<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SDGs &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/category/sdgs/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Aug 2026 02:37:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>SDGs &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>GORENGAN: LEZAT SESAAT, SEHAT SELAMANYA?</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/gorengan-lezat-sesaat-sehat-selamanya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2026 02:33:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Industri & Inovasi (SDGs 9)]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[GORENGAN: LEZAT SESAAT]]></category>
		<category><![CDATA[SEHAT SELAMANYA?]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10074</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Menimbang Nikmat, Manfaat, Risiko, dan Dampaknya bagi Kesehatan, Pantun Hipotesis, Retrospektif Nikmat Berbuah Sengsara dan Sengsara Berbuah Nikmat, Fokus Sajian Gorengan&#8221; Oleh: Dr. La Jumu, S.Sos., S.Kep., Ns., M.AP., M.Kes &#8211; Pengantar Redaksi Suara Anak Negeri (SAN) menerima tulisan dari Dr. La Jumu untuk dipublikasikan kepada para pembaca sebagai bagian dari upaya menghadirkan tulisan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Menimbang Nikmat, Manfaat, Risiko, dan Dampaknya bagi Kesehatan, Pantun Hipotesis, Retrospektif Nikmat Berbuah Sengsara dan Sengsara Berbuah Nikmat, Fokus Sajian Gorengan&#8221;</em></p>
<p><strong>Oleh: Dr. La Jumu, S.Sos., S.Kep., Ns., M.AP., M.Kes</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p><strong>Pengantar Redaksi</strong></p>
<p><strong>Suara Anak Negeri (SAN)</strong> menerima tulisan dari Dr. La Jumu untuk dipublikasikan kepada para pembaca sebagai bagian dari upaya menghadirkan tulisan yang informatif, reflektif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Tulisan ini secara khusus mengangkat persoalan makanan goreng-gorengan, mulai dari pengertian, tujuan, kenikmatan, manfaat terbatas, hingga berbagai risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.</p>
<figure id="attachment_10075" aria-describedby="caption-attachment-10075" style="width: 1451px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-10075" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la2-tama-300x225.jpeg" alt="" width="1451" height="1088" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la2-tama-300x225.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la2-tama-1024x768.jpeg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la2-tama-768x576.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la2-tama.jpeg 1366w" sizes="(max-width: 1451px) 100vw, 1451px" /><figcaption id="caption-attachment-10075" class="wp-caption-text">Dok. SAN. Dr. La Jumu sedang memberikan penjelasan kepada para mahasiswanya di Ruang RSUD Biak-Papua.</figcaption></figure>
<p>Melalui tulisan yang memadukan kajian, analisis, skema untung-rugi, serta pantun, Dr. La Jumu mengajak pembaca melihat gorengan bukan hanya sebagai makanan yang lezat dan populer, tetapi juga sebagai bagian dari kebiasaan konsumsi yang perlu disikapi secara bijak. SAN mempublikasikan tulisan ini sebagai bahan bacaan dan refleksi bagi masyarakat agar dapat memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kenikmatan makan dan kesehatan jangka panjang.</p>
<p><strong>A. Pengertian Makanan Goreng-Gorengan</strong></p>
<p>Goreng-gorengan merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai jenis makanan yang diolah dengan cara memasukkan bahan makanan ke dalam minyak panas dalam jumlah tertentu. Sebagian makanan terlebih dahulu dicelupkan ke dalam adonan tepung atau dibalur dengan bahan lainnya sebelum digoreng hingga matang.</p>
<p>Gorengan merupakan salah satu jenis kudapan yang sangat populer di Indonesia. Makanan ini mudah ditemukan di berbagai tempat, terutama di warung, pasar, lingkungan sekolah, perkantoran, hingga pedagang kaki lima. Harganya relatif terjangkau dan penyajiannya praktis sehingga gorengan menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat.</p>
<p><strong>Ciri-Ciri Makanan Gorengan</strong></p>
<p>Secara umum, makanan gorengan mempunyai beberapa ciri:</p>
<ol>
<li>Bagian luar memiliki tekstur renyah atau garing.</li>
<li>Memiliki rasa gurih dan sedap.</li>
<li>Mengandung lemak dan kalori yang relatif tinggi akibat proses penggorengan.</li>
</ol>
<p><strong>Contoh Jenis Gorengan</strong></p>
<p>Berbagai jenis gorengan yang lazim dijumpai di masyarakat antara lain:</p>
<ol>
<li>Bakwan, yaitu sayuran yang dicampur dengan tepung.</li>
<li>Tahu dan tempe goreng, baik yang digoreng langsung maupun dibalut tepung.</li>
<li>Pisang goreng.</li>
<li>Comro dan misro.</li>
<li>Cireng.</li>
</ol>
<p><strong>B. Dampak Kesehatan</strong></p>
<p>Dari sisi kesehatan, makanan yang digoreng mempunyai karakteristik yang perlu diperhatikan. Proses penggorengan menyebabkan makanan menyerap minyak sehingga kandungan kalorinya dapat meningkat. Penggunaan minyak secara berulang juga menjadi perhatian karena dapat menurunkan kualitas minyak.</p>
<figure id="attachment_10076" aria-describedby="caption-attachment-10076" style="width: 1460px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-10076" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la4-300x225.jpeg" alt="" width="1460" height="1095" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la4-300x225.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la4-1024x768.jpeg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la4-768x576.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/la4.jpeg 1366w" sizes="(max-width: 1460px) 100vw, 1460px" /><figcaption id="caption-attachment-10076" class="wp-caption-text">Dr. La Jumu sedang memaparkan materi di hadapan para mahasiswa Prodi Keperawatan</figcaption></figure>
<p>Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah gorengan boleh dimakan atau tidak, melainkan seberapa sering, berapa banyak, bagaimana cara menggorengnya, serta bagaimana kualitas minyak yang digunakan.</p>
<p>Tujuan Makanan Goreng-Gorengan</p>
<p>Pada dasarnya, tujuan pengolahan makanan dengan cara digoreng adalah meningkatkan cita rasa, menciptakan tekstur yang renyah, serta meningkatkan kepadatan energi makanan. Minyak panas juga memberikan aroma dan rasa khas yang membuat makanan lebih menggugah selera.</p>
<p>Fungsi dan Tujuan</p>
<ol>
<li>Memperkaya rasa</li>
</ol>
<p>Lemak dan minyak panas dapat menghasilkan aroma serta rasa gurih yang khas. Inilah salah satu alasan gorengan begitu mudah diterima oleh lidah masyarakat.</p>
<ol start="2">
<li>Mengubah tekstur</li>
</ol>
<p>Penggorengan menghasilkan bagian luar makanan yang garing dan renyah, sementara bagian dalamnya dapat tetap lembut. Perbedaan tekstur inilah yang menjadi salah satu daya tarik utama gorengan.</p>
<ol start="3">
<li>Menambah kalori</li>
</ol>
<p>Dalam proses penggorengan, sebagian minyak dapat masuk ke dalam makanan sehingga kandungan lemak dan energi makanan meningkat.</p>
<ol start="4">
<li>Pengawetan singkat</li>
</ol>
<p>Suhu panas pada proses penggorengan dapat mengurangi kadar air di permukaan makanan dan membantu menekan sebagian mikroorganisme. Namun, hal tersebut tidak berarti gorengan dapat disimpan tanpa batas atau menggantikan prinsip keamanan pangan.</p>
<p><strong>C. Faktor Sosial dan Budaya</strong></p>
<p>Popularitas gorengan tidak hanya berkaitan dengan rasa. Ada faktor sosial dan budaya yang ikut membuatnya menjadi makanan sehari-hari.</p>
<p>Pertama, praktis dan cepat. Proses memasak relatif singkat sehingga makanan dapat segera disajikan.</p>
<p>Kedua, ekonomis. Gorengan dapat dibuat dari bahan sederhana dengan harga yang relatif murah. Ketersediaan minyak goreng juga membuat teknik memasak ini sangat umum digunakan.</p>
<p>Dengan demikian, gorengan bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari kebiasaan sosial masyarakat Indonesia.</p>
<p>Manfaat Makanan Goreng-Gorengan</p>
<p>Jika dilihat dari perspektif kesehatan, makanan gorengan bukanlah kelompok makanan yang mempunyai manfaat khusus yang harus dijadikan alasan untuk mengonsumsinya secara berlebihan. Kandungan kalorinya yang tinggi justru perlu menjadi pertimbangan.</p>
<p>Namun, terdapat beberapa sisi positif terbatas yang membuat gorengan tetap digemari masyarakat.</p>
<p><strong>Sisi Positif Terbatas</strong></p>
<ol>
<li>Sumber energi cepat</li>
</ol>
<p>Kandungan kalori dari lemak dapat memberikan tambahan energi dalam waktu relatif cepat.</p>
<ol start="2">
<li>Rasa yang lezat</li>
</ol>
<p>Gorengan memberikan rasa gurih, renyah, dan aroma yang menggugah selera sehingga dapat meningkatkan kenikmatan makan.</p>
<ol start="3">
<li>Praktis dan murah</li>
</ol>
<p>Gorengan mudah ditemukan dan harganya relatif terjangkau. Faktor ini menjadikannya pilihan masyarakat sebagai camilan maupun pelengkap makanan.</p>
<p><strong>Risiko Kesehatan</strong></p>
<p>Di balik kelezatan tersebut terdapat sejumlah risiko apabila gorengan dikonsumsi terlalu sering.</p>
<ol>
<li>Berat badan naik.<br />
Kandungan kalori yang tinggi dapat berkontribusi terhadap kelebihan asupan energi dan kenaikan berat badan.</li>
<li>Kolesterol tinggi.<br />
Kualitas minyak dan komposisi lemak makanan menjadi faktor yang perlu diperhatikan.</li>
<li>Penyakit jantung.<br />
Pola makan tinggi lemak dan kalori dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular.</li>
<li>Gangguan pencernaan.<br />
Makanan yang tinggi lemak dapat terasa lebih berat bagi sebagian orang dan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman seperti mual atau kembung.</li>
</ol>
<p><strong>D. Bahaya Makan Goroeng-Gorengan </strong></p>
<p>Makan gorengan sesekali berbeda dengan menjadikannya sebagai kebiasaan setiap hari. Persoalan utama muncul ketika konsumsi gorengan dilakukan terlalu sering, dalam jumlah besar, atau menggunakan minyak yang kualitasnya sudah menurun.</p>
<p>Dalam naskah ini, beberapa risiko yang dibahas meliputi kegemukan, peningkatan kolesterol, penyakit jantung, diabetes, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.</p>
<p><strong>Risiko Kesehatan</strong></p>
<ol>
<li>Kenaikan berat badan</li>
</ol>
<p>Gorengan dapat mengandung energi yang cukup tinggi karena makanan menyerap minyak selama proses penggorengan. Jika asupan energi secara keseluruhan melebihi kebutuhan tubuh, berat badan dapat meningkat.</p>
<ol start="2">
<li>Penyakit jantung</li>
</ol>
<p>Pola konsumsi makanan tinggi lemak, terutama apabila berlangsung terus-menerus, dapat meningkatkan berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular.</p>
<ol start="3">
<li>Diabetes tipe 2</li>
</ol>
<p>Konsumsi berlebihan makanan tinggi kalori dan lemak, terutama bila disertai pola hidup kurang aktif, dapat berkontribusi terhadap risiko gangguan metabolisme dan diabetes tipe 2.</p>
<ol start="4">
<li>Potensi risiko akibat proses pengolahan</li>
</ol>
<p>Penggunaan minyak pada suhu tinggi dan pemakaian minyak secara berulang dapat menghasilkan berbagai produk degradasi. Karena itu, kualitas minyak dan cara pengolahan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan makanan.</p>
<ol start="5">
<li>Tekanan darah</li>
</ol>
<p>Kandungan garam, lemak, dan pola makan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan karena dapat berhubungan dengan faktor risiko tekanan darah tinggi.</p>
<p><strong>E. Apakah Betul jika Sering Makan Goreng-Gorengan Memperpendek Umur?</strong></p>
<p><strong>Jawaban: perlu diwaspadai</strong></p>
<p>Pertanyaan ini merupakan salah satu bagian penting dari tulisan: apakah kenikmatan gorengan yang dikonsumsi terus-menerus dapat berujung pada risiko kehidupan yang lebih pendek?</p>
<p>Naskah sumber menjawab bahwa konsumsi gorengan secara berlebihan dan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis dan kematian dini.</p>
<p>Yang perlu digarisbawahi adalah <strong>bukan satu potong gorengan yang secara otomatis memperpendek umur seseorang</strong>, melainkan pola konsumsi yang tidak sehat secara terus-menerus dapat menjadi bagian dari berbagai faktor risiko penyakit.</p>
<p><strong>Alasan Gorengan Berdampak Buruk pada Kesehatan</strong></p>
<ol>
<li>Tinggi lemak</li>
</ol>
<p>Proses penggorengan membuat makanan menyerap minyak. Dalam konteks pola makan secara keseluruhan, asupan lemak yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik tertentu.</p>
<p>Dalam naskah juga dijelaskan istilah LDL (Low-Density Lipoprotein) yang sering disebut sebagai kolesterol jahat karena kadar LDL yang tinggi berkaitan dengan pembentukan plak pada pembuluh darah.</p>
<ol start="2">
<li>Penyumbatan pembuluh darah</li>
</ol>
<p>Penumpukan plak pada pembuluh darah dapat mengganggu aliran darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke.</p>
<ol start="3">
<li>Pemicu penyakit kronis</li>
</ol>
<p>Naskah menghubungkan konsumsi rutin makanan gorengan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, serta risiko lain yang berkaitan dengan proses pengolahan makanan pada suhu tinggi.</p>
<p>Karena itu, pesan utamanya sederhana: gorengan boleh dinikmati, tetapi jangan sampai kenikmatan sesaat berubah menjadi kebiasaan yang merugikan kesehatan dalam jangka panjang.</p>
<p><strong>Pencegahan Bahaya Makan Makanan Goreng-Gorengan</strong></p>
<p>Pencegahan tidak harus dilakukan dengan menghapus gorengan sepenuhnya dari kehidupan sehari-hari. Yang lebih penting adalah mengatur frekuensi, porsi, kualitas minyak, serta cara pengolahan makanan.</p>
<p>Naskah menyarankan membatasi konsumsi, memilih metode memasak alternatif seperti merebus, mengukus, atau memanggang, serta menghindari penggunaan minyak yang telah berulang kali digunakan.</p>
<p><strong>Cara Mencegah Bahaya Gorengan</strong></p>
<ol>
<li>Mengubah metode memasak dengan merebus, mengukus, atau memanggang.</li>
<li>Membatasi jumlah dan frekuensi konsumsi gorengan.</li>
<li>Menghindari penggunaan minyak jelantah atau minyak yang telah digunakan berkali-kali.</li>
<li>Memilih minyak yang sesuai untuk memasak.</li>
<li>Meniriskan minyak berlebih pada makanan.</li>
<li>Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran.</li>
<li>Memenuhi kebutuhan air putih.</li>
<li>Melakukan aktivitas fisik secara teratu</li>
</ol>
<p><strong>F. Solusi Makan Goreng-Gorengan</strong></p>
<p>Solusi yang ditawarkan dalam tulisan ini bukan sekadar mengatakan <strong>“jangan makan gorengan”</strong>, melainkan mengajak masyarakat mengubah kebiasaan secara bertahap.</p>
<p>Makanan dapat diolah dengan cara dikukus, direbus, dipanggang, atau menggunakan air fryer. Jika tetap memilih menggoreng, kualitas minyak, suhu penggorengan, jumlah minyak yang terserap, dan cara meniriskan makanan harus diperhatikan.</p>
<p>Cara Mengatasi Kebiasaan Makan Gorengan</p>
<ol>
<li>Mengganti metode memasak dengan mengukus, merebus, memanggang, atau menggunakan air fryer.</li>
<li>Mengurangi porsi gorengan.</li>
<li>Mengimbangi makanan dengan sayur dan buah.</li>
<li>Memperhatikan kecukupan air putih.</li>
</ol>
<p>Tips Mengurangi Minyak Saat Memasak</p>
<ol>
<li>Memilih minyak yang sesuai.</li>
<li>Memastikan suhu minyak tidak terlalu rendah maupun terlalu tinggi.</li>
<li>Meniriskan gorengan dengan baik setelah diangkat.</li>
<li>Tidak menggunakan minyak secara berulang-ulang.</li>
</ol>
<p><strong>G. Kajian Untung-Ruginya Makanan Gorengan</strong></p>
<p>Pada titik ini kita dapat melihat gorengan secara lebih objektif.</p>
<p>Di satu sisi, gorengan memberikan kenikmatan, rasa gurih, tekstur renyah, kepraktisan, dan harga yang relatif murah. Di sisi lain, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan beban kalori dan lemak serta berkontribusi terhadap sejumlah risiko kesehatan.</p>
<p><strong>Sisi Untung</strong></p>
<ol>
<li>Rasa dan tekstur</li>
</ol>
<p>Gurih, renyah, harum, dan menggugah selera.</p>
<ol start="2">
<li>Praktis dan ekonomis</li>
</ol>
<p>Mudah ditemukan dan relatif murah.</p>
<ol start="3">
<li>Sumber energi</li>
</ol>
<p>Kandungan kalorinya dapat memberikan energi dalam waktu singkat.</p>
<p><strong>Sisi Rugi</strong></p>
<ol>
<li>Tinggi kalori dan lemak</li>
</ol>
<p>Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan kelebihan energi dan berkontribusi pada kenaikan berat badan.</p>
<ol start="2">
<li>Risiko penyakit jantung dan stroke</li>
</ol>
<p>Pola makan tinggi lemak tertentu dapat meningkatkan faktor risiko kardiovaskular.</p>
<ol start="3">
<li>Risiko diabetes tipe 2</li>
</ol>
<p>Konsumsi makanan tinggi kalori secara terus-menerus, terutama bila tidak diimbangi aktivitas fisik, dapat berkontribusi terhadap risiko metabolik.</p>
<ol start="4">
<li>Risiko kesehatan lainnya</li>
</ol>
<p>Naskah juga menyoroti peradangan, penumpukan lemak hati, dan senyawa yang terbentuk selama proses pengolahan bersuhu tinggi.</p>
<p><strong>Skor Perbandingan</strong></p>
<p>Dalam skema penilaian yang digunakan penulis:</p>
<p>Skor kenikmatan: 7/10</p>
<p>Skor risiko kesehatan: 9/10</p>
<p>Rekomendasi: membatasi konsumsi.</p>
<p><strong>H. Analisis Skor Untung-Ruginya Makan Gorengan</strong></p>
<p>Gorengan memiliki paradoks yang menarik: semakin nikmat dan praktis, semakin mudah pula seseorang menjadikannya kebiasaan.</p>
<p>Kenikmatan yang diperoleh bersifat segera. Kita merasakan gurih, renyah, harum, dan kenyang setelah makan. Sebaliknya, dampak negatif akibat pola konsumsi yang tidak sehat biasanya tidak muncul seketika, tetapi dapat berkembang secara perlahan.</p>
<p>Untung Makan Gorengan</p>
<ol>
<li>Rasa lezat dan gurih.</li>
<li>Praktis serta murah.</li>
<li>Cepat mengenyangkan.</li>
<li>Memberikan tambahan energi.</li>
</ol>
<p>Rugi Makan Gorengan</p>
<ol>
<li>Asupan kalori dapat menjadi tinggi.</li>
<li>Kualitas minyak sangat menentukan.</li>
<li>Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik.</li>
<li>Pola makan tinggi kalori dan lemak dapat berkontribusi terhadap risiko diabetes tipe 2.</li>
<li>Pengolahan pada suhu tinggi serta penggunaan minyak berulang menjadi hal yang perlu diwaspadai.</li>
</ol>
<p>Skor Perbandingan</p>
<p>Dalam naskah asli, penulis memberikan:</p>
<ul>
<li>Skor kenikmatan: 8/10.</li>
<li>Skor risiko kesehatan: 9/10 apabila dikonsumsi setiap hari.</li>
<li>Kesimpulan skor: kerugian jangka panjang dinilai lebih besar daripada keuntungan sesaat.</li>
</ul>
<p>Dengan demikian, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apakah gorengan enak?” Jawabannya jelas: enak.</p>
<p>Pertanyaannya adalah:</p>
<p><strong>“Apakah kenikmatan sesaat layak dibayar dengan risiko kesehatan jangka panjang?”</strong></p>
<p>Jawabannya bergantung pada pola konsumsi, jumlah, kualitas makanan, kualitas minyak, serta pola hidup secara keseluruhan.</p>
<p><strong>I. Kesimpulan dan Saran</strong></p>
<p>Gorengan merupakan makanan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Rasanya enak, mudah ditemukan, praktis, dan relatif murah. Karena itu, tidak realistis jika persoalan gorengan hanya dilihat secara hitam-putih: boleh atau tidak boleh.</p>
<p>Yang lebih penting adalah kebijaksanaan dalam mengonsumsi.</p>
<p>Gorengan dapat dinikmati sesekali, tetapi jangan dijadikan makanan utama atau camilan yang dikonsumsi tanpa kendali setiap hari. Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan asupan kalori dan lemak serta berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko kesehatan.</p>
<p>Dampak Buruk Sering Makan Gorengan</p>
<ol>
<li>Kenaikan berat badan</li>
</ol>
<p>Asupan kalori yang berlebihan dapat menyebabkan berat badan meningkat dan pada akhirnya meningkatkan risiko obesitas.</p>
<ol start="2">
<li>Penyakit jantung</li>
</ol>
<p>Pola makan yang tidak sehat dan konsumsi lemak berlebihan dapat berkontribusi terhadap faktor risiko penyakit kardiovaskular.</p>
<ol start="3">
<li>Diabetes tipe 2</li>
</ol>
<p>Kelebihan energi dan pola makan yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme.</p>
<ol start="4">
<li>Risiko akibat proses pengolahan</li>
</ol>
<p>Penggunaan minyak secara berulang dan pengolahan pada suhu tinggi perlu menjadi perhatian dalam menjaga kualitas makanan.</p>
<ol>
<li><strong> Saran </strong></li>
</ol>
<p>Cara Bijak Mengonsumsi Gorengan</p>
<ol>
<li>Batasi porsi</li>
</ol>
<p>Jangan menjadikan gorengan sebagai makanan pokok atau camilan harian.</p>
<ol start="2">
<li>Gunakan minyak yang baik</li>
</ol>
<p>Hindari minyak yang telah digunakan berulang kali dan telah mengalami perubahan kualitas.</p>
<ol start="3">
<li>Tiriskan minyak</li>
</ol>
<p>Setelah gorengan matang, tiriskan dengan baik agar minyak yang menempel pada permukaan makanan dapat dikurangi.</p>
<p>Lebih jauh, masyarakat juga perlu membangun kebiasaan makan yang seimbang: memperbanyak sayur dan buah, cukup minum, serta melakukan aktivitas fisik.</p>
<p>REFERENSI</p>
<ol>
<li>RS Santa Theresia Jambi (2023). <em>Dampak dan Bahaya Makanan Gorengan.</em></li>
<li>Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (2022). <em>Inilah Bahaya Menggunakan Minyak Goreng Berulang-Ulang.</em> Jakarta.</li>
<li>Pemerintah Banda Aceh (2024). <em>Bahaya Sering Makan Makanan Gorengan: Ancaman Kesehatan yang Mengintai.</em></li>
<li>Puskesmas Labuapi (2025). <em>Waspadai Bahaya Makan Gorengan.</em></li>
</ol>
<p>Sebagai penguatan sumber kesehatan, Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa penggunaan minyak goreng berulang dapat memicu oksidasi dan meningkatkan pembentukan senyawa yang tidak diinginkan; Kemenkes menganjurkan memperhatikan kualitas minyak dan menghindari penggunaan berulang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PANTUN NIKMAT MEMBAWA SENGSARA</strong></p>
<p>Buah mangga manis rasanya,<br />
Jatuh setandan di dekat sumur.<br />
Jika nikmat salah gunanya,<br />
Bawa sengsara rusaklah umur.</p>
<p>Makan gulai berdaging tebal,<br />
Rasanya sedap tiada tara.<br />
Kekenyangan perut terasa kebal,<br />
Membawa diri dalam sengsara.</p>
<p><strong>PANTUN SENGSARA MEMBAWA NIKMAT</strong></p>
<p>Pergi ke pasar membeli obat,<br />
Jangan lupa membeli pinang.<br />
Bersabar diri hadapi berat,<br />
Nikmat datang hati pun senang.</p>
<p>Makan mi instan kuah cabai lima,<br />
Pedas membakar lidah terasa ngeri.<br />
Walau tersiksa berlinang air mata,<br />
Rasa lezatnya sungguh bikin ketagihan diri.</p>
<p>Beli durian berduri tajam sekali,<br />
Jari tertusuk rasa nyeri tertahan.<br />
Baunya harum memikat hati,<br />
Manis legitnya hilangkan rasa kesepian<strong>.</strong></p>
<p><strong>Catatan: </strong></p>
<p>Pada akhirnya, gorengan adalah gambaran sederhana tentang bagaimana manusia berhadapan dengan kenikmatan: yang nikmat belum tentu baik jika berlebihan, dan sesuatu yang harus dibatasi bukan berarti harus ditinggalkan seluruhnya.</p>
<p>Gorengan boleh menjadi bagian dari kehidupan kuliner, tetapi kesehatan harus tetap menjadi pertimbangan utama. Kenikmatan sesaat hendaknya tidak mengalahkan kesadaran untuk menjaga tubuh dalam jangka panjang.</p>
<p>Nikmatilah gorengan dengan bijak, batasi frekuensinya, perhatikan kualitas minyak, imbangi dengan makanan bergizi, dan jangan lupakan aktivitas fisik.</p>
<p>Sebab, kesehatan bukan hanya tentang apa yang kita makan hari ini, tetapi juga tentang kebiasaan yang kita bangun untuk hari esok.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>*(Dr. La Jumu adalah Dosen Sosiologi Keperawatan pada Poltekes Kemenkes RI Jayapura. </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KALIMANTAN MENANGIS KETIKA POHON MENJADI API DAN LANGIT MENJADI ABU</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/lingkungan/kalimantan-menangis-ketika-pohon-menjadi-api-dan-langit-menjadi-abu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2026 00:09:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aksi Iklim (SDGs 13)]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan di Darat (SDGs 15)]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[KALIMANTAN MENANGIS KETIKA POHON MENJADI API DAN LANGIT MENJADI ABU]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10056</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Denny JA &#8211; Pada suatu malam Agustus 2026, seorang anak di Kalimantan memandang keluar jendela. Matahari belum tenggelam, tetapi langit telah kehilangan warna birunya. Ibunya menutup jendela rapat-rapat. Namun asap selalu menemukan celah, masuk perlahan seperti tamu gelap yang tak pernah diundang ke dalam rumah. Sang anak bertanya mengapa matahari memerah, seolah ikut terbakar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Denny JA</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pada suatu malam Agustus 2026, seorang anak di Kalimantan memandang keluar jendela. Matahari belum tenggelam, tetapi langit telah kehilangan warna birunya.</p>
<p>Ibunya menutup jendela rapat-rapat. Namun asap selalu menemukan celah, masuk perlahan seperti tamu gelap yang tak pernah diundang ke dalam rumah.</p>
<p>Sang anak bertanya mengapa matahari memerah, seolah ikut terbakar bersama pohon-pohon di kejauhan. Ibunya mungkin tak mempunyai jawaban yang sederhana.</p>
<p>Di luar, orang mengejar api dengan selang dan doa. Di dalam rumah, sebuah keluarga menunggu sesuatu yang tak dapat mereka beli: udara bersih.</p>
<p>Jauh di balik kabut, kehidupan yang dibentuk alam selama ratusan bahkan ribuan tahun sedang kehilangan bentuknya, menjadi arang, lalu terbang sebagai abu.</p>
<p>Pohon menjadi api. Langit menjadi abu. Di antara keduanya, Kalimantan seperti sedang menangis tanpa suara, sementara manusia mulai menghitung harga kehancurannya.</p>
<p>-000-</p>
<p>Tangisan Kalimantan bukan sekadar metafora puitis. Ia adalah jerit alam yang menjelma asap, menyusup ke paru-paru, lalu mengetuk kesadaran manusia.</p>
<p>Di balik kabut asap, angka-angka mulai berbicara dingin: menghitung hutan yang hilang, kehidupan yang terusir, dan kerugian yang tak seluruhnya dapat dibeli kembali.</p>
<p>Kebakaran Kalimantan 2026 bukan satu api raksasa. Ia lahir dari banyak karhutla ketika cuaca, manusia, dan kerentanan ekologis bertemu pada waktu yang sama.</p>
<p>Pada 20 Agustus 2026, BNPB mencatat 1.487 hotspot di Kalimantan. Sebanyak 767 berada di Kalimantan Tengah dan 560 lainnya di Kalimantan Barat.</p>
<p>Hotspot bukan luas kebakaran. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas, sementara satu titik yang tertangkap satelit tetap memerlukan verifikasi di lapangan.</p>
<p>Namun lonjakan titik panas adalah alarm. Lanskap sedang rapuh, ketika kekeringan mengubah daun, ranting, semak, dan lahan terbuka menjadi bahan bakar.</p>
<p>Pada gambut yang kehilangan air, api bahkan dapat menyusup ke bawah tanah. Di permukaan tampak mati, sementara bara diam-diam mencari jalan untuk hidup kembali.</p>
<p>Tetapi cuaca bukan terdakwa tunggal. Dalam sejumlah kejadian yang diselidiki, aktivitas manusia diduga menjadi sumber awal api yang kemudian merembet lebih jauh.</p>
<p>Kapolri menyatakan sejumlah orang diamankan, sebagian diduga terkait pembukaan lahan dengan cara bakar di pinggir konsesi, sebagian lainnya membuka kebun di gambut.</p>
<p>Istilah “bencana alam” karena itu terlalu sederhana. Alam menyediakan kekeringan, manusia dapat menyediakan percikan, sedangkan tata kelola menentukan apakah percikan menjadi bencana.</p>
<p>Kalimantan pernah membaca cerita serupa. Kebakaran besar terjadi pada 1982–1983, kembali pada 1997–1998, kemudian menjadi krisis asap luar biasa pada 2015.</p>
<p>Pada 2015, El Niño dan aktivitas manusia ikut membakar sekitar 2,6 juta hektare lahan Indonesia, menciptakan salah satu krisis asap terburuk dalam sejarah modern.</p>
<p>Mengapa tragedi serupa terus kembali? Salah satu jawabannya menyakitkan karena sederhana: bagi sebagian pelaku, api murah, sedangkan pencegahan terasa lebih mahal.</p>
<p>Keuntungan datang sekarang. Tagihannya dikirim kepada masyarakat melalui asap, penyakit, kehilangan karbon, kerusakan habitat, banjir, serta kehidupan yang semakin rapuh.</p>
<p>Ilmu ekonomi menyebutnya externality. Karhutla bukan sekadar persoalan api, melainkan juga insentif ekonomi, institusi, penegakan hukum, dan cara manusia menghargai alam.</p>
<p>-000-</p>
<p>Satu juta hektare dalam esai ini bukan luas kebakaran Kalimantan 2026. Ia adalah skenario pembanding untuk membayangkan akibat jika api terus membesar.</p>
<p>Satu juta hektare sama dengan sepuluh ribu kilometer persegi. Tetapi angka sebesar itu tetap terlalu kecil untuk menggambarkan seluruh kehidupan yang berada di dalamnya.</p>
<p>Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Fungi, serangga, burung, mamalia, mikroba, kesuburan tanah, penyimpan air, dan cadangan karbon ikut terluka.</p>
<p>Yang musnah bukan sekadar makhluk individual. Hubungan antarmakhluk ikut rusak. Burung kehilangan pohon buah, sementara pohon kehilangan penyebar biji dan kesempatan beregenerasi.</p>
<p>Biodiversitas bukan sekadar daftar spesies. Ia adalah jaringan hubungan yang memungkinkan kehidupan saling menopang, berkembang, dan mempertahankan keberadaannya dari generasi ke generasi.</p>
<p>Bank Dunia mencatat kebakaran Indonesia 2015 membakar sekitar 2,6 juta hektare dan menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp221 triliun bagi Indonesia ketika itu.</p>
<p>Jika dibagi sederhana, kerugiannya sekitar Rp85 juta setiap hektare dalam nilai 2015. Maka satu juta hektare menghasilkan orde kerugian sekitar Rp85 triliun.</p>
<p>Namun Rp85 triliun bukan harga hutan. Ia hanyalah bagian kerusakan yang berhasil diterjemahkan manusia ke dalam bahasa uang dan perhitungan ekonomi.</p>
<p>Ilmu ekonomi lingkungan mengenal sesuatu yang lebih dalam daripada harga: irreversibility, kerusakan yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan kepada keadaan sebelumnya.</p>
<p>Gedung dapat dibangun kembali. Jalan dapat diperbaiki. Pohon dapat ditanam. Tetapi ketika spesies terakhir punah, tidak ada anggaran mampu menghidupkannya kembali.</p>
<p>Sebuah pohon berusia tiga ratus tahun dapat diganti dengan bibit. Namun bibit itu tidak membawa kembali tiga abad kehidupan yang telah tumbuh bersamanya.</p>
<p>Akuntansi mampu menghitung kayu. Ekologi mengingat waktu.</p>
<p>-000-</p>
<p>Dunia pernah menyaksikan api yang jauh lebih luas. Namun membandingkan luas saja menyesatkan karena setiap ekosistem memiliki biodiversitas, kandungan karbon, dan kemampuan pemulihan berbeda.</p>
<p>Pada 2016, Fort McMurray di Kanada terbakar. Sekitar delapan puluh delapan ribu orang mengungsi. Setelah api padam, Kanada meninjau sistem pencegahan dan evakuasinya.</p>
<p>Pelajaran bagi Indonesia bukan meniru Kanada, melainkan kesediaannya belajar. Tragedi dapat menjadi penderitaan sia-sia atau harga mahal menuju sistem yang lebih dewasa.</p>
<p>Dua buku memperluas pelajaran itu. Fire Weather karya John Vaillant menunjukkan perubahan iklim sedang menciptakan kondisi ketika api menjadi semakin mudah membesar.</p>
<p>Sementara The Big Burn karya Timothy Egan menunjukkan bagaimana kebakaran Amerika 1910 ikut mendorong penguatan institusi kehutanan dan konservasi setelah tragedi berlalu.</p>
<p>Keduanya bertemu pada satu pelajaran: kebakaran terbesar bukan ketika api mengalahkan manusia, tetapi ketika setelah api padam, manusia tetap menolak belajar.</p>
<p>-000-</p>
<p>Ketika membaca angka Rp85 triliun, mula-mula saya melihat statistik. Kemudian saya teringat kembali wajah-wajah manusia di balik tragedi asap Indonesia sebelumnya.</p>
<p>Pada 2015, pemerintah mencatat 19 orang meninggal terkait bencana asap. Lebih dari setengah juta kasus infeksi saluran pernapasan akut tercatat sepanjang musim tersebut.</p>
<p>Ada satu gambar dari Kalimantan Tengah pada Oktober 2015 yang sulit dilupakan. Seorang kakak berusia tiga belas tahun menggendong adiknya yang masih bayi.</p>
<p>Bayi tujuh bulan itu menderita infeksi saluran pernapasan. Desa Sei Ahass di Kabupaten Kapuas diselimuti kabut tebal, sementara sekolah-sekolah terpaksa ditutup.</p>
<p>Saya membayangkan orang tuanya. Seperti setiap ayah dan ibu, mungkin mereka hanya menginginkan sesuatu yang sederhana: anaknya bernapas, tidur, bangun, lalu tumbuh dewasa.</p>
<p>Namun pada musim asap, bahkan bernapas dapat menjadi kemewahan. Sebuah keluarga tidak perlu tinggal dekat api untuk menjadi korban kebakaran hutan.</p>
<p>Asap berjalan ratusan kilometer. Ia melewati batas kabupaten dan negara, menyelinap melalui celah jendela, kemudian mencari paru-paru manusia yang paling rapuh.</p>
<p>Kita tidak mengetahui nasib akhir bayi itu. Karena itu, kita tak boleh menciptakan tragedi yang tidak pernah dilaporkan atau mengatakan bahwa ia meninggal.</p>
<p>Tetapi kita tahu sembilan belas keluarga benar-benar kehilangan seseorang, sementara ratusan ribu keluarga lain menjalani malam bersama penyakit akibat asap yang menyelimuti mereka.</p>
<p>“Sembilan belas kematian” berarti sembilan belas kursi kosong di meja makan. “Lima ratus ribu kasus” berarti ratusan ribu malam ketika keluarga hidup dalam kecemasan.</p>
<p>Itulah paradoks statistik. Angka diperlukan untuk mengetahui skala penderitaan, tetapi ketika angka terlalu besar, penderitaan justru dapat kehilangan wajah manusianya sendiri.</p>
<p>Karena itu kita membutuhkan dua bahasa: bahasa angka agar kebijakan menjadi rasional, dan bahasa manusia agar hati kita tidak menjadi kebal.</p>
<p>-000-</p>
<p>Ada kontra argumen yang patut dihormati. Api memang bagian alami beberapa ekosistem, dan manusia telah menggunakan pembakaran untuk mengelola lahan selama ribuan tahun.</p>
<p>Beberapa hutan boreal dan savana berevolusi bersama api. Pembakaran terkendali bahkan dapat menjadi instrumen ekologis apabila dilakukan dengan ilmu dan pengawasan memadai.</p>
<p>Tetapi hutan hujan tropis lembap Kalimantan berbeda. Kebakaran besar berulang bukan proses ekologis yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi dan biodiversitas hutan tersebut.</p>
<p>Kontra argumen berikutnya lebih sulit. Pembangunan memerlukan lahan. Perkebunan, pertanian, tambang, dan infrastruktur menciptakan pekerjaan, ekspor, penerimaan negara, serta kesejahteraan masyarakat.</p>
<p>Romantisisme lingkungan yang mengabaikan kemiskinan masyarakat sekitar hutan sama tidak adilnya dengan pembangunan yang menganggap hutan sekadar lahan tanpa nilai ekologis.</p>
<p>Namun pilihan kita bukan hutan atau kemakmuran. Pilihan sebenarnya adalah pembangunan cerdas atau pembangunan yang menyembunyikan sebagian biayanya kepada generasi berikutnya.</p>
<p>Jika keuntungan privat dinikmati hari ini, sementara kesehatan, karbon, banjir, asap, dan biodiversitas dibayar publik, harga pasar hanya menceritakan sebagian kebenaran.</p>
<p>Pembangunan berkelanjutan bukan menolak pertumbuhan. Ia hanya meminta satu kejujuran: jangan menyebut sesuatu keuntungan sebelum seluruh kerugiannya ikut dihitung.</p>
<p>-000-</p>
<p>Karena itu, untuk sebagian kekayaan alam, pencegahan bukan sekadar lebih murah daripada pemadaman. Ia adalah satu-satunya pilihan yang masih benar-benar rasional.</p>
<p>Helikopter, water bombing, dan penegakan hukum diperlukan. Tetapi semuanya datang setelah kegagalan sebelumnya melahirkan api dan memberinya ruang untuk tumbuh semakin besar.</p>
<p>Pertahanan sesungguhnya dimulai sebelum asap terlihat: gambut tetap basah, konsesi diawasi, masyarakat diberi insentif tanpa bakar, dan titik panas segera ditangani.</p>
<p>Karbon, air, biodiversitas, dan jasa ekosistem harus memperoleh tempat nyata dalam keputusan pembangunan agar menjaga hutan menjadi pilihan ekonomi yang rasional.</p>
<p>Namun ekonomi bukan alasan terakhir menyelamatkan hutan. Ada kehidupan yang layak dipertahankan bukan karena menghasilkan uang, tetapi karena kita tak berhak memusnahkannya.</p>
<p>-000-</p>
<p>Kalimantan 2026 belum menjadi Kalimantan 1997. Justru karena belum sebesar itu, kesempatan mencegah sejarah berulang masih berada di tangan kita hari ini.</p>
<p>Setiap kebakaran jutaan hektare pernah bermula sebagai api kecil. Setiap langit kelabu bermula dari asap tipis yang suatu hari dianggap belum mengkhawatirkan.</p>
<p>Itulah jebakan sejarah. Kita menunggu masalah menjadi besar agar layak ditangani, padahal ketika membesar, sebagian kerusakannya tidak lagi dapat dibalik.</p>
<p>Ukuran keberhasilan bukan berapa banyak helikopter diterbangkan setelah kebakaran. Ukuran sesungguhnya adalah berapa banyak api yang tidak pernah memperoleh kesempatan menjadi besar.</p>
<p>Kemenangan terbaik melawan bencana sering tidak menjadi berita. Hanya ada hutan yang tetap berdiri, langit tetap biru, dan anak-anak yang tetap bernapas.</p>
<p>-000-</p>
<p>Kalimantan bukan gudang kayu. Ia adalah perpustakaan evolusi yang ditulis alam selama jutaan tahun, jauh sebelum manusia mengenal negara, pasar, perusahaan, dan uang.</p>
<p>Setiap pohon adalah halaman. Setiap spesies adalah kalimat. Setiap sungai, burung, serangga, dan mikroorganisme menjadi bagian cerita panjang tentang kehidupan.</p>
<p>Di dalamnya tersimpan gen, obat yang mungkin belum ditemukan, hubungan ekologis, serta bab-bab kehidupan yang bahkan belum sempat dibaca ilmu pengetahuan.</p>
<p>Membakar hutan karena kita belum mengetahui seluruh nilainya sama seperti membakar perpustakaan karena kita belum selesai membaca buku-buku yang tersimpan di dalamnya.</p>
<p>Alam tidak selalu menyimpan salinan. Ada spesies yang hanya hidup di satu tempat. Ketika makhluk terakhir menghilang, sebuah cerita evolusi berakhir selamanya.</p>
<p>Kita dapat menciptakan kecerdasan buatan, menjelajah angkasa, dan membaca kode genetik. Tetapi kita belum mampu memanggil kembali spesies yang benar-benar telah punah.</p>
<p>Di sanalah teknologi perlu belajar rendah hati: tidak semua yang mampu kita rusak akan mampu kita ciptakan kembali setelah ia hilang dari bumi.</p>
<p>-000-</p>
<p>Suatu hari asap Agustus 2026 akan menghilang. Hujan turun, langit kembali biru, berita berganti, kamera pergi, dan manusia kembali kepada kesibukannya.</p>
<p>Tetapi hutan mempunyai jam berbeda. Sesuatu yang musnah dalam beberapa jam mungkin memerlukan seratus tahun, bahkan lebih, untuk mendekati kehidupan sebelumnya.</p>
<p>Satu korek api hanya membutuhkan sedetik untuk menyala. Sebuah hutan membutuhkan berabad-abad untuk menjadi dirinya sendiri dan membangun jaringan kehidupan di dalamnya.</p>
<p>Menyelamatkan hutan karena itu bukan hanya agenda lingkungan. Ia adalah perjanjian moral kita dengan manusia yang hari ini bahkan belum dilahirkan.</p>
<p>Mereka tidak hadir dalam rapat, tidak mempunyai suara dalam pemilu, bahkan belum mempunyai nama. Tetapi merekalah yang kelak mewarisi keputusan kita hari ini.</p>
<p>Jika mereka mengetahui kita memiliki data, ilmu, teknologi, serta pengalaman bencana sebelumnya, mungkin pertanyaan mereka hanya satu: mengapa kalian tidak mencegahnya?</p>
<p>-000-</p>
<p>Karena itu, yang harus kita kerjakan sekarang bukan menunggu api membesar, tetapi membuat kebakaran sulit terjadi sejak awal.</p>
<p>Gambut harus dijaga tetap basah, hotspot ditangani secepat mungkin, konsesi diawasi ketat, dan pembukaan lahan dengan api harus benar-benar dihentikan.</p>
<p>Masyarakat sekitar hutan juga harus memperoleh insentif ekonomi agar menjaga hutan lebih menguntungkan daripada membakarnya atau membiarkannya rusak.</p>
<p>Teknologi satelit, patroli lapangan, penegakan hukum, dan restorasi ekosistem perlu bekerja sebagai satu sistem, bukan sebagai program yang berjalan sendiri-sendiri.</p>
<p>Yang kita perlukan akhirnya bukan sekadar kemampuan memadamkan api, melainkan keberanian membangun ekonomi yang membuat hutan tetap hidup.</p>
<p>-000-</p>
<p>Malam kembali turun di Kalimantan. Saya membayangkan anak di depan jendela itu, masih memandang matahari merah yang samar-samar terlihat di balik kabut.</p>
<p>Ia tidak mengenal externality atau irreversibility. Ia tidak mengetahui berapa triliun kerugian ekonomi atau berapa ton karbon dilepaskan ke udara.</p>
<p>Ia hanya mengetahui sesuatu yang sederhana: udara membuatnya sulit bernapas, ibunya menutup jendela, dan langit yang seharusnya biru telah berubah menjadi abu.</p>
<p>Kadang seorang anak memahami inti bencana sebelum orang dewasa selesai memperdebatkan angka: dunia seperti apa yang hendak kita tinggalkan setelah kita pergi?</p>
<p>Kita boleh menghitung satu juta hektare sebagai kerugian sekitar Rp85 triliun. Tetapi jangan menyangka uang mampu membeli kembali kehidupan dan waktu yang hilang bersamanya.</p>
<p>Kepada anak di balik jendela itu dan manusia yang belum dilahirkan, kita mempunyai utang moral: meninggalkan bumi yang masih layak mereka cintai.</p>
<p>Sebab alam bukan warisan yang bebas kita habiskan. Ia adalah titipan dari masa lalu yang suatu hari harus kita serahkan kepada masa depan.</p>
<p>Manusia dapat menanam kembali pohon. Tetapi manusia tidak pernah dapat menanam kembali waktu yang telah berubah menjadi abu.*</p>
<p>Jakarta, 23 Agustus 2026</p>
<p>REFERENSI</p>
<p>Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Laporan Harian Kebakaran Hutan dan Lahan, 20 Agustus 2026. Jakarta: BNPB, 2026.</p>
<p>Timothy Egan. The Big Burn: Teddy Roosevelt and the Fire that Saved America. Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2009.</p>
<p>John Vaillant. Fire Weather: A True Story from a Hotter World. New York: Alfred A. Knopf, 2023.</p>
<p>World Bank. The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia’s 2015 Fire Crisis. Jakarta: World Bank Group, 2016.</p>
<p>World Bank &amp; Kementerian Kesehatan RI. Estimasi Biaya Kesehatan Musim Asap 2015 di Sumatera dan Kalimantan. Jakarta: World Bank Indonesia, 2016.</p>
<p>Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Data Karhutla Historis Indonesia 1982–2015. Jakarta: KLHK, 2016.</p>
<p>-000-</p>
<p>Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.</p>
<p>https://www.facebook.com/share/p/18jiffnoV5/?mibextid=wwXIfr</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Robert Frost’s Poems Translated (English – Indonesia) by Leni Marlina</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/robert-frosts-poems-translated-english-indonesia-by-leni-marlina-2</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 23:54:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Robert Frost’s Poems Translated (English – Indonesia) by Leni Marlina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10053</guid>

