<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Reiner Ointoe &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/category/reiner-ointoe/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jul 2026 01:21:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Reiner Ointoe &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>MENCUIL PERSEPSI TUHAN DAN BUKAN TUHAN*</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/kolom/mencuil-persepsi-tuhan-dan-bukan-tuhan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 01:21:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Reiner Ointoe]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[MENCUIL PERSEPSI TUHAN DAN BUKAN TUHAN*]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7849</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Reiner Emyot Ointoe &#8211; „Keempat pria ini, Hitchean, Dennet, Dawkins, Harris, menjadikan tujuan hidup mereka untuk menyerang dan membongkar agama dengan segala cara yang mereka bisa. Namun, mereka semua pemikir amatir dengan pemahaman sangat buruk tentang agama-agama yang ingin mereka serang. Namun, tetap saja mereka menyerang. Dan setiap kali mereka kehabisan logika, filsafat, dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Reiner Emyot Ointoe</p>
<p>&#8211;</p>
<p>„Keempat pria ini, Hitchean, Dennet, Dawkins, Harris, menjadikan tujuan hidup mereka untuk menyerang dan membongkar agama dengan segala cara yang mereka bisa. Namun, mereka semua pemikir amatir dengan pemahaman sangat buruk tentang agama-agama yang ingin mereka serang.</p>
<p>Namun, tetap saja mereka menyerang. Dan setiap kali mereka kehabisan logika, filsafat, dan teologi, mereka beralih ke argumen budaya, moralitas, dan politik.“ — Subboor Ahmad(41), Apologet Muslim asal Irak, dalam Kejatuhan Dawkins dan Runtuhnya Ateisme Baru: Debat Kritis , Tajam dan Mencerahka(Terjemahan IRCiSoD, 2026).</p>
<p>Tak satupun definisi soal Tuhan yang sempurna dan paripurna. Meski Tuhan sendiri didaulat Mahasempurna(Omni Potent).</p>
<p>Lantas definisi apa yang pas untuk mendeskripsi tentang Dia(Arab lainnya: رائع)?</p>
<p>Sejak ada rasio, pengetahuan(logos) atau kognisi, Tuhan malah menjadi lebih rumit dibahas bahkan diyakini.</p>
<p>Fasilitas filsafat, teologi dan sains akhir-akhir ini terus mencari-cari bukti apakah Tuhan yang diyakini masih penting untuk dipersoalkan?</p>
<p>Bahkan bagi Stenger, sekedar hipotesis yang gagal maupun dalam “outgrowing God dan god is no great, Dawkins dan mendiang Hitchean.</p>
<p>Padahal, menurut bio-antropolog, Agustine Fuentes, ada 83%(5,3 miliar) manusia yang masih memercayai adanya Tuhan dengan berbagai varian dan predikat yang pantas disembah.</p>
<p>Sementara hanya sekitar di bawah 3% yang tidak percaya adanya Tuhan. Kaum ateis, lama maupun baru, hingga dengan kategori agnostik.</p>
<p>Akan tetapi, mereka dari mereka rata-rata para sainstis yang mendeklarasi tak ada Tuhan(ateis). Sebut saja, mendiang Stephen Hawking, Christopher Hitchean, Daniel Dennet dan Richard Dawkins serta Sam Harris.</p>
<p>Keempat dari mereka, dua telah menemui ajal, Hitchean dan Dennet, sisa Dawkins dan Harris yang populer dengan sebutan Four Horsemen, Empat Penunggabg Kuda.</p>
<p>Namun demikian, dalil ateisme mereka hingga kini telah memperoleh kritik yang cukup kokoh dari Subboor Ahmad — aktif dalam Islamic Education and Research Academy(iERA) seperti tersua dalam buku barunya, Dawkins Deselected: The Extinction of New Atheism(2025).</p>
<p>Mengapa rata-rata yang tak mempercayai adanya Tuhan itu kebanyakan para sainstis?</p>
<p>Selain dikampanyekan lewat debat daring-luring, mereka ikut memromosikan itu lewat buku-buku mereka yang laris dan terus berargumen untuk menyangkal tidak adanya Tuhan dengan hipotesis sainstifik.</p>
<p>Misalnya, bukti astrofisika soal &#8216;blackhole&#8217;, &#8216;god no great(Hitchean), &#8216;god delusion&#8217;, &#8216;outgrowing of god'(Dawkins) dan &#8216;the end of faith'(Sam Harris) atau &#8216;kinds of mind'(Dennet) hingga &#8216;mind of god'(Paul Davies) atau &#8216;god failed hypothesis'(Victor Stenger).</p>
<p>Sebagian besar mereka dikenal sebagai ateis. Kelak, menurut Ahmad, „Salah satu penyebab utama kesesatan intelektual para Ateis Baru adalah komitmen mereka yang tidak berdasar kepada saintisme. Inilah lensa tunggal yang mereka gunakan untuk melihat dunia, sehingga mereka tidak mampu melihat realitassecara beraneka warna.“</p>
