<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Esai &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/category/esai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Oct 2026 11:04:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Esai &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BETULKAH PBB MINTA INDONESIA MUNDUR DARI BOARD OF PEACE? INI PERSOALAN SEBENARNYA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/politik/betulkah-pbb-minta-indonesia-mundur-dari-board-of-peace-ini-persoalan-sebenarnya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2026 11:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[BETULKAH PBB MINTA INDONESIA MUNDUR DARI BOARD OF PEACE? INI PERSOALAN SEBENARNYA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12958</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Desakan agar Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) kembali mengangkat pertanyaan mendasar tentang arah diplomasi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Apakah keikutsertaan dalam badan yang dibentuk atas inisiatif Presiden Amerika Serikat Donald Trump benar-benar memberi Indonesia peluang untuk memengaruhi masa depan Gaza, atau justru berisiko melegitimasi mekanisme perdamaian yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Desakan agar Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) kembali mengangkat pertanyaan mendasar tentang arah diplomasi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.</p>
<p>Apakah keikutsertaan dalam badan yang dibentuk atas inisiatif Presiden Amerika Serikat Donald Trump benar-benar memberi Indonesia peluang untuk memengaruhi masa depan Gaza, atau justru berisiko melegitimasi mekanisme perdamaian yang tidak cukup menjamin hak-hak rakyat Palestina?</p>
<p>Polemik ini mencuat setelah Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki, meminta Indonesia mempertimbangkan kembali keterlibatannya dalam BoP. Dalam wawancara dengan Reuters di Jakarta pada 22 Oktober 2026, Albanese mempertanyakan legitimasi dan desain kelembagaan badan tersebut, terutama terkait keterwakilan rakyat Palestina dalam menentukan masa depan mereka sendiri.</p>
<p>Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan sejak awal. Desakan Albanese bukanlah keputusan resmi PBB yang memerintahkan Indonesia keluar dari BoP. Pelapor khusus merupakan pakar independen yang memperoleh mandat dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Ia dapat menyampaikan penilaian, kritik, dan rekomendasi, tetapi tidak memiliki kewenangan untuk memerintahkan pemerintah Indonesia menarik diri dari suatu forum internasional.</p>
<p>Karena itu, menyebut berita tersebut sebagai “PBB meminta Indonesia mundur dari Board of Peace” kurang tepat. Rumusan yang lebih akurat adalah bahwa seorang pelapor khusus PBB mendesak Indonesia meninjau kembali keanggotaannya.</p>
<p>Meski demikian, substansi kritik Albanese layak diperhatikan karena menyentuh persoalan mendasar dalam upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina.</p>
<p>Perdamaian Gaza Tanpa Suara Palestina?</p>
<p>Board of Peace merupakan inisiatif Donald Trump yang diumumkan pada Januari 2026 untuk mengawasi proses perdamaian dan rekonstruksi Gaza, dengan cakupan yang dirancang lebih luas. Indonesia bergabung sebagai anggota pendiri pada 22 Januari 2026.<br />
Bagi pemerintah Indonesia, partisipasi tersebut dapat dipahami sebagai upaya mengambil bagian langsung dalam proses diplomasi, membuka peluang untuk memengaruhi kebijakan, serta memperjuangkan penghentian kekerasan dan pemulihan kehidupan masyarakat Gaza.</p>
<p>Namun, Albanese melihat persoalan yang berbeda. Menurutnya, proses pengambilan keputusan di BoP terlalu didominasi Amerika Serikat dan Israel, sedangkan rakyat Palestina tidak memiliki keterwakilan yang memadai dalam menentukan masa depan politik wilayahnya.</p>
<p>Kritik ini berangkat dari prinsip bahwa rakyat Palestina bukan sekadar penerima bantuan kemanusiaan atau objek program rekonstruksi. Mereka adalah pihak yang memiliki hak menentukan nasib sendiri, termasuk masa depan pemerintahan, wilayah, dan kedaulatan politik mereka.</p>
<p>Pembangunan kembali rumah, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur Gaza memang mendesak. Namun, rekonstruksi fisik tidak otomatis menyelesaikan persoalan pendudukan, hak politik, perbatasan, dan kemerdekaan Palestina.</p>
<p>Pihak pendukung BoP menunjuk pembentukan Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, yang terdiri atas tenaga profesional Palestina dan bertugas mengelola pemerintahan sipil serta pemulihan wilayah tersebut. Keberadaan komite ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa administrasi Gaza tetap melibatkan warga Palestina.</p>
<p>Akan tetapi, bagi para pengkritiknya, pemerintahan teknokratis tidak dengan sendirinya menjamin kedaulatan politik. Mengelola pelayanan publik berbeda dengan menentukan masa depan sebuah bangsa. Persoalan utamanya adalah apakah rakyat Palestina memiliki kewenangan nyata dalam proses yang akan menentukan kehidupan mereka setelah perang.</p>
<p>Israel dan Persoalan Legitimasi</p>
<p>Kritik Albanese juga berkaitan dengan posisi Israel di dalam BoP. Israel merupakan pihak utama dalam konflik yang hendak diselesaikan oleh mekanisme tersebut. Karena itu, keterlibatannya dalam menentukan masa depan Gaza menimbulkan pertanyaan mengenai keseimbangan kekuasaan dan perlindungan hak-hak Palestina.</p>
<p>Albanese menilai Indonesia berisiko memberikan legitimasi kepada mekanisme yang, menurut pandangannya, belum menjamin penyelesaian konflik berdasarkan hukum internasional dan hak menentukan nasib sendiri.</p>
<p>Persoalannya bukan semata-mata apakah Indonesia boleh duduk dalam satu forum bersama Israel. Diplomasi internasional kerap mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik dalam upaya mencari penyelesaian. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah forum tersebut menyediakan ruang yang memadai bagi pihak yang hak-haknya dipertaruhkan.</p>
<p>Dalam konteks ini, Indonesia perlu menilai apakah keanggotaannya benar-benar dapat digunakan untuk mendorong perlindungan warga sipil, penghentian kekerasan, dan terciptanya jalan menuju kemerdekaan Palestina.</p>
<p>Albanese juga mempertanyakan kesesuaian BoP dengan prinsip-prinsip hukum internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 yang berkaitan dengan rencana perdamaian Gaza. Namun, kritik tersebut merupakan penilaian hukum dan politiknya, bukan keputusan pengadilan yang membatalkan resolusi tersebut atau instruksi resmi PBB agar negara anggota keluar dari BoP.</p>
<p>Perbedaan ini penting agar kritik terhadap mekanisme perdamaian tidak disamakan dengan keputusan institusional PBB.</p>
<p>Indonesia Belum Menyatakan Keluar</p>
<p>Pemerintah Indonesia sendiri sebelumnya telah menyatakan bahwa partisipasinya dalam BoP tidak bersifat tanpa syarat. Pada Februari 2026, Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan Indonesia dapat menarik diri apabila keanggotaan tersebut tidak sejalan dengan tujuan diplomasi Indonesia. Presiden Prabowo Subianto juga pernah menyatakan bahwa Indonesia akan mundur jika keterlibatannya tidak memberikan manfaat bagi rakyat Palestina.</p>
<p>Dalam perkembangan yang dilaporkan pada 22 Oktober 2026, Kementerian Luar Negeri menyatakan pembahasan mengenai BoP masih ditangguhkan. Belum ada konfirmasi bahwa Indonesia telah secara resmi menarik diri.</p>
<p>Sikap tersebut menunjukkan adanya ruang evaluasi. Pemerintah sejak awal memandang keanggotaan sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan Palestina, bukan tujuan diplomasi itu sendiri.</p>
<p>Meski demikian, pertanyaan tentang efektivitas strategi tersebut semakin mendesak. Berada di dalam sebuah forum memang dapat membuka akses terhadap pengambilan keputusan. Namun, akses tidak selalu berarti pengaruh. Indonesia perlu memastikan bahwa keberadaannya tidak hanya menjadi simbol dukungan internasional terhadap BoP tanpa kemampuan nyata untuk mengubah kebijakannya.</p>
<p>Sebaliknya, mundur dari forum juga tidak otomatis menghasilkan kemajuan bagi Palestina. Keputusan tersebut perlu disertai strategi diplomasi alternatif melalui PBB, Organisasi Kerja Sama Islam, negara-negara Arab, dan kelompok negara lain yang mendukung kemerdekaan Palestina.</p>
<p>Dengan demikian, pilihan Indonesia bukan sekadar antara bertahan atau keluar, melainkan bagaimana memastikan setiap keputusan menghasilkan manfaat yang dapat diukur bagi rakyat Palestina.</p>
<p>Ujian Bagi Politik Luar Negeri Bebas Aktif</p>
<p>Persoalan BoP menjadi ujian bagi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Prinsip bebas aktif bukan berarti Indonesia harus selalu berada di luar mekanisme internasional yang kontroversial. Sebaliknya, Indonesia dapat berpartisipasi dalam diplomasi multilateral selama keterlibatan itu sesuai dengan kepentingan nasional dan komitmen terhadap hukum internasional.</p>
<p>Namun, prinsip tersebut juga tidak mengharuskan Indonesia bertahan dalam suatu forum apabila terbukti tidak mampu memperjuangkan tujuan yang menjadi dasar keikutsertaannya.</p>
<p>Karena itu, pemerintah perlu menetapkan tolok ukur yang jelas untuk mengevaluasi BoP. Apakah mekanisme ini mampu menghentikan kekerasan? Apakah bantuan kemanusiaan dapat disalurkan tanpa hambatan?</p>
<p>Apakah warga Palestina memperoleh perlindungan yang memadai? Apakah mereka mempunyai peran substantif dalam menentukan pemerintahan dan masa depan wilayahnya? Dan yang paling mendasar, apakah proses tersebut membuka jalan menuju kemerdekaan Palestina?</p>
<p>Pertanyaan mengenai kemungkinan pengerahan pasukan Indonesia ke Gaza juga harus dipisahkan dari persoalan keanggotaan BoP. Pengiriman personel militer membutuhkan kejelasan mandat, rantai komando, aturan pelibatan, perlindungan pasukan, serta tujuan operasi. Keanggotaan dalam forum diplomatik tidak dengan sendirinya menjawab seluruh persoalan tersebut.</p>
<p>Pada akhirnya, desakan Francesca Albanese bukanlah perintah resmi PBB agar Indonesia mundur dari Board of Peace. Namun, kritiknya menghadirkan pertanyaan yang tidak bisa diabaikan: apakah Indonesia sedang menggunakan BoP untuk memperjuangkan kepentingan Palestina, atau justru berisiko memberikan legitimasi kepada mekanisme yang belum menjamin hak-hak mereka?</p>
<p>Jawabannya tidak cukup ditentukan oleh pernyataan politik atau posisi keanggotaan. Ukurannya adalah hasil konkret bagi rakyat Palestina: perlindungan warga sipil, penghentian kekerasan, penghormatan terhadap hukum internasional, berakhirnya pendudukan, dan terwujudnya hak menentukan nasib sendiri.</p>
<p>Bagi Indonesia, konsistensi terhadap Palestina pada akhirnya bukan hanya soal berada di dalam atau di luar sebuah forum internasional. Konsistensi itu harus tercermin dalam kemampuan diplomasi Indonesia mengubah dukungan politik menjadi kemajuan nyata menuju kemerdekaan Palestina. #</p>
<p>Jakarta, 29 Oktober 2026</p>
<p>*Satrio Arismunandar, sebagai wartawan Harian Kompas, pernah meliput ke Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, Palestina pada 1990-an. WA: 081286299061. *</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>STUDENT LIST SERBIA: KETIKA GERAKAN MAHASISWA MENJADI KEKUATAN PARLEMEN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/oleh-satrio-arismunandar-aktivis-mahasiswa-ui-1980-an-dan-serikat-buruh-sbsi-1990-an</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2026 01:21:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis mahasiswa UI 1980-an dan serikat buruh SBSI 1990-an.]]></category>
		<category><![CDATA[Oleh Satrio Arismunandar]]></category>
		<category><![CDATA[STUDENT LIST SERBIA: KETIKA GERAKAN MAHASISWA MENJADI KEKUATAN PARLEMEN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12875</guid>

					<description><![CDATA[DEPOK &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; emenangan Student List dalam pemilihan parlemen Serbia pada 25 Oktober 2026 memperlihatkan kemungkinan baru dalam demokrasi: gerakan sosial yang lahir dari kemarahan publik dapat menjelma menjadi kekuatan representasi politik tanpa harus terlebih dahulu membangun partai konvensional dengan pemimpin tunggal dan struktur hierarkis. Berdasarkan hasil sementara resmi Komisi Pemilihan Umum Serbia [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEPOK &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| emenangan Student List dalam pemilihan parlemen Serbia pada 25 Oktober 2026 memperlihatkan kemungkinan baru dalam demokrasi: gerakan sosial yang lahir dari kemarahan publik dapat menjelma menjadi kekuatan representasi politik tanpa harus terlebih dahulu membangun partai konvensional dengan pemimpin tunggal dan struktur hierarkis.</p>
<p>Berdasarkan hasil sementara resmi Komisi Pemilihan Umum Serbia pada 26 Oktober, daftar ini meraih 52,71 persen suara dan diproyeksikan memperoleh 140 dari 250 kursi parlemen. Angka tersebut masih merupakan hasil sementara, tetapi cukup untuk menunjukkan besarnya dukungan yang berhasil dihimpun gerakan ini.</p>
<p>Yang membuat peristiwa ini menarik bukan semata-mata kekalahan kekuatan politik yang telah lama berkuasa. Lebih penting lagi, Student List memperlihatkan bagaimana warga yang kecewa terhadap partai-partai mapan berusaha membangun jalur alternatif untuk masuk ke dalam lembaga demokrasi. Mereka tidak berhenti di jalanan, demonstrasi, atau tuntutan moral kepada pemerintah. Mereka membawa tuntutan itu ke kotak suara.</p>
<p>Gerakan ini bermula dari tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta di Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang. Bencana tersebut memicu kemarahan publik dan tuntutan pertanggungjawaban, terutama terkait dugaan korupsi, transparansi proyek publik, dan lemahnya pengawasan institusi.</p>
<p>Gelombang protes mahasiswa kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, dengan tuntutan supremasi hukum dan pembenahan lembaga negara.</p>
<p>Dari sinilah Student List memperoleh makna politiknya: sebuah tragedi yang semula menuntut pertanggungjawaban atas kegagalan institusi akhirnya berkembang menjadi gerakan untuk mengubah cara kekuasaan dijalankan.</p>
<p><strong>Bukan Partai Konvensional, Tetapi Bukan Pula Sekadar Gerakan Protes</strong></p>
<p>Perbedaan utama Student List dengan partai politik konvensional terletak pada cara mereka mengorganisasi diri dan menentukan calon wakil rakyat.</p>
<p>Partai konvensional umumnya memiliki kepengurusan tetap, ketua atau pimpinan, keanggotaan, ideologi atau platform kebijakan, serta mekanisme internal untuk memilih kandidat. Struktur ini memungkinkan partai menyusun program pemerintahan, membangun koalisi, dan menjaga disiplin politik para anggotanya.</p>
<p>Student List mengambil pendekatan berbeda. Gerakan mahasiswa Serbia mengandalkan plenum, yakni forum atau majelis yang memungkinkan peserta membahas persoalan dan mengambil keputusan secara kolektif.</p>
<p>Forum-forum mahasiswa berperan dalam proses seleksi calon, dengan perhatian khusus pada rekam jejak dan ketiadaan keterlibatan politik tingkat tinggi sebelumnya. Daftar kandidatnya mencakup akademisi, dokter, aktivis, seniman, dan profesional, bukan hanya mahasiswa yang memimpin demonstrasi.</p>
<p>Dengan demikian, istilah Student List sedikit menyesatkan jika dipahami sebagai daftar yang seluruh calonnya mahasiswa. Mahasiswa merupakan penggerak utama dan sumber legitimasi gerakan, tetapi mereka tidak harus menjadi orang yang menduduki kursi parlemen.</p>
<p>Ada alasan mengapa model ini menarik bagi masyarakat yang kehilangan kepercayaan terhadap partai. Gerakan tersebut berusaha menghindari kesan bahwa perjuangan antikorupsi hanya menjadi kendaraan bagi ambisi seorang tokoh atau elite politik lama. Tidak adanya pemimpin tunggal juga membantu mempertahankan karakter kolektifnya.</p>
<p>Namun, model ini memiliki kelemahan. Tanpa kepemimpinan yang jelas, siapa yang berwenang mengambil keputusan ketika para anggota berbeda pendapat? Bagaimana menentukan calon perdana menteri, menyusun kabinet, dan menetapkan kebijakan ekonomi atau luar negeri? Mekanisme yang efektif untuk mengorganisasi demonstrasi belum tentu efektif untuk menjalankan pemerintahan.</p>
<p>Inilah paradoks Student List: struktur kolektif dapat menjadi sumber legitimasi, tetapi juga berpotensi menjadi sumber kesulitan ketika gerakan harus mengambil keputusan yang mengikat seluruh negara.</p>
<p><strong>Bagaimana Gerakan Semacam Ini Bekerja dalam Demokrasi?</strong></p>
<p>Dalam sistem demokrasi parlementer Serbia, rakyat memilih anggota parlemen melalui daftar kandidat. Daftar itu tidak harus diajukan oleh partai politik; hukum pemilu Serbia juga mengakui daftar yang diajukan oleh kelompok warga. Artinya, secara hukum, pintu menuju parlemen tidak hanya tersedia bagi organisasi partai yang sudah mapan.</p>
<p>Mekanisme ini penting karena demokrasi perwakilan tidak mensyaratkan bahwa setiap aspirasi masyarakat harus terlebih dahulu diterjemahkan menjadi partai permanen. Gerakan sosial dapat membentuk daftar kandidat, mengikuti pemilu, dan memperoleh mandat apabila memenuhi persyaratan hukum serta memperoleh dukungan pemilih.</p>
<p>Setelah terpilih, para wakil rakyat harus bekerja melalui institusi formal: membahas undang-undang, mengawasi pemerintah, menyusun anggaran, dan mempertanggungjawabkan keputusan kepada publik. Mandat mereka berasal dari pemilih, bukan semata-mata dari forum mahasiswa yang menyeleksi kandidat.</p>
<p>Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Student List harus mengubah tuntutan yang relatif mudah disepakati—pemberantasan korupsi, supremasi hukum, dan pembenahan institusi—menjadi kebijakan yang konkret.</p>
<p>Mereka juga perlu menentukan sikap terhadap persoalan yang lebih memecah belah, seperti hubungan Serbia dengan Uni Eropa dan Rusia serta persoalan Kosovo. Sejumlah pengamat telah menyoroti bahwa belum jelasnya kepemimpinan dan pengalaman pemerintahan merupakan tantangan besar bagi gerakan ini.</p>
<p>Kemenangan elektoral, dengan demikian, belum otomatis menjamin keberhasilan reformasi. Mengalahkan kekuatan politik yang mapan merupakan satu hal; membenahi birokrasi, menegakkan hukum secara konsisten, dan menjaga kesatuan koalisi merupakan pekerjaan yang berbeda.</p>
<p><strong>Apakah Ini Tren Baru dalam Politik Dunia?</strong></p>
<p>Fenomena gerakan sosial yang masuk ke parlemen sebenarnya bukan hal baru. Yang menarik dari Serbia adalah kombinasi antara mobilisasi mahasiswa, seleksi kandidat secara kolektif, penolakan terhadap kepemimpinan personal, dan kemenangan elektoral dalam skala nasional.</p>
<p>Di Polandia, gerakan buruh Solidarność (Solidaritas) pada 1980-an berkembang menjadi kekuatan oposisi yang menantang rezim komunis. Dalam pemilihan 1989, Komite Warga Solidaritas meraih hampir seluruh kursi yang diperebutkan secara bebas di Sejm dan 99 dari 100 kursi Senat.</p>
<p>Gerakan masyarakat itu kemudian berperan dalam transisi menuju pemerintahan demokratis. Namun, Solidaritas berakar pada gerakan buruh dan perjuangan melawan komunisme, sehingga konteksnya berbeda dari gerakan mahasiswa Serbia.</p>
<p>Contoh lain datang dari Cile. Gelombang demonstrasi mahasiswa pada 2011–2012 melahirkan generasi baru aktivis yang masuk parlemen, termasuk Gabriel Boric. Sejumlah kelompok yang tumbuh dari gerakan tersebut kemudian membentuk organisasi politik dan berkontribusi pada lahirnya koalisi Frente Amplio.</p>
<p>Boric akhirnya terpilih menjadi presiden pada 2021 dan mulai menjabat pada 2022. Berbeda dengan Student List, gerakan Cile kemudian lebih jelas bergerak menuju pembentukan organisasi politik formal.</p>
<p>Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa gerakan sosial dapat memperbarui sistem politik ketika partai-partai lama kehilangan kemampuan mewakili aspirasi masyarakat. Namun, tidak semua gerakan harus berakhir dengan mendirikan partai baru. Serbia memperlihatkan kemungkinan bahwa gerakan dapat menggunakan daftar kandidat sebagai kendaraan elektoral, setidaknya untuk tahap awal.</p>
<p>Karena itu, Student List lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kecenderungan politik yang lebih luas, bukan bukti bahwa era partai politik telah berakhir. Di berbagai negara, masyarakat mencari cara baru untuk menyalurkan aspirasi ketika mereka merasa partai konvensional terlalu elitis, terlalu berorientasi pada kekuasaan, atau tidak lagi responsif terhadap persoalan publik.</p>
<p><strong>Tantangan Setelah kemenangan</strong></p>
<p>Ada bahaya jika keberhasilan Student List dianggap sebagai bukti bahwa politik tanpa pemimpin dan tanpa struktur partai selalu lebih demokratis. Organisasi yang tidak memiliki hierarki formal pun dapat menghadapi persoalan transparansi, dominasi kelompok tertentu, atau kesulitan meminta pertanggungjawaban pengambil keputusan.</p>
<p>Sebaliknya, partai konvensional tidak selalu buruk. Struktur dan disiplin organisasi dapat membantu menghasilkan kebijakan yang konsisten serta memungkinkan pemilih mengevaluasi rekam jejak partai pada pemilu berikutnya. Persoalannya bukan memilih antara gerakan dan partai, melainkan bagaimana memastikan keduanya bekerja secara demokratis dan akuntabel.</p>
<p>Keberhasilan Student List pada akhirnya bergantung pada kemampuannya mempertahankan partisipasi warga sekaligus membangun kapasitas pemerintahan.</p>
<p>Jika gerakan ini berhasil memperkuat independensi lembaga hukum, meningkatkan transparansi, dan membuka ruang partisipasi publik, modelnya dapat menjadi inspirasi bagi gerakan masyarakat di negara lain. Jika gagal mengatasi perbedaan internal atau terjebak dalam perebutan pengaruh, dukungan besar yang diperoleh di jalanan dan kotak suara bisa cepat memudar.</p>
<p>Pelajaran terpenting dari Serbia bukan bahwa mahasiswa dapat menggantikan partai politik, melainkan bahwa tidak ada partai yang memiliki monopoli atas representasi demokratis. Ketika saluran politik yang ada kehilangan kepercayaan publik, warga dapat membangun jalur alternatif untuk memasuki parlemen.</p>
<p>Demokrasi tidak hanya membutuhkan pemilu yang kompetitif, tetapi juga lembaga yang dapat dipercaya, wakil rakyat yang bertanggung jawab, dan mekanisme yang memungkinkan masyarakat mengoreksi kekuasaan.</p>
<p>Student List kini menghadapi tugas membuktikan bahwa energi gerakan sosial dapat diubah menjadi pemerintahan yang efektif tanpa kehilangan prinsip-prinsip yang melahirkannya. #</p>
<p>Jakarta, 28 Oktober 2026</p>
<p>Kontak WA: 081286299061. **</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Islam, Dialog Antaragama, dan Pencerahan Kemanusiaan: Merajut Ilmu, Toleransi, Keadilan, dan Peradaban dalam Pemikiran M. Amin Abdullah</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/islam-dialog-antaragama-dan-pencerahan-kemanusiaan-merajut-ilmu-toleransi-keadilan-dan-peradaban-dalam-pemikiran-m-amin-abdullah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2026 12:43:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[dan Pencerahan Kemanusiaan: Merajut Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[dan Peradaban dalam Pemikiran M. Amin Abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Antaragama]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12842</guid>

					<description><![CDATA[BIAK, PAPUA &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Agama hadir dalam kehidupan manusia bukan hanya untuk menjawab pertanyaan tentang Tuhan dan kehidupan sesudah kematian, tetapi juga untuk memberikan arah bagi manusia dalam memperlakukan sesamanya. Agama mengajarkan nilai, membentuk kesadaran moral, dan menawarkan pedoman untuk membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat. Namun, sejarah juga memperlihatkan kenyataan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BIAK, PAPUA &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Agama hadir dalam kehidupan manusia bukan hanya untuk menjawab pertanyaan tentang Tuhan dan kehidupan sesudah kematian, tetapi juga untuk memberikan arah bagi manusia dalam memperlakukan sesamanya. Agama mengajarkan nilai, membentuk kesadaran moral, dan menawarkan pedoman untuk membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat. Namun, sejarah juga memperlihatkan kenyataan yang tidak selalu mudah diterima: agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian terkadang justru digunakan untuk membenarkan pertentangan, diskriminasi, bahkan kekerasan.</p>
<p>Di tengah persoalan itulah buku Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M. Amin Abdullah menghadirkan sebuah percakapan intelektual yang penting. Buku yang disunting oleh Moch Nur Ichwan dan Ahmad Muttaqin ini menghimpun tulisan 17 penulis dari beragam latar belakang keilmuan dan tradisi keagamaan. Para penulis tidak hanya membahas pemikiran Islam, tetapi juga hubungan antaragama, kepemimpinan intelektual, keadilan gender, dan cita-cita pencerahan kemanusiaan.</p>
<p>Buku ini merupakan penghormatan kepada Prof. Dr. M. Amin Abdullah atas sumbangannya bagi pengembangan pemikiran Islam, pendidikan tinggi, dialog antariman, dan nilai-nilai kemanusiaan. Akan tetapi, arti penting buku ini tidak berhenti pada penghormatan terhadap seorang tokoh. Lebih jauh, kumpulan tulisan para penulis, mengajak pembaca memikirkan kembali bagaimana agama seharusnya hadir dalam masyarakat yang majemuk.</p>
<p>Pesan utamanya dapat dirumuskan secara sederhana: kedalaman iman perlu berjalan bersama keluasan pengetahuan, penghormatan terhadap perbedaan, keberanian menegakkan keadilan, dan tanggung jawab untuk memanusiakan manusia.</p>
<p><strong>Membebaskan pemikiran Islam dari kebekuan</strong></p>
<p>Bagian pertama buku membahas M. Amin Abdullah dan pemikiran Islam. Alim Roswantoro, Muhammad Azhar, Waryani Fajar Riyanto, Sahiron Syamsuddin, dan Khoiruddin Nasution menghadirkan pembahasan tentang epistemologi Islam, perkembangan pemikiran, integrasi-interkoneksi ilmu, studi Al-Qur’an, dan kajian hukum keluarga Islam.</p>
<p>Salah satu persoalan penting yang diangkat Alim Roswantoro ialah kecenderungan truth claim, yakni sikap yang menganggap pemahaman keagamaan kelompok sendiri sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak boleh diperiksa kembali. Ketika suatu penafsiran manusia diperlakukan seolah-olah identik dengan kebenaran mutlak agama, ruang dialog dan pembaruan pemikiran menjadi semakin sempit.</p>
<p>Padahal, pemikiran manusia selalu berkembang dalam ruang sejarah tertentu. Perubahan sosial, penemuan ilmiah, perkembangan kebudayaan, serta pengalaman hidup masyarakat menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang menuntut jawaban yang bertanggung jawab. Mempertahankan keyakinan tidak harus berarti menutup pintu terhadap pemeriksaan kritis.</p>
