<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Puisi &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/category/puisi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Aug 2026 10:29:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Puisi &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sambut Suasana Kemerdekaan RI Ke-81, TISI Luncurkan Buku Antologi Bersama Puisi Dwi Bahasa &#8216;Bahasa Ibu, Bahasa Darahku&#8217;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/sambut-suasana-kemerdekaan-ri-ke-81-tisi-luncurkan-buku-antologi-bersama-puisi-dwi-bahasa-bahasa-ibu-bahasa-darahku</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2026 10:29:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Darahku']]></category>
		<category><![CDATA[Sambut Suasana Kemerdekaan RI Ke-81]]></category>
		<category><![CDATA[TISI Luncurkan Buku Antologi Bersama Puisi Dwi Bahasa 'Bahasa Ibu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=8383</guid>

					<description><![CDATA[Pulo Lasman Simanjuntak&#124; Penulis &#8211; JAKARTA- SUARA ANAK NEGERI&#124; Sambut suasana Hari Ulangtahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-81 komunitas sastra Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) akan meluncurkan buku antologi bersama puisi dwi bahasa dengan tema &#8220;Bahasa Ibu, Bahasa Darahku&#8221; pada Sabtu, 8 Agustus 2026 mulai.pukul 14.00 WIB s/d pukul 16.30 WIB bertempat di Aula Pusat Dokumentasi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pulo Lasman Simanjuntak| Penulis</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>JAKARTA- SUARA ANAK NEGERI</strong>| Sambut suasana Hari Ulangtahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-81 komunitas sastra Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) akan meluncurkan buku antologi bersama puisi dwi bahasa dengan tema &#8220;Bahasa Ibu, Bahasa Darahku&#8221; pada Sabtu, 8 Agustus 2026 mulai.pukul 14.00 WIB s/d pukul 16.30 WIB bertempat di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Gedung Ali Sadikin, Lantai 4, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.</p>
<p>Demikian dikatakan oleh Octavianus Masheka , Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) kepada wartawan di Jakarta, Minggu pagi (2/8/2026).</p>
<p>&#8220;Acara sastra ini akan dibuka dengan mendengar kata sambutan dari Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dispusip Provinsi DKI Jakarta &#8221; jelasnya.</p>
<p>Menurut Bung Octa-panggilan akrabnya- acara sastra tahun 2026 ini merupakan seri ke-5 , dan akan terus berlanjut.</p>
<p>&#8220;TISI mengadakan kegiatan merawat bahasa ibu dari beberapa daerah di seluruh Indonesia setiap tahunnya dengan menghadirkan buku antologi bersama puisi dwi bahasa tersebut, &#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;TISI mengundang para pelaku sastra bahasa daerah dan Indonesia di Jakarta untuk menghadiri diskusi berhadiah buku dan uang tunai dibulan Kemerdekaan RI ke-81 ini,&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Menyinggung acara sastra yang dikaitkan dengan menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-81, Octavianus Masheka- yang juga dikenal sebagai penyair dan sastrawan ini- mengatakan Kemerdekaan HUT RI tahun 2026 ini untuk juga menginfokan kepada masyarakat luas bahwa bahasa daerah sangat berperan pada masa perjuangan Kemerdekaan RI.</p>
<p>&#8221; Bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Batak, Sunda, dan masih banyak lagi bahasa daerah di seluruh Indonesia ikut berperan pada awal Kemerdekaan RI tahun 1945 khususnya lewat komunikasi perjuangan saat itu &#8221; ucapnya.</p>
<p><strong>Para Pembaca Puisi</strong></p>
<p>Peluncuran dan diskusi sastra antologi bersama puisi dwi bahasa (Indonesia-Daerah) dengan tema &#8220;Bahasa Ibu, Bahasa Darahku&#8221; dengan moderator Swary Utami Dewi akan menghadirkan pembicara (1) Octavianus Masheka, pembicara (2) Saut Poltak Tambunan, dan pembicara (3) Eva Yenita Syam.</p>
<p>Sedangkan para pembaca puisi terdiri dari Kurnia Effendi, Nurhayati, Hana, Indar, Boyke Sulaiman (deklamator), Jose Rizal Manua (deklamator), Salman Yoga S (Penyair dari Gayo) , Imam Ma&#8217;arif, dan Rissa Churia.(*)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Langkah Tanpa Suara</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/puisi/langkah-tanpa-suara</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2026 05:22:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Punggung]]></category>
		<category><![CDATA[semakin]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=8330</guid>

					<description><![CDATA[Nanditha Firzani Cleveland &#124; Penulis Punggung yang semakin membungkuk, waktu tersimpan lelah yang tak pernah diucapkan kata, bangun sebelum fana menyingsingkan muka, bekerja dari malam &#160; memeluk raga, bukan hanya untuk pujian atau kemegahan dunia tetapi agar aku bisa melangkah lebih jauh daripada mereka, air keringatnya adalah sebuah &#160; doa yang tidak pernah putus, cintanya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nanditha Firzani Cleveland | Penulis</strong></p>
<p>Punggung yang semakin membungkuk,</p>
<p>waktu tersimpan lelah yang tak pernah</p>
<p>diucapkan kata, bangun sebelum fana</p>
<p>menyingsingkan muka, bekerja dari malam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>memeluk raga, bukan hanya untuk pujian</p>
<p>atau kemegahan dunia tetapi agar aku</p>
<p>bisa melangkah lebih jauh daripada</p>
<p>mereka, air keringatnya adalah sebuah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>doa yang tidak pernah putus, cintanya</p>
<p>perjuangan sejati, tanpa batas, tanpa</p>
<p>putus.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SEKALI-SEKALI SAYA MENULIS TENTANG LINA DAN PUISINYA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/sekali-sekali-saya-menulis-tentang-lina-dan-puisinya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2026 16:12:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[SEKALI-SEKALI SAYA MENULIS TENTANG LINA DAN PUISINYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=8289</guid>

					<description><![CDATA[Review Puisi Leni Marlina &#8220;Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut&#8221; oleh: Pinto Janir &#8211; Selamat sore, Lina. Padahal, saya sedang menulis sesuatu. Sejenak saya terhenti. Saya terganggu dalam kenikmatan membaca puisimu. Saya jedakan kerja yang sebenarnya harus saya selesaikan menjelang senja ini; hanya demi menulis tentangmu dan tentang puisimu itu. Tak apa-apa, saya memang merdeka dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Review Puisi Leni Marlina &#8220;Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut&#8221; oleh:</p>
<p><strong>Pinto Janir</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Selamat sore, Lina.</p>
<p>Padahal, saya sedang menulis sesuatu. Sejenak saya terhenti. Saya terganggu dalam kenikmatan membaca puisimu. Saya jedakan kerja yang sebenarnya harus saya selesaikan menjelang senja ini; hanya demi menulis tentangmu dan tentang puisimu itu.</p>
<p>Tak apa-apa, saya memang merdeka dengan apa yang akan saya kerjakan terlebih dahulu. Terkadang, saya tak pakai skala prioritas. Skala saya adalah hati, bukan berdasarkan apa yang urgen, apa yan. mendesak, dan apa yang tak mendesak. Saya akan seperti petus menulis kalau sesuatu itu ada di hati. Dan puisimu itu ada di hati saya. Maaf, Lina, saya agak terburu-buru menuliskan dan menyampaikannya.</p>
<p>Oke, Lina. Puisimu ini, Lina, memaksa saya untuk berpikir. Ia &#8220;memaksa&#8221; dengan cara yang saya sukai, yakni tidak menggurui atau menyodorkan gagasan secara langsung. Ia memaksa melalui ketidaklaziman citraan dan logika puitiknya.</p>
<p>Satu: &#8220;lumutlah yang perlahan menghafal bentuk tulangmu&#8230;&#8221;. Kemudian: &#8220;hijau kehilangan pekerjaannya sebagai warna&#8221;. Sudah itu: &#8220;seekor siput menyalin lengkung bukit ke dalam rumah yang dipikulnya sendiri&#8221;.</p>
<p>Gila, &#8220;keren bana&#8221;….<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f64f.png" alt="🙏" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Pada akhirnya saya harus bekerja untuk menemukan makna. Berat ini, Lina. Kita melihat pohon, batu, hujan, atau wajah orang lain tanpa benar-benar &#8220;melihat&#8221; mereka. Adalah tugas puisi untuk mengembalikan keanehan dunia agar kita merasakan kembali pengalaman melihat dan memahami sesuatu. Saya paham, Lina.</p>
<p>Saya ulang kembali selarik dari puisimu: “lumutlah yang perlahan menghafal bentuk tulangmu”. Kalau bukan dalam bahasa puisi, barangkali kita akan mengatakannya bahwa &#8220;lumut tumbuh di atas batu&#8221;. Namun, dengan kontemplasi aksara di ruang intuitifmu yang hidup, kau &#8220;paksa&#8221; lumut menghafal bentuk tulangmu.</p>
<p>Mungkin ini yang disebut sebagai defamiliarisasi (ostranenie), istilah yang diperkenalkan oleh kritikus Rusia, Viktor Shklovsky, di mana aksara dibuat asing agar pembaca tidak menerima realitas secara otomatis. Lina, saya baca puisimu itu, Dik.</p>
<p>Seketika, lumut bukan lagi tumbuhan kecil yang biasa direkam mata. Ia menjadi makhluk yang seolah-olah memiliki kekuatan mengingat. Kurasa, di situlah defamiliarisasi bekerja. Penyair besar seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, atau Sutardji Calzoum Bachri memakai teknik ini. Lina, banyak memang penyair menulis tentang batu, lumut, hujan, atau gunung. Namun, hanya sedikit yang mampu menghadirkan hubungan baru di antara benda-benda itu.</p>
<p>Pesanmu, Lina, sampai… Sampai pada larik: “Mengapa manusia tergesa menjadi musim, sedangkan batu rela menunggu seribu hujan untuk memperoleh satu pori?”</p>
<p>Bila alam &#8220;berevolusi&#8221;, celaka dunia dan segala isinya. Kalau manusia &#8220;berevolusi&#8221;, yang sengsara adalah alam. Habis binasa dibuatnya.</p>
<p>Puisimu sudah berfilsafat, Dik. Aku suka! Makin kuat puisi ini. Makin dalam pesan yang hendak dirimu sampaikan. &#8220;Jika suatu hari namamu meluruh menjadi lumut, barangkali gunung akhirnya menemukan cara baru untuk bernapas bersamamu.&#8221;</p>
<p>Teruslah, Dik. Berpuisi adalah salah satu tanda bahwa seseorang masih bersedia masuk pada kedalaman dirinya sendiri; sedalam-dalamnya hingga relung yang paling &#8220;cukam&#8221; (dalam). Sesungguhnya, puisi bukan sekadar merangkai kata-kata indah. Bukan hanya soal, “Oh bulan, oh bintang, kaulah pujaan hatiku.” Bukan begitu. Bukan pula sekadar menyusun kalimat yang terdengar puitis. Pada hakikatnya, puisi adalah cara berpikir yang paling dalam, paling sunyi, dan paling jujur.</p>
<p>Karena itu, saya selalu percaya bahwa puisi sesungguhnya adalah filsafat yang menjelma menjadi bahasa. Dan kuamati dirimu sedang menuju ke arah sana, Lina.</p>
<p>Oalah, kata orang bikin puisi itu mudah. Padahal, membuat puisi yang benar-benar hidup dan penuh makna tidaklah semudah yang sering dibayangkan orang. Menulis puisi bukan pekerjaan menghias kata belaka. Tukang puisi adalah tukang yang kerjanya menggali makna. Bukan asal &#8220;malontong&#8221;.</p>
<p>Oi, Lina, yakinlah bahwa seorang penyair tidak hanya bertanya tentang apa yang ia lihat. Seorang penyair itu &#8220;memandang&#8221;, sehingga ia mampu melihat apa yang tersembunyi di balik yang tak terlihat itu.</p>
<p>Penyair tidak akan pernah berhenti pada sebuah peristiwa. Ia akan berusaha terus menjangkau hakikat peristiwa itu sendiri. Ia akan terus menjangkau walau ia tahu bahwa bulan itu jauh.</p>
<p>Karena itulah saya membedakan antara puisi yang tumbuh dan puisi yang hanya bertunas. Puisi persemaian, itu namanya. Ya, puisi persemaian, puisi yang masih berada pada tahap awal pertumbuhan. Ia baru masuk pada tahap untuk memperlihatkan kecakapan memilih kata. Puisi persemaian belum sepenuhnya memiliki kedalaman makna. Ia mungkin enak untuk dibaca, tetapi belum meninggalkan gema pemikiran setelah selesai dibaca. Ia seperti bibit yang baru ditanam: menjanjikan, tetapi belum tentu menjadi pohon.</p>
<p>Lina, puisimu puisi bermakna. Bukan puisi hampa. Puisi hampa yang saya maksudkan adalah puisi yang biasanya tersusun dari kata-kata yang tampak seperti puitis, tetapi tidak mengandung pergulatan batin, tidak menyimpan gagasan, tidak menghadirkan pengalaman estetik, dan pula tidak membuka ruang tafsir untuk berpikir. Kata-katanya bergerak, tetapi maknanya tidak berjalan ke mana-mana. Jalannya jalan di tempat! Tak ada yang dapat dipetik. Begitulah. Kalimat-kalimatnya tersusun rapi, namun tidak melahirkan perenungan. Ibarat putus cinta; dunia terasa hampa!</p>
<p>Kau beda, Lina. Kau, di mataku, memang penyair!</p>
<p>Puisimu bukan puisi kosong. Puisi kosong itu seperti ini, Lina, di mana &#8220;si puisi&#8221; sering terjebak pada narasi biasa yang hanya dipotong-potong menjadi larik. Ia bercerita, tetapi tidak menggaduh ruang rasa. Ia menjelaskan, tetapi tidak mencerahkan. Ia berbunyi, tetapi tidak bergaung. Setelah dibaca, tidak ada pertanyaan yang tertinggal. Tidak ada kesan yang menetap, dan tidak ada pula pemikiran yang tumbuh di dalam diri pembaca. Nah, inilah yang saya sebut dengan &#8220;puisi kosong&#8221;. Ya, asal malontong itu tadi. Itu &#8220;doang&#8221;.</p>
<p>Lina, puisi yang baik selalu meninggalkan sesuatu. Ia berkesan. Ia berbekas. Ia tak tenggelam ditimbun debu zaman. Ia mungkin tidak memberikan jawaban, tetapi ia menanamkan kegelisahan. Ia mungkin saja tidak pernah menyampaikan pesan-pesan secara gamblang, tetapi ia membuka pintu bagi lahirnya sebuah makna. Puisi yang baik, bagi saya, ibarat sebuah jendela. Begitu kita buka, tampaklah cakrawala. Sebab pada akhirnya, puisi bukanlah tumpukan kata, melainkan perjumpaan antara bahasa, pemikiran, pengalaman, dan jiwa manusia.</p>
<p>Teruslah menulis, Lina. Sebab setiap puisi yang lahir dari perenungan yang sungguh-sungguh adalah bukti bahwa manusia masih mau berpikir, masih mau merasakan, dan masih mau mencari makna di tengah dunia yang semakin tergesa-gesa.</p>
<p>Penyair Lina, teruslah menyair.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, 31 Juli 2026</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p>Lampiran Puisi</p>
<p><strong>Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>–</p>
<p>Engkau batu<br />
Kau tidak menjadi tua,<br />
lumutlah yang perlahan menghafal bentuk tulangmu.<br />
Embun mengapur urat daun hingga hijau kehilangan pekerjaannya sebagai warna.</p>
<p>Mengapa manusia tergesa menjadi musim,<br />
sedangkan batu rela menunggu seribu hujan untuk memperoleh satu pori?<br />
Kau menyentuh granit,<br />
telapakmu dipenuhi serbuk waktu yang belum selesai menjadi abad.</p>
<p>Seekor siput menyalin lengkung bukit ke dalam rumah yang dipikulnya sendiri.<br />
Retakan mengandung akar,<br />
akar mengandung hujan,<br />
hujan mengandung batu yang akan lahir.<br />
Tak cukup keteguhan di sini,<br />
hanya mineral yang terlalu sabar untuk disebut bergerak.</p>
<p>Jika suatu hari namamu meluruh menjadi lumut,<br />
barangkali gunung akhirnya menemukan cara baru untuk bernapas bersamamu.</p>
<p>–</p>
<p>Monash, Australia, 2012</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/270d.png" alt="✍" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Kumpulan puisi selengkapnya dapat di akses melalui link official berikut:</p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="VMdyD6s9fH"><p><a href="https://www.suaraanaknegeri.com/umum/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-jika-namamu-meluruh-menjadi-lumut"> Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina &#8220;Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut&#8221;</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="“ Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina “Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut”” — Suara Anak Negeri" src="https://www.suaraanaknegeri.com/umum/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-jika-namamu-meluruh-menjadi-lumut/embed#?secret=1tf9QiApSW#?secret=VMdyD6s9fH" data-secret="VMdyD6s9fH" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>Tentang Penulis &#8211; Pinto Janir</strong></p>
<p>Pinto Janir merupakan seorang seniman multi talenta, wartawan, tokoh sastra dan budayawan asal Padang, Sumatera Barat, yang terkenal dengan julukan &#8220;Raja Penyair&#8221; lewat gaya baca puisi yang penuh tenaga dan musikal.<br />
Sering tampil memukau dalam berbagai panggung puisi dan acara seni besar di Indonesia dengan ciri khas tersendiri sebagai seorang penyair dan seniman.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Cantik mulai Pamitan</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/unggulan/ketika-cantik-mulai-pamitan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2026 01:46:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Cantik mulai Pamitan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=8219</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Elza Peldi Taher Sudah hampir tiga minggu rumah kami terasa berbeda. Tidak ada lagi langkah-langkah kecil Si Cantik yang berlari menyambut ketika pintu dibuka. Tidak ada lagi suaranya yang seolah mengingatkan bahwa waktu makan telah tiba. Kucing putih yang selama delapan tahun menjadi bagian dari keluarga kami kini lebih banyak terbaring diam. Sudah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Oleh : Elza Peldi Taher</strong></p>
<p>Sudah hampir tiga minggu rumah kami terasa berbeda. Tidak ada lagi langkah-langkah kecil Si Cantik yang berlari menyambut ketika pintu dibuka. Tidak ada lagi suaranya yang seolah mengingatkan bahwa waktu makan telah tiba. Kucing putih yang selama delapan tahun menjadi bagian dari keluarga kami kini lebih banyak terbaring diam.</p>