<p>Di pihak sainstis yang percaya adanya Tuhan bisa dirujuk pada Karen Armstrong(History of God), Dhepak Chopra(Future of God), Francis Collins(Language of God) hingga Reza Aslan(No God but God) atau The Evolution of God(Robert Wright), One True God(Rodney Strak), God&#8217;s Philiosophers(James Hannam) dan tentu lebih banyak lagi daftarnya.</p>
<p>Lalu, apa esensi dan hakikatnya mempersoalkan ada tidak adanya Tuhan baik bagi kalangan ahli maupun awam?</p>
<p>Apakah dengan membuktikan tidak adanya Tuhan — sejauh ini belum ada bukti kecuali sebatas hipotesis — kita telah memenangkan kejayaan hidup di dunia sampai kita mati?</p>
<p>Atau, apakah juga dengan memercayaiNya tanpa satu buktipun juga dengan kemenangan hingga mati, sudah menjawab keberadaan Tuhan?</p>
<p>Dua orang sainstis dan teolog yang ateistik dan teistik, Jon Avery dan Hasan Askari, dari fakultas teologi Temple universitas pernah berdebat hingga tuntas soal bukti ada tidaknya Tuhan dalam &#8220;Towards a Spiritual Humanism&#8221;(1991).</p>
<p>Argumen akhir debat itu datang dari Askari sang teistik: &#8220;Jon, tidak mudah bagiku untuk membuktikan agar kau percaya adanya Tuhan sebagaimana kau juga tak percaya adanya Tuhan.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, dialog humanisme itu bukan perkara kemampuan membuktikan ada tidaknya Tuhan.</p>
<p>Akhirnya, dialog itu hanya bisa menyimpulkan dengan mediatif: bukan soal bisa membuktikan ada tidaknya Tuhan atau ada Tuhan dan bukan Tuhan.</p>
<p>Tapi, bersama segala keterbatasan dan kemajuan, potensi spiritualitas manusia lah yang bisa menjawab dan membukti itu.</p>
<p>Karna spiritualitas itu sendiri, sebuah potensi kredo universal yang dimiliki manusia manapun dengan percaya Tuhan atau tanpa Tuhan, bukan masalah.</p>
<p>*Ditulis ulang dari laman FB LITERATER(LITERASI &amp; TEATER), 23 Juli 2020.</p>
<p>#coversongs:<br />
“Imagine” dirilis John Lennon pada 11 Oktober 1971 sebagai single dan bagian dari album Imagine.</p>
<p>Lagu ini segera menjadi salah satu karya paling berpengaruh abad ke‑20, dengan makna utopis: membayangkan dunia tanpa batas negara, tanpa agama yang memecah belah, dan tanpa harta yang menimbulkan keserakahan.</p>
<p>#credit foto koleksi buku tentang Tuhan di ReO Bibliothek Kokima Hill — Manado, 19 Juli 2025.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DILEMA IDENTITAS GANDA MUSLIM PERANCIS?</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/ilmiah/dilema-identitas-ganda-muslim-perancis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 16:42:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Reiner Ointoe]]></category>
		<category><![CDATA[DILEMA IDENTITAS GANDA MUSLIM PERANCIS?]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=5580</guid>

					<description><![CDATA[oleh Reiner Emyot Ointoe &#8211; „Zopire: Qui? moi, baisser les yeux devant ses faux prodiges! Moi, de ce fanatique encenser les prestiges! L’honorer dans la Mecque après l’avoir banni! Non.“ „Zopire: Aku? Menundukkan mata pada mukjizat palsunya! Aku, memuja pesona fanatik ini! Menghormatinya di Mekah setelah mengusirnya! Tidak.” — Voltaire(1694–1778), dalam drama Le Fanatisme ou [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Reiner Emyot Ointoe</p>
<p>&#8211;</p>
<p>„Zopire: Qui? moi, baisser les yeux devant ses faux prodiges! Moi, de ce fanatique encenser les prestiges! L’honorer dans la Mecque après l’avoir banni! Non.“</p>
<p>„Zopire: Aku? Menundukkan mata pada mukjizat palsunya! Aku, memuja pesona fanatik ini!<br />
Menghormatinya di Mekah setelah mengusirnya! Tidak.” — Voltaire(1694–1778), dalam drama Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète(1736), pentas 1741.</p>
<p>Membaca artikel Denny JA tentang Idul Adha 1447 H. di Prancis, dengan refleksi bersama masyarakat Indonesia dan Presiden Prabowo, saya tergelitik untuk menimbang kembali pertanyaan yang ia ajukan: bisakah seseorang tetap Muslim, tetapi juga sepenuhnya Prancis?</p>
<p>Pertanyaan ini bukan sekadar aktual, melainkan telah menjadi denyut panjang sejarah intelektual Prancis sejak Voltaire menulis drama Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète pada abad ke-18.</p>
<p>Voltaire tidak bermaksud menghina Islam, melainkan menyerang fanatisme agama secara umum.</p>