<p>Dalam kerangka pemikiran Amin Abdullah, penting untuk membedakan normativitas Islam dari historisitas pemahaman dan praktik keberagamaan. Normativitas berkaitan dengan ajaran dan nilai dasar agama, sedangkan historisitas berkaitan dengan cara manusia memahami, menafsirkan, dan menjalankan ajaran agama dalam kehidupan nyata. Keduanya tidak dapat dipisahkan, tetapi juga tidak boleh dicampuradukkan begitu saja.</p>
<p>Pembedaan ini membawa konsekuensi besar. Kritik terhadap suatu penafsiran tidak otomatis berarti penolakan terhadap agama. Sebaliknya, pemeriksaan kritis terhadap pemikiran keagamaan dapat menjadi jalan untuk memahami pesan moral agama secara lebih mendalam.</p>
<p>Agama tidak kehilangan kewibawaannya ketika manusia belajar berpikir kritis. Justru, pemahaman agama dapat menjadi lebih bertanggung jawab apabila keyakinan disertai kesediaan untuk belajar, berdialog, dan memperbaiki kekeliruan dalam penafsiran.</p>
<p><strong>Integrasi ilmu</strong></p>
<p>Gagasan penting Amin Abdullah lainnya ialah paradigma integratif-interkonektif. Gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa kehidupan merupakan jaringan hubungan yang saling memengaruhi. Manusia, alam, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan agama tidak hidup dalam ruang-ruang yang sepenuhnya terpisah.</p>
<p>Dalam dunia pendidikan, pemisahan yang terlalu tajam antara ilmu agama dan ilmu umum dapat mengakibatkan keduanya kehilangan sebagian kekuatannya. Ilmu pengetahuan berisiko berkembang tanpa pertimbangan moral yang memadai, sementara kajian agama dapat menjadi kurang tanggap terhadap persoalan konkret apabila mengabaikan perkembangan ilmu sosial, sejarah, sains, dan teknologi.</p>
<p>Paradigma integratif-interkonektif berupaya mempertemukan berbagai bidang seperti dipaparkan di atas tanpa harus menghapus identitas dan metode masing-masing. Kajian Al-Qur’an, misalnya, dapat diperkaya melalui sejarah, linguistik, sosiologi, antropologi, dan hermeneutika. Kajian hukum keluarga Islam juga dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh melalui dialog dengan ilmu hukum, studi sosial, dan pengalaman nyata keluarga dalam masyarakat.</p>
<p>Dalam daftar isi buku, perhatian terhadap pendekatan studi Al-Qur’an tampak dalam tulisan Sahiron Syamsuddin, sedangkan Khoiruddin Nasution membahas hukum keluarga Islam melalui kajian interdisipliner. Keduanya menunjukkan luasnya wilayah kajian yang perlu dipertimbangkan ketika persoalan agama dihadapkan pada kompleksitas kehidupan manusia.</p>
<p>Dari sini kita dapat menarik pelajaran bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya menghasilkan orang yang menguasai teks, sebagaimana pendidikan ilmu umum tidak cukup hanya menghasilkan orang yang terampil secara teknis. Masyarakat membutuhkan manusia yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebijaksanaan, kecakapan dengan tanggung jawab, serta kemajuan dengan keadilan.</p>
<p>Ilmu menjadi bermakna ketika membantu manusia memahami kenyataan dan memperbaiki kehidupan. Agama menjadi semakin nyata peran sosialnya ketika nilai-nilai moral yang dikandungnya mengarahkan penggunaan ilmu untuk kepentingan bersama.</p>
<p><strong>Dialog antaragama</strong></p>
<p>Bagian kedua buku beralih kepada hubungan M. Amin Abdullah dengan agama-agama. Ahmad Muttaqin membahas harmoni Muslim-Kristen, M. Sastrapratedja dan G. Budi Subanar mengangkat hospitalitas, Elga Joan Sarapung membahas dialog dan ketidakadilan, Zuly Qodir mengkaji etika sosial, sedangkan Moch Nur Ichwan menawarkan pemikiran mengenai tata kelola keragaman agama yang manusiawi, adil, dan beradab.</p>
<p>Kumpulan tulisan ini mengarahkan perhatian kepada kenyataan bahwa keragaman agama merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Perbedaan keyakinan tidak selalu harus berakhir dengan pertentangan. Persoalannya terletak pada cara manusia memahami perbedaan, membangun hubungan, dan mengelola kepentingan bersama.</p>
<p>Salah satu konsep yang penting ialah hospitalitas, yaitu kesediaan menerima dan memperlakukan orang lain sebagai manusia yang layak dihormati, termasuk ketika ia memiliki keyakinan yang berbeda. Dalam tulisan M. Sastrapratedja tentang hospitalitas dalam dialog interreligius, gagasan ini dikaitkan dengan upaya membangun hubungan dengan pihak yang berbeda tanpa harus menghapus identitas diri sendiri.</p>
<p>Hospitalitas bukan saja keramahan ketika bertemu. Ia merupakan sikap etis yang menuntut kesediaan mendengar, menghormati martabat orang lain, dan membuka ruang perjumpaan tanpa prasangka. Seseorang dapat tetap teguh pada imannya sekaligus bersedia menjalin persahabatan dengan orang yang berbeda agama.</p>
<p>Dialog antaragama juga tidak boleh dibatasi pada pertemuan tokoh agama, seminar, atau pernyataan resmi. Dialog harus hadir dalam kehidupan sehari-hari: ketika tetangga berbeda agama saling membantu, ketika masyarakat bekerja bersama menghadapi bencana, ketika warga menjaga keamanan lingkungan, dan ketika lembaga keagamaan bergandengan tangan melayani mereka yang membutuhkan.</p>
<p>Dalam keadaan seperti itu, dialog tidak berhenti sebagai pembicaraan mengenai toleransi. Dialog menjadi pengalaman nyata bahwa manusia dapat bekerja bersama tanpa harus menyeragamkan keyakinan.</p>
<p>Namun, dialog yang bermakna juga harus berani menghadapi ketidakadilan. Persoalan diskriminasi, ketimpangan sosial, prasangka, dan perlakuan yang tidak setara tidak dapat diselesaikan hanya dengan ajakan untuk hidup rukun. Kerukunan perlu dibangun di atas penghormatan terhadap hak, martabat, dan kesempatan yang setara bagi setiap warga.</p>
<p>Dengan demikian, dialog antaragama selain cara menghindari konflik, tetapi sebuah  dialog sebagai  jalan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi.</p>
<p><strong>Kemanusiaan sebagai ukuran kedalaman keberagamaan</strong></p>
<p>Bagian ketiga buku membahas nilai kemanusiaan dan perjuangan intelektual M. Amin Abdullah. Al Makin mengangkat keteladanan intelektual dan kepemimpinan yang berkarakter. Siti Ruhaini Dzuhayatin membahas hubungan antara idealisme Islam substantif dan tuntutan pragmatis dalam kehidupan nyata. Alimatul Qibtiyah menguraikan perjuangan melawan penindasan dan menegakkan keadilan gender.</p>
<p>Ketiga tulisan itu membawa kita kepada satu pertanyaan mendasar: apakah keberhasilan seseorang dalam kehidupan beragama dapat dinilai hanya dari pengetahuan, kedudukan, dan simbol-simbol yang dikenakannya, atau harus pula dilihat dari dampak kehadirannya terhadap kehidupan orang lain?</p>
<p>Kepemimpinan intelektual tidak cukup diukur melalui banyaknya gelar akademik, luasnya jaringan, atau tingginya jabatan. Seorang intelektual memperoleh makna sosial ketika pengetahuannya digunakan untuk membuka jalan bagi kemajuan, membela mereka yang diperlakukan tidak adil, dan membangun lembaga yang memberi manfaat bagi masyarakat.</p>
<p>Dalam pengantar editor, perjalanan Amin Abdullah memimpin transformasi IAIN menjadi UIN Sunan Kalijaga digambarkan sebagai bagian penting dari pengabdiannya. Perubahan itu bukan semata-mata perubahan nama atau bangunan kelembagaan, melainkan juga berkaitan dengan upaya memperluas cakrawala keilmuan perguruan tinggi Islam.</p>
<p>Dari sini, kepemimpinan dapat dipahami sebagai pertemuan antara gagasan dan tindakan. Pemimpin yang memiliki visi harus mampu menerjemahkan cita-cita menjadi kebijakan dan program yang nyata. Idealisme membutuhkan keberanian untuk mempertahankan nilai, sedangkan pragmatisme diperlukan agar nilai dimaksud dapat diwujudkan dalam kondisi yang konkret.</p>
<p>Perhatian terhadap keadilan gender memperluas pembicaraan mengenai kemanusiaan. Martabat manusia tidak boleh dibatasi oleh stereotip, diskriminasi, atau ketimpangan kesempatan. Perempuan dan laki-laki sama-sama perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan, berpartisipasi dalam kehidupan publik, dan menikmati perlindungan dari perlakuan yang merendahkan martabat mereka.</p>
<p>Keadilan bukan hadiah yang diberikan oleh pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Keadilan merupakan prinsip yang seharusnya menata hubungan manusia, lembaga pendidikan, masyarakat, dan negara.</p>
<p>Oleh karena itu, nilai kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari praktik kelembagaan. Sebuah institusi pendidikan dapat mengajarkan toleransi, tetapi nilai itu baru benar-benar hidup ketika seluruh warga sekolah diperlakukan secara adil. Sebuah organisasi dapat berbicara tentang kesetaraan, tetapi komitmennya perlu terlihat dalam pembagian kesempatan, pengambilan keputusan, dan perlindungan terhadap mereka yang rentan.</p>
<p><strong>Belajar dari tradisi agama yang berbeda</strong></p>
<p>Salah satu kekuatan buku ini adalah keterbukaannya terhadap pemikiran yang berasal dari tradisi agama yang berbeda. Bagian ketiga menghadirkan Emanuel Gerrit Singgih melalui pembahasan Kitab Ayub, Sasanabodhi Bhikhu melalui perspektif Buddhisme, dan Haidar Bagir melalui perspektif Muslim tentang kearifan perenial dan dialog peradaban.</p>
<p>Kehadiran ketiga tulisan itu memperluas horizon pembaca. Persoalan penderitaan, pencarian makna, pencerahan, kebijaksanaan, dan hubungan antarmanusia bukanlah persoalan yang hanya dimiliki satu tradisi agama. Masing-masing tradisi memiliki bahasa, sumber ajaran, dan cara penalarannya sendiri, tetapi semuanya dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai tanggung jawab manusia.</p>
<p>Tulisan Emanuel Gerrit Singgih, yang mengangkat Kitab Ayub dalam konteks Indonesia melalui percakapan dengan Davidson dan Capps, membawa pembaca pada persoalan penderitaan dan pertanyaan tentang kesalahan manusia. Penderitaan sering kali menghadirkan pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Dalam situasi demikian, sikap bijaksana tidak selalu berarti terburu-buru memberikan penjelasan atau menyalahkan orang yang menderita.</p>
<p>Ada kalanya tindakan paling manusiawi justru dimulai dari kesediaan untuk mendengar, mendampingi, dan menghormati pergulatan batin sesama.</p>
<p>Sementara itu, perspektif Buddhisme yang dihadirkan Sasanabodhi Bhikhu memperkaya pembicaraan tentang pencerahan peradaban. Adapun Haidar Bagir menghubungkan kearifan perenial dengan dialog peradaban dari perspektif Muslim. Keduanya membuka ruang untuk mempertimbangkan bagaimana kebijaksanaan spiritual dapat berkontribusi pada kehidupan bersama.</p>
<p>Penting untuk tidak menyamakan semua agama seolah-olah memiliki ajaran yang identik. Dialog yang sehat justru mengakui adanya perbedaan mendasar. Namun, perbedaan dimaksud tidak harus menghalangi kerja sama dalam menghadapi persoalan kemanusiaan.</p>
<p>Manusia dapat berbeda dalam memahami Tuhan, keselamatan, atau jalan spiritual, tetapi tetap dapat bekerja sama untuk mengurangi penderitaan, membantu masyarakat miskin, menjaga lingkungan, melindungi anak-anak, dan menentang kekerasan.</p>
<p>Di sinilah dialog peradaban menemukan arti praktisnya. Dialog bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling unggul, melainkan kesempatan untuk memperluas pemahaman dan menemukan bentuk tanggung jawab bersama.</p>
<p><strong>Dari pemikiran menuju tindakan sosial</strong></p>
<p>Buku ini akan kehilangan sebagian maknanya apabila hanya dibaca sebagai kumpulan pemikiran akademis. Gagasan integrasi ilmu, dialog antaragama, hospitalitas, keadilan gender, dan kepemimpinan berkarakter mengandung tuntutan untuk diwujudkan dalam tindakan.</p>
<p>Dalam pendidikan, misalnya, integrasi ilmu dapat diterapkan melalui pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan dengan persoalan nyata. Siswa tidak hanya mempelajari nilai toleransi sebagai definisi, tetapi juga berlatih berdiskusi, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan bekerja sama dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda.</p>
<p>Dalam kehidupan masyarakat, dialog antaragama dapat dikembangkan melalui kegiatan bersama yang menjawab kebutuhan warga. Program sosial, pelayanan kemanusiaan, pendidikan, penanganan bencana, dan pemeliharaan lingkungan dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat kepercayaan.</p>
<p>Dalam kepemimpinan, nilai kemanusiaan perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang transparan, kesempatan yang setara, dan keberanian mengoreksi kebijakan yang menimbulkan ketidakadilan.</p>
<p>Tentu saja, penerapan gagasan-gagasan,  membutuhkan proses. Perbedaan kepentingan, prasangka yang telah lama terbentuk, keterbatasan sumber daya, dan ketimpangan kekuasaan dapat menghambat dialog. Karena itu, niat baik harus disertai mekanisme yang adil, keterbukaan terhadap kritik, dan kesediaan mengevaluasi hasil tindakan.</p>
<p>Pemikiran Amin Abdullah memberikan kerangka untuk memahami persoalan secara lebih menyeluruh, tetapi setiap masyarakat tetap perlu menerjemahkan prinsip-prinsip itu sesuai konteks dan kebutuhannya. Tidak ada satu pendekatan yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan secara otomatis.</p>
<p>Yang diperlukan adalah kesediaan untuk terus belajar, mempertemukan perspektif, dan menilai keberhasilan berdasarkan manfaat nyata bagi manusia.</p>
<p><strong>Relevansi bagi Indonesia yang majemuk</strong></p>
<p>Dalam masyarakat Indonesia yang memiliki beragam agama, suku, bahasa, kebudayaan, dan tradisi, gagasan yang dibicarakan dalam buku ini mempunyai arti penting. Keragaman merupakan kenyataan sosial yang tidak dapat dihapus dengan menyeragamkan masyarakat. Sebaliknya, keragaman membutuhkan tata kehidupan yang menjamin penghormatan, kesetaraan, dan keadilan.</p>
<p>Indonesia memerlukan kehidupan beragama yang tidak berhenti pada simbol dan seremoni. Masyarakat membutuhkan keberagamaan yang tampak dalam kejujuran, kepedulian, penghormatan terhadap hak orang lain, dan keberanian menolak ketidakadilan.</p>
<p>Pada saat yang sama, negara dan lembaga publik perlu memastikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi alasan untuk mengurangi hak warga negara. Kerukunan yang hanya menuntut kelompok minoritas untuk menyesuaikan diri tanpa memberikan perlindungan yang setara bukanlah kerukunan yang adil.</p>
<p>Karena itu, gagasan mengenai tata kelola keragaman agama yang manusiawi, adil, dan beradab dalam tulisan Moch Nur Ichwan patut dibaca sebagai bagian dari pembicaraan yang lebih luas mengenai tanggung jawab sosial. Masyarakat yang damai tidak cukup hanya bebas dari pertikaian terbuka; masyarakat juga perlu membangun kondisi yang memungkinkan setiap orang hidup dengan bermartabat.</p>
<p>Pada akhirnya, sumbangan terpenting buku ini bukanlah menawarkan keseragaman pemikiran, melainkan memperlihatkan bagaimana perbedaan pendekatan dapat memperkaya pemahaman. Para penulis memiliki bidang kajian dan sudut pandang masing-masing. Justru melalui keragaman itulah pembaca diajak melihat bahwa persoalan kemanusiaan terlalu kompleks untuk diselesaikan dari satu disiplin ilmu atau satu perspektif saja.</p>
<p>Kita membutuhkan agama yang memberi arah moral, ilmu yang membantu memahami kenyataan, dialog yang membangun kepercayaan, serta kepemimpinan yang berani menerjemahkan nilai menjadi tindakan.</p>
<p>Kemanusiaan menjadi titik pertemuan yang memungkinkan semuanya bergerak bersama.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Buku Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M. Amin Abdullah mempertemukan tiga dimensi besar kehidupan manusia: pencarian pengetahuan, penghayatan agama, dan perjuangan membangun kehidupan yang bermartabat. Ketiga dimensi ini tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Pengetahuan membutuhkan orientasi etis, agama perlu diwujudkan dalam tanggung jawab sosial, dan perjuangan kemanusiaan memerlukan pemahaman yang terbuka serta tindakan yang adil.</p>
<p>Dari Alim Roswantoro dan para penulis bagian pertama, kita belajar pentingnya membebaskan pemikiran Islam dari kebekuan serta mempertemukan pengetahuan agama dengan ilmu-ilmu lain. Dari para penulis bagian kedua, kita memahami bahwa keragaman agama menuntut dialog, hospitalitas, dan komitmen untuk mengatasi ketidakadilan. Dari para penulis bagian ketiga, kita memperoleh pelajaran tentang kepemimpinan intelektual, keadilan gender, penderitaan manusia, kebijaksanaan spiritual, dan dialog peradaban.</p>
<p>Sumbangan utama buku ini terletak pada pertemuan berbagai gagasan. Agama tidak cukup hanya dipertahankan sebagai keyakinan; agama perlu dihadirkan sebagai kekuatan moral yang menumbuhkan keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Demikian pula, ilmu tidak cukup hanya menghasilkan kecerdasan; ilmu perlu membantu manusia memahami kehidupan dan memperbaiki keadaan masyarakat.</p>
<p>Pemikiran M. Amin Abdullah, sebagaimana dibahas dalam kumpulan tulisan ini, mengingatkan kita bahwa keterbukaan intelektual tidak harus melemahkan iman. Sebaliknya, kesediaan untuk berdialog dan menguji pemahaman dapat memperkaya cara manusia menghayati keyakinannya. Perbedaan tidak harus diakhiri dengan penyeragaman, dan keyakinan yang teguh tidak harus diwujudkan melalui penolakan terhadap orang lain.</p>
<p>Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemikiran agama bukan hanya seberapa jauh ia diperdebatkan dalam ruang akademik, melainkan juga seberapa besar kontribusinya dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Apakah orang yang berbeda keyakinan merasa dihormati? Apakah kelompok yang lemah memperoleh perlindungan? Apakah pendidikan membuka kesempatan yang setara? Apakah ilmu digunakan untuk kepentingan masyarakat? Apakah kepemimpinan menghasilkan keadilan dan kepercayaan?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan di atas menghubungkan seluruh tema yang dibahas para penulis.</p>
<p>Buku ini mengajak kita memahami bahwa pencerahan kemanusiaan bukan pekerjaan satu agama, satu tokoh, atau satu generasi. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan iman, ilmu, dialog, keberanian moral, dan kesediaan bekerja melampaui batas-batas identitas.</p>
<p>Ketika ilmu membebaskan pikiran, agama menuntun hati, dialog membuka ruang persaudaraan, dan keadilan melindungi martabat manusia, di situlah pencerahan kemanusiaan menemukan maknanya.</p>
<p><strong>Informasi bibliografis</strong></p>
<p>Judul: Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M. Amin Abdullah</p>
<p>Editor: Moch Nur Ichwan dan Ahmad Muttaqin</p>
<p>Penerbit: CISForm (Center for the Study of Islam and Social Transformation), UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta</p>
<p>Tahun terbit: 2013</p>
<p>ISBN: 978-602-1562-06-2</p>
<p>Jumlah penulis: 17 orang</p>
<p>Daftar penulis:</p>
<ol>
<li>Alim Roswantoro</li>
<li>Muhammad Azhar</li>
<li>Waryani Fajar Riyanto</li>
<li>Sahiron Syamsuddin</li>
<li>Khoiruddin Nasution</li>
<li>Ahmad Muttaqin</li>
<li>M. Sastrapratedja, S.J.</li>
<li>G. Budi Subanar, S.J.</li>
<li>Elga Joan Sarapung</li>
<li>Zuly Qodir</li>
<li>Moch Nur Ichwan</li>
<li>Al Makin</li>
<li>Siti Ruhaini Dzuhayatin</li>
<li>Alimatul Qibtiyah</li>
<li>Emanuel Gerrit Singgih</li>
<li>Sasanabodhi Bhikhu</li>
<li>Haidar Bagir</li>
</ol>
<p>Biak, Papua, 27 Oktober 2026</p>
<p>*(Paulus Laratmase adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia, Dosen dan Pegiat Pluralisme.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SEPTOLESCENT: REMAJA BERUSIA MENDEKATI 70 TAHUN YANG MENOLAK PENSIUN DARI KEHIDUPAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/septolescent-remaja-berusia-mendekati-70-tahun-yang-menolak-pensiun-dari-kehidupan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2026 09:01:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[REMAJA BERUSIA MENDEKATI 70 TAHUN]]></category>
		<category><![CDATA[SEPTOLESCENT]]></category>
		<category><![CDATA[YANG MENOLAK PENSIUN DARI KEHIDUPAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12839</guid>

					<description><![CDATA[DEPOK &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Rambutnya sudah seperti salju pertama. Lututnya berbunyi tiap kali berdiri, seperti engsel pintu yang lama tak diminyaki. Pinggangnya pegal, dan kacamatanya dia lupa entah di mana, padahal sedang bertengger manis di atas kepala. Tetapi coba ajak dia jalan-jalan. Jawabannya: &#8220;Ayo!&#8221; Ajak ngopi, dia menjawab: &#8220;Kapan?&#8221; Ajak traveling, dia balik bertanya: [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEPOK &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Rambutnya sudah seperti salju pertama. Lututnya berbunyi tiap kali berdiri, seperti engsel pintu yang lama tak diminyaki. Pinggangnya pegal, dan kacamatanya dia lupa entah di mana, padahal sedang bertengger manis di atas kepala.<br />
Tetapi coba ajak dia jalan-jalan. Jawabannya: &#8220;Ayo!&#8221; Ajak ngopi, dia menjawab: &#8220;Kapan?&#8221; Ajak traveling, dia balik bertanya: &#8220;Ke mana?&#8221;<br />
Kalau ada yang iseng bertanya, &#8220;Bukankah kita sudah tua?&#8221;, dia akan mengangkat bahu dan menjawab santai, &#8220;Tua itu soal angka. Yang penting mental masih remaja.&#8221;<br />
Makhluk langka berusia mendekati 70 tahun ini belakangan punya nama: Septolescent.</p>
<p><strong>Apa itu Septolescent?</strong><br />
Kata ini lahir dari kawin silang dua istilah, septuagenarian (orang yang berada di usia tujuh puluhan) dan adolescent (remaja). Jadi Septolescent adalah lansia yang secara kalender sudah senior, tetapi secara semangat masih sibuk bertumbuh. Ia tetap penasaran, tetap bergerak, dan tetap punya alasan untuk bangun besok pagi.<br />
Satu catatan jujur: istilah ini baru dan belum masuk kamus mana pun. Ia beredar dari tulisan ke tulisan di media sosial dan blog, dengan dalih bahwa usia boleh bertambah asal semangat tidak ikut menua.<br />
Ilmu psikologi sebenarnya sudah punya padanan yang lebih serius, yaitu active aging atau successful aging. Tetapi harus diakui, &#8220;Septolescent&#8221; jauh lebih enak diucapkan, apalagi sambil menyeruput kopi.</p>
<p><strong>Bedanya dengan remaja biasa</strong><br />
Jangan keliru, Septolescent tetap berbeda dari remaja sungguhan. Remaja biasa pusing mencari pasangan. Septolescent pusing mencari kacamata yang tadi diletakkan di atas kepala.<br />
Remaja biasa takut kehabisan uang jajan. Septolescent takut kartu ATM tertinggal di rumah. Remaja biasa nongkrong sampai tengah malam, sedangkan Septolescent sudah bersiap tidur supaya bisa bangun untuk salat tahajud dan tidak terlambat subuh.</p>
<p><strong>Rahasia pertama: punya teman</strong><br />
Septolescent sejati wajib punya sahabat karib, setidaknya tiga orang. Yaitu teman yang bisa diajak bertukar pikiran soal ibadah, ngopi, ngeteh, makan, jalan sehat, ngobrol ngalor-ngidul, sampai mengenang masa lalu dan merancang masa depan.<br />
Percakapan mereka kadang sangat ilmiah. &#8220;Tekanan darahmu bagaimana?&#8221; &#8220;Kemarin agak tinggi.&#8221; &#8220;Aku juga.&#8221; &#8220;Gula?&#8221; Inilah yang disebut Seminar Kesehatan ala Septolescent, lengkap dengan data primer dari tubuh masing-masing.</p>
<p><strong>Rahasia kedua: suka pergi, tidak harus mewah</strong><br />
Septolescent senang bepergian, tetapi bukan untuk mengejar kemewahan. Mereka ingin melihat tempat baru, mengenal budaya baru, mencicipi makanan lokal, bertemu orang baru, dan pulang membawa cerita.<br />
Masalahnya cuma satu: koper mereka kini lebih ringan daripada tas obatnya. Ada obat pagi, obat siang, obat malam, dan obat kalau lupa minum obat.<br />
Namun semua itu tidak menghalangi mereka berkata, &#8220;Besok kita jalan ke mana lagi, ya?&#8221;</p>
<p><strong>Rahasia ketiga: harta termahal bernama hubungan baik</strong><br />
Menjelang usia senja, Septolescent paham bahwa harta paling mahal bukan mobil, rumah, atau isi rekening. Yang paling berharga adalah hubungan baik dengan keluarga, anak, menantu, cucu, saudara, kerabat, dan siapa pun yang masih mau bersahabat dengan mereka.<br />
Mereka sadar, rumah sebesar apa pun tak ada artinya kalau penghuninya saling diam. Maka mereka mengurangi gengsi, memperbanyak maaf, memperbanyak silaturahmi, dan kalau terjadi perdebatan keluarga, mereka lebih sering mengalah. Di titik ini, remaja sungguhan mungkin perlu belajar dari mereka.</p>
<p><strong>Rahasia keempat: daftar rencana yang tak habis-habis</strong><br />
Usia boleh senja, tetapi daftar rencananya masih panjang. Mau traveling, mau reuni, mau berkebun, olahraga, wisata kuliner, bahkan mau belajar kecerdasan buatan. Dan tentu saja, mau membuat jadwal pertemuan berikutnya.<br />
Kalau ada yang nyinyir, &#8220;Untuk apa bikin rencana sebanyak itu? Kan sudah tua?&#8221;, jawabannya sederhana: kita belum tahu kapan Allah memanggil, dan selama belum dipanggil, agenda jalan terus. Itulah optimisme mereka.</p>
<p><strong>Rahasia kelima: merawat tubuh, tanpa memaksa kembali muda</strong><br />
Septolescent rajin berjalan kaki, kira-kira dua puluh menit sehari. Teorinya sederhana. Praktiknya begini: di awal jalan, &#8220;Ayo, semangat.&#8221; Di tengah jalan, &#8220;Masih kuat.&#8221; Mendekati akhir, &#8220;Kayaknya cukup.&#8221; Dan begitu waktunya habis, &#8220;Besok lagi, ah.&#8221;<br />
Sesampai di rumah, ia duduk. Lalu berdiri lagi karena lupa membawa ponsel. Duduk lagi. Berdiri lagi karena kacamata tertinggal. Duduk lagi. Berdiri lagi karena belum mengunci pintu.<br />
Tetapi tetap sehat, tetap bergerak, tetap berusaha. Sebab Septolescent tidak menuntut tubuhnya kembali seperti masa muda. Doanya lebih realistis: &#8220;Ya Allah, beri kami tubuh yang masih mau diajak kompromi.&#8221;</p>
<p><strong>*Rahasia keenam: menghitung yang dipunya, bukan yang kurang*</strong><br />
Septolescent tidak sibuk menghitung kekurangan. Mereka mengabsen nikmat. Masih punya keluarga. Masih bisa beribadah. Masih punya teman. Masih bisa berjalan, makan, tertawa, bepergian, dan membantu orang lain.<br />
Lalu mereka tiba pada kesimpulan sederhana: kalau semua ini masih bisa dinikmati, berarti saya kaya.<br />
Dan memang benar. Kekayaan tidak melulu soal uang. Kadang kekayaan adalah tidur nyenyak, bangun dengan badan segar, hati yang bersih dari iri dan dengki, dan kebiasaan menelepon teman hanya untuk menanyakan kabar.</p>
<p><strong>*Rahasia ketujuh: tersenyum setiap hari*</strong><br />
Bukan karena hidup mereka sempurna. Justru karena mereka sudah tahu hidup memang tidak pernah sempurna. Ada penyakit, kehilangan, kegagalan, kesepian, masalah keluarga, sakit lutut, sakit pinggang, kolesterol, dan gula darah. Tetapi mereka tetap tersenyum, karena umur boleh bertambah, asal rasa syukur ikut bertambah.<br />
Septolescent tidak berusaha mengalahkan usia dan tidak pura-pura kembali muda. Mereka tidak menyangkal penyakit dan tidak melawan kenyataan.<br />