					<description><![CDATA[/1/ The Road Not Taken Poem by Robert Frost &#8211; Two roads diverged in a yellow wood, And sorry I could not travel both And be one traveler, long I stood And looked down one as far as I could To where it bent in the undergrowth; Then took the other, as just as fair, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>The Road Not Taken </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Two roads diverged in a yellow wood,<br />
And sorry I could not travel both<br />
And be one traveler, long I stood<br />
And looked down one as far as I could<br />
To where it bent in the undergrowth;</p>
<p>Then took the other, as just as fair,<br />
And having perhaps the better claim<br />
Because it was grassy and wanted wear,<br />
Though as for that the passing there<br />
Had worn them really about the same,</p>
<p>And both that morning equally lay<br />
In leaves no step had trodden black.<br />
Oh, I kept the first for another day!<br />
Yet knowing how way leads on to way<br />
I doubted if I should ever come back.</p>
<p>I shall be telling this with a sigh<br />
Somewhere ages and ages hence:<br />
Two roads diverged in a wood, and I,<br />
I took the one less traveled by,<br />
And that has made all the difference.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>The Road Not Taken”</strong></p>
<p><strong>Jalan yang Tak Kupilih</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Dua jalan bercabang di hutan yang menguning,<br />
Sayang, tak mungkin keduanya kutempuh;<br />
Lama aku berdiri, seorang pengembara yang termenung,<br />
Memandang satu jalan sejauh mata mampu menembus,<br />
Hingga ia berbelok di semak yang rimbun dan teduh.</p>
<p>Lalu kupilih jalan yang satu lagi,<br />
Yang sama indahnya, mungkin lebih layak dijalani;<br />
Karena rumputnya lebat, seakan jarang dilalui,<br />
Meski, jika kupikirkan lagi, jejak kaki<br />
Telah membuat keduanya nyaris sama sekali.</p>
<p>Pagi itu keduanya terbentang sunyi,<br />
Berselimut daun yang belum ternoda jejak kaki.<br />
Ah, kusimpan jalan pertama untuk hari nanti!<br />
Namun kusadari, satu jalan mengantar ke jalan lainnya,<br />
Dan aku ragu akan pernah kembali.</p>
<p>Kelak, bertahun-tahun, entah sampai kapan nanti,<br />
Akan kukisahkan ini dengan helaan napas sunyi:<br />
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku<br />
Aku memilih jalan yang lebih jarang dilalui,<br />
Dan pilihan itulah yang membuat segalanya berbeda.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>/2/ </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Stopping by Woods on a Snowy Evening </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Whose woods these are I think I know.<br />
His house is in the village, though;<br />
He will not see me stopping here<br />
To watch his woods fill up with snow.</p>
<p>My little horse must think it queer<br />
To stop without a farmhouse near<br />
Between the woods and frozen lake<br />
The darkest evening of the year.</p>
<p>He gives his harness bells a shake<br />
To ask if there is some mistake.<br />
The only other sound&#8217;s the sweep<br />
Of easy wind and downy flake.</p>
<p>The woods are lovely, dark and deep,<br />
But I have promises to keep,<br />
And miles to go before I sleep,<br />
And miles to go before I sleep.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Stopping by Woods on a Snowy Evening”</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Singgah di Hutan Bersalju</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kurasa kutahu siapa pemilik hutan ini,<br />
Rumahnya di desa, jauh dari sini;<br />
Ia takkan melihatku berhenti sendiri,<br />
Menatap salju memenuhi hutan sunyi.</p>
<p>Kudaku yang kecil tentu merasa heran,<br />
Mengapa berhenti jauh dari rumah dan pemukiman,<br />
Di antara hutan dan danau yang membeku,<br />
Pada malam tergelap sepanjang tahun berlalu.</p>
<p>Lonceng kekangnya digoyangkannya perlahan,<br />
Seolah bertanya, “Apakah salah perjalanan?”<br />
Hanya desir angin terdengar lembut,<br />
Bersama salju berbulu yang jatuh lembut.</p>
<p>Hutan ini begitu indah—gelap dan dalam,<br />
Namun masih ada janji yang harus kugenggam.<br />
Masih bermil-mil jalan sebelum aku terlelap,<br />
Masih bermil-mil jalan sebelum aku terlelap.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>/3/</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Fire And Ice </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Some say the world will end in fire,<br />
Some say in ice.<br />
From what I&#8217;ve tasted of desire<br />
I hold with those who favor fire.<br />
But if it had to perish twice,<br />
I think I know enough of hate<br />
To say that for destruction ice<br />
Is also great<br />
And would suffice.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Stopping by Woods on a Snowy Evening”</strong></p>
<p><strong>Api dan Es</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ada yang berkata dunia kan berakhir dalam api,<br />
Ada pula yang percaya: dalam es yang sunyi.<br />
Dari hasrat yang pernah kurasakan sendiri,<br />
Aku sependapat dengan mereka yang memilih api.</p>
<p>Namun jika dunia mesti binasa dua kali,<br />
Kurasa aku cukup mengenal dinginnya benci,<br />
Untuk berkata: bagi kehancuran, es pun tak kalah berarti,<br />
Sama dahsyatnya dalam membinasakan diri,<br />
Dan sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>Nothing Gold Can Stay </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Nature&#8217;s first green is gold,<br />
Her hardest hue to hold.<br />
Her early leaf&#8217;s a flower;<br />
But only so an hour.<br />
Then leaf subsides to leaf,<br />
So Eden sank to grief,<br />
So dawn goes down to day<br />
Nothing gold can stay.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Nothing Gold Can Stay ”</strong></p>
<p><strong>Hijau Pertama Alam</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Hijau pertama alam berkilau bagai emas,<br />
Warna yang paling lekas sirna dan lepas.<br />
Daun pertama baginya laksana bunga,<br />
Namun hanya sekejap—tak lebih dari sejam lamanya.</p>
<p>Lalu daun pun kembali menjadi daun,<br />
Seperti Eden tenggelam dalam duka yang turun.<br />
Seperti fajar perlahan larut menjadi siang,<br />
Tak ada emas yang selamanya gemilang.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>A Question </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>A voice said, Look me in the stars<br />
And tell me truly, men of earth,<br />
If all the soul-and-body scars<br />
Were not too much to pay for birth.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Question ”</strong></p>
<p><strong>Sebuah Pertanyaan</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Sebuah suara berkata, “Tatap aku di bintang,</p>
<p>Dan katakan sejujurnya, wahai manusia di bumi:</p>
<p>Jika segala luka jiwa dan raga yang membayang,</p>
<p>Tak terlalu mahalkah harga untuk lahir ke dunia ini?”</p>
<p><strong> </strong><strong>&#8212;</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>/6/</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Acquainted with the Night </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>I have been one acquainted with the night.<br />
I have walked out in rain &#8211; and back in rain.<br />
I have outwalked the furthest city light.</p>
<p>I have looked down the saddest city lane.<br />
I have passed by the watchman on his beat<br />
And dropped my eyes, unwilling to explain.</p>
<p>I have stood still and stopped the sound of feet<br />
When far away an interrupted cry<br />
Came over houses from another street,</p>
<p>But not to call me back or say good-bye;<br />
And further still at an unearthly height,<br />
One luminary clock against the sky</p>
<p>Proclaimed the time was neither wrong nor right.<br />
I have been one acquainted with the night.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Acquainted with the Night  Stay ”</strong></p>
<p><strong>Akrab dengan Malam</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Aku telah lama bersahabat dengan malam.<br />
Kutembus hujan, lalu kembali dalam hujan,<br />
Melampaui cahaya kota yang paling jauh di ujung jalan.</p>
<p>Kupandang lorong kota yang paling muram,<br />
Kulewati penjaga malam yang tengah berkeliling,<br />
Kutundukkan mata, enggan memberi penjelasan.</p>
<p>Aku berhenti, membungkam langkah kaki,<br />
Saat dari kejauhan terdengar jerit yang terputus,<br />
Menyusup melintasi rumah-rumah dari jalan lain,</p>
<p>Namun bukan untuk memanggilku pulang atau mengucap selamat tinggal;<br />
Dan lebih jauh lagi, di ketinggian yang tak wajar,<br />
Sebuah jam bercahaya menggantung di langit,</p>
<p>Mengabarkan bahwa waktunya tak salah, tak pula benar.<br />
Aku telah lama bersahabat dengan malam.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>A Late Walk</strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>When I go up through the mowing field,<br />
The headless aftermath,<br />
Smooth-laid like thatch with the heavy dew,<br />
Half closes the garden path.</p>
<p>And when I come to the garden ground,<br />
The whir of sober birds<br />
Up from the tangle of withered weeds<br />
Is sadder than any words</p>
<p>A tree beside the wall stands bare,<br />
But a leaf that lingered brown,<br />
Disturbed, I doubt not, by my thought,<br />
Comes softly rattling down.</p>
<p>I end not far from my going forth<br />
By picking the faded blue<br />
Of the last remaining aster flower<br />
To carry again to you.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Late Walk”</strong></p>
<p><strong>Jalan Pulang yang Terlambat</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Saat kutempuh padang yang baru saja dipangkas,<br />
Sisa-sisa batang tanpa kepala terbentang;<br />
Tersusun halus bagai jerami, basah oleh embun yang deras,<br />
Menutup separuh jalan menuju taman.</p>
<p>Dan ketika tiba di tanah kebun,<br />
Dari rumpun ilalang yang layu dan berserak,<br />
Kicau burung yang muram terbangun,<br />
Lebih sedih daripada kata-kata yang terucap.</p>
<p>Sebatang pohon di sisi tembok berdiri telanjang,<br />
Namun sehelai daun cokelat masih bertahan;<br />
Terganggu, entah oleh pikiranku yang panjang,<br />
Ia pun jatuh perlahan, berdesir di sepanjang halaman.</p>
<p>Tak jauh dari tempat mula aku melangkah,<br />
Perjalananku berakhir dalam hening yang biru;<br />
Kupetik bunga aster biru terakhir yang masih tersisa,<br />
Untuk kembali kubawa kepadamu.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/8/</p>
<p><strong>A Minor Bird </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>have wished a bird would fly away,<br />
And not sing by my house all day;</p>
<p>Have clapped my hands at him from the door<br />
When it seemed as if I could bear no more.</p>
<p>The fault must partly have been in me.<br />
The bird was not to blame for his key.</p>
<p>And of course there must be something wrong<br />
In wanting to silence any song.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Minor Bird “</strong></p>
<p><strong>Seekor Burung Kecil</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pernah kuharap seekor burung terbang pergi,<br />
Tak lagi bernyanyi di rumahku sepanjang hari.</p>
<p>Kupukulkan tangan dari ambang pintu,<br />
Saat rasanya tak sanggup lagi kutahan itu.</p>
<p>Mungkin sebagian salahnya ada padaku,<br />
Burung itu tak patut disalahkan atas lagunya.</p>
<p>Dan tentu ada yang keliru, entah bagaimana,<br />
Bila kita ingin membungkam nyanyian yang ada.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/8/</p>
<p><strong>A Prayer in Spring </strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Oh, give us pleasure in the flowers to-day;<br />
And give us not to think so far away<br />
As the uncertain harvest; keep us here<br />
All simply in the springing of the year.</p>
<p>Oh, give us pleasure in the orchard white,<br />
Like nothing else by day, like ghosts by night;<br />
And make us happy in the happy bees,<br />
The swarm dilating round the perfect trees.</p>
<p>And make us happy in the darting bird<br />
That suddenly above the bees is heard,<br />
The meteor that thrusts in with needle bill,<br />
And off a blossom in mid air stands still.</p>
<p>For this is love and nothing else is love,<br />
The which it is reserved for God above<br />
To sanctify to what far ends He will,<br />
But which it only needs that we fulfil.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Prayer in Spring “</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Doa di Musim Semi</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Oh, beri kami sukacita pada bunga hari ini;<br />
Jangan biarkan pikiran kami melayang terlalu jauh nanti,<br />
Memikirkan panen yang belum pasti; biarkan kami tetap di sini,<br />
Menikmati sederhana mekarnya tahun ini.</p>
<p>Oh, beri kami sukacita pada kebun yang putih berseri,<br />
Tiada bandingnya di siang hari, bagai hantu di malam sunyi;<br />
Dan bahagiakan kami bersama lebah-lebah yang riang,<br />
Kerumunan yang mengembang di sekeliling pepohonan gemilang.</p>
<p>Dan bahagiakan kami oleh burung yang melesat terbang,<br />
Yang tiba-tiba terdengar jauh di atas lebah yang berdengung riang;<br />
Laksana meteor dengan paruh setajam jarum menembus udara,<br />
Lalu berhenti sekejap di atas sekuntum bunga.</p>
<p>Sebab inilah cinta, dan tiada yang lain selain cinta,<br />
Yang diserahkan kepada Tuhan di atas sana,<br />
Untuk disucikan-Nya menuju tujuan yang dikehendaki-Nya,<br />
Namun yang cukup bagi kita hanyalah menjalaninya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/9/</p>
<p><strong>The Rose Family </strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>The rose is a rose,<br />
And was always a rose.<br />
But the theory now goes<br />
That the apple&#8217;s a rose,<br />
And the pear is, and so&#8217;s<br />
The plum, I suppose.<br />
The dear only knows<br />
What will next prove a rose.<br />
You, of course, are a rose &#8211;<br />
But were always a rose.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>The Rose Family “</strong></p>
<p><strong>Keluarga Mawar</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Mawar tetaplah mawar,</p>
<p>Sejak dahulu memang mawar.</p>
<p>Namun teori kini berkata benar:</p>
<p>Apel pun ternyata mawar,</p>
<p>Pir pun, begitu pula plum yang mekar.</p>
<p>Entah Tuhan saja yang tahu benar</p>
<p>Apa lagi kelak disebut mawar.</p>
<p>Dan kau, tentu saja, adalah mawar—</p>
<p>Namun sejak dulu, tetaplah mawar.</p>
<p>&#8212;<br />
/10/</p>
<p><strong>A Soldier </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>He is that fallen lance that lies as hurled,<br />
That lies unlifted now, come dew, come rust,<br />
But still lies pointed as it plowed the dust.<br />
If we who sight along it round the world,<br />
See nothing worthy to have been its mark,<br />
It is because like men we look too near,<br />
Forgetting that as fitted to the sphere,<br />
Our missiles always make too short an arc.<br />
They fall, they rip the grass, they intersect<br />
The curve of earth, and striking, break their own;<br />
They make us cringe for metal-point on stone.<br />
But this we know, the obstacle that checked<br />
And tripped the body, shot the spirit on<br />
Further than target ever showed or shone.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Soldier “</strong></p>
<p><strong>Seorang Prajurit</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Dialah tombak yang terjatuh, sebagaimana ia terlempar,<br />
Kini terbaring tak terangkat, datang embun, datang karat,<br />
Namun tetap terbaring dengan ujung mengarah, sebagaimana ia membajak debu.<br />
Jika kita, yang mengikuti arah ujungnya mengitari dunia,<br />
Tak melihat sesuatu yang layak menjadi sasarannya,<br />
Itu karena, seperti manusia, kita memandang terlalu dekat,<br />
Lupa bahwa, sebagaimana disesuaikan dengan bulatnya bumi,<br />
Senjata-senjata kita selalu menempuh lengkung yang terlalu pendek.</p>
<p>Ia jatuh, mengoyak rumput, memotong lengkung bumi,<br />
Dan ketika menghantam, tubuhnya sendiri pun patah;<br />
Membuat kita meringis saat ujung logam beradu dengan batu.<br />
Namun inilah yang kita tahu: penghalang yang menghentikan,<br />
Yang menjegal tubuhnya, justru melontarkan jiwanya<br />
Lebih jauh daripada sasaran mana pun yang pernah tampak atau bersinar.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/11/</p>
<p><strong>A Time to Talk </strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>When a friend calls to me from the road<br />
And slows his horse to a meaning walk,<br />
I don&#8217;t stand still and look around<br />
On all the hills I haven&#8217;t hoed,<br />
And shout from where I am, What is it?<br />
No, not as there is a time to talk.<br />
I thrust my hoe in the mellow ground,<br />
Blade-end up and five feet tall,<br />
And plod: I go up to the stone wall<br />
For a friendly visit.&#8211;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Time to Talk“</strong></p>
<p><strong>Saatnya Berbicara</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ketika seorang sahabat memanggilku dari jalan,<br />
Lalu memperlambat kudanya menjadi langkah penuh makna,<br />
Aku tak berhenti, menoleh ke segala penjuru,<br />
Memandang bukit-bukit yang belum sempat kubajak,<br />
Lalu berteriak dari tempatku, “Ada apa?”<br />
Tidak—sebab ada waktunya untuk berbicara.</p>
<p>Kuhentakkan cangkulku ke tanah yang gembur,<br />
Ujung bilahnya menghadap ke atas, menjulang lima kaki,<br />
Lalu kutapaki jalan dengan langkah berat menuju pagar batu,<br />
Untuk sebuah kunjungan bersahabat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/12/</p>
<p><strong>Asking For Roses</strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>A house that lacks, seemingly, mistress and master,<br />
With doors that none but the wind ever closes,<br />
Its floor all littered with glass and with plaster;<br />
It stands in a garden of old-fashioned roses.</p>
<p>I pass by that way in the gloaming with Mary;<br />
&#8216;I wonder,&#8217; I say, &#8216;who the owner of those is.&#8217;<br />
&#8216;Oh, no one you know,&#8217; she answers me airy,<br />
&#8216;But one we must ask if we want any roses.&#8217;</p>
<p>So we must join hands in the dew coming coldly<br />
There in the hush of the wood that reposes,<br />
And turn and go up to the open door boldly,<br />
And knock to the echoes as beggars for roses.</p>
<p>&#8216;Pray, are you within there, Mistress Who-were-you? &#8216;<br />
&#8216;Tis Mary that speaks and our errand discloses.<br />
&#8216;Pray, are you within there? Bestir you, bestir you!<br />
&#8216;Tis summer again; there&#8217;s two come for roses.</p>
<p>&#8216;A word with you, that of the singer recalling-<br />
Old Herrick: a saying that every maid knows is<br />
A flower unplucked is but left to the falling,<br />
And nothing is gained by not gathering roses.&#8217;</p>
<p>We do not loosen our hands&#8217; intertwining<br />
(Not caring so very much what she supposes) ,<br />
There when she comes on us mistily shining<br />
And grants us by silence the boon of her roses.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Asking for Roses“</strong></p>
<p><strong>Meminta Bunga Mawar</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Sebuah rumah yang tampaknya tanpa tuan dan nyonya,</p>
<p>Pintunya hanya angin yang menutup bila ia berembus;</p>
<p>Lantainya berserakan pecahan kaca dan reruntuhan,</p>
<p>Berdiri di taman dengan mawar-mawar gaya zaman dahulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku melewati jalan itu saat senja bersama Mary;</p>
<p>“Entah,” kataku, “siapakah pemilik mawar-mawar itu?”</p>
<p>“Oh, bukan siapa pun yang kau kenal,” jawabnya ringan,</p>
<p>“Namun seseorang yang harus kita mintai, bila ingin mendapat mawar.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka kami bergandengan tangan di antara embun yang dingin,</p>
<p>Di sana, dalam hening hutan yang terlelap;</p>
<p>Kami berbalik, lalu dengan berani menuju pintu yang terbuka,</p>
<p>Dan mengetuk, seperti pengemis yang memohon bunga mawar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Permisi, apakah kau ada di dalam, Nyonya, siapapun dirimu?”</p>
<p>Mary berseru, menjelaskan maksud kedatangan kami.</p>
<p>“Permisi, apakah kau ada di dalam? Bangunlah, bangunlah!</p>
<p>Musim panas telah kembali; kami berdua datang meminta mawar.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Hanya sepatah kata, mengingatkan pada seorang penyair</p>
<p>Herrick tua: pepatah yang dikenal setiap gadis:</p>
<p>Bunga yang tak dipetik hanyalah dibiarkan jatuh,</p>
<p>Dan tak ada yang diperoleh dengan membiarkan mawar tak dipetik.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami tak melepaskan jemari yang saling bertaut,</p>
<p>Tak begitu peduli apa yang mungkin dipikirkannya,</p>
<p>Ketika ia datang kepada kami, berkilau samar dalam kabut,</p>
<p>Dan dalam diamnya, mengaruniakan kepada kami mawar-mawarnya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/13/</p>
<p><strong>A Boundless Moment </strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>He halted in the wind, and &#8211; what was that<br />
Far in the maples, pale, but not a ghost?<br />
He stood there bringing March against his thought,<br />
And yet too ready to believe the most.</p>
<p>&#8216;Oh, that&#8217;s the Paradise-in-bloom,&#8217; I said;<br />
And truly it was fair enough for flowers<br />
had we but in us to assume in march<br />
Such white luxuriance of May for ours.</p>
<p>We stood a moment so in a strange world,<br />
Myself as one his own pretense deceives;<br />
And then I said the truth (and we moved on) .<br />
A young beech clinging to its last year&#8217;s leaves.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Boundless Moment “</strong></p>
<p><strong>Sesaat Tanpa Batas</strong></p>
<p><em>Puisi karya Robert Frost</em></p>
<p><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ia berhenti diterpa angin—dan apakah itu</p>
<p>Jauh di antara pohon maple, pucat, namun bukan hantu?</p>
<p>Ia berdiri, membawa bulan Maret melawan pikirannya,</p>
<p>Namun terlalu mudah untuk mempercayai apa saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Oh, itu Firdaus yang sedang berbunga,” kataku;</p>
<p>Dan sungguh, cukup elok seandainya bunga-bunga</p>
<p>Mampu membuat kita percaya bahwa di bulan Maret</p>
<p>Kemewahan putih bulan Mei telah menjadi milik kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesaat kami berdiri di sana, dalam dunia yang asing,</p>
<p>Aku sendiri, seperti orang yang tertipu oleh khayalannya;</p>
<p>Lalu kukatakan yang sebenarnya—dan kami pun melanjutkan:</p>
<p>Itu pohon beech muda yang masih menggenggam daun-daun tahun lalu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/14/</p>
<p><strong>A Brook in the City </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>The farmhouse lingers, though averse to square<br />
With the new city street it has to wear<br />
A number in. But what about the brook<br />
That held the house as in an elbow-crook?<br />
I ask as one who knew the brook, its strength<br />
And impulse, having dipped a finger length<br />
And made it leap my knuckle, having tossed<br />
A flower to try its currents where they crossed.<br />
The meadow grass could be cemented down<br />
From growing under pavements of a town;<br />
The apple trees be sent to hearth-stone flame.<br />
Is water wood to serve a brook the same?<br />
How else dispose of an immortal force<br />
No longer needed? Staunch it at its source<br />
With cinder loads dumped down? The brook was thrown<br />
Deep in a sewer dungeon under stone<br />
In fetid darkness still to live and run &#8212;<br />
And all for nothing it had ever done<br />
Except forget to go in fear perhaps.<br />
No one would know except for ancient maps<br />
That such a brook ran water. But I wonder<br />
If from its being kept forever under,<br />
The thoughts may not have risen that so keep<br />
This new-built city from both work and sleep.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Brook in the City “</strong></p>
<p><strong>Sungai Kecil di Tengah Kota</strong></p>
<p><em>Puisi karya Robert Frost</em></p>
<p><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Rumah pertanian itu masih bertahan, meski tak selaras</p>
<p>Dengan jalan kota baru yang memaksanya memakai</p>
<p>Nomor alamat. Namun bagaimana dengan sungai kecil</p>
<p>Yang dahulu merangkul rumah itu seperti lengkung siku?</p>
<p>Aku bertanya sebagai orang yang mengenal sungai itu, kekuatannya</p>
<p>Dan dorongannya, setelah pernah mencelupkan ujung jari</p>
<p>Dan membuatnya melompat melewati buku jariku, pernah pula kulempar</p>
<p>Sekuntum bunga untuk menguji arusnya di tempat arus itu berpapasan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumput padang dapat dilapisi semen</p>
<p>Agar tak lagi tumbuh di bawah trotoar kota;</p>
<p>Pohon-pohon apel dapat dikirim menjadi api perapian.</p>
<p>Tetapi apakah air dapat diperlakukan seperti kayu</p>
<p>Untuk melayani sungai dengan cara yang sama?</p>
<p>Bagaimana lagi membuang tenaga abadi</p>
<p>Yang tak lagi dibutuhkan? Menyumbatnya dari mata air</p>
<p>Dengan timbunan abu yang dituangkan ke dalamnya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungai itu dilemparkan</p>
<p>Ke dalam selokan bawah tanah, penjara di bawah batu,</p>
<p>Dalam kegelapan yang busuk, namun tetap hidup dan mengalir—</p>
<p>Dan semua itu hanya karena tak pernah dilakukannya apa-apa,</p>
<p>Kecuali mungkin lupa untuk hidup dalam ketakutan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak seorang pun akan tahu, kecuali dari peta-peta kuno,</p>
<p>Bahwa dahulu sungai kecil itu mengalirkan air. Namun aku bertanya-tanya,</p>
<p>Mungkinkah karena ia selamanya dipaksa berada di bawah tanah,</p>
<p>Pikiran-pikiran seperti itu justru muncul—pikiran yang kini</p>
<p>Menjaga kota yang baru dibangun ini</p>
<p>Dari bekerja maupun tidur?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/15/</p>
<p><strong>A Patch of Old Snow </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>There&#8217;s a patch of old snow in a corner<br />
That I should have guessed<br />
Was a blow-away paper the rain<br />
Had brought to rest.</p>
<p>It is speckled with grime as if<br />
Small print overspread it,<br />
The news of a day I&#8217;ve forgotten &#8212;<br />
If I ever read it.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Brook in the City “</strong></p>
<p><strong>Segumpal Salju Tua</strong></p>
<p><em>Puisi karya Robert Frost</em></p>
<p><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ada segumpal salju tua di sebuah sudut,<br />
Yang semestinya kukira<br />
Hanyalah selembar kertas yang diterbangkan angin,<br />
Lalu dibawa hujan hingga berhenti di sana.</p>
<p>Kini bertabur kotoran, seolah-olah<br />
Tulisan kecil memenuhi seluruh permukaannya—<br />
Berita tentang suatu hari yang telah kulupakan,<br />
Jika memang pernah kubaca.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Poet &#8211; Robert Frost</strong></p>
<p>Robert Frost (1874–1963) was a famous American poet known for his poems about nature, rural life, and the human experience. He was born in San Francisco, California, but grew up mainly in New England, which strongly influenced his poetry. Frost attended Dartmouth College and Harvard University but did not graduate. He worked as a teacher, farmer, and in other jobs while continuing to write poetry. In 1912, he moved to England, where he published his first poetry collection, <em>A Boy’s Will</em>, in 1913. His second collection, <em>North of Boston</em>, followed in 1914 and established him as an important poet. Some of Frost’s most famous poems include “The Road Not Taken,” “Stopping by Woods on a Snowy Evening,” and “Mending Wall.” His poetry often uses simple language and traditional forms to explore deeper ideas about choices, nature, relationships, and life. Frost won the Pulitzer Prize for Poetry four times and received the Congressional Gold Medal in 1960. He also famously read his poetry at President John F. Kennedy’s inauguration in 1961. Robert Frost died in Boston in 1963 at the age of 88. He remains one of the most influential American poets of the 20th century.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Robert Frost (1874–1963) adalah penyair terkenal asal Amerika Serikat yang dikenal karena puisinya tentang alam, kehidupan pedesaan, pilihan hidup, dan kehidupan manusia. Ia lahir di San Francisco, California, tetapi sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di New England, yang kemudian banyak memengaruhi karya-karyanya. Frost pernah belajar di Dartmouth College dan Harvard University, tetapi tidak menyelesaikan pendidikannya. Ia bekerja sebagai guru, petani, dan dalam berbagai pekerjaan lain sambil terus menulis puisi. Pada tahun 1912, ia pindah ke Inggris dan menerbitkan buku puisi pertamanya, <em>A Boy’s Will</em>, pada tahun 1913. Karya berikutnya, <em>North of Boston</em> (1914), semakin membuat namanya terkenal. Beberapa puisinya yang paling terkenal adalah “The Road Not Taken,” “Stopping by Woods on a Snowy Evening,” dan “Mending Wall.” Frost memenangkan Pulitzer Prize for Poetry sebanyak empat kali dan menerima Congressional Gold Medal pada tahun 1960. Robert Frost meninggal di Boston pada tahun 1963 dalam usia 88 tahun. Ia dikenang sebagai salah satu penyair Amerika paling berpengaruh pada abad ke-20.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Translator – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina is the Indonesian poet, writer and lecturer. Her passion for literature and literacy began during her school years and has remained an integral part of her life ever since. Her interest in literature deepened significantly while pursuing a Master of Arts in Writing and Literature in Australia. Since 2006, she has served as a ecturer in the Department of English Language and Literature, Faculty of Languages and Arts, at Padang State University. Alongside her academic responsibilities, she writes poetry, short stories, essays, and scholarly articles, while also engaging in various translation and editorial projects. She also serves as an editor at Suara Anak Negeri (SAN) Media Group, a digital media platform. Beyond her creative and academic pursuits, Leni is actively involved in numerous literacy and writing communities. She also contributes to the development and management of learning and knowledge-sharing spaces for enthusiasts of education, literacy, and literature, including PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Literary Talk Community), and Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni is a member of several writers’ and literary organizations, including SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers, and ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. She has received several awards for her writing at local, national, and international levels, which she gratefully regards as part of her lifelong journey of learning, creating, and contributing to the literary world.  Email: <a href="mailto:lenimarlina@fbs.unp.ac.id">lenimarlina@fbs.unp.ac.id</a></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi di Universitas Negeri Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia. Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Mengabdi sebagai redaktur di platform digital Suara Anak Negeri (SAN) Media Group. Selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni merupakan anggota organisasi penulis SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers &amp; ACC Shanghai Huifeng International Literaty Association. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kritik Pedas Connie Bakrie ke Pemerintahan Prabowo soal Gempa NTT: Ke Paris Pakai APBN, Ke Flores Open Donasi</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kritik-pedas-connie-bakrie-ke-pemerintahan-prabowo-soal-gempa-ntt-ke-paris-pakai-apbn-ke-flores-open-donasi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 22:01:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Ke Flores Open Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ke Paris Pakai APBN]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Pedas Connie Bakrie ke Pemerintahan Prabowo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10049</guid>