<p>Sudah tiga minggu pula ia tak mau makan. Kami telah membawanya ke dokter hewan dan memberinya obat. Namun hingga hari ini, makanan yang masuk ke tubuhnya hanyalah vitamin dan antibiotik yang kami berikan setiap pagi dan malam. Itu pun selalu melalui perjuangan. Ia mengatupkan mulutnya rapat-rapat sehingga kami harus membujuknya dengan penuh kesabaran agar obat itu dapat tertelan.</p>
<p>Menurut dokter hewan, Si Cantik kemungkinan mengalami gangguan pada ginjal. Untuk memastikannya diperlukan tes darah dan perawatan khusus. Biaya tes darah saja mencapai lebih dari satu juta rupiah, belum lagi biaya perawatan berikutnya. Namun dokter juga mengatakan bahwa usia seekor kucing umumnya sekitar sepuluh tahun. Jika memang penyakitnya sudah berat, berbagai tindakan medis mungkin hanya dapat memperpanjang waktu, bukan mengembalikan kesehatannya seperti semula.</p>
<p>Setelah berdiskusi, kami memutuskan merawatnya di rumah. Kami ingin hari-harinya tetap dihabiskan di lingkungan yang dikenalnya, di tengah orang-orang yang selama ini menyayanginya.</p>
<p>Kini hampir sepanjang hari Si Cantik hanya berbaring.  Tubuhnya kurus kering. Ia  tak lagi mau diajak bermain atau bercanda seperti dulu. Sesekali ia berjalan pelan keluar rumah menuju sebuah sudut yang sama. Seorang pecinta kucing pernah bercerita kepada saya, jika seekor kucing yang sedang sakit berulang kali mendatangi satu tempat tertentu, konon ia sedang memilih tempat untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya. Saya tidak tahu apakah itu benar atau hanya mitos. Tetapi setiap kali melihat Si Cantik berjalan perlahan ke sudut itu, hati saya selalu diliputi rasa cemas.</p>
<p>Dokter mengatakan bahwa usia sepuluh tahun bagi seekor kucing memang sudah memasuki masa senja. Kalimat itu membuat saya termenung. Rupanya semua makhluk memiliki batas waktu yang telah ditentukan. Bedanya hanya angka. Kucing mungkin sepuluh atau lima belas tahun. Manusia mungkin tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Tetapi pada akhirnya, kita semua sedang menempuh perjalanan menuju tujuan yang sama. Tidak ada yang dapat menghindari takdir itu.</p>
<p>Selama delapan tahun terakhir, Si Cantik bukan lagi sekadar hewan peliharaan. Ia telah menjadi anggota keluarga kami.</p>
<p>Setiap malam ia tidur bersama kami di lantai atas. Namun jika udara mulai dingin, ia sering memilih keluar kamar dan mencari tempat yang lebih hangat. Ketika pagi tiba, ia sudah setia menunggu di depan pintu kamar. Begitu pintu dibuka, ia akan berdiri sambil menatap kami, seolah mengucapkan selamat pagi dan menagih jatah sarapannya. Makanan favoritnya adalah ikan kembung dan ikan cue. Sesekali kami memberinya makanan olahan khusus kucing sebagai selingan. Ia selalu makan dengan lahap.</p>
<p>Yang paling saya kagumi, Si Cantik adalah kucing yang &#8220;jujur&#8221;. Walaupun di atas meja sering ada makanan, ia tidak pernah mencurinya. Ia hanya duduk menunggu kami memberinya makan. Kesabaran dan kebiasaannya itu sering membuat kami tersenyum. Seolah ia mengerti bahwa setiap rezeki ada waktunya.</p>
<p>Ada satu kebiasaan lain yang selalu kami kenang. Setiap kali kami salat, ia seperti ingin ikut bersama. Kami bahkan sering menyiapkan sajadah kecil khusus untuknya. Kalau tidak, ia akan datang mengganggu, berjalan di depan kami, atau duduk di samping seolah ingin menjadi bagian dari suasana yang khusyuk itu. Tingkahnya sederhana, tetapi selalu membuat rumah terasa lebih hidup.</p>
<p>Sejak delapan tahun lalu, setiap Hari Raya Idulfitri kami selalu berfoto bersama keluarga. Dan Si Cantik hampir tidak pernah absen. Entah bagaimana, ia selalu muncul ketika kamera mulai disiapkan. Kini kami memiliki delapan foto Lebaran yang di dalamnya selalu ada Si Cantik. Ketika membuka kembali album-album itu, saya baru menyadari bahwa ia telah tumbuh bersama perjalanan keluarga kami. Wajah anak-anak berubah, rambut kami mulai memutih, tetapi Si Cantik selalu ada di sana, menjadi bagian dari cerita yang kami abadikan setiap tahun.</p>
<p>Beberapa minggu terakhir saya sering menjenguk tetangga yang sakit, menghadiri pemakaman, dan menyaksikan orang-orang yang saya kenal memasuki penghujung hidupnya. Kini pelajaran yang sama datang dari rumah sendiri. Seekor kucing yang selama delapan tahun menemani keluarga kami sedang menjalani fase yang mungkin sama. Ternyata perpisahan tidak memilih kepada siapa ia datang. Kepada manusia ataupun seekor kucing, ia selalu mengajarkan pelajaran yang sama: cintailah selagi masih ada waktu.</p>
<p>Selama ini saya sering mendengar bahwa menyayangi binatang adalah bagian dari akhlak yang baik. Baru sekarang saya benar-benar merasakannya. Ketika kita merawat seekor makhluk selama bertahun-tahun, ia perlahan tidak lagi menjadi peliharaan. Ia menjadi keluarga. Ia ikut mengisi hari-hari kita, menghadirkan tawa, dan tanpa disadari meninggalkan jejak yang begitu dalam.</p>
<p>Kini melihat Si Cantik berjalan tertatih-tatih saja rasanya hati ini ikut lemah. Ia sama sekali tidak mau makan. Kami hanya bisa memaksanya minum obat dan sedikit cairan agar tubuhnya tetap bertahan. Selebihnya, kami hanya bisa membelainya, menemaninya, dan berdoa agar apa pun yang menjadi kehendak Tuhan adalah yang terbaik baginya.</p>
<p>Jika suatu hari nanti Si Cantik benar-benar pergi, yang hilang bukan sekadar seekor kucing. Yang pergi adalah delapan tahun kenangan yang tumbuh bersama keluarga kami. Tetapi saya percaya, kasih sayang tidak pernah sia-sia. Setiap belaian, setiap makanan yang kami berikan, setiap pagi ketika ia setia menunggu di depan pintu, setiap sajadah kecil yang kami siapkan, dan setiap foto Lebaran yang kami abadikan bersama akan tetap hidup dalam ingatan kami.</p>
<p>Terima kasih, Si Cantik, telah menjadi bagian dari keluarga kami selama delapan tahun terakhir. Terima kasih telah mengajarkan kami arti kesetiaan tanpa kata-kata, kasih sayang tanpa syarat, dan kebersamaan yang tulus. Maaf, jika di saat-saat terakhirmu kami tidak mampu berbuat lebih banyak. Kami hanya bisa menemanimu, mencintaimu, dan menyerahkan semuanya kepada kehendak Tuhan.</p>
<p>Pondok Cabe udik 29 Juli 2026</p>
<p>Tentang Penulis</p>
<p style="text-align: center;">Elza peldi Taher</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-akar-yang-tidak-pernah-tersasar</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2026 12:42:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: "AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR"]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=8140</guid>

					<description><![CDATA[/1/ AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR Puisi: Leni Marlina &#8211; Kami mengenali negeri ini bukan dari garis yang membelah kertas, melainkan dari telapak seorang perempuan yang setiap pagi mengadoni sagu hingga embun berubah menjadi sarapan. Di sela kukunya, hutan masih menyimpan serbuk yang belum mengenal harga. Saksikanlah! Bayangan pohon memanjangkan kalimatnya sendiri di atas tanah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kami mengenali negeri ini bukan dari garis yang membelah kertas,<br />
melainkan dari telapak seorang perempuan<br />
yang setiap pagi mengadoni sagu<br />
hingga embun berubah<br />
menjadi sarapan.<br />
Di sela kukunya,<br />
hutan masih menyimpan serbuk yang belum mengenal harga.</p>
<p>Saksikanlah!<br />
Bayangan pohon memanjangkan kalimatnya sendiri<br />
di atas tanah yang tidak memerlukan pidato.<br />
Cendrawasih hinggap<br />
tanpa membawa nyanyian.<br />
Getah naik perlahan<br />
melewati tubuh batang,<br />
seakan akar sedang mengirim<br />
surat yang tak memerlukan huruf.<br />
Mula-mula<br />
ulat berhenti mengunyah.<br />
Kemudian ilalang<br />
kehilangan arah condongnya.</p>
<p>Bukit mengembuskan bau yang tidak pernah lahir dari hujan.<br />
Kami menemukan sebutir benih.<br />
Kulitnya hangat,<br />
seolah baru terlepas<br />
dari tidur seekor burung.</p>
<p>Kami tidak menyerahkannya<br />
kepada pot atau pagar.<br />
Kami menyelipkannya<br />
ke dalam lidah anak-anak,<br />
agar setiap nama<br />
tetap mengandung tanah<br />
meski tanah sendiri<br />
kelak berganti alamat.</p>
<p>Seorang bocah memungut matoa<br />
di tepi luka yang belum mengering.<br />
Ia menciumnya lama.<br />
&#8220;Semalam tanah ini<br />
berbau hujan.&#8221;</p>
<p>Tak ada yang bicara.<br />
Pegunungan hanya memindahkan kesunyiannya<br />
ke punggung burung-burung.</p>
<p>Maka pohon-pohon kami tanam bukan untuk mengalahkan kapak,<br />
melainkan agar damar,<br />
pala, cengkeh,<br />
masih mempunyai seseorang<br />
yang dapat mengenali aromanya,<br />
ketika jauh di bawahnya,<br />
sesuatu<br />
yang yang disebut akar tidak pernah tersasar,<br />
terus berjalan menuju cahaya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>KETIKA MINERAL MENOLAK MENJADI ANGKA</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kami memungut pagi dari serbuk kuarsa yang semalaman berdenyut di bawah kuku akar.<br />
Paku-pakuan mengeja embun dengan aksara yang hanya dipahami lumut kerak.</p>
<p>Lihatlah!<br />
kasuari mematuk gema hingga batu mengeluarkan aroma pala yang belum dipetik musim.</p>
<p>Siapa menyisipkan sempoa ke dalam urat bukit sampai granit lupa cara mengandung mata air?<br />
Siapa mengajari nikel mengenakan wajah cermin hingga hutan tak lagi mengenali bayang daunnya?</p>
<p>Sungai menggulung lidahnya,<br />
rasa besi merambat ke sisik ikan seperti doa yang salah alamat.</p>
<p>Kami mengecap angin:<br />
ada getir ulin, damar liar, dan serbuk waktu yang belum menua.</p>
<p>Tebing memelihara jamur merah,<br />
setiap tudungnya menyembunyikan musim yang lolos dari lelang.</p>
<p>Wahai negeri,<br />
adakah rotan pernah mengikat hujan agar tumbuh hanya di satu halaman?<br />
adakah cengkih memilih telapak tangan sebelum mengharumkan dunia?</p>
<p>Lihatlah!<br />
Buah matoa memadamkan bunyi mesin hanya dengan sebutir biji yang sabar.</p>
<p>Dengarlah akar mengumpulkan kembali denyut bumi yang tercerai oleh hitungan laba.</p>
<p>Kami tidak datang membawa peta, melainkan bau tanah yang menolak diperdagangkan.<br />
Sebab negeri bukan laci logam tempat segelintir tangan menimbun musim.</p>
<p>Negeri ini adalah denyut yang berpindah dari benih ke benih tanpa mengenal pemilik.<br />
Dan kami memilih menjadi ingatan tanah, bukan angka yang tumbuh di buku kas.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>GARAM YANG MENGHAFAL NAMA</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kami tidak mewarisi negeri ini dari peta.<br />
Kami mewarisinya dari bau jaring yang dijemur matahari<br />
di bahu nelayan tua.<br />
Maka garam lebih dahulu<br />
mengenali lidah kami<br />
daripada undang-undang<br />
yang sibuk mengukur pantai.</p>
<p>Lihatlah!<br />
Elang menjatuhkan bayangannya ke teluk.<br />
Air mendadak berasa logam.<br />
Kerang-kerang mengatup<br />
seperti mulut yang dipaksa menelan rahasia.<br />
Siapa mengajari ombak<br />
mengembalikan kilau minyak ke pasir?<br />
Siapa menyusupkan<br />
bunyi bor ke dalam<br />
insang ikan,<br />
hingga kawanan tuna<br />
berbelok mengikuti arah luka?</p>
<p>Kami memungut sejumput garam.<br />
Di setiap kristalnya berdenyut wajah-wajah<br />
yang tak pernah tertulis<br />
di lembar saham.<br />
Seorang perempuan mengibas tikar di tepi laut.<br />
Dari anyamannya terbang<br />
bau cengkih, pala,<br />
kelapa yang diperas hingga matahari berwarna santan.</p>
<p>Tetapi di kejauhan,<br />
bukit-bukit mengeluarkan<br />
asap hitam.<br />
Bukan karena hujan.<br />
Melainkan karena perutnya<br />
dipaksa melahirkan angka.</p>
<p>Apakah bukit pernah meminta<br />
harga kepada hujan?<br />
Apakah bakau pernah menggadaikan pasang<br />
kepada dermaga?<br />
Mengapa hanya kau<br />
mengajari laut cara<br />
menghitung dirinya sendiri?</p>
<p>Kami mencium garam.<br />
Aromanya bukan lagi air laut.<br />
Melainkan kening<br />
para ibu yang menunggu<br />
perahu kembali<br />
tanpa membawa utang.</p>
<p>Kami mengecap angin.<br />
Di lidah kami,<br />
ia berubah menjadi<br />
nyanyian burung camar<br />
yang kehilangan cakrawala.</p>
<p>Kami tidak ingin gunung dipindahkan ke rekening.<br />
Kami tidak ingin sungai dibungkus menjadi kontrak.<br />
Kami tidak ingin<br />
hutan diterjemahkan<br />
ke bahasa neraca.</p>
<p>Sebab kami percaya,<br />
negeri tidak tumbuh<br />
dari brankas,<br />
melainkan dari tangan<br />
yang menanam,<br />
dari perahu yang kembali,<br />
dari benih yang sabar,<br />
dari garam yang menghafal nama kami,<br />
meski laut berulang kali<br />
dipaksa melupakan dirinya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>NEGERI YANG KAMI CINTAI</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Wahai negeri yang kami cintai,<br />
kami memungut<br />
pagi dari kulit rotan<br />
yang masih berembun<br />
di punggung bukit.</p>
<p>Siapa memasukkan<br />
rasa logam ke dalam pati sagu,<br />
hingga lidah musim mendadak berkarat?</p>
<p>Kami melihat burung elang berputar-putar<br />
di atas cekungan tambang,<br />
seolah mencari hutan,<br />
yang dipindahkan ke halaman neraca.</p>
<p>Kami mendengar sungai<br />
batuk pasir.<br />
Insangnya mengunyah<br />
bau solar.<br />
Udang-udang menyimpan matahari<br />
di balik cangkang lumpur.</p>
<p>Siapa mengajari<br />
pohon gaharu mengeluarkan aroma ketakutan?<br />
Siapa menggembok<br />
mata air dengan angka-angka,<br />
hingga hujan harus<br />
membayar<br />
langitnya sendiri?</p>
<p>Wahai negeri yang kami cintai,<br />
kami tidak datang<br />
membawa sertifikat.<br />
Kami membawa<br />
bau cengkeh di tangah ibu,<br />
bekas damar di kuku ayah,<br />
serta serbuk padi<br />
yang belum sempat menjadi roti<br />
di mulut anak-anak.</p>
<p>Apakah fauna<br />
pernah menagih sewa<br />
kepada angin?<br />
Apakah bakau<br />
pernah menjual pasang<br />
kepada laut?<br />
Mengapa hanya manusia<br />
menimbang rimba<br />
dengan bunyi mesin hitung?</p>
<p>Kami mencicipi<br />
angin.<br />
Rasanya seperti buah hutanyang dipetik<br />
sebelum matang.<br />
Kami menghirup<br />
senja.<br />
Baunya seperti damar<br />
yang dipaksa<br />
bersaksi di hadapan bor.</p>
<p>Kami menyentuh<br />
tanah.<br />
Nadinya berdegup<br />
di sela akar ilalang,<br />
memanggil kami<br />
bukan untuk memiliki,<br />
melainkan untuk menjaga.</p>
<p>Wahai negeri yang kami cintai,<br />
biarkan burung-burung mewariskan<br />
arah mata angin,<br />
biarkan sungai-sungai menghafal nama ikan,<br />
biarkan pepohonan menuliskan hijau<br />
di kelopak hujan,</p>
<p>Sebab kami mencintaimu<br />
bukan agar segelintir tangan menimbun gunung ke dalam brankas,<br />
melainkan agar setiap anak masih dapat<br />
mengenali bau tanah<br />
sebagai nama pertama bagi masa depan.</p>
<p>&#8211;<br />
Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-7943" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002.jpg" alt="" width="1496" height="2118" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002.jpg 762w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-212x300.jpg 212w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-723x1024.jpg 723w" sizes="(max-width: 1496px) 100vw, 1496px" /></p>
<p>Tentang Penyair – Leni Marlina</p>
<p>Leni Marlina adalah seorang penyair, penulis, penerjemah, dan dosen asal Indonesia di Departemen Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.</p>
<p>Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan sebagai praktik kreatif sekaligus dialog moral dengan dunia.</p>
<p>Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia juga menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional dan internasional. Tulisan-tulisannya sering mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.</p>
<p>Di samping karier akademiknya, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis, kontributor, editor dan redaktur di beberapa platform media digital seperti SAN Media Group (Suara Anak Negeri News, Suara Anak Negeri, dan Negeri News), tempat ia menerbitkan karya sastra, esai, artikel dan berit tentang pendidikan, literasi, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Semu platform SAN Media Group tersebut memiliki misi yang sama, yaitu “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”</p>
<p>Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari beberapa komunitas sastra dan literasi, di antaranya PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, serta pengembangan literasi lintas budaya.</p>
<p>Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif di beberapa organisasi kepenulisan, termasuk SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan PLS. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia &amp; sejak tahun 2024 juga bergabung sebagai anggota Shanghai Huifeng International Literarty Association (ACC SHILA).</p>
<p>Kontribusinya dalam dunia sastra telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam acara International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta menerima penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam.Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR&#8221;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-pabrik-yang-mengalengkan-hujan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2026 10:10:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Leni Marlina]]></category>
		<category><![CDATA[PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=8033</guid>