Mereka hanya berkata: &#8220;Ya, saya sudah tua. Rambut boleh putih, kulit boleh keriput, langkah boleh melambat, mata boleh butuh kacamata, pendengaran boleh berkurang. Tetapi semangat tidak boleh ikut pensiun.&#8221;</p>
<p><strong>Jadi, siapa mau jadi Septolescent?</strong><br />
Penuaan tidak bisa dihentikan. Tetapi cara menjalaninya bisa kita pilih. Maka lain kali jangan bilang, &#8220;Saya sudah tua.&#8221; Katakan saja dengan dada tegak, &#8220;Saya seorang Septolescent.&#8221;<br />
Kalau ditanya apa artinya, jawab penuh percaya diri: remaja usia senja yang masih punya jadwal piknik, jajan bareng, teman bercanda, keluarga yang dicintai, dan alasan untuk bangun besok pagi.<br />
Dan kalau ada yang bertanya, &#8220;Kapan kalian akan berhenti?&#8221;, jawab serempak:<br />
&#8220;Nanti saja, kalau Allah sudah memanggil.&#8221;</p>
<p>Jakarta, 27 Oktober 2026<br />
(Digabung dari sejumlah sumber oleh Dr. Satrio Arismunandar, penulis SATUPENA, WA: 081286299061) *</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BAHASA SEBAGAI TANDA, SASTRA SEBAGAI KESADARAN: ANTO NARASOMA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT BAHASA AGUSTINUS</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/bahasa-sebagai-tanda-sastra-sebagai-kesadaran-anto-narasoma-dalam-perspektif-filsafat-bahasa-agustinus</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2026 09:14:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[ANTO NARASOMA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT BAHASA AGUSTINUS]]></category>
		<category><![CDATA[BAHASA SEBAGAI TANDA]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA SEBAGAI KESADARAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12818</guid>

					<description><![CDATA[BIAK, PAPUA &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Bahasa bukan saja rangkaian kata yang diucapkan manusia untuk menyampaikan pikiran. Di balik setiap kata, terdapat gagasan, pengalaman, ingatan, dan kesadaran yang menghubungkan manusia dengan dunia di sekitarnya. Bahasa memungkinkan manusia memahami realitas, menyampaikan kebenaran, mempertanyakan ketidakadilan, sekaligus membangun peradaban melalui pertukaran pengetahuan. Gagasan itu menemukan landasan filosofis dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BIAK, PAPUA &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Bahasa bukan saja rangkaian kata yang diucapkan manusia untuk menyampaikan pikiran. Di balik setiap kata, terdapat gagasan, pengalaman, ingatan, dan kesadaran yang menghubungkan manusia dengan dunia di sekitarnya. Bahasa memungkinkan manusia memahami realitas, menyampaikan kebenaran, mempertanyakan ketidakadilan, sekaligus membangun peradaban melalui pertukaran pengetahuan.</p>
<p>Gagasan itu menemukan landasan filosofis dalam pemikiran Santo Agustinus (354–430 M), filsuf dan teolog yang memberikan perhatian penting terhadap hubungan antara bahasa, tanda, pengetahuan, dan kebenaran. Dalam pemikirannya, tanda atau <em><i>signum</i></em> merupakan sesuatu yang, selain menghadirkan dirinya kepada indra, juga membawa pikiran manusia kepada sesuatu yang lain.</p>
<p>Dengan demikian, kata tidak berhenti pada bunyi atau bentuk tertulis. Kata menunjuk kepada makna yang melampaui dirinya. Sebuah kalimat dapat menghidupkan kembali pengalaman masa lalu, membangkitkan kesadaran moral, atau menggerakkan manusia untuk memahami kenyataan yang sebelumnya terabaikan.</p>
<p>Dalam perspektif ini, karya sastra menempati kedudukan yang istimewa. Sastra bukan hanya permainan diksi, keindahan metafora, atau kecakapan merangkai kalimat. Sastra merupakan ruang perjumpaan antara bahasa dan pengalaman manusia, antara imajinasi dan realitas, serta antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab moral.</p>
<p>Di sinilah perjalanan intelektual Anto Narasoma menjadi menarik untuk dibaca. Sebagai jurnalis, penyair, penulis cerita pendek, dan budayawan, ia memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjadi medium untuk mengolah pengalaman, menafsirkan kehidupan, dan menyuarakan persoalan kemanusiaan.</p>
<p><strong><b>Agustinus dan Hakikat Bahasa sebagai Tanda</b></strong></p>
<p>Dalam karya <em><i>De Doctrina Christiana</i></em>, Santo Agustinus menjelaskan tanda sebagai sesuatu yang membawa pikiran kepada hal lain di luar tanda itu sendiri. Sementara itu, dalam <em><i>De Magistro</i></em> atau <em><i>Sang Guru</i></em>, ia membahas hubungan antara kata, pengajaran, dan pengetahuan.</p>
<p>Pemikiran ini mengandung pelajaran mendasar: bahasa membantu manusia mengarahkan perhatian kepada sesuatu, tetapi kata-kata tidak dengan sendirinya menjamin bahwa seseorang telah memahami kebenaran.</p>
<p>Seseorang dapat mendengar sebuah pernyataan tanpa memahami maksudnya. Ia dapat membaca sebuah puisi tanpa menangkap pengalaman batin yang melatarbelakanginya. Bahkan, dua orang dapat menggunakan kata yang sama, tetapi memberikan arti yang berbeda karena pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang mereka tidak identik.</p>
<p>Karena itu, bahasa memiliki dimensi komunikatif sekaligus interpretatif. Bahasa menyampaikan pesan, tetapi pemaknaan pesan membutuhkan keterlibatan akal budi manusia.</p>
<p>Agustinus juga membedakan tanda alamiah dan tanda konvensional. Tanda alamiah berkaitan dengan sesuatu yang menunjukkan keadaan tertentu tanpa harus dibentuk melalui kesepakatan manusia, sedangkan tanda konvensional digunakan berdasarkan kebiasaan atau persetujuan bersama. Kata-kata dalam bahasa manusia terutama termasuk dalam kelompok kedua.</p>
<p>Bahasa Indonesia, misalnya, memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah, latar budaya, dan pengalaman sosial untuk bertukar pikiran melalui sistem tanda yang dipahami bersama. Namun, kesamaan bahasa tidak selalu berarti kesamaan pemahaman. Oleh sebab itu, kecakapan berbahasa juga menuntut ketelitian dalam memilih kata, kepekaan terhadap konteks, dan kesediaan memahami perspektif orang lain.</p>
<p>Dalam dunia jurnalistik dan sastra, persoalan ini menjadi semakin penting. Satu kata dapat membangun pengertian, tetapi kata yang keliru juga dapat menimbulkan prasangka. Sebuah metafora dapat membuka kesadaran, tetapi bahasa yang manipulatif dapat mengaburkan kenyataan.</p>
<p>Dengan demikian, bahasa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara dan menulis. Bahasa juga berkaitan dengan tanggung jawab atas makna yang dihadirkan kepada publik.</p>
<p><strong><b>Anto Narasoma: Ketekunan Menemukan Makna dalam Kata</b></strong></p>
<p>Perjalanan Anto Narasoma memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap bahasa dan sastra dapat tumbuh melalui proses panjang, sejak usia muda, melalui pengalaman kesenian, hingga keterlibatan dalam dunia jurnalistik.</p>
<p>Pada September 1975, cerpennya berjudul <em><i>Airmata Ibuku</i></em> dimuat di majalah anak-anak <em><i>Si Kuntjung</i></em>. Publikasi itu menjadi salah satu tonggak awal perjalanan kepenulisannya. Pada edisi bulan berikutnya, puisi-puisinya berjudul <em><i>Miskin</i></em> dan <em><i>Sepatu Bolong</i></em> juga dimuat di majalah yang sama.</p>
<p>Ketiga judul karya sastra Anto Narasoma menarik untuk dibaca sebagai pintu masuk menuju dunia kreatif seorang penulis muda. <em><i>Airmata Ibuku</i></em> menghadirkan hubungan dengan pengalaman emosional keluarga, sedangkan <em><i>Miskin</i></em> dan <em><i>Sepatu Bolong</i></em> membawa pembaca kepada kenyataan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.</p>
<p>Tanpa harus menganggap judul-judul itu sebagai keseluruhan gambaran pemikiran pengarangnya, kita dapat melihat bahwa tema keluarga, keterbatasan material, dan pengalaman manusia merupakan wilayah yang potensial untuk diolah menjadi kesadaran sastra.</p>
<p>Dalam kerangka pemikiran Agustinus, judul dan kata-kata dimaksud berfungsi sebagai tanda yang mengarahkan pembaca kepada sesuatu di luar bentuk bahasanya. Kata <em><i>miskin</i></em>, misalnya, tidak hanya menunjuk pada keadaan ekonomi. Dalam konteks sastra, kata itu dapat mengundang pertanyaan tentang martabat manusia, kesempatan hidup, ketimpangan sosial, dan tanggung jawab masyarakat.</p>
<p>Demikian pula <em><i>sepatu bolong</i></em>. Sebagai benda, sepatu memiliki fungsi praktis. Namun, ketika dihadirkan dalam karya sastra, benda sederhana itu dapat menjadi simbol keterbatasan, perjuangan, atau keteguhan seseorang menghadapi kehidupan.</p>
<p>Kemampuan sastra untuk mengubah benda dan pengalaman sehari-hari menjadi tanda yang sarat makna merupakan salah satu alasan mengapa bahasa sastra tetap relevan bagi kehidupan publik.</p>
<p><strong><b>Dari Panggung Teater Menuju Ketajaman Narasi</b></strong></p>
<p>Perjalanan Anto Narasoma tidak terbatas pada dunia puisi dan cerita pendek. Pada 1976, ia bergabung dengan Sanggar Seni Kenari Putih di bawah asuhan Chaidir Tandjung. Melalui lingkungan kesenian itu, ia berkesempatan tampil dalam sandiwara televisi <em><i>Rambun Pamenan</i></em> yang ditayangkan TVRI Stasiun Palembang, dengan memerankan Sutan Muda.</p>
<p>Pada 1977, ia kembali terlibat dalam penggarapan cerita Minang <em><i>Datuak Bulu Basi</i></em>. Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan Teater Kridayana bersama Anwar Putra Bayu dan Suharno Manaf, BA.</p>
<p>Pengalaman itu memperluas ruang belajarnya. Teater menuntut seorang seniman memahami dialog, karakter, gerak, ekspresi, dan konflik. Kata-kata yang tertulis dalam naskah harus dihidupkan melalui suara, tindakan, dan penghayatan.</p>
<p>Pada 1978, Anto Narasoma bersama sejumlah seniman membentuk Teater SAS atau Sabda Angin Selatan. Kelompok ini kemudian terlibat dalam berbagai kegiatan pementasan. Pada 1981, mereka mempertunjukkan <em><i>Dokter Gadungan</i></em> karya Molière di Taman Budaya Sriwijaya.</p>
<p>Dalam perkembangannya, Anto juga terlibat dalam pementasan <em><i>Raden Fatah</i></em> pada 1985, lakon <em><i>Wong-Wong</i></em> bersama Teater Potlot pada 1986, serta penataan musik teater dalam pementasan <em><i>Jaka Tarub</i></em> pada 1988.</p>
<p>Pengalamannya memperlihatkan bahwa bahasa memiliki kehidupan yang lebih luas daripada tulisan. Bahasa dapat menjelma menjadi dialog, gerak, suara, simbol, dan tindakan artistik.</p>
<p>Dari perspektif filsafat bahasa, pengalaman teater mempertemukan tanda dengan penafsiran. Sebuah dialog memperoleh kekuatan bukan semata-mata dari kata yang diucapkan, melainkan juga dari konteks, intonasi, ekspresi, dan hubungan antartokoh.</p>
<p>Pengalaman semacam itu dapat memperkaya kepekaan seorang penulis dalam membangun narasi. Penulis tidak hanya belajar menyusun kalimat, tetapi juga memahami bagaimana manusia berbicara, menyembunyikan perasaan, mempertahankan keyakinan, dan menghadapi konflik.</p>
<p>Bagi Anto Narasoma, keterlibatan dalam berbagai ruang kesenian menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya. Sastra, teater, dan musik tidak harus berdiri sebagai bidang yang terpisah. Ketiganya dapat saling memperkaya dalam membentuk kepekaan terhadap kehidupan manusia.</p>
<p><strong><b>Jurnalisme: Ketika Bahasa Berhadapan dengan Realitas</b></strong></p>
<p>Ketika seorang sastrawan memasuki dunia jurnalistik, ia berhadapan dengan tuntutan yang berbeda. Sastra memberikan ruang luas bagi imajinasi, simbol, dan kebebasan artistik. Jurnalisme, sebaliknya, menuntut verifikasi, ketepatan fakta, keberimbangan, serta tanggung jawab kepada pembaca.</p>
<p>Namun, kedua bidang ini memiliki satu titik temu: penggunaan bahasa untuk menghadirkan realitas kepada orang lain.</p>
<p>Dalam jurnalistik, sebuah peristiwa tidak cukup hanya diberitakan. Peristiwa perlu dijelaskan secara tepat agar masyarakat memahami apa yang terjadi, siapa yang terdampak, serta mengapa persoalan-persoalan itu penting bagi kehidupan bersama.</p>
<p>Anto Narasoma, yang dikenal melalui kiprahnya sebagai wartawan, mengembangkan perjalanan kepenulisannya melalui berbagai media lokal dan nasional. Karyanya mencakup puisi, cerita pendek, dan esai sastra. Ia juga terlibat sebagai pembicara, juri puisi, serta peserta berbagai kegiatan musikalisasi puisi di lingkungan pendidikan dan kebudayaan.</p>
<p>Dalam konteks ini, filsafat bahasa Agustinus membantu kita memahami bahwa kata-kata jurnalistik merupakan tanda yang membawa pembaca kepada suatu peristiwa. Akan tetapi, kekuatan sebuah berita bergantung pada ketepatan hubungan antara tanda dan kenyataan yang dirujuknya.</p>
<p>Berita yang baik, bagi Anto Narasoma,  tidak boleh menggantikan fakta dengan prasangka. Judul tidak boleh menjanjikan sesuatu yang tidak dibuktikan oleh isi. Pernyataan narasumber harus ditempatkan dalam konteks yang tepat.</p>
<p>Sementara itu, kepekaan sastra dapat membantu jurnalis menyampaikan persoalan manusiawi tanpa kehilangan ketelitian. Bahasa yang hidup mampu membuat pembaca memahami penderitaan seseorang, mengenali persoalan masyarakat, dan melihat dampak kebijakan publik terhadap kehidupan nyata, tegas Anto Narasoma.</p>
<p>Keberpihakan terhadap kelompok yang terpinggirkan, apabila dijalankan melalui kerja jurnalistik yang bertanggung jawab, bukanlah alasan untuk meninggalkan objektivitas. Sebaliknya, keberpihakan itu dapat diwujudkan dengan memastikan bahwa pengalaman masyarakat yang selama ini kurang terdengar memperoleh ruang pemberitaan yang layak.</p>
<p>Di titik inilah bahasa menjadi bagian dari tanggung jawab sosial. Kata-kata tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk membuka ruang dialog dan memperluas kesadaran masyarakat.</p>
<p><strong><b>Diksi, Ambiguitas, dan Kedalaman Makna</b></strong></p>
<p>Bagi Anto Narasoma, salah satu kekuatan karya sastra terletak pada pemilihan diksi. Kata yang tepat dapat menghasilkan pengaruh yang lebih kuat daripada kalimat panjang yang kehilangan fokus.</p>
<p>Penyair tidak selalu memilih kata yang paling rumit. Sering kali, kata sederhana justru mampu membawa pengalaman yang mendalam karena ditempatkan dalam konteks yang tepat.</p>
<p>Pemikiran Agustinus mengenai tanda memberikan landasan untuk memahami proses seperti dipaparkan Anto Narasoma. Tanda menghubungkan sesuatu yang hadir kepada sesuatu yang hendak dipahami. Dalam sastra, hubungan itu dapat berkembang melalui metafora, simbol, perbandingan, dan permainan makna.</p>
<p>Sebuah kata dapat mengandung lebih dari satu kemungkinan penafsiran. Ambiguitas semacam ini tidak selalu merupakan kelemahan. Dalam puisi, cerita pendek, atau esai sastra, beragam lapisan makna dapat memberi pembaca kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pemahaman.</p>
<p>Akan tetapi, dalam jurnalistik, ambiguitas perlu dikelola secara hati-hati. Ketidakjelasan yang sengaja dibiarkan dapat menyesatkan pembaca, sedangkan keterbukaan makna dalam sastra dapat memperkaya pengalaman estetis.</p>
<p>Perbedaan fungsi seperti digambarkan di atas menuntut kecakapan seorang penulis untuk memahami tujuan komunikasinya. Ia harus mengetahui kapan kata perlu dibuat tegas dan kapan sebuah ungkapan dapat dibiarkan terbuka terhadap penafsiran.</p>
<p>Anto Narasoma dikenal karena ketekunannya dalam menulis dan kemampuannya mengolah bahasa. Perjalanan panjangnya melalui puisi, cerita pendek, esai, teater, dan jurnalistik menunjukkan pentingnya pengalaman lintasgenre dalam memperluas kemungkinan ekspresi.</p>
<p>Kedalaman sastra tidak hanya diukur dari keindahan bunyi atau kerumitan metafora. Kedalaman itu juga ditentukan oleh kemampuannya menghubungkan pengalaman pribadi dengan persoalan yang lebih luas, sehingga pembaca dapat menemukan makna yang relevan dengan kehidupannya sendiri.</p>
<p><strong><b>Bahasa sebagai Peristiwa Sosial dan Pendidikan</b></strong></p>
<p>Bagi Agustinus, bahasa berkaitan erat dengan kehidupan manusia sebagai makhluk yang berkomunikasi dan belajar bersama. Manusia menggunakan tanda untuk menyampaikan pengalaman, mengingatkan orang lain, dan mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang dianggap penting.</p>
<p>Bahasa, dengan demikian, mempunyai dimensi sosial. Makna tidak berkembang dalam ruang hampa, tetapi melalui hubungan antara penutur, pendengar, penulis, pembaca, dan konteks kehidupan mereka.</p>
<p>Pemahaman ini relevan bagi dunia pendidikan Indonesia. Bahasa Indonesia tidak seharusnya dipelajari hanya sebagai kumpulan aturan tata bahasa, ejaan, atau struktur kalimat. Bahasa juga merupakan sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyampaikan argumentasi, menghargai perbedaan, dan membangun pengetahuan.</p>
<p>Pertemuan kebudayaan dan sastra yang berlangsung di Padang, Sumatera Barat, pada 2025 menjadi momentum yang dapat dibaca dalam kerangka pemikiran seorang Anto Narasoma. Pertemuan antara sastrawan, akademisi, pendidik, dan masyarakat menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi sebagai medium pertukaran gagasan yang melampaui batas daerah.</p>
<p>Dalam ruang akademik, bahasa memungkinkan pengetahuan disusun dan diuji melalui argumentasi. Dalam sastra, bahasa memberi kesempatan kepada manusia untuk memahami pengalaman yang tidak selalu dapat diterangkan melalui rumusan ilmiah. Dalam jurnalistik, bahasa membantu masyarakat mengakses informasi dan menilai persoalan publik.</p>
<p>Ketiga fungsi itu saling melengkapi, meskipun masing-masing tetap memiliki standar dan tujuan yang berbeda.</p>
<p>Pengalaman Anto Narasoma dalam dunia seni dan tulis-menulis memperlihatkan bahwa seorang penulis dapat menjadi penghubung antara berbagai ruang kehidupan. Karya sastra membuka pengalaman batin, jurnalisme mempertemukan masyarakat dengan kenyataan, dan kegiatan pendidikan memperluas kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan berbahasa.</p>
<p>Di sinilah bahasa Indonesia memperoleh makna yang lebih besar daripada hanya sebuah sarana  komunikasi. Bahasa menjadi infrastruktur kebudayaan: sarana untuk mewariskan pengalaman, memperdebatkan gagasan, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membangun kesadaran kebangsaan.</p>
<p><strong><b>Kerendahan Hati Intelektual dan Etika Kepengarangan</b></strong></p>
<p>Kecakapan intelektual tidak selalu tampak melalui banyaknya istilah yang digunakan seseorang. Kedalaman pengetahuan juga dapat terlihat dari kesediaan untuk mendengarkan, memeriksa kembali pendapat, menerima kritik, dan terus belajar dari pengalaman orang lain.</p>
<p>Dalam penggambaran perjalanan Anto Narasoma, sikap terbuka terhadap pengetahuan menjadi salah satu aspek yang menonjol. Kerendahan hati intelektual semacam ini penting bagi seorang sastrawan maupun jurnalis, sebab bahasa selalu berhadapan dengan kemungkinan salah tafsir.</p>
<p>Tidak ada seorang penulis yang dapat menguasai seluruh pengalaman manusia. Karena itu, menulis memerlukan kesediaan untuk mengamati kehidupan secara terus-menerus, memahami kenyataan dari berbagai sudut pandang, dan menyadari keterbatasan diri.</p>
<p>Dalam kerangka Agustinus, kata-kata dapat mengarahkan manusia kepada pengetahuan, tetapi kata-kata itu sendiri bukan sumber mutlak seluruh kebenaran. Dalam <em><i>De Magistro</i></em>, Agustinus membahas peran kata dalam proses belajar dan menekankan pentingnya pemahaman, tidak saja  penerimaan bunyi atau ungkapan.</p>
<p>Jika gagasan ini dibawa ke dunia kepengarangan, seorang penulis tidak cukup hanya menguasai teknik merangkai kalimat. Ia juga harus memiliki disiplin intelektual dan kepekaan moral.</p>
<p>Seorang jurnalis perlu berani memeriksa kekuasaan, tetapi juga wajib menguji informasi yang diterimanya. Seorang penyair dapat mengkritik ketidakadilan, tetapi tetap perlu menyadari bahwa pengalaman manusia tidak selalu sederhana. Seorang budayawan dapat mempertahankan tradisi, sekaligus membuka diri terhadap perubahan dan dialog.</p>
<p>“Kerendahan hati intelektual tidak mengurangi keberanian berpikir. Justru, sikap itu membuat keberanian menjadi lebih bertanggung jawab karena tidak dibangun di atas keyakinan bahwa diri sendiri selalu benar,” ungkap Anto Narasoma.</p>
<p><strong><b>Menyuarakan Nurani Melalui Bahasa</b></strong></p>
<p>Perjalanan Anto Narasoma mengingatkan kita bahwa dunia kepengarangan bukan semata-mata tempat seseorang mengejar pengakuan. Menulis juga merupakan proses membangun hubungan antara pengalaman pribadi, kenyataan sosial, dan kesadaran pembaca.</p>
<p>Dalam puisi, pengalaman yang sangat pribadi dapat memperoleh arti yang lebih luas. Dalam cerita pendek, peristiwa sederhana dapat membuka persoalan moral. Dalam esai, gagasan dapat dipertemukan dengan argumentasi. Dalam jurnalistik, fakta dapat dihadirkan agar masyarakat mampu memahami dan menilai realitas secara lebih jernih.</p>
<p>Bahasa menjadi penting karena manusia tidak hidup hanya dengan benda dan peristiwa. Manusia juga hidup melalui makna yang diberikan kepada pengalaman-pengalaman dimaksud.</p>
<p>Ketika seorang penulis berbicara tentang kemiskinan, pembaca diajak melihat manusia di balik angka statistik. Ketika seorang jurnalis menulis tentang ketidakadilan, masyarakat diajak memeriksa hubungan antara kekuasaan, hak, dan tanggung jawab. Ketika seorang penyair menulis tentang kehilangan, pengalaman individual dapat menjadi ruang perjumpaan bagi banyak orang yang pernah merasakan kesedihan serupa.</p>
<p>Inilah kekuatan bahasa sebagai tanda: ia menghadirkan sesuatu yang tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi dapat dipahami melalui refleksi dan penafsiran.</p>
<p>Meski demikian, tegas Anto Narasoma,  kekuatan itu tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab. Bahasa dapat membangun pemahaman, tetapi juga dapat menciptakan kebencian. Kata-kata dapat menguatkan martabat manusia, tetapi dapat pula merendahkan orang lain. Karena itu, kualitas kepengarangan tidak cukup diukur dari keterampilan teknis, popularitas, atau banyaknya karya yang dihasilkan.</p>
<p>Kualitas itu juga perlu dilihat dari ketekunan, integritas, kedalaman pemikiran, dan kesediaan untuk memperlakukan manusia sebagai subjek yang memiliki martabat.</p>
<p><strong><b>Penutup</b></strong></p>
<p>Pemikiran Santo Agustinus mengajak kita memahami bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang membawa pikiran kepada makna. Namun, proses memahami tidak selesai ketika kata telah diucapkan atau tulisan telah dibaca. Manusia masih perlu menafsirkan, mempertimbangkan, dan menguji apa yang disampaikan.</p>
<p>Perjalanan Anto Narasoma dalam dunia sastra, teater, dan jurnalistik memberikan ruang untuk merenungkan hubungan antara bahasa dan realitas. Sejak karya-karya awalnya dimuat di majalah <em><i>Si Kuntjung</i></em> pada 1975, keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kesenian, hingga kiprahnya sebagai wartawan dan penulis, ia menapaki jalan panjang dalam mengolah kata menjadi sarana ekspresi dan komunikasi.</p>
<p>Karya sastra tidak dapat menggantikan penelitian ilmiah, sebagaimana jurnalisme tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan puisi. Akan tetapi, keduanya dapat saling memperkaya dalam memperluas cara manusia memahami dunia.</p>
<p>Dari Agustinus, kita belajar bahwa tanda mengarahkan pikiran kepada sesuatu yang melampaui dirinya. Dari sastra, kita belajar bahwa makna sering kali tumbuh melalui pengalaman dan penafsiran. Dari jurnalisme, kita belajar bahwa kata-kata harus tetap bertanggung jawab kepada kenyataan.</p>
<p>Pada akhirnya, dari Anto Narasoma, bahasa yang bermutu bukan hanya bahasa yang indah didengar atau mengagumkan ketika dibaca. Bahasa yang bermutu adalah bahasa yang membantu manusia memahami kehidupan dengan lebih jernih, melihat sesamanya dengan lebih manusiawi, dan menilai kekuasaan dengan lebih kritis.</p>
<p>“Di situlah perjuangan seorang penulis memperoleh maknanya: bukan hanya meninggalkan jejak berupa kata-kata di halaman, melainkan ikut membuka jalan bagi tumbuhnya pengetahuan, kepekaan, dan nurani publik. Sebab, sebuah kata mungkin selesai diucapkan dalam hitungan detik. Namun, makna yang dikandungnya dapat terus hidup dalam pikiran manusia, menguji kesadaran zamannya, dan menginspirasi perubahan yang lebih bermartabat,” tegas Anto Narasoma.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<p>Augustine. 1995. Augustine: De Doctrina Christiana. Edited and translated by R. P. H. Green. Oxford: Clarendon Press.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Biak, Papua, 26 Oktober 2026</p>
<p>Paulus Laratmase</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SASTRA DALAM SUARA AZAN YANG MENGGETARKAN JIWA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/sastra-dalam-suara-azan-yang-menggetarkan-jiwa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2026 21:31:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA DALAM SUARA AZAN YANG MENGGETARKAN JIWA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12812</guid>

					<description><![CDATA[PALEMBANG, SUARA ANAK NEGERI&#124; Si muazin memiliki suara yang begitu indah, dengan frekuensi getaran tertata dengan irama yang menyejukkan. Irama dan lafal ucapannya membuat diriku tergetar dan terpanggil untuk salat subuh. Harus diakui, secara psikologis, suara azan memiliki efek penenang jiwa dan menyegarkan perasaan dan pikiran secara religiusitas. Wajar apabila Rasulullah SAW mendelegasikan sahabatnya bernama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PALEMBANG, SUARA ANAK NEGERI</strong>| Si muazin memiliki suara yang begitu indah, dengan frekuensi getaran tertata dengan irama yang menyejukkan. Irama dan lafal ucapannya membuat diriku tergetar dan terpanggil untuk salat subuh.</p>
<p>Harus diakui, secara psikologis, suara azan memiliki efek penenang jiwa dan menyegarkan perasaan dan pikiran secara religiusitas.</p>
<p>Wajar apabila Rasulullah SAW mendelegasikan sahabatnya bernama Bilal, seorang sahabat nabi berkulit hitam dan bersuara emas untuk menyenandungkan azan disaat menjelang salat.</p>
<p>Disaat Bilal melantunkan azan, semua jemaah terpesona, seolah-oleh mereka diajak berkelana ke ruang-ruang taman yang begitu menawan di altar cuaca surgawi.</p>
<p>Secara psikologis, suara azannya mampu membangun efek nada yang menyegarkan jiwa setiap orang.</p>
<p>Suara Bilal yang begitu indah &#8211;dapat dikaitkan dengan konsep suara Auditory Scene Recognition (ASR). Yakni, kemampuan otak untuk mengenali dan memproses suara-suara yang begitu dekat ke hati, serta begitu familiar.</p>
<p>Suara-suara azan yang familiar dapat memicu respons relaksasi dan kenangan yang begitu dekat di benak kita.</p>
<p>Sebab, otak kita mampu mengasosiasikan suara tersebut dengan ketenangan yang menyamankan perasaan.</p>
<p>Harus diakui bahwa suara azan memiliki efek spititual yang mempengaruhi frekuensi emosional secara pribadi, terutama bagi seorang muslim.</p>
<p>Sebab, dari getaran irama dan frekuensi suara azan tersebut, mampu memicu ketakwaan yang teramat dekat dengan diri kita sendiri dan eksistensi Allah SWT. Dengan demikian jiwa seorang muslim mampu membangun ketenangan jiwa disaat memasuki dunia ketakwaan kepada Tuhannya (Allah SWT).</p>
