaimana sesuatu yang diwariskan dapat terus hidup tanpa harus dipertahankan sebagai benda mati yang tidak boleh disentuh oleh pengalaman baru?</p>
<p>Cengkeh dan pala dapat dinikmati oleh orang-orang yang tidak pernah melihat tanah tempat keduanya tumbuh. Begitu pula kebaikan yang lahir dari suatu kebudayaan dapat melampaui batas tempat asalnya. Akan tetapi, perpindahan itu tidak berarti asal-usul kehilangan arti. Justru perjalanan menuju tempat lain dapat membuat seseorang semakin menyadari apa yang dibawanya, apa yang ingin dipertahankan, dan apa yang perlu dipahami kembali.</p>
<p>Pertanyaan ini menyentuh persoalan identitas yang sering kita hadapi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perjalanan kesenian. Identitas memang mempunyai akar sosial dan kultural. Kita mengenal dunia melalui keluarga, lingkungan, bahasa, kebiasaan, nilai, dan hubungan yang mendahului kehadiran kita. Sebelum kita cukup dewasa untuk menentukan pilihan sendiri, banyak hal telah lebih dahulu membentuk cara kita memahami baik dan buruk, kedekatan dan jarak, kehormatan dan rasa malu, rumah dan tanah asal.</p>
<p>Akan tetapi, warisan itu tidak pernah bekerja secara seragam. Dua orang yang tumbuh dalam lingkungan kebudayaan yang sama dapat membawa pengalaman yang berbeda. Apa yang dianggap biasa oleh seseorang mungkin menjadi kenangan yang sangat kuat bagi orang lain. Sebuah bunyi, makanan, nama tempat, atau benda sehari-hari dapat menyimpan kedalaman emosional yang tidak mudah diterangkan kepada orang yang tidak mempunyai pengalaman serupa. Kita tidak hanya mewarisi kebudayaan sebagai kumpulan pengetahuan, melainkan juga sebagai cara merasakan dan memberi arti pada kehidupan.</p>
<p>Karena itu, identitas bukan sekadar sesuatu yang kita ketahui tentang diri sendiri. Ia juga sesuatu yang kita rasakan, jalani, dan terus tafsirkan. Ada nilai yang terasa dekat karena tumbuh bersama kita sejak kecil. Ada ingatan yang baru memperoleh arti setelah kita meninggalkan rumah. Ada pula bagian dari warisan yang sebelumnya tidak kita pahami, tetapi justru menjadi penting ketika berhadapan dengan kehidupan yang berbeda.</p>
<p>William Robert berdarah Ambon, lahir di Medan, dan menempuh perjalanan keseniannya melalui berbagai kota. Pengalaman hidupnya di tanah Jawa mempertemukannya dengan orang-orang yang memberikan kesempatan, menyampaikan kritik, berbagi pengetahuan, serta ikut menempa perjalanan hidup dan keseniannya. Dalam narasi pameran, ia menyebut proses tersebut sebagai “membaca Pela di ruang tempa”.</p>
<p>Ungkapan itu menarik karena mengandung dua gerak sekaligus: membaca dan ditempa. Membaca berarti berusaha memahami sesuatu yang sudah ada, sedangkan ditempa berarti mengalami proses yang mengubah diri. William tidak hanya membawa gagasan tentang persaudaraan dari tanah leluhurnya, tetapi juga menemukan pengalaman-pengalaman baru yang memberinya kesempatan untuk memahami nilai itu melalui hubungan nyata dengan orang lain.</p>
<p>Saya membayangkan perjumpaan-perjumpaan tersebut tidak selalu berlangsung dalam suasana yang sama. Ada pertemuan yang memberi keberanian, ada kritik yang mengubah cara pandang, ada nasihat yang baru terasa maknanya setelah bertahun-tahun, dan mungkin ada pula pengalaman yang pada mulanya sulit dipahami. Pengaruh seseorang terhadap perjalanan kita tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan dramatis. Kadang-kadang, satu kalimat yang diucapkan pada waktu yang tepat justru menetap lebih lama daripada banyak penjelasan.</p>