					<description><![CDATA[/1/ PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN Puisi: Leni Marlina &#8211; Siapa yang memberi hak kepadamu? Siapa yang menyuruhmu menghitung denyut awan seperti menghitung laba? Siapa yang membisikkan bahwa hujan dapat dijinakkan oleh baut, angka dan pagar-pagar logam? Di pinggir musim, kau mendirikan sebuah pabrik. Cerobong-cerobongnya menjulur ke tubuh langit, seperti jarum raksasa yang menyedot darah dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Siapa yang memberi hak kepadamu?<br />
Siapa yang menyuruhmu menghitung denyut awan seperti menghitung laba?<br />
Siapa yang membisikkan<br />
bahwa hujan dapat dijinakkan oleh baut, angka dan pagar-pagar logam?</p>
<p>Di pinggir musim,<br />
kau mendirikan sebuah pabrik.<br />
Cerobong-cerobongnya menjulur ke tubuh langit,<br />
seperti jarum raksasa<br />
yang menyedot darah dari urat cuaca.</p>
<p>Setiap pagi, awan keluar dari sana lebih kurus daripada kemarin.<br />
Perutnya kempis hingga kelihatan tulang-tulang kapasnya.<br />
Dan angin berjalan terpincang-pincang<br />
membawa sisa napas yang belum habis diperah.</p>
<p>Kau menangkap gerimis.<br />
Mengalengkannya.<br />
Menyusunnya berjajar<br />
di rak-rak baja yang dingin seperti buku besar utang.<br />
Semua kaleng diberi label.<br />
Semua tetes diberi harga.<br />
Semua musim diberi nomor inventaris.<br />
Bahkan bau lumpur<br />
kau pisahkan dari tanahnya.<br />
Bahkan suara katak<br />
kau cabut dari rawa.<br />
Bahkan desir padi<br />
kau keluarkan dari tubuh sawah,<br />
seperti mencabut lidah<br />
dari mulut yang lapar.</p>
<p>Di gudang penyimpananmu,<br />
hujan-hujan tergantung terbalik.<br />
Dari tubuhnya menetes<br />
sisa kabut pegunungan, doa para benih,<br />
sungai yang belum selesai dilahirkan.<br />
Kau menyebutnya kemajuan.<br />
Kau menyebutnya pengelolaan.<br />
Kau menyebutnya masa depan.<br />
Namun malam selalu menyimpan sesuatu yang gagal dihitung oleh mesinmu.</p>
<p>Dari kedalaman bumi,<br />
seuntai akar beringin mulai bergerak.<br />
Ia tidak datang<br />
membawa pidato,<br />
tidak datang<br />
membawa dokumen,<br />
tapi datang<br />
membawa ingatan.</p>
<p>Ia mencium warna karat,<br />
meraba bau keserakahan<br />
yang merembes dari pondasi.<br />
Ia mendengar angka-angka<br />
menggerogoti tulang hujan<br />
hingga tinggal kerangka statistik.<br />
Perlahan, akar itu menyelinap<br />
ke jantung bangunan.<br />
Melilit baut dan mengunyah semen.<br />
Menyeret gelap keluar dari tempat persembunyiannya.</p>
<p>Dan ketika pondasi retak,<br />
yang muncrat terlebih dahulu<br />
bukan air.<br />
Melainkan segala yang selama ini<br />
kau rampas dari namanya sendiri: desir padi, napas sungai,<br />
lumut yang dipenjara,<br />
kabut yang diborgol,<br />
dan suara anak-anak<br />
yang pernah menggambar hujan<br />
dengan krayon biru.</p>
<p>Pabrik itu berguncang.<br />
Cerobong-cerobongnya patah<br />
seperti sumpah yang terlalu lama berdusta.<br />
Kaleng-kaleng pecah.<br />
Label-label beterbangan.<br />
Nomor-nomor berjatuhan<br />
seperti daun-daun kering<br />
yang akhirnya menyadari<br />
mereka bukan pohon.<br />
Lalu hujan keluar berlari menuju sungai dan sawah.<br />
Menuju segala tempat<br />
yang masih mengingat namanya.</p>
<p>Dan kau, berdiri di tengah reruntuhan,<br />
menyaksikan sesuatu<br />
yang tak pernah diajarkan oleh kepemilikan:<br />
bahwa hujan tidak diciptakan<br />
untuk menjadi barang dagangan.<br />
Ia diciptakan untuk jatuh,<br />
hingga bumi kembali percaya kepada langit.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>SEGALA YANG KAU RAMPAS</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;<br />
Untuk kau<br />
yang selalu mengira<br />
dunia diciptakan<br />
agar dapat dimiliki.</p>
<p>Kau mengalengkan hujan.<br />
Kau memajang tulang matahari.<br />
Kau menyelundupkan cakrawala.<br />
Kau memaksa pohon<br />
menandatangani akarnya sendiri.<br />
Kau membekukan fajar.<br />
Kau memberi nomor pada embun.<br />
Kau memberi label pada angin.<br />
Kau menimbang bayangan gunung.<br />
Kau mengukur panjang sungai<br />
dengan penggaris yang tak pernah mengenal haus.</p>
<p>Kau percaya<br />
segala yang bernapas<br />
dapat diubah menjadi arsip.<br />
Kau percaya<br />
segala yang tumbuh<br />
dapat dipindahkan ke kolom kepemilikan.<br />
Kau percaya<br />
nama lebih tua daripada asal-usul.</p>
<p>Padahal sebelum kertas ditemukan,<br />
hujan telah mengenal jalannya.<br />
Sebelum stempel dilahirkan,<br />
akar telah berbicara dengan tanah.<br />
Sebelum inventaris disusun,<br />
cakrawala telah mengajari laut<br />
cara memandang jauh.<br />
Sebelum kontrak ditandatangani,<br />
matahari telah membagikan terang<br />
tanpa memilih wajah.</p>
<p>Dan sebelum siapa pun menyebut dirinya pemilik,<br />
fajar telah membuka pintu pagi<br />
untuk semua makhluk.</p>
<p>Maka berkali-kali<br />
kau membangun kurungan.<br />
Dan berkali-kali pula<br />
kehidupan menemukan celah.<br />
Sebab hujan selalu mengingat awan.<br />
Cahaya selalu mengingat langit.<br />
Cakrawala selalu mengingat kejauhan.<br />
Akar selalu mengingat bumi.<br />
Dan fajar selalu mengingat Timur.</p>
<p>Inilah kisah<br />
tentang segala yang kau rampas.<br />
Dan segala yang,<br />
meski terluka,<br />
tetap menemukan jalan pulang<br />
kepada dirinya sendiri.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>MUSEUM PENYIMPAN TULANG MATAHARI</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau menggantung kerangka matahari di leher sebuah jam, sejak itu waktu berbau gandum hangus.<br />
Siapa mengajari angka memakan cahaya sampai tulang-tulang siang terdengar berderak dari balik kaca?</p>
<p>Sepotong fajar duduk di kursi inventaris,<br />
pergelangan jingganya diborgol oleh huruf-huruf yang terlalu dingin untuk menjadi bahasa.</p>
<p>Di luar, ladang menumbuhkan bayangan lebih cepat daripada padi.<br />
Lebah-lebah pulang membawa debu senja pada lututnya, bunga-bunga sibuk melupakan warna mereka sendiri.<br />
Bukankah langit hanya museum yang belum selesai ditutup?</p>
<p>Pada etalase ketiga,<br />
sepotong terang diawetkan dalam formalin,<br />
ia masih bergerak seperti ikan yang memimpikan api.<br />
Malam mengunyah sisik-sisik emas yang rontok dari tubuhnya,<br />
lalu menyembunyikan kunyahan itu di bawah kuku marmer.<br />
Dari sana tumbuh akar-akar pijar yang minum karat, menyusu pada baut, dan tidur di paru-paru gedung.</p>
<p>Tidakkah kau mendengar dinding-dinding itu mulai berfotosintesis dalam gelap?<br />
Anak-anak menggambar matahari dengan arang; lingkaran hitam mereka berkicau di halaman buku.</p>
<p>Pada malam kesepuluh, sumsum tulang matahari menetas menjadi kawanan burung yang terbuat dari arah timur.<br />
Paruh mereka mematuki kata “milik” sampai huruf-hurufnya berubah menjadi kawat berdarah.<br />
Kaca pecah bukan ke luar,<br />
melainkan ke dalam,<br />
seperti danau yang tenggelam ke dasar dirinya sendiri.</p>
<p>Apakah cahaya pernah meminta alamat sebelum menyentuh wajah-wajah yang letih?<br />
Dan kau tinggal sendiri bersama segenggam angka yang menggigil,<br />
sementara langit mengenakan kembali tulang-tulangnya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>KAPAL YANG MENYELUNDUPKAN CAKRAWALA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau melipat cakrawala seperti surat tua,<br />
sejak itu laut berjalan pincang di atas tongkat ombaknya sendiri.<br />
Siapa mengajarimu bahwa kejauhan dapat dilipat tanpa membuat langit berdarah?</p>
<p>Di lambung kapalmu, garis-garis ufuk ditumpuk seperti kulit ular yang gagal berganti musim.<br />
Burung camar terbang membawa kompas patah di paruhnya;<br />
arah utara bocor dari matanya sepanjang pelayaran.<br />
Bukankah angin terdengar lebih tua ketika kehilangan tempat untuk pulang?</p>
<p>Di geladak, matahari mentah diasinkan dalam tong-tong besi,<br />
aromanya mengundang kawanan senja yang lapar.</p>
<p>Nelayan melempar pandangan ke laut, tetapi pandangan itu jatuh sebelum mencapai jarak.<br />
Jaring-jaring terangkat penuh dengan bayangan, ikan-ikan telah berubah menjadi pertanyaan.</p>
<p>Di ruang muatan, cakrawala berdenyut pelan seperti insang paus yang sedang memimpikan benua.<br />
Malam memerah susu bintang ke dalam peti-peti kayu,<br />
lalu menyegelnya dengan lilin dari bulan yang meleleh.</p>
<p>Tidakkah kau dengar samudra mulai berbicara melalui retakan paku-paku kapal?<br />
Seekor ikan terbang menabrak lambung; sisiknya berhamburan menjadi kawanan mata yang memandang ke segala arah.</p>
<p>Retakan itu tumbuh seperti akar cahaya, menjalar melalui papan, tali, dan tulang pelayaran.</p>
<p>Dari celahnya, horizon-horizon meloloskan diri,<br />
berlari di atas ombak seperti kuda biru yang baru dilepaskan dari kandang badai.</p>
<p>Apakah kejauhan pernah meminta izin sebelum memanggil manusia untuk berlayar?<br />
Kau hanya menyisakan segenggam peta yang menggigil,<br />
sementara cakrawala mengenakan kembali tubuhnya pada pertemuan laut dan langit.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>/5/</p>
<p><strong>MUSEUM PENYIMPAN TULANG MATAHARI</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau menggantung kerangka matahari di leher sebuah jam,<br />
sejak itu waktu berbau gandum hangus.<br />
Siapa mengajari angka memakan cahaya sampai tulang-tulang siang terdengar berderak dari balik kaca?</p>
<p>Sepotong fajar duduk di kursi inventaris,<br />
pergelangan jingganya diborgol oleh huruf-huruf yang terlalu dingin untuk menjadi bahasa.<br />
Di luar, ladang menumbuhkan bayangan lebih cepat daripada padi.<br />
Lebah-lebah pulang membawa debu senja pada lututnya, bunga-bunga sibuk melupakan warna mereka sendiri.<br />
Bukankah langit hanya museum yang belum selesai ditutup?</p>
<p>Pada etalase ketiga,<br />
sepotong terang diawetkan dalam formalin,<br />
ia masih bergerak seperti ikan yang memimpikan api.<br />
Malam mengunyah sisik-sisik emas yang rontok dari tubuhnya,<br />
lalu menyembunyikan kunyahan itu di bawah kuku marmer.</p>
<p>Dari sana tumbuh akar-akar pijar yang minum karat,<br />
menyusu pada baut,<br />
tidur di paru-paru gedung.<br />
Tidakkah kau mendengar dinding-dinding itu mulai berfotosintesis dalam gelap?</p>
<p>Anak-anak menggambar matahari dengan arang; lingkaran hitam mereka berkicau di halaman buku.<br />
Pada malam kesepuluh, sumsum tulang matahari menetas menjadi kawanan burung yang terbuat dari arah timur.<br />
Paruh mereka mematuki kata “milik” sampai huruf-hurufnya berubah menjadi kawat berdarah.<br />
Kaca pecah ke dalam seperti danau yang tenggelam ke dasar dirinya sendiri.</p>
<p>Apakah cahaya pernah meminta alamat sebelum menyentuh wajah-wajah yang letih?<br />
Dan kau tinggal sendiri bersama segenggam angka yang menggigil,<br />
sementara langit mengenakan kembali tulang-tulangnya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/6/</p>
<p><strong>KAPAL YANG MENYELUNDUPKAN CAKRAWALA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau melipat cakrawala seperti surat tua,<br />
sejak itu laut berjalan pincang di atas tongkat ombaknya sendiri.<br />
Siapa mengajarimu bahwa kejauhan dapat dilipat tanpa membuat langit berdarah?</p>
<p>Di lambung kapalmu, garis-garis ufuk ditumpuk seperti kulit ular yang gagal berganti musim.<br />
Burung camar terbang membawa kompas patah di paruhnya,<br />
arah utara bocor dari matanya sepanjang pelayaran.<br />
Bukankah angin terdengar lebih tua ketika kehilangan tempat untuk pulang?</p>
<p>Pada geladak, matahari mentah diasinkan dalam tong-tong besi,<br />
aromanya mengundang kawanan senja yang lapar.<br />
Nelayan melempar pandangan ke laut,<br />
tetapi pandangan itu jatuh sebelum mencapai jarak.<br />
Jaring-jaring terangkat penuh dengan bayangan,<br />
ikan-ikan telah berubah menjadi pertanyaan.</p>
<p>Di ruang muatan, cakrawala berdenyut pelan seperti insang paus yang sedang memimpikan benua.<br />
Malam memerah susu bintang ke dalam peti-peti kayu,<br />
lalu menyegelnya dengan lilin dari bulan yang meleleh.<br />
Tidakkah kau dengar samudra mulai berbicara melalui retakan paku-paku kapal?</p>
<p>Seekor ikan terbang menabrak lambung,<br />
sisiknya berhamburan menjadi kawanan mata yang memandang ke segala arah.<br />
Retakan itu tumbuh seperti akar cahaya,<br />
menjalar melalui papan, tali, dan tulang pelayaran.</p>
<p>Dari celahnya, horizon-horizon meloloskan diri,<br />
berlari di atas ombak seperti kuda biru yang baru dilepaskan dari kandang badai.<br />
Apakah kejauhan pernah meminta izin sebelum memanggil manusia untuk berlayar?</p>
<p>Dan kau hanya menyisakan segenggam peta yang menggigil,<br />
sementara cakrawala mengenakan kembali tubuhnya pada pertemuan laut dan langit.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>POHON YANG DIPAKSA MENANDATANGANI AKARNYA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau menggelar selembar kertas di bawah pohon,<br />
sejak itu tanah berbau arsip yang baru digali dari kubur.<br />
Siapa mengajarimu bahwa akar membutuhkan tanda tangan untuk mengenali bumi?</p>
<p>Tinta hitam merangkak di batangnya seperti kawanan semut yang sedang memindahkan malam.<br />
Daun-daun saling berbisik dengan lidah hijau yang gemetar,<br />
angin mengumpulkan ketakutan mereka di saku-saku senja.</p>
<p>Bukankah hujan selalu menemukan pohonnya tanpa membaca dokumen apa pun?<br />
Satu per satu akar ditarik keluar,<br />
tanah mengerang seperti mulut tua yang kehilangan seluruh giginya sekaligus.</p>
<p>Cacing-cacing memikul serpihan gelap di punggungnya; mereka tampak seperti huruf-huruf yang melarikan diri dari kontrak.<br />
Pada lubang bekas akar,<br />
mata air menutup wajahnya dengan lumpur.</p>
<p>Burung-burung hinggap pada cabang yang kosong,<br />
paruh mereka dipenuhi serbuk sejarah yang belum selesai dikisahkan.<br />
Malam menjahit kembali retakan bumi dengan benang kabut,<br />
namun luka itu terus bernapas di bawah permukaan.<br />
Tidakkah kau dengar batu-batu menghafal nama yang lebih tua daripada peta?</p>
<p>Jauh di kedalaman, sehelai akar rambut masih hidup,<br />
ia meminum gelap seperti susu purba dari rahim tanah.<br />
Dari tubuhnya tumbuh ribuan urat cahaya yang menjalar melalui batu, fosil, dan tulang hujan yang terkubur.<br />
Ketika fajar tiba,<br />
akar-akar itu muncul ke permukaan seperti tangan-tangan yang bangkit dari mimpi bumi.</p>
<p>Apakah sejarah pernah benar-benar mati hanya karena dikubur di bawah cap dan meterai?<br />
Dan kau hanya menyisakan segenggam kertas yang basah oleh embun,<br />
sementara pohon mengenakan kembali namanya pada tanah.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>/8/</p>
<p><strong>KETIKA KATA ITU KEHILANGAN SUARANYA</strong></p>
<p><em><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></em></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pada akhir zaman inventaris,<br />
kata yang kaut emukan dahulu<br />
terbaring sendirian<br />
di antara karat dan lumut.<br />
Sayap hitamnya rontok.<br />
Giginya tanggal satu per satu.</p>
<p>Tak ada lagi yang takut kepadanya.<br />
Hujan telah melarutkan sebagian hurufnya.<br />
Akar telah meminum sisanya.</p>
<p>Angin membawa serpihan vokalnya<br />
ke sarang burung.<br />
Laut menggulung konsonannya<br />
ke dasar samudra.<br />
Matahari membakar bunyi-bunyi yang tersisa<br />
hingga menjadi abu cahaya.</p>
<p>Kini tak ada lagi pagar<br />
yang mampu mengurung cakrawala.<br />
Tak ada lagi label<br />
yang mampu menempel pada fajar.<br />
Tak ada lagi angka<br />
yang mampu menghitung<br />
berapa kali musim harus lahir.<br />
Siapa dapat memiliki hujan<br />
ketika hujan berubah menjadi awan?</p>
<p>Siapa dapat memiliki cahaya<br />
ketika cahaya berubah menjadi langit?<br />
Siapa dapat memiliki bumi<br />
ketika bumi sedang bermimpi<br />
menjadi hutan?</p>
<p>Malam itu,<br />
seluruh arsip dunia<br />
pelan-pelan berubah<br />
menjadi kawanan kunang-kunang.<br />
Mereka terbang<br />
membawa lembar demi lembar<br />
kepemilikan yang terbakar.</p>
<p>Dan dari abu yang jatuh,<br />
rumput-rumput liar tumbuh sangat kecil.<br />
Dari sanalah<br />
dunia memulai dirinya lagi.<br />
Tanpa pagar, label dan inventaris.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><em>Padang, Sumbar, 2026</em></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Tentang Penulis – Leni Marlina</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-7943" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-212x300.jpg" alt="" width="125" height="177" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-212x300.jpg 212w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-723x1024.jpg 723w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002.jpg 762w" sizes="(max-width: 125px) 100vw, 125px" /></p>
<p>Leni Marlina merupakan penyair, penulis dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.</p>
<p>Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Ia juga mengabdikan diri sebagai kontributor dan redaktur di beberap media termasuk SAN (Suara Anak Negri) Media Group.</p>
<p>Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</p>
<p>Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.</p>
<p>Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id<br />
Wattpad: @lenimarlina_write<br />
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-8034" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM-200x300.jpeg" alt="" width="436" height="654" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM-200x300.jpeg 200w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM-682x1024.jpeg 682w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM-768x1152.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-11.17.32-PM.jpeg 853w" sizes="(max-width: 436px) 100vw, 436px" /></p>