<p>Sastra Religi<br />
Azan tak hanya didengar lewat suara indah dari seseorang muazin. Sebab, jika ditinjau dari nilai estetika sastra, suara, ucapan, dan ritme kata-kata yang diucap seorang muazin akan mengisi nilai-nilai estetika dalam karya sastra.</p>
<p>Secara esensial, suara azan yang dikumandangkan pada pajar hari menjelang salat subuh, akan menghadirkan kreativitas emosional.</p>
<p>Karena itu, para sastrawan akan selalu menangkap nilai-nilai hormon kortisol yang mampu meredam ketegangan, sehingga akan menjadi karya sastra (cerpen, puisi, artikel sastra, atau novel) yang sangat indah untuk dibaca.</p>
<p>Nilai suara azan yang indah dan unsur religi pernah diungkap sastrawan besar Buya Hamka lewat novel Di Bawah Lindungan Ka&#8217;bah yang ditulis tahun 1939.</p>
<p>Dalam cerita itu azan dikaitkan dengan kaidah suara yang mengusap kegelisan di hati seseorang, sehingga ia mampu lepas dari cengkeraman kegelisan yang berkepanjangan.</p>
<p>Sebagai unsur edukasi, sastra akan memberikan nilai yang efektif dalam meramu pembahasan estetik di dalam kalimat yang berisi kata-kata pilihan.</p>
<p>Karena itu lantunan suara azan yang indah akan mampu merangsang otak pendengarnya sehingga mampu memproduksi gelombang alfa.</p>
<p>Unsur inilah yang membuat tulisan penyair menjadi indah akibat dari rangsangan tersebut. Apalagi gelombang otak ini selalu aktif ketika manusia berada dalam situasi rileks, tenang, dan bebas dari stres, nilai kemanuisaannya akan tumbuh dalam kesejatian jiwa yang arif dan bijaksana.</p>
<p>Unsur ketenangan batin disaat rileks akan terungkap secara biologis tentang estetika yang menperkaya nilai-nilai tulisan sastra.</p>
<p>Sebab sastra tak hanya mencomot unsur keindahan semata, tapi setiap kalimat dalam tulisan akan selalu terisi dengan prinsip emosional manusia.</p>
<p>Apalagi seorang Buya Hamka adalah tokoh sastra dan ulama Indonesia terbesar pada zamannya. Ia selalu menyisipkan unsur pendidikan agama yang berisi nilai-nilai tasawuf, sejarah, dan filsafat.</p>
<p>Tatkala kita membaca karyanya berupa cerita Di Bawah Lingdungan Ka&#8217;bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1938), tak terasa kita diajak ke dalam aspek cerita mendalam yang penuh dengan perilaku dan liku-liku kehidupan manusia.</p>
<p>Meski dengan bahasa sederhana, tapi ia membawa perasaan pembacanya dalam suasana yang tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.</p>
<p>Itulah kehebatan seorang Buya Hamka yang telah menciptakan novel-novel legendaris dan memberi kecerdasan hati dan pikiran bagi pembacanya</p>
<p>Sebab, selain mengantarkan kita sebagai pembaca untuk memahami kejadian-kejadian yang berefek bagi nilai kehidupan manusia, beliau juga mampu menyisipkan ilmu agama yang sangat indah di hati dan pikiran kita.</p>
<p>Dalam sastra religi ini mengingatkan kita tentang membersihkan jiwa melalui daya ucap azan dan bacaan surat Yassin. Semua selalu berdekatan dengan unsur Barzanji, burdah, serta ada Syair Perahu karya Hamzah Fansuri.</p>
<p>Bentuk syair itu merupakan unsur sastra yang berkaitan dengan pujian-pujian ke pada Allah SWT dan Rasul-Nya.</p>
<p>Sementara bagi seorang muslim, azan dimaknai secara esoteris sebagai panggilan penuh cinta ke padai Allah SWT.</p>
<p>Kesadaran psikologis semacam ini membuat pikiran dan perasaan kita akan berbicara bahwa dalam kesulitan dan penderitaan ada tempat bersandar yang universal dan memberikan rasa aman bagi kegelisahan kita yang mendalam (sense of security).</p>
<p>Cognitif Anchoring<br />
Dalam psikologi kognitif, azan merupakan bentuk suara yang esensial sebagai penanda atau jangkar waktu.</p>
<p>Tak heran apabila seseorang yang hati dan jiwanya sudah melekat dengan unsur agama (ke pada Allah SWT), tentu secara otomatis akan segera memutuskan rutinitas sehari-harinya sebagai makhluk dhoif.</p>
<p>Sebagai penulis, seorang sastrawan akan peka untuk menggali nilai-nilai religiusitas bagi kekuatan isi tulisannya.</p>
<p>Sebab, dalam setiap kalimat yang diutarakan dalam tulisannya berbentuk apa pun (puisi, cerpen, esai sastra) ia akan selalu meramu unsur Ilahiyah sebagai kaitan dasar dari landasan ide dan gagasannya sastrawan.</p>
<p>Karena itu, ketika seseorang memutus tali rutinitasnya sebagai hamba Allah saat mendengarkan lantunan azan, sebenarnya ia sedang konsentrasi dalam memperkuat batinnya dalam unsur mindfulnes yang memperkuat keyakinan atas kasih sayang Allah SWT selama yang ia rasakan.</p>
<p>Yang pasti, lantunan tauhid di dalam azan memaksa ego manusia untuk tunduk pada unsur yang jauh lebih besar dan segera menyadari kekerdilan dirinya sebagai insan yang tak ada apa-apanya. (*)</p>
<p>Palembang, 24 Oktober 2026</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SEPULUH PAHLAWAN KEMANUSIAAN YANG GUGUR DALAM MENGHADAPI KARHUTLA</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/ilmiah/sepuluh-pahlawan-kemanusiaan-yang-gugur-dalam-menghadapi-karhutla</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2026 21:06:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12805</guid>

					<description><![CDATA[DEPOK &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124;Hingga 23 Oktober 2026, terdapat laporan bahwa 10 petugas dan relawan meninggal ketika menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Angka itu dihimpun Republika dari laporan BNPB dan instansi terkait, dengan rincian enam orang di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur; tiga orang di Kalimantan Tengah; dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEPOK &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>|Hingga 23 Oktober 2026, terdapat laporan bahwa 10 petugas dan relawan meninggal ketika menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Angka itu dihimpun Republika dari laporan BNPB dan instansi terkait, dengan rincian enam orang di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur; tiga orang di Kalimantan Tengah; dan satu orang di Kalimantan Selatan.<br />
Namun, ada hal penting: tidak semua korban meninggal seketika di lokasi kebakaran, dan penyebab medis kematian beberapa orang belum dipastikan secara terbuka. Sebagian meninggal setelah jatuh sakit atau menjalani perawatan di rumah sakit. Jadi, kita perlu membedakan antara meninggal ketika atau setelah bertugas dan penyebab kematian yang sudah terkonfirmasi.</p>
<p>Siapa saja 10 korban tersebut?</p>
<p>Di Jawa Timur, enam orang di kawasan Bromo. Lokasi utama: kawasan Pusung Lingker, Resort Tengger Laut Pasir, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo, TNBTS.<br />
1. Sukaris, Petugas Balai Besar TNBTS. Meninggal dalam insiden pemadaman pada 15 Oktober 2026. Ia termasuk personel yang terjebak ketika api membesar. Laporan menyebut korban ditemukan meninggal di lokasi dengan kondisi tubuh terbakar.<br />
2. Hendra Rony Wagiyanata, Petugas TNBTS, disebut sebagai Manggala Agni Pemula dalam laporan BNPB. Ia ikut dalam operasi pemadaman 15 Oktober. Sejumlah laporan menyebut ia sempat dibawa untuk mendapatkan perawatan sebelum meninggal. Rincian medis final penyebab kematiannya belum ada dalam laporan yang tersedia.<br />
3. Wisnu Yuda Pratama, petugas keamanan harian (daily worker), PT Mitra Indo Permai. Ia bekerja di sektor perhotelan di kawasan Bromo dan turut membantu pemadaman. Ia termasuk korban yang meninggal dalam insiden tersebut.<br />
4. Sefriel Ardiansyah, petugas daily worker bagian Engineering, PT Mitra Indo Permai. Ia juga ikut membantu pemadaman dan meninggal dalam insiden yang sama. Laporan awal menyebut tiga korban meninggal di lokasi, sementara seorang lainnya meninggal setelah dirujuk ke rumah sakit; laporan yang tersedia tidak konsisten dalam merinci urutan setiap korban.<br />
5. Munawi, 44 tahun, anggota Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP). Munawi mengalami luka bakar serius ketika terjebak api dan menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Ia meninggal pada 19 Oktober. Laporan menyebut luka bakarnya mencapai lebih dari 51 persen tubuh.<br />
6. Suraji, sekitar 40 tahun, petugas keamanan harian PT Mitra Indo Permai. Suraji mengalami luka bakar berat dalam insiden 15 Oktober dan dirawat di RSUD Dr. Soetomo. Ia dilaporkan meninggal pada 23 Oktober, sehingga jumlah korban di Bromo bertambah menjadi enam orang.<br />
Keterangan penting: beberapa pemberitaan awal memuat perbedaan penulisan nama dan daftar korban Bromo. Daftar enam nama di atas mengikuti laporan yang lebih baru, yang memasukkan Suraji dan Munawi sebagai dua korban yang meninggal setelah dirawat.</p>
<p>Kalimantan Tengah: tiga orang</p>
<p>7. Akhmad Rizani, 54 tahun, Ketua Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK), wilayah Jekan Raya, Kota Palangka Raya. Rizani meninggal pada 27 Agustus 2026 setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Ia dilaporkan mengalami sesak napas dan kondisi kesehatannya menurun setelah berulang kali terlibat dalam pemadaman karhutla. Laporan keluarga kepada BBC Indonesia menyebut ia telah menjadi relawan sejak 2012. Penyebab medis final kematiannya tidak ditemukan dalam sumber yang tersedia.<br />
8. Ahmadin alias Itam Madin, 56 tahun, Relawan Damkar Huma Singgah Itah dan anggota Satgas Karhutla BPBD Kotawaringin Barat. Ahmadin meninggal pada 30 Agustus 2026 setelah dirawat di RSUD Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun. Ia sebelumnya mengalami sesak napas setelah bertugas di tengah asap kebakaran. Kelelahan disebut sebagai kemungkinan yang berkontribusi, tetapi tidak boleh dianggap sebagai diagnosis medis yang sudah dipastikan.<br />
9. Aries Sutio Luthfil Hadi, sekitar 30 tahun, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), Posko Danau Masoraian, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat. Aries meninggal pada 10 September 2026 setelah terlibat dalam pemadaman di sekitar Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama. Sejumlah laporan menyebut ia mengalami gangguan pernapasan atau gagal napas setelah bertugas. Namun, keterangan medis lengkap yang memastikan penyebab kematiannya tidak tersedia dalam sumber berita.</p>
<p>Kalimantan Selatan: satu orang</p>
<p>10. Nurdin alias Amang Udin, 50 tahun, Relawan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Sarimi Kayu Bulan, Regu 03. Nurdin meninggal pada 21 Oktober 2026 ketika membantu menangani kebakaran lahan di kawasan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala.</p>
<p>Menurut laporan media lokal, ia mengeluhkan nyeri dada dan kesulitan bernapas saat asap pekat menyelimuti lokasi. Rekan-rekannya memberikan oksigen portabel dan membawanya ke klinik, tetapi ia tidak tertolong. Dokter klinik menduga keracunan asap; ini merupakan dugaan yang diberitakan, bukan hasil pemeriksaan toksikologi yang terverifikasi.</p>
<p>Apa yang sebenarnya menyebabkan kematian mereka?</p>
<p>Dari laporan yang tersedia, terdapat dua pola utama.</p>
<p>Pertama, terjebak dalam kobaran api. Ini paling jelas terlihat dalam insiden Bromo. Pada 15 Oktober, tim gabungan yang berupaya memadamkan kebakaran menghadapi api yang membesar dan perubahan arah angin. Sebagian personel terjebak; beberapa korban mengalami luka bakar berat. Menurut keterangan Bupati Probolinggo, dari 12 orang yang dikerahkan, enam orang terjebak setelah arah angin berubah cepat.<br />
Kedua, gangguan pernapasan setelah terpapar asap dan menjalankan tugas pemadaman. Pola ini terlihat pada beberapa relawan di Kalimantan. Namun, sesak napas, kelelahan, keracunan asap, dan gagal napas bukan istilah yang bisa dipertukarkan begitu saja. Penyebab pasti setiap kematian harus merujuk pada pemeriksaan medis dan, bila diperlukan, penyelidikan resmi.<br />
Ada pelajaran penting di sini: risiko pemadaman bukan hanya jilatan api. Asap pekat, panas, dehidrasi, medan sulit, kelelahan, perubahan arah angin, serta keterlambatan evakuasi dapat sama-sama mengancam jiwa.</p>
<p>Apa yang sudah dilakukan pemerintah?<br />
Sejumlah langkah memang telah dilakukan. Tetapi perlu dibedakan antara program penanganan karhutla yang sudah berjalan, bantuan bagi keluarga korban, dan langkah keselamatan baru yang baru dijanjikan setelah tragedi.</p>
<p>Evaluasi operasi dan penguatan SOP<br />
Pada 23–25 Oktober, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menyatakan akan mengevaluasi kronologi serta metode pemadaman setelah enam petugas dan relawan meninggal di Bromo.<br />
BNPB juga mengingatkan pentingnya koordinasi dengan pos komando, pengawasan keselamatan oleh BPBD, keberadaan petugas keselamatan (safety officer), pelatihan, pemeriksaan kondisi personel setelah bertugas, serta penggantian petugas yang kelelahan.<br />
Catatan: pengumuman evaluasi dan imbauan SOP belum membuktikan bahwa semua daerah sudah menerapkan sistem keselamatan yang diperbarui.</p>
<p>Peralatan pelindung dan pelatihan relawan<br />
BNPB menekankan penggunaan helm, kacamata pelindung, respirator yang sesuai seperti N95 untuk menyaring partikel, pakaian tahan panas, sarung tangan, dan sepatu lapangan. Relawan juga harus memahami arah penjalaran api, jalur evakuasi, dan kapan operasi perlu dihentikan.<br />
Ini menjadi sangat penting dalam kasus Amang Udin: laporan yang tersedia menyebut rekan-rekannya hanya memiliki oksigen portabel dan masker biasa. Kasus ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kecukupan perlengkapan bagi relawan yang bekerja di garis depan.</p>
<p>Pemantauan, modifikasi cuaca, dan operasi pemadaman<br />
Kementerian Kehutanan melaporkan penggunaan pemantauan satelit melalui SIPONGI, pemeriksaan titik panas di lapangan, patroli darat dan udara, water bombing, operasi modifikasi cuaca bersama BNPB dan BMKG, serta pengerahan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan Masyarakat Peduli Api.<br />
Di Taman Nasional Tanjung Puting, pemerintah juga menggunakan drone termal untuk mengidentifikasi lokasi prioritas, memperbaiki akses, dan menambah sumber air untuk pemadaman.<br />
Langkah-langkah tersebut terutama ditujukan untuk mendeteksi dan mengendalikan api. Efektivitasnya dalam mencegah korban jiwa perlu diukur secara terpisah.</p>
<p>Santunan dan bantuan keluarga<br />
Kementerian Kehutanan menyerahkan bantuan masing-masing Rp25 juta kepada keluarga Ahmadin dan Aries di Kotawaringin Barat. Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga menyatakan biaya perawatan korban luka bakar Bromo ditanggung pemerintah daerah dengan berkoordinasi dengan pengelola taman nasional.<br />
Santunan merupakan bentuk dukungan bagi keluarga, tetapi tentu tidak menggantikan kewajiban mencegah kecelakaan berikutnya.</p>
<p>Penindakan pembakaran yang disengaja<br />
Kepala BNPB menyatakan akan mendorong penegakan hukum apabila ditemukan indikasi orang yang sengaja membakar lahan. Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat dan pemegang izin usaha untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.<br />
Pencegahan tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Sumber kebakaran perlu ditelusuri dan pelanggaran harus ditindak sesuai bukti.</p>
<p>Apa yang masih harus dilakukan agar tragedi ini tidak berulang?</p>
<p>Berdasarkan pola kematian yang dilaporkan, ada beberapa langkah yang layak menjadi tolok ukur evaluasi pemerintah.<br />
&#8211; Jangan mengirim relawan tanpa perlengkapan minimum. Respirator yang sesuai, pakaian dan sarung tangan pelindung, alat komunikasi, air minum, serta perlengkapan pertolongan pertama harus tersedia sebelum personel dikerahkan. Masker biasa tidak cukup untuk semua risiko asap kebakaran.<br />
&#8211; Terapkan komando dan petugas keselamatan di setiap operasi berisiko. Harus ada pemantauan arah angin, jalur keluar, lokasi aman, batas waktu kerja, dan wewenang menghentikan operasi ketika situasi memburuk.<br />
&#8211; Tetapkan ambang penarikan personel yang jelas. Perubahan arah angin, api yang mengepung, asap yang mengurangi jarak pandang, dan kelelahan harus menjadi alasan untuk menarik atau mengganti tim, bukan sekadar imbauan.<br />
&#8211; Pastikan akses evakuasi dan respons medis. Setiap operasi harus mempunyai rencana komunikasi darurat, kendaraan atau jalur evakuasi, serta akses cepat ke layanan kesehatan.<br />
&#8211; Lakukan penyelidikan yang terbuka. Untuk kasus Bromo, pemerintah perlu menjelaskan kronologi terperinci, kondisi lapangan, perlengkapan yang digunakan, keputusan komando, dan faktor yang membuat enam personel terjebak. Hasil evaluasi seharusnya diikuti perubahan SOP yang dapat diperiksa publik.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Kabar tentang 10 petugas dan relawan yang meninggal saat menangani karhutla pada 2026 didukung oleh laporan media yang merujuk pada BNPB dan instansi daerah. Keenam korban di Bromo menghadapi bahaya api dan luka bakar, sementara sejumlah korban di Kalimantan mengalami gangguan pernapasan setelah bertugas.<br />
Pemerintah sudah menjalankan operasi pemadaman, menyampaikan evaluasi, mengingatkan SOP keselamatan, dan memberikan bantuan kepada sebagian keluarga. Namun, dari informasi publik yang tersedia hingga 25 Oktober 2026, belum terlihat bahwa evaluasi menyeluruh pascatragedi telah selesai dan rekomendasinya sudah diterapkan secara nasional.<br />
Ukuran keberhasilan pemerintah bukan semata-mata jumlah titik api yang dipadamkan atau luas lahan yang diselamatkan. Keselamatan orang yang memadamkan api juga harus menjadi indikator utama.<br />
Relawan yang datang untuk menyelamatkan hutan dan masyarakat tidak boleh dibiarkan menanggung risiko yang sebenarnya dapat dikurangi melalui perlengkapan, pelatihan, komando, dan sistem evakuasi yang memadai.</p>
<p>Depok, 25 Oktober 2026 **</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Alfabet ke Algoritma: Manusia dalam Tata Bahasa Mesin</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/dari-alfabet-ke-algoritma-manusia-dalam-tata-bahasa-mesin</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2026 06:15:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Alfabet ke Algoritma: Manusia dalam Tata Bahasa Mesin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12801</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Heri Isnaini &#8211; BANDUNG, SUARA ANAK NEGERI&#124; Suatu hari, saya memandangi papan ketik laptop lebih lama dari biasanya. Jari-jari saya bergerak di antara huruf-huruf yang seolah tersusun tanpa pola: Q-W-E-R-T-Y. Saya mengetik tanpa berpikir, seakan-akan posisi setiap huruf telah menjadi bagian dari ingatan tubuh. Namun, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan sederhana: mengapa manusia menerima susunan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Heri Isnaini</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>BANDUNG, SUARA ANAK NEGERI</strong>| Suatu hari, saya memandangi papan ketik laptop lebih lama dari biasanya. Jari-jari saya bergerak di antara huruf-huruf yang seolah tersusun tanpa pola: Q-W-E-R-T-Y. Saya mengetik tanpa berpikir, seakan-akan posisi setiap huruf telah menjadi bagian dari ingatan tubuh. Namun, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan sederhana: mengapa manusia menerima susunan huruf yang tidak alfabetis ini? Mengapa bukan A-B-C-D, urutan yang sejak kecil kita kenal sebagai lambang keteraturan?</p>
<p>Pertanyaan itu membawa saya pada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tata letak papan ketik. Ia mengantar saya pada hubungan antara manusia, bahasa, dan teknologi; tentang bagaimana sesuatu yang diciptakan manusia perlahan-lahan justru membentuk kebiasaan penciptanya sendiri.</p>
<p>Sejak kecil, kita belajar mengenali alfabet sebagai susunan yang teratur. A mendahului B, B mendahului C, dan seterusnya. Urutan itu menjadi dasar bagi banyak hal: mengeja, membaca kamus, menyusun daftar, hingga mengenali dunia melalui bahasa. Alfabet menghadirkan kesan bahwa segala sesuatu dapat ditata, diberi tempat, dan dipahami melalui urutan. Ada semacam ketenteraman dalam keteraturan tersebut, seolah-olah dunia bisa dikenali sedikit demi sedikit, huruf demi huruf.</p>
<p>Akan tetapi, keteraturan alfabetis tidak selalu menjadi prinsip utama dalam teknologi. Ketika mesin tik berkembang, kebutuhan mekanis ikut menentukan cara huruf ditempatkan. Tata letak QWERTY yang kemudian dikenal luas berkaitan dengan sejarah desain mesin tik dan upaya mengatasi persoalan teknis dalam mekanisme pengetikan. Jadi, susunan huruf pada papan ketik bukanlah hasil dari pertimbangan alfabetis semata. Ia merupakan jejak kompromi antara bahasa dan mesin, antara kebiasaan manusia dan tuntutan teknologi.</p>
<p>Di situlah saya mulai melihat QWERTY sebagai sesuatu yang menarik. Huruf-huruf tidak lagi ditempatkan berdasarkan urutan yang kita pelajari sejak kecil, tetapi berdasarkan rancangan yang lahir dari kebutuhan teknis. Susunan itu kemudian diwariskan dari mesin tik ke komputer, lalu ke laptop dan telepon pintar. Teknologi berubah, perangkat berganti, tetapi susunan huruf tersebut tetap bertahan.</p>
<p>Manusia pun menyesuaikan diri. Kita menghafal posisi huruf, melatih jari, dan membangun kebiasaan mengetik tanpa harus memikirkan letak setiap karakter. Lama-kelamaan, QWERTY tidak lagi terasa asing. Kita menerimanya sebagai sesuatu yang alamiah, padahal ia merupakan hasil sejarah dan pilihan desain manusia.</p>
<p>Barangkali di sinilah teknologi memperlihatkan kekuatannya yang paling halus. Ia tidak selalu mengubah manusia melalui paksaan atau larangan. Kadang-kadang, ia bekerja melalui pengulangan. Sesuatu yang mula-mula terasa janggal, ketika digunakan terus-menerus, berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu kemudian dianggap wajar, bahkan sulit dibayangkan memiliki alternatif.</p>
<p>Kita dapat menemukan gejala serupa dalam kehidupan sehari-hari. Jam kerja mengikuti sistem yang dibangun oleh organisasi dan mesin. Cara berkomunikasi menyesuaikan diri dengan karakter media sosial. Perhatian kita dipanggil oleh notifikasi, sementara apa yang kita baca sering kali ditentukan oleh algoritma. Tanpa disadari, manusia tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga belajar menjalani hidup berdasarkan ritme yang ditetapkan teknologi.</p>
<p>Dalam konteks ini, QWERTY menjadi metafora kecil tentang peradaban modern. ABCD melambangkan keteraturan yang kita pelajari dan warisi, sedangkan QWERTY mengingatkan kita bahwa keteraturan itu dapat berubah ketika manusia berhadapan dengan kebutuhan baru. Namun, perubahan tersebut menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar: sampai sejauh mana manusia membentuk teknologi, dan sejak kapan teknologi mulai membentuk manusia?</p>
<p>Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita memasuki zaman algoritma. Jika QWERTY mengatur posisi jari saat mengetik, algoritma secara perlahan mengatur posisi perhatian kita. Algoritma menentukan konten yang muncul di beranda, merekomendasikan video yang mungkin kita sukai, menyodorkan berita yang dianggap relevan, dan menyusun urutan informasi yang kita konsumsi setiap hari. Kita merasa sedang memilih apa yang ingin dibaca atau ditonton, tetapi pilihan tersebut sering kali telah didahului oleh sistem yang memilah apa yang layak muncul di hadapan kita.</p>
<p>Di sinilah tata bahasa mesin menemukan maknanya. Mesin tidak menggunakan tata bahasa sebagaimana manusia menyusun kalimat. Namun, sistem digital memiliki aturan, pola, dan logika yang mengatur bagaimana informasi diproses, disajikan, serta ditanggapi. Dalam ruang digital, manusia berhadapan dengan tata aturan yang tidak selalu terlihat, tetapi dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Apa yang sering muncul terasa penting. Apa yang memperoleh banyak perhatian tampak layak dipercaya. Sementara itu, sesuatu yang tidak masuk ke dalam arus rekomendasi berisiko luput dari pandangan.</p>
<p>Algoritma, dengan demikian, bukan sekadar urusan teknis. Ia turut menjadi bagian dari pengalaman kebudayaan. Cara kita memahami popularitas, kebenaran, bahkan nilai sebuah karya dapat dipengaruhi oleh angka tayangan, jumlah tanda suka, komentar, dan tingkat keterlibatan pengguna. Tulisan yang mendalam belum tentu memperoleh perhatian besar, sedangkan pernyataan provokatif dapat menyebar luas sebab memancing reaksi. Ukuran keterlihatan perlahan-lahan berpotensi menggantikan pertimbangan tentang kualitas.</p>
<p>Dalam konteks bahasa dan sastra, perubahan ini menarik sekaligus mengkhawatirkan. Bahasa tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kebudayaan yang menggunakannya. Cara manusia menulis, membaca, dan menyampaikan gagasan selalu berhubungan dengan perangkat yang tersedia pada zamannya. Kehadiran mesin cetak mengubah cara teks diproduksi dan disebarluaskan. Komputer membuat proses penyuntingan lebih mudah. Telepon pintar memungkinkan tulisan diproduksi dan dibagikan dalam hitungan detik.</p>
<p>Perubahan perangkat turut memengaruhi kebiasaan berbahasa. Kita terbiasa menulis pesan singkat, menggunakan singkatan, menyisipkan simbol, dan merespons sesuatu dengan cepat. Teks bergerak bersama kecepatan teknologi. Dalam media sosial, sebuah kalimat dapat menjadi viral sebelum sempat dipikirkan kembali oleh penulisnya. Kecepatan menjadi keunggulan sekaligus persoalan: kita semakin mudah berbicara, tetapi belum tentu semakin cermat dalam memilih kata.</p>
<p>Tentu saja, perubahan tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai akibat langsung dari susunan QWERTY atau algoritma. Teknologi bukan satu-satunya faktor yang membentuk kebiasaan manusia. Pendidikan, lingkungan sosial, kepentingan ekonomi, dan kebudayaan juga memiliki peran penting. Namun, melalui papan ketik dan sistem rekomendasi digital, kita dapat melihat bagaimana desain teknis, kebiasaan tubuh, dan praktik kebahasaan saling memengaruhi.</p>
<p>Persoalannya bukan semata-mata apakah teknologi membawa kemajuan, melainkan bagaimana manusia menempatkan dirinya di tengah kemajuan itu. Kita tentu tidak perlu menolak mesin tik, komputer, media sosial, atau kecerdasan artifisial hanya sebab semuanya mengubah kebiasaan. Teknologi dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, memudahkan pekerjaan, membuka ruang kreativitas, dan menghubungkan manusia yang terpisah oleh jarak. Akan tetapi, kemudahan tersebut perlu disertai kesadaran agar kita tidak menyerahkan seluruh keputusan kepada sistem yang bekerja di balik layar.</p>
<p>Ketika sebuah mesin menawarkan jawaban, kita tetap perlu bertanya tentang ketepatannya. Ketika algoritma menyajikan informasi, kita perlu memeriksa apa yang tidak ditampilkannya. Ketika kecerdasan artifisial membantu menulis, kita perlu memastikan bahwa gagasan, penilaian, dan tanggung jawab intelektual tidak sepenuhnya dialihkan kepada mesin. Teknologi dapat membantu manusia berpikir, tetapi tidak semestinya menjadi alasan bagi manusia untuk berhenti berpikir.</p>