					<description><![CDATA[Refleksi Pagi Oleh Paulus Laratmase &#8211; Ada sebuah ironi yang terasa begitu tajam di tengah gemuruh perayaan kemerdekaan. Di satu sisi, negara mampu menggelar perayaan besar dengan segala kemeriahan dan menghadirkan para pejabat tertinggi negeri. Di sisi lain, ketika saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur menghadapi bencana, muncul ajakan untuk membuka donasi bagi mereka. Pertanyaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Refleksi Pagi</b></p>
<p>Oleh Paulus Laratmase</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ada sebuah ironi yang terasa begitu tajam di tengah gemuruh perayaan kemerdekaan.</p>
<p>Di satu sisi, negara mampu menggelar perayaan besar dengan segala kemeriahan dan menghadirkan para pejabat tertinggi negeri. Di sisi lain, ketika saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur menghadapi bencana, muncul ajakan untuk membuka donasi bagi mereka.</p>
<p>Pertanyaan Connie Rahakundini Bakrie menjadi penting untuk direnungkan: mengapa untuk pergi ke Paris negara bisa menyediakan anggaran, sementara untuk membantu rakyat yang sedang tertimpa bencana justru harus mengandalkan sumbangan?</p>
<p>Kritik itu tentu tidak semata-mata soal Paris. Ini tentang rasa keadilan.</p>
<p>Rakyat mungkin tidak mempersoalkan seorang presiden melakukan perjalanan ke luar negeri jika memang untuk kepentingan negara. Rakyat juga tidak harus mempertentangkan diplomasi internasional dengan penanganan bencana. Keduanya dapat berjalan bersama.</p>
<p>Namun, ketika sebuah keluarga kehilangan rumah, ketika seorang anak kehilangan orang tuanya, ketika masyarakat kehilangan sumber penghidupan akibat gempa, negara semestinya hadir terlebih dahulu dengan seluruh kekuatannya.</p>
<p><strong><em>Bencana bukan panggung untuk menguji kemurahan hati rakyat. Bencana adalah ujian bagi keberpihakan negara.</em></strong></p>
<p>Donasi masyarakat adalah bentuk solidaritas yang sangat mulia. Tetapi jangan sampai solidaritas rakyat justru menjadi alasan negara mengurangi kewajibannya. Rakyat boleh membantu rakyat, tetapi negara tetap mempunyai tanggung jawab konstitusional untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya.</p>
<p>Begitu pula soal persiapan kunjungan seorang kepala negara ke daerah bencana. Persiapan memang penting. Keselamatan presiden, keamanan, dan efektivitas kunjungan tentu harus dipertimbangkan.</p>
<p>Tetapi bagi korban bencana, yang mereka tunggu bukanlah rombongan pejabat dengan seremoni panjang. Mereka menunggu air bersih, makanan, obat-obatan, tempat tinggal, sekolah yang kembali berdiri, dan kepastian bahwa negara tidak melupakan mereka.</p>
<p>Karena itu, kritik Connie seharusnya tidak hanya dilihat sebagai serangan politik kepada pemerintahan Prabowo. Kritik tersebut dapat dibaca sebagai sebuah cermin.</p>
<p>Cermin bagi pemerintah: apakah anggaran negara sudah benar-benar menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas?</p>
<p>Cermin bagi para pejabat: apakah kemewahan acara negara sebanding dengan kesulitan yang sedang dirasakan sebagian rakyat?</p>
<p>Dan cermin bagi kita semua: apakah kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun telah benar-benar dirasakan sampai ke pelosok Flores dan NTT?</p>
<p>Kemerdekaan bukan sekadar pesta di pusat ibu kota. Kemerdekaan adalah ketika seorang korban gempa di pelosok negeri merasa bahwa negara berdiri di sampingnya.</p>
<p>Jika untuk sebuah perjalanan ke luar negeri APBN dapat digunakan, maka jangan biarkan korban bencana merasa harus mengetuk pintu rakyat demi mendapatkan pertolongan.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, yang paling mahal bagi sebuah pemerintahan bukanlah biaya sebuah kunjungan atau pesta kenegaraan.</p>
<p>Yang paling mahal adalah hilangnya kepercayaan rakyat.</p>
<p>Dan kepercayaan itu dibangun bukan dengan kata-kata, melainkan dengan kehadiran negara ketika rakyat sedang berada dalam kesusahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Robert Frost’s Poems Translated (English – Indonesia) by Leni Marlina</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/robert-frosts-poems-translated-english-indonesia-by-leni-marlina</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 20:41:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10038</guid>