<p>Ilustrasi Cover Kumpulan Puisi &#8220;Pabrik yang Mengalengkan Hujan&#8221; Karya Leni Marlina. Sumber gambar: Starcom Indonesia&#8217;s Cover No.922.21072026-LM.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>FANCY 2026 Resmi Dibuka: UKBA Universitas Negeri Padang Undang Pelajar dan Mahasiswa Tampilkan Talenta Bahasa dan Sastra di Ajang Nasional</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/fancy-2026-resmi-dibuka-ukba-universitas-negeri-padang-undang-pelajar-dan-mahasiswa-tampilkan-talenta-bahasa-dan-sastra-di-ajang-nasional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2026 13:48:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[FANCY 2026 Resmi Dibuka: UKBA Universitas Negeri Padang Undang Pelajar dan Mahasiswa Tampilkan Talenta Bahasa dan Sastra di Ajang Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=8009</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Panitia FANCY 2026 UKBA UNP &#8211; Padang, Sumbar&#124;Suara Anak Negeri — Unit Kegiatan Bahasa Asing (UKBA) Universitas Negeri Padang (UNP) resmi membuka pendaftaran FANCY 2026, sebuah ajang kompetisi bahasa dan sastra tingkat nasional yang mengundang pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Mengusung tema &#8220;Soul in Words, Light in Voice&#8221;, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: </strong><br />
<strong>Panitia FANCY 2026 UKBA UNP</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>Padang, Sumbar|Suara Anak Negeri —</strong> Unit Kegiatan Bahasa Asing (UKBA) Universitas Negeri Padang (UNP) resmi membuka pendaftaran FANCY 2026, sebuah ajang kompetisi bahasa dan sastra tingkat nasional yang mengundang pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Mengusung tema &#8220;Soul in Words, Light in Voice&#8221;, kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyalakan gagasan, kreativitas, dan keberanian melalui kekuatan kata serta suara.</p>
<p>FANCY 2026 menghadirkan berbagai cabang perlombaan yang terbagi ke dalam dua kategori. Untuk kategori University, peserta dapat mengikuti English Debate serta Essay Presentation dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Sementara itu, kategori Senior High School membuka kompetisi Poetry Reading dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, serta Lomba Menulis Cerpen berbahasa Indonesia.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-8011 size-full" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260723-WA0024.jpg" alt="" width="1080" height="1350" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260723-WA0024.jpg 1080w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260723-WA0024-240x300.jpg 240w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260723-WA0024-819x1024.jpg 819w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260723-WA0024-768x960.jpg 768w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<p>Melalui kompetisi ini, UKBA UNP mengajak para peserta untuk tidak sekadar berkompetisi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, serta mengekspresikan ide dan kreativitas melalui bahasa dan sastra.</p>
<p>Panitia menyediakan total hadiah puluhan juta rupiah yang terdiri atas uang pembinaan, trofi, medali, sertifikat nasional, dan exclusive goodie bag bagi para pemenang.</p>
<p>Biaya pendaftaran reguler ditetapkan sebesar Rp300.000 untuk kategori Debate, Rp95.000 untuk Essay Presentation, serta Rp45.000 untuk kategori Poetry Reading dan Menulis Cerpen. Pembayaran dilakukan melalui DANA dengan nomor 0851-6572-8069 atas nama Shania Khairunnisa Chasidy.</p>
<p>Untuk memudahkan peserta, panitia menyediakan akses terpadu yang memuat formulir pendaftaran, guidebook perlombaan, serta media sosial resmi kegiatan melalui tautan berikut:</p>
<p>https://linktr.ee/UKBAFANCY2026</p>
<p>Tautan tersebut juga dapat diakses melalui bio akun Instagram @Fancy_ukbaunp.</p>
<p>Peserta yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Naaila Salsabila di nomor +62 822-6871-4605.</p>
<p>Melalui FANCY 2026, UKBA Universitas Negeri Padang berharap semakin banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia yang terdorong untuk mengembangkan potensi di bidang bahasa, sastra, debat, dan kepenulisan, sekaligus membangun jejaring, memperluas pengalaman, dan mengukir prestasi di tingkat nasional.</p>
<p>&#8220;The Stage Is Yours!&#8221; Jangan biarkan suaramu hanya menjadi gema. Nyalakan cahayamu, jadikan setiap kata bermakna, dan buktikan kemampuan terbaikmu di FANCY 2026.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tabung Reaksi di Kepala Malam</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/tabung-reaksi-di-kepala-malam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2026 11:22:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tabung Reaksi di Kepala Malam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7998</guid>

					<description><![CDATA[Era Nurza &#8212; Aku meneteskan sepi ke dalam tabung reaksi ingatan mengaduknya bersama bau kertas dan insomnia Di meja sempit penuh riset yang belum usai aku tumbuh kutu buku menjaga huruf-huruf tetap bernapas di musim paling dingin &#160; Setiap kata lahirkan reaksi liar menyambar dada bagaikan arus bocor dari langit gelap lalu jatuh perlahan jadi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Era Nurza</strong></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Aku meneteskan sepi ke dalam tabung reaksi ingatan</p>
<p>mengaduknya bersama bau kertas dan insomnia</p>
<p>Di meja sempit penuh riset yang belum usai</p>
<p>aku tumbuh kutu buku</p>
<p>menjaga huruf-huruf</p>
<p>tetap bernapas di musim paling dingin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setiap kata lahirkan reaksi liar</p>
<p>menyambar dada bagaikan arus bocor dari langit gelap</p>
<p>lalu jatuh perlahan jadi abu</p>
<p>di kerongkongan yang hangus waktu</p>
<p>Namun aku tetap menulis</p>
<p>meski malam terus menggerus sisa cahaya</p>
<p>dari tubuh yang nyaris padam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Laboratorium ini tidak menyimpan cairan kimia hanya kumpulan kalimat yang menolak bungkam</p>
<p>Mereka berlari di pembuluh darah</p>
<p>menghantam dinding kepala</p>
<p>bagai hujan yang membawa pecahan dendam</p>
<p>Aku hanya seseorang</p>
<p>yang sibuk merakit bahasa</p>
<p>agar manusia tidak kehilangan suara</p>
<p>ketika dunia mulai membatu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Padang, 19 Mei 2026</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: &#8220;UDARA PAGI DAN KOTA PEMAKAN WAJAH&#8221;  &#8211;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/unggulan/kumpulan-puisi-karya-leni-marlina-udara-pagi-dan-kota-pemakan-wajah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2026 01:52:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: "UDARA PAGI DAN KOTA PEMAKAN WAJAH" -]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7942</guid>

					<description><![CDATA[/1/ UDARA PAGI DAN KOTA PEMAKAN WAJAH Puisi: Leni Marlina — Siapa memberi kota itu mulut? Geraham kacanya mengunyah kicau burung, aroma sawah, dan susu embun dari bulu ilalang. Setiap subuh kerongkongannya berdahak debu. Dari sela giginya menetes bau besi dan musim yang dipetik sebelum matang. Pagi itu udara digiring ke alun-alun. Lehernya dililit asap; [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>UDARA PAGI DAN KOTA PEMAKAN WAJAH</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></span></p>
<p>—</p>
<p>Siapa memberi kota itu mulut?<br />
Geraham kacanya mengunyah kicau burung, aroma sawah, dan susu embun dari bulu ilalang.<br />
Setiap subuh kerongkongannya berdahak debu.<br />
Dari sela giginya menetes bau besi dan musim yang dipetik sebelum matang.</p>
<p>Pagi itu udara digiring ke alun-alun.<br />
Lehernya dililit asap; pergelangan tangannya diborgol kabel yang tumbuh dari tanah.<br />
&#8220;Apa yang kau sembunyikan di dalam dada manusia?&#8221; tanya kota.<br />
Dari bibir udara hanya gugur serbuk sari, desir padi, dan suara lesung yang terusir dari ingatan.</p>
<p>Maka dada bening itu dibelah.<br />
Mesin-mesin menggali, berharap menemukan emas, minyak, dan angka.<br />
Yang terangkat justru pipi anak berbau capung, telapak petani beraroma gabah, dan mata tua yang semalaman menjaga gelap.<br />
Kota tertawa; tawanya berpantul dari kaca ke kaca seperti baut yang lepas.</p>
<p>Lalu segumpal embun pecah di ujung rumput.<br />
Akar-akar tipis merayap ke trotoar, fondasi, arsip, buku hitung, dan jam-jam yang mengunyah waktu.<br />
Menjelang siang:<br />
lumut membuka mata; padi muda tumbuh dari retakan kaca.<br />
Udara pagi berjalan menjauh;<br />
pada sebutir embun di bahu kupu-kupu,<br />
sebuah sawah masih terhampar luas.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/2/</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>TIMBANGAN YANG MEMAMAH MALAM</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></span></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Lihatlah sekelilingmu!<br />
Dari sela-sela marmer,<br />
malam mengelupas seperti cat tua<br />
yang menyembunyikan musim lain.<br />
Di ruang yang selalu berbau pendingin udara,<br />
sebuah timbangan turun dari pigura.<br />
Lidah logamnya menjulur.<br />
Ia menjilat angka-angka rontok seperti telur serangga<br />
dari lipatan kertas yang demam.</p>
<p>Bukalah matamu lebih lebar!<br />
Kertas-kertas mendadak keropos,<br />
seperti daun diam-diam<br />
dikunyah musim.<br />
Di luar,<br />
orang-orang menggantung pagi<br />
pada kabel melintang di atas gang.<br />
Yang mengering hanya seragam sekolah.</p>
<p>Bukalah mata hatimu!<br />
Pada ujung jemuran,<br />
sebutir telur terus berayun,<br />
mengerami kesunyiannya sendiri.<br />
Sementara itu,<br />
beberapa tangan mengebor napas bukit,<br />
lalu menampungnya<br />
dalam tong-tong yang tak mengenal akar.</p>
<p>Apakah kau masih menyangkal?<br />
Dari luka yang menganga,<br />
mengalir cairan kuning pucat<br />
berbau tanah yang kehilangan ingatan.<br />
Cairan itu mengeras<br />
menjadi gagang-gagang kuasa<br />
yang tak pernah disentuh tanah,<br />
menjadi dinding-dinding tinggi<br />
yang memantulkan wajah langit<br />
tanpa menyimpan awan.</p>
<p>Bagaimana mungkin kau membiarkannya?<br />
Mereka memanen sesuatu<br />
yang bahkan belum tumbuh sempurna.<br />
Musim dipetik saat masih berupa tunas.<br />
Hujan dilipat<br />
ke dalam kotak-kotak besi.<br />
Muara sungai dipelintir<br />
hingga muat dimasukkan<br />
ke dalam laci.</p>
<p>Lihatlah gagak yang hinggap<br />
di bahu perempuan batu.<br />
Paruhnya menarik sehelai kain hitam<br />
dari wajah patung itu.<br />
Kain tersebut membentang di udara,<br />
berubah menjadi meja panjang.</p>
<p>Di atasnya,<br />
stempel-stempel itu bertelur.<br />
Dari cangkangnya keluar<br />
cap-cap baru<br />
yang baru saja memiliki tinta.<br />
Tinta menetes.<br />
Beberapa nama tenggelam.<br />
Beberapa nama lain<br />
mengapung seperti gabus.</p>
<p>Lihatlah di lorong itu!<br />
Seorang ibu masih duduk di bawah lampu yang berkedip.<br />
Ia memungut malam yang tercerai-berai<br />
dari lantai.<br />
Potongan-potongan gelap itu<br />
ia satukan dengan helaian rambutnya.<br />
Jarum terakhir patah.<br />
Ia menjahit malam<br />
dengan serpihan kukunya sendiri.</p>
<p>Tidakkah kau melihat?<br />
Di dekatnya,<br />
seorang anak tertidur.<br />
Buku yang dipeluknya terbuka.<br />
Dari sela halaman,<br />
baut-baut kecil<br />
memanjat keluar dari buku<br />
sambil membawa potongan taman bermain.<br />
Di belakangnya,<br />
suara mesin berputar<br />
tanpa pernah menemukan wajahnya.</p>
<p>Menjelang subuh,<br />
langit mengeluarkan bunyi<br />
seperti kendi pecah di dasar sumur.<br />
Tak ada cahaya tumpah.<br />
Yang berhamburan justru<br />
lembar-lembar tipis<br />
yang menyimpan denyut nadi asing.<br />
Lembar itu beterbangan<br />
masuk ke jendela,<br />
ke saku,<br />
ke bawah bantal,<br />
hingga ke liang yang belum selesai digali .</p>
<p>Ketika matahari muncul,<br />
patung perempuan batu itu<br />
masih berdiri di tempatnya.<br />
Namun kini,<br />
akar-akar tipis keluar dari bibirnya,<br />
mencari kata-kata<br />
yang pernah dikuburkan.<br />
Timbangan itu<br />
tergantung miring di udara,<br />
terus memamah gelap.<br />
Dari sela giginya<br />
lahir malam yang baru.<br />
Malam itu membawa<br />
timbangan yang lain.<br />
Apakah kau masih berdiam diri di sana?</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/3/</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>SUNGAI YANG KEHILANGAN MUARANYA</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></span></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kita adalah sungai<br />
yang muaranya dicabut dari tubuh laut<br />
seperti gigi emas dari rahang raksasa.</p>
<p>Sejak itu,<br />
air berjalan pincang<br />
dan ombak kecil belajar menjadi debu.<br />
Ikan-ikan membawa sisa laut di bawah sisiknya<br />
seperti foto keluarga yang hangus terbakar.</p>
<p>Malam demi malam,<br />
kita mengumpulkan sisa-sisa asin<br />
yang tercecer di antara batu,<br />
lalu menyembunyikannya<br />
di bawah lidah ikan,<br />
di sela akar bakau,<br />
dan di kantong-kantong hujan yang belum ditemukan.</p>
<p>Ketika musim berganti, dari retakan batu<br />
kita menumbuhkan muara yang baru.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;<br />
/4/</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>BULAN YANG DITAMBANG DARI DALAM SUMUR</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></span></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di kampung kami,<br />
bulan tidak tinggal di langit.<br />
Ia tidur<br />
di dasar sumur tua,<br />
di antara akar beringin<br />
dan doa-doa yang belum selesai diaminkan.</p>
<p>Wahai sumur tua,<br />
berapa banyak malam<br />
yang kau simpan<br />
di dasar matamu?</p>
<p>Setiap malam,<br />
nenek menimba sedikit cahaya<br />
untuk menambal robekan<br />
pada kain gelap.</p>
<p>Anak-anak mencelupkan telapak tangan<br />
ke dalam airmu,<br />
lalu pulang<br />
dengan jari-jari berkilau.</p>
<p>Bulan, bulan,<br />
kepada siapa kau titipkan cahaya<br />
ketika manusia mulai lapar<br />
pada segala yang bersinar?<br />
Ed<br />
Suatu musim,<br />
orang-orang datang<br />
membawa bor yang lebih keras<br />
daripada petir.</p>
<p>Siapa yang mengajari besi<br />
cara melukai cahaya?<br />
Siapa yang membisikkan pada mata bor<br />
bahwa bulan dapat diperah<br />
seperti sumur minyak?</p>
<p>Ketika besi menyentuh tulang bulan,<br />
langit mengeluarkan bunyi<br />
seperti kendi pecah<br />
di dada seorang ibu.</p>
<p>Bukankah burung-burung malam<br />
berhak memiliki arah pulang?<br />
Bukankah kunang-kunang<br />
berhak menyimpan bintang kecilnya sendiri?</p>
<p>Pagi berikutnya,<br />
yang terangkat dari sumur<br />
bukan lagi cahaya,<br />
melainkan gema,<br />
potongan gelap,<br />
dan bau logam<br />
yang menempel lama<br />
di telapak tangan.</p>
<p>Namun dengarlah:<br />
hujan yang jatuh<br />
masih mengetuk dasar sumur.<br />
Akar beringin<br />
masih mengirimkan kabar<br />
kepada batu-batu tua.</p>
<p>Dan saat<br />
seekor katak bernyanyi,<br />
kami percaya<br />
sebutir cahaya<br />
masih berdenyut<br />
di bawah tanah.<br />
Sebab siapa dapat membunuh bulan<br />
seluruhnya?<br />
Bukankah cahaya selalu menemukan<br />
cara lain untuk tumbuh?</p>
<p>Maka diam-diam<br />
kami menjatuhkan biji-biji beringin,<br />
doa-doa kecil,<br />
dan sisa-sisa kunang-kunang<br />
ke dasar sumur.</p>
<p>Barangkali suatu hari,<br />
dari sana akan tumbuh<br />
pohon cahaya.<br />
Pada cabang-cabangnya,<br />
bulan yang baru belajar berbuah.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/5/</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>LEMARI MENYIMPAN TAHUN-TAHUN YANG DITANGKAP</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></span></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Tengah malam.<br />
Lemari tua itu terjaga<br />
oleh suara engselnya sendiri.<br />
Wahai kayu yang dipaksa menghafal,<br />
berapa dekade kau menyimpan napas<br />
yang bukan milikmu?</p>
<p>Tak ada jawaban.<br />
Hanya bau debu<br />
yang perlahan berubah<br />
menjadi bau hujan.<br />
Lalu sesuatu terjadi.<br />
Dari laci paling bawah,<br />
tahun-tahun mulai keluar.<br />
Tahun 1945 muncul terlebih dahulu.<br />
Di punggungnya<br />
masih menempel awan<br />
yang belum sempat pecah.<br />
Menyusul sesudahnya<br />
tahun-tahun lain:<br />
tahun yang dipaku,<br />
tahun yang dibungkam,<br />
tahun yang disimpan<br />
seperti pisau di bawah meja.</p>
<p>Dari sela map,<br />
keluar sore-sore<br />
yang selama ini gagal tenggelam.<br />
Mereka berkeliaran<br />
di sepanjang lorong<br />
sambil membawa warna jingga<br />
yang mulai berkarat.</p>
<p>Segaris sungai<br />
melompat dari lembar berita acara.<br />
Tubuhnya penuh cap merah.<br />
Airnya berbau tinta.<br />
Di belakangnya,<br />
seorang lelaki berjalan keluar<br />
dari halaman yang menguning.<br />
Di sakunya,<br />
seekor burung kecil<br />
terus mencoba berubah<br />
kembali menjadi langit.</p>
<p>Siapa yang mengira<br />
bahwa waktu dapat dipenjara?<br />
Siapa yang percaya<br />
bahwa kertas mampu menelan musim?<br />
Namun lihatlah:<br />
hujan-hujan yang disita<br />
kini turun sekaligus.<br />
Membasahi lantai.<br />
Membasahi nama.<br />
Membasahi stempel-stempel<br />
yang selama ini mengira<br />
dirinya batu.</p>
<p>Menjelang fajar,<br />
lemari itu pecah.<br />
Bukan karena usia.<br />
Bukan karena rayap.<br />
Melainkan karena terlalu banyak hari<br />