<p>Meski demikian, manusia tidak sepenuhnya tunduk pada logika mesin. Ada sesuatu yang selalu melampaui fungsi mekanis sebuah perangkat. Dari papan ketik yang sama, orang dapat menulis laporan administratif, menyusun argumen ilmiah, mengirim surat cinta, merangkai doa, atau menciptakan puisi tentang kesepian. Tombol-tombol itu mungkin sama, tetapi makna yang lahir darinya tidak pernah seragam.</p>
<p>Di sinilah bahasa menunjukkan daya hidupnya. Mesin menyediakan kemungkinan, tetapi manusia tetap memberi arah dan makna. Teknologi dapat mempercepat penulisan, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin kedalaman pikiran. Algoritma dapat membantu menyebarkan tulisan, tetapi tidak otomatis membuatnya bijaksana. Kecepatan mengetik tidak selalu sebanding dengan kecepatan memahami, apalagi dengan kemampuan merenungkan sesuatu secara mendalam.</p>
<p>Mungkin sebab itu, sesekali kita perlu berhenti di depan papan ketik dan mengingat bahwa setiap teknologi memiliki sejarah. Sesuatu yang hari ini terasa alamiah mungkin terbentuk dari keputusan-keputusan masa lalu. Sesuatu yang kita anggap sebagai kebiasaan pribadi mungkin sesungguhnya merupakan hasil dari sistem yang lebih besar. Kesadaran semacam ini penting agar kita tidak sekadar mengikuti teknologi, tetapi juga mampu mempertanyakan cara teknologi mengarahkan kehidupan kita.</p>
<p>Dari alfabet ke algoritma, perjalanan itu bukan semata-mata kisah tentang perubahan perangkat atau perkembangan sistem digital. Ia adalah kisah tentang manusia yang menciptakan alat, menyesuaikan diri dengannya, lalu mewariskan kebiasaan tersebut kepada generasi berikutnya. Kita belajar kepada mesin, bukan sebab mesin selalu lebih bijaksana, melainkan sebab kita terus hidup bersama perangkat yang kita ciptakan sendiri.</p>
<p>Namun, ada satu hal yang semestinya tidak kita serahkan sepenuhnya kepada mesin: kemampuan untuk berpikir, merasakan, dan memberi makna. Sebab, pada akhirnya, yang membuat sebuah tulisan berharga bukanlah susunan tombol yang digunakan untuk mengetiknya, bukan pula seberapa sering tulisan itu muncul dalam rekomendasi algoritma, melainkan kesadaran manusia yang bekerja di balik setiap kata.</p>
<p>Barangkali masa depan bukanlah pertarungan antara manusia dan mesin, melainkan ujian tentang bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah sistem yang semakin cerdas. Kita boleh belajar dari mesin, memanfaatkan algoritma, dan berdamai dengan perubahan. Namun, kita perlu menjaga jarak kritis agar tidak kehilangan kebebasan untuk menentukan apa yang penting, apa yang benar, dan apa yang layak diperjuangkan.</p>
<p>Sebab, jika alfabet membantu kita menyusun kata dan algoritma membantu mesin menyusun informasi, tugas manusialah memastikan bahwa semua susunan itu tetap memiliki makna. Kita mungkin hidup dalam tata bahasa mesin, tetapi semestinya tidak membiarkan mesin menjadi satu-satunya penentu bahasa kehidupan kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bandung, 24 Oktober 2026</p>
<p><strong><b> </b></strong></p>
<p><strong><b> </b></strong></p>
<p><strong><b> </b></strong></p>
<p><strong><b>Penulis:</b></strong></p>
<p>Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: <a href="mailto:heriisnaini.heriisnaini@gmail.com"><u>heriisnaini.heriisnaini@gmail.com</u></a><u> </u></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KERUSUHAN DI EROPA: Revolusi Generasi Muda atau Krisis Kontrak Sosial?</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/kerusuhan-di-eropa-revolusi-generasi-muda-atau-krisis-kontrak-sosial</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2026 01:07:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemitraan Pembangunan (SDGs 17)]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Melalui kemitraan strategis lintas institus (SDGs 17)]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[KERUSUHAN DI EROPA]]></category>
		<category><![CDATA[Revolusi Generasi Muda atau Krisis Kontrak Sosial?]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12708</guid>

					<description><![CDATA[*(Oleh Dr. Satrio Arismunandar &#8211; JAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124;Eropa sedang menghadapi gelombang keresahan sosial yang melintasi batas negara. Prancis, Italia, Spanyol, Portugal, Belgia, hingga Albania mengalami demonstrasi besar, aksi mogok, pendudukan ruang publik, dan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Di sejumlah tempat, demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan, disertai pembakaran, perusakan fasilitas umum, dan penjarahan. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>*(Oleh Dr. Satrio Arismunandar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>JAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>|Eropa sedang menghadapi gelombang keresahan sosial yang melintasi batas negara. Prancis, Italia, Spanyol, Portugal, Belgia, hingga Albania mengalami demonstrasi besar, aksi mogok, pendudukan ruang publik, dan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Di sejumlah tempat, demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan, disertai pembakaran, perusakan fasilitas umum, dan penjarahan.</p>
<p>Gelombang ini berlangsung dalam waktu berdekatan, tetapi tidak seluruhnya mempunyai penyebab yang sama. Di Prancis, protes bermula dari persoalan pendidikan dan kekurangan guru, lalu meluas menjadi kritik terhadap biaya hidup dan layanan publik. Di Spanyol dan Portugal, persoalan perumahan menjadi sumber kemarahan. Di Italia, tekanan biaya hidup dan persoalan layanan publik ikut mendorong demonstrasi. Sementara di Albania, tuntutan antikorupsi dan ketidakpuasan terhadap pemerintah menjadi bagian penting dari gerakan protes.</p>
<p>Pertanyaan besarnya: apakah Eropa sedang menyaksikan lahirnya revolusi generasi muda, ataukah kita sedang melihat krisis yang lebih mendasar dalam hubungan antara negara dan masyarakat?<br />
Jawabannya mungkin mencakup keduanya. Generasi muda memang menjadi salah satu motor penting mobilisasi, tetapi keresahan yang mereka suarakan berakar pada persoalan struktural yang juga dirasakan kelompok usia lain.</p>
<p><strong>Pemicu Berbeda, Keresahan Serupa</strong></p>
<p>Di Prancis, gelombang protes pelajar mencuat akibat kekurangan guru, ruang kelas yang padat, dan buruknya fasilitas sekolah. Tuntutan tersebut kemudian bertemu dengan ketidakpuasan pekerja dan kelompok masyarakat lain terhadap meningkatnya biaya hidup, tekanan fiskal, serta kualitas pelayanan publik.</p>
<p>Di Spanyol, krisis perumahan menjadi persoalan yang sangat nyata. Harga sewa yang tinggi membuat banyak anak muda kesulitan hidup mandiri, bahkan ketika mereka telah bekerja. Situasi serupa terlihat di Portugal, tempat kenaikan harga rumah dan sewa memperlebar jarak antara pendapatan masyarakat dan biaya untuk memperoleh tempat tinggal.<br />
Italia menghadapi keresahan mengenai daya beli dan layanan publik, sementara di Belgia demonstrasi pelajar turut dipicu persoalan biaya pendidikan. Di Albania, gerakan protes yang berkembang sejak Mei 2026 terkait kontroversi pembangunan kawasan pesisir yang dilindungi kemudian bertemu dengan kemarahan atas dugaan korupsi dan ketidakpuasan terhadap sistem politik. Pelajar ikut bergabung ketika gerakan itu meningkat pada Oktober.</p>
<p>Dengan demikian, tidak ada satu pemicu tunggal yang menjelaskan semua kerusuhan tersebut. Setiap negara mempunyai sejarah politik, kondisi ekonomi, dan persoalan domestik yang berbeda.<br />
Namun, di balik perbedaan itu terdapat kemiripan: banyak warga merasa semakin sulit memperoleh kehidupan yang layak, sementara institusi politik dianggap tidak cukup cepat atau efektif menjawab kebutuhan mereka. Inilah benang merah pertama dari gelombang keresahan Eropa.</p>
<p>Benang Merahnya: Masa Depan yang Semakin Sulit Dijangkau<br />
Jika harus dirumuskan dalam satu kalimat, keresahan yang menyatukan berbagai protes ini adalah menurunnya keyakinan bahwa bekerja keras, belajar, dan menaati aturan akan menjamin kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Selama puluhan tahun, salah satu janji utama masyarakat Eropa modern adalah mobilitas sosial. Pendidikan membuka peluang kerja, pekerjaan memberikan penghasilan, dan penghasilan memungkinkan seseorang memiliki rumah serta membangun keluarga.</p>
<p>Namun, janji itu semakin sulit diwujudkan bagi sebagian masyarakat, terutama generasi muda.<br />
Seseorang bisa mempunyai gelar pendidikan tetapi menghadapi persaingan kerja yang ketat. Ia bisa memperoleh pekerjaan, tetapi pendapatannya tidak cukup untuk menyewa rumah secara mandiri. Ia bisa bekerja penuh waktu, tetapi tetap kesulitan membangun tabungan atau membeli tempat tinggal.</p>
<p>Ketika keadaan seperti ini berlangsung lama, persoalannya tidak lagi sebatas kemiskinan. Yang muncul adalah perasaan bahwa sistem sosial tidak memberikan imbalan yang sepadan atas usaha seseorang.<br />
Laporan mengenai gelombang protes Eropa pada Oktober ini menunjukkan bahwa mahalnya perumahan, tekanan biaya hidup, keterbatasan layanan publik, dan ketidakpastian masa depan menjadi keluhan lintas negara.</p>
<p>Ada perbedaan penting antara kemiskinan dan hilangnya harapan. Kemiskinan berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, sedangkan hilangnya harapan terjadi ketika seseorang tidak lagi percaya bahwa keadaan hidupnya bisa diperbaiki melalui jalur yang tersedia.<br />
Dalam kondisi kedua, kemarahan sosial berpotensi menjadi jauh lebih besar. Masyarakat tidak hanya menuntut bantuan ekonomi, tetapi juga mempertanyakan legitimasi sistem yang mengatur kehidupan mereka.</p>
<p><strong>Apakah Generasi Muda Menjadi Penentu?</strong></p>
<p>Generasi muda mempunyai peran penting, tetapi menyebut mereka sebagai satu-satunya penyebab atau penggerak seluruh kerusuhan akan terlalu menyederhanakan persoalan. Ada tiga alasan mengapa anak muda menjadi kekuatan mobilisasi yang menonjol.</p>
<p>Pertama, mereka berada di garis depan ketidakpastian masa depan. Bagi generasi yang sedang memasuki dunia kerja, harga rumah, kualitas pendidikan, peluang kerja, dan kemampuan membangun keluarga bukanlah persoalan abstrak. Semua itu menentukan apakah mereka bisa menjalani kehidupan mandiri.</p>
<p>Kedua, generasi muda memiliki kemampuan mobilisasi melalui jejaring digital. Informasi mengenai ketidakadilan, video bentrokan, dan ajakan demonstrasi dapat menyebar dengan cepat. Media sosial memungkinkan kemarahan yang sebelumnya terpisah-pisah berubah menjadi kesadaran bahwa banyak orang menghadapi masalah serupa. Ketiga, anak muda cenderung memiliki lebih sedikit kepentingan material yang ingin mereka pertahankan dibandingkan sebagian kelompok yang telah mapan. Mereka mungkin belum memiliki rumah, tabungan besar, atau posisi sosial yang stabil. Karena itu, mereka dapat lebih terbuka terhadap tuntutan perubahan mendasar.</p>
<p>Namun, hal ini bukan berarti seluruh generasi muda bersikap radikal atau mendukung kekerasan. Banyak yang menyampaikan tuntutan secara damai. Selain itu, demonstrasi di berbagai negara juga melibatkan pekerja, serikat buruh, keluarga, kelompok masyarakat sipil, dan warga yang lebih tua.<br />
Di Prancis, misalnya, protes pelajar berkembang menjadi gerakan yang lebih luas setelah memperoleh dukungan kelompok pekerja dan aktivis. Di Albania, mahasiswa bergabung dengan gerakan yang sebelumnya telah menyoroti persoalan pembangunan dan tata kelola pemerintahan.</p>
<p>Karena itu, generasi muda lebih tepat dipahami sebagai katalisator perubahan: kelompok yang mempercepat, memperluas, dan memberikan energi kepada ketidakpuasan yang telah berkembang sebelumnya. Mereka bisa menjadi pemantik, tetapi bahan bakarnya adalah persoalan sosial yang lebih luas.</p>
<p><strong>Bukan Semata-mata Konflik Kaya dan Miskin</strong></p>
<p>Dimensi ekonomi tentu penting, tetapi konflik ini tidak cukup dijelaskan sebagai pertarungan antara orang kaya dan orang miskin.<br />
Masalah yang lebih mendasar adalah ketimpangan akses terhadap kesempatan. Dua orang dapat memiliki pekerjaan, tetapi menghadapi masa depan yang sangat berbeda karena perbedaan pendapatan, aset keluarga, tempat tinggal, dan akses pendidikan.</p>
<p>Di sinilah perumahan menjadi simbol yang sangat kuat. Rumah bukan hanya barang ekonomi, melainkan fondasi kehidupan mandiri. Ketika harga rumah dan sewa meningkat lebih cepat daripada kemampuan pendapatan masyarakat, kelompok yang telah memiliki aset memperoleh keuntungan yang tidak otomatis dinikmati oleh mereka yang belum memilikinya.<br />
Ketimpangan kemudian berpotensi berkembang menjadi ketimpangan antargenerasi. Sebagian anak muda bisa membeli rumah berkat bantuan keluarga, sedangkan yang lain harus mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk menyewa tempat tinggal.</p>
<p>Kesenjangan semacam ini dapat melahirkan perasaan bahwa keberhasilan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh kerja keras, tetapi juga oleh keadaan keluarga tempat seseorang dilahirkan.<br />
Meski demikian, faktor ekonomi bukan penjelasan tunggal. Kasus Albania memperlihatkan bahwa dugaan korupsi, persoalan lingkungan, dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dapat menjadi pemicu utama. Di negara lain, kualitas pendidikan atau kebijakan publik lebih menonjol. Benang merahnya bukan hanya kemiskinan, melainkan persepsi bahwa kekuasaan dan sumber daya tidak dikelola untuk kepentingan masyarakat secara adil.</p>
<p><strong>Apakah Ini Satu Gerakan Revolusioner Eropa?</strong></p>
<p>Belum ada dasar yang cukup untuk menyebut semua demonstrasi tersebut sebagai satu revolusi Eropa yang terorganisasi.<br />
Kesamaan waktu, slogan, atau keluhan tidak otomatis membuktikan adanya satu komando maupun organisasi lintas negara. Pemberitaan mengenai gelombang protes ini justru menunjukkan bahwa demonstrasi berlangsung secara terpisah, dengan tuntutan dan dinamika politik domestik masing-masing.</p>
<p>Namun, ketiadaan satu komando tidak berarti tidak ada hubungan antargerakan. Media sosial memungkinkan para demonstran mengetahui pengalaman masyarakat di negara lain, mengadopsi cara mobilisasi, dan melihat bahwa persoalan mereka bukan sepenuhnya kasus individual.</p>
<p>Gerakan lokal dengan demikian dapat memperoleh inspirasi dari gerakan lain tanpa harus berada dalam organisasi yang sama.<br />
Ada pula risiko politik yang perlu diperhatikan. Ketika demonstrasi damai bercampur dengan aksi perusakan dan bentrokan, tuntutan awal dapat tenggelam oleh isu keamanan. Kelompok politik tertentu kemudian bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk memperkuat agenda mereka, baik dengan menjanjikan ketertiban maupun dengan mengkritik ketidakadilan sosial.</p>
<p>Di Prancis, misalnya, kerusuhan menambah tekanan terhadap Presiden Emmanuel Macron menjelang berakhirnya masa jabatannya dan pemilihan presiden 2027. Di Albania, protes langsung berhadapan dengan persoalan kepercayaan terhadap pemerintah. Konsekuensi politiknya berbeda, meskipun sama-sama memperlihatkan rapuhnya hubungan antara masyarakat dan pemegang kekuasaan.</p>
<p><strong>Krisis Kontrak Sosial Eropa</strong></p>
<p>Gelombang keresahan ini memperlihatkan bahwa stabilitas masyarakat tidak cukup dijamin melalui pertumbuhan ekonomi, pemilu, atau kekuatan aparat keamanan. Masyarakat juga membutuhkan keyakinan bahwa sistem yang berlaku memberikan kesempatan yang adil dan masa depan yang layak.</p>
<p>Generasi muda menjadi penentu bukan karena mereka sendirian menanggung seluruh persoalan, melainkan karena mereka berada pada tahap kehidupan ketika janji mengenai masa depan seharusnya mulai terwujud. Ketika janji itu terasa semakin jauh, kekecewaan mereka dapat menjadi kekuatan politik yang besar.</p>
<p>Namun, apakah gelombang ini akan berkembang menjadi perubahan struktural atau mereda sebagai rangkaian protes sesaat, masih terlalu dini untuk dipastikan.<br />
Yang jelas, pemerintah Eropa tidak dapat menjawab persoalan ini hanya dengan menertibkan jalanan. Mereka perlu memperbaiki layanan publik, memperluas akses perumahan, meningkatkan kesempatan kerja, dan memastikan kebijakan ekonomi tidak membebankan biaya penyesuaian secara tidak proporsional kepada kelompok yang paling rentan.<br />
Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar ketertiban di jalanan, melainkan kepercayaan terhadap kontrak sosial: keyakinan bahwa negara, masyarakat, dan generasi yang berbeda masih mempunyai masa depan bersama.</p>
<p>Jika keyakinan itu dapat dipulihkan, protes bisa menjadi koreksi demokratis yang produktif. Namun, jika keresahan terus diabaikan, kemarahan yang hari ini muncul melalui demonstrasi berpotensi berubah menjadi ketidakpercayaan politik yang lebih dalam, menguatnya ekstremisme, dan ketidakstabilan yang berkepanjangan.<br />
Eropa kini menghadapi ujian bukan hanya tentang bagaimana menjaga ketertiban, melainkan juga bagaimana membuat masa depan kembali terasa mungkin bagi warganya. #</p>
<p>Jakarta, 20 Oktober 2026</p>
<p>&#8211;</p>
<p>*(Dr. Satrio Arismunandar, lulusan S3 Filsafat FIB Universitas Indonesia, aktivis Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) di era Orde Baru 1990-an. WA: 081286299061</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ijazah bagi Kekuasaan</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/ijazah-bagi-kekuasaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2026 22:14:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah bagi Kekuasaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12693</guid>

					<description><![CDATA[Yudi Latif &#8211; YOGYAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Di berbagai belahan dunia, demokrasi tumbuh dengan keyakinan yang berbeda tentang siapa yang berhak memimpin sebuah bangsa. Setiap negara merumuskan persyaratannya sendiri untuk memastikan bahwa kekuasaan diperoleh melalui proses yang sah. Namun, tidak semua negara menjadikan pendidikan formal sebagai syarat untuk menjadi presiden. Di Amerika Serikat, seseorang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<header class="x1n2onr6 x9f619 x78zum5 x6s0dn4 xh8yej3 x185czh x1j6awrg x1te75w5 x1iygr5g x4eaejv xcock1l xl9llhp x1qj619r x1r9ni5o xb1pvdl x16uhe5s x889kno x1a8lsjc xdx6fka xvtqlqk x1s928wv x1h1zc6f x1280gxy xstzfhl x11iowje" data-testid="conversation-header">
<div class="x78zum5 x6s0dn4 x1iyjqo2 x1r8uery xeuugli x101abm8 x1s73dr8 xbzw7fd">
<div class="x78zum5 xdt5ytf x1iyjqo2 xl56j7k xeuugli xtnn1bt x9v5kkp xmw7ebm xrdum7p" tabindex="0" role="button" data-testid="conversation-info-header" data-tab="6"></div>
</div>
</header>
<div class="x1n2onr6 x1vjfegm x1cqoux5 x14yy4lh" data-testid="conversation-panel-body">
<div class="x5yr21d">
<div class="xnpuxes x5yr21d copyable-area">
<div class="x10l6tqk x13vifvy x1o0tod xupqr0c x9f619 x78zum5 xdt5ytf xh8yej3 x5yr21d x6ikm8r x1rife3k xjbqb8w x1ewm37j" tabindex="0" data-testid="conversation-panel-messages" data-scrolltracepolicy="wa.web.conversation.messages">
<div class="x3psx0u x12xbjc7 x1c1uobl x1yjeaew xh8yej3 xquzyny xvc5jky x11t971q" tabindex="0" data-tab="8">
<div class="x1n2onr6">
<div class="" tabindex="-1" role="row">
<div class="x1n2onr6 xscbp6u" tabindex="-1" data-id="ACA695FBAD3DE44D5F9472229C1B1BA1" data-testid="conv-msg-ACA695FBAD3DE44D5F9472229C1B1BA1">
<div class="x78zum5 xdt5ytf" data-virtualized="false">
<div class="x78zum5 xdt5ytf x1hx0egp x1h3r9g6 x1ld4j5a x1q6425o x1h2wzp9 x13bx8za xgmf7it xcjqink xg7f59e xxfb629 x141l45o x1n33gsf xa25jmb xg5uraw xt5wqpu x1utqab1 x1ijczrz xqxqsie x10amw33 x1cy8zhl focusable-list-item x1klvx2g xahtqtb">
<div class="x1liijdw xu342n7 xelbjmh x16pgt24 x14ug900 x1c4vz4f x2lah0s xdl72j9 x12lqup9 x17fgdl5 x1n2onr6 x1qg1ob xxx6ivz" data-testid="msg-container">
<div class="xu342n7 xelbjmh x16pgt24 x1n2onr6 x12xzxwr x1ew7x2d x1bczwif xgdw1sx false false">
<div class="x9f619 x13nahy2 xyqdw3p x1im30kd xg8j3zb x1djpfga x1n2onr6 x1vjfegm copyable-text" data-pre-plain-text="[08.38, 8/10/2026] +62 878-1640-4138: ">
<div class="xs9asl8 x25sj25 xyqdw3p x11lfxj5">
<div class="x193iq5w xj9w6cj x19v9tvf xk50ysn x78zum5 x1srln1p xvwrcih" role=""><strong>Yudi Latif</strong></div>
<div>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>YOGYAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Di berbagai belahan dunia, demokrasi tumbuh dengan keyakinan yang berbeda tentang siapa yang berhak memimpin sebuah bangsa. Setiap negara merumuskan persyaratannya sendiri untuk memastikan bahwa kekuasaan diperoleh melalui proses yang sah. Namun, tidak semua negara menjadikan pendidikan formal sebagai syarat untuk menjadi presiden.</p>
<p>Di Amerika Serikat, seseorang tidak harus memiliki ijazah SMA, apalagi gelar sarjana, untuk menjadi presiden. Konstitusinya menetapkan persyaratan kewarganegaraan, usia minimum, dan masa tinggal, tanpa mencantumkan jenjang pendidikan formal.</p>
<p>India dan Prancis tidak menetapkan syarat minimum pendidikan formal untuk menjadi presiden. Keduanya mengatur persyaratan lain terkait kelayakan dan proses pencalonan, tetapi tidak menjadikan ijazah sebagai prasyarat hukum.</p>
<p>Fakta ini menunjukkan bahwa tidak ada standar universal yang mewajibkan seorang presiden memiliki tingkat pendidikan tertentu. Ketiadaan syarat pendidikan bukan berarti pendidikan tidak penting, melainkan bahwa ijazah tidak dijadikan ukuran hukum untuk menentukan siapa yang boleh mencalonkan diri.</p>
<p>Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah pendidikan formal menjamin kecakapan seorang pemimpin, ataukah ia hanya salah satu jalan untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan dalam menjalankan kekuasaan?</p>
<p>Ijazah tentu memiliki arti. Ia menandai proses belajar, pengetahuan yang dipelajari, dan standar akademik yang telah dipenuhi. Pendidikan formal membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami persoalan kompleks, dan menyusun argumen secara sistematis. Dalam pemerintahan yang berhadapan dengan persoalan ekonomi, hukum, diplomasi, teknologi, dan kesejahteraan sosial, kemampuan semacam itu sangat dibutuhkan.</p>
<p>Namun, ijazah bukanlah cermin utuh dari manusia yang memilikinya. Ia tidak selalu mencerminkan kebijaksanaan dalam menghadapi konflik, keberanian mengakui kesalahan, kepekaan terhadap penderitaan rakyat, atau kemampuan membedakan kepentingan pribadi dari kepentingan bersama. Pendidikan tinggi tidak otomatis melahirkan integritas dan kecakapan memimpin. Sebaliknya, seseorang yang tidak menempuh pendidikan tinggi mungkin memiliki pengalaman, pengetahuan praktis, dan kepekaan sosial yang tumbuh dari kehidupan.</p>
<p>Pendidikan formal dan kecakapan memimpin dapat saling menguatkan, tetapi keduanya tidak identik. Ijazah merupakan salah satu indikator, bukan ukuran utuh kualitas seorang pemimpin.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan Indonesia?</p>
<p>Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum menetapkan bahwa calon presiden dan wakil presiden harus berpendidikan paling rendah tamat SMA, MA, SMK, MAK, atau sekolah lain yang sederajat. Indonesia tidak mensyaratkan gelar sarjana, tetapi menetapkan pendidikan setingkat SMA atau sederajat sebagai batas minimum pencalonan.</p>
<p>Ketentuan ini menjadi penting ketika ijazah SMA wakil presiden dipersoalkan di ruang publik. Perdebatan tentang dokumen pendidikan segera membuka pertanyaan yang lebih luas: bagaimana memastikan bahwa calon pemimpin memenuhi persyaratan hukum? Dan sejauh mana pendidikan formal seharusnya menjadi ukuran kelayakan seseorang memimpin?</p>
<p>Kedua pertanyaan itu berkaitan, tetapi tidak sama. Yang pertama menyangkut kepatuhan terhadap hukum dan keabsahan dokumen; yang kedua menyangkut gagasan tentang kepemimpinan dan kualitas orang yang dipercaya mengelola negara.</p>
<p>Jika undang-undang menetapkan syarat pendidikan, pemenuhannya harus diperiksa melalui prosedur yang sah, transparan, dan inklusif bagi setiap kandidat. Ini bukan semata-mata soal tinggi atau rendahnya pendidikan, melainkan soal kepastian hukum dan kesetaraan. Hukum kehilangan makna apabila persyaratan yang sama hanya menjadi formalitas bagi sebagian orang, tetapi diterapkan secara ketat kepada orang lain.</p>
<p>Pada saat yang sama, persoalan dokumen pendidikan harus dibahas secara cermat. Tidak adanya atau belum ditemukannya dokumen dalam bentuk tertentu tidak serta-merta membuktikan bahwa seseorang tidak pernah menempuh pendidikan yang dipersyaratkan. Riwayat pendidikan, jalur persekolahan, kesetaraan, dan keabsahan dokumen perlu diperiksa berdasarkan bukti serta prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Dugaan, kekurangan administrasi, ketidakcukupan bukti, dan pemalsuan adalah hal berbeda yang tidak boleh begitu saja disamakan.</p>
<p>Karena itu, polemik ijazah tidak semestinya berhenti pada kecurigaan atau penilaian pribadi. Persoalan pemenuhan syarat hukum harus diuji melalui mekanisme yang berwenang. Sementara itu, masyarakat tetap berhak mempertanyakan apakah peraturan yang berlaku sudah tepat dan diterapkan secara konsisten.</p>
<p>Kita perlu membedakan syarat untuk mencalonkan diri dari ukuran untuk menilai kualitas kepemimpinan. Syarat pencalonan ditetapkan oleh hukum dan harus dipenuhi setiap kandidat. Kualitas kepemimpinan, sebaliknya, terus diuji melalui rekam jejak, integritas, kemampuan mengambil keputusan, keterbukaan terhadap kritik, dan hasil kebijakan.</p>
<p>Memenuhi syarat pendidikan tidak otomatis menjamin seseorang menjadi pemimpin yang baik. Namun, anggapan bahwa ijazah bukan ukuran mutlak kepemimpinan juga tidak membenarkan pengabaian terhadap hukum yang berlaku.</p>
<p>Demokrasi membutuhkan penghormatan terhadap hukum sekaligus kesediaan untuk menguji apakah hukum itu dirumuskan secara masuk akal. Persyaratan pendidikan dapat diperdebatkan, ditinjau, dihilangkan, atau diubah melalui mekanisme yang sah. Apakah batas minimum SMA sudah memadai? Apakah pendidikan tinggi perlu diwajibkan? Ataukah persyaratan semacam itu justru berisiko membatasi kesempatan warga negara untuk berpartisipasi dalam politik?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut patut dibahas dengan mempertimbangkan kebutuhan jabatan, hak politik, dan kesetaraan kesempatan. Namun, selama aturan masih berlaku, penerapannya tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang diperiksa.</p>
<p>Perbandingan antarnegara memperlihatkan bahwa syarat pendidikan formal merupakan pilihan hukum dan politik, bukan ketentuan universal dalam demokrasi. Indonesia menetapkan batas minimum SMA atau sederajat, sementara Amerika Serikat, India, dan Prancis tidak menetapkan tingkat pendidikan formal tertentu sebagai syarat menjadi presiden.</p>