					<description><![CDATA[Robert Frost’s Poems Translated (English – Indonesia) by Leni Marlina /1/ The Road Not Taken Poem by Robert Frost &#8211; Two roads diverged in a yellow wood, And sorry I could not travel both And be one traveler, long I stood And looked down one as far as I could To where it bent in [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Robert Frost’s Poems Translated (English – Indonesia) by Leni Marlina</strong></p>
<p>/1/</p>
<p><strong>The Road Not Taken </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Two roads diverged in a yellow wood,<br />
And sorry I could not travel both<br />
And be one traveler, long I stood<br />
And looked down one as far as I could<br />
To where it bent in the undergrowth;</p>
<p>Then took the other, as just as fair,<br />
And having perhaps the better claim<br />
Because it was grassy and wanted wear,<br />
Though as for that the passing there<br />
Had worn them really about the same,</p>
<p>And both that morning equally lay<br />
In leaves no step had trodden black.<br />
Oh, I kept the first for another day!<br />
Yet knowing how way leads on to way<br />
I doubted if I should ever come back.</p>
<p>I shall be telling this with a sigh<br />
Somewhere ages and ages hence:<br />
Two roads diverged in a wood, and I,<br />
I took the one less traveled by,<br />
And that has made all the difference.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>The Road Not Taken”</strong></p>
<p><strong>Jalan yang Tak Kupilih</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Dua jalan bercabang di hutan yang menguning,<br />
Sayang, tak mungkin keduanya kutempuh;<br />
Lama aku berdiri, seorang pengembara yang termenung,<br />
Memandang satu jalan sejauh mata mampu menembus,<br />
Hingga ia berbelok di semak yang rimbun dan teduh.</p>
<p>Lalu kupilih jalan yang satu lagi,<br />
Yang sama indahnya, mungkin lebih layak dijalani;<br />
Karena rumputnya lebat, seakan jarang dilalui,<br />
Meski, jika kupikirkan lagi, jejak kaki<br />
Telah membuat keduanya nyaris sama sekali.</p>
<p>Pagi itu keduanya terbentang sunyi,<br />
Berselimut daun yang belum ternoda jejak kaki.<br />
Ah, kusimpan jalan pertama untuk hari nanti!<br />
Namun kusadari, satu jalan mengantar ke jalan lainnya,<br />
Dan aku ragu akan pernah kembali.</p>
<p>Kelak, bertahun-tahun, entah sampai kapan nanti,<br />
Akan kukisahkan ini dengan helaan napas sunyi:<br />
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku<br />
Aku memilih jalan yang lebih jarang dilalui,<br />
Dan pilihan itulah yang membuat segalanya berbeda.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>/2/ </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Stopping by Woods on a Snowy Evening </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Whose woods these are I think I know.<br />
His house is in the village, though;<br />
He will not see me stopping here<br />
To watch his woods fill up with snow.</p>
<p>My little horse must think it queer<br />
To stop without a farmhouse near<br />
Between the woods and frozen lake<br />
The darkest evening of the year.</p>
<p>He gives his harness bells a shake<br />
To ask if there is some mistake.<br />
The only other sound&#8217;s the sweep<br />
Of easy wind and downy flake.</p>
<p>The woods are lovely, dark and deep,<br />
But I have promises to keep,<br />
And miles to go before I sleep,<br />
And miles to go before I sleep.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Stopping by Woods on a Snowy Evening”</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Singgah di Hutan Bersalju</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kurasa kutahu siapa pemilik hutan ini,<br />
Rumahnya di desa, jauh dari sini;<br />
Ia takkan melihatku berhenti sendiri,<br />
Menatap salju memenuhi hutan sunyi.</p>
<p>Kudaku yang kecil tentu merasa heran,<br />
Mengapa berhenti jauh dari rumah dan pemukiman,<br />
Di antara hutan dan danau yang membeku,<br />
Pada malam tergelap sepanjang tahun berlalu.</p>
<p>Lonceng kekangnya digoyangkannya perlahan,<br />
Seolah bertanya, “Apakah salah perjalanan?”<br />
Hanya desir angin terdengar lembut,<br />
Bersama salju berbulu yang jatuh lembut.</p>
<p>Hutan ini begitu indah—gelap dan dalam,<br />
Namun masih ada janji yang harus kugenggam.<br />
Masih bermil-mil jalan sebelum aku terlelap,<br />
Masih bermil-mil jalan sebelum aku terlelap.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>/3/</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Fire And Ice </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Some say the world will end in fire,<br />
Some say in ice.<br />
From what I&#8217;ve tasted of desire<br />
I hold with those who favor fire.<br />
But if it had to perish twice,<br />
I think I know enough of hate<br />
To say that for destruction ice<br />
Is also great<br />
And would suffice.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Stopping by Woods on a Snowy Evening”</strong></p>
<p><strong>Api dan Es</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ada yang berkata dunia kan berakhir dalam api,<br />
Ada pula yang percaya: dalam es yang sunyi.<br />
Dari hasrat yang pernah kurasakan sendiri,<br />
Aku sependapat dengan mereka yang memilih api.</p>
<p>Namun jika dunia mesti binasa dua kali,<br />
Kurasa aku cukup mengenal dinginnya benci,<br />
Untuk berkata: bagi kehancuran, es pun tak kalah berarti,<br />
Sama dahsyatnya dalam membinasakan diri,<br />
Dan sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>Nothing Gold Can Stay </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Nature&#8217;s first green is gold,<br />
Her hardest hue to hold.<br />
Her early leaf&#8217;s a flower;<br />
But only so an hour.<br />
Then leaf subsides to leaf,<br />
So Eden sank to grief,<br />
So dawn goes down to day<br />
Nothing gold can stay.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Nothing Gold Can Stay ”</strong></p>
<p><strong>Hijau Pertama Alam</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Hijau pertama alam berkilau bagai emas,<br />
Warna yang paling lekas sirna dan lepas.<br />
Daun pertama baginya laksana bunga,<br />
Namun hanya sekejap—tak lebih dari sejam lamanya.</p>
<p>Lalu daun pun kembali menjadi daun,<br />
Seperti Eden tenggelam dalam duka yang turun.<br />
Seperti fajar perlahan larut menjadi siang,<br />
Tak ada emas yang selamanya gemilang.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>A Question </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>A voice said, Look me in the stars<br />
And tell me truly, men of earth,<br />
If all the soul-and-body scars<br />
Were not too much to pay for birth.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Question ”</strong></p>
<p><strong>Sebuah Pertanyaan</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Sebuah suara berkata, “Tatap aku di bintang,</p>
<p>Dan katakan sejujurnya, wahai manusia di bumi:</p>
<p>Jika segala luka jiwa dan raga yang membayang,</p>
<p>Tak terlalu mahalkah harga untuk lahir ke dunia ini?”</p>
<p><strong> </strong><strong>&#8212;</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>/6/</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Acquainted with the Night </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>I have been one acquainted with the night.<br />
I have walked out in rain &#8211; and back in rain.<br />
I have outwalked the furthest city light.</p>
<p>I have looked down the saddest city lane.<br />
I have passed by the watchman on his beat<br />
And dropped my eyes, unwilling to explain.</p>
<p>I have stood still and stopped the sound of feet<br />
When far away an interrupted cry<br />
Came over houses from another street,</p>
<p>But not to call me back or say good-bye;<br />
And further still at an unearthly height,<br />
One luminary clock against the sky</p>
<p>Proclaimed the time was neither wrong nor right.<br />
I have been one acquainted with the night.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Acquainted with the Night  Stay ”</strong></p>
<p><strong>Akrab dengan Malam</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Aku telah lama bersahabat dengan malam.<br />
Kutembus hujan, lalu kembali dalam hujan,<br />
Melampaui cahaya kota yang paling jauh di ujung jalan.</p>
<p>Kupandang lorong kota yang paling muram,<br />
Kulewati penjaga malam yang tengah berkeliling,<br />
Kutundukkan mata, enggan memberi penjelasan.</p>
<p>Aku berhenti, membungkam langkah kaki,<br />
Saat dari kejauhan terdengar jerit yang terputus,<br />
Menyusup melintasi rumah-rumah dari jalan lain,</p>
<p>Namun bukan untuk memanggilku pulang atau mengucap selamat tinggal;<br />
Dan lebih jauh lagi, di ketinggian yang tak wajar,<br />
Sebuah jam bercahaya menggantung di langit,</p>
<p>Mengabarkan bahwa waktunya tak salah, tak pula benar.<br />
Aku telah lama bersahabat dengan malam.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>A Late Walk</strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>When I go up through the mowing field,<br />
The headless aftermath,<br />
Smooth-laid like thatch with the heavy dew,<br />
Half closes the garden path.</p>
<p>And when I come to the garden ground,<br />
The whir of sober birds<br />
Up from the tangle of withered weeds<br />
Is sadder than any words</p>
<p>A tree beside the wall stands bare,<br />
But a leaf that lingered brown,<br />
Disturbed, I doubt not, by my thought,<br />
Comes softly rattling down.</p>
<p>I end not far from my going forth<br />
By picking the faded blue<br />
Of the last remaining aster flower<br />
To carry again to you.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Late Walk”</strong></p>
<p><strong>Jalan Pulang yang Terlambat</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Saat kutempuh padang yang baru saja dipangkas,<br />
Sisa-sisa batang tanpa kepala terbentang;<br />
Tersusun halus bagai jerami, basah oleh embun yang deras,<br />
Menutup separuh jalan menuju taman.</p>
<p>Dan ketika tiba di tanah kebun,<br />
Dari rumpun ilalang yang layu dan berserak,<br />
Kicau burung yang muram terbangun,<br />
Lebih sedih daripada kata-kata yang terucap.</p>
<p>Sebatang pohon di sisi tembok berdiri telanjang,<br />
Namun sehelai daun cokelat masih bertahan;<br />
Terganggu, entah oleh pikiranku yang panjang,<br />
Ia pun jatuh perlahan, berdesir di sepanjang halaman.</p>
<p>Tak jauh dari tempat mula aku melangkah,<br />
Perjalananku berakhir dalam hening yang biru;<br />
Kupetik bunga aster biru terakhir yang masih tersisa,<br />
Untuk kembali kubawa kepadamu.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/8/</p>
<p><strong>A Minor Bird </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>have wished a bird would fly away,<br />
And not sing by my house all day;</p>
<p>Have clapped my hands at him from the door<br />
When it seemed as if I could bear no more.</p>
<p>The fault must partly have been in me.<br />
The bird was not to blame for his key.</p>
<p>And of course there must be something wrong<br />
In wanting to silence any song.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Minor Bird “</strong></p>
<p><strong>Seekor Burung Kecil</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pernah kuharap seekor burung terbang pergi,<br />
Tak lagi bernyanyi di rumahku sepanjang hari.</p>
<p>Kupukulkan tangan dari ambang pintu,<br />
Saat rasanya tak sanggup lagi kutahan itu.</p>
<p>Mungkin sebagian salahnya ada padaku,<br />
Burung itu tak patut disalahkan atas lagunya.</p>
<p>Dan tentu ada yang keliru, entah bagaimana,<br />
Bila kita ingin membungkam nyanyian yang ada.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/8/</p>
<p><strong>A Prayer in Spring </strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>Oh, give us pleasure in the flowers to-day;<br />
And give us not to think so far away<br />
As the uncertain harvest; keep us here<br />
All simply in the springing of the year.</p>
<p>Oh, give us pleasure in the orchard white,<br />
Like nothing else by day, like ghosts by night;<br />
And make us happy in the happy bees,<br />
The swarm dilating round the perfect trees.</p>
<p>And make us happy in the darting bird<br />
That suddenly above the bees is heard,<br />
The meteor that thrusts in with needle bill,<br />
And off a blossom in mid air stands still.</p>
<p>For this is love and nothing else is love,<br />
The which it is reserved for God above<br />
To sanctify to what far ends He will,<br />
But which it only needs that we fulfil.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Prayer in Spring “</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Doa di Musim Semi</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Oh, beri kami sukacita pada bunga hari ini;<br />
Jangan biarkan pikiran kami melayang terlalu jauh nanti,<br />
Memikirkan panen yang belum pasti; biarkan kami tetap di sini,<br />
Menikmati sederhana mekarnya tahun ini.</p>
<p>Oh, beri kami sukacita pada kebun yang putih berseri,<br />
Tiada bandingnya di siang hari, bagai hantu di malam sunyi;<br />
Dan bahagiakan kami bersama lebah-lebah yang riang,<br />
Kerumunan yang mengembang di sekeliling pepohonan gemilang.</p>
<p>Dan bahagiakan kami oleh burung yang melesat terbang,<br />
Yang tiba-tiba terdengar jauh di atas lebah yang berdengung riang;<br />
Laksana meteor dengan paruh setajam jarum menembus udara,<br />
Lalu berhenti sekejap di atas sekuntum bunga.</p>
<p>Sebab inilah cinta, dan tiada yang lain selain cinta,<br />
Yang diserahkan kepada Tuhan di atas sana,<br />
Untuk disucikan-Nya menuju tujuan yang dikehendaki-Nya,<br />
Namun yang cukup bagi kita hanyalah menjalaninya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/9/</p>
<p><strong>The Rose Family </strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>The rose is a rose,<br />
And was always a rose.<br />
But the theory now goes<br />
That the apple&#8217;s a rose,<br />
And the pear is, and so&#8217;s<br />
The plum, I suppose.<br />
The dear only knows<br />
What will next prove a rose.<br />
You, of course, are a rose &#8211;<br />
But were always a rose.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>The Rose Family “</strong></p>
<p><strong>Keluarga Mawar</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Mawar tetaplah mawar,</p>
<p>Sejak dahulu memang mawar.</p>
<p>Namun teori kini berkata benar:</p>
<p>Apel pun ternyata mawar,</p>
<p>Pir pun, begitu pula plum yang mekar.</p>
<p>Entah Tuhan saja yang tahu benar</p>
<p>Apa lagi kelak disebut mawar.</p>
<p>Dan kau, tentu saja, adalah mawar—</p>
<p>Namun sejak dulu, tetaplah mawar.</p>
<p>&#8212;<br />
/10/</p>
<p><strong>A Soldier </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>He is that fallen lance that lies as hurled,<br />
That lies unlifted now, come dew, come rust,<br />
But still lies pointed as it plowed the dust.<br />
If we who sight along it round the world,<br />
See nothing worthy to have been its mark,<br />
It is because like men we look too near,<br />
Forgetting that as fitted to the sphere,<br />
Our missiles always make too short an arc.<br />
They fall, they rip the grass, they intersect<br />
The curve of earth, and striking, break their own;<br />
They make us cringe for metal-point on stone.<br />
But this we know, the obstacle that checked<br />
And tripped the body, shot the spirit on<br />
Further than target ever showed or shone.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Soldier “</strong></p>
<p><strong>Seorang Prajurit</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Dialah tombak yang terjatuh, sebagaimana ia terlempar,<br />
Kini terbaring tak terangkat, datang embun, datang karat,<br />
Namun tetap terbaring dengan ujung mengarah, sebagaimana ia membajak debu.<br />
Jika kita, yang mengikuti arah ujungnya mengitari dunia,<br />
Tak melihat sesuatu yang layak menjadi sasarannya,<br />
Itu karena, seperti manusia, kita memandang terlalu dekat,<br />
Lupa bahwa, sebagaimana disesuaikan dengan bulatnya bumi,<br />
Senjata-senjata kita selalu menempuh lengkung yang terlalu pendek.</p>
<p>Ia jatuh, mengoyak rumput, memotong lengkung bumi,<br />
Dan ketika menghantam, tubuhnya sendiri pun patah;<br />
Membuat kita meringis saat ujung logam beradu dengan batu.<br />
Namun inilah yang kita tahu: penghalang yang menghentikan,<br />
Yang menjegal tubuhnya, justru melontarkan jiwanya<br />
Lebih jauh daripada sasaran mana pun yang pernah tampak atau bersinar.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/11/</p>
<p><strong>A Time to Talk </strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>When a friend calls to me from the road<br />
And slows his horse to a meaning walk,<br />
I don&#8217;t stand still and look around<br />
On all the hills I haven&#8217;t hoed,<br />
And shout from where I am, What is it?<br />
No, not as there is a time to talk.<br />
I thrust my hoe in the mellow ground,<br />
Blade-end up and five feet tall,<br />
And plod: I go up to the stone wall<br />
For a friendly visit.&#8211;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Time to Talk“</strong></p>
<p><strong>Saatnya Berbicara</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ketika seorang sahabat memanggilku dari jalan,<br />
Lalu memperlambat kudanya menjadi langkah penuh makna,<br />
Aku tak berhenti, menoleh ke segala penjuru,<br />
Memandang bukit-bukit yang belum sempat kubajak,<br />
Lalu berteriak dari tempatku, “Ada apa?”<br />
Tidak—sebab ada waktunya untuk berbicara.</p>
<p>Kuhentakkan cangkulku ke tanah yang gembur,<br />
Ujung bilahnya menghadap ke atas, menjulang lima kaki,<br />
Lalu kutapaki jalan dengan langkah berat menuju pagar batu,<br />
Untuk sebuah kunjungan bersahabat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/12/</p>
<p><strong>Asking For Roses</strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>A house that lacks, seemingly, mistress and master,<br />
With doors that none but the wind ever closes,<br />
Its floor all littered with glass and with plaster;<br />
It stands in a garden of old-fashioned roses.</p>
<p>I pass by that way in the gloaming with Mary;<br />
&#8216;I wonder,&#8217; I say, &#8216;who the owner of those is.&#8217;<br />
&#8216;Oh, no one you know,&#8217; she answers me airy,<br />
&#8216;But one we must ask if we want any roses.&#8217;</p>
<p>So we must join hands in the dew coming coldly<br />
There in the hush of the wood that reposes,<br />
And turn and go up to the open door boldly,<br />
And knock to the echoes as beggars for roses.</p>
<p>&#8216;Pray, are you within there, Mistress Who-were-you? &#8216;<br />
&#8216;Tis Mary that speaks and our errand discloses.<br />
&#8216;Pray, are you within there? Bestir you, bestir you!<br />
&#8216;Tis summer again; there&#8217;s two come for roses.</p>
<p>&#8216;A word with you, that of the singer recalling-<br />
Old Herrick: a saying that every maid knows is<br />
A flower unplucked is but left to the falling,<br />
And nothing is gained by not gathering roses.&#8217;</p>
<p>We do not loosen our hands&#8217; intertwining<br />
(Not caring so very much what she supposes) ,<br />
There when she comes on us mistily shining<br />
And grants us by silence the boon of her roses.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>Asking for Roses“</strong></p>
<p><strong>Meminta Bunga Mawar</strong></p>
<p><strong><em>Puisi karya Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Sebuah rumah yang tampaknya tanpa tuan dan nyonya,</p>
<p>Pintunya hanya angin yang menutup bila ia berembus;</p>
<p>Lantainya berserakan pecahan kaca dan reruntuhan,</p>
<p>Berdiri di taman dengan mawar-mawar gaya zaman dahulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku melewati jalan itu saat senja bersama Mary;</p>
<p>“Entah,” kataku, “siapakah pemilik mawar-mawar itu?”</p>
<p>“Oh, bukan siapa pun yang kau kenal,” jawabnya ringan,</p>
<p>“Namun seseorang yang harus kita mintai, bila ingin mendapat mawar.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka kami bergandengan tangan di antara embun yang dingin,</p>
<p>Di sana, dalam hening hutan yang terlelap;</p>
<p>Kami berbalik, lalu dengan berani menuju pintu yang terbuka,</p>
<p>Dan mengetuk, seperti pengemis yang memohon bunga mawar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Permisi, apakah kau ada di dalam, Nyonya, siapapun dirimu?”</p>
<p>Mary berseru, menjelaskan maksud kedatangan kami.</p>
<p>“Permisi, apakah kau ada di dalam? Bangunlah, bangunlah!</p>
<p>Musim panas telah kembali; kami berdua datang meminta mawar.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Hanya sepatah kata, mengingatkan pada seorang penyair</p>
<p>Herrick tua: pepatah yang dikenal setiap gadis:</p>
<p>Bunga yang tak dipetik hanyalah dibiarkan jatuh,</p>
<p>Dan tak ada yang diperoleh dengan membiarkan mawar tak dipetik.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami tak melepaskan jemari yang saling bertaut,</p>
<p>Tak begitu peduli apa yang mungkin dipikirkannya,</p>
<p>Ketika ia datang kepada kami, berkilau samar dalam kabut,</p>
<p>Dan dalam diamnya, mengaruniakan kepada kami mawar-mawarnya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/13/</p>
<p><strong>A Boundless Moment </strong></p>
<p><strong>Poem by Robert Frost</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>He halted in the wind, and &#8211; what was that<br />
Far in the maples, pale, but not a ghost?<br />
He stood there bringing March against his thought,<br />
And yet too ready to believe the most.</p>
<p>&#8216;Oh, that&#8217;s the Paradise-in-bloom,&#8217; I said;<br />
And truly it was fair enough for flowers<br />
had we but in us to assume in march<br />
Such white luxuriance of May for ours.</p>
<p>We stood a moment so in a strange world,<br />
Myself as one his own pretense deceives;<br />
And then I said the truth (and we moved on) .<br />
A young beech clinging to its last year&#8217;s leaves.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Boundless Moment “</strong></p>
<p><strong>Sesaat Tanpa Batas</strong></p>
<p><em>Puisi karya Robert Frost</em></p>
<p><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ia berhenti diterpa angin—dan apakah itu</p>
<p>Jauh di antara pohon maple, pucat, namun bukan hantu?</p>
<p>Ia berdiri, membawa bulan Maret melawan pikirannya,</p>
<p>Namun terlalu mudah untuk mempercayai apa saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Oh, itu Firdaus yang sedang berbunga,” kataku;</p>
<p>Dan sungguh, cukup elok seandainya bunga-bunga</p>
<p>Mampu membuat kita percaya bahwa di bulan Maret</p>
<p>Kemewahan putih bulan Mei telah menjadi milik kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesaat kami berdiri di sana, dalam dunia yang asing,</p>
<p>Aku sendiri, seperti orang yang tertipu oleh khayalannya;</p>
<p>Lalu kukatakan yang sebenarnya—dan kami pun melanjutkan:</p>
<p>Itu pohon beech muda yang masih menggenggam daun-daun tahun lalu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/14/</p>
<p><strong>A Brook in the City </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>The farmhouse lingers, though averse to square<br />
With the new city street it has to wear<br />
A number in. But what about the brook<br />
That held the house as in an elbow-crook?<br />
I ask as one who knew the brook, its strength<br />
And impulse, having dipped a finger length<br />
And made it leap my knuckle, having tossed<br />
A flower to try its currents where they crossed.<br />
The meadow grass could be cemented down<br />
From growing under pavements of a town;<br />
The apple trees be sent to hearth-stone flame.<br />
Is water wood to serve a brook the same?<br />
How else dispose of an immortal force<br />
No longer needed? Staunch it at its source<br />
With cinder loads dumped down? The brook was thrown<br />
Deep in a sewer dungeon under stone<br />
In fetid darkness still to live and run &#8212;<br />
And all for nothing it had ever done<br />
Except forget to go in fear perhaps.<br />
No one would know except for ancient maps<br />
That such a brook ran water. But I wonder<br />
If from its being kept forever under,<br />
The thoughts may not have risen that so keep<br />
This new-built city from both work and sleep.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Brook in the City “</strong></p>
<p><strong>Sungai Kecil di Tengah Kota</strong></p>
<p><em>Puisi karya Robert Frost</em></p>
<p><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Rumah pertanian itu masih bertahan, meski tak selaras</p>
<p>Dengan jalan kota baru yang memaksanya memakai</p>
<p>Nomor alamat. Namun bagaimana dengan sungai kecil</p>
<p>Yang dahulu merangkul rumah itu seperti lengkung siku?</p>
<p>Aku bertanya sebagai orang yang mengenal sungai itu, kekuatannya</p>
<p>Dan dorongannya, setelah pernah mencelupkan ujung jari</p>
<p>Dan membuatnya melompat melewati buku jariku, pernah pula kulempar</p>
<p>Sekuntum bunga untuk menguji arusnya di tempat arus itu berpapasan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumput padang dapat dilapisi semen</p>
<p>Agar tak lagi tumbuh di bawah trotoar kota;</p>
<p>Pohon-pohon apel dapat dikirim menjadi api perapian.</p>
<p>Tetapi apakah air dapat diperlakukan seperti kayu</p>
<p>Untuk melayani sungai dengan cara yang sama?</p>
<p>Bagaimana lagi membuang tenaga abadi</p>
<p>Yang tak lagi dibutuhkan? Menyumbatnya dari mata air</p>
<p>Dengan timbunan abu yang dituangkan ke dalamnya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungai itu dilemparkan</p>
<p>Ke dalam selokan bawah tanah, penjara di bawah batu,</p>
<p>Dalam kegelapan yang busuk, namun tetap hidup dan mengalir—</p>
<p>Dan semua itu hanya karena tak pernah dilakukannya apa-apa,</p>
<p>Kecuali mungkin lupa untuk hidup dalam ketakutan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak seorang pun akan tahu, kecuali dari peta-peta kuno,</p>
<p>Bahwa dahulu sungai kecil itu mengalirkan air. Namun aku bertanya-tanya,</p>
<p>Mungkinkah karena ia selamanya dipaksa berada di bawah tanah,</p>
<p>Pikiran-pikiran seperti itu justru muncul—pikiran yang kini</p>
<p>Menjaga kota yang baru dibangun ini</p>
<p>Dari bekerja maupun tidur?</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/15/</p>
<p><strong>A Patch of Old Snow </strong></p>
<p><strong><em>Poem by Robert Frost</em></strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p>There&#8217;s a patch of old snow in a corner<br />
That I should have guessed<br />
Was a blow-away paper the rain<br />
Had brought to rest.</p>
<p>It is speckled with grime as if<br />
Small print overspread it,<br />
The news of a day I&#8217;ve forgotten &#8212;<br />
If I ever read it.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indonesian version of “<strong>A Brook in the City “</strong></p>
<p><strong>Segumpal Salju Tua</strong></p>
<p><em>Puisi karya Robert Frost</em></p>
<p><em>Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina</em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ada segumpal salju tua di sebuah sudut,<br />
Yang semestinya kukira<br />
Hanyalah selembar kertas yang diterbangkan angin,<br />
Lalu dibawa hujan hingga berhenti di sana.</p>
<p>Kini bertabur kotoran, seolah-olah<br />
Tulisan kecil memenuhi seluruh permukaannya—<br />
Berita tentang suatu hari yang telah kulupakan,<br />
Jika memang pernah kubaca.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Poet &#8211; Robert Frost</strong></p>
<p>Robert Frost (1874–1963) was a famous American poet known for his poems about nature, rural life, and the human experience. He was born in San Francisco, California, but grew up mainly in New England, which strongly influenced his poetry. Frost attended Dartmouth College and Harvard University but did not graduate. He worked as a teacher, farmer, and in other jobs while continuing to write poetry. In 1912, he moved to England, where he published his first poetry collection, <em>A Boy’s Will</em>, in 1913. His second collection, <em>North of Boston</em>, followed in 1914 and established him as an important poet. Some of Frost’s most famous poems include “The Road Not Taken,” “Stopping by Woods on a Snowy Evening,” and “Mending Wall.” His poetry often uses simple language and traditional forms to explore deeper ideas about choices, nature, relationships, and life. Frost won the Pulitzer Prize for Poetry four times and received the Congressional Gold Medal in 1960. He also famously read his poetry at President John F. Kennedy’s inauguration in 1961. Robert Frost died in Boston in 1963 at the age of 88. He remains one of the most influential American poets of the 20th century.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Robert Frost (1874–1963) adalah penyair terkenal asal Amerika Serikat yang dikenal karena puisinya tentang alam, kehidupan pedesaan, pilihan hidup, dan kehidupan manusia. Ia lahir di San Francisco, California, tetapi sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di New England, yang kemudian banyak memengaruhi karya-karyanya. Frost pernah belajar di Dartmouth College dan Harvard University, tetapi tidak menyelesaikan pendidikannya. Ia bekerja sebagai guru, petani, dan dalam berbagai pekerjaan lain sambil terus menulis puisi. Pada tahun 1912, ia pindah ke Inggris dan menerbitkan buku puisi pertamanya, <em>A Boy’s Will</em>, pada tahun 1913. Karya berikutnya, <em>North of Boston</em> (1914), semakin membuat namanya terkenal. Beberapa puisinya yang paling terkenal adalah “The Road Not Taken,” “Stopping by Woods on a Snowy Evening,” dan “Mending Wall.” Frost memenangkan Pulitzer Prize for Poetry sebanyak empat kali dan menerima Congressional Gold Medal pada tahun 1960. Robert Frost meninggal di Boston pada tahun 1963 dalam usia 88 tahun. Ia dikenang sebagai salah satu penyair Amerika paling berpengaruh pada abad ke-20.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Translator – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina is the Indonesian poet, writer and lecturer. Her passion for literature and literacy began during her school years and has remained an integral part of her life ever since. Her interest in literature deepened significantly while pursuing a Master of Arts in Writing and Literature in Australia. Since 2006, she has served as a ecturer in the Department of English Language and Literature, Faculty of Languages and Arts, at Padang State University. Alongside her academic responsibilities, she writes poetry, short stories, essays, and scholarly articles, while also engaging in various translation and editorial projects. She also serves as an editor at Suara Anak Negeri (SAN) Media Group, a digital media platform. Beyond her creative and academic pursuits, Leni is actively involved in numerous literacy and writing communities. She also contributes to the development and management of learning and knowledge-sharing spaces for enthusiasts of education, literacy, and literature, including PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Literary Talk Community), and Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni is a member of several writers’ and literary organizations, including SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers, and ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. She has received several awards for her writing at local, national, and international levels, which she gratefully regards as part of her lifelong journey of learning, creating, and contributing to the literary world.  Email: <a href="mailto:lenimarlina@fbs.unp.ac.id">lenimarlina@fbs.unp.ac.id</a></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi di Universitas Negeri Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia. Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Mengabdi sebagai redaktur di platform digital Suara Anak Negeri (SAN) Media Group. Selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni merupakan anggota organisasi penulis SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers &amp; ACC Shanghai Huifeng International Literaty Association. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Leni Marlina&#8217;s Poem Bilingual Poems Collection: &#8220;THE MASS THAT KNOWS NO SCALE&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/leni-marlinas-poem-bilingual-poems-collection-the-mass-that-knows-no-scale</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 10:35:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Leni Marlina's Poem Bilingual Poems Collection: "THE MASS THAT KNOWS NO SCALE"]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10034</guid>

					<description><![CDATA[/1/ THE MASS THAT KNOWS NO SCALE Poem by Leni Marlina &#8211; Chlorine dries upon the departure floor, suitcase wheels chew through the light on polished tiles; a grain of earth hides in the seam of a garment, small to the eye, yet settling somewhere beneath the soul. Two shirts. Three books. One document. The [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>THE MASS THAT KNOWS NO SCALE</strong></p>
<p>Poem by Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Chlorine dries upon the departure floor,<br />
suitcase wheels chew through the light on polished tiles;<br />
a grain of earth hides in the seam of a garment,<br />
small to the eye, yet settling somewhere beneath the soul.</p>
<p>Two shirts. Three books. One document.<br />
The passport straightens the body into a sequence of names;<br />
there is no column for the dust that leaves in silence,<br />
no number for what keeps growing inside the chest.</p>
<p>The aircraft lifts the rice fields into green scales,<br />
rivers fold their lightning into the pleats of cloud;<br />
mountains are severed from their names by altitude,<br />
yet the bones retain a map no hand has finished drawing.</p>
<p>In a foreign city, neon trembles against the glass,<br />
a coffee machine hisses in a tongue you have never known;<br />
then rain releases the scent of earth from another time,<br />
and an invisible door suddenly opens inside the mind.</p>
<p>You begin to understand: an address is merely administration,<br />
coordinates only the grammar by which the earth is marked;<br />
there are places that never appear on navigation screens,<br />
yet pulse quietly beneath human skin and bone.</p>
<p>If one day your body loses the direction of home,<br />
do not search for it on signs, maps, or gates;<br />
place your palm upon the earth after a long rain,<br />
and let something older than your name recognize your footsteps.</p>
<p>For you do not carry earth inside a suitcase.<br />
You carry a mass that knows no scale;<br />
and however far the sky transports your body from its origin,<br />
the earth remains,<br />
not where you once belonged,<br />
but where your body<br />
can never become<br />
entirely foreign.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2013</p>
<p>(Indonesian Original Title: &#8220;TABUNG REAKSI DI BAWAH KULIT&#8221;)<br />
&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>THE REACTION VESSEL BENEATH THE SKIN</strong></p>
<p>Poem by Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Exile places you inside a vessel without a name,<br />
a foreign language condenses upon unpracticed lips;<br />
bitter coffee leaves its sediment at the root of the old tongue,<br />
while the days keep stirring the body clean.</p>
<p>Heat arrives carrying a tongue of flame,<br />
cold follows with crystals forming in the bones;<br />
some convictions evaporate through the pores,<br />
others harden into quiet veins.</p>
<p>You are no longer the solution you once were.<br />
Old bonds detach without a sound;<br />
something foreign seeps into the heart,<br />
rearranging its structure without asking for a name.</p>
<p>Beyond the laboratory glass, marker ink clings to a teacher&#8217;s fingers,<br />
diesel blackens the palms of a laborer;<br />
a hoe strikes stone, the sound absent from every textbook,<br />
while mud opens pages never taught at a desk.</p>
<p>There is knowledge born from the bent back,<br />
from dried salt left behind upon the skin;<br />
there are lessons that require no classroom,<br />
because the earth itself has long been a difficult teacher.</p>
<p>What use is knowledge if it only glows upon a screen,<br />
if its light remains no more than pixels inside the eye?<br />
You want to bring it down from the head into rough earth,<br />
to make it hand, to make it labor, to make it real.</p>
<p>Into classrooms whose windows swallow the light,<br />
into rivers slowly surrendering their clarity;<br />
into gardens waiting for hands to read the weather,<br />
into a child&#8217;s future that has not yet been given a name.</p>
<p>Now your body is no longer a storage chamber,<br />
but a vessel forever reacting in silence;<br />
knowledge that remains inside the head is merely sediment,<br />
knowledge that travels into the hands begins to alter the world.</p>
<p>You emerge from the vessel without becoming whole,<br />
carrying heat, dust, salt, and wounds no eye can see;<br />
exile does not return you as the person you were,<br />
it rearranges the body<br />
so that knowledge<br />
may finally have<br />
somewhere to act.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2013</p>
<p>(Indonesian Original Title: &#8220;TABUNG REAKSI DI BAWAH KULIT&#8221;)</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>YOU, IN TWO PLACES WITHIN ONE BODY</strong></p>
<p>Poem by Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Beneath the laboratory lamps, a drop of light trembles on glass,<br />
a pipette holds its clarity, numbers settle upon the screen;<br />
my hands calculate error, my ears measure an unreadable distance,<br />
because there are coordinates never recorded, yet pulsing beneath consciousness.</p>
<p>The steam of rice rises from memory, clouding the glass,<br />
chili leaves a red ember upon the tip of my tongue;<br />
rain taps upon a corrugated roof from a season far away,<br />
and the past slowly seeps through the pores of blood.</p>
<p>Chemicals fill the room with the metallic scent of elsewhere,<br />
night hangs beyond the window like a spectrum without color;<br />
the tongue searches for broth unavailable in this cold city,<br />
while a single phone-light opens a kitchen somewhere far away.</p>
<p>“Have you eaten?”<br />
Two words fall, light in sound, heavy in their echo;<br />
suddenly walls lose their measurements, and distance loses its name.<br />
The little room acquires a door invisible to the eye,<br />
and a distant home begins to pulse inside the same body.</p>
<p>Your hands remain upon the glass, yet your palms read memory,<br />
like an ancient sensor recognizing a field before the instrument can;<br />
I am here, while something there is still keeping watch,<br />
two places layered upon each other<br />
without either one<br />
having to leave.</p>
<p>Home is not an address finished upon a map,<br />
not coordinates obedient to satellites and lines of latitude;<br />
it is an invisible force bending the trajectory of things,<br />
a field that draws the body without ever touching it.</p>
<p>If longing were a particle, let it find its secret channel,<br />
pass through the membrane of night, beyond glass, cities, and light;<br />
from the laboratory table to the distant kitchen,<br />
where your name is still being called<br />
before you have time<br />
to translate anything at all.</p>
<p>You are here.<br />
You are there.<br />
Two possibilities pulse within the same body;<br />
perhaps human beings are never truly present<br />
in only one place,</p>
<p>because some part of us<br />
is always left behind<br />
where we are<br />
being missed.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2013</p>
<p>(Indonesian Original Title: &#8221; ENGKAU DI DUA TEMPAT DALAM SATU TUBUH&#8221;)<br />
&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>YOU WHO HAVE CHANGED PHASE</strong></p>
<p>Poem by Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>The aircraft descends; clouds unfold the layers of air,<br />
the sea fractures blue into splinters of light;<br />
wheels touch earth, pressure changes in an instant,<br />
and the lungs recognize the wetness before the mind can name it.</p>
<p>Humidity enters through the chambers of the chest,<br />
the scent of earth rises from cracks in the aging asphalt;<br />
the body recognizes something before the tongue finds a word,<br />
as though the earth keeps a cipher beneath the human palm.</p>
<p>You return not as the same substance.<br />
Heat, pressure, distance have altered what lies within;<br />
what departed carried one form, what returns carries an echo,<br />
like water recognizing its river after becoming cloud for too long.</p>
<p>Inside the mind, knowledge waits to become a voice,<br />
but silent knowledge merely gleams like a shadow;<br />
it must descend into the palm, touch mud and air,<br />
become a movement capable of changing something in life.</p>
<p>From turbines to horns, from sterile corridors to the market,<br />
from packaged food to onions darkening in a pan;<br />
from laboratory glass to soil holding the roots,<br />
knowledge sheds its coat<br />
and acquires the pulse of living things.</p>
<p>Underground, roots work without titles,<br />
fungi decompose leaves into an unfinished language;<br />
worms loosen the darkness, opening passageways for roots,<br />
while the world keeps growing without asking who began it.</p>
<p>Carry your knowledge into classrooms where the windows dim,<br />
into rivers whose clarity is eroded by waste and season;<br />
into gardens waiting for hands to read the soil before planting life,<br />
into the eyes of a child whose future has not yet acquired<br />
a vocabulary or a system.</p>
<p>You have changed phase. Do not let knowledge freeze.<br />
Let it move like charge seeking a field;<br />
from head to hand, from hand toward something new,<br />
from one life into another, asking no recognition in return.</p>
<p>For change does not always leave behind a name,<br />
sometimes it works quietly beneath the surface;<br />
like an electron moving without asking for light,<br />
what matters is not who moves,</p>
<p>but what becomes different<br />
afterward<br />
in the life<br />
that remains.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2013</p>
<p>(Indonesian Original Title: &#8220;ENGKAU YANG TELAH BERUBAH FASE&#8221;)</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>About the Poet — Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina is a writer, poet, and academic at Universitas Negeri Padang, Indonesia. Her love of literature and literacy began during her school years and has continued to shape her journey as a writer and educator. Her engagement with literature deepened during her Master of Arts (Writing and Literature) studies in Australia.</p>
<p>Since 2006, she has served as a lecturer in the Department of English Language and Literature, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang. Alongside her academic work, she writes poetry, short stories, essays, scholarly articles, and literary works, while also engaging in translation and editorial projects. She serves as an editor for the digital platform Suara Anak Negeri (SAN) Media Group.</p>
<p>For Leni, writing is more than a creative practice. It is a way of learning to understand life, tending to human dignity, and sharing hope. She therefore remains actively involved in literary and literacy communities and helps develop spaces for learning and exchange among people passionate about education, literature, and literacy, including PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Literary Talk Community), and Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</p>
<p>She is also a member of SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers, and ACC Shanghai Huifeng International Literary Association.</p>
<p>Through poetry, writing, and literacy initiatives, Leni seeks to contribute, however modestly, to the growth of reading, writing, and literary appreciation. She has received a number of local, national, and international recognitions in writing—honors she regards not as destinations, but as part of a longer journey of learning, creating, and giving.</p>
<p>Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id<br />
Wattpad: @lenimarlina_write<br />
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
<p>The Indonesian version of the poems above is available in the official link below:</p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="PTTLqWYu41"><p><a href="https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-massa-yang-tidak-masuk-timbangan">Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;MASSA YANG TIDAK MASUK TIMBANGAN&#8221;</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="“Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: “MASSA YANG TIDAK MASUK TIMBANGAN”” — Suara Anak Negeri" src="https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-massa-yang-tidak-masuk-timbangan/embed#?secret=VnllKtBuxm#?secret=PTTLqWYu41" data-secret="PTTLqWYu41" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>YA RASULULLAH MUHAMMAD</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/ya-rasulullah-muhammad</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 22:52:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[YA RASULULLAH MUHAMMAD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=10007</guid>