yang ingin dilahirkan kembali.<br />
Dari retakannya,<br />
keluar anak-anak matahari,<br />
anak-anak hujan,<br />
anak-anak sungai,<br />
membawa tahun-tahun yang berhasil mereka selamatkan.</p>
<p>Sekarang gedung itu telah kosong,<br />
dapatkah kau melihat laci terbuka<br />
berisi satu musim kecil<br />
yang akhirnya pulang.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/6/</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>GUDANG YANG MENYIMPAN MUSIM DEPAN</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Puisi: Leni Marlina</strong></span></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Di pinggir kota ini,<br />
berdiri sebuah gudang<br />
yang dibangun dari kalender hangus.<br />
Wahai dinding,<br />
berapa musim<br />
yang dipaksa tidur<br />
di dalam perutmu?<br />
Tak ada jawaban.<br />
Hanya bau tanah basah<br />
yang sesekali lolos<br />
dari retakan semen.</p>
<p>Suatu malam,<br />
angin menemukan celah.<br />
Dari sana<br />
ia melihat hujan<br />
digantung seperti baju anak-anak.<br />
Panen dilipat<br />
ke dalam peti besi.<br />
Bunga-bunga dibungkam<br />
di bawah gembok.<br />
Dan permainan<br />
dirantai bersama layang-layang.</p>
<p>Siapa yang takut<br />
pada tunas?<br />
Siapa yang menyita daun<br />
sebelum sempat menjadi rindang?<br />
Diam-diam,<br />
angin mencuri serbuk sari.<br />
Embun menyelundupkan benih.<br />
Burung pipit membawa musim<br />
di bawah paruhnya.</p>
<p>Tahun demi tahun,<br />
akar-akar tipis<br />
menulis namanya sendiri<br />
pada lantai gudang.<br />
Mula-mula seperti retakan.<br />
Lalu seperti sungai.<br />
Lalu seperti jalan pulang.<br />
Hingga suatu pagi,<br />
pintu itu roboh<br />
oleh dorongan bunga.<br />
Dari dalamnya<br />
berhamburan hujan,<br />
panen,<br />
dan suara anak-anak<br />
yang selama ini dikurung.</p>
<p>Di tengah cahaya yang pecah,<br />
masa depan berjalan keluar<br />
dengan kaki berlumpur,<br />
membawa segenggam benih.<br />
“Masih adakah tanah,” tanyanya,<br />
“yang belum dijadikan gudang?”</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Tentang Penyair </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Leni Marlina</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-7943 aligncenter" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-212x300.jpg" alt="" width="212" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-212x300.jpg 212w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002-723x1024.jpg 723w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260722-WA0002.jpg 762w" sizes="(max-width: 212px) 100vw, 212px" /></p>
<p><em>Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.</em></p>
<p><em>Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Leni juga mengabdikan diri sebagai redaktur di beberapa media online termasuk SAN Media Group.</em></p>
<p><em>Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Literary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</em></p>
<p><em>Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.</em></p>
<p><em>Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id</em><br />
<em>Wattpad: @lenimarlina_write</em><br />
<em>Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Leni Marlina: &#8220;BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU&#8221;</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kumpulan-puisi-leni-marlina-burung-yang-terbang-membawa-namamu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 20:28:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA["BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU"]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi Leni Marlina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7890</guid>

					<description><![CDATA[/1/ BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU Puisi: Leni Marlina &#8211; Wahai engkau yang di sana. Meskipun pagi belum sepenuhnya membuka mata, Kubangunkan engkau dengan suara embun. Di antara dua gumpal embun, seekor burung sedang mengasah suaranya pada tulang cahaya. Aku menyebut namamu. Tidak keras. Hanya seperti akar yang menukar garam dengan tanah. Namamu bergerak perlahan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p><strong>BURUNG YANG TERBANG MEMBAWA NAMAMU</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Wahai engkau yang di sana.<br />
Meskipun pagi belum sepenuhnya membuka mata,<br />
Kubangunkan engkau dengan suara embun.<br />
Di antara dua gumpal embun,<br />
seekor burung sedang mengasah suaranya<br />
pada tulang cahaya.</p>
<p>Aku menyebut namamu.<br />
Tidak keras.<br />
Hanya seperti akar<br />
yang menukar garam dengan tanah.</p>
<p>Namamu bergerak perlahan<br />
ke dalam tenggorokan burung itu,<br />
lalu berubah menjadi sesuatu<br />
yang tidak lagi menyerupai bahasa:<br />
Sebutir aroma.<br />
Warna yang belum ditemukan mata.<br />
Suhu tipis pada batu<br />
setelah sungai berpindah usia.</p>
<p>Burung itu terbang.<br />
Bukan ke arahmu.<br />
Langit tidak mengenal arah.<br />
Ia terbang ke dalam jarak<br />
yang terus menumbuhkan dirinya sendiri.</p>
<p>Di bawahnya,<br />
sawah-sawah sedang menghafal bentuk hujan yang akan datang.<br />
Kabut menggembalakan kehilangan<br />
dari bukit ke bukit.<br />
Dan waktu—<br />
waktu duduk di tunggul pohon<br />
mengupas kulitnya sendiri.</p>
<p>Aku menunggumu seperti lumut<br />
pada sisi utara batu.<br />
Menunggumu seperti biji-biji liar<br />
di bawah lidah musim kemarau.<br />
Menunggumu seperti cahaya<br />
yang terperangkap bertahun-tahun<br />
di dalam getah.</p>
<p>Maka aku menyimak<br />
dari hal-hal yang tidak bergerak.<br />
Dari batang bambu<br />
yang menyimpan suara hujan<br />
tanpa pernah mengucapkannya.<br />
Dari tanah<br />
yang merahasiakan ribuan akar<br />
namun tetap mengangkat hutan.<br />
Dari embun<br />
yang setiap pagi mati<br />
tanpa kehilangan keyakinan<br />
kepada matahari.</p>
<p>Burung yang membawa namamu masih terbang.<br />
Kini sayapnya dipenuhi<br />
serbuk-serbuk fajar.<br />
Paruhnya berbau daun muda.<br />
Matanya menyimpan pantulan<br />
sesuatu yang belum terjadi.</p>
<p>Aku tidak tahu<br />
kapan ia akan tiba.<br />
Tetapi pagi yang sama<br />
yang menumbuhkan suaranya<br />
di antara dua gumpal embun,<br />
sedang tumbuh juga<br />
di dalam darahmu.</p>
<p>Dan barangkali itulah sebabnya<br />
ketika seekor burung bernyanyi,<br />
udara di sekitarku<br />
seakan membuka sebuah jendela tak terlihat,<br />
sementara jauh di sana,<br />
tanpa kita ketahui,<br />
sesuatu yang lama terpisah<br />
sedang mengganti kulitnya<br />
menjadi satu musim untuk kita.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/2/</p>
<p><strong>BURUNG YANG MENYIMPAN MUSIM DI PARUHNYA</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kau mungkin masih tertidur di sana.<br />
Pagi datang dengan kantong-kantong kabut yang belum selesai dijahit angin.<br />
Seekor burung hinggap di dahan tertinggi cahaya.<br />
Paruhnya tertutup rapat,<br />
seolah sedang menyembunyikan sesuatu.</p>
<p>Aku mengira itu biji.<br />
Atau serpihan langit yang jatuh saat malam berganti kulit.<br />
Tetapi ketika ia mengepakkan sayap,<br />
aku melihat musim-musim keluar dari sela bulunya:<br />
musim hujan yang masih basah oleh bau tanah,<br />
musim kemarau yang menyimpan suara retak pada punggung sungai,<br />
dan musim kehilangan yang selalu tumbuh lebih cepat dari rerumputan.</p>
<p>Burung itu tidak bernyanyi.<br />
Ia hanya terbang melintasi lembah-lembah waktu.<br />
Di bawahnya,<br />
pepohonan membuka daun seperti membuka surat lama.<br />
Gunung-gunung menundukkan kepala.<br />
Batu-batu tua menggeser ingatan mereka beberapa sentimeter lebih dekat kepada lumut.</p>
<p>Aku mengikuti bayangannya.<br />
Tetapi bayangan ternyata tidak pernah tinggal di tempat yang sama.<br />
Ia berpindah dari tanah ke air, dari air ke awan,<br />
dari awan ke sesuatu yang bahkan belum memiliki nama.</p>
<p>Menjelang senja,<br />
burung itu menghilang,<br />
seperti dirimu yang menghilang sejak lama.<br />
Namun udara masih dipenuhi aroma musim yang tertinggal.</p>
<p>Dan aku mengerti:<br />
beberapa perjumpaan tidak datang untuk menetap.<br />
Ia datang agar dunia mengingat kembali cara berubah.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/3/</p>
<p><strong>SARANG YANG DITINGGALKAN ANGIN</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>Lihatlah!<br />
Di cabang terakhir pohon tua, sebuah sarang menggantung.<br />
Tidak kosong.<br />
Di dalamnya masih ada sisa hangat bulu,<br />
bau hujan yang telah berlalu,<br />
dan sebutir pagi yang gagal menetas.</p>
<p>Rasakanlah!<br />
Angin datang setiap hari.<br />
Ia mengelus tepi sarang itu seperti seseorang yang belum selesai mengucapkan selamat tinggal.<br />
Daun-daun gugur satu demi satu.</p>
<p>Musim berpindah rumah.<br />
Bahkan langit mengganti warna matanya.<br />
Tetapi sarang itu tetap tinggal.<br />
Bukan karena kuat.<br />
Melainkan karena tahu:<br />
ada hal-hal yang tidak bisa dibawa pergi,<br />
bahkan oleh waktu.</p>
<p>Pagi ini,<br />
seekor burung muda hinggap.<br />
Ia tidak mengenal siapa yang pernah tinggal di sana.<br />
Tidak mengenal nyanyian yang pernah mengisi ranting-rantingnya.<br />
Namun ia membawa sehelai rumput baru.<br />
Lalu sehelai lagi.<br />
Dan sehelai lagi.<br />
Aku melihatnya bekerja sampai matahari tumbuh penuh.</p>
<p>Saat itulah kita mengerti:<br />
alam tidak pernah menghapus kehilangan.<br />
Ia hanya menanam kehidupan di tempat yang sama hingga luka belajar menjadi rumah.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/4/</p>
<p><strong>KETIKA LANGIT BELAJAR MENJADI SUNGAI</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Suatu pagi<br />
langit lupa bahwa dirinya langit.<br />
Ia mengalir.<br />
Mula-mula sebagai garis tipis cahaya di sela dedaunan.<br />
Lalu sebagai desir biru yang merambat di punggung bukit.</p>
<p>Awan-awan hanyut.<br />
Matahari menjadi ikan emas yang berenang perlahan di antara arus udara.<br />
Burung-burung mengangkat sayap mereka seperti perahu kecil.</p>
<p>Aku berdiri di tepi hari.<br />
Melihat waktu mengapung bersama daun-daun.</p>
<p>Melihat kenangan berputar seperti pusaran yang tidak menuju mana-mana.<br />
Jauh di hulu,<br />
sebuah gunung sedang mencair menjadi doa.<br />
Jauh di muara,<br />
laut membuka kedua tangannya untuk menerima segala yang pergi.</p>
<p>Tidak ada yang tenggelam.<br />
Tidak ada yang tiba.<br />
Semuanya hanya berubah bentuk.<br />
Termasuk aku.<br />
Termasuk engkau.<br />
Kita semuanya.<br />
Termasuk nama-nama yang selama ini kita kira lebih kekal daripada air.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/5/</p>
<p><strong>POHON YANG MENUMBUHKAN BAYANGAN</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Tahukah dirimu?<br />
Di halaman yang jarang dikunjungi musim,<br />
tumbuh sebuah pohon.<br />
Batangnya tua.<br />
Akarnya memasuki tanah lebih dalam daripada ingatan.</p>
<p>Setiap pagi ia menumbuhkan bayangan.<br />
Bukan daun.<br />
Bukan bunga.<br />
Melainkan bayangan.<br />
Bayangan yang memanjang ke jalan-jalan sunyi.<br />
Bayangan yang menyentuh jendela rumah-rumah kosong.<br />
Bayangan yang duduk diam di bahu orang-orang yang sedang menyembunyikan kesedihan.</p>
<p>Aku bertanya kepada pohon itu:<br />
mengapa bukan buah?<br />
Pohon itu tidak menjawab.<br />
Anginlah yang berbicara<br />
Katanya, buah memberi makan tubuh.<br />
Tetapi bayangan memberi tempat beristirahat bagi jiwa yang kelelahan.</p>
<p>Sejak hari itu,<br />
aku sering duduk di bawahnya.<br />
Melihat matahari memahat bentuk-bentuk sementara.<br />
Melihat waktu jatuh perlahan dari cabang ke cabang.</p>
<p>Dan ketika senja datang,<br />
aku menemukan sesuatu yang selama ini kucari:<br />
tidak semua kehidupan harus berbunga untuk menjadi berguna.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>/6/</p>
<p><strong>KETIKA BURUNG MEMINJAM TULANG PAGI</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pagi masih tidur di bawah kelopak rawa.<br />
Seekor burung membongkar tulang-tulang cahaya yang semalam dikuburkan kabut.<br />
Paruhnya berlumur warna kuning yang berbau akar basah.<br />
Ia mematuki matahari kecil yang tumbuh di bawah kuku rumput.<br />
Dari luka itu,<br />
langit mengeluarkan suara.<br />
Suara yang berbulu.<br />
Suara yang setiap helainya menyimpan sisa hujan dari abad yang telah lapuk.</p>
<p>Di kejauhan, sungai sedang menyisir rambutnya dengan sisir dari sisik ikan.<br />
Batu-batu tua mengunyah bayangan sendiri.<br />
Bukit membuka punggungnya, memperlihatkan ruas-ruas kenangan yang selama ini disembunyikan tanah.</p>
<p>Aku melihat waktu.<br />
Ia duduk di atas tunggul.<br />
Tubuhnya penuh bekas gigitan musim.<br />
Sesekali ia mencabut kulitnya lalu menjemurnya di jemuran angin.</p>
<p>Tidak ada yang aneh.<br />
Di negeri ini,<br />
kesedihan memang biasa tumbuh seperti jamur di sela gigi matahari.<br />
Sementara burung itu terus terbang.<br />
Sayapnya mengibaskan debu-debu umur.<br />
Dan setiap kepakannya,<br />
satu pohon kehilangan ingatan,<br />
satu awan menggugurkan mimpi,<br />
satu embun belajar cara menjadi laut.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar 2026</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>/7/</p>
<p><strong>KETIKA KAMI MENJAHIT LANGITMU YANG ROBEK</strong></p>
<p>Puisi: Leni Marlina</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kami menemukan namamu<br />
tersangkut pada duri angin<br />
di punggung musim.<br />
Saat itu<br />
langit sedang mencabut paku-paku karat<br />
dari dadanya.</p>
<p>Burung-burung melintas rendah,<br />
membawa serpihan tawa anak-anak<br />
yang tercecer<br />
di jalan tanah kampung.<br />
Sungai menggendongnya<br />
ke muara.<br />
Airnya mulai lupa<br />
rasa lumpur<br />
yang dahulu membesarkannya.</p>
<p>Kami melihat padi-padi kurus<br />
berjalan dari sawah ke lumbung.<br />
Tetapi lumbung sibuk<br />
menghitung emas<br />
di balik dinding perutnya.</p>
<p>Di rumah-rumah tertentu<br />
beras menumpuk seperti musim panen.<br />
Di rumah-rumah lain<br />
periuk menggema kosong<br />
sepanjang malam.<br />
Maka hujan jatuh<br />
di atap-atap seng<br />
yang sudah basah.<br />
Sementara tanah pecah<br />
menjilati debu<br />
dari mulut kemarau.</p>
<p>Kami mendengar uang.<br />
Ia berdesis<br />
di bawah kulit hutan.<br />
Mengunyah meranti.<br />
Memamah bukit.<br />
Menelan sungai.</p>
<p>Malam demi malam<br />
ia mengangkut kampung-kampung<br />
ke dalam perut truk,<br />
meninggalkan tunggul,<br />
debu,<br />
dan nama-nama yang kehilangan alamat.</p>
<p>Tetapi jauh di bawah tanah,<br />
akar-akar masih bertukar kabar.<br />
Benih-benih masih berunding.<br />
Cacing-cacing menulis jalan pulang<br />
pada kitab gelap bumi.</p>
<p>Dan padi muda<br />
diam-diam mengasah keberanian<br />
di ruas batangnya.<br />
Sawah mulai melupakan<br />
jejak laras.<br />
Sungai kembali menghafal ikan.<br />
Bakau merajut ulang<br />
tepi laut yang koyak.</p>
<p>Anak-anak kampung<br />
membesarkan tawa mereka<br />
hingga lebih tinggi<br />
daripada pagar-pagar ketakutan.</p>
<p>Dan keadilan—<br />
seekor burung rangkong<br />
yang lama diburu keserakahan.<br />
Ia terbang<br />
membawa biji-biji hutan<br />
dari gunung yang terluka<br />
ke tanah yang nyaris lupa<br />
cara bertumbuh.</p>
<p>Jika langitmu robek lagi,<br />
panggillah kami.<br />
Kami akan datang<br />
membawa jarum<br />
dari tulang cahaya.<br />
Membawa benang<br />
yang dipintal dari<br />
keringat petani,<br />
dayung nelayan,<br />
doa para ibu,<br />
dan mimpi anak-anak<br />
yang terus bertumbuh.</p>
<p>Lalu kita jahit kembali cakrawala.<br />
Agar padi dan palawija<br />
tidak asing bagi penanamnya.<br />
Agar laut<br />
tidak jauh dari nelayannya.<br />
Agar hutan<br />
tidak kehilangan nama pohonnya.<br />
Agar hujan<br />
tidak memilih alamat.<br />
Dan agar tak ada lagi pagar<br />
di antara lapar dan panen,<br />
di antara sungai dan haus,<br />
di antara tanah<br />
dan pemiliknya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Padang, Sumbar, 2026</p>
<p>&#8212;000&#8212;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-7206" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-212x300.jpeg" alt="" width="212" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-212x300.jpeg 212w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina-723x1024.jpeg 723w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/07/leni-malina.jpeg 762w" sizes="(max-width: 212px) 100vw, 212px" /></p>
<p><strong>Tentang Penulis &#8211; Leni Marlina</strong></p>
<p>Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.</p>
<p>Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan.</p>
<p>Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) &amp; Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).</p>
<p>Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.</p>
<p>Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id<br />
Wattpad: @lenimarlina_write<br />
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TITIAN JIWA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/unggulan/titian-jiwa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2026 18:04:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[TITIAN JIWA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7804</guid>

					<description><![CDATA[Puisi: Zulkifli Abdy Kawan Kirim aku puisi Akan ku racik-racik kata-kata Dan kujadikan mantra Bila kelak kau tak lagi siapa-siapa Singgahlah padaku Akan kuceritakan kau sesuatu Tentang hidup yang tak akan lama Kawan Puisi benda mati Tapi makna yang terkandung Akan hidup lebih lama Melampaui umur seorang penyair Tidurlah lelap kawan Jadikan bait puisi alas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Puisi: Zulkifli Abdy</strong></span></p>