<p>Namun, sejak itu Islam selalu hadir dalam diskursus kebebasan berekspresi dan identitas di Prancis.</p>
<p>Untuk menilik dalam kritik sekaligus krisis identitas kontemporer agama, dua pemikir Perancis mutakhir bisa dikemukakan berikut.</p>
<p>Gilles Kepel(71) dalam La revanche de Dieu(1991) — kelak diinggriskan: The Revenge of God: The Resurgence of Islam, Christianity and Judaism in the Modern World(1994), menunjukkan bahwa kebangkitan agama-agama besar, termasuk Islam, di Eropa bukanlah fenomena pinggiran.</p>
<p>Ia menekankan bahwa istilah seperti intégrisme atau fundamentalisme seringkali diimpor dari tradisi Kristen dan Protestan, sehingga justru mengaburkan realitas Muslim di Prancis.</p>
<p>Kepel melihat gerakan seperti Tablighi sebagai upaya membangun solidaritas komunitas di tengah fragmentasi sosial.</p>
<p>Baginya, kebangkitan Islam di Prancis adalah respons terhadap anomie modernitas sekuler.</p>
<p>Ia menulis: „Le détour par l&#8217;expérience de ce qui nous est culturellement le plus lointain a la vertu de faire surgir du sens là où régnaient l&#8217;inertie de la pensée et l&#8217;illusion du déjà vu.“</p>
<p>(„Jalan memutar dari pengalaman yang kita miliki ini adalah budaya yang akan terus berlanjut hingga kita merasa tidak bisa menerima kelembaman pikiran dan ilusi déjà vu“).</p>
<p>Ungkapan ini menegaskan bahwa pengalaman Muslim membuka perspektif baru tentang religiusitas dalam masyarakat sekuler, sebuah jalan memutar yang justru melahirkan makna.</p>
<p>Di lain hal, kemunculan gerakan Tabligh di Prancis.</p>
<p>Tablighi Jamaat telah hadir di Prancis sejak tahun 1970-an, terutama di kalangan imigran dari Asia Selatan dan Maghreb.</p>
<p>Kepel mencatat bahwa mereka menekankan praktik keagamaan individu(doa, dakwah dari rumah ke rumah) sebagai cara untuk membangun komunitas yang kuat.</p>
<p>Bagi banyak Muslim muda, ini telah menjadi sarana untuk menemukan kembali makna spiritual di tengah isolasi sosial.</p>
<p>Juga, debat masalah hijab meledak pada awal tahun 1990-an, ketika beberapa siswa Muslim menolak untuk melepas jilbab mereka di sekolah umum.</p>
<p>Dengan demikian, Kepel pun menekankan bahwa kontroversi ini bukan hanya tentang pakaian, tetapi lebih merupakan simbol bentrokan antara laïcité(sekularisme Prancis) dan ekspresi identitas Muslim.</p>
<p>Hijab sendiri menjadi tanda keanggotaan dalam komunitas transnasional dan tantangan terhadap norma-norma sekuler universal.</p>
<p>Laïcité sebagai kerangka identitas<br />
Laïcité — prinsip pemisahan agama dan negara _ adalah fondasi Republik Prancis.</p>
<p>Namun, Kepel menunjukkan bahwa bagi sebagian Muslim, laïcité terasa seperti mekanisme eksklusif yang menolak ekspresi keagamaan di depan umum.</p>
<p>Ketegangan ini berarti bahwa identitas Muslim di Prancis sering didefinisikan sebagai lawan dari negara sekuler dan menjadikan agama sebagai simbol solidaritas sekaligus perlawanan.</p>
<p>Lain pula, Roger Garaudy(1913-2012), filsuf pejuang perlawanan, dan tokoh komunis sebelum akhirnya masuk Islam pada 1982, menulis Biographie du XXe siècle: le testament philosophique de Roger Garaudy(1985).</p>
<p>Setahun kemudian, pada 1986, penerbit Bulan Bintang menerjemahkan buku ini, Mencari Agama pada Abad XX: Wasiat Filsafat Roger Garaudy oleh M. Rasyidi, Menteri Agama Pertama di era Presiden Soekarno.</p>
<p>Ringkasnya, lewat buku warisan filsafatnya, Garaudy menyoroti krisis spiritual modern akibat dominasi materialisme.</p>
<p>Ia menulis: „Le musulman en France est sommé de choisir entre l’assimilation qui nie son être et l’isolement qui nie sa citoyenneté.“</p>
<p>(„Seorang Muslim di Prancis dituntut memilih antara asimilasi yang meniadakan keberadaannya dan pengasingan yang meniadakan kewarganegaraannya.”).</p>
<p>Dilema ini masih relevan: apakah menjadi warga penuh berarti kehilangan akar spiritual, atau mempertahankan iman berarti terpinggirkan dari masyarakat luas?</p>
<p>Garaudy mengajak pembaca untuk mencari agama bukan sebagai dogma kaku, melainkan sebagai jalan dialog universal antartradisi.</p>
<p>Dengan kata lain, esai reflektif Denny JA tentang Idul Adha di Prancis, bersama komunitas Indonesia dan Presiden Prabowo, memperlihatkan bahwa dilema identitas Muslim Prancis bukan sekadar teori.</p>