<p>Di dalam kehidupan seorang perupa, pengalaman semacam itu dapat menjadi bagian dari pembentukan cara melihat. Kita belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang lain, melainkan juga dari cara mereka bekerja, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan menghadapi kesulitan. Pengetahuan yang diterima tidak selalu berupa teori atau teknik. Ada sikap yang dipelajari melalui pengamatan, ada keberanian yang tumbuh karena seseorang memberi kepercayaan, dan ada kesadaran yang terbentuk karena kita pernah ditolong ketika tidak mempunyai banyak pilihan.</p>
<p>Namun, menerima pengaruh bukan berarti kehilangan kebebasan. Seorang perupa tetap harus mengolah pengalaman, menentukan arah, dan menemukan bahasa visualnya sendiri. Apa yang diterima dari orang lain tidak otomatis menjadi karya. Semuanya harus melewati proses pemilihan, pengendapan, pertimbangan, dan keputusan artistik. Di sinilah pengalaman sosial bertemu dengan tanggung jawab individual: seseorang dibentuk oleh lingkungannya, tetapi ia juga bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya dengan segala sesuatu yang telah membentuk dirinya.</p>
<p>Saya melihat kemungkinan hubungan ini dengan gagasan PELA. Persaudaraan tidak harus dipahami sebagai peleburan identitas. Ia dapat menjadi cara untuk menjaga hubungan tanpa menuntut seseorang meninggalkan dirinya. Kita dapat belajar dari orang lain tanpa harus menjadi salinannya. Kita dapat menerima bantuan tanpa kehilangan tanggung jawab atas perjalanan sendiri. Bahkan, kita dapat berbeda pendapat dan tetap menghormati hubungan yang telah terbangun.</p>
<p>Tentu, pengalaman persaudaraan William di tanah perantauan tidak serta-merta sama dengan pela dalam pengertian adat masyarakat Maluku. Kekhasan tradisi tersebut tetap perlu dihormati. Namun, nilai persaudaraan yang hadir dalam tajuk pameran ini memungkinkan kita merenungkan bagaimana suatu warisan kultural dapat mengilhami cara seseorang membangun hubungan di luar lingkungan asalnya.</p>
<p>Nilai yang diwariskan tidak cukup hanya dikenang, dibanggakan, atau diucapkan berulang kali. Ia perlu menemukan kehidupan dalam tindakan. Kita bisa berbicara tentang persaudaraan, tetapi maknanya baru terasa ketika berhadapan dengan orang yang berbeda kepentingan, berbeda pandangan, atau tidak mempunyai latar belakang yang sama. Pada saat itulah kita mengetahui apakah persaudaraan hanya menjadi kebanggaan tentang siapa kita, atau sungguh-sungguh menjadi cara kita memperlakukan orang lain.</p>
<p>*Persaudaraan, Perbedaan, dan Jejak Perjalanan*</p>
<p>Hubungan antara warisan, pengalaman, dan pengolahan artistik terasa semakin menarik ketika kita melihat karya William yang lain, Fragmen Memori Pela. Judulnya sendiri mengandung petunjuk tentang cara ingatan bekerja. Kata fragmen mengingatkan kita bahwa kenangan tidak selalu kembali sebagai kisah yang utuh. Sering kali yang muncul justru potongan-potongan: wajah yang melintas, bunyi yang tiba-tiba terasa akrab, suasana suatu tempat, warna tertentu, atau perasaan yang sulit kita hubungkan dengan satu kejadian secara pasti.</p>
<p>Ingatan bukan gudang yang menyimpan pengalaman dalam susunan tetap. Apa yang kita ingat dapat berubah mengikuti keadaan kita sekarang. Peristiwa yang dahulu terasa biasa mungkin menjadi penting setelah kita kehilangan seseorang. Sebuah tempat yang pernah kita tinggalkan dapat memperoleh makna baru ketika kita semakin jauh darinya. Pengalaman yang dulu tidak kita pahami dapat muncul kembali dalam ingatan dengan arti yang berbeda karena kita telah menjadi orang yang berbeda pula.</p>
<p>Dalam lukisan abstrak, fragmen semacam itu tidak harus dikembalikan menjadi wajah, rumah, laut, atau benda yang dapat dikenali. Pengalaman dapat diolah menjadi hubungan garis, bidang, warna, sapuan, cipratan, dan tekstur. Yang tersisa bukanlah bentuk kejadian sebagaimana berlangsung di dunia nyata, melainkan sesuatu yang telah melewati proses perubahan melalui bahasa rupa.</p>