<p>Kawan<br />
Kirim aku puisi<br />
Akan ku racik-racik kata-kata<br />
Dan kujadikan mantra<br />
Bila kelak kau tak lagi siapa-siapa<br />
Singgahlah padaku<br />
Akan kuceritakan kau sesuatu<br />
Tentang hidup yang tak akan lama</p>
<p>Kawan<br />
Puisi benda mati<br />
Tapi makna yang terkandung<br />
Akan hidup lebih lama<br />
Melampaui umur seorang penyair<br />
Tidurlah lelap kawan<br />
Jadikan bait puisi alas tidurmu<br />
Kau akan pergi jauh bersama mimpi</p>
<p>Oh, Kawan<br />
Puisi titian jiwa<br />
Aku ini pemulung kosa-kata<br />
Akan ku rajut kata-kata<br />
Melebihi sekadar petualang makna<br />
Aku akan menyelam<br />
Hingga nun jauh di kedalaman<br />
Agar lebih dalam merasuk sukma.</p>
<p><strong>Lamteumen Timur, Aceh, 16 Juli 2026</strong></p>
<p><em>Tentang Penulis: Zulkifli Abdy (PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Aceh, KEAI, dan komunitas menulis dan sastra lainnya)</em></p>
<p><em>Zulkifli Abdy merupakan seorang penulis senior dan penyair, berasal dari Jambi dan menetap di Aceh sejak tahun 1970. Lulusan Ilmu Komunikasi, ia menekuni dunia kepenulisan secara autodidak sejak masa muda.</em></p>
<p><em>Karya-karyanya, baik berupa artikel maupun puisi, mencerminkan semangat sastra yang mendalam. Bagi Zulkifli, menulis bukan sekadar profesi—melainkan sarana untuk mencurahkan perasaan, menggantikan halaman-halaman buku harian pribadi, tempat ia menuangkan pikiran dan pengalaman dengan penuh ketulusan.</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merajut Sepotong Senja</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/indonesia/merajut-sepotong-senja</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2026 16:46:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Merajut Sepotong Senja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7801</guid>

					<description><![CDATA[‎Puisi Karya : Anies Septivirawan  ‎Waktu tlah mencetak kita tergeletak ‎kembali di serambi yang sama ‎Kemarin tawa kita pecah ‎seperti kaca, ‎kini mengendap seperti embun ‎ di dedaunan tua ‎ ‎Nama-nama itu kembali jadi mantra ‎dibisik pelan, takut membangunkan kenangan ‎yang tidur nyenyak di lipatan seragam ‎yang sudah kekecilan untuk badan, ‎tapi pas sekali untuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>‎Puisi Karya : Anies Septivirawan </strong></span></p>
<p>‎Waktu tlah mencetak kita tergeletak<br />
‎kembali di serambi yang sama<br />
‎Kemarin tawa kita pecah<br />
‎seperti kaca,<br />
‎kini mengendap seperti embun<br />
‎ di dedaunan tua<br />
‎<br />
‎Nama-nama itu kembali jadi mantra<br />
‎dibisik pelan, takut membangunkan kenangan<br />
‎yang tidur nyenyak di lipatan seragam<br />
‎yang sudah kekecilan untuk badan,<br />
‎tapi pas sekali untuk jiwa<br />
‎<br />
‎Ada kursi kosong yang tak berani<br />
‎kita tanya<br />
‎hanya angin yang tahu jawabnya<br />
‎dan ia menjawab dengan hening<br />
‎dengan cara meniup lilin<br />
‎di kue ulang tahun<br />
‎yang sudah sebelas kali kita lewatkan tanpanya<br />
‎<br />
‎Kita berjabat tangan,<br />
‎padahal inginnya memeluk tahun-tahun<br />
‎yang mencuri pipi kita,<br />
‎menukar rambut hitam dengan perak<br />
‎tanpa minta izin<br />
‎<br />
‎Reuni bukanlah pertemuan  semata<br />
‎Ia adalah doa yang dirapalkan bersama<br />
‎<br />
‎Agar yang pergi tetap tinggal di cerita<br />
‎Agar yang tinggal tetap setia di dalam doa<br />
‎<br />
‎Senja pun turun, memisah lagi<br />
‎tapi kali ini<br />
‎kita pulang membawa<br />
‎sisa cahaya<br />
‎untuk dinyalakan di dada,<br />
‎<br />
‎Hari ini kita menutup jarak<br />
‎dengan tawa<br />
‎Menutup rindu dengan peluk<br />
‎Menutup luka dengan ingatan<br />
‎<br />
‎Mungkin ini bukan perpisahan<br />
‎Hanya jeda panjang<br />
‎Sebelum semesta mengatur kita bertemu lagi<br />
‎Pada ruang yang waktunya lebih murah<br />
‎Pada bangku yang tak lagi menghitung usia kita<br />
‎<br />
‎Bawa pulang sajalah, cahaya ini<br />
‎Simpan di saku paling dalam<br />
‎Untuk hari-hari sepi<br />
‎Agar kita ingat  bahwa<br />
‎Dulu kita pernah muda bersama<br />
‎Dan hari ini, kita memilih tetap setia bersama<br />
‎<br />
‎Sampai bertemu pada bait berikutnya<br />
‎Jaga sehat, jaga cerita<br />
‎Jaga nama baik kita di langit<br />
‎</p>
<p>‎<strong>Situbondo, ujung Juni 26 </strong><br />
‎<em>(Sumber Foto : AS&#8217;s doc. via LM-SAN)</em></p>
<p><em>Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 4 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul &#8220;Luka dan Kota Sepi Literasi&#8221;, yang kedua adalah &#8220;Menimang Rindu Senja Kala&#8221; dan buku yang ketiga berjudul &#8220;Dua Senja Menyulam Damai&#8221;, sedangkan buku antologi puisi tunggalnya yang keempat adalah berjudul &#8220;Membacanya Bening Mata-Mu&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembacaan Puisi Nuyang Jaimee Membuka Ruang Refleksi dalam Bincang Buku Arung Jeram Pernikahan di DPD RI</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/refleksi/pembacaan-puisi-nuyang-jaimee-membuka-ruang-refleksi-dalam-bincang-buku-arung-jeram-pernikahan-di-dpd-ri</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2026 10:38:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Pembacaan Puisi Nuyang Jaimee Membuka Ruang Refleksi dalam Bincang Buku Arung Jeram Pernikahan di DPD RI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7767</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, SUARA ANAK NEGERI-Diskusi buku Arung Jeram Pernikahan karya Anggota DPD RI asal Maluku, Anna Ruswan Latuconsina, tidak hanya menghadirkan perbincangan akademis mengenai keluarga dan kekerasan terhadap perempuan, Anna Latuconsina yang dikenal juga sebagai pemerhati masalah perempuan dan anak dan aktif di berbagai organisasi perempuan juga sangat mengapresiasi dunia sastra dan literasi dalam hal ini [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>JAKARTA, SUARA ANAK NEGERI</strong></span>-Diskusi buku Arung Jeram Pernikahan karya Anggota DPD RI asal Maluku, Anna Ruswan Latuconsina, tidak hanya menghadirkan perbincangan akademis mengenai keluarga dan kekerasan terhadap perempuan, Anna Latuconsina yang dikenal juga sebagai pemerhati masalah perempuan dan anak dan aktif di berbagai organisasi perempuan juga sangat mengapresiasi dunia sastra dan literasi dalam hal ini puisi.</p>
<p>Selain itu Ibu dari lima orang anak dan enam belas cucu ini yang pernah menjadi Kepala Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Maluku ini memberi ruang bagi sastra sebagai medium refleksi. Maka melalui pembacaan puisi oleh penyair Nuyang Jaimee, forum tersebut diajak memasuki suasana yang lebih hening, kontemplatif, sekaligus menggugah kesadaran tentang pentingnya memuliakan martabat perempuan.</p>
<p>Kegiatan yang berlangsung di Lobi Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026), mengangkat tema &#8220;Suara Perempuan, Suara Perubahan: Hapus Stigma dan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan&#8221; Acara diselenggarakan atas kolaborasi Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Yayasan Jantung Hati.</p>
<p>Dalam forum tersebut hadir Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Komisioner Bawaslu RI Lolly Suhenty, Komisioner KPU RI Dr. Betty Epsilon Idrus, Ketua Kaukus Perempuan Parlemen RI, para Anggota DPD RI, Ketua Umum Wanita Penulis Indonesia Dr. Free Hearty, M.Hum., serta akademisi, pegiat organisasi perempuan dan pemerhati isu perempuan dan anak serta komunitas literasi sei dan sastra sejabodetabek.</p>
<p>Diskusi dipandu oleh Dra. Rita Sri Hastuti, M.I.Kom. dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Haryatie Abdurrahman dari Selangor University, Malaysia, Dr. Maria Josephine Kumaat Mantik, S.S., M.Hum. dari Universitas Indonesia, serta penulis buku Anna Ruswan Latuconsina. Ketiganya mengulas persoalan keluarga, relasi yang setara dalam rumah tangga, serta pentingnya menghentikan normalisasi kekerasan terhadap perempuan.</p>
<p>Setelah sesi diskusi, Nuyang Jaimee, yang juga bertindak sebagai Master of Ceremony, membacakan sebuah puisi bertema perempuan. Pembacaan puisi itu menjadi jembatan emosional menuju dialog, menghadirkan suasana yang mengajak peserta tidak hanya memahami persoalan melalui data dan teori, tetapi juga merasakan luka, harapan, dan keteguhan perempuan melalui bahasa sastra.</p>
<p>Bagi Nuyang Jaimee, puisi bukan sekadar karya estetika, melainkan ruang kemanusiaan yang mampu menyampaikan suara-suara yang kerap tidak terdengar. Melalui pilihan diksi yang simbolik dan reflektif, ia menghadirkan sastra sebagai bahasa empati yang mempertemukan pengalaman batin dengan kesadaran sosial.</p>
<p>Puisi berjudul Suara Perempuan yang ditulis satu hari menjelang acara ini, mengisahkan tentang perjuangan dan kehendak perempuan dan anak-anak yang selama ini menjadi korban kekerasan namun masih terbungkam. Dalam salah satu bait puisinya Nuyang mengatakan:</p>
<p>“Keluarga adalah rahim yang melahirkan peradaban<br />
tak ada agama, adat, hukum bahkan kekuasaan yang layak<br />
jika masih ada perempuan dan seorang anak yang tidur<br />
dalam jerit dan ketakutan”</p>
<p>Nuyang Jaimee dikenal sebagai penyair, penulis puisi, esai, opini, features, cerpen dan naskah drama, sutradara teater, monolog, kurator, pelatih teater dan penulisan sastra. Karya-karyanya, puisi dan cerpen dimuat di berbagai media cetak dan majalah sastra, juga lolos kuratorial dalam antologi di berbagai festival dan event sastra di Indonesia dan luar negeri. Beberapa esainya dimuat diberbagai portal online.</p>
<p>Selain aktif sebagai penggerak literasi, ia juga dipercaya menjadi kurator festival sastra nasional, moderator forum kebudayaan, dan pembicara dalam berbagai kegiatan yang mengangkat tema sastra, perempuan, serta kemanusiaan. Dalam organisasi Ia sebagai pendiri Lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI) dan Keluarga Besar Penyair Seksih (KBPS) juga Kampung Seni Jakarta (KSJ). Nuyang aktif juga dalam menginisiasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan festival sastra, pertunjukan teater puisi, diskusi kebudayaan di Jakarta dan berbagai daerah serta luar negeri.</p>
<p>Dalam kepenyairannya, Nuyang dikenal mengembangkan gaya yang simbolik, teatrikal, dan kontemplatif. Karya-karyanya banyak berbicara tentang tubuh, ingatan, ketidakadilan sosial, cinta, dan pergulatan batin manusia. Baginya, puisi bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dihadirkan sebagai pengalaman yang dapat dirasakan bersama oleh pembaca maupun penonton.</p>
<p>Keberadaan pembacaan puisi di tengah diskusi buku memperlihatkan bahwa sastra memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik. Jika diskusi menghadirkan argumentasi dan pemikiran, maka puisi menghadirkan empati. Keduanya saling melengkapi dalam mengajak masyarakat melihat persoalan kekerasan terhadap perempuan sebagai persoalan kemanusiaan yang harus dihadapi secara bersama.</p>
<p>Melalui bincang buku tersebut, Arung Jeram Pernikahan tidak hanya menjadi sebuah buku yang dibedah, tetapi juga menjadi titik temu antara literasi, seni, dan gerakan sosial. Di ruang itulah sastra menemukan fungsinya: tidak berhenti sebagai karya, melainkan berubah menjadi suara yang menggerakkan kesadaran.</p>
<p><strong>(Chris Rumaropen)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SUARA PEREMPUAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/trending/suara-perempuan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 16:04:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Nuyang Jaimee]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA PEREMPUAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7650</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Nuyang Jaimee Seorang perempuan menggulung sanggulnya dadanya koyak matanya berkabut kekerasan datang seperti api rumah berubah jadi ruang eksekusi Almanak tak pernah selesai menghitung musim demi musim kekejaman tak bergeming setiap lebam adalah riwayat tubuh perempuan jadi hikayat jejak penyiksaan, kekuasaan yang menjadi pengadilan mengalahkan kuasa Tuhan Cinta tumbuh menyesakkan kesetiaan jadi doktrin [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Oleh : Nuyang Jaimee</strong></span></p>
<p>Seorang perempuan<br />
menggulung sanggulnya<br />
dadanya koyak<br />
matanya berkabut<br />
kekerasan datang seperti api<br />
rumah berubah jadi ruang eksekusi</p>
<p>Almanak tak pernah selesai<br />
menghitung musim demi musim<br />
kekejaman tak bergeming<br />
setiap lebam adalah riwayat<br />
tubuh perempuan jadi hikayat<br />
jejak penyiksaan, kekuasaan<br />
yang menjadi pengadilan<br />
mengalahkan kuasa Tuhan</p>
<p>Cinta tumbuh menyesakkan<br />
kesetiaan jadi doktrin kepatuhan<br />
setiap maaf adalah pisau yang menunda kematian<br />
hari demi hari mengumpulkan nyawa yang hilang</p>
<p>Anak-anak berhenti tertawa<br />
ibu tak punya jarik untuk mengusap airmata<br />
hentakan kaki datang menginjak harapan<br />
mengubah malam semakin mencekam<br />
setiap hari anak-anak memanen kebencian</p>
<p>keluarga adalah rahim yang melahirkan peradaban<br />
tak ada agama, adat, hukum bahkan kekuasaan yang layak<br />
jika masih ada perempuan dan seorang anak yang tidur<br />
dalam jerit dan ketakutan</p>
<p>Hari ini aku ingin mengembalikan suara<br />
kepada mereka yang dibungkam nestapa<br />
ketika mata perempuan dipenuhi telaga<br />
ketika kanak-kanak dipaksa memeras airmata<br />
sebab luka dan ketakutan bukan warisan<br />
sebab cinta tak melahirkan penindasan<br />
sebab cinta tak seharusnya ditulis<br />
dengan sejarah kelam</p>
<p><strong>Jatiasih, 13.06.26/22.09</strong></p>
<p><strong>BIONARASI</strong></p>
<p><strong>NUYANG JAIMEE</strong></p>
<p><em>Mengawali karir berkesenian melalui proses teater awal tahun 2000an. Lalu menulis cerpen dan puisi. Cerpen dan puisinya masuk di beberapa media massa di Jakarta, daerah dan majalah sastra di Indonesia. Masuk dalam antologi cerpen dan puisi bersama dalam dan luar negeri. Pendiri dan Direktur Pelaksana lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI), pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Bergabung di komunitas sastra Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ). Sampai saat ini aktif menginisiasi dan terlibat di berbagai pertemuan festival sastra dan event kesenian baik di Indonesia maupun di luar negeri. Sampai saat ini aktif sebagai entertainer, pemain teater, monolog, sutradara, pemerhati dan aktifis teater dan sastra. Sebagai penulis esai, features, cerpen, puisi, naskah drama, skenario dan sebagai pengajar/pelatih seni teater dan sastra di sekolah. Sebagai performer, pembaca puisi, narasumber, moderator sekaligus Master of Ceremony. Juara satu lomba baca puisi se-Asia Tenggara di Malaysia dalam acara ZKMUA. Juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa (lukisan) oleh Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya” terbit tahun 2023.</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sudut Lain Kehidupan Koruptor</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/sudut-lain-kehidupan-koruptor</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2026 23:01:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sudut Lain Kehidupan Koruptor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7564</guid>

					<description><![CDATA[Puisi Esai: Akbar AP &#8211; &#8220;Tidak, Ma, hargai pilihan Kakak.&#8221; Halus mengucap bibir manis itu. Atas ketidakmengertian dan ketidakpahaman pada ragam situasi sulit mencekik. Menjadi sebuah keterkejutan bagimu, lagi dan lagi. Sebab masa-masa itu, krisis monitor mengintai horor. Radio demi radio, koran demi koran, rumah demi rumah. Sekalimat itu tidak berhenti pada permintaan, Agar kamu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Puisi Esai: Akbar AP</p>
<p>&#8211;</p>
<p>&#8220;Tidak, Ma, hargai pilihan Kakak.&#8221;<br />
Halus mengucap bibir manis itu.<br />
Atas ketidakmengertian dan ketidakpahaman pada ragam situasi sulit mencekik.<br />
Menjadi sebuah keterkejutan bagimu, lagi dan lagi.</p>
<p>Sebab masa-masa itu, krisis monitor mengintai horor.<br />
Radio demi radio, koran demi koran, rumah demi rumah.<br />
Sekalimat itu tidak berhenti pada permintaan,<br />
Agar kamu merelakan sebuah keputusan dan perjalanan si sulung menempuhi segunung bara jelaga yang diciptakannya.<br />
Tetapi supaya kamu iklas memutar roda kehidupan menjadi jelata.</p>
<p>Lepas dari segala gelimang emas, perak, dan berlian yang menyilaukan nurani sulungmu selama ini.<br />
Merdeka leluasa mengisi hidup dengan kemudi kebajikan bagi sesama.<br />
Andai nanti penjara jenuh menempanya.<br />
Jika waktunya tiba kembali padamu, pada masyarakat sekitarnya.</p>
<p>&#8220;Tidak, Ma, hargai pilihan Kakak.!&#8221;<br />
Kalimat yang tidak pernah menyalahkanmu, sungguh!<br />
Bukan pula membantah marwahmu sebagai ibu.<br />
Namun, tentang si bungsu yang ingin kamu sadar atas apa yang pernah kamu ajarkan.<br />
Menghargai orang lain, artinya lapang bagaimanapun dampak dari perbuatan orang lain itu.</p>
<p>Barangkali dari sederet nama pada daftar hitam buku koruptor,<br />
Nama si sulung hadir, baru, di sudut akhir.<br />
Namun, catatan itulah yang semoga menerangi jalan kehidupannya ke depan.<br />
Diadili semestinya, dipenjara sebaiknya, dan dibebaskan ketika cahaya sanubari kembali terbuka.</p>