<p>Ia hadir nyata dalam ruang publik, dalam perayaan, dalam politik, dan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Baik Kepel maupun Garaudy — sekedar bertolak dari perspektif mereka — sama-sama menegaskan bahwa jalan keluar bukanlah sekadar memilih antara iman atau kewarganegaraan, melainkan menemukan sintesis baru.</p>
<p>Setidaknya, menurut keduanya, sebuah identitas ganda yang tidak saling meniadakan, melainkan saling memperkaya.</p>
<p>Dengan demikian, pertanyaan “Bisakah tetap Muslim, tapi juga sepenuhnya Prancis?” tidak dijawab dengan ya atau tidak.</p>
<p>Ia dijawab dengan proses panjang pencarian makna, dengan keberanian untuk menolak reduksi identitas, dan dengan kesediaan membuka ruang dialog.</p>
<p>Dengan demikin, Idul Adha di Prancis, sebagaimana dicatat Denny JA, menjadi simbol bahwa iman dan kebangsaan bisa bertemu dalam perayaan bersama, meski dilema itu tetap menghantui.</p>
<p>#coversongs:<br />
@Oui, Oui, Oui, Oui” oleh Sacha Distel Quintet pertama kali dirilis tahun 1959 di Prancis, ditulis oleh Hubert Giraud dan Pierre Cour.</p>
<p>Lagu ini bermakna romantis dan penuh imajinasi: sebuah ajakan berlayar bersama kekasih, meninggalkan rutinitas, dan menemukan kebebasan serta cinta di dunia yang luas.</p>
<p>#credit foto dari kanal Youtube Wajah Muslim di Prancis detikcom dan @tribunnews Momen Hangat Presiden Prabowo Tunaikan Salat Idul Adha di Perancis.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MEMBACA KETIMPANGAN PARADOKS INDONESIA LEWAT DUA NOVEL</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/kolom/membaca-ketimpangan-paradoks-indonesia-lewat-dua-novel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2026 01:10:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Reiner Ointoe]]></category>
		<category><![CDATA[DUA NOVEL]]></category>
		<category><![CDATA[KETIMPANGAN PARADOKS INDONESIA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=5463</guid>

					<description><![CDATA[oleh Reiner Emyot Ointoe &#8211; “Para petani dan buruh dilucuti haknya oleh kebijakan pemerintah dan kapitalisme kroni.” — Elizabeth Fuller Collins(70), Indonesia Betrayed: How Development Fails(2007). Ketika belum terpilih sebagai presiden di dalam empat konstestasi Pilpres, Prabowo Subianto(74) menulis buku Paradoks Indonesia(2017). Bak ikut pemulanya, Mahathir Mohammad(101), menulis The Malay Dilemma(1970); Anwar Ibrahim(78), The Asian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Reiner Emyot Ointoe</p>
<p>&#8211;</p>
<p>“Para petani dan buruh dilucuti haknya oleh kebijakan pemerintah dan kapitalisme kroni.” — Elizabeth Fuller Collins(70), Indonesia Betrayed: How Development Fails(2007).</p>
<p>Ketika belum terpilih sebagai presiden di dalam empat konstestasi Pilpres, Prabowo Subianto(74) menulis buku Paradoks Indonesia(2017).</p>
<p>Bak ikut pemulanya, Mahathir Mohammad(101), menulis The Malay Dilemma(1970); Anwar Ibrahim(78), The Asian Renaissance(1996) dan Barack Obama(64), The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming the American Dream(2006).</p>
<p>Buku Paradoks Indonesia berisi analisis tentang ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia, dengan fokus pada jurang antara kekayaan elite dan penderitaan rakyat.</p>
<p>Menurutnya, refleksi atas kondisi bangsa ini penuh kontradiksi: sumber daya alam melimpah, tetapi rakyat banyak masih hidup miskin.</p>
<p>Paradoks yang ia tulis: &#8220;Indonesia adalah negara yang kaya, tetapi rakyatnya banyak yang miskin. Inilah paradoks besar bangsa kita.&#8221;</p>
<p>Akan tetapi, Ketika dikaitkan dengan situasi pemerintahan Prabowo Subianto setelah menjabat Presiden selama 19 bulan(6.935 hari), paradoks yang ia tulis tampak masih bergaung.</p>
<p>Orientasi kebijakan yang dijalankannya menunjukkan ambisi besar dalam pembangunan infrastruktur dan pertahanan, namun ketimpangan sosial-ekonomi tetap terlihat jelas dan menganga.</p>
<p>Program-program yang digadang untuk pemerataan, MBG, Kopdes, Sekolah Rakyat Gratis, efisiensi yang bocor terus hingga korupsi masif dan brutal, sering kali belum menyentuh akar masalah.</p>
<p>Akibatnya, makin terbuka dan dalam jurang antara elite negara, korporasi dan rakyat banyak masih nyata.</p>
<p>Dengan demikian, buku Paradoks Indonesia dapat dibaca sebagai cermin yang ironis.</p>
<p>Kritik yang ia lontarkan sebelum berkuasa kini menjadi tantangan yang harus ia jawab dalam praktik kebijakan pemerintahan.</p>