					<description><![CDATA[Secangkir Kopi Cak Mus &#8211; 24.08.26 &#8211; Ya Nabi salam &#8216;alaika Ya Rosul salam &#8216;alaika Ya Habib salam &#8216;alaika Sholawatulloh &#8216;alaika menyebut namamu deras air mata harap diterima barisan perindu meski sering salah arah menjajah jiwa laku durjana sabdamu rindang berteduh bersiap bekal perjalanan jauh hanya syafaatmu kutempuh meski tunduk malu laku selalu keliru Anta [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secangkir Kopi Cak Mus &#8211; 24.08.26</p>
<p>&#8211;</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-10010" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/Cak-Mus.webp" alt="" width="512" height="512" /></p>
<p>Ya Nabi salam &#8216;alaika<br />
Ya Rosul salam &#8216;alaika<br />
Ya Habib salam &#8216;alaika<br />
Sholawatulloh &#8216;alaika</p>
<p>menyebut namamu deras air mata<br />
harap diterima barisan perindu<br />
meski sering salah arah<br />
menjajah jiwa laku durjana</p>
<p>sabdamu rindang berteduh<br />
bersiap bekal perjalanan jauh<br />
hanya syafaatmu kutempuh<br />
meski tunduk malu laku selalu keliru</p>
<p>Anta syamsun anta badrun<br />
Anta nurun fauqo nuri<br />
Anta iktsirun wa gholi<br />
Anta mishbahush shuduri</p>
<p>wahai pemilik cahaya adab semesta<br />
cinta ikhlasmu melebihi udara<br />
mentari pun enggan menerik wajahmu<br />
hingga senyummu menghapus resahku</p>
<p>wahai pelindung umat amanat<br />
ummati, ummati, ummati, sabdamu<br />
akhir hayat untuk sendiri tak berhasrat<br />
menanggung sakit pedih dalam sunyi</p>
<p>Ya Habibi ya Muhammad<br />
Ya &#8216;arusyal khofiqoini<br />
Ya muayyad ya mumajjad<br />
Ya Imamal qiblataini</p>
<p>kami sedang merajut asa<br />
negeri kami sedang poranda<br />
kami sering lupa teladanmu<br />
kami sering lalai bijakmu</p>
<p>Ya Allah, Muhammadkan jiwa kami<br />
Ya Allah, Muhammadkan nurani kami</p>
<p>Lamongan, 5-9-2025</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MERAH DARAHKU, PUTIH TULANGKU, BERSATU DALAM SEMANGATMU </title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/merah-darahku-putih-tulangku-bersatu-dalam-semangatmu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 22:07:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Olah Raga]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[BERSATU DALAM SEMANGATMU]]></category>
		<category><![CDATA[MERAH DARAHKU]]></category>
		<category><![CDATA[PUTIH TULANGKU]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9998</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Akaha Taufan Aminudin &#8211; &#8220;GATEBALLER KOTA BATU MANGAYUBAGIO HUT KEMERDEKAAN RI KE-81&#8221; BATU &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Dari Lapangan PERGATSI Panorama, Semangat Merah Putih Terus Menyala. Pagi itu, pukul 07.00 WIB, suasana Lapangan PERGATSI Panorama Kota Batu terasa berbeda. Nuansa Merah Putih memenuhi arena. Para Gateballer datang bukan hanya untuk bertanding, tetapi membawa semangat untuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Laporan: Akaha Taufan Aminudin</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>&#8220;GATEBALLER KOTA BATU MANGAYUBAGIO HUT KEMERDEKAAN RI KE-81&#8221;</em></p>
<p>BATU &#8211; SUARA ANAK NEGERI| Dari Lapangan PERGATSI Panorama, Semangat Merah Putih Terus Menyala. Pagi itu, pukul 07.00 WIB, suasana Lapangan PERGATSI Panorama Kota Batu terasa berbeda. Nuansa Merah Putih memenuhi arena. Para Gateballer datang bukan hanya untuk bertanding, tetapi membawa semangat untuk mangayubagio—ikut bersyukur dan memeriahkan—HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.</p>
<p>Sebelum pertandingan dimulai, Cak Sundjojo memimpin doa dan mengajak seluruh peserta mengheningkan cipta untuk mengenang para syuhada dan pahlawan kemerdekaan.</p>
<p>Sejenak arena menjadi hening.</p>
<p>Di tengah kesunyian itu, kita kembali menyadari bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah. Ada pengorbanan, air mata, darah, dan perjuangan para pendahulu bangsa yang harus selalu kita kenang.</p>
<p>Setelah doa dan mengheningkan cipta, pertandingan pun dimulai.</p>
<p>Pariono, yang akrab disapa Cakpar, tampil sebagai wasit kehormatan dan memimpin pertandingan pembukaan. Dengan penuh ketegasan dan sportivitas, pertandingan berlangsung meriah. Karena memiliki kesibukan sebagai pelatih sepak bola, Cakpar kemudian berpamitan meninggalkan arena.</p>
<p>Pertandingan berlangsung hingga sekitar pukul 15.00 WIB.</p>
<p>Yang menarik, kompetisi ini mempertemukan berbagai generasi dan latar belakang. Ada atlet muda, para Gateballer senior, hingga kelompok para kepala sekolah SLTA.</p>
<p>Hasil pertandingan:</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f3c6.png" alt="🏆" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Juara I: Atlet Porprov PERGATSI Yunior<br />
<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f948.png" alt="🥈" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Juara II: Gateballer Tuwek<br />
<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f949.png" alt="🥉" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Juara III: Kumpulan Kepala Sekolah SLTA</p>
<p>Tiga juara, tiga generasi, satu semangat.</p>
<p>Yang muda membawa energi dan masa depan.<br />
Yang senior membawa pengalaman.<br />
Para pendidik membawa keteladanan.</p>
<p>Di lapangan Gateball, semuanya bertemu dalam satu bahasa: sportivitas dan persaudaraan.</p>
<p>Ketika waktu memasuki tengah hari, para peserta beristirahat untuk menunaikan salat Zuhur di Musholla Lapangan PERGATSI Panorama, kemudian makan siang bersama.</p>
<p>Sederhana, tetapi penuh makna.</p>
<p>Sebab persaudaraan sering kali tumbuh bukan dari kemewahan, melainkan dari kebersamaan yang tulus.</p>
<p><strong>DARI LAPANGAN MENUJU SEKOLAH</strong></p>
<p>PERGATSI Kota Batu tidak berhenti pada pertandingan.</p>
<p>Sosialisasi Gateball terus dilakukan ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari upaya menyiapkan regenerasi atlet.</p>
<p>Pembinaan ini didukung oleh Yusuf BT, pensiunan ASN dan mantan kepala sekolah yang dipercaya sebagai pelatih kepala.</p>
<p>Inilah perjuangan lain setelah kemerdekaan:</p>
<p>mendidik, membina, menggerakkan, dan menyiapkan generasi penerus.</p>
<p>Sebab olahraga bukan hanya tentang memenangkan pertandingan.</p>
<p>Olahraga adalah tentang membangun karakter.</p>
<p>Tentang disiplin.</p>
<p>Tentang keberanian.</p>
<p>Tentang menerima kemenangan dengan rendah hati dan kekalahan dengan lapang dada.</p>
<p><strong>MERAH PUTIH DI LAPANGAN, MERAH PUTIH DI DADA</strong></p>
<p>Hari itu, Lapangan PERGATSI Panorama bukan sekadar tempat pertandingan.</p>
<p>Ia menjadi ruang untuk mengenang pahlawan.</p>
<p>Menjaga kesehatan.</p>
<p>Mempererat silaturahmi.</p>
<p>Membina generasi muda.</p>
<p>Dan meneguhkan kembali kecintaan kepada Indonesia.</p>
<p>Seolah seluruh peserta meneriakkan pesan yang sama:</p>
<p>Indonesia, merah darahku!<br />
Putih tulangku!<br />
Bersatu dalam semangatmu!</p>
<p>Kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang.</p>
<p>Kemerdekaan harus diisi.</p>
<p>Dengan kerja.</p>
<p>Dengan prestasi.</p>
<p>Dengan persaudaraan.</p>
<p>Dengan kepedulian.</p>
<p>Dengan generasi muda yang sehat dan berkarakter.</p>
<p>Dari Lapangan PERGATSI Panorama, Kota Batu mengirimkan pesan sederhana tetapi kuat:</p>
<p>Selama Merah Putih masih berkibar,<br />
selama anak bangsa masih mau bergerak,<br />
selama persaudaraan masih kita jaga,<br />
semangat kemerdekaan tidak akan pernah padam.</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f1ee-1f1e9.png" alt="🇮🇩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81!</p>
<p>MERAH DARAHKU.<br />
PUTIH TULANGKU.<br />
BERSATU DALAM SEMANGATMU.</p>
<p>Salam olahraga!<br />
Salam persaudaraan!<br />
Salam Merah Putih! <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f1ee-1f1e9.png" alt="🇮🇩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Kota Batu 23 Agustus 2026<br />
Akaha Taufan Aminudin<br />
HP3N SATUPENA JAWA TIMUR</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Keterbatasan Waktu, Filemon Ukir Prestasi; Kepala SMK Negeri 1 Biak Dorong Pengembangan Bakat Siswa</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/dari-keterbatasan-waktu-filemon-ukir-prestasi-kepala-smk-negeri-1-biak-dorong-pengembangan-bakat-siswa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 16:24:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kab Biak Numfor]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Keterbatasan Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Filemon Ukir Prestasi; Kepala SMK Negeri 1 Biak Dorong Pengembangan Bakat Siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9995</guid>

					<description><![CDATA[Laporan Paulus Laratmase &#8211; BIAK — SUARA ANAK NEGERI&#124; Prestasi yang diraih Filemon, siswa SMK Negeri 1 Biak, sebagai Juara Harapan I dalam lomba solo putra-putri pada Festival Biak Cerdas 2026, mendapat apresiasi dari Kepala SMK Negeri 1 Biak, Drs. Maskur Bora. Menurut Maskur, capaian tersebut menjadi sesuatu yang membanggakan, terlebih persiapan Filemon dan guru [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Laporan Paulus Laratmase</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>BIAK — SUARA ANAK NEGERI</strong>| Prestasi yang diraih Filemon, siswa SMK Negeri 1 Biak, sebagai Juara Harapan I dalam lomba solo putra-putri pada Festival Biak Cerdas 2026, mendapat apresiasi dari Kepala SMK Negeri 1 Biak, Drs. Maskur Bora.</p>
<p>Menurut Maskur, capaian tersebut menjadi sesuatu yang membanggakan, terlebih persiapan Filemon dan guru pendamping berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Baginya, prestasi itu menunjukkan bahwa sekolah memiliki potensi siswa sekaligus guru yang dapat dikembangkan secara lebih serius dalam bidang seni dan suara.</p>
<p>“Yang pertama, kesan saya bahwa kita punya beberapa guru yang memiliki potensi untuk membina anak-anak di bidang ini. Kalau anak-anak mulai kita bina dan kita siapkan, kemungkinan besar ketika ada pertandingan atau lomba, kita sudah siap,” ujar Maskur saat ditemui SuaraAnakNegeri.com usai Festival Biak Cerdas.</p>
<p>Ia mengungkapkan, sebenarnya Filemon memiliki kemampuan vokal yang sangat baik. Namun, kondisi fisik dan cuaca pada saat perlombaan turut memengaruhi penampilannya.</p>
<p>Menurutnya, pada awal penampilan, suara Filemon masih terdengar baik dan mampu menyatu dengan musik. Namun, ketika memasuki bagian tertentu, suara Filemon tiba-tiba menurun dan kurang terdengar.</p>
<p>“Nomor satu, dua, tiga, empat itu masih kedengaran enak. Musik dengan suara masih pas. Tetapi ketika dia menyanyi, tiba-tiba saya kaget, kok suaranya begitu. Mungkin karena kondisi cuaca,” tuturnya.</p>
<p>Meski demikian, Maskur menilai hasil yang diraih Filemon tetap merupakan sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Ia melihat pengalaman tersebut justru menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan siswa menghadapi berbagai perlombaan di masa mendatang.</p>
<p><strong>Dorong Pembinaan Bakat Secara Rutin</strong></p>
<p>Lebih jauh, Maskur menyampaikan rencana untuk mengembangkan pembinaan bakat siswa secara lebih terarah. Ia menilai sekolah memiliki banyak anak yang berpotensi di bidang seni suara, termasuk siswa-siswa yang selama ini belum mendapatkan ruang pembinaan secara optimal.</p>
<p>“Kalau guru-guru mau menggali potensi anak-anak kita, banyak sekali yang bisa. Ketika ada pertandingan, kita tidak lagi baru mau latihan. Kita sudah siap,” katanya.</p>
<p>Ia berencana mengajak guru-guru yang memiliki kemampuan di bidang seni untuk melakukan seleksi dan pembinaan secara rutin. Bahkan, latihan dapat dilakukan sedikitnya dua kali dalam sebulan setelah siswa-siswa yang memiliki potensi diseleksi.</p>
<p>“Minimal sebulan dua kali anak-anak ini kita latih. Kita seleksi dulu anak-anak, kemudian kita mulai latihan,” ujarnya.</p>
<p>Menurut Maskur, pola pembinaan seperti itu penting agar sekolah tidak hanya mengejar prestasi ketika perlombaan sudah diumumkan, tetapi memiliki sistem pembinaan bakat yang berlangsung secara berkelanjutan.</p>
<p><strong>Festival Menjadi Ruang Menemukan Potensi</strong></p>
<p>Maskur menilai Festival Biak Cerdas tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi momentum bagi sekolah untuk menemukan dan mengembangkan potensi siswa.</p>
<p>Prestasi Filemon, meskipun diraih dengan persiapan yang relatif singkat, menjadi bukti bahwa talenta siswa perlu ditemukan lebih awal dan dibina secara konsisten.</p>
<p>Ia berharap ke depan SMK Negeri 1 Biak dapat memiliki lebih banyak siswa yang siap tampil dalam berbagai ajang seni, literasi, maupun kompetisi lainnya.</p>
<p>“Intinya, kita harus mulai menggali potensi anak-anak. Kalau sudah ditemukan dan dibina sejak awal, ketika ada lomba kita sudah siap,” pungkasnya.</p>
<p>Bagi Maskur, keberhasilan Filemon meraih Juara Harapan I bukan sekadar hasil sebuah perlombaan. Prestasi tersebut menjadi pemantik bagi sekolah untuk membangun pola pembinaan bakat yang lebih terencana, sehingga potensi siswa tidak berhenti pada satu panggung, tetapi terus berkembang dan melahirkan prestasi-prestasi berikutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;MASSA YANG TIDAK MASUK TIMBANGAN&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-massa-yang-tidak-masuk-timbangan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 15:58:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: "MASSA YANG TIDAK MASUK TIMBANGAN"]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9992</guid>

					<description><![CDATA[/1/ MASSA YANG TIDAK MASUK TIMBANGAN Puisi: Leni Marlina &#8211; Klorin mengering di lantai keberangkatan, roda koper mengunyah cahaya pada ubin; sebutir tanah bersembunyi di jahitan pakaian, kecil di mata, namun mengendap sampai ke batin. Dua kemeja. Tiga buku. Satu dokumen. Paspor merapikan tubuh menjadi deret nama; tak ada kolom untuk debu yang ikut berangkat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>MASSA YANG TIDAK MASUK TIMBANGAN</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Klorin mengering di lantai keberangkatan,<br />
roda koper mengunyah cahaya pada ubin;<br />
sebutir tanah bersembunyi di jahitan pakaian,<br />
kecil di mata, namun mengendap sampai ke batin.</p>
<p>Dua kemeja. Tiga buku. Satu dokumen.<br />
Paspor merapikan tubuh menjadi deret nama;<br />
tak ada kolom untuk debu yang ikut berangkat diam-diam,<br />
tak ada angka bagi sesuatu yang tumbuh di dalam dada.</p>
<p>Pesawat mengangkat sawah menjadi sisik kehijauan,<br />
sungai melipat kilat ke dalam lipatan awan;<br />
gunung dicabut dari namanya oleh ketinggian,<br />
namun tulang menyimpan peta yang tak selesai digambar tangan.</p>
<p>Di kota asing, neon menggigil di kaca,<br />
mesin kopi mendesis dengan lidah yang belum kau kenal;<br />
lalu hujan menumpahkan bau tanah dari suatu masa,<br />
dan sebuah pintu tak kasatmata mendadak terbuka di dalam kepala.</p>
<p>Engkau mulai mengerti: alamat hanyalah administrasi,<br />
koordinat hanyalah cara bumi diberi tanda;<br />
ada tempat yang tidak pernah tercetak dalam navigasi,<br />
namun berdenyut pelan di bawah kulit dan tulang manusia.</p>
<p>Jika kelak tubuhmu kehilangan arah pulang,<br />
jangan cari jalan pada papan, peta, atau gerbang;<br />
letakkan telapak pada tanah selepas hujan turun panjang,<br />
biarkan sesuatu yang lebih tua dari namamu mengenali langkah.</p>
<p>Sebab engkau tak membawa tanah di dalam koper,<br />
kau membawa massa yang tak mengenal timbangan;<br />
dan sejauh apa pun langit memindahkan tubuh dari asal,<br />
tanah tetap tinggal,<br />
bukan di tempatmu berasal,<br />
melainkan di tempat tubuhmu<br />
tak pernah sepenuhnya menjadi asing.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2013</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>TABUNG REAKSI DI BAWAH KULIT</strong></p>
<p>Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Rantau memasukkanmu ke tabung tanpa nama,<br />
bahasa asing mengembun di bibir yang belum fasih;<br />
kopi pahit meninggalkan endapan di pangkal lidah lama,<br />
sementara hari-hari mengaduk tubuh sampai bersih.</p>
<p>Panas datang membawa lidah api,<br />
dingin menyusul dengan kristal di tulang;<br />
sebagian keyakinan menguap dari pori,<br />
sebagian lain mengeras menjadi urat yang tenang.</p>
<p>Engkau bukan lagi larutan yang dahulu,<br />
ikatan lama tanggal tanpa suara;<br />
sesuatu yang asing meresap ke dalam kalbu,<br />
mengubah susunan tanpa meminta nama.</p>
<p>Di luar kaca laboratorium, tinta spidol tinggal di jari guru,<br />
solar menghitam di telapak tangan pekerja;<br />
cangkul memukul batu, bunyi yang tak tercantum dalam buku,<br />
lumpur membuka halaman yang tak pernah diajarkan di meja.</p>
<p>Ada pengetahuan yang lahir dari punggung membungkuk,<br />
dari garam kering yang tertinggal di kulit;<br />
ada pelajaran yang tidak membutuhkan bangku,<br />
karena tanah sendiri telah lama menjadi guru yang sulit.</p>
<p>Untuk apa ilmu jika hanya berpendar di layar,<br />
jika cahaya berhenti sebagai piksel di mata?<br />
Engkau ingin membawanya turun dari kepala ke tanah yang kasar,<br />
menjadi tangan, menjadi kerja, menjadi sesuatu yang nyata.</p>
<p>Ke kelas yang jendelanya menelan cahaya,<br />
ke sungai yang kehilangan beningnya perlahan;<br />
ke kebun yang menunggu tangan membaca cuaca,<br />
ke anak yang masa depannya belum mempunyai nama.</p>
<p>Kini tubuhmu bukan ruang penyimpanan,<br />
melainkan tabung yang terus bereaksi dalam diam;<br />
ilmu yang tinggal di kepala hanyalah endapan,<br />
ilmu yang berpindah ke tangan mulai mengubah alam.</p>
<p>Engkau keluar dari tabung tanpa menjadi sempurna,<br />
membawa panas, debu, garam, dan luka yang tak terlihat;<br />
rantau tidak mengembalikanmu sebagai manusia yang sama,<br />
ia mengubah susunan tubuh<br />
agar pengetahuan<br />
mempunyai tempat untuk berbuat.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2013</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>ENGKAU DI DUA TEMPAT DALAM SATU TUBUH</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di bawah lampu laboratorium, setetes cahaya menggigil di kaca,<br />
pipet menahan bening, angka-angka mengendap di layar;<br />
tanganku menghitung galat, telingaku mengukur jarak yang tak terbaca,<br />
sebab ada koordinat yang tak tercatat, tetapi berdenyut di dasar sadar.</p>
<p>Uap nasi datang dari ingatan, mengaburkan kaca,<br />
cabai menyisakan pijar merah di ujung lidah;<br />
hujan mengetuk seng dari sebuah musim yang jauh di sana,<br />
dan masa lalu merembes pelan melalui pori-pori darah.</p>
<p>Bahan kimia memenuhi kamar dengan aroma logam yang asing,<br />
malam menggantung di jendela seperti spektrum tanpa warna;<br />
lidah mencari kuah yang tak tersedia di kota yang dingin,<br />
sementara satu cahaya ponsel membuka dapur dari kejauhan sana.</p>
<p>&#8220;Sudah makan?&#8221;</p>
<p>Dua kata jatuh, ringan bunyinya, berat gaungnya,<br />
seketika dinding kehilangan ukuran dan jarak kehilangan nama;<br />
kamar kecil mendadak mempunyai pintu yang tak terlihat mata,<br />
dan sebuah rumah yang jauh berdenyut di dalam tubuh yang sama.</p>
<p>Tanganmu tetap di atas kaca, tetapi telapak membaca masa,<br />
seperti sensor tua yang mengenali medan sebelum alat mengerti;<br />
aku berada di sini, namun di sana ada sesuatu yang menjaga,<br />
dua tempat bertumpuk tanpa salah satu harus pergi.</p>
<p>Rumah bukan alamat yang selesai dicetak di peta,<br />
bukan koordinat yang tunduk pada satelit dan garis lintang;<br />
ia gaya tak kasatmata yang membelokkan lintasan benda,<br />
medan yang menarik tubuh tanpa menyentuhnya dengan tangan.</p>
<p>Jika rindu adalah partikel, biarkan ia mencari kanal rahasia,<br />
menembus membran malam, melewati kaca, kota, dan cahaya;<br />
dari meja laboratorium menuju dapur yang jauh di sana,<br />
tempat namamu masih dipanggil<br />
sebelum engkau sempat menerjemahkan apa-apa.</p>
<p>Engkau di sini.<br />
Engkau di sana.<br />
Dua kemungkinan berdenyut dalam satu tubuh yang sama;<br />
barangkali manusia memang tak pernah benar-benar berada<br />
hanya di satu tempat,<br />
sebab sebagian dirinya<br />
selalu tertinggal<br />
di tempat yang merindukannya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2013</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>ENGKAU YANG TELAH BERUBAH FASE</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pesawat turun; awan membuka lipatan udara,<br />
laut memecahkan biru menjadi serpih cahaya;<br />
roda menyentuh bumi, tekanan berubah seketika,<br />
dan paru-paru mengenali basah sebelum pikiran membaca.</p>
<p>Kelembapan masuk melalui rongga dada,<br />
bau tanah naik dari retakan aspal yang lama;<br />
tubuh mengenali sesuatu sebelum lidah menemukan kata,<br />
seolah bumi menyimpan sandi di bawah telapak manusia.</p>
<p>Engkau pulang bukan sebagai benda yang sama,<br />
panas, tekanan, jarak mengubah susunan di dalam;<br />
yang pergi membawa satu bentuk, kembali membawa gema,<br />
seperti air yang mengenali sungai setelah lama menjadi awan.</p>
<p>Di kepala, ilmu menunggu menjadi suara,<br />
tetapi pengetahuan yang diam hanya mengilap sebagai bayangan;<br />
ia harus turun ke telapak, menyentuh lumpur dan udara,<br />
menjadi gerak yang dapat mengubah sesuatu di kehidupan.</p>
<p>Dari turbin ke klakson, dari lorong steril ke pasar,<br />
dari makanan kemasan ke bawang yang menghitam di wajan;<br />
dari kaca laboratorium ke tanah yang menyimpan akar,<br />
ilmu kehilangan jasnya dan memperoleh denyut kehidupan.</p>
<p>Di bawah tanah, akar bekerja tanpa gelar,<br />
jamur mengurai daun menjadi bahasa yang tak selesai;<br />
cacing menggemburkan gelap, membuka lorong bagi akar,<br />
sementara dunia tumbuh tanpa pernah bertanya siapa yang memulai.</p>
<p>Masukkan ilmumu ke kelas yang jendelanya redup,<br />
ke sungai yang beningnya digerus limbah dan musim;<br />
ke kebun yang menunggu tangan membaca tanah sebelum menanam hidup,<br />
ke mata seorang anak yang masa depannya belum mempunyai istilah dan sistem.</p>
<p>Engkau telah berubah fase; jangan biarkan ilmu membeku,<br />
biarkan ia berpindah seperti muatan mencari medan;<br />
dari kepala menuju tangan, dari tangan menuju sesuatu yang baru,<br />
dari satu kehidupan ke kehidupan lain, tanpa menagih pengakuan.</p>
<p>Sebab perubahan tidak selalu meninggalkan jejak nama,<br />
kadang ia hanya bekerja diam di bawah permukaan;<br />
seperti elektron yang berpindah tanpa meminta cahaya,<br />
yang penting bukan siapa yang bergerak,<br />
melainkan apa yang berubah<br />
setelahnya dalam kehidupan.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Melbourne, Australia, 2013</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>Tentang Penyair – Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi di Universitas Negeri Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.</p>
<p>Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Mengabdi sebagai redaktur di platform digital Suara Anak Negeri (SAN) Media Group.</p>
<p>Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni merupakan anggota organisasi penulis SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers &amp; ACC Shanghai Huifeng International Literaty Association.</p>
<p>Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id<br />
Wattpad: @lenimarlina_write<br />
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Sauri ke Panggung Festival, Perjuangan Pilemon Berbuah Juara Harapan I</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/dari-sauri-ke-panggung-festival-perjuangan-pilemon-berbuah-juara-harapan-i</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 15:51:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Sauri ke Panggung Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan Pilemon Berbuah Juara Harapan I]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9987</guid>

					<description><![CDATA[Paulus Laratmase&#124; Penulis &#8211; BIAK — SUARA ANAK NEGERI&#124; Prestasi tidak selalu lahir dari kondisi yang serba mudah. Kisah Pilemon, siswa yang berhasil meraih Juara Harapan I dalam ajang lomba solo putra-putri pada Festival Literasi Biak 2026, menjadi bukti bahwa keterbatasan akses bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Perjalanan Pilemon menuju panggung festival dimulai dari sekolah. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Paulus Laratmase| Penulis</strong></p>
<p><strong>&#8211;</strong></p>
<p><strong>BIAK —</strong> <strong>SUARA ANAK NEGERI</strong>| Prestasi tidak selalu lahir dari kondisi yang serba mudah. Kisah Pilemon, siswa yang berhasil meraih <strong>Juara Harapan I</strong> dalam ajang lomba solo putra-putri pada Festival Literasi Biak 2026, menjadi bukti bahwa keterbatasan akses bukan alasan untuk berhenti bermimpi.</p>
<p>Perjalanan Pilemon menuju panggung festival dimulai dari sekolah. Dari sejumlah siswa yang tertarik mengikuti lomba solo, tercatat sekitar tujuh orang dari berbagai jurusan yang mendaftarkan diri. Sekolah kemudian menggelar audisi internal untuk menentukan wakil terbaik.</p>
<p>Dari proses tersebut, Pilemon terpilih menjadi salah satu siswa yang dipercaya membawa nama sekolah.</p>
<p>Namun, perjalanan menuju panggung festival tidak berlangsung mudah. Salah satu kendala terbesar adalah keterbatasan komunikasi. Pilemon tidak memiliki telepon seluler maupun media sosial sehingga sulit dihubungi. Selain itu, ia tinggal cukup jauh di Sauri, sehingga akses menuju lokasi kegiatan juga tidak mudah.</p>
<p>Situasi menjadi semakin menegangkan ketika panitia mengumumkan bahwa peserta harus mengikuti proses pengambilan nada pada sore hari, sementara Pilemon sudah selesai mengikuti kegiatan sekolah dan sulit dihubungi.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-9989" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-24-at-00.49.41-199x300.jpeg" alt="" width="1422" height="2144" /></p>
<p>Guru pendamping Pilemon, Yayuk Frans, S.Pd., kemudian berinisiatif mencari solusi. Komunikasi dilakukan dengan panitia melalui grup WhatsApp untuk menjelaskan kondisi Pilemon sekaligus meminta kelonggaran waktu.</p>
<p>Karena tidak segera mendapat respons, selaku guru pendamping datang langsung ke Lapangan Cenderawasih untuk berkoordinasi dengan panitia.</p>
<p>Upaya Yayuk akhirnya membuahkan hasil. Panitia memahami kondisi Pilemon yang tinggal jauh dan memberikan kesempatan untuk melakukan pengambilan nada beberapa jam sebelum penampilan.</p>
<p>Kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.</p>
<p>Di tengah kondisi cuaca Biak yang cukup berangin, Pilemon tetap tampil dan membawakan lagu dengan baik. Ia berhasil melewati seluruh rangkaian penampilan hingga akhirnya terpilih sebagai Juara Harapan I dari 10 peserta putra yang masuk dalam jajaran finalis.</p>
<p>Prestasi tersebut tidak diraih Pilemon seorang diri. Guru pendamping mengaku lebih banyak menangani aspek teknis dan koordinasi, sementara proses pembinaan vokal dilakukan bersama Ibu Sihite yang turut membantu melatih kemampuan bernyanyi Pilemon sekaligus terlibat dalam proses audisi siswa.</p>
<p>“Kami sebenarnya mengirim tiga finalis, tetapi yang berhasil lolos adalah Pilemon. Puji Tuhan, dia akhirnya mendapatkan Juara Harapan I,” ungkap guru pendampingnya.</p>
<p><strong>Kisah di Balik Suara Pilemon</strong></p>
<p>Di balik prestasi tersebut, terdapat kisah lain yang membuat guru pendampingnya tersentuh.</p>
<p>Setelah menghabiskan cukup banyak waktu bersama Pilemon, sang guru mengetahui bahwa siswa tersebut menghadapi berbagai keterbatasan dalam kesehariannya. Jarak rumah dengan sekolah cukup jauh dan akses transportasi maupun komunikasi tidak selalu mudah.</p>
<p>Kondisi ini bahkan sempat membuat gurunya khawatir apakah Pilemon dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan baik.</p>
<p>Karena itu, ketika melihat Pilemon hadir di sekolah pada pagi hari, sang guru merasa lega.</p>
<p>“Puji Tuhan, dia sekolah,” demikian rasa syukur yang muncul ketika melihat Pilemon tetap hadir di sekolah meski harus menempuh perjalanan yang tidak mudah.</p>
<p>Setelah kegiatan belajar selesai, Pilemon kemudian kembali menjalani latihan, termasuk latihan vokal di ruang multimedia.</p>
<p>Namun, ada satu percakapan sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam.</p>
<p>Sang guru sempat bertanya kepada Pilemon mengenai sarapannya. Pilemon menjawab sudah.</p>
<p>Jawaban sederhana ini membuat gurunya terdiam dan merasa sedih.</p>
<p>Di balik suara merdu yang ia tampilkan di atas panggung, ternyata terdapat kehidupan yang penuh keterbatasan. Namun, keterbatasan itu tidak membuat Pilemon kehilangan semangat untuk belajar, bersekolah dan mengembangkan bakatnya.</p>
<p><strong>Harapan untuk Masa Depan Pilemon</strong></p>
<p>Prestasi yang diraih Pilemon diharapkan menjadi pintu pembuka bagi masa depannya. Guru pendampingnya berharap perhatian dari berbagai pihak dapat diberikan kepada siswa Pilemon, terutama dalam bentuk dukungan pendidikan dan pengembangan bakat.</p>
<p>Menurutnya, apabila tersedia bantuan pendidikan, beasiswa atau dukungan lain yang dapat diberikan melalui pihak terkait, hal itu akan sangat berarti bagi Pilemon untuk terus mengembangkan potensinya.</p>
<p>“Saya tertarik untuk membantu Pilemon. Semoga ke depan ada dukungan yang bisa membantu dia, terutama untuk pendidikan dan pengembangan bakatnya,” ujarnya.</p>
<p>Kisah Pilemon menunjukkan bahwa talenta dapat tumbuh di mana saja. Bahkan dari tempat yang jauh dengan segala keterbatasannya, seorang anak dapat menemukan panggung untuk menunjukkan kemampuannya.</p>
<p>Dari Sauri, Pilemon datang membawa suara. Di panggung festival, ia membuktikan bahwa jarak, keterbatasan fasilitas dan keadaan ekonomi bukan akhir dari sebuah mimpi.</p>
<p>Justru dari keterbatasan itulah, perjuangan Pilemon menemukan maknanya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ririe Aiko Berhasil Antarkan Anak Al Lathif ke Final Lomba Menulis Nasional</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/ririe-aiko-berhasil-antarkan-anak-al-lathif-ke-final-lomba-menulis-nasional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 03:35:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[gerakanliterasigenalpha]]></category>
		<category><![CDATA[literasipelajar]]></category>
		<category><![CDATA[pegiatliterasi]]></category>
		<category><![CDATA[ririeaiko]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9982</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta &#8211; Suara Anak Negeri&#124; Ririe Aiko, penulis sekaligus founder Gerakan Literasi AI, berhasil mendampingi siswa-siswi Al Lathif Islamic International School Bandung hingga masuk dalam 12 besar finalis Lomba Menulis Resensi Buku Gempita Jambore tingkat nasional.Dalam proses pendampingan, Ririe tidak hanya mengarahkan anak-anak pada teknik menulis resensi, tetapi juga mengajak mereka menemukan suara dan pengalaman personal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<article class="readArticle"><strong>Jakarta &#8211; Suara Anak Negeri| Ririe Aiko</strong>, penulis sekaligus founder Gerakan Literasi AI, berhasil mendampingi siswa-siswi Al Lathif Islamic International School Bandung hingga masuk dalam <strong>12 besar finalis Lomba Menulis Resensi Buku Gempita Jambore tingkat nasional</strong>.Dalam proses pendampingan, Ririe tidak hanya mengarahkan anak-anak pada teknik menulis resensi, tetapi juga mengajak mereka menemukan suara dan pengalaman personal dalam tulisan. Bagi Ririe, tulisan yang baik bukan sekadar rangkaian kata yang tersusun dengan benar, tetapi juga tulisan yang mampu menghadirkan perasaan, sudut pandang, dan kejujuran penulis di dalamnya.</p>
<p class="isSelectedEnd"><em>“Jangan takut salah dan jangan takut memulai. Karena kalau tidak pernah memulai, kalian tidak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kalian,” ujar Ririe.</em></p>
<p class="isSelectedEnd">Pendekatan tersebut menjadi bagian dari cara Ririe membangun keberanian anak-anak untuk menulis. Baginya, kesalahan dalam proses menulis bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari perjalanan untuk menemukan kemampuan dan gaya menulis mereka sendiri.</p>
<p>Pencapaian ini juga tidak lepas dari dukungan <strong>Dr. Sri Tubilah Noor, S.Pd., M.Si.</strong>, Kepala Sekolah Al Lathif Islamic School, yang senantiasa memberikan ruang bagi tumbuhnya budaya literasi di lingkungan sekolah. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya mendorong siswa berprestasi secara akademik, tetapi juga membentuk generasi muda yang cerdas, kritis, kreatif, mampu menyampaikan gagasan, serta memiliki akhlak yang baik. Semangat tersebut sejalan dengan arah pendidikan Al Lathif yang menempatkan kecerdasan, karakter, dan nilai-nilai Islam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan.</p>
<p>Masuk sebagai 12 finalis tingkat nasional tentu bukan proses yang mudah. Ada perjuangan, proses belajar, revisi, keberanian menerima masukan, dan kemauan untuk terus mencoba hingga karya mereka mampu bersaing di tingkat nasional.</p>
<p>Bagi Ririe, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang menjadi finalis atau memenangkan lomba. Lebih dari itu, pengalaman ini diharapkan menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk belajar menuangkan gagasan, berani berkarya, dan menemukan keberanian untuk menyuarakan apa yang mereka pikirkan.</p>
<p>Melalui Gerakan Literasi AI, <strong>Ririe Aiko</strong> terus mendorong generasi muda agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, membaca, menulis, dan menghasilkan karya secara kreatif serta beretika. Baginya, keberanian untuk memulai adalah langkah pertama sebelum seorang anak menemukan kemampuan dan suaranya sendiri.</p>
</article>
<div class="readAttr"></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MAKNA &#8220;KEMERDEKAAN&#8221; BAGI FPS TIM</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/nasional/makna-kemerdekaan-bagi-fps-tim</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2026 12:50:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan di Darat (SDGs 15)]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9934</guid>