<p>Saya tertarik pada kemungkinan bahwa abstraksi memberi ruang bagi pengalaman untuk hadir tanpa harus dipaksa menjadi cerita yang lengkap. Dalam kehidupan, kita sering ingin mengetahui dengan pasti apa yang terjadi, apa penyebabnya, dan apa maknanya. Padahal, tidak semua pengalaman segera menemukan penjelasan. Ada perasaan yang baru kita mengerti setelah waktu berlalu. Ada ingatan yang tetap menyisakan ruang kosong. Ada pula harapan yang kita bawa tanpa mengetahui dengan tepat ke mana ia akan membawa kita.</p>
<p>Karya abstrak dapat mempertahankan keadaan semacam itu. Ia tidak harus memberikan jawaban yang pasti untuk setiap bentuk. Sebaliknya, hubungan antarunsur visual dapat menciptakan pengalaman yang memungkinkan pemirsa merasakan ketegangan, kedekatan, jarak, atau perubahan tanpa harus menerjemahkannya menjadi satu pengertian tunggal.</p>
<p>Di sinilah saya melihat hubungan antara abstraksi dan identitas. Identitas tidak selalu hadir sebagai lambang budaya yang mudah dikenali. Ia dapat muncul melalui sesuatu yang lebih halus: cara seseorang membangun ruang, kecenderungan dalam memilih warna, keberanian mempertahankan ketegangan, atau keputusan untuk tidak menjelaskan segala sesuatu secara harfiah. Semua itu tidak otomatis menjadi bukti tentang asal-usul seorang perupa, tetapi dapat membuka jalan untuk melihat bagaimana pengalaman yang panjang berhubungan dengan pilihan artistik yang dibuatnya.</p>
<p>Tentu, bentuk abstrak tidak dengan sendirinya menjamin kedalaman pengalaman. Kepadatan warna bukan jaminan kedalaman emosi, sebagaimana bentuk yang sulit dikenali tidak otomatis menjadikan sebuah lukisan kompleks. Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana unsur-unsur tersebut disusun, bagaimana ketegangan visual dibangun, dan bagaimana keputusan artistik memberi kehidupan pada karya. Pengalaman boleh menjadi sumber penciptaan, tetapi karya tetap harus menemukan kekuatannya melalui bahasa rupa.</p>
<p>Karena itu, pembacaan terhadap Cengke, Pala, dan Tifa untuk Tanah Baru maupun Fragmen Memori Pela tidak perlu berhenti pada pesan moral tentang persaudaraan. Kita juga perlu melihat bagaimana pengalaman tentang perbedaan, ingatan, dan perjumpaan memperoleh kemungkinan bentuk di dalam lukisan. Warna, goresan, bidang, serta hubungan antarbentuk bukan sekadar kendaraan untuk menyampaikan gagasan yang sudah selesai. Semuanya ikut membentuk makna, bahkan memungkinkan munculnya sesuatu yang mungkin belum sepenuhnya disadari ketika proses penciptaan berlangsung.</p>
<p>Bagi saya, inilah salah satu hal yang membuat praktik melukis tetap menarik. Kita tidak hanya mengerjakan sesuatu yang sudah kita ketahui. Dalam proses berkarya, kita juga berhadapan dengan kemungkinan yang belum kita pahami sepenuhnya. Ada keputusan yang baru terasa tepat setelah dicoba, ada bentuk yang justru muncul ketika rencana awal berubah, dan ada pengalaman yang menemukan kejelasannya melalui kerja artistik. Kadang-kadang, kita baru mengetahui apa yang sedang kita pikirkan setelah melihat sesuatu yang berhasil kita wujudkan.</p>
<p>Dari sudut pandang itu, karya seni tidak hanya menjadi hasil perjalanan, tetapi juga bagian dari proses memahami perjalanan itu sendiri. Pengalaman hidup diolah menjadi karya, lalu karya menghadirkan kesempatan untuk membaca kembali pengalaman tersebut. Hubungan ini tidak selalu berjalan lurus. Ada sesuatu yang dipertahankan, ada yang berubah, dan ada yang baru memperoleh makna setelah berhadapan dengan pemirsa.</p>
<p>Ketika lukisan memasuki ruang pamer, ia bertemu dengan orang-orang yang membawa latar belakang masing-masing. Pemirsa yang berasal dari Maluku mungkin mempunyai kedekatan emosional dengan cengkeh, pala, atau tifa yang berbeda dari pemirsa yang mengenal benda-benda itu melalui bacaan atau pengalaman yang lain. Seseorang yang pernah meninggalkan kampung halaman mungkin menemukan kerinduan di dalam gagasan tanah baru. Orang lain mungkin tidak mempunyai pengalaman merantau, tetapi dapat merasakan ketegangan antara sesuatu yang akrab dan sesuatu yang asing.</p>