<p>Sebagai refleksi atas ketimpangan Indonesia Paradoks dalam 6.935 hari telah berlalu, dua novel berikut dapat dibaca sebagai alas kritik dengan berbagai kemaruk politik Pesta Babi dan kesenjangan sosial ekonomi yang makin parah.</p>
<p>Pertama, novel Ladang Perminus karya Ramadhan K.H. diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti pada tahun 1990.</p>
<p>Ramadhan K.H., lahir di Bandung 16 Maret 1927 dan wafat di Cape Town, Afrika Selatan, 16 Maret 2006, menulis novel ini sebagai refleksi atas kasus korupsi besar di Pertamina pada dekade 1970-an.</p>
<p>Isi novel menyoroti tokoh Hidayat, seorang bekas pejuang ’45 yang bekerja di Perminus(Perusahaan Minyak Nusantara).</p>
<p>Ia digambarkan sebagai sosok jujur dan idealis yang menolak ikut arus korupsi di lingkungannya.</p>
<p>Konflik utama muncul ketika ia mengetahui atasannya menerima suap besar dari perusahaan asing.</p>
<p>Hidayat berusaha melawan praktik tersebut, meski akhirnya harus kehilangan jabatan dan peluang politiknya.</p>
<p>Novel ini menampilkan bagaimana budaya kekuasaan yang korup merembes ke berbagai lembaga negara dan BUMN.</p>
<p>Tentu, hal itu menjadikan integritas pribadi sebagai taruhan yang sangat mahal dan sarar resiko.</p>
<p>Ramadhan K.H. menulis dengan gaya yang lugas dan berani, sehingga novel ini terasa seperti kesaksian nyata atas praktik busuk yang pernah mengguncang publik di periode awal Orde Baru.</p>
<p>Salah satu kutipan dari novel ini yang mencerminkan esensi kritiknya adalah:</p>
<p>“Ia merasa telah menyelamatkan kekayaan rakyat, kekayaan orang banyak, kekayaan negara. Ia kemudian mempertanyakan ke mana selisih uang tersebut; menjadi milik siapa dan jadi keuntungan siapa.”</p>
<p>Dengan demikian, ungkapan ini menegaskan bahwa korupsi bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan bagian dari budaya kekuasaan yang sistemik.</p>
<p>Novel Ladang Perminus menjadi penting karena tidak hanya menghadirkan cerita fiksi.</p>
<p>Akan tetapi, ia juga fakta yabg membuka ruang refleksi tentang bagaimana korupsi di BUMN dan lembaga negara merusak kepercayaan publik.</p>
<p>Ramadhan K.H. menyalakan kembali emosi melawan budaya korupsi dan menjadikan karya ini sebagai dokumen sastra yang berfungsi ganda: sebagai kritik sosial sekaligus pengingat sejarah.</p>
<p>Novel ini memperlihatkan bahwa perjuangan melawan korupsi adalah perjuangan moral yang sering kali berakhir dengan pengorbanan pribadi.</p>
<p>Meski begitu, sikap itu akan tetap menjadi teladan bagi generasi berikutnya.</p>
<p>Kedua, novel Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis pertama kali terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Twilight in Jakarta pada 1963, kemudian dalam bahasa Indonesia pada 1970.</p>
<p>Mochtar Lubis lahir di Padang, 7 Maret 1922, dan wafat di Jakarta, 2 Juli 2004.</p>
<p>Karya ini menggambarkan situasi sosial, ekonomi, budaya, dan politik Indonesia menjelang awal Orde Baru, dengan kritik tajam terhadap korupsi, ketimpangan, dan moralitas elite.</p>
<p>Novel ini ditulis ketika Mochtar Lubis berada dalam tahanan politik pada masa Orde Lama, sehingga atmosfer cerita sarat dengan pengalaman langsung tentang represi dan manipulasi kekuasaan.</p>
<p>Tokoh-tokoh seperti Raden Kaslan dan keluarganya digambarkan menggunakan perusahaan fiktif untuk mengeruk keuntungan dari lisensi impor.</p>
<p>Sementara itu, rakyat kecil seperti Saimun, Itam, dan Neneng hidup dalam kemiskinan yang semakin parah.</p>
<p>Kontras ini memperlihatkan jurang sosial yang melebar akibat praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.</p>
<p>Lubis juga menyoroti kaum intelektual yang hanya berdebat tanpa tindakan nyata, serta media yang awalnya membela pemerintah tetapi kemudian berbalik menyerang ketika kekuasaan melemah.</p>
<p>Situasi di novel ini mencerminkan budaya politik yang oportunis dan rapuh, di mana kepentingan pribadi dan partai lebih diutamakan daripada kesejahteraan rakyat.</p>
<p>Salah satu kutipannya yang relevan berbunyi:</p>
<p>“Keadaan Indonesia digambarkan sebagai negara yang korup yang melahirkan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin melarat.”</p>
<p>Dengan demikian, kutipan ini menegaskan bahwa novel tersebut bukan sekadar fiksi, melainkan potret sosial yang tajam tentang realitas politik dan ekonomi Indonesia pada masa transisi menuju Orde Baru.</p>
<p>Dengan gaya realis yang keras, Mochtar Lubis menampilkan Jakarta sebagai simbol negara yang sedang mengalami senjakala moral.</p>