<p>Karanglo, 12 Juli 2026</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Goa Jepang: Sunyi yang Berbicara dalam Bahasa Sastra</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/esai/goa-jepang-sunyi-yang-berbicara-dalam-bahasa-sastra</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 11:11:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Goa Jepang: Sunyi yang Berbicara dalam Bahasa Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7469</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Heri Isnaini Saya berdiri di depan mulut Goa Jepang. Sebuah lorong gelap menganga di hadapan saya. Dari luar, ia tampak seperti sekadar lubang yang dibelah pada tubuh bukit. Namun, saya tahu, tidak ada ruang yang dibangun oleh sejarah yang benar-benar kosong. Setiap batu menyimpan jejak. Setiap dinding menyerap suara. Setiap lorong memelihara kenangan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Heri Isnaini</strong></p>
<p>Saya berdiri di depan mulut Goa Jepang. Sebuah lorong gelap menganga di hadapan saya. Dari luar, ia tampak seperti sekadar lubang yang dibelah pada tubuh bukit. Namun, saya tahu, tidak ada ruang yang dibangun oleh sejarah yang benar-benar kosong. Setiap batu menyimpan jejak. Setiap dinding menyerap suara. Setiap lorong memelihara kenangan yang tak seluruhnya dapat diucapkan.</p>
<p>Di tempat seperti ini, saya selalu teringat pada satu hal, bahwa sejarah sebenarnya tidak pernah mati. Yang sering mati adalah bahasa kita untuk mengingatnya. Kita dapat menghafal tahun pendudukan Jepang. Kita dapat menyebut nama-nama tokoh, strategi perang, atau jumlah korban romusha. Namun, pengetahuan semacam itu sering berhenti sebagai data. Ia tidak berubah menjadi pengalaman batin. Padahal, sejarah hanya benar-benar hidup ketika bahasa mampu menghidupkan kembali rasa yang pernah dialami manusia. Di sinilah sastra mengambil perannya.</p>
<p>Sastra bukan sekadar cerita yang indah atau puisi yang memanjakan bunyi. Sastra adalah cara manusia menyelamatkan pengalaman ketika sejarah hanya menyisakan angka. Sejarah mencatat bahwa ribuan orang menjadi romusha. Sastra bertanya, &#8220;Bagaimana bunyi napas mereka ketika mengangkat batu? Apa yang mereka pikirkan ketika malam turun di lorong yang lembap? Apakah mereka masih sempat menyebut nama ibu, istri, atau anak-anaknya sebelum tertidur dalam kelelahan?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu dapat dijawab oleh arsip. Namun, sastra memberi ruang agar imajinasi etis bekerja, bukan untuk mengada-ada, melainkan untuk memulihkan sisi kemanusiaan yang sering hilang dari catatan sejarah.</p>
<p>Saya memasuki lorong itu beberapa langkah. Udara menjadi lebih dingin. Cahaya perlahan tertinggal di belakang. Saya membayangkan bahasa yang pernah terdengar di tempat ini. Barangkali ada bahasa Jepang yang keluar sebagai perintah. Ada bahasa Sunda, Jawa, atau Melayu yang lirih sebagai keluhan. Ada doa-doa yang dipanjatkan dalam bahasa ibu. Ada tangisan yang bahkan tidak sempat berubah menjadi kata.</p>
<p>Tidak semua penderitaan memiliki kosakata. Kadang-kadang manusia hanya mampu diam. Dan justru dari diam itulah sastra sering lahir. Puisi-puisi terbaik tidak selalu lahir dari kata-kata yang ramai. Ia sering muncul dari ruang kosong yang gagal dijelaskan bahasa sehari-hari. Sebab itu, diam bukan lawan bahasa. Diam adalah bagian terdalam dari bahasa. Goa Jepang mengajarkan hal itu kepada saya. Lorongnya sunyi, tetapi kesunyiannya berbicara.</p>
<p>Dalam linguistik, kita mengenal bahasa sebagai sistem tanda. Dalam sastra, bahasa melampaui dirinya sendiri. Kata bukan lagi sekadar penanda benda, melainkan pembawa pengalaman. &#8220;Kegelapan&#8221; di dalam kamus hanya berarti keadaan tanpa cahaya. Namun, ketika kita berdiri di mulut Goa Jepang, kata itu berubah menjadi metafora. Ia menjadi ketakutan, penindasan, kehilangan, bahkan harapan yang nyaris padam.</p>
<p>Begitulah sastra bekerja. Ia menggeser makna denotatif menuju makna eksistensial. Sebab itu, saya selalu percaya bahwa bangsa yang kehilangan sastra akan perlahan kehilangan kemampuan merasakan sejarah. Ia masih mampu mengingat peristiwa, tetapi tidak lagi mampu menghayati penderitaan manusia yang hidup di dalamnya.</p>
<p>Ironisnya, kita hidup pada zaman ketika bahasa semakin melimpah, tetapi makna justru semakin menipis. Setiap hari jutaan kata diproduksi melalui media sosial, video pendek, dan berbagai platform digital. Namun, semakin banyak kata diucapkan, semakin sedikit yang benar-benar tinggal dalam ingatan. Goa Jepang menawarkan pelajaran yang sebaliknya. Ia nyaris tanpa kata, tetapi penuh makna. Mungkin sebab makna tidak lahir dari banyaknya ujaran, melainkan dari kedalaman pengalaman.</p>
<p>Sebagai dosen bahasa dan sastra, saya sering bertanya kepada mahasiswa, &#8220;Mengapa kita belajar bahasa Indonesia?&#8221; Sebagian menjawab agar mampu berkomunikasi. Sebagian lagi mengatakan agar dapat menulis dengan baik. Jawaban itu tidak salah.</p>
<p>Namun, sesungguhnya kita belajar bahasa agar mampu menjadi manusia yang memahami manusia lain. Tanpa empati, bahasa berubah menjadi alat. Tanpa imajinasi, bahasa kehilangan jiwanya. Tanpa sastra, bahasa hanya menjadi informasi.</p>
<p>Saya kemudian teringat pada pemikiran Mikhail Bakhtin bahwa setiap ujaran selalu membawa jejak suara-suara lain. Tidak ada bahasa yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kata adalah hasil dialog panjang antarmanusia, antargenerasi, bahkan antarzaman. Barangkali demikian pula Goa Jepang. Ia tidak berbicara sendirian.</p>
<p>Lorong itu berdialog dengan masa kini. Ia bertanya kepada kita, &#8220;Apakah manusia telah belajar dari penderitaannya? Apakah bahasa hari ini digunakan untuk membangun kemanusiaan atau justru memperpanjang permusuhan?&#8221; Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika ujaran kebencian lebih cepat menyebar daripada puisi. Ketika fitnah lebih viral daripada pengetahuan. Ketika bahasa kehilangan fungsinya sebagai jembatan dan berubah menjadi tembok yang memisahkan manusia.</p>
<p>Sastra selalu mengingatkan bahwa setiap manusia adalah cerita. Di balik setiap korban perang ada seorang anak yang kehilangan ayah. Di balik setiap romusha ada seorang ibu yang menunggu kepulangan yang tak pernah tiba. Di balik setiap bangunan sejarah ada ribuan kalimat yang tidak pernah sempat dituliskan.</p>
<p>Mungkin sebab itulah saya merasa tempat seperti Goa Jepang lebih dekat dengan perpustakaan daripada sekadar situs wisata. Yang tersimpan di sini bukan hanya batu dan lorong, melainkan narasi-narasi yang belum selesai dibaca, dan setiap pengunjung sesungguhnya sedang membuka sebuah halaman baru.</p>
<p>Ketika saya meninggalkan Goa Jepang, saya menyadari bahwa yang paling perlu dijaga bukanlah dinding batunya, melainkan bahasa kita dalam mengingatnya. Sebab, suatu bangsa tidak hanya kehilangan sejarah ketika monumennya runtuh. Bangsa kehilangan sejarah ketika bahasanya tak lagi mampu menyebut penderitaan dengan hormat, ketika sastranya berhenti merawat empati, dan ketika generasi mudanya hanya mengenal masa lalu sebagai latar swafoto.</p>
<p>Di situlah saya percaya, bahasa dan sastra memiliki tugas yang jauh melampaui estetika. Keduanya adalah rumah bagi ingatan kolektif. Melalui bahasa kita menamai dunia, tetapi melalui sastra kita belajar menghayatinya. Bahasa memberi kita kata, sedangkan sastra mengajarkan kita makna.</p>
<p>Maka, berdiri di depan Goa Jepang sesungguhnya bukan hanya berhadapan dengan sebuah lorong sejarah. Saya sedang berhadapan dengan sebuah teks yang ditulis oleh waktu. Batu-batunya adalah paragraf. Kesunyiannya adalah tanda baca. Lorongnya adalah alur. Dan manusia-manusia yang pernah hidup, bekerja, menderita, serta berharap di dalamnya adalah tokoh-tokoh yang namanya mungkin telah hilang dari arsip, tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari sastra.</p>
<p>Selama bahasa masih mampu mengucapkan kemanusiaan, dan sastra masih bersedia merawat ingatan, lorong-lorong seperti Goa Jepang tidak akan pernah menjadi ruang yang benar-benar sunyi. Sebab, ada kisah yang terus bergema bukan dari mulut gua, melainkan dari hati setiap orang yang masih mau membaca sejarah sebagai cerita tentang manusia.</p>
<p><strong>Penulis</strong></p>
<p>Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Cimahi, Jawa Barat. Ia pernah mengajar Bahasa Indonesia di sejumlah sekolah di Kota Bandung pada tahun 2007–2020. Lahir di Subang pada 17 Juni, Heri aktif menulis artikel, esai, dan karya sastra yang telah dipublikasikan di berbagai media massa cetak maupun daring. Saat ini, ia juga menjadi kontributor RNSI dan Literatura Nusantara.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepatu yang Mengelupas</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/unggulan/sepatu-yang-mengelupas</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2026 13:09:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Karya: Ilhamdi Sulaiman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7452</guid>

					<description><![CDATA[Karya: Ilhamdi Sulaiman Sepatu itu sudah terlalu lama menemani langkah Rahman. Kulit hitamnya retak-retak seperti tanah yang menunggu hujan. Sol bagian depan menganga. Setiap kali ia melangkah, mulut sepatu itu membuka dan menutup, seolah sedang mengucapkan sesuatu yang tak pernah didengar siapa pun. Setiap subuh, Rahman mengoleskan lem pada bagian yang mengelupas. Ia menekannya kuat-kuat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Karya: Ilhamdi Sulaiman</strong></p>
<p>Sepatu itu sudah terlalu lama menemani langkah Rahman.<br />
Kulit hitamnya retak-retak seperti tanah yang menunggu hujan. Sol bagian depan menganga. Setiap kali ia melangkah, mulut sepatu itu membuka dan menutup, seolah sedang mengucapkan sesuatu yang tak pernah didengar siapa pun.<br />
Setiap subuh, Rahman mengoleskan lem pada bagian yang mengelupas. Ia menekannya kuat-kuat dengan kedua telapak tangan, lalu mendiamkannya beberapa menit sebelum dipakai kembali.<br />
&#8220;Masih bisa dipakai?&#8221; tanya istrinya.<br />
Rahman tersenyum.<br />
&#8220;Kalau masih bisa berjalan, berarti masih pantas dipakai.&#8221;<br />
Ia adalah seorang tenaga kesehatan PPPK di sebuah puskesmas kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Ketika surat keputusan pengangkatannya turun, seluruh kampung datang mengucapkan selamat.<br />
&#8220;Sekarang hidupmu aman.&#8221;<br />
&#8220;Sebentar lagi kalian sejahtera.&#8221;<br />
&#8220;Anakmu pasti bisa kuliah.&#8221;<br />
Ucapan-ucapan itu beterbangan</p>
<p>pernah kembali.<br />
Yang tinggal hanya kenyataan.<br />
Gaji yang dijanjikan belum juga tiba.<br />
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.<br />
Rahman tetap datang ke puskesmas.<br />
Ia memeriksa balita yang demam. Membersihkan luka petani yang tersayat parang. Menenangkan seorang ibu yang menangis karena anaknya kejang.<br />
Semua dilakukan dengan tangan yang sama—tangan yang setiap malam menghitung uang receh di atas meja makan.<br />
Suatu malam anak bungsunya berkata pelan.<br />
&#8220;Ayah&#8230; besok di sekolah bayar uang kegiatan.&#8221;<br />
Rahman terdiam.<br />
Ia membuka dompet.<br />
Isinya hanya kartu identitas, selembar foto keluarga, dan beberapa lembar uang yang bahkan tak cukup untuk membeli kebutuhan sehari.<br />
&#8220;Ayah usahakan.&#8221;<br />
Kalimat itu keluar seperti batu yang dipaksa melewati tenggorokan.<br />
Di puskesmas, orang-orang memanggilnya &#8220;Pak Rahman&#8221;.<br />
Mereka tidak tahu bahwa lelaki yang memasang infus dengan tenang itu sering pulang tanpa membawa apa pun.<br />
Ia tak pernah mengeluh kepada pasien.<br />
Baginya, orang sakit tidak pantas ikut menanggung kesedihan orang yang mengobati.<br />
Namun setiap kali berjalan di lorong puskesmas, sepatu tuanya mengeluarkan bunyi kecil.<br />
Cek&#8230; cek&#8230;<br />
Bunyi yang hanya ia dengar sendiri.<br />
Seperti suara harga diri yang perlahan terkikis.<br />
Suatu sore hujan turun deras.<br />
Rahman mengantar seorang ibu hamil yang harus dirujuk ke rumah sakit.<br />
Jalan berlumpur.<br />
Air masuk melalui sela-sela sepatu yang robek.<br />
Kakinya basah.<br />
Tetapi perempuan yang ditolongnya selamat.<br />
Malam itu ia pulang dengan pakaian penuh lumpur.<br />
Istrinya bertanya,<br />
&#8220;Kapan terakhir Abang membeli sepatu?&#8221;<br />
Rahman tertawa kecil.<br />
&#8220;Aku sudah lupa.&#8221;<br />
Hari-hari terus berjalan.<br />
Di ruang pelayanan terpajang slogan besar:<br />
&#8220;Melayani dengan Sepenuh Hati.&#8221;<br />
Rahman membacanya setiap pagi.<br />
Lalu ia tersenyum getir.<br />
Ia memang melayani dengan sepenuh hati.<br />
Tetapi perut tidak pernah kenyang oleh slogan.<br />
Anak-anak tidak bisa membayar sekolah dengan pengabdian.<br />
Sepatu tidak akan utuh hanya karena kesetiaan.<br />
Suatu pagi, sebelum berangkat bekerja, sol sepatu itu akhirnya terlepas seluruhnya.<br />
Rahman memungutnya.<br />
Membersihkannya.<br />
Lalu mengikatnya dengan tali rafia.<br />
Ia memandang dirinya di cermin.<br />
Seragamnya rapi.<br />
Lencana di dada berkilau.<br />
Hanya sepatunya yang seolah berkata jujur tentang hidup yang sedang dijalani.<br />
Ia menarik napas panjang.<br />
Lalu berangkat.<br />
Di sepanjang jalan, orang-orang tetap menyapanya hormat.<br />
&#8220;Selamat pagi, Pak!&#8221;<br />
Rahman membalas dengan senyum.<br />
Tak seorang pun tahu bahwa di balik langkah yang tegak itu, ada lelaki yang sedang berusaha mempertahankan martabatnya agar tidak ikut mengelupas bersama sepatunya.<br />
Dan ketika ia memasuki halaman puskesmas, matahari baru saja terbit.<br />
Cahayanya menyentuh sepatu yang robek itu.<br />
Untuk sesaat, Rahman merasa, mungkin harapan memang seperti matahari.<br />
Selalu datang.<br />
Meski kadang terlalu lama dinanti.<br />
Tetapi ia juga sadar, harapan yang terus-menerus ditunda dapat berubah menjadi luka.<br />
Dan luka yang paling sunyi bukanlah luka di kaki akibat sepatu yang rusak.<br />
Melainkan luka di hati seseorang yang tetap mengabdi, sementara hidupnya sendiri perlahan runtuh dalam diam.<br />
7 Juli 2026</p>
<p><em>Catatan : cerpen ini terinspirasi setelah menonton berita tentang Gaji P3K di Kepulauan Tidore tak dapat dibayarkan karena tak tersedia lagi anggarannya</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PEREMPUAN DI TIKUNGAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/esai/perempuan-di-tikungan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2026 19:58:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[PEREMPUAN DI TIKUNGAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7416</guid>

					<description><![CDATA[Karya: Ilhamdi Sulaiman. Setiap menjelang subuh, ketika malam belum benar-benar pergi dan azan masih berupa gema yang menunggu lahir dari langit, seorang lelaki tua berdiri di depan warung kecil di sebuah tikungan jalan. Warung itu menempel pada pagar bangunan tua. Ia selalu membeli sebatang rokok. Bukan karena masih menikmati tembakau. Melainkan karena hanya dengan cara [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Karya: Ilhamdi Sulaiman.</strong></p>
<p>Setiap menjelang subuh, ketika malam belum benar-benar pergi dan azan masih berupa gema yang menunggu lahir dari langit, seorang lelaki tua berdiri di depan warung kecil di sebuah tikungan jalan. Warung itu menempel pada pagar bangunan tua.<br />
Ia selalu membeli sebatang rokok.<br />
Bukan karena masih menikmati tembakau.<br />
Melainkan karena hanya dengan cara itu ia mempunyai alasan untuk berdiri lebih lama di sana.<br />
Asap rokok melayang tipis, lalu lenyap ditelan udara. Lelaki tua itu memandangnya tanpa berkedip. Sejak keluar dari penjara tiga bulan lalu, ia merasa hidupnya tak ubahnya asap, lalu hilang tanpa meninggalkan jejak.<br />
Dua belas tahun ia menghuni sel sempit karena membunuh istrinya sendiri.<br />
Orang-orang mengatakan ia telah menebus dosanya.<br />
Ia tahu, tidak.<br />
Hukuman penjara hanya mengurung tubuh. Penyesalan mengurung jiwa, dan penjara itu tak mempunyai pintu.<br />
Kini ia hidup sebagai gelandangan. Siang mencari pekerjaan yang tak pernah diberikan orang kepadanya. Malam tidur di jembatan penyeberangan bersama angin, nyamuk, dan dengung kendaraan yang tak pernah mengenal lelah.<br />
Namun ada satu alasan yang membuatnya bertahan hidup.<br />
Seorang anak perempuan.<br />
Ketika ia dibawa polisi dua belas tahun silam, anak itu baru berumur empat tahun. Malam itu, sebelum pintu rumah dipenuhi tetangga dan sirene, ia sempat melihat anaknya berdiri di sudut ruang tamu. Wajah kecil itu pucat. Boneka kain terlepas dari pelukannya. Matanya menatap ayahnya tanpa menangis, seolah ketakutan telah lebih dulu membunuh air matanya.<br />
Sejak malam itu ia tak pernah lagi mengetahui nasib anaknya.<br />
Masih hidupkah?<br />
Masih ingatkah?<br />
Ataukah sudah mengganti nama agar tak lagi mewarisi aib seorang pembunuh?</p>
<p>&#8220;Seperti biasa, Bang.&#8221;<br />
Suara perempuan itu memutus lamunannya.<br />
Seorang perempuan muda berdiri di depan warung. Jaket tipis membungkus tubuhnya yang letih. Rambutnya diikat asal. Di wajahnya ada kecantikan yang telah lama berdamai dengan luka.<br />
&#8220;Rokok setengah. Gula seperempat. Kopi satu bungkus.&#8221;<br />
Yono, pemilik warung, mengangguk tanpa banyak bertanya. Perempuan itu memang selalu datang menjelang subuh.<br />
Lelaki tua itu tak sengaja menatap wajahnya.<br />
Dadanya bergetar.<br />
Ada sesuatu pada mata perempuan itu.<br />
Bukan wajahnya.<br />
Bukan bentuk bibirnya.<br />
Melainkan tatapannya.<br />