<p>Perbedaan pengalaman itu tidak harus diseragamkan. Justru karena pemirsa membawa ingatan dan pengetahuan yang berbeda, karya mempunyai kesempatan untuk membangun perjumpaan yang lebih luas. Lukisan tidak menghapus jarak di antara orang-orang yang melihatnya, tetapi dapat menjadi ruang tempat mereka menyadari bahwa satu karya memungkinkan pengalaman yang beragam.</p>
<p>Bukankah hal serupa juga berlaku dalam kehidupan? Kita dapat duduk di ruang yang sama tanpa mempunyai pengalaman yang sama. Kita dapat berbagi kehidupan tanpa harus menyepakati seluruh pandangan. Yang diperlukan bukan selalu keseragaman, melainkan kesediaan untuk membangun hubungan dan menerima bahwa orang lain mempunyai pengalaman yang tidak sepenuhnya kita ketahui.</p>
<p>Di dalam perjalanan kesenian William, saya melihat persoalan ini tidak berhenti pada hubungan antara dirinya dan orang-orang yang pernah membantunya. Ia juga menyangkut bagaimana pengalaman itu diteruskan melalui karya. Pertemuan yang semula berlangsung dalam ruang kehidupan sehari-hari kemudian memasuki ruang seni, tempat pengalaman personal dapat dibaca dan dirasakan oleh orang lain yang tidak terlibat langsung di dalamnya.</p>
<p>Di sana, persaudaraan tidak lagi hanya menjadi hubungan antara dua orang atau dua kelompok. Ia menjadi pertanyaan yang dibawa ke ruang publik: apa yang kita lakukan dengan pengalaman baik yang pernah kita terima? Apakah pengalaman itu berhenti sebagai kenangan pribadi, atau mendorong kita untuk membangun hubungan yang lebih terbuka dengan orang lain?</p>
<p>Pertanyaan ini membawa saya pada karya-karya William yang lain, seperti Guru-guru Mamise, Ditempa di Ufak Barat, Mengingat Pela, Menanda dengan Tonggak Kecil, dan Jejak. Dari judul-judul tersebut, saya menangkap rangkaian persoalan yang berkaitan dengan ingatan, pembentukan diri, penghormatan terhadap orang lain, dan kesadaran tentang perjalanan yang telah ditempuh. Saya tidak bermaksud menyamakan seluruh karya itu atau menetapkan satu arti untuk masing-masingnya. Namun, keberadaan judul-judul tersebut dalam pameran yang sama memberi kesempatan untuk melihat bahwa gagasan PELA tidak berdiri sendirian. Ia berhubungan dengan perjalanan seseorang dalam memahami siapa dirinya, siapa saja yang ikut membentuknya, dan apa yang ingin ia tinggalkan melalui pekerjaannya.</p>
<p>Kata tempa khususnya menarik perhatian saya. Sesuatu yang ditempa mengalami proses, tekanan, dan perubahan. Ia tidak hadir dalam keadaan yang sepenuhnya selesai. Dalam kehidupan seorang perupa, proses semacam itu berlangsung melalui waktu yang panjang: bekerja, mengalami kegagalan, bertemu dengan orang lain, menerima kritik, mengubah keputusan, dan mencoba lagi. Tidak semua pengalaman langsung menghasilkan kematangan. Ada yang baru kita pahami setelah jarak waktu memberi kesempatan untuk melihatnya kembali.</p>
<p>Akan tetapi, pengalaman ditempa bukan berarti seseorang sekadar menjadi hasil bentukan lingkungannya. Ia tetap mempunyai kehendak untuk memilih, menafsirkan, bahkan menolak sebagian pengaruh yang diterimanya. Di sinilah perjalanan menjadi lebih dari sekadar kumpulan kejadian. Seseorang mulai mengambil tanggung jawab atas apa yang dipelajarinya dan bagaimana ia akan menjalani kehidupan setelahnya.</p>
<p>Sementara itu, kata jejak membawa persoalan lain. Kita sering ingin meninggalkan sesuatu agar perjalanan hidup tidak berlalu begitu saja. Dalam seni rupa, jejak itu bisa hadir melalui karya, pameran, hubungan yang dibangun, atau pengaruh yang tertinggal pada orang lain. Keinginan tersebut manusiawi. Namun, jejak tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar sebuah pencapaian atau seberapa lama nama seseorang dikenal.</p>