<p>Novel ini menjadi penting karena tidak hanya mengisahkan intrik politik dan korupsi.</p>
<p>Akan tetapi, juga memperlihatkan bagaimana budaya kekuasaan yang timpang merusak sendi kehidupan sosial dan ekonomi.</p>
<p>Senjakala di Jakarta tetap relevan sebagai kritik terhadap praktik politik yang mengabaikan hak-hak keadilan dan kesejahteraan rakyat.</p>
<p>Juga, sekaligus sebagai peringatan bahwa korupsi dan ketidakadilan adalah ancaman permanen bagi demokrasi dan kebudayaan bangsa.</p>
<p>Membaca Paradoks Indonesia bersama dua novel ini — Ladang Perminus dan Senja di Jakarta — berarti menempatkan kritik Prabowo dalam tradisi panjang sastra Indonesia yang sejak lama menyoroti ketimpangan dan korupsi.</p>
<p>Ironinya, apa yang dulu ia tulis sebagai oposisi kini menjadi tantangan yang harus ia jawab sendiri sebagai presiden.</p>
<p>Ramadhan K.H. dan Mochtar Lubis menunjukkan bahwa ketimpangan bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan penyakit budaya politik yang terus berulang.</p>
<p>Dengan demikian, ketiga teks ini saling berpantulan: buku Prabowo sebagai kritik yang kini diuji oleh realitas pemerintahannya, dan dua novel sebagai pengingat bahwa korupsi dan ketidakadilan adalah ancaman permanen yang menuntut keberanian moral untuk terus dilawan.</p>
<p>#coverlagu:<br />
Lagu “Kembali ke Jakarta” ciptaan Tonny Koeswoyo dan dinyanyikan Koes Plus pertama kali dirilis tahun 1969 dalam album Dheg Dheg Plas.</p>
<p>Lagu ini kemudian direkam ulang dan masuk dalam album kompilasi The Best of Koes Volume 2 pada 1974.</p>
<p>#credit foto diunggah dari kanal Youtube Prabowo Subianto Book Review: The Indonesian Paradox and Its Solution I. SIASAT CHANNEL; cover buku Senja di Jakarta Kepo Buku dan THE LIBRARY OF RAMADHAN KH | Book 1 | Eps 1 | Ladang Perminus<br />
Pojok Shahnaz.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KETIKA VLADIMIR PUTIN MENJEMPUT SENDIRI GURUNYA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/ketika-vladimir-putin-menjemput-sendiri-gurunya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 22:56:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Reiner Ointoe]]></category>
		<category><![CDATA[KETIKA VLADIMIR PUTIN MENJEMPUT SENDIRI GURUNYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=5275</guid>

					<description><![CDATA[oleh Reiner Emyot Ointoe &#8211; “Guru bukan hanya penyampai pengetahuan; mereka adalah para penanam ketahanan dan penjaga demokrasi.” — Randi Weingarten(68), Why Fascists Fear Teachers: Public Education and the Future of Democracy(2025). Setelah sembilan hari Indonesia merayakan Hardiknas, pada 11 Mei 2026 silam, Presiden Rusia Vladimir Putin(73) melakukan sebuah gestur yang sarat makna. Seusai menghadiri [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Reiner Emyot Ointoe</p>
<p>&#8211;</p>
<p>“Guru bukan hanya penyampai pengetahuan; mereka adalah para penanam ketahanan dan penjaga demokrasi.” — Randi Weingarten(68), Why Fascists Fear Teachers: Public Education and the Future of Democracy(2025).</p>
<p>Setelah sembilan hari Indonesia merayakan Hardiknas, pada 11 Mei 2026 silam, Presiden Rusia Vladimir Putin(73) melakukan sebuah gestur yang sarat makna.</p>
<p>Seusai menghadiri Parade Hari Kemenangan di Lapangan Merah pada 9 Mei — sebuah acara yang menjadi simbol kebanggaan nasional Rusia — ia menjemput mantan gurunya, Vera Dmitriyevna Gurevich, dari sebuah hotel di Moskow dan mengajaknya makan malam di Kremlin.</p>
<p>Dengan mengenakan pakaian santai, membawa bunga, dan memeluk gurunya, Putin memperlihatkan sisi personal yang jarang muncul di panggung politik.</p>
<p>Ia sendiri yang mengantarkan Vera, yang saat itu berusia 88 tahun, dengan mobil Aurus SUV menuju Kremlin.</p>
<p>Vera Gurevich bukan sekadar guru bahasa Jerman di masa sekolah Putin di Leningrad, melainkan sosok yang pernah mendorongnya untuk lebih serius belajar, bahkan sampai mendatangi rumahnya untuk memberi motivasi.</p>
<p>Kehadiran Vera dalam hidup Putin menjadi bagian dari narasi bahwa seorang guru dapat meninggalkan jejak mendalam pada muridnya, bahkan ketika murid itu kelak menjadi pemimpin negara.</p>
<p>Dalam kesempatan itu, Putin berkata, “Guru adalah orang yang membentuk kita sejak awal, mereka memberi kita bukan hanya pengetahuan, tetapi juga arah hidup.”</p>