					<description><![CDATA[Jumat Aksi Seni (JAS) dalam Renungan Kemerdekaan Oleh: Nuyang Jaimee Kemerdekaan bagi seniman tidak berhenti pada upacara, bendera, atau perayaan setiap bulan Agustus. Kemerdekaan juga berarti tersedianya ruang untuk berpikir, berkarya, menyampaikan kritik, dan menentukan masa depan kebudayaan tanpa kehilangan fungsi dasar ruang seni. Dalam konteks Taman Ismail Marzuki (TIM), makna kemerdekaan menjadi lebih konkret: [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="color: #0000ff;"><strong>Jumat Aksi Seni (JAS) dalam Renungan Kemerdekaan</strong></span></em></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Oleh: Nuyang Jaimee</strong></span></p>
<p style="text-align: left;">Kemerdekaan bagi seniman tidak berhenti pada upacara, bendera, atau perayaan setiap bulan Agustus. Kemerdekaan juga berarti tersedianya ruang untuk berpikir, berkarya, menyampaikan kritik, dan menentukan masa depan kebudayaan tanpa kehilangan fungsi dasar ruang seni.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam konteks Taman Ismail Marzuki (TIM), makna kemerdekaan menjadi lebih konkret: apakah seniman masih benar-benar merdeka di rumah keseniannya sendiri?</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-9921" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175419-300x226.jpg" alt="" width="1462" height="1101" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175419-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175419-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175419-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175419.jpg 1366w" sizes="(max-width: 1462px) 100vw, 1462px" /></p>
<p style="text-align: left;">Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu latar perjuangan Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM). Berbagai aksi, diskusi, unjuk karya, Jumat Aksi Seni, hingga penyerahan petisi ke Balai Kota bukan semata rangkaian demonstrasi. Di dalamnya terdapat kegelisahan mengenai arah pengelolaan TIM setelah revitalisasi, terutama ketika orientasi komersial dinilai semakin kuat dan ruang bagi seniman serta komunitas dipersoalkan.</p>
<p style="text-align: left;">Bagi FPS-TIM, kemerdekaan seni berarti seniman memiliki akses terhadap ruang kebudayaan yang memang diperuntukkan bagi kehidupan seni. Pusat kesenian tidak cukup hanya memiliki gedung yang megah dan fasilitas baru. Ia harus memiliki ekosistem yang memungkinkan seniman berproses, komunitas tumbuh, karya lahir, gagasan diperdebatkan, dan masyarakat memperoleh akses terhadap kebudayaan.</p>
<p style="text-align: left;">Di sinilah persoalan pengelolaan TIM menjadi persoalan kemerdekaan. Ketika biaya ruang menjadi persoalan bagi seniman dan komunitas, ketika orientasi komersial dianggap lebih dominan daripada fungsi kebudayaan, atau ketika seniman merasa semakin jauh dari proses pengambilan keputusan mengenai rumah keseniannya sendiri, maka kemerdekaan kebudayaan patut dipertanyakan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-9939" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175334-300x226.jpg" alt="" width="1446" height="1089" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175334-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175334-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175334-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175334.jpg 1366w" sizes="(max-width: 1446px) 100vw, 1446px" /></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #0000ff;"><strong>TRITURA sebagai Pernyataan Kemerdekaan</strong></span></p>
<p style="text-align: left;">Dalam konteks itu, TRITURA FPS-TIM menjadi penting. Tiga tuntutan tersebut bukan sekadar daftar tuntutan teknis, tetapi pernyataan mengenai bagaimana seniman memaknai kemerdekaan dalam pengelolaan kebudayaan.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama: Tolak JAKPRO mengelola dan mengkomersialisasi Taman Ismail Marzuki. Tuntutan ini berangkat dari keberatan FPS-TIM terhadap orientasi pengelolaan yang dianggap terlalu dekat dengan logika komersial. Bagi gerakan ini, TIM bukan sekadar aset yang dapat dihitung berdasarkan nilai ekonomi, melainkan pusat kehidupan kesenian yang memiliki fungsi publik.</p>
<p style="text-align: left;">Kedua: Kembalikan tata kelola Taman Ismail Marzuki kepada Dinas Kebudayaan, UP PKJ TIM, Dewan Kesenian Jakarta bersama komunitas-komunitas seni secara demokratis dan adil. Di dalam tuntutan kedua terdapat persoalan partisipasi. Kemerdekaan tidak hanya berarti bebas berkarya di atas panggung, tetapi juga memiliki kesempatan untuk terlibat dalam pembicaraan mengenai bagaimana ruang kebudayaan dikelola. Karena itu, keterlibatan lembaga kebudayaan, DKJ, komunitas seni, dan seniman menjadi bagian penting dari gagasan tata kelola yang demokratis dan adil.</p>
<p style="text-align: left;">Ketiga: Kembalikan marwah Taman Ismail Marzuki sebagai Pusat Kesenian.<br />
Tuntutan ketiga merupakan inti keseluruhan perjuangan. Marwah TIM bukan hanya terletak pada bangunan dan fasilitasnya, melainkan pada kehidupan seni yang berlangsung di dalamnya. TIM harus kembali dipahami sebagai pusat penciptaan, pertemuan, eksperimen, pendidikan, kritik, dan pertukaran gagasan kebudayaan.<br />
Dengan demikian, TRITURA FPS-TIM sesungguhnya berbicara tentang kemerdekaan ruang kebudayaan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-9941" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175140-300x226.jpg" alt="" width="1462" height="1101" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175140-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175140-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175140-768x579.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG20260821175140.jpg 1366w" sizes="(max-width: 1462px) 100vw, 1462px" /></p>
<p style="text-align: left;"><strong><span style="color: #0000ff;">Merdeka untuk Mengkritik</span></strong></p>
<p style="text-align: left;">Ada dimensi lain dari kemerdekaan yang tidak kalah penting: kemerdekaan untuk berbeda pendapat. Berbagai aksi FPS-TIM menggunakan bahasa seni sebagai medium kritik. Keranda bertuliskan “TIM Sudah Mati”, poster perlawanan, karnaval, puisi, musik, diskusi, hingga Jumat Aksi Seni merupakan cara seniman menyampaikan kegelisahan mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Seni tidak selalu harus hadir untuk menghibur. Seni juga dapat menjadi cermin yang memantulkan persoalan masyarakat. Ketika kritik ditujukan kepada kebijakan kebudayaan, seni tetap memiliki fungsi sebagai ruang demokrasi.</p>
<p style="text-align: left;">Karena itu, ketika seniman mempertanyakan tata kelola TIM, komersialisasi, akses ruang, atau lembaga yang terlibat dalam ekosistem pengelolaannya, kritik tersebut semestinya dipandang sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan yang sehat.</p>
<p style="text-align: left;">Pusat kesenian yang sehat bukan hanya pusat kesenian yang ramai dikunjungi masyarakat untuk rekreasi atau ketika suatu pertunjukan berlangsung. Ia juga harus menjadi ruang bagi gagasan, perdebatan, kritik, dan perbedaan pandangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-9944" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260822_194955-262x300.jpg" alt="" width="1451" height="1661" /></p>
<p style="text-align: left;"><strong><span style="color: #0000ff;">Kemerdekaan Bukan Berarti Tanpa Tata Kelola</span></strong></p>
<p style="text-align: left;">Kemerdekaan seni tentu tidak berarti TIM harus berjalan tanpa aturan. Pusat kesenian tetap membutuhkan tata kelola, pembiayaan, profesionalisme, pemeliharaan fasilitas, keamanan, dan administrasi.</p>
<p style="text-align: left;">Persoalannya adalah untuk apa tata kelola tersebut dibangun dan siapa yang menjadi pusat orientasinya. Tata kelola yang baik seharusnya membuat ruang seni semakin mudah diakses, bukan semakin jauh dari seniman. Sistem pembiayaan harus menjaga keberlanjutan fasilitas tanpa menghilangkan fungsi publiknya.</p>
<p style="text-align: left;">Profesionalisme seharusnya memperkuat kehidupan seni, bukan menggantikannya. Di sinilah perbedaan antara mengelola pusat kesenian dan mengelola aset komersial menjadi penting. TIM dapat memiliki nilai ekonomi, tetapi nilai kebudayaannya tidak boleh dikalahkan oleh nilai ekonominya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-9919" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0016-300x226.jpg" alt="" width="1446" height="1089" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0016-300x226.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0016-1024x771.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0016-768x578.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0016.jpg 1366w" sizes="(max-width: 1446px) 100vw, 1446px" /></p>
<p style="text-align: left;"><strong><span style="color: #0000ff;">Dari Tumpeng Kemerdekaan ke Kemerdekaan Berkarya</span></strong></p>
<p style="text-align: left;">Tema “Tumpeng Kemerdekaan” dalam Jumat Aksi Seni FPS-TIM menjadi relevan dalam konteks ini. Tumpeng adalah simbol perayaan, tetapi perayaan kemerdekaan di ruang seni juga dapat menjadi momentum untuk bertanya: apa arti merdeka bagi seniman?</p>
<p style="text-align: left;">Merdeka berarti dapat berkarya tanpa kehilangan ruang. Merdeka berarti dapat mengakses pusat kesenian tanpa terbebani mekanisme yang tidak berpihak. Merdeka berarti dapat menyampaikan kritik tanpa kehilangan hak sebagai bagian dari masyarakat kebudayaan. Merdeka berarti komunitas memiliki kesempatan untuk tumbuh.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-9943" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0014-300x169.jpg" alt="" width="1447" height="815" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0014-300x169.jpg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0014-1024x576.jpg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0014-768x432.jpg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260822-WA0014.jpg 1366w" sizes="(max-width: 1447px) 100vw, 1447px" /></p>
<p style="text-align: left;">Dan yang tidak kalah penting, merdeka berarti seniman ikut memiliki suara dalam menentukan masa depan rumah keseniannya sendiri. Karena itu, perjuangan FPS-TIM tidak semestinya dibaca hanya sebagai penolakan terhadap satu pihak atau kebijakan. Ia dapat dipahami sebagai perjuangan mempertahankan prinsip bahwa kebudayaan adalah kepentingan publik.</p>
<p style="text-align: left;">Revitalisasi TIM pada akhirnya bukan hanya soal memperbarui bangunan. Tantangan yang lebih besar adalah menghidupkan kembali ekosistem yang berada di dalamnya. Bangunan boleh berubah. Sistem boleh diperbarui. Teknologi boleh berkembang. Tetapi selama TIM masih disebut sebagai Pusat Kesenian Jakarta, kehidupan seniman, komunitas, karya, gagasan, kritik, dan masyarakat harus tetap menjadi pusat pertimbangannya.</p>
<p style="text-align: left;">Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya kemerdekaan memiliki sebuah pusat kesenian. Kemerdekaan adalah ketika pusat kesenian itu benar-benar memberi ruang kepada seniman untuk hidup, berkarya, berpikir, berbeda, dan menentukan masa depan kebudayaannya.</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Tentang Penulis:</strong></span></p>
<p><strong> <img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-8911 size-thumbnail" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260803_225657-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></strong></p>
<p><em>Nuyang Jaimee</em> adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya <strong><em>“Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”</em></strong> terbit 2023.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rayakan HUT Ke-52 YPPK, Keuskupan Agung Merauke Berkomitmen Meningkatkan Kualitas Pendidikan</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/rayakan-hut-ke-52-yppk-keuskupan-agung-merauke-berkomitmen-meningkatkan-kualitas-pendidikan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2026 10:36:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Berkomitmen Meningkatkan Kualitas Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Keuskupan Agung Merauke]]></category>
		<category><![CDATA[Rayakan HUT Ke-52 YPPK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9900</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Dr. Frits H. Pangeman, M.Sc. &#8211; MERAUKE — SUARA ANAK NEGERI&#124; Dirgahayu Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Papua dan Keuskupan Agung Merauke pada usianya yang ke-52. Ucapan syukur atas ulang tahun ke-52 ini dirayakan dengan meriah oleh para guru dan pengelola YPPK, para siswa, serta umat Keuskupan Agung Merauke (KAMe) dalam Misa Syukur [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Laporan: Dr. Frits H. Pangeman, M.Sc.</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>MERAUKE</strong> — <strong>SUARA ANAK NEGERI</strong>| Dirgahayu Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Papua dan Keuskupan Agung Merauke pada usianya yang ke-52.</p>
<p>Ucapan syukur atas ulang tahun ke-52 ini dirayakan dengan meriah oleh para guru dan pengelola YPPK, para siswa, serta umat Keuskupan Agung Merauke (KAMe) dalam Misa Syukur yang dipimpin oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke, Sabtu (22 Agustus 2026).</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-9908" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.54.33-300x181.jpeg" alt="" width="1442" height="870" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.54.33-300x181.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.54.33.jpeg 394w" sizes="(max-width: 1442px) 100vw, 1442px" /></p>
<p>Dalam khotbahnya pada momen peringatan ulang tahun YPPK, Uskup Mandagi mendorong agar peristiwa ulang tahun YPPK ini menjadi momentum refleksi bagi para pelaku pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah hingga pendidikan tinggi di Papua, untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan di Papua Selatan.</p>
<p>Komitmen peningkatan kualitas pendidikan tersebut juga ditegaskan oleh Ketua YPPK, RD. Alowisius Kelbulan, dalam acara syukuran yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, baik dari Provinsi Papua Selatan maupun Kabupaten Merauke, bersama Uskup Agung Merauke, Mgr. Mandagi, serta umat Keuskupan.</p>
<p>“Komitmen kami untuk peningkatan itu berjalan sesuai Visi YPPK Merauke, yakni mewujudkan komunitas pendidikan Kristiani yang cerdas, unggul, profesional dan penuh kepedulian, serta siap menghidupi budaya setempat,” ujar Pastor Kelbulan.</p>
<p>“Itu juga sesuai dengan Moto YPPK kami, yakni <em>Kasih yang Mencerdaskan</em>,” ungkapnya di sela-sela acara pembukaan perayaan di Gereja Katedral.</p>
<p><strong>Penghargaan bagi Guru Berprestasi</strong></p>
<p>Momen historis HUT ke-52 YPPK juga diisi dengan penganugerahan penghargaan kepada para guru yang berprestasi dalam menulis “naskah refleksi pribadi” maupun “naskah kelompok” yang direncanakan akan dipublikasikan dalam jurnal YPPK.</p>
<p>Program penulisan naskah tersebut merupakan bagian dari seminar <em>artificial intelligence</em> (kecerdasan buatan) dan penguatan nilai pendidikan yang dilaksanakan bulan lalu di Rumah Bina Pankat, Kelapa Lima, pada 27 Juli–1 Agustus 2026.</p>
<figure id="attachment_9909" aria-describedby="caption-attachment-9909" style="width: 1427px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-9909" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.52.19-300x172.jpeg" alt="" width="1427" height="818" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.52.19-300x172.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.52.19.jpeg 522w" sizes="(max-width: 1427px) 100vw, 1427px" /><figcaption id="caption-attachment-9909" class="wp-caption-text"><strong>Kegiatan YPPK Keuskupan Agung Merauke dalam pelatihan Koding, AI, dan Penguatan Nilai Pendidikan bagi para guru &amp; kepala sekolah TK-SMA di Kelapa Lima akhir Juli (YPPK Merauke)</strong></figcaption></figure>
<p>Untuk kategori penulisan pribadi, penghargaan pertama diberikan kepada Guru Yonas Bato’ Rinding, S.Pd., Gr., dari SMA YPPK Yohanes XXIII Merauke. Penghargaan kedua diberikan kepada Ibu Guru Alfonsa Puspa Resubun, S.Pd., dari SMP YPPK Yohanes XXIII Merauke. Sementara penghargaan ketiga diberikan kepada Ibu Guru Agnes Ujoto, S.Pd., dari SMA YPPK Yohanes XXIII Merauke.</p>
<p>Sementara itu, untuk kategori penulisan kelompok, penghargaan pertama diraih oleh kelompok guru SMA YPPK Yohanes XXIII Merauke. Penghargaan kedua diraih oleh para guru SD YPPK St. Fransiskus Xaverius Yanggandur, sedangkan penghargaan ketiga diberikan kepada para guru SD YPPK St. Agustinus Bambu Pemali Merauke.</p>
<p><strong>Kilasan Sejarah YPPK</strong></p>
<p>Lahirnya lembaga pendidikan Katolik di Papua berawal dari komitmen Gereja untuk memajukan pendidikan di Tanah Papua. Pada tahun 1974, Gereja Katolik di wilayah Papua mendirikan apa yang kemudian dikenal sebagai Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) dengan Akta Notaris Nomor 64 Tahun 1974 dan berkedudukan di Jayapura.</p>
<p>Langkah awal karya YPPK adalah mengembangkan pendidikan melalui pendirian sekolah-sekolah di tingkat provinsi hingga daerah-daerah kabupaten, distrik, dan kampung-kampung di pelosok Papua dalam lingkup Gereja di wilayah keuskupan-keuskupan.</p>
<figure id="attachment_9910" aria-describedby="caption-attachment-9910" style="width: 1409px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-9910" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.53.31-161x300.jpeg" alt="" width="1409" height="2625" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.53.31-161x300.jpeg 161w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.53.31.jpeg 177w" sizes="(max-width: 1409px) 100vw, 1409px" /><figcaption id="caption-attachment-9910" class="wp-caption-text"><strong>Ketua YPPK Keuskupan Agung Merauke RD Alowisius Kelbulan (File: FHP)</strong></figcaption></figure>
<p>Luasnya pengembangan pendidikan tersebut membutuhkan kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Menurut Pastor Kelbulan, hal itu dilakukan karena pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat.</p>
<p>Seiring dengan adanya otonomi daerah dan pemekaran wilayah-wilayah kabupaten, para uskup se-Papua dalam rapat akhir tahun 2001 mencapai kesepakatan untuk melakukan pemekaran YPPK menurut keuskupan-keuskupan yang ada.</p>
<p>Keuskupan Agung Merauke disepakati untuk mencakup Keuskupan Agats dalam urusan YPPK, lanjut Pastor asal Kepulauan Tanimbar tersebut.</p>
<p>Pada tahun 2001, lahir UU Yayasan yang baru dengan Nomor 16 Tahun 2001 yang mendorong berdirinya YPPK wilayah Merauke. Atas mandat tersebut, didirikanlah YPPK Merauke terhitung 23 Mei 2002 dengan Akta Notaris Nomor 09 Tahun 2002.</p>
<p>Munculnya pemekaran YPPK ini, menurut Pastor Kelbulan, dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan Gereja kepada masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.</p>
<p>Dengan pendirian tersebut, pemerintah daerah memberikan wewenang kepada YPPK Merauke untuk mengelola dan menyelenggarakan pendidikan di wilayah Kabupaten Merauke dalam yurisdiksi Provinsi Papua Selatan.</p>
<p>Pengelolaan pendidikan tersebut didukung oleh pemerintah dan masyarakat, mengingat pendidikan adalah kunci peradaban manusia dan kemajuan bangsa, terutama kemajuan masyarakat Papua Selatan.</p>
<p>YPPK Merauke kemudian menyelenggarakan pendidikan dengan mengikuti skema sederhana yang diperkenalkan UNESCO (<em>United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization</em>), yakni mendampingi subjek didik dalam proses belajar.</p>
<p>Pendampingan tersebut mencakup pembelajaran moral dan intelektual, seperti mengetahui dan memahami (<em>learning to know</em>), belajar melakukan sesuatu (<em>learning to do</em>), belajar menjadi diri sendiri (<em>learning to be oneself</em>), dan terutama belajar menjalani kehidupan bersama (<em>learning to live together</em>).</p>
<p>Dalam proses belajar yang bergradasi, anak-anak bertumbuh menjadi individu dan anggota masyarakat yang sehat dan cerdas, religius, berkesadaran moral dan hukum, serta berkomitmen hidup bermasyarakat dengan sejahtera, jelas Ketua YPPK tersebut.</p>
<p>YPPK Merauke sebagai lembaga swasta yang bertanggung jawab atas pengembangan generasi muda meneruskan warisan yang telah ada sebelumnya.</p>
<p>“Jauh sebelum ada YPPK, reksa pastoral pendidikan telah lama ada di Papua yang diemban para misionaris MSC (Misionaris Hati Kudus Yesus) yang datang ke Merauke sejak tahun 1905,” lanjut Pastor Kelbulan.</p>
<p>Para misionaris asal Belanda tersebut telah berperan sangat besar dalam melahirkan dan menumbuhkembangkan pendidikan dan persekolahan Katolik di Papua Selatan, dengan cara sederhana menuju model persekolahan yang semakin modern.</p>
<p>“Mereka telah mengangkat harkat dan martabat manusia Papua berdasarkan nilai-nilai Injili,” imbuhnya.</p>
<p><strong>Enam Periode Pendidikan Katolik di Papua Selatan</strong></p>
<p>Sekadar meringkas lintasan sejarah tersebut, skema pendidikan Katolik di Tanah Papua, khususnya di wilayah Selatan, dibagi dalam enam periode, lanjut Pastor Kelbulan.</p>
<p><strong>Periode pertama</strong> berlangsung antara tahun 1905–1920, yang ditandai dengan awal penanaman iman Kristiani melalui pewartaan Injil sekaligus pengenalan peradaban dan integrasi budaya.</p>
<p><strong>Periode kedua</strong> berlangsung sekitar tahun 1921–1950 dan melahirkan apa yang disebut sebagai “Sekolah Peradaban”. Pada era tersebut, pendidikan Katolik telah tumbuh dan menyebar luas di seluruh Keuskupan Agung Merauke melalui hadirnya sekolah-sekolah rakyat.</p>
<p><strong>Periode ketiga</strong> terjadi sekitar tahun 1951–1962, yang menyaksikan adanya era peralihan dari sekolah peradaban menjadi sekolah formal dengan sistem kurikulum yang merata di banyak sekolah.</p>
<p>Menyusul <strong>periode keempat</strong> antara tahun 1963 dan 1973, yang diikuti oleh sejumlah peralihan dan penyesuaian sistem pendidikan di banyak wilayah Indonesia, termasuk di Papua.</p>
<p>Pada tahun-tahun tersebut, Keuskupan Agung Merauke menyaksikan lahirnya SMA pertama yang ada di seluruh Papua Selatan, yakni SMA YPPK Yoanes XXIII, pada 1 Agustus 1963.</p>
<p>Sekolah tersebut lahir dua tahun setelah wilayah Vikariat Apostolik Merauke—nama lama Keuskupan Agung Merauke—berubah status menjadi Keuskupan Agung Merauke pada 15 November 1961 di era kepemimpinan Mgr. Herman Tillemans, MSC (1902–1975).</p>
<p><strong>Periode kelima</strong> berlangsung sekitar tahun 1974–2003, yang menyaksikan lahirnya Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Merauke.</p>
<p>Pada era tersebut, banyak sekolah, baik swasta maupun negeri, muncul di berbagai wilayah Papua Selatan dan wilayah-wilayah Papua lainnya.</p>
<p>Masa modern ini kemudian diikuti <strong>periode keenam</strong>, yang terhitung sejak 23 Mei 2003 hingga sekarang. Seperempat abad terakhir dari era pendidikan ini, persekolahan telah berkembang pesat di berbagai tempat, bersamaan dengan meluasnya kiprah YPPK Merauke di banyak pelosok Papua Selatan.</p>
<p><strong>Perkembangan di Milenium Baru</strong></p>
<p>Di milenium baru tahun 2000, banyak hal penting terjadi. Pada awal-awal era baru tersebut, beberapa kongregasi religius, wadah-wadah paroki, maupun kaum awam di Merauke merasa terpanggil untuk membantu menyelenggarakan dan memperkuat wadah pendidikan yang ada di Keuskupan Agung Merauke, ujar Pastor Kelbulan berkisah.</p>
<p>Hal tersebut berlanjut pada kesepakatan antara para pemerhati pendidikan dan Uskup Keuskupan Agung Merauke untuk mulai membangun sekolah-sekolah Katolik, baik berbasis kongregasi maupun berbasis paroki dan inisiatif lainnya dari kaum awam di Merauke.</p>
<figure id="attachment_9911" aria-describedby="caption-attachment-9911" style="width: 1407px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-9911" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.54.33-1-300x178.jpeg" alt="" width="1407" height="835" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.54.33-1-300x178.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-22-at-08.54.33-1.jpeg 396w" sizes="(max-width: 1407px) 100vw, 1407px" /><figcaption id="caption-attachment-9911" class="wp-caption-text"><strong>Momen Pelantikan MPK Keuskupan Agung Merauke tahun 2022 oleh Uskup Agung Merauke Mgr. P.C. Mandagi, MSC (File: YPPK Merauke)</strong></figcaption></figure>
<p>Keprihatinan mereka beralasan karena wilayah Papua kala itu dipandang sebagai wilayah yang belum cukup maju dalam banyak hal, terutama dalam bidang pendidikan.</p>
<p>“Kesepakatan itu ternyata melahirkan lebih banyak sekolah, baik di tingkat dasar maupun pendidikan lanjutan. Hingga kini, sekolah-sekolah ini tetap eksis berdiri sekalipun melewati banyak tantangan,” tutur Ketua YPPK tersebut.</p>
<p>Dalam dua dekade, YPPK Merauke telah memberikan andil sangat penting dalam pembangunan manusia Papua melalui pendidikan.</p>
<p>Pada tahun 2019, para ketua Yayasan Pendidikan Katolik yang tersebar di Keuskupan Agung Merauke mencapai kesepakatan untuk membentuk satu perkumpulan.</p>
<p>“Tujuannya untuk bisa berbagi bersama, sepenanggungan, dan saling menguatkan dalam menangani urusan-urusan pendidikan. Mereka lalu memutuskan mendirikan wadah bernama MPK Merauke (<em>Majelis Pendidikan Katolik</em>). Sejak itu mereka eksis dan berswadaya, meski wadah dan keanggotaannya belum dilantik secara resmi,” ujar Pastor tersebut, mengingat sejarahnya.</p>
<p>Upaya tersebut ternyata tidak sia-sia. Atas inisiatif mereka, diadakan musyawarah pembentukan MPK resmi pada 27 Oktober 2022. Hal ini merupakan tindak lanjut keputusan tahun 2019.</p>
<p>“Hal yang menarik, rapat itu menyepakati pembentukan badan pengurus MPK final untuk beroperasi pada periode 2022–2025. Sekaligus, rapat itu memberi mandat untuk menyusun program kerja MPK untuk periode 2022–2025,” kenangnya.</p>
<p>Pada 5 November 2022, upaya besar tersebut akhirnya mendapat legitimasi dengan pelantikan resmi wadah MPK yang diketuai oleh YPPK Merauke. Sampai saat ini, badan pengurus tersebut masih tetap aktif bertugas.</p>
<p>“Hal yang menggembirakan adalah semua Yayasan Katolik yang ada di Keuskupan Agung Merauke kala itu terlibat aktif menjadi anggota MPK, tidak terkecuali YPPK Merauke,” ujarnya lagi.</p>
<p>Wadah MPK ini membawahi yayasan-yayasan pendidikan Katolik di lingkungan Keuskupan Agung Merauke yang mencakup:</p>
<p><strong>Yayasan St. Fransiskus Asisi</strong> — 1 sekolah SMA.</p>
<p><strong>Yayasan St. Yoseph</strong> — 1 sekolah SMA.</p>
<p><strong>Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Keuskupan Agung Merauke</strong> — 169 sekolah dari TK hingga SMA.</p>
<p><strong>Yayasan Chevalier Amam Bekai</strong> — 3 sekolah SMA.</p>
<p><strong>Yayasan St. Laurensius</strong> — 2 sekolah TK.</p>
<p><strong>Yayasan Mgr. Gariel Manek</strong> — 1 sekolah TK dan 1 sekolah SD.</p>
<p><strong>Yayasan Bakti Luhur</strong> — 1 sekolah SLB.</p>
<p><strong>Yayasan St. Antonius</strong> — 1 sekolah SMK.</p>
<p><strong>Yayasan Bunda Hati Kudus</strong> — 5 sekolah TK.</p>
<p><strong>Yayasan Maria Mediatrix</strong> — 1 sekolah SMP.</p>
<p>Pendidikan Katolik melalui Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) maupun wadah MPK di Tanah Papua telah menunjukkan rekam jejak historis yang sangat berarti, baik sebagai pionir maupun sebagai pelanjut pendidikan yang telah ada.</p>
<p>Semuanya memiliki komitmen yang sama, yakni meningkatkan kecerdasan dan memajukan peradaban manusia Papua secara luas.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dosen UNP Dorong Transformasi Digital Guru SMAN 2 Kinali &#8211; Sumbar Melalui AI dan Penguatan Kompetensi Akademik</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/dosen-unp-dorong-transformasi-digital-guru-sman-2-kinali-sumbar-melalui-ai-dan-penguatan-kompetensi-akademik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2026 11:51:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Dosen UNP Dorong Transformasi Digital Guru SMAN 2 Kinali]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar Melalui AI dan Penguatan Kompetensi Akademik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9869</guid>