Tatapan yang pernah dilihatnya dua belas tahun silam, ketika seorang anak kecil berdiri membeku di sudut rumah sambil memeluk boneka.<br />
Perempuan itu merasakan tatapan itu.</p>
<p>Keesokan subuh ia datang lebih awal.<br />
Warung masih setengah tertutup. Yono baru saja menyapu halaman ketika lelaki tua itu sudah duduk di bangku kayu, memandangi tikungan yang perlahan diterangi cahaya fajar.<br />
&#8220;Menunggu seseorang, Pak?&#8221; tanya Yono sambil tersenyum.<br />
Lelaki tua itu menggeleng kecil.<br />
&#8220;Mungkin.&#8221;<br />
Yono tidak bertanya lagi. Di kota sebesar ini, setiap orang menyimpan rahasia, dan rahasia lebih baik dibiarkan tinggal di dalam dada.<br />
Tak lama kemudian perempuan itu datang.<br />
Langkahnya pelan, seolah semalam ia berjalan terlalu jauh. Ada lingkar hitam di bawah matanya. Bibirnya pecah-pecah. Ia memesan barang seperti biasa, membayar, lalu berbalik.<br />
Ketika melewati bangku, tanpa sengaja matanya kembali bertemu dengan mata lelaki tua itu.<br />
Kali ini perempuan itu tidak segera berpaling.<br />
&#8220;Apa kita pernah bertemu?&#8221; tanyanya.<br />
Lelaki tua itu tercekat. Bibirnya bergerak, tetapi tak satupun kata berhasil keluar. Ia hanya menggeleng pelan.<br />
&#8220;Mungkin saya keliru,&#8221; ujar perempuan itu, lalu pergi.<br />
Lelaki tua itu menunduk. Jantungnya berdegup lebih keras daripada biasanya.<br />
&#8220;Aneh, ya?&#8221; kata Yono setelah perempuan itu menghilang. &#8220;Dia biasanya tidak pernah menyapa orang.&#8221;<br />
Lelaki tua itu tidak menjawab.<br />
Ia takut, jika terlalu lama memandangi perempuan itu, kenangan yang selama ini di kuburnya akan bangkit satu per satu.<br />
Hari-hari berikutnya menjadi serupa.<br />
Ia datang.<br />
Menunggu.<br />
Memandangi tikungan.<br />
Perempuan itu datang menjelang subuh, membeli kebutuhan sehari-hari, lalu pulang.<br />
Tak pernah lebih dari lima menit.<br />
Namun lima menit itu cukup membuat lelaki tua merasa hidupnya masih mempunyai tujuan.<br />
Pada pagi kelima, perempuan itu tak datang.<br />
Lelaki tua itu gelisah.<br />
&#8220;Belum datang?&#8221; tanyanya.<br />
Yono menggeleng.<br />
&#8220;Biasanya diantar seseorang.&#8221;<br />
&#8220;Suaminya?&#8221;<br />
Yono tersenyum pahit.<br />
&#8220;Bukan.&#8221;<br />
Lelaki tua itu menunggu penjelasan.<br />
&#8220;Itu germonya.&#8221;<br />
Lelaki tua itu mengernyit.<br />
&#8220;Dia bekerja di rumah kuning.&#8221;<br />
Kalimat itu membuat udara di sekelilingnya mendadak terasa sesak.<br />
Rumah kuning.<br />
Ia tahu arti sebutan itu.<br />
Tempat perempuan menjual tubuhnya kepada orang-orang yang bahkan tak ingin mengingat namanya ketika pagi datang.<br />
Lelaki tua itu memejamkan mata.<br />
Entah mengapa dadanya terasa nyeri.<br />
Ia tidak mengenal perempuan itu.<br />
Tetapi mendengar hidupnya hancur terasa seperti mendengar nasib seseorang yang sangat dekat dengannya.<br />
&#8220;Mungkin beginilah cara Tuhan menghukum manusia,&#8221; bisiknya.<br />
&#8220;Bukan dengan cambuk, tetapi dengan memperlihatkan penderitaan yang tak sanggup kita hentikan.&#8221;<br />
Yono memandang lelaki tua itu sekilas, lalu kembali melayani pembeli.<br />
Sementara itu, di ujung tikungan, matahari mulai muncul perlahan.<br />
Cahayanya jatuh ke jalan yang basah oleh embun.<br />
Tetapi bagi lelaki tua itu, pagi tetap terasa gelap.</p>
<p>Santi tinggal di sebuah kamar kontrakan yang sempit di belakang terminal.<br />
Dindingnya lembap. Catnya mengelupas. Bila hujan turun, air menetes dari atap seng ke dalam ember plastik yang telah lama kehilangan warna.<br />
Di atas meja kecil tergeletak sebuah pigura kusam.<br />
Seorang anak perempuan tersenyum di dalamnya.<br />
Regina.<br />
Setiap pulang menjelang subuh, Santi selalu mengusap bingkai foto itu sebelum berganti pakaian. Tak ada lagi yang dapat diusapnya. Tubuh kecil itu telah lama berbaring di dalam tanah.<br />
Regina meninggal setahun yang lalu.<br />
Polisi menyebutnya korban pembunuhan.<br />
Surat kabar hanya menulis dua baris berita.<br />
Seorang anak perempuan ditemukan meninggal setelah diduga menjadi korban kekerasan seksual.<br />
Sesudah itu, dunia kembali sibuk oleh berita-berita lain.<br />
Tak ada yang bertanya siapa ibunya.<br />
Tak ada yang peduli bagaimana seorang perempuan menguburkan anak semata wayangnya dengan uang pinjaman tetangga.<br />
Malam itu juga Santi merasa hidupnya telah selesai.<br />
Ia tetap bernafas, tetapi hanya karena kematian tidak datang ketika dipanggil.<br />
Pagi itu ia kembali singgah di warung Yono.<br />
&#8220;Orang tua itu belum datang lagi?&#8221; tanyanya.<br />
Yono menggeleng.<br />
&#8220;Katanya sakit. Sudah beberapa hari tidur di jembatan penyeberangan.&#8221;<br />
Entah mengapa dada Santi berdesir.<br />
Tatapan lelaki tua itu terus mengikutinya.<br />
Tatapan yang tidak pernah meminta apa-apa.<br />
Tatapan yang justru seperti sedang memohon maaf.<br />
&#8220;Aku mau melihatnya,&#8221; kata Santi tiba-tiba.<br />
Yono menunjuk ke arah jembatan yang menjulang tak jauh dari terminal.<br />
&#8220;Kalau masih hidup, biasanya di sana.&#8221;<br />
Menjelang malam hujan turun rintik-rintik.<br />
Lampu kendaraan memantulkan cahaya kuning di jalan yang basah.<br />
Santi menaiki tangga jembatan penyeberangan dengan langkah pelan.<br />
Di sudut jembatan itu, seorang lelaki tua terbaring meringkuk.<br />
Tubuhnya menggigil.<br />
Wajahnya pucat.<br />
Tak ada seorang pun yang berhenti.<br />
Orang-orang melangkah melewatinya seolah tubuh renta itu hanyalah karung bekas yang dibuang seseorang.<br />
Santi mendekat.<br />
&#8220;Pak&#8230;&#8221;<br />
Lelaki tua itu membuka mata.<br />
Lama sekali ia menatap wajah perempuan di hadapannya.<br />
Dua butir air mata mengalir perlahan di pipinya yang cekung.<br />
Dengan suara nyaris tak terdengar ia berbisik,<br />
&#8220;&#8230;maafkan Ayah&#8230;&#8221;<br />
Santi membeku.<br />
Dadanya bergemuruh.<br />
Ia belum pernah menceritakan masa lalunya kepada siapa pun.<br />
Tak mungkin lelaki itu mengenalnya.<br />
Namun kata Ayah meluncur begitu saja dari bibir yang sedang direnggut demam.<br />
Perlahan Santi duduk di sampingnya.<br />
Tangannya menyentuh dahi lelaki tua itu yang panas.<br />
Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memberanikan diri bertanya,<br />
&#8220;Siapa nama anak Bapak?&#8221;<br />
Lelaki tua itu menarik napas panjang. Dadanya turun naik seperti hendak mengangkat beban yang terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.<br />
&#8220;Santi&#8230;&#8221; bisiknya. &#8220;Namanya&#8230; Santi.&#8221;<br />
Perempuan itu memejamkan mata.<br />
Hujan masih turun, tipis seperti tirai yang menggantung di antara masa lalu dan masa kini.<br />
&#8220;Siapa nama istri Bapak?&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Maria&#8230;&#8221;<br />
Suara itu patah.<br />
&#8220;&#8230;aku membunuhnya.&#8221;<br />
Tak ada lagi yang perlu dijelaskan.<br />
Dua belas tahun, penjara, tikungan, dan tatapan yang selama berhari-hari terasa akrab, tiba-tiba menjelma menjadi satu kenyataan yang tak dapat diingkari.<br />
Santi memandang wajah renta itu. Wajah yang selama puluhan tahun hanya dikenalnya lewat sebuah foto usang dengan sudut yang robek. Wajah yang selama ini dibencinya tanpa pernah benar-benar diingat.<br />
&#8220;Aku Santi,&#8221; katanya pelan.<br />
Lelaki tua itu mencoba bangkit. Tubuhnya gemetar. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu pun kata keluar. Air mata mengalir tanpa suara.<br />
&#8220;Ayah&#8230;&#8221;<br />
Hanya satu kata itu yang mampu diucapkannya.<br />
Namun Santi mengangkat tangan, menghentikan kalimat yang belum sempat lahir.<br />
&#8220;Jangan.&#8221;<br />
Suara perempuan itu tenang. Terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru menemukan ayahnya.<br />
&#8220;Dua belas tahun yang lalu Ayah kehilangan seorang anak.&#8221;<br />
Ia berhenti sejenak.<br />
&#8220;Setahun yang lalu&#8230; aku kehilangan seorang anak.&#8221;<br />
Lelaki tua itu menatapnya.<br />
&#8220;Namanya Regina.&#8221;<br />
Nama itu jatuh seperti batu yang menghantam dasar jiwa.<br />
&#8220;Dia diperkosa. Lalu dibunuh.&#8221;<br />
Lelaki tua itu memejamkan mata. Nafasnya tersengal.<br />
Santi mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya. Diselipkannya uang itu ke dalam telapak tangan lelaki tua tersebut.<br />
&#8220;Bukan untuk menebus masa lalu,&#8221; katanya lirih. &#8220;Tak ada uang yang mampu melakukan itu.&#8221;<br />
Ia berdiri.<br />
&#8220;Regina sekarang bersama neneknya.&#8221;<br />
Matanya menatap langit yang mulai memucat di ufuk timur.<br />
&#8220;Semoga&#8230; suatu hari nanti Tuhan mempertemukan mereka dengan seorang laki-laki yang sudah benar-benar bertobat.&#8221;<br />
Santi berbalik.<br />
Langkahnya perlahan menuruni tangga jembatan.<br />
Tak sekalipun ia menoleh.<br />
Lelaki tua itu memandang punggung perempuan itu hingga hilang di balik tikungan jalan, tempat pertama kali ia melihatnya beberapa hari yang lalu.<br />
Di tangannya, beberapa lembar uang telah basah oleh hujan dan air mata.<br />
Subuh pun datang.<br />
Azan berkumandang dari surau yang tak terlihat.<br />
Lelaki tua itu menengadah.<br />
Untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun, ia tidak meminta agar dosanya diampuni.<br />
Ia hanya memohon agar luka yang diwariskannya tidak lagi beranak-pinak pada kehidupan orang lain.<br />
Di bawah langit yang mulai terang, tikungan itu kembali lengang.<br />
Seolah tak pernah menjadi tempat dua kehidupan yang saling mencari,</p>
<p><strong>Jakarta mei 2025.</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Langit Belum Selesai Berjanji</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/indonesia/langit-belum-selesai-berjanji</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2026 06:21:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Langit Belum Selesai Berjanji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7371</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Era Nurza Langit mengunci fajar dalam peti biru matahari mengasah api di bibir cakrawala Embun mengukir doa pada nadi rerumputan bumi meminum cahaya seteguk demi seteguk Aku melangkah melintasi tulang waktu membawa musim gugur di punggung harap Sepi menjelma penenun merajut keberanian dari benang luka Awan memerahasiakan hujan angin menggembala gema menuju ufuk Jam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Era Nurza</strong></p>
<p>Langit mengunci fajar dalam peti biru<br />
matahari mengasah api di bibir cakrawala<br />
Embun mengukir doa pada nadi rerumputan<br />
bumi meminum cahaya seteguk demi seteguk</p>
<p>Aku melangkah melintasi tulang waktu<br />
membawa musim gugur di punggung harap<br />
Sepi menjelma penenun<br />
merajut keberanian dari benang luka</p>
<p>Awan memerahasiakan hujan<br />
angin menggembala gema menuju ufuk<br />
Jam memamah detik tanpa ampun<br />
jiwa menempa napas menjadi baja</p>
<p>Malam menyalakan bintang pada rongga dada<br />
bulan menggantung pelita di bibir sunyi<br />
Gelap kehilangan singgasana<br />
cahaya bangkit dari abu kegagalan</p>
<p>Langit belum selesai berjanji<br />
Pelangi masih bertapa di rahim hujan<br />
Takdir masih membakar besi menjadi pedang<br />
Aku memilih berdiri<br />
sebab harapan lahir bukan dari kemudahan<br />
melainkan dari hati tetap menyala saat semesta belum membuka pintu</p>
<p>Denpasar Bali, Juni 2026</p>
<p><strong>Menjahit Sabar pada Jam Retak</strong><br />
<strong>Oleh: Era Nurza</strong></p>
<p>Jam retak menggantung di dinding dada<br />
detiknya bocor menjadi gerimis usia<br />
Aku merenda sabar memakai benang doa<br />
menusuk malam hingga fajar kehilangan nama</p>
<p>Kursi sepi memeluk napas paling panjang<br />
jendela menelan wajah musim berganti<br />
Harap tumbuh bagai akar cahaya<br />
menembus batu ragu, mencari matahari</p>
<p>Langit mengunyah mendung perlahan<br />
angin mengantar kabar tanpa suara<br />
Aku memungut pecahan waktu<br />
merakitnya menjadi rumah keteguhan</p>
<p>Barangkali tiba bukan soal cepat<br />
melainkan hati mampu memelihara nyala<br />
Sebab sabar bukan jeda<br />
melainkan sungai sunyi menuju muara cahaya</p>
<p>Denpasar Bali, Juni 2026</p>
<p><strong>Di Ambang Pintu Besok</strong><br />
<strong>Oleh: Era Nurza</strong></p>
<p>Aku berdiri di ambang pintu besok<br />
membawa koper berisi musim gugur<br />
sisa tawa, serpih luka<br />
serta bara mimpi belum padam</p>
<p>Fajar mengasah cahaya pada mata angin<br />
langit meramu biru dalam bejana harapan<br />
Detik menjelma pahat<br />
mengukir jiwa menjadi tebing</p>
<p>Angin menyisir debu kegagalan<br />
sungai menggiring ragu menuju laut lupa<br />
Malam meluruhkan arang ketakutan<br />
bulan menanak sunyi menjadi pelita</p>
<p>Takdir menempa napas di tungku waktu<br />
keringat berubah mata uang bagi masa depan<br />
Langkah tak lagi mencari jalan<br />
langkah sendiri menjelma jalan</p>
<p>Aku mengetuk pintu besok<br />
memakai buku jari penuh doa<br />
Apabila gerbang tetap membisu<br />
aku menjadi engsel<br />
aku menjadi kunci<br />
aku membuka semesta dari dalam diri</p>
<p>Sebab besok bukan alamat<br />
Besok ialah benih menunggu keberanian<br />
tumbuh di ladang tekad<br />
berbuah pada tangan enggan menyerah</p>
<p>Denpasar Bali, Juni 2026</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BULAN YANG BERSEMAYAM DI MATAMU</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/esai/bulan-yang-bersemayam-di-matamu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2026 05:56:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[BULAN YANG BERSEMAYAM DI MATAMU]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7368</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Rizal Tanjung Malam menggembalakan jutaan bintang di padang langit. Namun hanya sepasang matamu yang sanggup membuat bulan lupa pulang. Sejak mengenalmu, aku percaya, bahwa cahaya tidak selalu lahir dari langit. Kadang ia tumbuh di dalam hati seseorang yang mencintai tanpa syarat. &#160; KETIKA ELANG MEMBAWA DOA Seekor elang membentangkan sayapnya di atas Pegunungan Altai. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Rizal Tanjung</strong></p>
<p>Malam<br />
menggembalakan<br />
jutaan bintang<br />
di padang langit.</p>
<p>Namun hanya<br />
sepasang matamu</p>
<p>yang sanggup<br />
membuat bulan<br />
lupa pulang.</p>
<p>Sejak mengenalmu,</p>
<p>aku percaya,</p>
<p>bahwa cahaya<br />
tidak selalu<br />
lahir dari langit.</p>
<p>Kadang<br />
ia tumbuh<br />
di dalam hati<br />
seseorang<br />
yang mencintai<br />
tanpa syarat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KETIKA ELANG MEMBAWA DOA</strong></p>
<p>Seekor elang<br />
membentangkan sayapnya<br />
di atas Pegunungan Altai.</p>
<p>Ia terbang<br />
melewati salju,<br />
angin,<br />
dan awan,</p>
<p>membawa<br />
sepotong rindu<br />
yang kutitipkan<br />
untukmu.</p>
<p>Jika suatu hari<br />
kau mendengar<br />
angin<br />
berbisik lembut<br />
di balik telingamu,</p>
<p>ketahuilah,</p>
<p>barangkali<br />
elang itu<br />
telah tiba,</p>
<p>dan doaku<br />
sedang hinggap<br />
di bahumu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SAJAK ILALANG DAN SENYUMMU</strong></p>
<p>Ilalang<br />
tak pernah iri<br />
kepada mawar.</p>
<p>Ia hanya menari<br />
ketika angin datang.</p>
<p>Begitulah<br />
aku mencintaimu.</p>
<p>Tak perlu<br />
menjadi bunga<br />
yang dipuja dunia.</p>
<p>Cukuplah<br />
menjadi padang<br />
tempat hatimu<br />
beristirahat,</p>
<p>setelah lelah<br />
mengembara<br />
di antara musim.</p>
<p><strong>PEREMPUAN YANG DITULIS OLEH FAJAR</strong></p>
<p>Fajar<br />
menciptakan warna<br />
hanya untuk<br />
melukiskan wajahmu.</p>
<p>Embun<br />
menyimpan bening<br />
agar matamu<br />
tetap jernih.</p>
<p>Dan langit<br />
menghampar luas</p>
<p>agar rinduku<br />
memiliki tempat<br />
untuk terbang.</p>
<p>Barangkali,</p>
<p>engkau bukan<br />
sekadar perempuan.</p>
<p>Engkau adalah<br />
musim semi</p>
<p>yang menyamar<br />
menjadi manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>LANGIT TAK PERNAH KEHILANGAN BUMI</strong></p>
<p>Langit<br />
tak pernah memiliki<br />
bumi.</p>
<p>Namun setiap pagi<br />
ia mengirim cahaya.</p>
<p>Setiap senja<br />
ia menghadiahkan<br />
warna.</p>
<p>Setiap malam<br />
ia menitipkan<br />
bintang.</p>
<p>Begitulah<br />
aku ingin<br />
mencintaimu.</p>
<p>Bukan dengan<br />
mengurungmu<br />
di dalam<br />
pelukanku.</p>
<p>Melainkan<br />
dengan menjadi<br />
cakrawala,</p>
<p>yang selalu<br />
menemanimu,</p>
<p>meski tak pernah<br />
memintamu<br />
berhenti<br />
menjadi dirimu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DOA DI PADANG STEPA</strong></p>
<p>Jika kelak<br />
rambut kita<br />
memutih<br />
seperti salju<br />
di punggung Altai,</p>
<p>aku tak meminta<br />
waktu<br />
kembali muda.</p>
<p>Aku hanya meminta</p>
<p>agar jemarimu<br />
tetap menemukan<br />
jemariku,</p>
<p>seperti sungai<br />
yang tak pernah lupa<br />
jalan menuju laut.</p>
<p>Karena cinta<br />
bukanlah<br />
tentang lamanya usia.</p>
<p>Ia adalah<br />
kesetiaan<br />
yang terus berbunga,</p>
<p>meski musim<br />
berulang kali<br />
mengajarkan<br />
cara gugur.</p>
<p>Dan ketika<br />
langit Mongolia<br />
menutup matanya<br />
dengan senja terakhir,</p>
<p>aku ingin<br />
namamu<br />
tetap menjadi<br />
ayat paling indah</p>
<p>yang dibaca<br />
oleh jantungku,</p>
<p>hingga Tuhan<br />
mengubah<br />
setiap rindu</p>
<p>menjadi<br />
keabadian.</p>
<p>Sumatera Barat, Indonesia,2026.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