<p>Ucapan Putin mencerminkan rasa hormat yang ia tunjukkan kepada Vera, sekaligus menegaskan peran guru sebagai fondasi moral dan intelektual bagi generasi muda.</p>
<p>Gestur undangan pertemuan, guru dsn murid, ini tidak hanya menampilkan kedekatan pribadi, tetapi juga membawa pesan politik.</p>
<p>Di tengah isu isolasi internasional dan rumor mengenai penggunaan “body double,” Kremlin menampilkan sisi manusiawi Putin melalui momen yang hangat dan penuh nostalgia.</p>
<p>Dengan mengajak gurunya ke Kremlin, ia seolah ingin menunjukkan bahwa di balik citra keras seorang pemimpin, ada ruang untuk rasa terima kasih dan penghargaan terhadap sosok yang membentuk dirinya sejak remaja.</p>
<p>Peristiwa ini menjadi refleksi lain bahwa hubungan guru dan murid melampaui ruang kelas.</p>
<p>Guru tidak hanya mengajarkan bahasa atau ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang kelak menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan.</p>
<p>Dalam konteks era milenial, kutipan Putin tersebut terasa relevan: guru tetap menjadi figur yang membentuk arah hidup generasi muda, meski tantangan zaman kini berbeda dengan masa lalu.</p>
<p>Untuk memperoleh respon kritis atas tindakan moral Putin, buku Why Fascists Fear Teachers: Public Education and the Future of Democracy(2025) karya Randi Weingarten dapat menajamkan empati dan apresiasi kita terhadap para guru.</p>
<p>Weingarten, yang saat ini berusia 68 tahun dan masih aktif menjabat sebagai Presiden American Federation of Teachers sejak 2008, menulis buku ini sebagai “surat cinta” kepada guru sekaligus peringatan tentang ancaman otoritarianisme.</p>
<p>Buku ini menggambarkan bagaimana guru, melalui tindakan sehari-hari seperti menumbuhkan empati, berpikir kritis, dan pluralisme, menjadi benteng utama demokrasi.</p>
<p>Ia menyoroti sejarah perlawanan guru, misalnya di Norwegia saat pendudukan Nazi, dan mengaitkannya dengan kondisi Amerika saat ini di mana sekolah publik menghadapi pemotongan anggaran, sensor sejarah, serta kampanye politik yang memecah belah masyarakat.</p>
<p>Menurutnya, para otoritarianis takut pada warga negara yang terdidik karena mereka mampu membedakan fakta dari propaganda dan menuntut akuntabilitas politik.</p>
<p>Weingarten menekankan bahwa serangan terhadap guru bukan karena kesalahan mereka, melainkan karena peran penting mereka dalam membentuk masyarakat demokratis.</p>
<p>Buku ini mengkritisi upaya sistematis untuk melemahkan sekolah publik melalui privatisasi, homeschooling, dan sekolah berbasis agama atau daring, yang pada akhirnya dapat memecah masyarakat dan meninggalkan siswa paling rentan dengan sumber daya minim.</p>
<p>Namun ia tetap optimis bahwa guru dan sekolah publik dapat menjadi “antidot” terhadap kekerasan politik dan polarisasi, dengan menciptakan ruang aman, pluralistik, dan mendidik generasi muda untuk hidup bersama secara damai.</p>
<p>Relevansi buku ini bersifat global, termasuk bagi Indonesia, karena menyoroti peran guru bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai penjaga nilai demokrasi dan kebebasan.</p>
<p>#coversongs:<br />
Lagu “Katyusha” versi Balkaneros Banditos dirilis pada 30 Mei 2024 sebagai bagian dari album So Far So Good: Our Favorite Original, Traditional, and Cover Songs A to Z (Remastered 2024 Deluxe Edition).</p>
<p>Lagu Katyusha pertama kali dipentaskan pada 27 November 1938 oleh penyanyi jazz Valentina Batishcheva di Moskow, dengan lirik karya Mikhail Isakovsky dan musik ciptaan Matvey Blanter.</p>
<p>Lagu ini tetap membawa makna kerinduan seorang gadis kepada kekasihnya yang berjuang di medan perang, tetapi versi Balkaneros memberi nuansa baru dengan ritme energik khas Balkan.</p>
<p>#credit foto Putin menjemput Vera diambil dari Instagram Kompas.com.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MELACAK TAUHID DI BALIK AI?</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/kolom/melacak-tauhid-di-balik-ai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 22:51:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Reiner Ointoe]]></category>
		<category><![CDATA[MELACAK TAUHID DI BALIK AI?]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=5272</guid>