<p>Ada jejak yang justru hadir dalam hal-hal sederhana: keberanian yang tumbuh karena seseorang pernah diberi kesempatan, pengetahuan yang diteruskan kepada generasi berikutnya, atau kebaikan yang membuat orang lain sanggup melanjutkan perjalanannya. Kita mungkin tidak selalu mengetahui ke mana pengaruh itu bergerak setelah meninggalkan diri kita. Sebuah tindakan kecil dapat bertahan dalam ingatan orang lain dan menemukan kehidupan baru dalam keadaan yang tidak pernah kita bayangkan.</p>
<p>Saya kira, di sinilah hubungan antara PELA dan perjalanan artistik William memperoleh lapisan yang lebih dalam. Persaudaraan bukan hanya perkara tentang siapa yang pernah hadir dalam hidup kita, melainkan juga tentang bagaimana kehadiran mereka ikut membentuk cara kita memperlakukan dunia. Pengalaman menerima kebaikan dapat menumbuhkan kesadaran untuk memberikan ruang bagi orang lain. Pengalaman ditempa dapat mengajarkan bahwa kematangan tidak harus membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang-orang yang masih menempuh perjalanan.</p>
<p>Tentu, seorang seniman tidak harus menjadikan setiap kebaikan sebagai pesan moral di dalam lukisannya. Karya seni bukan khotbah, dan tidak semua pengalaman perlu diterjemahkan menjadi ajakan yang gamblang. Justru melalui pengolahan artistik, pengalaman dapat hadir dengan cara yang lebih terbuka, membiarkan pemirsa membangun hubungannya sendiri dengan apa yang dilihat. Bagi saya, kebebasan itu penting agar karya tidak kehilangan kerumitan dan daya hidupnya.</p>
<p>Pada akhirnya, PELA mengajak kita memikirkan kembali hubungan antara warisan, pengalaman, dan tanggung jawab. William membawa ingatan tentang leluhur dan kebudayaannya ke dalam perjalanan artistik di tanah Jawa. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang yang ikut membentuk kehidupannya, mengalami proses penempaan, dan mengolah pengalaman tersebut melalui praktik melukis. Karya-karyanya kemudian hadir sebagai ruang perjumpaan baru, tempat pengalaman personal dapat bersentuhan dengan ingatan, perasaan, dan pemahaman pemirsa yang beragam.</p>
<p>Saya tidak membaca perjalanan ini sebagai kisah seseorang yang berhasil mempertahankan identitasnya tanpa perubahan. Saya justru tertarik pada kemungkinan bahwa identitas dapat tetap berakar sambil terus mengalami pertumbuhan. Apa yang diwariskan tidak harus dibekukan agar tetap dikenali. Ia dapat bergerak, bertemu dengan pengalaman baru, dan memperoleh pemaknaan yang berbeda tanpa harus kehilangan seluruh hubungan dengan asal-usulnya.</p>
<p>Barangkali demikian pula kebudayaan hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia bukan hanya sesuatu yang disimpan dalam ingatan atau dipelihara melalui upacara, melainkan sesuatu yang terus memperoleh arti melalui cara manusia menjalaninya. Warisan tidak cukup hanya disebut sebagai milik kita. Ia perlu terlihat dalam tindakan, dalam hubungan yang kita bangun, dan dalam kesediaan untuk menghormati kehidupan yang tidak selalu sama dengan kehidupan kita sendiri.</p>
<p>Saya teringat bahwa akar tidak tumbuh untuk membatasi pohon pada satu titik. Akar memungkinkan pohon berdiri, menyerap unsur yang dibutuhkan, dan mengembangkan kehidupan di atas tanah tempat ia tumbuh. Pohon tidak harus menyangkal akarnya ketika cabang-cabangnya bergerak ke arah yang berbeda. Justru melalui akar itulah pertumbuhan memperoleh pijakan, sementara cabang-cabangnya mencari ruang untuk menjangkau dunia.</p>