					<description><![CDATA[Laporan: Leni Marlina &#8211; Pasaman Barat, Agustus 2026. SAN Media Group &#8211; Perubahan di dunia pendidikan tidak selalu datang lewat kebijakan baru atau perangkat yang lebih canggih. Kadang, ia hadir melalui pertanyaan sederhana di ruang guru: bagaimana mengajar dengan lebih baik ketika teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada kebiasaan kita? Pertanyaan semacam itu mengemuka dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Laporan: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pasaman Barat, Agustus 2026. SAN Media Group &#8211; Perubahan di dunia pendidikan tidak selalu datang lewat kebijakan baru atau perangkat yang lebih canggih. Kadang, ia hadir melalui pertanyaan sederhana di ruang guru: bagaimana mengajar dengan lebih baik ketika teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada kebiasaan kita?</p>
<p>Pertanyaan semacam itu mengemuka dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen Universitas Negeri Padang (UNP) di SMAN 2 Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu (8/8/2026).</p>
<p>SMAN 2 Kinali berada di Jorong VI Koto Utara, Lubuk Talang, Nagari Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Data resmi Kemendikdasmen mencatat posisi sekolah pada sekitar 0,0477° LS dan 99,9479° BT, dengan luas lahan sekitar 14.750 meter persegi. Sekolah ini berstatus negeri dan berada pada jenjang pendidikan menengah atas.</p>
<figure id="attachment_9872" aria-describedby="caption-attachment-9872" style="width: 1483px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class=" wp-image-9872" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-21-at-20.55.14-300x189.jpeg" alt="" width="1483" height="934" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-21-at-20.55.14-300x189.jpeg 300w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-21-at-20.55.14-1024x644.jpeg 1024w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-21-at-20.55.14-768x483.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-21-at-20.55.14.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1483px) 100vw, 1483px" /><figcaption id="caption-attachment-9872" class="wp-caption-text"><strong>Gambar: SMAN 2 Kinali &#8211; Pasaman, Sumatera Barat. (Dok. Leni Marlina)</strong></figcaption></figure>
<p>Secara kewilayahan, Kinali merupakan salah satu kawasan penting di Pasaman Barat. Karena sekolah berada di lingkungan masyarakat Kinali, keberadaan SMAN 2 Kinali tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan pendidikan masyarakat setempat. Bahkan, sejarah pendiriannya berangkat dari persoalan nyata: jumlah lulusan SMP/MTs di Kinali yang membutuhkan akses pendidikan menengah atas semakin besar, sementara sekolah yang telah ada belum mampu menampung seluruh calon peserta didik.</p>
<p>SMAN 2 Kinali sendiri relatif muda. Data resmi mencatat SK pendiriannya bertanggal 22 Agustus 2016, sementara sejarah sekolah menyebut sekolah mulai berkembang untuk menjawab kebutuhan pendidikan masyarakat Kinali dan kemudian menempati gedung barunya pada semester kedua tahun pelajaran 2016/2017.</p>
<p>Dari sisi pendidikan, SMAN 2 Kinali merupakan sekolah negeri dengan akreditasi B. Data Kemendikdasmen yang diperbarui pada 2026 mencatat 106 peserta didik, sedangkan laman resmi sekolah menunjukkan bahwa sekolah terus menjalankan kegiatan akademik, termasuk penerimaan peserta didik baru dan proses kelulusan.</p>
<p>Sekolah juga memiliki lahan yang cukup luas, sekitar 1,475 hektare, serta tercatat memiliki akses internet melalui fibre optic/shared dan sumber listrik PLN. Kondisi ini penting dicatat karena menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai transformasi digital di sekolah bukan berlangsung di ruang yang sepenuhnya terputus dari teknologi. Infrastruktur dasar digital telah tersedia, sementara tantangan berikutnya adalah bagaimana infrastruktur tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran dan produktivitas akademik guru.</p>
<p>Yang menarik, sejarah SMAN 2 Kinali memperlihatkan bahwa sekolah ini tumbuh dari kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan. Dengan demikian, penguatan kompetensi guru di sekolah tersebut memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar peningkatan kemampuan individual. Ketika guru semakin mampu memanfaatkan teknologi, menghasilkan karya ilmiah, dan mengembangkan pembelajaran, dampaknya berpotensi kembali kepada peserta didik dan masyarakat yang dilayani sekolah.</p>
<p>Di titik inilah pelatihan yang diberikan dosen UNP memperoleh konteksnya. AI, publikasi ilmiah, dan growth mindset bukan sekadar tiga materi pelatihan, melainkan bagian dari kebutuhan sekolah untuk memastikan bahwa perubahan teknologi juga diikuti perubahan cara guru belajar, bekerja, dan mengembangkan pembelajaran.</p>
<p>Sebanyak 30 guru di SMAN 2 Kinali mengikuti pelatihan dan pendampingan bertema “Digitalisasi Pembelajaran melalui Pelatihan dan Pendampingan untuk Meningkatkan Produktivitas Akademik Guru SMAN 2 Kinali Pasaman Barat.”</p>
<p>Namun, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pembicaraan tentang perangkat digital. Ada tiga hal yang menjadi perhatian: bagaimana guru menghasilkan pengetahuan melalui publikasi ilmiah, bagaimana AI digunakan secara cermat untuk mendukung pekerjaan akademik dan pembelajaran, serta bagaimana guru mempertahankan kemauan untuk terus belajar ketika dunia pendidikan berubah.</p>
<p>Dr. Rino, S.Pd., M.Pd., M.M., mengawali sesi dengan pembahasan mengenai publikasi ilmiah. Guru diajak melihat pengalaman mengajar dari sudut yang berbeda. Persoalan yang berulang di kelas, strategi yang pernah dicoba, atau perubahan yang terjadi pada peserta didik dapat menjadi bahan untuk penelitian dan tulisan ilmiah.</p>
<p>Dengan cara pandang itu, publikasi bukan sekadar urusan menambah daftar karya atau memenuhi tuntutan profesional. Ia dapat menjadi ruang bagi guru untuk mencatat apa yang mereka temukan di kelas, mengujinya secara akademik, lalu membagikannya kepada orang lain.</p>
<p>Peserta juga mendapatkan penguatan mengenai pemilihan topik penelitian, penyusunan karya ilmiah, penulisan artikel, serta peluang publikasi pada jurnal yang relevan.</p>
<p>Pembahasan kemudian bergerak ke wilayah yang sedang mengubah banyak pekerjaan, termasuk pekerjaan guru: Artificial Intelligence (AI).</p>
<p>Dr. Zul Afdal, M.Pd., memperkenalkan berbagai kemungkinan pemanfaatan AI dalam pembelajaran dan aktivitas akademik. Teknologi tersebut dapat membantu guru mencari dan mengembangkan gagasan, menyiapkan bahan pembelajaran, serta mendukung pekerjaan akademik.</p>
<p>Tetapi ada satu batas yang tidak boleh kabur: teknologi membantu pekerjaan guru, bukan mengambil alih pertimbangan guru.</p>
<p>AI mungkin dapat menghasilkan teks dalam hitungan detik. Ia mungkin dapat menawarkan banyak alternatif. Namun, ia tidak berada di ruang kelas ketika seorang guru melihat seorang siswa tiba-tiba diam, kehilangan minat, atau justru menemukan keberanian untuk bertanya.</p>
<p>Karena itu, pembicaraan mengenai AI dalam kegiatan tersebut ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: bagaimana teknologi digunakan secara produktif tanpa menghilangkan peran manusia dalam pendidikan.</p>
<p>Antusiasme peserta tampak terutama ketika sesi berlanjut pada diskusi dan pendampingan. Bagi guru, teknologi yang semula terasa jauh menjadi sesuatu yang dapat disentuh, dicoba, dipertanyakan, dan dipelajari.</p>
<p>Sementara itu, Dra. Armida S., M.Si., membawa peserta pada persoalan yang tidak kalah penting: kesiapan manusia yang menggunakan teknologi tersebut.</p>
<p>Melalui materi growth mindset, guru diajak melihat kemampuan bukan sebagai sesuatu yang berhenti pada satu titik. Kemampuan dapat bertambah melalui latihan, pengalaman, kesalahan, refleksi, dan kemauan untuk mencoba kembali.</p>
<p>Pesannya sederhana, tetapi relevan dengan perubahan yang sedang berlangsung. Guru tidak harus mengetahui semuanya sejak awal. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk belajar ketika sesuatu yang baru datang.</p>
<p>Di titik ini, digitalisasi pendidikan ternyata bukan semata-mata persoalan teknologi. Ia juga menyangkut keberanian untuk mengubah kebiasaan.</p>
<p>Pelatihan di SMAN 2 Kinali diharapkan menjadi awal dari proses yang lebih panjang. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi diteruskan dalam bentuk praktik pembelajaran, karya ilmiah, pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, dan inovasi yang lahir dari kebutuhan nyata di sekolah.</p>
<p>Bagi Universitas Negeri Padang, pengabdian seperti ini sekaligus membuka ruang perjumpaan antara pengetahuan perguruan tinggi dan pengalaman guru di lapangan. Keduanya memiliki bahasa yang berbeda, tetapi bertemu pada satu kepentingan: membuat pembelajaran menjadi lebih baik.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, ukuran transformasi pendidikan bukan terletak pada seberapa banyak aplikasi yang dikuasai seorang guru.</p>
<p>Ukurannya jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apakah guru menjadi lebih siap menghadapi perubahan, apakah pekerjaannya menjadi lebih bermakna, dan apakah peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik.</p>
<p>Di sanalah teknologi menemukan batas sekaligus gunanya, bukan menggantikan guru, melainkan memberi guru lebih banyak ruang untuk melakukan pekerjaan yang paling manusiawi: mengajar, memahami, dan menumbuhkan manusia lain. (LM-SAN)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SECANGKIR KOPI 9</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/secangkir-kopi-9</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2026 10:38:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[SECANGKIR KOPI 9]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9865</guid>

					<description><![CDATA[SECANGKIR KOPI CAK MUS,  SEDUHAN ISTERI  &#8211; 21.08.26 &#8211; hangat kopi kemarau, senyummu tetap mekar kembang dadap menyala merah durimu bertahan menusuk nyeri luka kehidupan daun-daun rela bergugur demi marwah bertahta garing tetumbuhan bongkah tanah tandus namun akarmu menyimpan gelora hujan akan trubus di kala gerimis mendawam terlalu sering marahku lontar tanpa bijakan seduh kopimu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SECANGKIR KOPI CAK MUS,  SEDUHAN ISTERI  &#8211; 21.08.26</p>
<p>&#8211;</p>
<p>hangat kopi kemarau, senyummu tetap mekar<br />
kembang dadap menyala merah<br />
durimu bertahan menusuk nyeri luka kehidupan<br />
daun-daun rela bergugur demi marwah bertahta<br />
garing tetumbuhan bongkah tanah tandus<br />
namun akarmu menyimpan gelora hujan<br />
akan trubus di kala gerimis mendawam</p>
<p>terlalu sering marahku lontar tanpa bijakan<br />
seduh kopimu dialog ramah kejujuran<br />
kukatakan hanya racikmu langit kenyataan<br />
takkan mungkin belam keutuhan<br />
kita berdua takkan terpisahkan</p>
<p>menyanyi lagu kerinduan berdenting gitar<br />
senja ini langit jingga memeluk kesangsian<br />
bahwa kemarau menunggu suara hujan<br />
kita memanggilnya laut doa harapan<br />
menyimpan matahari menghimpun mendung<br />
akan menitis titah kesuburan</p>
<p>tabahkanlah seduhmu jangan resah kemudian<br />
hari ini kau terindah menyaji kegigihan<br />
apa pun terjadi damai menguap elan<br />
secangkir kopi yang mendulungkan<br />
perahu tetap tenang meski badai menghantam</p>
<p>Lamongan, 21-8-2026</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NORDIC SEROJA KOTA BATU</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/nordic-seroja-kota-batu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2026 10:20:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olah Raga]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[NORDIC SEROJA KOTA BATU]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9862</guid>

					<description><![CDATA[Merawat Kebersamaan, Menguatkan Nasionalisme dalam Semangat HUT RI ke-81 Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Komunitas Jalan Nordic Indonesia (KJNI) Kota Batu menggelar kegiatan “Nordic Seroja” di Panorama, Kota Batu, pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kegiatan yang dipimpin oleh Ibu Yoni Burhan selaku ketua ini menjadi momentum istimewa untuk mempererat silaturahmi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Merawat Kebersamaan, Menguatkan Nasionalisme dalam Semangat HUT RI ke-81</p>
<p>Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Komunitas Jalan Nordic Indonesia (KJNI) Kota Batu menggelar kegiatan “Nordic Seroja” di Panorama, Kota Batu, pada Rabu, 19 Agustus 2026.</p>
<p>Kegiatan yang dipimpin oleh Ibu Yoni Burhan selaku ketua ini menjadi momentum istimewa untuk mempererat silaturahmi sekaligus membangun semangat kebersamaan di antara para pegiat Nordic Walking di Kota Batu.</p>
<p>Acara tersebut dihadiri oleh berbagai kelompok Nordic yang berada di Kota Batu, yaitu Nordic Panorama, Mansera, Selecta Ceria, dan Babe. Kehadiran lintas kelompok ini menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi ruang perjumpaan yang menyatukan masyarakat tanpa membedakan latar belakang.</p>
<p>Nordic Walking, Sehat dan Bersahabat</p>
<p>Nordic Walking bukan sekadar aktivitas olahraga. Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, kegiatan seperti ini menjadi ruang untuk menjaga kesehatan, menikmati lingkungan, sekaligus membangun persaudaraan.</p>
<p>Dengan suasana Kota Batu yang sejuk dan penuh panorama alam, langkah kaki para peserta menjadi simbol sederhana tentang bagaimana masyarakat dapat terus bergerak bersama.</p>
<p>Langkah demi langkah, tubuh menjadi sehat.<br />
Pertemuan demi pertemuan, persaudaraan semakin erat.</p>
<p>Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Nordic Seroja.</p>
<p>Merah Putih dalam Langkah Kebersamaan</p>
<p>Peringatan HUT RI ke-81 memberikan makna yang lebih luas bagi kegiatan tersebut. Kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara dan seremoni, tetapi juga melalui aktivitas positif yang memperkuat kualitas kehidupan masyarakat.</p>
<p>Para anggota KJNI Kota Batu memperlihatkan bahwa nasionalisme dapat hadir dalam banyak bentuk: menjaga kesehatan, merawat persahabatan, mencintai lingkungan, dan membangun komunitas yang guyub.</p>
<p>Nordic Seroja menjadi salah satu cara sederhana untuk mengisi kemerdekaan.</p>
<p>Bukan dengan banyak kata, melainkan dengan langkah nyata.</p>
<p>Seroja: Simbol Kebersamaan</p>
<p>Nama “Seroja” terasa tepat sebagai simbol kegiatan. Bunga seroja tumbuh di atas air, menghadirkan keindahan meskipun berakar dari lingkungan yang tidak selalu mudah.</p>
<p>Begitu pula sebuah komunitas. Ia tumbuh karena ada kebersamaan, kepedulian, dan kemauan untuk terus bergerak.</p>
<p>Di bawah kepemimpinan Ibu Yoni Burhan, KJNI Kota Batu menunjukkan bahwa komunitas olahraga dapat berkembang menjadi ruang silaturahmi dan penguatan kehidupan sosial.</p>
<p>Empat kelompok—Panorama, Mansera, Selecta Ceria, dan Babe—bertemu dalam satu semangat:</p>
<p>&gt; Berjalan bersama untuk sehat,<br />
bersilaturahmi untuk kuat,<br />
dan bergerak bersama untuk Indonesia.</p>
<p><strong>SEMANGAT KEMERDEKAAN</strong></p>
<p>Menutup Agustus dengan Semangat Kemerdekaan</p>
<p>Nordic Seroja di Panorama Kota Batu bukan sekadar kegiatan olahraga. Ia menjadi catatan kecil tentang bagaimana kemerdekaan dirayakan dari lingkungan masyarakat.</p>
<p>Di usia 81 tahun Indonesia merdeka, semangat itu perlu terus dirawat melalui tindakan-tindakan sederhana yang membawa manfaat.</p>
<p>Sebab Indonesia yang kuat tidak hanya dibangun dari pusat-pusat kekuasaan, tetapi juga dari komunitas-komunitas kecil yang terus menjaga kesehatan, persaudaraan, gotong royong, dan kecintaan kepada tanah air.</p>
<p>Dari Panorama Kota Batu, langkah-langkah kecil itu menjadi pesan besar:</p>
<p>**MERDEKA UNTUK SEHAT.</p>
<p>MERDEKA UNTUK BERSILATURAHMI.<br />
MERDEKA UNTUK TERUS BERGERAK BERSAMA.**</p>
<p>Nordic Seroja — KJNI Kota Batu.<br />
Langkah sehat, persaudaraan kuat, Indonesia hebat.</p>
<p>Kota Batu, 21 Agustus 2026<br />
Akaha Taufan Aminudin<br />
HP3N SATUPENA JAWA TIMUR</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>IKHTIAR MENJADI TENDA BESAR DI INDONESIA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/ikhtiar-menjadi-tenda-besar-di-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2026 00:08:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[IKHTIAR MENJADI TENDA BESAR DI INDONESIA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9852</guid>