					<description><![CDATA[oleh Reiner Emyot Ointoe &#8211; „Wa lillāhil-masyriqu wal-maghrib, fa aynamā tuwallū faṡamma wajhullāh, innallāha wāsi‘un ‘alīm“ — „Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas(rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 115). Era mutakhir akal imitasi(AI) telah menumbuhkan dilema moral sekaligus paradoks eksistensial manusia. Pertanyaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Reiner Emyot Ointoe</p>
<p>&#8211;</p>
<p>„Wa lillāhil-masyriqu wal-maghrib, fa aynamā tuwallū faṡamma wajhullāh, innallāha wāsi‘un ‘alīm“ — „Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas(rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.“(QS. Al-Baqarah: 115).</p>
<p>Era mutakhir akal imitasi(AI) telah menumbuhkan dilema moral sekaligus paradoks eksistensial manusia.</p>
<p>Pertanyaan mendasar muncul: bagaimana tauhid, sebagai fondasi iman Islam, berhadapan dengan teknologi yang mampu meniru kecerdasan manusia?</p>
<p>Dua karya akademis mutakhir memberi celah jawaban yang cukup menarik.</p>
<p>Pertama, Islamic Perspectives on God and Monotheism(Brill, 2026) yang diedit oleh Wahid M. Amin, Sajjad Rizvi, dan Aaron W. Hughes menyoroti kompleksitas doktrin tauhid dari perspektif Sunni, Syiah, dan filsafat Islam klasik.</p>
<p>Tidak hanya membahas perdebatan teologis tradisional, buku ini juga membuka ruang refleksi kontemporer, termasuk bagaimana AI memengaruhi cara manusia memahami konsep ketuhanan.</p>
<p>Salah satu kutipan penting berbunyi: “Tantangan kecerdasan buatan terletak bukan pada kemampuannya untuk menyaingi peran ilahi, tetapi pada kemampuannya untuk membentuk kembali pemahaman diri manusia sebagai agen moral di bawah Tuhan.”</p>
<p>Kutipan ini menegaskan bahwa AI bukan ancaman terhadap Tuhan, melainkan ujian bagi manusia untuk meninjau kembali peran mereka sebagai khalifah.</p>
<p>Dalam perspektif teologi Islam, manusia adalah subjek moral yang diberi akal dan tanggung jawab.</p>
<p>Kehadiran AI menimbulkan pertanyaan baru: apakah keputusan algoritmik dapat dianggap sebagai bagian dari agensi manusia, atau justru mengaburkan peran manusia sebagai subjek moral di bawah Tuhan?</p>
<p>Buku ini menekankan bahwa “AI memaksa kita untuk mempertimbangkan kembali tata bahasa kekuasaan ilahi, bukan karena mesin bertindak seperti dewa.</p>
<p>Akan tetapi, karena mereka memaksa kita untuk memikirkan kembali apa artinya bertindak sebagai manusia di hadapan Tuhan.”</p>
<p>Dengan demikian, tauhid tetap relevan, tetapi harus dibaca ulang dalam konteks dunia yang semakin dikuasai teknologi.</p>
<p>Sebagai bandingan kritis dalam sains terapan, Bridging Bioscience and Islam: Engaging Big Questions about the Human Being(Springer, April 2026) yang diedit oleh Aasim I. Padela menghubungkan bioetika Islam dengan sains modern, khususnya bioteknologi dan kedokteran.</p>
<p>Buku kedua membahas isu genetika, rekayasa tubuh, teknologi medis berbasis AI, dan bioetika kontemporer dengan pendekatan multidisipliner.</p>
<p>Padela menekankan bahwa biosains modern tidak hanya memengaruhi tubuh manusia, tetapi juga cara kita memahami diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan.</p>
<p>Ia menulis: “Ilmu biologi memaksa kita untuk meninjau kembali antropologi teologis, dan bertanya kembali apa artinya menjadi manusia dalam terang intervensi teknologi.”</p>
<p>Kehadiran AI dalam kedokteran, misalnya, tidak menyaingi pengetahuan ilahi, tetapi menantang tanggung jawab manusia sebagai agen moral.</p>
<p>Padela menegaskan bahwa “Bioetika Islam harus bergulat dengan realitas ganda kemajuan ilmiah dan pertanggungjawaban ilahi.”</p>
<p>Dengan kata lain, setiap kemajuan teknologi harus dipertimbangkan dalam kerangka tanggung jawab spiritual.</p>
<p>Kedua karya ini memperlihatkan bahwa tauhid dan antropologi Islam tidak berhenti pada perdebatan klasik, melainkan terus bergerak menghadapi tantangan modern.</p>
<p>AI dan biosains bukan ancaman terhadap Tuhan, melainkan ujian bagi manusia untuk tetap bertindak sebagai subjek moral.</p>
<p>Dengan demikian, tauhid tetap menjadi fondasi iman, tetapi harus dibaca ulang dalam terang teknologi yang mengubah cara kita memahami diri, Tuhan, dan dunia.</p>
<p>#coverlagu:<br />
Lagu “Kalimah Tauhid” adalah salah satu karya populer dari grup nasyid Malaysia, Rabbani. Grup ini berdiri pada tahun 1997 setelah berpisah dari Nada Murni, dan hingga kini tetap aktif.</p>
<p>#credit foto dua cover buku yang dikutip dan aktivitas komputer dari Youtube @the_islam_motivation.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