<p>Perbedaan ini membuka ruang bagi perdebatan yang sehat tentang hubungan antara pendidikan, kekuasaan, dan tanggung jawab. Yang dibutuhkan sebuah bangsa mungkin bukanlah pemimpin dengan gelar akademik setinggi mungkin, melainkan pemimpin yang terus bersedia belajar setelah meninggalkan bangku sekolah; yang mau mendengarkan kritik setelah menduduki jabatan; yang tidak merasa paling benar ketika memegang kekuasaan; dan yang memahami bahwa memimpin bukanlah hak istimewa untuk memerintah, melainkan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keputusan kepada rakyat.</p>
<p>Ijazah dapat menjadi bukti bahwa seseorang telah menempuh pendidikan, tetapi tidak menjamin bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya. Pendidikan dapat membuka jalan menuju pengetahuan, tetapi integritas ikut menentukan ke mana pengetahuan itu diarahkan.</p>
<p>Sejarah pada akhirnya tidak hanya mencatat nama sekolah atau gelar di belakang nama seorang pemimpin. Sejarah juga mencatat keputusan yang diambilnya, tanggung jawab yang dipikulnya, dan kehidupan rakyat yang dipengaruhinya.</p>
<p>Sebab, pertanyaan terakhir tentang kekuasaan jauh lebih besar daripada selembar ijazah: setelah memperoleh kekuasaan, untuk siapa ia bekerja, siapa yang ia lindungi, dan apakah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik karena kepemimpinannya?</p>
</div>
</div>
<div class="x6s0dn4 x1i282gy xx9ypkp xd15eu0 x11ecxm0 x78zum5 xl56j7k x193iq5w x6ikm8r x10wlt62 x1n2onr6" tabindex="0" role="button" data-testid="image-thumb" aria-label="Buka gambar">
<div class="x1n2onr6 xh8yej3 x5yr21d" data-testid="media-url-provider">
<div class="x10l6tqk x1vjfegm x78zum5 x6s0dn4 xl56j7k xh8yej3 x5yr21d"></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<div class="x1n2onr6">
<div class="" tabindex="-1" role="row">
<div class="x1n2onr6 xscbp6u" tabindex="-1" data-id="ACA287035A87CF9BA731C24196F37E6D" data-testid="conv-msg-ACA287035A87CF9BA731C24196F37E6D">
<div class="x78zum5 xdt5ytf" data-virtualized="false">
<div class="x78zum5 xdt5ytf x1hx0egp x1h3r9g6 x1ld4j5a x1q6425o x1h2wzp9 x13bx8za xgmf7it xcjqink xg7f59e xxfb629 x141l45o x1n33gsf xa25jmb xg5uraw xt5wqpu x1utqab1 x1ijczrz xqxqsie x10amw33 x1cy8zhl focusable-list-item x1klvx2g xahtqtb">
<div class="x1liijdw xu342n7 xelbjmh x16pgt24 x14ug900 x1c4vz4f x2lah0s xdl72j9 x12lqup9 x17fgdl5 x1n2onr6 x1qg1ob xxx6ivz" data-testid="msg-container">
<div class="xu342n7 xelbjmh x16pgt24 x1n2onr6 x12xzxwr x1ew7x2d x1bczwif xgdw1sx false false">
<div class="x9f619 x13nahy2 xyqdw3p x1im30kd xg8j3zb x1djpfga x1n2onr6 x1vjfegm copyable-text" data-pre-plain-text="[07.25, 13/10/2026] +62 878-1640-4138: ">
<div class="x9f619 x1xtabgy xm7lytj x11lfxj5 xs9asl8 x25sj25">
<div class="x1n2onr6 x1mzt3pk x126k92a x6ikm8r x10wlt62"></div>
<div></div>
<div class="x1n2onr6 x1mzt3pk x126k92a x6ikm8r x10wlt62"></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merawat Kedaulatan Intelektual: Refleksi Keikutsertaan SATUPENA Jawa Timur dalam Sosialisasi &#038; Fasilitasi HAKI Kota Batu</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/merawat-kedaulatan-intelektual-refleksi-keikutsertaan-satupena-jawa-timur-dalam-sosialisasi-fasilitasi-haki-kota-batu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2026 12:36:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Merawat Kedaulatan Intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi Keikutsertaan SATUPENA Jawa Timur dalam Sosialisasi & Fasilitasi HAKI Kota Batu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12685</guid>

					<description><![CDATA[MALANG &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Di era digital yang bergerak tanpa batas, distribusi karya sastra dan seni rupa seolah kehilangan sekat-sekat geografis. Hanya dalam hitungan detik, sebuah naskah puisi, esai kritis, maupun karya lukis dapat diunggah, dibagikan, dan dinikmati oleh publik luas di berbagai penjuru dunia. Namun, di balik kemudahan ekosistem digital tersebut, tersimpan ancaman [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MALANG &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Di era digital yang bergerak tanpa batas, distribusi karya sastra dan seni rupa seolah kehilangan sekat-sekat geografis. Hanya dalam hitungan detik, sebuah naskah puisi, esai kritis, maupun karya lukis dapat diunggah, dibagikan, dan dinikmati oleh publik luas di berbagai penjuru dunia. Namun, di balik kemudahan ekosistem digital tersebut, tersimpan ancaman laten yang kian mengkhawatirkan bagi para kreator: kerentanan terhadap plagiarisme, pembajakan digital, hingga klaim sepihak atas keringat intelektual yang diperjuangkan dengan penuh perenungan.</p>
<p>Kehadiran Perkumpulan Penulis Indonesia (SATUPENA) Jawa Timur dalam kegiatan Sosialisasi &amp; Fasilitasi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Batu pada 14 Oktober 2026 merupakan sebuah langkah strategis yang sangat krusial. Penghargaan berupa sertifikat partisipasi (No. 556/2350/35.79.403/2026) yang diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Abdianto, S.Sos., M.M., bukan sekadar simbol administratif belaka. Lebih dari itu, dokumen tersebut adalah manifestasi dari terbangunnya jembatan kolaborasi yang kokoh antara negara dan komunitas sastra dalam mengamankan marwah karya cipta.</p>
<p><strong>Mengikis Mitos: Dari Beban Birokrasi Menjadi Kedaulatan Kreator</strong></p>
<p>Selama ini, masih melekat pandangan di sebagian kalangan sastrawan dan budayawan bahwa pengurusan HAKI—baik Hak Cipta, Merek, maupun Paten—merupakan prosedur yang rumit, mahal, dan eksklusif bagi korporasi besar. Padahal, paradigma usang ini sudah saatnya diubah secara total.</p>
<p>Bagi seorang penulis, penyair, dan seniman, HAKI adalah paspor legalitas yang memberikan kepastian hukum sekaligus pelindung aset ekonomi. Sebuah karya sastra yang telah dilindungi hak ciptanya memiliki posisi tawar yang bermartabat. Ketika karya tersebut dialihmediakan ke bentuk lain—seperti pementasan teater, musikalisasi puisi, atau skema IP Licensing—penciptanya memiliki kedaulatan penuh baik secara moral maupun material. Tanpa pelindungan hukum yang jelas, karya-karya adiluhung rentan tergerus oleh eksploitasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p><strong>Sinergi Lintas Sektor dalam Ekosistem Kota Kreatif</strong></p>
<p>Keaktifan SATUPENA Jatim dalam agenda fasilitasi HAKI ini membuktikan bahwa komunitas penulis tidak boleh berjalan sendiri secara parsial. Pertumbuhan ekosistem literasi yang sehat membutuhkan tata kelola yang terintegrasi, di mana pemerintah daerah hadir memberikan kemudahan fasilitasi, sementara para kreator terus merawat produktivitas dan kualitas karyanya.</p>
<p>Langkah Dinas Pariwisata Kota Batu dalam memfasilitasi para pelaku kreatif menunjukkan komitmen nyata bahwa Kota Batu tidak hanya dibangun sebagai destinasi pariwisata fisik yang elok (One Stop Holiday), tetapi juga sebagai pusat peradaban kebudayaan yang menghargai kerja-kerja intelektual warganya.</p>
<p><strong>Menyongsong Masa Depan Literasi yang Bermartabat</strong></p>
<p>Apresiasi dan sertifikasi partisipasi ini harus menjadi momentum kebangkitan bersama bagi seluruh penulis, penyair, dan pelaku seni di Jawa Timur. Kita ingin memastikan bahwa setiap bait puisi, setiap lembar esai, dan setiap goresan karya yang lahir dari ketulusan hati para penulis di daerah ini memiliki payung hukum yang kuat dan berdaulat.</p>
<p>Sudah saatnya kita melangkah dengan keyakinan penuh: Lindungi karya, hargai cipta, dan tegakkan martabat kreator. Melalui sinergi yang berkelanjutan antara komunitas dan pemerintah, ekosistem sastra dan ekonomi kreatif di Kota Batu akan terus tumbuh menjadi mercusuar kebudayaan yang berdaya saing tinggi di kancah nasional maupun global.</p>
<p>Merawat Kedaulatan Intelektual: Refleksi Keikutsertaan SATUPENA Jawa Timur dalam Sosialisasi &amp; Fasilitasi HAKI Kota Batu</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wisata Puisi ke Jepang 2026: Merangkai Kata di Negeri Sakura, Menyatukan Hati Lintas Negara</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/esai/wisata-puisi-ke-jepang-2026-merangkai-kata-di-negeri-sakura-menyatukan-hati-lintas-negara</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 23:43:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Menyatukan Hati Lintas Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Puisi ke Jepang 2026: Merangkai Kata di Negeri Sakura]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12606</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Era Nurza &#8211; SUMATERA BARAT &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Sastra tidak mengenal batas geografis. Melalui puisi, kata-kata menjelma jembatan, mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang, budaya, dan bangsa. Semangat inilah yang dibawa komunitas seni sastra PERRUAS dalam kegiatan Wisata Puisi Jepang 2026 bertema “Puisi Menembus Batas, Seni Menyatukan Hati” yang berlangsung pada 2–7 Oktober [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Era Nurza</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>SUMATERA BARAT &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Sastra tidak mengenal batas geografis. Melalui puisi, kata-kata menjelma jembatan, mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang, budaya, dan bangsa. Semangat inilah yang dibawa komunitas seni sastra PERRUAS dalam kegiatan Wisata Puisi Jepang 2026 bertema “Puisi Menembus Batas, Seni Menyatukan Hati” yang berlangsung pada 2–7 Oktober 2026.</p>
<p>Sebanyak 42 penulis dan penyair dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti perjalanan sastra tersebut. Mereka datang dari Aceh, Padang, Riau, Jambi, Jakarta, Jawa Barat, Makassar, Ternate, Kalimantan, serta sejumlah daerah lainnya. Perjalanan ini menjadi ruang perjumpaan bagi para pegiat literasi untuk berbagi gagasan, memperluas wawasan, dan membawa suara sastra Indonesia ke panggung internasional.</p>
<p>Ketua pelaksana, Asrinur, menegaskan bahwa kegiatan wisata puisi tidak hanya perjalanan untuk menikmati keindahan destinasi wisata. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana mempererat hubungan seni dan budaya sekaligus menumbuhkan persahabatan antarbangsa melalui karya sastra.</p>
<p>Jepang dipilih sebagai destinasi karena memiliki daya tarik berupa lingkungan tertata, kebersihan, keindahan alam, serta kekayaan tradisi dan budaya. Selama berada di Negeri Sakura, para peserta diajak mengenal kehidupan masyarakat setempat sekaligus mengunjungi sejumlah destinasi ikonik, antara lain Osaka dengan kawasan Dotonbori, Kyoto yang kaya akan warisan budaya, Nara, Asakusa, dan berbagai tempat menarik lainnya.</p>
<p>Di tengah perjalanan tersebut, setiap sudut kota menawarkan pengalaman berbeda. Keindahan bunga, ketenangan kawasan bersejarah, keteraturan kehidupan masyarakat, hingga pertemuan tradisi dan modernitas dapat menjadi sumber inspirasi bagi para penulis dan penyair. Perjalanan fisik pun berkelindan dengan perjalanan batin, melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam memaknai kehidupan melalui puisi.</p>
<p>PERRUAS bukan kali pertama menyelenggarakan kegiatan sastra lintas negara. Sebelumnya, komunitas ini telah mengadakan wisata puisi ke berbagai destinasi internasional, di antaranya Kairo, Mesir, Oman, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan. Keistimewaan kegiatan ini terletak pada pendekatan edukatifnya.</p>
<p>Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sastra Indonesia memiliki ruang untuk dikenal dan diapresiasi di luar negeri. Salah seorang peserta mengungkapkan kebahagiaannya karena dapat berbagi karya sastra dalam pergaulan internasional, sebuah pengalaman berharga yang memperluas cakrawala sekaligus memperkuat kecintaan terhadap sastra tanah air.</p>
<p>Dalam Wisata Puisi Jepang 2026, kegiatan tidak hanya diisi dengan kunjungan wisata dan pembacaan puisi. Para peserta juga menyelenggarakan peluncuran buku antologi berjudul Memetik Sakura dengan Puisi serta membuat video puisi. Kedua kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan pengalaman sekaligus memperkenalkan kreativitas penyair Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.</p>
<p>Melalui kegiatan ini, PERRUAS berharap puisi Indonesia semakin dikenal di dunia internasional. Wisata puisi menjadi bukti bahwa perjalanan dapat menghadirkan lebih dari sekadar kenangan: ada ilmu, persahabatan, inspirasi, dan karya yang tumbuh dari perjumpaan budaya.</p>
<p>Dari Indonesia menuju Jepang, para penyair membawa aksara sebagai identitas dan puisi sebagai bahasa kemanusiaan. Di Negeri Sakura, mereka tidak hanya memetik keindahan, tetapi juga merangkai pesan bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang untuk saling memahami. Sebab, ketika kata-kata ditulis dengan ketulusan, puisi mampu menembus batas dan menyatukan hati.</p>
<p><strong>Penulis.</strong><br />
Edrawati, M.Pd. dengan nama pena Era Nurza, merupakan guru inspiratif yang meyakini mendidik bukan sekadar mengajar, melainkan membentuk karakter dan menyalakan semangat belajar. Ia membimbing murid berani menulis dan mengekspresikan gagasan melalui karya bermakna. Telah melahirkan enam buku tunggal dan lebih dari lima puluh antologi fiksi maupun nonfiksi. Aktif di berbagai komunitas literasi nasional, kiprahnya meluas hingga kancah internasional melalui kolaborasi produktif bersama komunitas literasi Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Australia, Turki, dan Jepang untuk menggerakkan literasi dunia dengan hati tulus.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PELA: Merawat Perbedaan, Menyambung Perjalanan</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/pela-merawat-perbedaan-menyambung-perjalanan-2</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 23:17:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Menyambung Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[PELA: Merawat Perbedaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12598</guid>

					<description><![CDATA[JOGYAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGRI&#124; Ada sesuatu yang menarik dari cara seseorang membawa masa lalunya ke dalam kehidupan yang terus bergerak. Kita tidak pernah benar-benar berangkat dengan tangan kosong. Ada nama yang diberikan keluarga, bahasa yang pertama kali kita dengar, kebiasaan yang tumbuh di rumah, cerita tentang leluhur, juga ingatan tentang tempat yang mungkin sudah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JOGYAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGRI</strong>| Ada sesuatu yang menarik dari cara seseorang membawa masa lalunya ke dalam kehidupan yang terus bergerak. Kita tidak pernah benar-benar berangkat dengan tangan kosong. Ada nama yang diberikan keluarga, bahasa yang pertama kali kita dengar, kebiasaan yang tumbuh di rumah, cerita tentang leluhur, juga ingatan tentang tempat yang mungkin sudah lama kita tinggalkan. Semua itu ikut membentuk cara kita memandang dunia, merasakan sesuatu, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Kadang-kadang kita menyadarinya, tetapi tidak jarang semuanya bekerja diam-diam, muncul dalam keputusan-keputusan kecil, bahkan dalam sesuatu yang kita ciptakan tanpa sengaja ingin menceritakan asal-usul kita.</p>
<p>Saya kira, dari situlah salah satu pintu untuk memasuki pameran tunggal William Robert, PELA, terbuka. Pameran ini berlangsung di IndieArt House, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pada 17–31 Oktober 2026, dan dibuka oleh Ibu Andonowati pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB. Perupa berdarah Ambon yang lahir di Medan ini kembali ke Yogyakarta dengan karya-karya mutakhir yang bertolak dari pengalaman empirisnya selama menjalani kehidupan dan perjalanan kesenian di Pulau Jawa, yang kerap ia sebut sebagai ufuk Barat.</p>
<p><strong>Warisan, Ingatan, dan Bahasa Rupa</strong></p>
<p>Tajuk PELA membawa ingatan kita pada tradisi persaudaraan masyarakat Maluku, sebuah ikatan yang mempunyai sejarah, nilai, dan tata hubungan sosial tersendiri. Namun, saya tidak ingin berhenti pada pengertian pela sebagai tradisi atau menjadikannya sekadar tema yang harus diterangkan melalui karya. Saya justru tertarik pada kemungkinan lain: bagaimana sebuah warisan budaya hidup di dalam diri seseorang, berjumpa dengan pengalaman baru, lalu memperoleh bentuk dan pemaknaan yang mungkin tidak pernah sepenuhnya direncanakan sejak awal.</p>
<p>Sebagai sesama perupa, saya merasa persoalan ini dekat dengan perjalanan berkesenian. Kita sering membicarakan identitas seolah-olah ia sesuatu yang sudah selesai, semacam tanda pengenal yang cukup disebutkan untuk menjelaskan siapa seseorang. Padahal, identitas tidak sesederhana itu. Ada bagian yang kita terima sejak lahir, ada yang dibentuk oleh lingkungan, ada yang kita pilih setelah melewati pengalaman hidup, dan ada pula yang baru kita pahami ketika berhadapan dengan sesuatu yang sebelumnya tidak kita kenal. Kita memang tidak memilih seluruh keadaan yang membentuk diri kita, tetapi kita mempunyai kesempatan untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermakna.</p>
<p>Dalam seni rupa, proses semacam itu menarik karena tidak selalu berlangsung melalui cerita yang disusun secara sadar. Pengalaman hidup dapat hadir sebagai ingatan yang samar, emosi yang belum menemukan kata-kata, kerinduan yang sulit dijelaskan, atau perasaan yang muncul kembali ketika seseorang berhadapan dengan warna, bentuk, dan material tertentu. Sesuatu yang pernah dialami tidak selalu kembali sebagai gambaran yang utuh. Ia dapat muncul dalam pecahan, berubah bentuk, bercampur dengan pengalaman lain, bahkan menemukan arti yang berbeda setelah bertahun-tahun berlalu.</p>
<p>Saya tertarik melihat kemungkinan itu melalui salah satu karya William, Cengke, Pala, dan Tifa untuk Tanah Baru (2026), sebuah lukisan media campuran di atas kanvas berukuran 200 × 290 cm. Ukuran ini memberi ruang bagi perjumpaan berbagai unsur visual. Bidang-bidang warna saling mendekat, bertumpuk, berpotongan, dan sesekali seperti saling mendesak. Goresan hitam melintasi warna-warna yang kuat, sementara bentuk-bentuk yang menyerupai fragmen figur atau wajah muncul tanpa sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada pengenalan yang pasti.</p>
<p>Merah dan jingga mendominasi sebagian wilayah kiri. Biru tampil kuat di bagian bawah, berhadapan dengan hijau, toska, serta kuning-jingga di wilayah tengah. Di sisi kanan, biru kehijauan, abu-abu, putih, dan bentuk-bentuk yang mengingatkan pada figur saling berhubungan dalam susunan yang tidak sepenuhnya tenang. Ada bagian yang terasa padat, seolah menampung banyak hal sekaligus. Ada pula ruang yang memberi jeda, tetapi tidak benar-benar membebaskan mata dari tarikan unsur-unsur di sekitarnya.</p>
<p>Saya tidak melihat lukisan ini sebagai teka-teki yang harus diselesaikan dengan menemukan arti setiap warna atau mengenali semua bentuk yang tersembunyi. Cara melihat seperti itu justru berisiko membuat lukisan hanya menjadi kumpulan simbol yang menunggu diterjemahkan. Bagi saya, yang lebih menarik adalah bagaimana keseluruhan unsur tersebut bekerja membangun pengalaman visual. Mata bergerak, berhenti, berpindah, menemukan hubungan, lalu kembali berhadapan dengan sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Ada rasa sesak di satu bagian, gerak yang terasa lebih bebas di bagian lain, serta ketegangan yang muncul ketika dua unsur berbeda berada terlalu dekat.</p>
<p>Lukisan ini seolah mengajak kita mengalami sesuatu sebelum buru-buru menjelaskannya. Kita tidak langsung memperoleh sebuah cerita, melainkan memasuki ruang yang penuh pertemuan dan kemungkinan. Bentuk-bentuknya memberi petunjuk, tetapi tidak seluruhnya menyediakan jawaban. Saya menyukai keterbukaan semacam ini karena pengalaman manusia sendiri sering bekerja dengan cara yang serupa. Kita merasakan sesuatu lebih dahulu, menyimpannya dalam ingatan, kemudian baru mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita.</p>
<p>Dalam pengalaman berkarya, saya membayangkan seorang perupa tidak selalu memulai lukisan dengan gagasan yang sudah tertata rapi. Kadang-kadang ada sesuatu yang mengendap lama, tetapi belum jelas bentuknya. Ada pengalaman yang meninggalkan bekas emosional, ada ingatan yang kembali tanpa diminta, atau ada persoalan yang terus bergerak di dalam pikiran meskipun kehidupan sehari-hari telah membawanya ke arah lain. Ketika bekerja, semua itu berhadapan dengan keputusan artistik: warna apa yang digunakan, bagaimana bentuk dibangun, bagian mana yang dibiarkan terbuka, apa yang ditindih, apa yang dihapus, dan kapan sebuah proses dirasakan cukup.</p>
<p>Di dalam proses itu, emosi tidak sekadar dipindahkan ke atas kanvas seperti seseorang memindahkan isi pikiran ke selembar kertas. Emosi mengalami perubahan ketika bertemu dengan material, teknik, dan pertimbangan visual. Ingatan pun tidak kembali sebagai rekaman yang persis sama dengan kejadian semula. Ia bercampur dengan perasaan hari ini, pengetahuan yang diperoleh kemudian, serta harapan tentang sesuatu yang belum terjadi. Pengalaman yang semula bersifat pribadi dapat menemukan bentuk baru yang memungkinkan orang lain ikut merasakan, meskipun mereka tidak pernah mengalami kejadian yang sama.</p>
<p>Di sinilah abstraksi memperoleh arti yang menarik bagi saya. Abstrak bukan semata-mata bentuk yang tidak menyerupai benda atau figur yang mudah dikenali. Ia juga dapat menjadi cara untuk mengolah pengalaman tanpa harus tunduk pada urutan cerita yang harfiah. Perasaan tidak selalu mempunyai bentuk yang pasti; ingatan tidak selalu datang secara lengkap; harapan bahkan belum mempunyai wujud yang dapat kita pegang. Melalui warna, garis, bidang, tekstur, dan hubungan antarbentuk, hal-hal semacam itu dapat memperoleh kehadiran visual tanpa harus berubah menjadi ilustrasi dari suatu peristiwa.</p>
<p>Dalam lukisan William, fragmen figur yang muncul dan menghilang, benturan warna, serta kepadatan goresan memungkinkan kita membayangkan pengalaman yang tidak tersusun sebagai satu kisah tunggal. Saya tidak hendak memastikan bahwa setiap unsur tersebut mewakili emosi atau ingatan tertentu dari dirinya. Itu akan menjadi klaim yang terlalu jauh jika tidak didukung oleh penuturan sang perupa sendiri. Akan tetapi, secara visual, susunan tersebut memberi ruang bagi pembacaan tentang pengalaman yang berlapis: sesuatu yang datang dari masa lalu, bertemu dengan keadaan hari ini, lalu bergerak menuju sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui.</p>
<p>Pengalaman personal, dalam hal ini, tidak harus hadir sebagai pengakuan autobiografis. Ia dapat bekerja lebih halus melalui cara seorang perupa menyusun ruang, memilih warna, mengembangkan bentuk, dan mempertahankan ketegangan dalam komposisi. Yang hadir bukan lagi semata-mata kisah tentang dirinya, melainkan pengalaman yang telah mengalami pengolahan artistik. Di titik itu, lukisan tidak berhenti menjadi milik pengalaman pembuatnya. Ia mulai membuka kemungkinan bagi pengalaman orang lain.</p>
<p>Judul Cengke, Pala, dan Tifa untuk Tanah Baru memberi lapisan pembacaan lain yang tidak kalah penting. Cengkeh dan pala mengingatkan kita pada kekhasan Maluku sekaligus perjalanan panjang rempah-rempah dalam sejarah perjumpaan antarmasyarakat. Keduanya tumbuh dari tanah tertentu, tetapi perjalanan keduanya tidak berhenti di tempat asal. Rempah-rempah melintasi laut, memasuki ruang perdagangan, berpindah tangan, dan menjadi bagian dari kehidupan berbagai masyarakat. Tifa membawa ingatan pada bunyi, irama, dan praktik kebudayaan yang tumbuh dalam kehidupan bersama.</p>
<p>Ketika ketiga unsur tersebut dipertemukan dengan frasa tanah baru, saya menangkap persoalan tentang apa yang dibawa seseorang ketika meninggalkan lingkungan asalnya dan mulai membangun kehidupan di tempat lain. Apa yang tetap tinggal dalam dirinya? Apa yang berubah setelah ia mengalami dunia yang berbeda? Dan bagaimana sesuatu yang diwariskan dapat terus hidup tanpa harus dipertahankan sebagai benda mati yang tidak boleh disentuh oleh pengalaman baru?</p>
<p>Cengkeh dan pala dapat dinikmati oleh orang-orang yang tidak pernah melihat tanah tempat keduanya tumbuh. Begitu pula kebaikan yang lahir dari suatu kebudayaan dapat melampaui batas tempat asalnya. Akan tetapi, perpindahan itu tidak berarti asal-usul kehilangan arti. Justru perjalanan menuju tempat lain dapat membuat seseorang semakin menyadari apa yang dibawanya, apa yang ingin dipertahankan, dan apa yang perlu dipahami kembali.</p>
<p>Pertanyaan ini menyentuh persoalan identitas yang sering kita hadapi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perjalanan kesenian. Identitas memang mempunyai akar sosial dan kultural. Kita mengenal dunia melalui keluarga, lingkungan, bahasa, kebiasaan, nilai, dan hubungan yang mendahului kehadiran kita. Sebelum kita cukup dewasa untuk menentukan pilihan sendiri, banyak hal telah lebih dahulu membentuk cara kita memahami baik dan buruk, kedekatan dan jarak, kehormatan dan rasa malu, rumah dan tanah asal.</p>
<p>Akan tetapi, warisan itu tidak pernah bekerja secara seragam. Dua orang yang tumbuh dalam lingkungan kebudayaan yang sama dapat membawa pengalaman yang berbeda. Apa yang dianggap biasa oleh seseorang mungkin menjadi kenangan yang sangat kuat bagi orang lain. Sebuah bunyi, makanan, nama tempat, atau benda sehari-hari dapat menyimpan kedalaman emosional yang tidak mudah diterangkan kepada orang yang tidak mempunyai pengalaman serupa. Kita tidak hanya mewarisi kebudayaan sebagai kumpulan pengetahuan, melainkan juga sebagai cara merasakan dan memberi arti pada kehidupan.</p>
<p>Karena itu, identitas bukan sekadar sesuatu yang kita ketahui tentang diri sendiri. Ia juga sesuatu yang kita rasakan, jalani, dan terus tafsirkan. Ada nilai yang terasa dekat karena tumbuh bersama kita sejak kecil. Ada ingatan yang baru memperoleh arti setelah kita meninggalkan rumah. Ada pula bagian dari warisan yang sebelumnya tidak kita pahami, tetapi justru menjadi penting ketika berhadapan dengan kehidupan yang berbeda.</p>
<p>William Robert berdarah Ambon, lahir di Medan, dan menempuh perjalanan keseniannya melalui berbagai kota. Pengalaman hidupnya di tanah Jawa mempertemukannya dengan orang-orang yang memberikan kesempatan, menyampaikan kritik, berbagi pengetahuan, serta ikut menempa perjalanan hidup dan keseniannya. Dalam narasi pameran, ia menyebut proses tersebut sebagai “membaca Pela di ruang tempa”.</p>