					<description><![CDATA[&#8211; Daftar Pengurus SATUPENA 2026–2031 dan Anggaran Dasar Baru Disahkan Menteri Hukum Oleh Denny JA Sebelum Harry Potter menjadi fenomena dunia, J.K. Rowling adalah penulis yang belum mapan. Ia membesarkan anak seorang diri. Dan ia berjuang menyelesaikan dunia imajinasinya. Lalu ekosistem sastra ikut bekerja. Scottish Arts Council memberinya hibah yang membantu menyediakan ruang ekonomi untuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8211; Daftar Pengurus SATUPENA 2026–2031 dan Anggaran Dasar Baru Disahkan Menteri Hukum</strong></p>
<p>Oleh Denny JA</p>
<p>Sebelum Harry Potter menjadi fenomena dunia, J.K. Rowling adalah penulis yang belum mapan. Ia membesarkan anak seorang diri. Dan ia berjuang menyelesaikan dunia imajinasinya.</p>
<p>Lalu ekosistem sastra ikut bekerja. Scottish Arts Council memberinya hibah yang membantu menyediakan ruang ekonomi untuk terus menulis. Penerbit kecil Bloomsbury mengambil risiko menerbitkan karya yang sebelumnya ditolak berkali-kali.</p>
<p>Kita tahu kelanjutannya. Harry Potter menjelma menjadi salah satu kisah paling sukses dalam sejarah penerbitan modern.</p>
<p>Kisah Rowling mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan: bakat memang lahir pada individu, tetapi bakat membutuhkan ekosistem agar menemukan jalannya.</p>
<p>Kadang-kadang, yang memisahkan sebuah manuskrip dari sejarah hanyalah hadirnya komunitas yang percaya.</p>
<p>-000-</p>
<p>Tanggal 20 Agustus 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA. Sebuah babak kelembagaan baru dimulai.</p>
<p>Menteri Hukum Republik Indonesia mengesahkan perubahan Anggaran Dasar SATUPENA melalui Keputusan Nomor AHU-0001453.AH.01.08.TAHUN 2026. Keputusan itu ditetapkan di Jakarta.</p>
<p>Keputusan tersebut memberikan persetujuan terhadap perubahan Anggaran Dasar berdasarkan Akta Nomor 07, tanggal 13 Agustus 2026. Kini landasan organisasi itu memperoleh pengesahan pemerintah.</p>
<p>Perubahan Anggaran Dasar telah tercatat dalam Sistem Administrasi Badan Hukum. Pengesahan itu berlaku secara administratif sejak keputusan Menteri ditetapkan.</p>
<p>Pengesahan tersebut sekaligus mencatat kepengurusan baru SATUPENA. Saya, Denny JA, kembali memperoleh amanah sebagai Ketua Umum.</p>
<p>Namun perubahan yang lebih mendasar bukanlah nama-nama itu. Yang lebih penting adalah arsitektur organisasi yang hendak dibangun untuk menghadapi zaman baru kepenulisan.</p>
<p>Dewan Penasehat ditiadakan. Struktur baru diperkuat melalui Dewan Pengawas dan Dewan Pakar. Fungsi pengawasan dan pemikiran strategis kini memperoleh ruang yang berbeda.</p>
<p>Susunan personalia lengkap masih terus disempurnakan. Termasuk di dalamnya kepengurusan berbagai bidang dan Ketua SATUPENA daerah yang direncanakan hadir di setiap provinsi Indonesia.</p>
<p>Ini penting. Indonesia bukan hanya Jakarta. Sastra dan dunia penulisan Indonesia juga tidak pernah lahir hanya dari pusat kekuasaan, pusat penerbitan, ataupun pusat kebudayaan nasional.</p>
<p>Indonesia ditulis dari Aceh, Padang dan Makassar. Dari Kupang, Manado, Pontianak, hingga Papua. Ia juga ditulis dari desa, pesantren, kampus, dan kamar sederhana.</p>
<p>Suara kebudayaan dapat datang dari mana saja. Bahkan, tidak jarang suara yang kelak mengubah zaman justru pertama kali terdengar jauh dari pusat.</p>
<p>Tenda besar yang kami bayangkan memperoleh kekuatannya di sana. Suara-suara dari pinggir tak perlu lagi meminta izin kepada pusat agar dapat terdengar.</p>
<p>Susunan sementara kepengurusan SATUPENA 2026–2031 dicantumkan pada bagian akhir tulisan ini.</p>
<p>-000-</p>
<p>Mengapa Penulis Tetap Membutuhkan Tenda Besar?</p>
<p>Pertama, penulis membutuhkan modal sosial. Modal intelektual saja tidak cukup. Kebutuhan ini justru membesar ketika teknologi memungkinkan manusia menghasilkan karya dalam kesendirian.</p>
<p>Robert D. Putnam menyebut jaringan, kepercayaan, dan norma resiprositas sebagai unsur penting modal sosial. Semua itu memungkinkan manusia mengerjakan sesuatu bersama secara lebih efektif.</p>
<p>Penulis memang bekerja dalam kesunyian. Namun ekosistem kepenulisan tidak pernah dibangun sendirian. Ada editor, penerjemah, penerbit, kritikus, pembaca, festival, perpustakaan, dan komunitas.</p>
<p>Sebuah buku mungkin hanya mencantumkan satu nama pada sampulnya. Tetapi perjalanan sebuah gagasan hingga memasuki kesadaran publik hampir selalu merupakan perjalanan sosial.</p>
<p>Di sinilah asosiasi menjadi infrastruktur sosial. Ia mempertemukan orang yang berbeda generasi, daerah, genre, keyakinan, selera artistik, bahkan berbeda pandangan mengenai sastra.</p>
<p>Perbedaan itu tidak perlu dihapus. Justru sebaliknya. Sebuah komunitas intelektual akan kehilangan denyut kehidupannya ketika semua orang diwajibkan memandang dunia dengan cara seragam.</p>
<p>Saya semakin percaya pada prinsip sederhana. Sebuah forum penulis tidak perlu menyatukan pikiran anggotanya. Keseragaman bahkan dapat menjadi musuh kehidupan intelektual.</p>
<p>Sebagai forum, semakin beragam SATUPENA, semakin baik. Namun sebagai organisasi, pengurusnya memerlukan kekompakan agar perbedaan gagasan tidak berubah menjadi kelumpuhan tindakan.</p>
<p>Lalu datanglah AI. Ia mengubah permainan. Teknologi kini mampu memperbanyak teks dengan kecepatan yang sebelumnya hampir mustahil dibayangkan dalam sejarah kepenulisan manusia.</p>
<p>Kelangkaan teks mulai menghilang. Karena itu, nilai manusia bergeser. Yang menjadi semakin berharga justru pengalaman, integritas, reputasi, perspektif, keaslian suara, dan hubungan antarmanusia.</p>
<p>Mesin dapat membantu menemukan metafora. Mesin dapat menerjemahkan bahasa dan merangkum pustaka. Ia bahkan dapat mengusulkan struktur tulisan. Tetapi komunitas adalah perkara berbeda.</p>
<p>Komunitas bukan kumpulan kata-kata. Ia adalah jaringan kepercayaan antarmanusia. Ia tumbuh melalui waktu, perjumpaan, perbedaan, pertolongan, penghargaan, bahkan kenangan bersama.</p>
<p>-000-</p>
<p>Kedua, tenda besar diperlukan untuk menjaga keberagaman. Ironisnya, kebutuhan itu justru meningkat ketika teknologi digital membuat dunia semakin mudah terhubung.</p>
<p>Algoritma dapat mempertemukan kita dengan dunia. Namun algoritma juga dapat terus mempertemukan kita dengan mereka yang berpikir, membaca, menyukai, dan marah seperti kita.</p>
<p>Lahirlah gelembung-gelembung kecil. Kita merasa melihat dunia. Padahal, mungkin kita hanya sedang melihat pantulan diri sendiri yang diperbesar berkali-kali oleh teknologi.</p>
<p>Asosiasi penulis yang sehat harus melakukan kebalikannya. Ia mempertemukan penyair dengan novelis, penulis populer dengan akademisi, senior dengan pemula, pusat dengan daerah.</p>
<p>Bahkan mereka yang tidak saling menyukai harus memiliki tempat. Mereka tetap dapat mengakui satu sama lain sebagai bagian sah dari ekosistem kepenulisan Indonesia.</p>
<p>Karena itu, metafora yang saya sukai bukan benteng. Saya memilih tenda besar. Benteng membutuhkan musuh. Tenda besar membutuhkan ruang.</p>
<p>Di bawah tenda itu, penyair religius dapat duduk bersebelahan dengan humanis sekuler. Novelis eksperimental dapat berbicara dengan penulis populer. Masing-masing tetap menjadi dirinya.</p>
<p>Mereka tidak diwajibkan menyepakati estetika, politik, agama, ataupun filsafat kehidupan. Tetapi mereka dapat memperjuangkan kepentingan bersama sebagai manusia yang hidup melalui tulisan.</p>
<p>Kepentingan itu nyata. Kebebasan berekspresi. Perlindungan hak cipta. Penerjemahan. Literasi. Akses penerbitan. Penghargaan karya. Kesejahteraan penulis. Juga regenerasi dunia kepenulisan.</p>
<p>Kebudayaan besar tidak lahir karena semua orang menyanyikan nada yang sama. Ia tumbuh ketika perbedaan memperoleh ruang tanpa harus saling menghapus.</p>
<p>SATUPENA harus menjadi salah satu ruang itu. Ia bukan organisasi yang menentukan bagaimana penulis harus berpikir. Ia memungkinkan penulis berbeda tetap bersaudara.</p>
<p>-000-</p>
<p>Ketiga, revolusi AI menghadirkan persoalan baru. Martabat, kepemilikan, atribusi, autentisitas, hak ekonomi, dan masa depan profesi penulis kini memasuki wilayah yang semakin kompleks.</p>
<p>Seorang penulis akan kesulitan menghadapinya sendirian. Teknologi berubah cepat. Regulasi hak cipta berkembang. Kontrak digital dan praktik industri penerbitan pun terus bergerak.</p>
<p>Organisasi dapat mengumpulkan pengetahuan. Ia dapat menghadirkan pakar, membangun jejaring internasional, menyelenggarakan pendidikan, dan menyuarakan kepentingan penulis ketika suara bersama memang diperlukan.</p>
<p>Tetapi ada batas yang harus dijaga. Saya tidak ingin SATUPENA menjadi serikat tuntutan yang menjanjikan akan menyelesaikan setiap persoalan pribadi anggotanya.</p>
<p>Organisasi yang sehat justru memilih beberapa komitmen. Lalu mengerjakannya dengan serius. Selebihnya, ia menciptakan ekosistem agar anggota berkembang melalui kekuatan mereka sendiri.</p>
<p>Pengalaman memimpin SATUPENA membuat saya melihat satu hal sederhana. Teknologi digital bukan musuh komunitas. Ia menjadi masalah hanya ketika menggantikan kemanusiaan.</p>
<p>Webinar, misalnya, dapat mempertemukan penulis dari pulau berbeda tanpa tiket pesawat. Penerbitan digital membuat karya menembus hambatan geografis yang dahulu terasa begitu permanen.</p>
<p>Dunia berubah. Jarak menyusut. Percakapan yang dahulu membutuhkan perjalanan berhari-hari kini dapat terjadi dalam hitungan detik melalui sebuah layar kecil.</p>
<p>Namun teknologi hanyalah jalan raya. Manusia tetap menentukan arahnya. Jalan yang sama dapat membawa kita menuju perjumpaan atau menuju kesepian yang semakin canggih.</p>
<p>Karena itu, tantangan SATUPENA bukan melawan AI. Tantangannya adalah membantu penulis menggunakan AI tanpa kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: suara manusianya sendiri.</p>
<p>SATUPENA akan menyusun panduan etik AI bagi penulis Indonesia. Isinya sederhana: transparansi penggunaan, perlindungan hak cipta karya manusia, larangan menjiplak suara penulis lain melalui mesin.</p>
<p>Juga pengakuan bahwa gagasan tetap milik manusia yang memikirkannya. Kami juga akan membuka pelatihan agar penulis daerah tidak tertinggal. AI harus menjadi alat penulis, bukan sebaliknya, penulis menjadi bayangan mesinnya.</p>
<p>-000-</p>
<p>Dua Buku yang Membantu Memahami Tenda Besar</p>
<p>Robert D. Putnam, Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community, Simon &amp; Schuster, 2000.</p>
<p>Putnam menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Ketika partisipasi dalam perkumpulan menurun, modal sosial ikut melemah. Jaringan, kepercayaan, dan kebiasaan bekerja bersama perlahan ikut terkikis.</p>
<p>Relevansinya bagi penulis sangat kuat. Kreativitas memang personal. Tetapi kehidupan sastra bersifat sosial. Ketika penulis kehilangan komunitas, mereka juga kehilangan jaringan pembelajaran dan solidaritas.</p>
<p>Asosiasi bukan sekadar tempat berkumpul. Ia menciptakan hubungan. Melalui hubungan itulah pengetahuan, kesempatan, pengakuan, dan pertolongan bergerak dari seorang manusia kepada manusia lainnya.</p>
<p>Dalam perspektif Putnam, tenda besar penulis merupakan investasi modal sosial. Nilainya justru semakin tinggi ketika kehidupan digital mendorong manusia menjadi semakin individual.</p>
<p>-000-</p>
<p>Lewis Hyde, The Gift: Imagination and the Erotic Life of Property, Vintage Books, 1983.</p>
<p>Hyde mengajak kita melihat karya kreatif secara berbeda. Karya bukan semata komoditas. Ia juga sebuah pemberian yang memperoleh kehidupan ketika bergerak memasuki komunitas.</p>
<p>Seniman tentu harus hidup. Penulis berhak memperoleh pendapatan dan menikmati hak ekonominya. Namun nilai kebudayaan sebuah karya sering jauh melampaui harga transaksi pasarnya.</p>
<p>Di situlah paradoks muncul. Masyarakat membutuhkan karya penulis. Namun mekanisme pasar tidak selalu mampu menjamin kehidupan yang layak bagi manusia yang menciptakannya.</p>
<p>Karena itu kebudayaan membutuhkan institusi perantara. Ia membutuhkan filantropi, penghargaan, dana bantuan, dan komunitas yang menjaga energi kreatif tetap mengalir ketika pasar gagal menopangnya.</p>
<p>-000-</p>
<p>Dari Komunitas Menuju Dana Abadi Penulis</p>
<p>Di sinilah saya melihat salah satu pekerjaan besar SATUPENA pada masa mendatang. Kita perlu perlahan membangun fondasi menuju sebuah dana abadi bagi penulis Indonesia.</p>
<p>Apa itu dana abadi? Prinsipnya sederhana. Ia bukan rekening bantuan yang dikumpulkan hari ini, kemudian seluruh uangnya dihabiskan besok.</p>
<p>Dana abadi adalah modal jangka panjang. Pokoknya dijaga dan dikembangkan. Hasil pengelolaannya digunakan secara berkelanjutan untuk menjalankan misi yang telah ditetapkan.</p>
<p>Bagi komunitas penulis, manfaatnya dapat beragam. Bantuan darurat, penghargaan, penerjemahan, residensi, pendidikan, beasiswa, ataupun program lain dapat dibiayai berdasarkan aturan yang transparan.</p>
<p>Ada preseden sejarah yang mengharukan. Salah satu yang paling menarik dapat ditemukan pada perjalanan Royal Literary Fund di Inggris.</p>
<p>Akar lembaga itu bermula pada 1788. David Williams mendengar nasib Floyer Sydenham, penerjemah Plato yang meninggal miskin setelah mengalami penjara karena utang.</p>
<p>Sebuah kematian kemudian melahirkan kesadaran. Williams mengembangkan literary fund untuk membantu pengarang yang menghadapi kesulitan keuangan. Misinya kemudian bertahan melintasi dua abad.</p>
<p>Bayangkan kekuatan sebuah gagasan. Seseorang meninggal dalam kemiskinan pada abad kedelapan belas. Namun tragedinya justru melahirkan institusi yang membantu penulis berabad-abad kemudian.</p>
<p>Di situlah perbedaan bantuan dan institusi. Bantuan mengurangi penderitaan hari ini. Institusi yang dirancang dengan baik dapat mencegah penderitaan berulang pada generasi berikutnya.</p>
<p>Saya membayangkan SATUPENA suatu hari memiliki dana semacam itu. Ia dapat dibangun perlahan melalui filantropi, donasi, warisan, kemitraan, serta berbagai sumber sah lainnya.</p>
<p>Tentu ada syarat mutlak. Dana itu tidak boleh menjadi dompet pribadi organisasi. Ia juga tidak boleh bergantung pada selera seorang ketua.</p>
<p>Ia harus profesional. Tata kelolanya transparan. Auditnya jelas. Kriteria penerimanya terbuka. Mekanisme investasinya berhati-hati. Pertanggungjawabannya harus dapat diperiksa publik.</p>
<p>Jika berhasil, kepengurusan akan datang dan pergi. Nama-nama berubah. Tetapi dana tersebut tetap bekerja, seperti pohon yang terus memberi keteduhan setelah penanamnya meninggalkan dunia.</p>
<p>Bagi saya, itulah ukuran tertinggi legacy sebuah organisasi. Bukan berapa banyak acara dibuat. Bukan pula berapa sering nama pengurusnya muncul.</p>
<p>Ukuran yang lebih penting adalah ini: berapa banyak kebaikan tetap bekerja ketika orang-orang yang dahulu membangunnya bahkan sudah tidak lagi berada di sana.</p>
<p>-000-</p>
<p>Tentu ada kontra-argumen yang serius. Mengapa masih membangun organisasi besar ketika seorang penulis kini dapat menerbitkan, mempromosikan, bahkan menjual karyanya sendiri?</p>
<p>Pertanyaan itu masuk akal. Bukankah organisasi justru dapat melahirkan birokrasi, hierarki, politik internal, dan perebutan jabatan yang akhirnya menghabiskan energi para penulis?</p>
<p>Kritik itu sah. Bahkan perlu. Sejarah organisasi kebudayaan juga dipenuhi pertengkaran, fragmentasi, dominasi kelompok, dan lembaga yang akhirnya hidup hanya untuk pengurusnya.</p>
<p>Bahaya itu nyata. Kita tidak perlu menutupinya. Justru karena itulah desain kelembagaan menjadi penting.</p>
<p>Kesimpulan yang tepat bukan menghapus organisasi. Yang diperlukan adalah organisasi yang ramping, transparan, digital, terbuka, terukur, dan tidak mencampuri kebebasan kreatif anggotanya.</p>
<p>Kita tidak membubarkan rumah sakit karena rumah sakit dapat menjadi birokratis. Kita memperbaiki tata kelolanya karena kebutuhan terhadap kesehatan tidak pernah menghilang.</p>
<p>Begitu pula organisasi penulis. Kegagalan sebuah organisasi bukan argumentasi melawan komunitas. Ia adalah argumentasi untuk membangun komunitas dengan tata kelola yang lebih sehat.</p>
<p>Teknologi memang memberi kemandirian luar biasa kepada individu. Justru karena individu semakin berdaya, organisasi tidak lagi harus menjadi penguasa. Ia dapat menjadi penghubung.</p>
<p>Perubahan paradigma itu penting. Organisasi tidak berdiri di atas penulis. Organisasi berdiri di antara penulis, menghubungkan kekuatan yang sebelumnya tercerai-berai.</p>
<p>SATUPENA tidak perlu menentukan siapa penulis terbaik. Ia juga tidak perlu menentukan aliran mana yang benar atau bagaimana seseorang seharusnya membayangkan dunia.</p>
<p>Cukuplah ia memperbesar kemungkinan. Penulis memperoleh jaringan. Penulis memperoleh pengetahuan. Penulis memperoleh panggung. Penulis menemukan persahabatan. Kadang-kadang, penulis juga menemukan pertolongan.</p>
<p>Komitmen ini bukan sekadar janji retoris. Ia adalah fondasi kelembagaan yang harus dijaga bersama. Tenda besar hanya bernilai ketika ia menolak menjadi panggung personal pimpinannya, dan justru menjadi ruang aman bagi kebebasan kreatif setiap penulis di dalamnya.</p>
<p>Keberhasilannya tidak diukur dari megahnya struktur, melainkan dari keberanian para penulis di bawah tenda itu menyampaikan kebenaran tanpa rasa takut.</p>
<p>-000-</p>
<p>Saya sendiri sampai pada sebuah kesimpulan setelah bertahun-tahun hidup di sekitar dunia gagasan. Karya besar memang dapat lahir dalam kesunyian.</p>
<p>Saya mengenal kesunyian itu. Menulis sering berarti berhadapan dengan halaman kosong seorang diri. Tidak ada organisasi yang dapat menggantikan pergulatan pribadi tersebut.</p>
<p>Namun saya juga belajar hal lain. Setelah sebuah tulisan selesai, ia membutuhkan dunia. Ia membutuhkan pembaca, percakapan, kritik, penerbitan, penerjemahan, dan ingatan kolektif.</p>
<p>Seorang penulis dapat menciptakan karya sendirian. Tetapi ekosistem yang memungkinkan ribuan karya lahir, dibaca, diperdebatkan, diterjemahkan, dan diwariskan membutuhkan kerja bersama.</p>
<p>Karena itu, periode 2026–2031 seharusnya tidak terutama dikenang sebagai periode ketika saya kembali memperoleh amanah menjadi Ketua Umum SATUPENA.</p>
<p>Jabatan selalu sementara. Organisasi seharusnya lebih panjang daripada jabatan. Gagasan bahkan seharusnya hidup jauh lebih lama daripada orang-orang yang pertama kali memperjuangkannya.</p>
<p>Saya berharap periode ini kelak dikenang sebagai masa ketika tenda diperluas. Daerah diperkuat. Teknologi dimanfaatkan. Tata kelola diperbaiki. Dana abadi mulai diperjuangkan.</p>
<p>Kita tidak mengetahui siapa penulis besar Indonesia tiga puluh tahun mendatang. Kita tidak tahu dari pulau mana ia datang atau bahasa apa yang membentuk imajinasinya.</p>
<p>Mungkin ia sekarang bahkan belum lahir. Mungkin kelak ia tumbuh di sebuah kota kecil yang hari ini nyaris tidak diperhitungkan dalam peta kebudayaan nasional.</p>
<p>Tugas kita bukan menentukan siapa orang itu. Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika ia datang, Indonesia mempunyai ruang yang cukup luas untuk mendengar suaranya.</p>
<p>Itulah tugas organisasi kebudayaan. Bukan menciptakan keabadian bagi pengurusnya. Bukan membangun monumen bagi mereka yang sedang memegang jabatan.</p>
<p>Tugasnya adalah menciptakan kemungkinan. Membuka jalan. Memperluas ruang. Menanam pohon yang mungkin justru akan dinikmati oleh generasi yang belum kita kenal.</p>
<p>Itulah makna tenda besar. Semakin luas ruang yang kita bangun bersama, semakin banyak suara berbeda dapat tumbuh tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.</p>
<p>SATUPENA tidak harus membuat semua penulis sama. Justru sebaliknya. Ia harus membuat keberagaman itu cukup kuat untuk bertahan, bertemu, dan menghasilkan peradaban.</p>
<p>Sebab penulis mungkin menulis sendirian, tetapi sebuah peradaban hanya dapat ditulis bersama-sama.*</p>
<p>-000-</p>
<p>LAMPIRAN<br />
SUSUNAN SEMENTARA PENGURUS SATUPENA 2026–2031</p>
<p>A. Dewan Pakar: Prof. Dr. Andi Muhammad Asrun (Ketua)</p>
<p>Anggota:</p>
<p>&#8211; Prof Dr. Nurhayati Rahman<br />
&#8211; Prof. I Nengah Subadra, S.S., M.Par., PhD<br />
&#8211; Dr. Budhy Munawar Rahman<br />
&#8211; Dr. Dwi Cahyono Aji, M.A.,<br />
&#8211; Dr. Tarech Rasyid<br />
&#8211; Berthold Damshàuser, M.A<br />
&#8211; Indra Iswara, S.H, M.Kn<br />
&#8211; Reiner Emyot Ointoe, DipLit<br />
&#8211; Alex Runggeary, M.M<br />
&#8211; Drs. Achmad Charis Zubair<br />
&#8211; John Ohoiwirin</p>
<p>(Dewan pakar mewakili wilayah Indonesia dari Sumatra hingga Papua)</p>
<p>B. Dewan Pengawas</p>
<p>Ketua: Dr. Satrio Arismunandar<br />
Anggota:<br />
&#8211; Anwar Putra Bayu<br />
&#8211; Dhenok Kristianti, S.pd</p>
<p>C. Dewan Pengurus</p>
<p>Ketua Umum: Denny JA, Ph.D, MPA, SH<br />
Sekretaris Jendral: Jonminofri Nazir, MSi<br />
Bendahara Umum: Dra. Nita Chobah Lusaid, MBA</p>
<p>Ketua Pulau Sumatra: Dra. Hj. Sastri Yunizarti Bakry, Akt., M.Si., CA., QIA.<br />
Ketua Pulau Jawa: Nia Samsihono, M.Hum<br />
Ketua Bali, NTB, NTT: Dr Rai Utama<br />
Ketua Pulau Kalimantan: Dr. Muhammad Thobroni<br />
Ketua Pulau Sulawesi: Drs. Hamri Manopo Mpd.<br />
Ketua Pulau Papua: Wilhemus Kolyaan</p>
<p>(Ketua masing- masing Provinsi sedang disusun)</p>
<p>Direktur Webinar: Elza Peldi Taher<br />
Anggota: Mila Muzakkar M.M, Amelia Fitriani M.I.Kom, Anick HT, Erika Aiko</p>
<p>Direktur Publikasi Buku: Monica Anggi JR, MBA</p>
<p>Direktur Media: Yusrizal Karana, S.IP, M.IP</p>
<p>Direktur Hukum: Aji Satria Sulaemen, S.H, LL.M</p>
<p>Direktur Public Relation: Saskia Ubaidi,</p>
<p>(Nama dan gelar akademik akan disesuaikan kembali berdasarkan data resmi masing-masing pengurus)</p>
<p>Jakarta, 21 Agustus</p>
<p>REFERENSI</p>
<p>1. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community<br />
Robert D. Putnam<br />
Simon &amp; Schuster, 2000.<br />
2. The Gift: Imagination and the Erotic Life of Property<br />
Lewis Hyde<br />
Vintage Books, 1983.</p>
<p>-000-</p>
<p>Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.</p>
<p>https://www.facebook.com/share/1Xq6WvGJxc/?mibextid=wwXIfr</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SETIAP PROFESI MEMBUTUHKAN KOMIUNITAS, TERMASUK PENULIS</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/setiap-profesi-membutuhkan-komiunitas-termasuk-penulis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 23:59:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[SETIAP PROFESI MEMBUTUHKAN KOMIUNITAS]]></category>
		<category><![CDATA[TERMASUK PENULIS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9849</guid>

					<description><![CDATA[Ilmu pengetahuan dan keahlian semakin tersebar. Komunitas menciptakan ekosistem membuat pengetahuan dan keahlian bersinerji. Ditelusuri komunitas penulis sejak era William Shakespeare di abad 16 hingga asosiasi penulis di Amerika Serikat dan Eropa yang masih hidup lebih dari 100 tahun. Lalu di Indonesia, dari komunitas penulis sejak era Gelanggang (Chairil Anwar), Lekra (Pramudya Ananta Toer), Manikebu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ilmu pengetahuan dan keahlian semakin tersebar. Komunitas menciptakan ekosistem membuat pengetahuan dan keahlian bersinerji.</p>
<p>Ditelusuri komunitas penulis sejak era William Shakespeare di abad 16 hingga asosiasi penulis di Amerika Serikat dan Eropa yang masih hidup lebih dari 100 tahun.</p>
<p>Lalu di Indonesia, dari komunitas penulis sejak era Gelanggang (Chairil Anwar), Lekra (Pramudya Ananta Toer), Manikebu hingga lahirnya Satupena.</p>
<p>Orasi Denny JA selaku Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia menyambut Kongres 2026</p>
<p>#Dari akun Youtube<br />
ORASI DENNY JA, berisi 498 video soal filsafat hidup, sejarah, catatan perjalanan, minyak dan energi, puisi dan sastra, agama dan spiritualitas, demokrasi dan politik, bisnis dan ekonomi, positive psychology, review buku, film dan lagu.</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f447-1f3fc.png" alt="👇🏼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><iframe title="Denny JA: Every Profession Needs a Community, Including Writers" width="800" height="450" src="https://www.youtube.com/embed/TBJ34QOUJB8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f446.png" alt="👆" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>81 Tahun Indonesia Merdeka: Sejauh Cita-Cita Kemerdekaan Terwujud?</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/politik/81-tahun-indonesia-merdeka-sejauh-cita-cita-kemerdekaan-terwujud</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 23:13:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[81 Tahun Indonesia Merdeka: Sejauh Cita-Cita Kemerdekaan Terwujud?]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=9840</guid>

					<description><![CDATA[Webinar Satupena – Obrolan Satupena Seri #200 Narasumber: Prof. Dr. Asvi Warman Adam Host: Elza Peldi Taher dan Mila Muzakkar Dilaporkan oleh: Paulus Laratmase &#8211; Memasuki 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan mengenai sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan kembali menjadi penting untuk direnungkan. Kemerdekaan bukan semata-mata peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945, melainkan sebuah proses panjang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Webinar Satupena – Obrolan Satupena Seri #200</p>
<p>Narasumber: Prof. Dr. Asvi Warman Adam<br />
Host: Elza Peldi Taher dan Mila Muzakkar</p>
<p>Dilaporkan oleh: Paulus Laratmase</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Memasuki 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan mengenai sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan kembali menjadi penting untuk direnungkan. Kemerdekaan bukan semata-mata peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945, melainkan sebuah proses panjang untuk membangun negara, menjaga persatuan, mewujudkan keadilan, melindungi seluruh rakyat, serta mengelola kekayaan bangsa untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.</p>
<p>Persoalan di atas menjadi tema utama yang dibahas Prof. Dr. Asvi Warman Adam dalam Webinar Satupena pada Obrolan Satupena Seri #200, yang dipandu Elza Peldi Taher dan Mila Muzakkar. Dalam paparannya, Prof. Asvi melihat perjalanan Indonesia dari perspektif sejarah, dengan menyoroti sejumlah tonggak penting sejak awal abad ke-20, Proklamasi 1945, hingga perkembangan politik dan pemerintahan Indonesia pada 2026.</p>
<p>Salah satu benang merah yang ditekankan adalah kemungkinan berulangnya sejarah. Sejumlah persoalan yang pernah muncul dalam perjalanan bangsa, mulai dari hubungan pusat dan daerah, pemusatan kekuasaan, perdebatan mengenai dasar negara, pengelolaan kekayaan alam, hingga ketimpangan dan kualitas demokrasi, menurutnya perlu dicermati agar pengalaman masa lalu tidak kembali menjadi persoalan pada masa kini.</p>
<p><em><i>Ringkasan Materi Prof. Dr. Asvi Warman Adam</i></em></p>
<p>Sejarah sebagai cermin perjalanan bangsa</p>
<p>Prof. Asvi mengawali paparannya dengan melihat kembali tonggak-tonggak sejarah Indonesia dari sekitar 1900 hingga 2026. Ia mengajak partisipan melihat bagaimana berbagai tantangan yang dihadapi bangsa pada suatu zaman pernah berhasil diselesaikan, tetapi pada saat yang lain sejumlah persoalan lama dapat muncul kembali dalam bentuk berbeda.</p>
<p>Karena itu, sejarah tidak hanya dipandang sebagai catatan masa lalu, melainkan sebagai cermin untuk membaca keadaan Indonesia sekarang. Ia memberi perhatian khusus terhadap gejala yang menurutnya perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.</p>
<p><strong><b>Persatuan Indonesia dibangun melalui pendidikan dan bahasa</b></strong></p>
<p>Prof. Asvi menelusuri perkembangan kesadaran kebangsaan sejak awal abad ke-20. Ia menyinggung berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan pada 1900, Jamiatul Khair pada 1905, kemudian Budi Utomo yang turut memiliki perhatian terhadap kemajuan pendidikan.</p>
<p>Tonggak penting berikutnya adalah Kongres Pemuda 1928. Dalam peristiwa tersebut, bahasa Indonesia ditegaskan sebagai bahasa pemersatu bangsa. Menurut Prof. Asvi, proses tersebut menunjukkan bahwa persatuan Indonesia dibangun melalui proses sejarah yang panjang dan tidak menghilangkan keberadaan bahasa serta identitas daerah.</p>
<p>Ia juga menyoroti Indonesia Raya karya W.R. Supratman, khususnya stanza ketiga, yang menurutnya memiliki pesan penting tentang kewajiban menjaga tanah air, rakyat, pulau, laut, dan kekayaan Indonesia. Pesan tersebut dinilai tetap relevan ketika Indonesia menghadapi eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran.</p>
<p><strong><b>Pancasila merupakan proses sejarah, bukan peristiwa tunggal</b></strong></p>
<p>Salah satu bagian penting paparan Prof. Asvi adalah mengenai lahirnya Pancasila.</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa rumusan Pancasila mengalami proses perkembangan, mulai dari 1 Juni 1945, kemudian Piagam Jakarta 22 Juni 1945, hingga rumusan final pada 18 Agustus 1945.</p>
<p>Karena itu, menurutnya, ketiga tanggal itu tidak perlu dipertentangkan. Ketiganya merupakan bagian dari satu kesatuan proses sejarah lahirnya Pancasila sebagai dasar negara.</p>
<p>Prof. Asvi juga menyinggung perubahan rumusan mengenai kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan seperti digambarkan menunjukkan adanya perdebatan serius di antara para pendiri bangsa dalam mencari rumusan dasar negara yang dapat diterima dalam masyarakat Indonesia yang beragam.</p>
<p><strong><b>Persoalan hubungan agama dan negara masih menjadi tantangan</b></strong></p>
<p>Menurut Prof. Asvi, perdebatan mengenai hubungan antara agama dan negara merupakan persoalan yang berulang dalam sejarah Indonesia.</p>
<p>Ia kemudian mengaitkannya dengan penerapan sila Ketuhanan Yang Maha Esa pada masa sekarang. Dalam konteks ini, ia mempertanyakan apakah penyelenggaraan pemerintahan telah memberikan perlakuan yang benar-benar adil terhadap seluruh agama.</p>
<p>Ia memberikan sejumlah contoh mengenai struktur kelembagaan pemerintah dalam pengelolaan urusan keagamaan dan menyoroti adanya perbedaan tingkat kelembagaan antara agama-agama yang ada. Sudah ada kementerian agama, kementerian haji dengan jabatan Dirjen yang begitu luas bagi agama tertentu, sedangkan agama lain hanya puas dengan policy yang tidak berpihak pada rasa keadilan sosial. Bagi Prof. Asvi, persoalan ini penting dilihat dalam kerangka kesetaraan warga negara dan penerapan sila pertama Pancasila.</p>
<p>Ia juga mengingatkan bahwa pengakuan terhadap Konghucu kembali menguat pada era Reformasi setelah sebelumnya mengalami pembatasan pada masa Orde Baru. Namun, menurut paparannya, masih terdapat perbedaan dalam struktur pembinaan kelembagaan agama.</p>
<p><strong><b>Kekayaan alam harus kembali kepada kepentingan rakyat</b></strong></p>
<p>Pesan yang cukup kuat dalam paparan Prof. Asvi adalah mengenai pengelolaan kekayaan alam Indonesia.</p>
<p>Ia menghubungkan pesan dalam stanza ketiga lagu Indonesia Raya dengan kondisi Indonesia saat ini. Kekayaan alam, menurutnya, harus dijaga, diselamatkan, dan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat Indonesia, bukan semata-mata menjadi sumber keuntungan ekonomi tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat dan daerah penghasil.</p>
<p>Ia juga menyoroti persoalan hubungan pemerintah pusat dan daerah, khususnya mengenai transfer ke daerah. Dalam paparannya disebutkan adanya keluhan dari sejumlah daerah mengenai pemangkasan transfer yang berdampak pada kemampuan daerah menjalankan pemerintahan dan membiayai kebutuhan masyarakat.</p>
<p>Prof. Asvi mengingatkan bahwa ketidakpuasan daerah perlu diselesaikan agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius. Ia bahkan mengaitkannya dengan pengalaman sejarah seperti PRRI dan Permesta, sebagai pelajaran mengenai pentingnya hubungan pusat-daerah yang sehat.</p>
<p><strong><b>Ancaman pemusatan kekuasaan</b></strong></p>
<p>Dalam konteks politik kontemporer, Prof. Asvi juga membahas apa yang ia sebut sebagai dualisme kekuasaan. Ia mengawali dengan mencermati simbol-simbol politik yang muncul dalam penyelenggaraan kekuasaan saat ini dan mempertanyakan apakah terdapat kecenderungan kekuasaan yang tidak sepenuhnya terkonsentrasi pada satu pusat kepemimpinan.</p>
<p>Ia juga menyinggung kondisi hubungan antara lembaga-lembaga negara dan pemerintah, termasuk posisi DPR. Menurut paparannya, kabinet yang besar dapat membuat fungsi kontrol parlemen terhadap pemerintah menjadi kurang efektif.</p>
<p><strong><b>Kritik terhadap pembangunan yang tergesa-gesa</b></strong></p>
<p>Prof. Asvi juga memberikan pandangan terhadap sejumlah proyek pembangunan.</p>
<p>Mengenai Ibu Kota Nusantara (IKN), ia menyatakan bahwa secara prinsip dirinya setuju dengan pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan. Ia mengingatkan bahwa gagasan pemindahan ibu kota sebenarnya sudah pernah muncul pada masa Presiden Soekarno.</p>
<p>Namun, ia berpandangan bahwa pembangunan ibu kota baru seharusnya dilakukan secara bertahap dan tidak tergesa-gesa. Menurutnya, pembangunan tersebut dapat dilakukan dalam rentang 25–30 tahun, sehingga tidak menimbulkan pemborosan dan penggunaan anggaran yang tidak optimal.</p>
<p>Ia juga mempertanyakan kebijakan pembangunan sejumlah program pemerintah yang menurutnya seharusnya terlebih dahulu melalui pilot project, evaluasi, dan pengujian efektivitas sebelum diterapkan secara luas dengan anggaran yang sangat besar.</p>
<p><strong><b>Program pemerintah harus tepat sasaran</b></strong></p>
<p>Prof. Asvi turut menyoroti program-program pemerintah seperti koperasi desa dan <strong><b>MBG (Makan Bergizi Gratis)</b></strong><strong><b> dan Koperasi Merah Putih. </b></strong></p>
<p>Ia tidak menolak tujuan program tersebut. Namun, ia mempertanyakan apakah pelaksanaannya telah benar-benar memperhatikan kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan pemberantasan stunting, misalnya, ia berpendapat bahwa program seharusnya lebih difokuskan kepada wilayah yang memiliki tingkat stunting tinggi. Dengan demikian, anggaran dapat digunakan secara lebih efektif dan tepat sasaran.</p>
<p>Banyak bangunan koperasi yang dibangun di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk. Dan sudah mau memasuki tahun ketiga, program koperasi baru sebatas bangunan fisik yang jauh dari cita-cita adanya koperasi bagi kepentinggan rakyat seperti termaktub dalam pasal 33 UUD 1945.</p>
<p><strong><b>Demokrasi membutuhkan pengawasan terhadap kekuasaan</b></strong></p>
<p>Pada bagian akhir, Prof. Asvi menyinggung hubungan Presiden dengan institusi kepolisian, termasuk hubungan Presiden Prabowo dengan Kapolri dan pemberian tanda kehormatan.</p>
<p>Ia mempertanyakan sejumlah praktik tersebut dari sudut pandang efektivitas dan tata kelola kekuasaan, serta menghubungkannya dengan kekhawatiran mengenai kedekatan antarlembaga kekuasaan.</p>
<p>Bagi Prof. Asvi, persoalan utamanya bukan siapa yang memegang kekuasaan, tetapi bagaimana kekuasaan itu dikendalikan, diawasi, dan digunakan untuk kepentingan rakyat.</p>
<p><strong><b>Kesimpulan</b></strong></p>
<p>Paparan Prof. Dr. Asvi Warman Adam dalam Obrolan Satupena Seri #200 pada dasarnya merupakan sebuah refleksi sejarah sekaligus kritik terhadap perjalanan Indonesia setelah 81 tahun merdeka.</p>
<p>Dari rangkaian sejarah yang dipaparkan, terlihat bahwa cita-cita kemerdekaan Indonesia tidak dapat dinilai hanya dari keberhasilan mempertahankan kemerdekaan secara formal. Kemerdekaan juga harus diukur dari kemampuan negara dalam mewujudkan persatuan, keadilan, demokrasi, kesetaraan warga negara, kesejahteraan rakyat, pemerataan pembangunan, serta pengelolaan kekayaan alam untuk kepentingan bangsa.</p>
<p>Pesan penting Prof. Asvi adalah bahwa sejarah dapat berulang apabila bangsa tidak belajar dari pengalaman masa lalu. Persoalan hubungan pusat dan daerah, pemusatan kekuasaan, perdebatan agama dan negara, ketimpangan, pengelolaan sumber daya alam, serta penggunaan anggaran negara perlu terus diawasi agar tidak berkembang menjadi masalah yang pernah dialami Indonesia pada masa lalu.</p>
<p>Dengan demikian, pertanyaan “Sejauh Cita-Cita Kemerdekaan Terwujud?” tidak cukup dijawab dengan melihat pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi semata. Pertanyaan tersebut harus dikembalikan kepada cita-cita yang diperjuangkan para pendiri bangsa: apakah negara benar-benar hadir untuk seluruh rakyat dan apakah kekayaan serta kekuasaan negara digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Indonesia.</p>
<p>Dalam perspektif itu, 81 tahun Indonesia merdeka bukan hanya momentum perayaan, tetapi juga momentum evaluasi dan koreksi perjalanan bangsa. Sejarah menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diisi, dijaga, dan diperjuangkan agar cita-cita Proklamasi tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