<p>Barangkali demikian pula identitas dan kebudayaan dalam perjalanan seorang perupa. Kita menerima sesuatu yang tidak kita pilih sendiri, lalu mengolahnya melalui pengalaman, perjumpaan, dan keputusan-keputusan yang kita ambil sepanjang hidup. Kita tidak selalu dapat menentukan dari mana perjalanan bermula, tetapi kita ikut menentukan bagaimana warisan itu dijalani dan apa yang dapat tumbuh darinya.</p>
<p>Melalui PELA, William Robert menghadirkan ruang untuk merenungkan hubungan antara asal-usul, pengalaman, dan kemungkinan menjadi bagian dari kehidupan yang lebih luas. Lukisan-lukisannya tidak perlu dibaca sebagai jawaban tunggal atas persoalan identitas atau persaudaraan. Daya tariknya justru terletak pada kesempatan untuk mengalami bagaimana ingatan, emosi, harapan, dan pengalaman sosial dapat diolah menjadi bahasa rupa yang terbuka terhadap penafsiran.</p>
<p>Bagi saya, itulah salah satu kemungkinan yang membuat seni tetap penting dalam kehidupan bersama. Karya tidak selalu menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Kadang-kadang ia justru membuat kita melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap sudah jelas. Ia menggeser cara pandang, mengusik kenyamanan, dan mengundang kita memahami bahwa pengalaman orang lain tidak pernah sepenuhnya dapat kita kuasai melalui pengetahuan kita sendiri.</p>
<p>Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya seberapa kuat kita memegang warisan leluhur, atau seberapa bangga kita menyebut identitas sendiri. Pertanyaan yang lebih sulit adalah bagaimana semua itu hadir dalam hubungan kita dengan orang lain. Apakah warisan membuat kita lebih terbuka untuk memahami kehidupan, atau justru menjadi pagar yang kita bangun agar tidak perlu berhadapan dengan perbedaan?</p>
<p>Sebab persaudaraan tidak selesai ketika namanya disebutkan, sebagaimana identitas tidak selesai ketika asal-usulnya diketahui. Keduanya membutuhkan kehidupan, membutuhkan perjumpaan, dan membutuhkan tindakan yang membuat nilai-nilai itu tidak berhenti sebagai kebanggaan.</p>
<p>Akar memberi tahu kita dari mana kehidupan bermula. Namun, nilai sebuah akar tidak hanya terletak pada kemampuannya mempertahankan pohon tetap berdiri, melainkan juga pada kehidupan yang dimungkinkannya tumbuh. Demikian pula pela: ia tidak cukup menjadi nama yang kita warisi atau kebanggaan yang kita bawa ke mana-mana. Ia baru menemukan maknanya ketika persaudaraan sanggup melewati batas asal-usul, bertahan di tengah perbedaan, dan membuat kehadiran kita berarti bagi kehidupan orang lain. Sebab, pada akhirnya, akar bukan hanya tentang dari mana kita berasal, melainkan juga tentang kehidupan apa yang tumbuh melalui keberadaan kita.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>Tentang  Seniman &#8211; Edu Pop</strong></p>
<p>Edo Pop (Eduard) lahir di Sriguna, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, pada 1972. Ia menempuh pendidikan di SMSR Palembang (1989–1993) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1995–2000). Sejak 1990, ia aktif dalam berbagai komunitas seni di Palembang dan Yogyakarta, antara lain Sanggar Bidar Sriwijaya, Rumah Seni Keluargatuk yang turut didirikannya pada 1998, serta Rumah Seni Muara, Yogyakarta, yang turut didirikannya pada 2003.</p>
<p>Karya-karyanya telah dipamerkan melalui pameran tunggal di Denmark, Indonesia, Singapura, dan Filipina, serta pameran kelompok di Indonesia, Singapura, Amerika Serikat, dan Kanada. Beberapa pameran tunggalnya antara lain Impressions in Denmark (1996), Senjakala Eros (2007), Menjadi/Isness (2011), dan Woman Is the Breath of Life (2022).</p>
<p>Prestasinya meliputi penghargaan Karya Cat Air Terbaik ISI Yogyakarta (1996), Karya Seni Lukis Terbaik Dies Natalis XI ISI Yogyakarta (1998), nominasi Philip Morris Indonesia Art Awards (2001 dan 2003), 10 Karya Terbaik Indofood Art Award I (2002), serta finalis UOB Painting of the Year (2019).</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
