<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>buku antologi Rumah itu Bernama Indonesia &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/buku-antologi-rumah-itu-bernama-indonesia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2026 11:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>buku antologi Rumah itu Bernama Indonesia &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>MENIKMATI PUISI ESAI DI TAMAN KOTA HADIRKAN DENNY JA DAN LUNCURKAN ANTOLOGI RUMAH ITU BERNAMA INDONESIA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/komunitas/menikmati-puisi-esai-di-taman-kota-hadirkan-denny-ja-dan-luncurkan-antologi-rumah-itu-bernama-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2026 10:33:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[buku antologi Rumah itu Bernama Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Denny JA Foundation.]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Esai.]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=13103</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Nita Lusaid&#124; Penulis Satupena &#8211; &#8220;Puisi hadir di ruang publik untuk menyuarakan kemanusiaan, keadilan, dan wajah Indonesia yang beragam&#8221; JAKARTA, 31 Oktober 2026 – Denny JA Foundation menggelar kegiatan Menikmati Puisi Esai di Taman Kota di Paviliun Merah, Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, Sabtu, 31 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan Denny JA, penggagas puisi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h6>Oleh Nita Lusaid| Penulis Satupena</h6>
<h6>&#8211;</h6>
<h6>&#8220;Puisi hadir di ruang publik untuk menyuarakan kemanusiaan, keadilan, dan wajah Indonesia yang beragam&#8221;</h6>
<p><strong>JAKARTA, 31 Oktober 2026</strong> – Denny JA Foundation menggelar kegiatan Menikmati Puisi Esai di Taman Kota di Paviliun Merah, Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, Sabtu, 31 Oktober 2026.</p>
<p>Kegiatan ini menghadirkan Denny JA, penggagas puisi esai, serta Mahwi Airtawar yang memberikan ulasan terhadap buku <em>Rumah itu Bernama Indonesia</em> karya Komunitas Arisan Puisi Esai.<br />
Acara yang berlangsung di ruang terbuka tersebut memadukan pembacaan puisi, pertunjukan teaterikal, ulasan buku, dan peluncuran antologi. Melalui kegiatan ini, puisi tidak hanya hadir sebagai teks yang dibaca dalam ruang sunyi, tetapi bergerak mendekati masyarakat dan menjadi bagian dari percakapan publik.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-13106" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-1-300x200.jpeg" alt="" width="1007" height="671" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-1-300x200.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-1-1024x682.jpeg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-1-768x512.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-1.jpeg 1366w" sizes="(max-width: 1007px) 100vw, 1007px" /></p>
<p>Kehadiran Denny JA memberikan konteks penting bagi perjalanan puisi esai sebagai genre yang mempertemukan kekuatan sastra dengan realitas sosial. Puisi esai tidak berhenti pada keindahan bahasa, tetapi membawa fakta, luka sosial, pergulatan manusia, serta suara-suara yang kerap luput dari perhatian.</p>
<p>Pada kesempatan yang sama, Mahwi Airtawar mengulas antologi <em>Rumah itu Bernama Indonesia</em>. Ulasan tersebut menjadi bagian penting dalam membaca posisi buku, kekuatan tema, serta cara para penulis mengolah peristiwa sosial menjadi karya sastra yang menyentuh kesadaran kemanusiaan.</p>
<p>Rumah itu Bernama Indonesia menghimpun karya para penulis yang tergabung dalam Komunitas Arisan Puisi Esai. Buku ini membawa pembaca memasuki berbagai ruang kehidupan: hutan yang kehilangan pepohonan, sekolah yang sulit dijangkau, dapur yang menyimpan? sakit yang dipenuhi penantian, hingga laut dan wilayah perbatasan tempat harga diri dipertahankan dalam kesunyian.</p>
<p>Indonesia dalam buku ini tidak hanya hadir sebagai bentang geografis atau nama yang diteriakkan dalam upacara. Indonesia hadir sebagai rumah bersama, rumah yang seharusnya menyediakan tempat bagi setiap warga, setiap pengalaman, dan setiap suara.</p>
<p>“Bagi kami, Indonesia bukan hanya nama besar yang diucapkan pada hari-hari seremonial. Indonesia adalah rumah yang harus menyediakan tempat bagi setiap cerita, terutama cerita mereka yang selama ini berada di pinggir. Melalui puisi esai, pengalaman sosial tidak berhenti sebagai angka atau kabar, tetapi hadir sebagai suara manusia yang dapat kita dengar dan rasakan,” ujar Nita Ch. Lusaid, Direktur Denny JA Foundation.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-13105" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.59-PM-300x200.jpeg" alt="" width="1112" height="741" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.59-PM-300x200.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.59-PM-1024x682.jpeg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.59-PM-768x512.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.59-PM.jpeg 1366w" sizes="(max-width: 1112px) 100vw, 1112px" /></p>
<p>Pemilihan taman kota sebagai ruang kegiatan juga membawa pesan tersendiri. Sastra perlu keluar dari ruang-ruang yang terbatas dan hadir lebih dekat dengan masyarakat. Di bawah langit terbuka, puisi menemukan kembali fungsi dasarnya: mempertemukan manusia dengan manusia, menghadirkan empati, dan menjaga ingatan terhadap persoalan-persoalan sosial yang belum selesai.</p>
<p>Peluncuran <em>Rumah itu Bernama Indonesia</em> menandai perjalanan baru karya-karya Komunitas Arisan Puisi Esai. Buku ini tidak hanya diluncurkan sebagai sebuah terbitan, tetapi juga sebagai undangan untuk melihat Indonesia dari jarak yang lebih dekat, melalui kehidupan orang-orang biasa yang menjaga negeri ini dengan kerja, luka, harapan, dan keteguhan.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-13104" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-300x169.jpeg" alt="" width="1107" height="624" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-300x169.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-1024x576.jpeg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-4.33.58-PM-768x432.jpeg 768w" sizes="(max-width: 1107px) 100vw, 1107px" /></p>
<p>Melalui Menikmati Puisi Esai di Taman Kota, Denny JA Foundation kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan sastra sebagai ruang dialog yang terbuka, hidup, dan relevan dengan persoalan masyarakat. Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kebijakan dan angka-angka, tetapi juga oleh kesediaannya mendengarkan cerita setiap anak negeri.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