<p>Ungkapan itu menarik karena mengandung dua gerak sekaligus: membaca dan ditempa. Membaca berarti berusaha memahami sesuatu yang sudah ada, sedangkan ditempa berarti mengalami proses yang mengubah diri. William tidak hanya membawa gagasan tentang persaudaraan dari tanah leluhurnya, tetapi juga menemukan pengalaman-pengalaman baru yang memberinya kesempatan untuk memahami nilai itu melalui hubungan nyata dengan orang lain.</p>
<p>Saya membayangkan perjumpaan-perjumpaan tersebut tidak selalu berlangsung dalam suasana yang sama. Ada pertemuan yang memberi keberanian, ada kritik yang mengubah cara pandang, ada nasihat yang baru terasa maknanya setelah bertahun-tahun, dan mungkin ada pula pengalaman yang pada mulanya sulit dipahami. Pengaruh seseorang terhadap perjalanan kita tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan dramatis. Kadang-kadang, satu kalimat yang diucapkan pada waktu yang tepat justru menetap lebih lama daripada banyak penjelasan.</p>
<p>Di dalam kehidupan seorang perupa, pengalaman semacam itu dapat menjadi bagian dari pembentukan cara melihat. Kita belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang lain, melainkan juga dari cara mereka bekerja, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan menghadapi kesulitan. Pengetahuan yang diterima tidak selalu berupa teori atau teknik. Ada sikap yang dipelajari melalui pengamatan, ada keberanian yang tumbuh karena seseorang memberi kepercayaan, dan ada kesadaran yang terbentuk karena kita pernah ditolong ketika tidak mempunyai banyak pilihan.</p>
<p>Namun, menerima pengaruh bukan berarti kehilangan kebebasan. Seorang perupa tetap harus mengolah pengalaman, menentukan arah, dan menemukan bahasa visualnya sendiri. Apa yang diterima dari orang lain tidak otomatis menjadi karya. Semuanya harus melewati proses pemilihan, pengendapan, pertimbangan, dan keputusan artistik. Di sinilah pengalaman sosial bertemu dengan tanggung jawab individual: seseorang dibentuk oleh lingkungannya, tetapi ia juga bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya dengan segala sesuatu yang telah membentuk dirinya.</p>
<p>Saya melihat kemungkinan hubungan ini dengan gagasan PELA. Persaudaraan tidak harus dipahami sebagai peleburan identitas. Ia dapat menjadi cara untuk menjaga hubungan tanpa menuntut seseorang meninggalkan dirinya. Kita dapat belajar dari orang lain tanpa harus menjadi salinannya. Kita dapat menerima bantuan tanpa kehilangan tanggung jawab atas perjalanan sendiri. Bahkan, kita dapat berbeda pendapat dan tetap menghormati hubungan yang telah terbangun.</p>
<p>Tentu, pengalaman persaudaraan William di tanah perantauan tidak serta-merta sama dengan pela dalam pengertian adat masyarakat Maluku. Kekhasan tradisi tersebut tetap perlu dihormati. Namun, nilai persaudaraan yang hadir dalam tajuk pameran ini memungkinkan kita merenungkan bagaimana suatu warisan kultural dapat mengilhami cara seseorang membangun hubungan di luar lingkungan asalnya.</p>
<p>Nilai yang diwariskan tidak cukup hanya dikenang, dibanggakan, atau diucapkan berulang kali. Ia perlu menemukan kehidupan dalam tindakan. Kita bisa berbicara tentang persaudaraan, tetapi maknanya baru terasa ketika berhadapan dengan orang yang berbeda kepentingan, berbeda pandangan, atau tidak mempunyai latar belakang yang sama. Pada saat itulah kita mengetahui apakah persaudaraan hanya menjadi kebanggaan tentang siapa kita, atau sungguh-sungguh menjadi cara kita memperlakukan orang lain.</p>
<p><strong>Persaudaraan, Perbedaan, dan Jejak Perjalanan</strong></p>
<p>Hubungan antara warisan, pengalaman, dan pengolahan artistik terasa semakin menarik ketika kita melihat karya William yang lain, Fragmen Memori Pela. Judulnya sendiri mengandung petunjuk tentang cara ingatan bekerja. Kata fragmen mengingatkan kita bahwa kenangan tidak selalu kembali sebagai kisah yang utuh. Sering kali yang muncul justru potongan-potongan: wajah yang melintas, bunyi yang tiba-tiba terasa akrab, suasana suatu tempat, warna tertentu, atau perasaan yang sulit kita hubungkan dengan satu kejadian secara pasti.</p>
<p>Ingatan bukan gudang yang menyimpan pengalaman dalam susunan tetap. Apa yang kita ingat dapat berubah mengikuti keadaan kita sekarang. Peristiwa yang dahulu terasa biasa mungkin menjadi penting setelah kita kehilangan seseorang. Sebuah tempat yang pernah kita tinggalkan dapat memperoleh makna baru ketika kita semakin jauh darinya. Pengalaman yang dulu tidak kita pahami dapat muncul kembali dalam ingatan dengan arti yang berbeda karena kita telah menjadi orang yang berbeda pula.</p>
<p>Dalam lukisan abstrak, fragmen semacam itu tidak harus dikembalikan menjadi wajah, rumah, laut, atau benda yang dapat dikenali. Pengalaman dapat diolah menjadi hubungan garis, bidang, warna, sapuan, cipratan, dan tekstur. Yang tersisa bukanlah bentuk kejadian sebagaimana berlangsung di dunia nyata, melainkan sesuatu yang telah melewati proses perubahan melalui bahasa rupa.</p>
<p>Saya tertarik pada kemungkinan bahwa abstraksi memberi ruang bagi pengalaman untuk hadir tanpa harus dipaksa menjadi cerita yang lengkap. Dalam kehidupan, kita sering ingin mengetahui dengan pasti apa yang terjadi, apa penyebabnya, dan apa maknanya. Padahal, tidak semua pengalaman segera menemukan penjelasan. Ada perasaan yang baru kita mengerti setelah waktu berlalu. Ada ingatan yang tetap menyisakan ruang kosong. Ada pula harapan yang kita bawa tanpa mengetahui dengan tepat ke mana ia akan membawa kita.</p>
<p>Karya abstrak dapat mempertahankan keadaan semacam itu. Ia tidak harus memberikan jawaban yang pasti untuk setiap bentuk. Sebaliknya, hubungan antarunsur visual dapat menciptakan pengalaman yang memungkinkan pemirsa merasakan ketegangan, kedekatan, jarak, atau perubahan tanpa harus menerjemahkannya menjadi satu pengertian tunggal.</p>
<p>Di sinilah saya melihat hubungan antara abstraksi dan identitas. Identitas tidak selalu hadir sebagai lambang budaya yang mudah dikenali. Ia dapat muncul melalui sesuatu yang lebih halus: cara seseorang membangun ruang, kecenderungan dalam memilih warna, keberanian mempertahankan ketegangan, atau keputusan untuk tidak menjelaskan segala sesuatu secara harfiah. Semua itu tidak otomatis menjadi bukti tentang asal-usul seorang perupa, tetapi dapat membuka jalan untuk melihat bagaimana pengalaman yang panjang berhubungan dengan pilihan artistik yang dibuatnya.</p>
<p>Tentu, bentuk abstrak tidak dengan sendirinya menjamin kedalaman pengalaman. Kepadatan warna bukan jaminan kedalaman emosi, sebagaimana bentuk yang sulit dikenali tidak otomatis menjadikan sebuah lukisan kompleks. Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana unsur-unsur tersebut disusun, bagaimana ketegangan visual dibangun, dan bagaimana keputusan artistik memberi kehidupan pada karya. Pengalaman boleh menjadi sumber penciptaan, tetapi karya tetap harus menemukan kekuatannya melalui bahasa rupa.</p>
<p>Karena itu, pembacaan terhadap Cengke, Pala, dan Tifa untuk Tanah Baru maupun Fragmen Memori Pela tidak perlu berhenti pada pesan moral tentang persaudaraan. Kita juga perlu melihat bagaimana pengalaman tentang perbedaan, ingatan, dan perjumpaan memperoleh kemungkinan bentuk di dalam lukisan. Warna, goresan, bidang, serta hubungan antarbentuk bukan sekadar kendaraan untuk menyampaikan gagasan yang sudah selesai. Semuanya ikut membentuk makna, bahkan memungkinkan munculnya sesuatu yang mungkin belum sepenuhnya disadari ketika proses penciptaan berlangsung.</p>
<p>Bagi saya, inilah salah satu hal yang membuat praktik melukis tetap menarik. Kita tidak hanya mengerjakan sesuatu yang sudah kita ketahui. Dalam proses berkarya, kita juga berhadapan dengan kemungkinan yang belum kita pahami sepenuhnya. Ada keputusan yang baru terasa tepat setelah dicoba, ada bentuk yang justru muncul ketika rencana awal berubah, dan ada pengalaman yang menemukan kejelasannya melalui kerja artistik. Kadang-kadang, kita baru mengetahui apa yang sedang kita pikirkan setelah melihat sesuatu yang berhasil kita wujudkan.</p>
<p>Dari sudut pandang itu, karya seni tidak hanya menjadi hasil perjalanan, tetapi juga bagian dari proses memahami perjalanan itu sendiri. Pengalaman hidup diolah menjadi karya, lalu karya menghadirkan kesempatan untuk membaca kembali pengalaman tersebut. Hubungan ini tidak selalu berjalan lurus. Ada sesuatu yang dipertahankan, ada yang berubah, dan ada yang baru memperoleh makna setelah berhadapan dengan pemirsa.</p>
<p>Ketika lukisan memasuki ruang pamer, ia bertemu dengan orang-orang yang membawa latar belakang masing-masing. Pemirsa yang berasal dari Maluku mungkin mempunyai kedekatan emosional dengan cengkeh, pala, atau tifa yang berbeda dari pemirsa yang mengenal benda-benda itu melalui bacaan atau pengalaman yang lain. Seseorang yang pernah meninggalkan kampung halaman mungkin menemukan kerinduan di dalam gagasan tanah baru. Orang lain mungkin tidak mempunyai pengalaman merantau, tetapi dapat merasakan ketegangan antara sesuatu yang akrab dan sesuatu yang asing.</p>
<p>Perbedaan pengalaman itu tidak harus diseragamkan. Justru karena pemirsa membawa ingatan dan pengetahuan yang berbeda, karya mempunyai kesempatan untuk membangun perjumpaan yang lebih luas. Lukisan tidak menghapus jarak di antara orang-orang yang melihatnya, tetapi dapat menjadi ruang tempat mereka menyadari bahwa satu karya memungkinkan pengalaman yang beragam.</p>
<p>Bukankah hal serupa juga berlaku dalam kehidupan? Kita dapat duduk di ruang yang sama tanpa mempunyai pengalaman yang sama. Kita dapat berbagi kehidupan tanpa harus menyepakati seluruh pandangan. Yang diperlukan bukan selalu keseragaman, melainkan kesediaan untuk membangun hubungan dan menerima bahwa orang lain mempunyai pengalaman yang tidak sepenuhnya kita ketahui.</p>
<p>Di dalam perjalanan kesenian William, saya melihat persoalan ini tidak berhenti pada hubungan antara dirinya dan orang-orang yang pernah membantunya. Ia juga menyangkut bagaimana pengalaman itu diteruskan melalui karya. Pertemuan yang semula berlangsung dalam ruang kehidupan sehari-hari kemudian memasuki ruang seni, tempat pengalaman personal dapat dibaca dan dirasakan oleh orang lain yang tidak terlibat langsung di dalamnya.</p>
<p>Di sana, persaudaraan tidak lagi hanya menjadi hubungan antara dua orang atau dua kelompok. Ia menjadi pertanyaan yang dibawa ke ruang publik: apa yang kita lakukan dengan pengalaman baik yang pernah kita terima? Apakah pengalaman itu berhenti sebagai kenangan pribadi, atau mendorong kita untuk membangun hubungan yang lebih terbuka dengan orang lain?</p>
<p>Pertanyaan ini membawa saya pada karya-karya William yang lain, seperti Guru-guru Mamise, Ditempa di Ufak Barat, Mengingat Pela, Menanda dengan Tonggak Kecil, dan Jejak. Dari judul-judul tersebut, saya menangkap rangkaian persoalan yang berkaitan dengan ingatan, pembentukan diri, penghormatan terhadap orang lain, dan kesadaran tentang perjalanan yang telah ditempuh. Saya tidak bermaksud menyamakan seluruh karya itu atau menetapkan satu arti untuk masing-masingnya. Namun, keberadaan judul-judul tersebut dalam pameran yang sama memberi kesempatan untuk melihat bahwa gagasan PELA tidak berdiri sendirian. Ia berhubungan dengan perjalanan seseorang dalam memahami siapa dirinya, siapa saja yang ikut membentuknya, dan apa yang ingin ia tinggalkan melalui pekerjaannya.</p>
<p>Kata tempa khususnya menarik perhatian saya. Sesuatu yang ditempa mengalami proses, tekanan, dan perubahan. Ia tidak hadir dalam keadaan yang sepenuhnya selesai. Dalam kehidupan seorang perupa, proses semacam itu berlangsung melalui waktu yang panjang: bekerja, mengalami kegagalan, bertemu dengan orang lain, menerima kritik, mengubah keputusan, dan mencoba lagi. Tidak semua pengalaman langsung menghasilkan kematangan. Ada yang baru kita pahami setelah jarak waktu memberi kesempatan untuk melihatnya kembali.</p>
<p>Akan tetapi, pengalaman ditempa bukan berarti seseorang sekadar menjadi hasil bentukan lingkungannya. Ia tetap mempunyai kehendak untuk memilih, menafsirkan, bahkan menolak sebagian pengaruh yang diterimanya. Di sinilah perjalanan menjadi lebih dari sekadar kumpulan kejadian. Seseorang mulai mengambil tanggung jawab atas apa yang dipelajarinya dan bagaimana ia akan menjalani kehidupan setelahnya.</p>
<p>Sementara itu, kata jejak membawa persoalan lain. Kita sering ingin meninggalkan sesuatu agar perjalanan hidup tidak berlalu begitu saja. Dalam seni rupa, jejak itu bisa hadir melalui karya, pameran, hubungan yang dibangun, atau pengaruh yang tertinggal pada orang lain. Keinginan tersebut manusiawi. Namun, jejak tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar sebuah pencapaian atau seberapa lama nama seseorang dikenal.</p>
<p>Ada jejak yang justru hadir dalam hal-hal sederhana: keberanian yang tumbuh karena seseorang pernah diberi kesempatan, pengetahuan yang diteruskan kepada generasi berikutnya, atau kebaikan yang membuat orang lain sanggup melanjutkan perjalanannya. Kita mungkin tidak selalu mengetahui ke mana pengaruh itu bergerak setelah meninggalkan diri kita. Sebuah tindakan kecil dapat bertahan dalam ingatan orang lain dan menemukan kehidupan baru dalam keadaan yang tidak pernah kita bayangkan.</p>
<p>Saya kira, di sinilah hubungan antara PELA dan perjalanan artistik William memperoleh lapisan yang lebih dalam. Persaudaraan bukan hanya perkara tentang siapa yang pernah hadir dalam hidup kita, melainkan juga tentang bagaimana kehadiran mereka ikut membentuk cara kita memperlakukan dunia. Pengalaman menerima kebaikan dapat menumbuhkan kesadaran untuk memberikan ruang bagi orang lain. Pengalaman ditempa dapat mengajarkan bahwa kematangan tidak harus membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang-orang yang masih menempuh perjalanan.</p>
<p>Tentu, seorang seniman tidak harus menjadikan setiap kebaikan sebagai pesan moral di dalam lukisannya. Karya seni bukan khotbah, dan tidak semua pengalaman perlu diterjemahkan menjadi ajakan yang gamblang. Justru melalui pengolahan artistik, pengalaman dapat hadir dengan cara yang lebih terbuka, membiarkan pemirsa membangun hubungannya sendiri dengan apa yang dilihat. Bagi saya, kebebasan itu penting agar karya tidak kehilangan kerumitan dan daya hidupnya.</p>
<p>Pada akhirnya, PELA mengajak kita memikirkan kembali hubungan antara warisan, pengalaman, dan tanggung jawab. William membawa ingatan tentang leluhur dan kebudayaannya ke dalam perjalanan artistik di tanah Jawa. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang yang ikut membentuk kehidupannya, mengalami proses penempaan, dan mengolah pengalaman tersebut melalui praktik melukis. Karya-karyanya kemudian hadir sebagai ruang perjumpaan baru, tempat pengalaman personal dapat bersentuhan dengan ingatan, perasaan, dan pemahaman pemirsa yang beragam.</p>
<p>Saya tidak membaca perjalanan ini sebagai kisah seseorang yang berhasil mempertahankan identitasnya tanpa perubahan. Saya justru tertarik pada kemungkinan bahwa identitas dapat tetap berakar sambil terus mengalami pertumbuhan. Apa yang diwariskan tidak harus dibekukan agar tetap dikenali. Ia dapat bergerak, bertemu dengan pengalaman baru, dan memperoleh pemaknaan yang berbeda tanpa harus kehilangan seluruh hubungan dengan asal-usulnya.</p>
<p>Barangkali demikian pula kebudayaan hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia bukan hanya sesuatu yang disimpan dalam ingatan atau dipelihara melalui upacara, melainkan sesuatu yang terus memperoleh arti melalui cara manusia menjalaninya. Warisan tidak cukup hanya disebut sebagai milik kita. Ia perlu terlihat dalam tindakan, dalam hubungan yang kita bangun, dan dalam kesediaan untuk menghormati kehidupan yang tidak selalu sama dengan kehidupan kita sendiri.</p>
<p>Saya teringat bahwa akar tidak tumbuh untuk membatasi pohon pada satu titik. Akar memungkinkan pohon berdiri, menyerap unsur yang dibutuhkan, dan mengembangkan kehidupan di atas tanah tempat ia tumbuh. Pohon tidak harus menyangkal akarnya ketika cabang-cabangnya bergerak ke arah yang berbeda. Justru melalui akar itulah pertumbuhan memperoleh pijakan, sementara cabang-cabangnya mencari ruang untuk menjangkau dunia.</p>
<p>Barangkali demikian pula identitas dan kebudayaan dalam perjalanan seorang perupa. Kita menerima sesuatu yang tidak kita pilih sendiri, lalu mengolahnya melalui pengalaman, perjumpaan, dan keputusan-keputusan yang kita ambil sepanjang hidup. Kita tidak selalu dapat menentukan dari mana perjalanan bermula, tetapi kita ikut menentukan bagaimana warisan itu dijalani dan apa yang dapat tumbuh darinya.</p>
<p>Melalui PELA, William Robert menghadirkan ruang untuk merenungkan hubungan antara asal-usul, pengalaman, dan kemungkinan menjadi bagian dari kehidupan yang lebih luas. Lukisan-lukisannya tidak perlu dibaca sebagai jawaban tunggal atas persoalan identitas atau persaudaraan. Daya tariknya justru terletak pada kesempatan untuk mengalami bagaimana ingatan, emosi, harapan, dan pengalaman sosial dapat diolah menjadi bahasa rupa yang terbuka terhadap penafsiran.</p>
<p>Bagi saya, itulah salah satu kemungkinan yang membuat seni tetap penting dalam kehidupan bersama. Karya tidak selalu menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Kadang-kadang ia justru membuat kita melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap sudah jelas. Ia menggeser cara pandang, mengusik kenyamanan, dan mengundang kita memahami bahwa pengalaman orang lain tidak pernah sepenuhnya dapat kita kuasai melalui pengetahuan kita sendiri.</p>
<p>Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya seberapa kuat kita memegang warisan leluhur, atau seberapa bangga kita menyebut identitas sendiri. Pertanyaan yang lebih sulit adalah bagaimana semua itu hadir dalam hubungan kita dengan orang lain. Apakah warisan membuat kita lebih terbuka untuk memahami kehidupan, atau justru menjadi pagar yang kita bangun agar tidak perlu berhadapan dengan perbedaan?</p>
<p>Sebab persaudaraan tidak selesai ketika namanya disebutkan, sebagaimana identitas tidak selesai ketika asal-usulnya diketahui. Keduanya membutuhkan kehidupan, membutuhkan perjumpaan, dan membutuhkan tindakan yang membuat nilai-nilai itu tidak berhenti sebagai kebanggaan.</p>
<p>Akar memberi tahu kita dari mana kehidupan bermula. Namun, nilai sebuah akar tidak hanya terletak pada kemampuannya mempertahankan pohon tetap berdiri, melainkan juga pada kehidupan yang dimungkinkannya tumbuh. Demikian pula pela: ia tidak cukup menjadi nama yang kita warisi atau kebanggaan yang kita bawa ke mana-mana. Ia baru menemukan maknanya ketika persaudaraan sanggup melewati batas asal-usul, bertahan di tengah perbedaan, dan membuat kehadiran kita berarti bagi kehidupan orang lain. Sebab, pada akhirnya, akar bukan hanya tentang dari mana kita berasal, melainkan juga tentang kehidupan apa yang tumbuh melalui keberadaan kita.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MENGAPA PRANCIS BERGOLAK: Antara Pertarungan Keadilan dan Krisis Kepercayaan Terhadap Masa Depan</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/ilmiah/mengapa-prancis-bergolak-antara-pertarungan-keadilan-dan-krisis-kepercayaan-terhadap-masa-depan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 14:51:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Antara Pertarungan Keadilan dan Krisis Kepercayaan Terhadap Masa Depan]]></category>
		<category><![CDATA[MENGAPA PRANCIS BERGOLAK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12594</guid>

					<description><![CDATA[*(Oleh Dr. Satrio Arismunandar &#8211; Kerusuhan yang melanda Prancis pada pertengahan Oktober 2026 bukanlah sekadar ledakan kemarahan massa yang berakhir dengan pembakaran gedung, penjarahan toko, dan bentrokan dengan polisi. Di balik kekacauan tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar: meningkatnya biaya hidup, memburuknya layanan publik, ketimpangan kesempatan, serta kekecewaan terhadap sistem politik yang dinilai tidak cukup [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>*(Oleh Dr. Satrio Arismunandar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Kerusuhan yang melanda Prancis pada pertengahan Oktober 2026 bukanlah sekadar ledakan kemarahan massa yang berakhir dengan pembakaran gedung, penjarahan toko, dan bentrokan dengan polisi.<br />
Di balik kekacauan tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar: meningkatnya biaya hidup, memburuknya layanan publik, ketimpangan kesempatan, serta kekecewaan terhadap sistem politik yang dinilai tidak cukup tanggap terhadap kebutuhan masyarakat.</p>
<p>Pada Sabtu, 17 Oktober, ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota Prancis. Kementerian Dalam Negeri memperkirakan jumlah peserta mencapai 550.000 orang, sementara serikat pekerja dan penyelenggara aksi menyebut angka sekitar 800.000.</p>
<p>Sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, tetapi kelompok-kelompok tertentu melakukan penjarahan, pembakaran, perusakan fasilitas publik, dan bentrokan dengan aparat. Kota-kota seperti Paris, Marseille, Bordeaux, dan Limoges mengalami gangguan serius.</p>
<p>Presiden Emmanuel Macron menyerukan ketenangan dan mengecam kekerasan. Namun, pemerintah juga mengakui bahwa tuntutan para demonstran yang bertindak damai tidak bisa begitu saja disamakan dengan tindakan mereka yang melakukan perusakan. Pembedaan ini penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di Prancis.</p>
<p><strong>Bermula dari Isu Pendidikan</strong></p>
<p>Kerusuhan tersebut bukanlah konflik antara dua kelompok masyarakat yang memiliki identitas tunggal dan berhadapan secara langsung. Ini merupakan pertemuan sejumlah ketidakpuasan sosial yang kemudian berkembang menjadi konflik terbuka antara demonstran dan aparat, disertai aksi kekerasan oleh kelompok tertentu.</p>
<p>Akar langsung dari gelombang protes kali ini justru bukan demonstrasi buruh atau gerakan antiimigran, melainkan keresahan pelajar terhadap kondisi pendidikan. Gerakan tersebut mulai berkembang pada 21 September 2026, ketika para siswa sekolah menengah di kawasan pinggiran Paris memprotes kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, fasilitas sekolah yang buruk, serta lambatnya penggantian tenaga pengajar yang tidak hadir. Di sejumlah sekolah, siswa juga mengeluhkan bangunan yang tidak terawat dan kurangnya sarana belajar.</p>
<p>Mengapa persoalan sekolah bisa meluas menjadi kerusuhan nasional? Karena sekolah bukan sekadar tempat belajar. Dalam masyarakat modern, sekolah merupakan salah satu instrumen utama mobilitas sosial: tempat anak dari keluarga berpenghasilan rendah memperoleh kesempatan memperbaiki nasib.</p>
<p>Ketika kualitas pendidikan di kawasan miskin tertinggal, sementara keluarga yang lebih mampu mempunyai akses lebih baik terhadap lingkungan belajar, fasilitas, dan kesempatan pendidikan, muncul kekhawatiran bahwa ketimpangan sosial akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
<p>Bagi siswa, kekurangan guru bukan sekadar masalah administrasi. Itu berarti waktu belajar yang hilang, persiapan masa depan yang terganggu, dan kesempatan yang mungkin tidak akan kembali.<br />
Dengan demikian, persoalan pendidikan menjadi simbol ketidakadilan yang lebih luas. Anak-anak muda mempertanyakan mengapa mereka harus menerima layanan publik yang buruk, padahal pendidikan seharusnya menjadi jalan keluar dari kemiskinan dan keterbatasan sosial. Dari sinilah protes pelajar menemukan resonansinya di kalangan masyarakat yang menghadapi persoalan serupa.</p>
<p><strong>Dari Persoalan Pendidikan Menjadi Kemarahan Ekonomi</strong></p>
<p>Perluasan gerakan terjadi ketika keresahan pelajar bertemu dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap biaya hidup yang meningkat dan layanan publik yang dianggap semakin tidak memadai.<br />
Harga kebutuhan sehari-hari, biaya transportasi dan bahan bakar, serta tekanan terhadap anggaran rumah tangga membuat persoalan ekonomi terasa langsung dalam kehidupan masyarakat. Pada saat bersamaan, pemerintah menghadapi tekanan fiskal, utang publik, dan perdebatan mengenai bagaimana belanja negara harus diprioritaskan.</p>
<p>Di sinilah pertanyaan tentang kaya dan miskin menjadi relevan. Prancis bukan negara miskin. Negara ini mempunyai perekonomian maju, sistem jaminan sosial, dan tradisi pelayanan publik yang kuat. Namun, kemakmuran nasional tidak otomatis berarti semua warga merasakan keamanan ekonomi yang sama.</p>
<p>Keluarga yang memiliki aset, tabungan, dan pendapatan tinggi relatif lebih mampu menghadapi kenaikan biaya hidup. Sebaliknya, rumah tangga yang sebagian besar penghasilannya habis untuk kebutuhan pokok mempunyai ruang yang jauh lebih sempit untuk menyesuaikan diri.</p>
<p>Perbedaan tersebut menciptakan pengalaman ketidakadilan: masyarakat tidak hanya mempersoalkan mahalnya kehidupan, tetapi juga mempertanyakan siapa yang menanggung beban penyesuaian ekonomi dan siapa yang tetap terlindungi.</p>
<p>Karena itu, konflik ini tidak tepat disederhanakan menjadi pertentangan antara orang miskin dan orang kaya. Tidak semua demonstran berasal dari keluarga miskin, dan tidak semua orang kaya berada di pihak pemerintah. Persoalan utamanya adalah persepsi mengenai distribusi sumber daya, kesempatan, dan beban kebijakan publik.<br />
Inti masalah ekonominya bukan semata-mata berapa besar kekayaan Prancis, melainkan bagaimana kekayaan dan sumber daya negara dibagikan, serta apakah pembagiannya dianggap adil.</p>
<p><strong>Dimensi Konflik Antargenerasi</strong></p>
<p>Dimensi generasi merupakan salah satu aspek paling penting dalam gejolak Prancis kali ini. Pada 2023, Prancis diguncang demonstrasi besar akibat keputusan Presiden Macron menaikkan usia pensiun minimum dari 62 menjadi 64 tahun. Pemerintah membela kebijakan itu dengan alasan keberlanjutan sistem pensiun. Namun, banyak pekerja menilainya sebagai beban tambahan bagi mereka yang harus bekerja lebih lama.<br />
Kini, generasi muda menghadapi persoalan berbeda: kualitas pendidikan, prospek masa depan, dan kemampuan negara menyediakan layanan yang mereka butuhkan.</p>
<p>Kedua peristiwa tersebut mempunyai benang merah berupa perebutan prioritas anggaran publik. Persoalan ini bukan hanya pertentangan masyarakat dengan pemerintah, melainkan juga pertanyaan mengenai bagaimana sumber daya dibagi di antara kelompok-kelompok masyarakat dan generasi.</p>
<p>Sistem pensiun membutuhkan pembiayaan. Pendidikan membutuhkan guru, gedung, dan fasilitas. Kesehatan membutuhkan tenaga profesional dan anggaran. Semua kebutuhan itu bersaing dalam ruang fiskal yang terbatas.</p>
<p>Dari sudut pandang generasi muda, muncul pertanyaan: apakah negara masih menyediakan investasi yang memadai bagi masa depan mereka? Sebaliknya, generasi lebih tua juga mempunyai hak atas jaminan pensiun dan perlindungan sosial yang telah dibangun sepanjang kehidupan kerja mereka.<br />
Karena itu, persoalannya bukan bahwa generasi tua adalah lawan generasi muda. Konflik antargenerasi muncul ketika kelompok-kelompok usia berbeda merasa kepentingannya tidak memperoleh tempat yang adil dalam pembagian sumber daya publik.</p>
<p>Jika tidak dikelola dengan baik, perdebatan anggaran bisa berkembang menjadi krisis kepercayaan: kaum muda merasa masa depannya dikorbankan, sedangkan kelompok lain khawatir hak sosialnya akan dikurangi.</p>
<p><strong>Tiga Lapisan Aktor yang Berkonflik</strong></p>
<p>Untuk memahami kerusuhan ini, kita perlu membedakan setidaknya tiga lapisan aktor. Pertama, pelajar, mahasiswa, pekerja, serikat buruh, dan warga yang menyampaikan tuntutan sosial-ekonomi. Mereka tidak selalu memiliki agenda yang sama. Pelajar menuntut perbaikan pendidikan, sedangkan pekerja dan warga lainnya membawa persoalan biaya hidup, upah, dan layanan publik.</p>
<p>Kedua, pemerintah dan aparat keamanan. Pemerintah berhadapan dengan tuntutan untuk memperbaiki layanan publik, tetapi juga harus menjaga ketertiban dan mengelola keterbatasan anggaran. Aparat bertugas mencegah kekerasan, meskipun penggunaan kekuatan oleh polisi turut menjadi bahan kritik. Sejumlah investigasi atas dugaan kekerasan polisi telah dibuka selama gelombang protes berlangsung.<br />
Ketiga, kelompok yang memanfaatkan situasi demonstrasi untuk melakukan kekerasan dan penjarahan. Pemerintah menyalahkan kelompok ultra-kiri dan pelaku kriminal atas sebagian kekacauan. Namun, keberadaan kelompok tersebut tidak berarti seluruh gerakan protes dikendalikan oleh mereka.</p>
<p>Di sinilah pentingnya membedakan demonstrasi damai dari kerusuhan. Orang yang menuntut perbaikan pendidikan tidak otomatis mendukung pembakaran gedung. Warga yang memprotes kebijakan pemerintah juga tidak otomatis membenarkan penjarahan toko.</p>
<p>Menganggap seluruh demonstran sebagai perusuh justru berisiko mengaburkan tuntutan yang mendasari gerakan. Sebaliknya, menjadikan ketidakadilan sosial sebagai pembenaran bagi perusakan juga merupakan kekeliruan. Hak untuk menyampaikan protes dan kewajiban menjaga ketertiban harus dipertahankan secara bersamaan.</p>
<p><strong>Mengapa Kemarahan Sosial Berubah Menjadi Kekerasan?</strong></p>
<p>Tidak ada satu jawaban tunggal. Kemarahan yang menumpuk dapat menciptakan kondisi bagi eskalasi, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan mengapa sebagian orang memilih melakukan kekerasan.<br />
Dalam demonstrasi berskala besar, sebagian peserta tetap damai, sementara kelompok lain bisa melakukan provokasi, menyerang aparat, atau menjarah toko. Ketegangan juga dapat meningkat akibat bentrokan dengan polisi dan penggunaan gas air mata maupun senjata pengendali massa.</p>
<p>Laporan Al Jazeera (18 Oktober 2026) menggambarkan bagaimana pesan awal demonstrasi pelajar dan tuntutan perbaikan layanan publik berisiko tenggelam oleh gambaran kekerasan yang mendominasi pemberitaan.</p>
<p>Di sinilah muncul persoalan politik yang lebih dalam. Ketika masyarakat merasa tuntutannya tidak didengar melalui saluran formal, sebagian orang bisa kehilangan kepercayaan terhadap lembaga yang seharusnya menampung aspirasi mereka.</p>
<p>Namun, perlu ditegaskan bahwa hilangnya kepercayaan tidak membuat kekerasan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan, apalagi dapat dibenarkan. Untuk menentukan apakah ada kelompok yang secara terorganisasi merancang atau mengarahkan kerusuhan, diperlukan bukti yang lebih kuat daripada sekadar tuduhan politik.<br />
Demikian pula, klaim bahwa kerusuhan sepenuhnya merupakan konspirasi kelompok ekstremis tidak cukup menjelaskan mengapa ratusan ribu orang bersedia turun ke jalan.</p>
<p><strong>Krisis Kepercayaan Terhadap Masa Depan</strong></p>
<p>Kerusuhan kali ini berlangsung ketika Prancis mendekati pemilihan presiden 2027. Dengan demikian, gejolak sosial juga memiliki konsekuensi politik: ketidakpuasan terhadap pemerintah dapat dimanfaatkan oleh berbagai kekuatan politik, baik dari kanan maupun kiri, untuk menawarkan alternatif kebijakan.</p>
<p>Akan tetapi, krisis ini tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan popularitas Macron. Persoalan yang dihadapi Prancis lebih struktural: bagaimana mempertahankan layanan publik berkualitas, menjamin keberlanjutan anggaran, melindungi daya beli, dan tetap menyediakan kesempatan yang adil bagi generasi berikutnya.<br />
Pemerintah tidak bisa menyelesaikan semuanya hanya dengan pengerahan polisi. Penegakan hukum memang diperlukan untuk menangani pelaku kekerasan, tetapi stabilitas jangka panjang membutuhkan respons terhadap tuntutan yang sah.</p>
<p>Sebaliknya, oposisi politik juga tidak otomatis memiliki jawaban yang lebih baik. Menyalahkan pemerintah mungkin menguntungkan secara elektoral, tetapi persoalan pendidikan, pensiun, dan pembiayaan negara membutuhkan keputusan yang konkret serta berjangka panjang.<br />
Tantangan terbesarnya adalah menemukan pembagian beban yang dapat diterima masyarakat tanpa merusak keberlanjutan ekonomi dan sistem perlindungan sosial.</p>
<p><strong>Pertarungan tentang Keadilan</strong><br />
Apa yang sebenarnya terjadi di Prancis? Bukan semata-mata perang antara polisi dan demonstran, bukan pula konflik sederhana antara orang kaya dan orang miskin.<br />
Kerusuhan ini merupakan ledakan dari sejumlah ketidakpuasan yang saling bertaut: pendidikan yang dinilai memburuk, biaya hidup yang menekan, kecemasan mengenai masa depan, pertarungan prioritas anggaran, dan merosotnya kepercayaan terhadap kemampuan politik untuk menghasilkan perubahan.</p>
<p>Isu ekonomi adalah salah satu fondasinya. Ketimpangan dan distribusi sumber daya memperkuat kemarahan. Konflik antargenerasi memberikan dimensi jangka panjang, sedangkan ketegangan dengan aparat dan tindakan kelompok perusuh menjadi pemicu eskalasi di jalanan.</p>
<p>Pelajaran terpentingnya adalah bahwa ketertiban sosial tidak cukup dibangun dengan kemampuan negara mengendalikan massa. Ketertiban juga bergantung pada keyakinan masyarakat bahwa sistem yang mereka jalani memberi kesempatan yang adil dan masa depan yang layak.</p>
<p>Ketika keyakinan itu melemah, persoalan yang awalnya terbatas pada ruang kelas dapat berkembang menjadi krisis nasional. Dan ketika kerusuhan pecah, tantangan terbesar pemerintah bukan hanya memulihkan jalan dan gedung yang rusak, melainkan memulihkan kepercayaan bahwa negara masih bekerja untuk seluruh warganya.<br />
Prancis kini menghadapi pertanyaan yang jauh lebih besar daripada siapa yang menang dalam bentrokan di jalanan: apakah negara mampu memperbarui kontrak sosialnya agar generasi muda, pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya tetap merasa menjadi bagian dari masa depan bersama?</p>
<p>Jawaban atas pertanyaan itulah yang pada akhirnya akan menentukan apakah gejolak ini menjadi ledakan sesaat atau awal dari krisis politik yang lebih panjang. #</p>
<p>Jakarta, 19 Oktober 2026</p>
<p><em>*(Dr. Satrio Arismunandar, lulusan S3 Filsafat FIB Universitas Indonesia, aktivis Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) di era Orde Baru 1990-an. </em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>WOR FAN NANGGI DI BIAK: TRADISI SYUKUR MENUNTUT DILAKSANAKAN DAN DIWARISKAN</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/wor-fan-nanggi-di-biak-tradisi-syukur-menuntut-dilaksanakan-dan-diwariskan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 03:11:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[WOR FAN NANGGI DI BIAK: TRADISI SYUKUR MENUNTUT DILAKSANAKAN DAN DIWARISKAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12547</guid>

					<description><![CDATA[BIAK NUMFOR, SUARA ANAK NEGERI NEWS — 19 Oktober 2026&#124; Suasana jantung Kota Biak, tepatnya di Jalan Imam Bonjol, Minggu (18/10/2026), menjadi saksi kebangkitan ingatan kolektif masyarakat terhadap salah satu warisan budaya orang Biak, yakni Wor Fan Nanggi. Kegiatan yang menghadirkan pertunjukan drama kolosal dan sajian makanan tradisional ini menarik perhatian masyarakat dalam jumlah besar. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BIAK NUMFOR, SUARA ANAK NEGERI NEWS — 19 Oktober 2026| </strong>Suasana jantung Kota Biak, tepatnya di Jalan Imam Bonjol, Minggu (18/10/2026), menjadi saksi kebangkitan ingatan kolektif masyarakat terhadap salah satu warisan budaya orang Biak, yakni <strong>Wor Fan Nanggi</strong>. Kegiatan yang menghadirkan pertunjukan drama kolosal dan sajian makanan tradisional ini menarik perhatian masyarakat dalam jumlah besar. Namun, di tengah antusiasme pengunjung, muncul satu persoalan yang berulang kali disampaikan masyarakat: makanan yang disediakan tidak mencukupi kebutuhan pengunjung yang memadati lokasi acara.</p>
<p>Sejumlah narasumber memperkirakan jumlah pengunjung mencapai hampir 17.000 orang sejak sore hingga malam hari. Banyak warga datang bukan saja untuk menikmati pertunjukan atau mencicipi makanan khas Biak, melainkan juga untuk mengenal kembali tradisi leluhur yang mulai terlupakan, terutama oleh generasi muda.</p>
<p>Suara Anak Negeri News berkesempatan menghimpun testimoni masyarakat yang hidup dan tinggal di Biak, termasuk warga dari luar Papua yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Dari berbagai kesaksian, muncul pesan yang sama: Fan Nanggi merupakan warisan budaya yang perlu dihidupkan kembali melalui pendidikan, dokumentasi, pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi keluarga, dan praktik kebersamaan yang nyata.</p>
<p><strong>Ronal Paat: Dari tradisi Pengucapan Syukur di Manado, belajar memahami Fan Nanggi</strong></p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12562" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.43.54-198x300.jpeg" alt="" width="198" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.43.54-198x300.jpeg 198w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.43.54-676x1024.jpeg 676w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.43.54-768x1163.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.43.54.jpeg 902w" sizes="(max-width: 198px) 100vw, 198px" /></p>
<p>Ronal Paat, warga asal Kamangta, Manado, Sulawesi Utara, yang telah 25 tahun hidup dan tinggal di Biak, melihat adanya kemiripan nilai antara Fan Nanggi dan tradisi <em>Pengucapan Syukur</em> yang dikenal masyarakat Minahasa dan sejumlah wilayah di Sulawesi Utara.</p>
<p>Dalam tradisi Pengucapan Syukur, masyarakat membawa hasil kebun, hasil usaha, makanan, dan minuman sebagai ungkapan syukur atas berkat yang diterima sepanjang tahun. Hidangan disediakan bagi orang-orang yang datang berkunjung, bahkan dalam praktik tertentu, tamu dapat membawa pulang makanan.</p>
<p>Bagi Ronal, tradisi seperti ini mengajarkan bahwa berkat tidak semata-mata dinikmati secara pribadi, tetapi dibagikan kepada sesama.</p>
<p>Pengalamannya hidup selama seperempat abad di Biak membuatnya dapat melihat Fan Nanggi sebagai ruang perjumpaan nilai-nilai kebudayaan yang berbeda, tetapi memiliki semangat serupa: bersyukur, berbagi, dan mempererat hubungan antarmanusia.</p>
<p>Kesamaan itu menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi jembatan dialog kebudayaan antardaerah di Indonesia tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing masyarakat.</p>
<p><strong>Emi Sombuk: Munara Fan Nanggi harus menjadi agenda tahunan</strong></p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12557" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.26.53-197x300.jpeg" alt="" width="197" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.26.53-197x300.jpeg 197w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.26.53-672x1024.jpeg 672w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.26.53-768x1170.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.26.53.jpeg 897w" sizes="(max-width: 197px) 100vw, 197px" /></p>
<p>Emi Sombuk menegaskan bahwa <em>Munara Fan Nanggi</em> perlu dilaksanakan setiap tahun agar menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda mengenai makna mengucap syukur atas rahmat Tuhan sepanjang tahun.</p>
<p>Menurutnya, Fan Nanggi bukan saja kegiatan makan bersama. Tradisi ini menyimpan nilai spiritual dan sosial yang diwariskan oleh leluhur orang Biak.</p>
<p>Pesan ini semakin terasa setelah masyarakat menyaksikan pementasan drama kolosal yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat Biak sejak dahulu kala. Pertunjukan itu mengingatkan bahwa leluhur telah membangun relasi spiritual dengan Manseren, memelihara kekerabatan, dan menjalani kehidupan yang selaras dengan alam.</p>
<p>Alam tidak dipandang semata-mata sebagai sumber kekayaan ekonomi, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dirawat. Hasil bumi, sagu, keladi, umbi-umbian, dan ikan menjadi bagian dari berkat yang memungkinkan masyarakat bertahan hidup.</p>
<p>Emi juga menyoroti persoalan makanan yang tidak mencukupi bagi pengunjung yang jumlahnya sangat besar. Baginya, tingginya antusiasme masyarakat harus menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan berikutnya lebih siap, terutama dalam penyediaan makanan lokal.</p>
<p><strong>Wilem Marwa: Fan Nanggi memperkuat persatuan dalam masyarakat majemuk</strong></p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12558" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.29.48-189x300.jpeg" alt="" width="189" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.29.48-189x300.jpeg 189w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.29.48-645x1024.jpeg 645w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.29.48-768x1218.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.29.48.jpeg 861w" sizes="(max-width: 189px) 100vw, 189px" /></p>
<p>Sekretaris IKEMAL, Wilem Marwa, memandang Fan Nanggi sebagai momentum untuk merajut persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Menurutnya, masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman suku, bahasa, agama, dan kebudayaan. Karena itu, tradisi seperti Fan Nanggi memiliki arti penting untuk memperkuat inklusivitas dan mempertemukan masyarakat dalam semangat kebersamaan.</p>
<p>Fan Nanggi, dalam pandangannya, dapat menjadi ruang sosial tempat warga dari berbagai latar belakang saling mengenal, menghargai, dan merasakan ikatan sebagai sesama manusia.</p>
<p>Namun, Wilem juga menyoroti persoalan yang dirasakan pengunjung: makanan tidak mencukupi karena masyarakat datang dalam jumlah yang begitu banyak.</p>
<p>Baginya, keberhasilan sebuah festival budaya bukan hanya diukur dari ramainya pengunjung, tetapi juga dari sejauh mana nilai kebersamaan benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang hadir.</p>
<p><strong>Imelda Kawer: Jangan ada sekat antara makanan pejabat dan makanan rakyat</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12551" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-197x300.jpeg" alt="" width="197" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-197x300.jpeg 197w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-672x1024.jpeg 672w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-768x1170.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03.jpeg 897w" sizes="(max-width: 197px) 100vw, 197px" /></p>
<p>Imelda Kawer menekankan pentingnya memperbanyak makanan khas Biak pada pelaksanaan Fan Nanggi berikutnya.</p>
<p>Menurutnya, makanan lokal bukan  pelengkap kegiatan, melainkan bagian dari identitas budaya dan sarana memperkuat relasi kekerabatan dalam kehidupan masyarakat.</p>
<p>Ia menghubungkan tradisi makan bersama dengan relasi <em>Manseren</em>, sesama manusia, dan alam sebagai sumber berkat yang patut disyukuri.</p>
<p>Imelda juga menyampaikan harapan agar tidak terdapat perbedaan perlakuan dalam penyajian makanan antara pejabat, tamu kehormatan, dan masyarakat umum.</p>
<p>Ia menginginkan semua orang dapat mengambil makanan dari tempat yang sama, duduk bersama, dan menikmati hidangan tanpa sekat sosial.</p>
<p>Dalam pandangannya, nilai Fan Nanggi justru menjadi lebih kuat ketika masyarakat menyaksikan bahwa semua orang diperlakukan setara. Kebersamaan tidak cukup hanya diucapkan dalam sambutan, tetapi harus diwujudkan melalui cara penyelenggara memperlakukan setiap orang yang datang.</p>
<p><strong>Trisila Adadikam: Budaya yang hampir terlupakan harus kembali diajarkan di sekolah</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12561" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.41.48-195x300.jpeg" alt="" width="195" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.41.48-195x300.jpeg 195w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.41.48-666x1024.jpeg 666w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.41.48-768x1180.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.41.48.jpeg 889w" sizes="(max-width: 195px) 100vw, 195px" /></p>
<p>Trisila Adadikam menilai pelaksanaan Fan Nanggi sebagai kegiatan luar biasa karena membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaannya sendiri.</p>
<p>Ia mengapresiasi perhatian pemerintah daerah, khususnya Bupati Biak Numfor, yang dinilainya berupaya menggali kembali adat istiadat yang mulai terlupakan.</p>
<p>Namun, menurut Trisila, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada pertunjukan atau festival tahunan.</p>
<p>Ia berharap nilai-nilai Fan Nanggi dapat diajarkan di sekolah agar anak-anak dan generasi muda memahami bahwa masyarakat Biak memiliki tradisi kekerabatan yang kuat, baik dalam hubungan dengan sesama manusia, alam, maupun Manseren.</p>
<p>Bagi Trisila, pengenalan kembali tradisi leluhur merupakan bagian dari pendidikan identitas dan karakter. Generasi muda perlu mengetahui bahwa kebudayaan mereka memiliki nilai-nilai luhur yang dapat menjadi pedoman menghadapi perubahan zaman.</p>
<p><strong>Dora Wamafma: Dahulu tetangga saling mengenal, sekarang banyak yang mulai lupa</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12560" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/f76a32b1-8126-4fba-8a2a-d699a9bdfe7f-168x300.jpeg" alt="" width="168" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/f76a32b1-8126-4fba-8a2a-d699a9bdfe7f-168x300.jpeg 168w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/f76a32b1-8126-4fba-8a2a-d699a9bdfe7f-572x1024.jpeg 572w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/f76a32b1-8126-4fba-8a2a-d699a9bdfe7f.jpeg 763w" sizes="(max-width: 168px) 100vw, 168px" /></p>
<p>Dora Wamafma mengungkapkan kebanggaannya karena masyarakat diberi kesempatan untuk kembali mengenal Fan Nanggi.</p>
<p>Ia menyaksikan sendiri bagaimana makanan yang tersedia habis ketika pengunjung datang dalam jumlah besar. Baginya, keadaan ini menunjukkan besarnya rasa ingin tahu masyarakat terhadap tradisi yang selama ini kurang dikenal.</p>
<p>Dora mengenang kehidupan masyarakat Biak pada masa lalu, ketika hubungan antartetangga terjalin erat. Orang saling mengenal dan peduli. Ketika ada tetangga yang lapar atau haus, orang lain dapat datang membantu.</p>
<p>Kehidupan masyarakat juga sangat dekat dengan alam. Keladi, ubi-ubian, sagu, dan ikan menjadi sumber pangan yang menopang kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Menurutnya, keadaan itu memperlihatkan bahwa kekerabatan tidak dibangun melalui kata-kata semata, tetapi melalui tindakan saling membantu dan berbagi.</p>
<p>Dora menyampaikan apresiasi kepada Bupati dan Wakil Bupati Biak Numfor yang memberi ruang bagi masyarakat untuk belajar kembali dari kebiasaan leluhur yang dinilainya baik dan layak dilestarikan.</p>
<p>Ia berharap Fan Nanggi dapat terus diperkenalkan kepada semua orang yang hidup dan tinggal di Biak, tanpa membedakan asal-usul mereka.</p>
<p><strong>Triana Suweni: Waropen siap belajar melalui studi tiru</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12552" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-1-188x300.jpeg" alt="" width="188" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-1-188x300.jpeg 188w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-1-643x1024.jpeg 643w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-1-768x1223.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.03-1.jpeg 858w" sizes="(max-width: 188px) 100vw, 188px" /></p>
<p>Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Waropen, Triana Suweni, menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan budaya Biak.</p>
<p>Ia mengatakan bahwa Waropen juga memiliki kebiasaan masyarakat yang mempunyai kemiripan nilai, meskipun menggunakan istilah dan bentuk pelaksanaan yang berbeda.</p>
<p>Sebagai daerah yang terus mengembangkan pembangunan dan kebudayaannya, Waropen, menurut Triana, perlu belajar dari pengalaman Kabupaten Biak Numfor dalam mengangkat tradisi lokal menjadi kegiatan edukasi masyarakat.</p>
<p>Ia membuka kemungkinan pelaksanaan studi tiru untuk mempelajari program Dinas Pariwisata Biak  dan menyesuaikannya dengan kebudayaan masyarakat adat Waropen dalam program pemerintah daerah.</p>
<p>Triana juga menyebut rencana Festival 1.000 Bakau di Waropen pada akhir 2026. Agenda ini menunjukkan adanya peluang untuk mempertemukan pelestarian budaya dengan kepedulian terhadap lingkungan.</p>
<p>Menurutnya, pelaksanaan Wor Fan Nanggi merupakan langkah maju karena tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menggali kebudayaan pada tataran pendidikan rakyat.</p>
<p>Ia berharap pengalaman dan nilai-nilai yang terkandung dalam Fan Nanggi dituliskan agar dapat dipelajari generasi muda. Ia juga mengakui bahwa dirinya datang ke stan makanan ketika banyak pengunjung sudah memadati lokasi, sehingga makanan tidak lagi mencukupi.</p>
<p><strong>Yunus Rumaropen: Budaya harus ditulis agar tidak hilang bersama berakhirnya pertunjukan</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12553" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-1-192x300.jpeg" alt="" width="192" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-1-192x300.jpeg 192w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-1-654x1024.jpeg 654w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-1-768x1202.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-1.jpeg 873w" sizes="(max-width: 192px) 100vw, 192px" /></p>
<p>Yunus Rumaropen menekankan bahwa kebudayaan Biak harus didokumentasikan secara tertulis.</p>
<p>Menurutnya, sebuah pertunjukan dapat berlangsung megah dan mengesankan, tetapi ketika acara selesai, masyarakat berisiko melupakan pesan yang disampaikan apabila tidak ada dokumentasi yang dapat dibaca kembali.</p>
<p>Ia mengingatkan pentingnya peran guru dalam memperkenalkan buku kepada siswa. Seorang guru bukan hanya bertugas mengajar di depan kelas, melainkan juga mendorong anak didiknya membaca dan memahami pengetahuan yang diwariskan melalui tulisan.</p>
<p>Bagi Yunus, buku merupakan jendela dunia sekaligus sarana menjaga ingatan kolektif suatu masyarakat.</p>
<p>Ia memandang Fan Nanggi sebagai upacara syukur dalam tradisi kekerabatan orang Biak. Leluhur mengajarkan kehidupan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.</p>
<p>Nilai-nilai itu juga tercermin dalam kewajiban menjaga hutan dan laut. Hutan tidak semestinya dirusak, sedangkan laut harus dirawat agar terus menyediakan sumber kehidupan bagi manusia.</p>
<p>Yunus berharap harmoni yang diwariskan orang Biak tidak hanya dipraktikkan di antara sesama orang Biak, tetapi juga diperluas dalam hubungan dengan masyarakat dari luar Biak.</p>
<p>Dengan demikian, kebudayaan menjadi sarana membangun kedamaian, kenyamanan, dan penghargaan terhadap sesama dalam masyarakat yang majemuk.</p>
<p><strong>Hesty Kbarek: Kegagalan panen tidak menghapus rasa syukur</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12554" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-198x300.jpeg" alt="" width="198" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-198x300.jpeg 198w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-677x1024.jpeg 677w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04-768x1162.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.04.jpeg 903w" sizes="(max-width: 198px) 100vw, 198px" /></p>
<p>Hesty Kbarek berpendapat bahwa kebudayaan orang Biak perlu dirawat melalui berbagai kegiatan yang mampu mengingatkan generasi sekarang terhadap jati diri mereka.</p>
<p>Sebagai bagian dari pemerintah, ia melihat pentingnya meningkatkan kegiatan kebudayaan agar warisan leluhur tidak hilang di tengah perubahan sosial.</p>
<p>Menurut Hesty, Fan Nanggi menunjukkan bahwa leluhur orang Biak telah membangun relasi spiritual dengan Manseren, relasi sosial dengan sesama, serta relasi ekologis dengan alam.</p>
<p>Ia juga mengingatkan bahwa ketika menghadapi kegagalan panen, masyarakat tidak semestinya kehilangan harapan. Relasi spiritual dengan Manseren menjadi sumber kekuatan untuk terus menjalani kehidupan.</p>
<p>Sebaliknya, ketika hasil panen berlimpah, masyarakat mengungkapkan rasa syukur melalui tradisi berbagi dan makan bersama.</p>
<p>Bagi Hesty, nilai inilah yang harus dipahami generasi muda: manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi bagian dari kehidupan bersama yang ditopang oleh berkat Tuhan, hubungan sosial, dan alam.</p>
<p>Ia menegaskan pentingnya dokumentasi tertulis agar nilai-nilai tersebut dapat menjadi pegangan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.</p>
<p><strong>Fran Akobiarek: Fan Nanggi dapat menggerakkan ekonomi keluarga dan pariwisata</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12559" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/0f7d9fcb-e746-4f3c-8f36-c0daee43ec63-186x300.jpeg" alt="" width="186" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/0f7d9fcb-e746-4f3c-8f36-c0daee43ec63-186x300.jpeg 186w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/0f7d9fcb-e746-4f3c-8f36-c0daee43ec63-635x1024.jpeg 635w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/0f7d9fcb-e746-4f3c-8f36-c0daee43ec63-768x1239.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/0f7d9fcb-e746-4f3c-8f36-c0daee43ec63.jpeg 847w" sizes="(max-width: 186px) 100vw, 186px" /></p>
<p>Fran Akobiarek, Sekretaris Pemberdayaan Perempuan, melihat Fan Nanggi dari sudut pandang pemberdayaan masyarakat dan ekonomi keluarga.</p>
<p>Menurutnya, kegiatan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan makanan lokal, mengembangkan usaha keluarga, dan meningkatkan daya tarik pariwisata Biak.</p>
<p>Masyarakat tidak hanya memperoleh kesempatan menikmati makanan secara gratis, tetapi juga diingatkan kembali pada tradisi leluhur melalui pengalaman berkumpul dan makan bersama.</p>
<p>Fran menilai pementasan drama kolosal yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut memiliki kekuatan edukatif. Cerita tentang kehidupan leluhur perlu terus disampaikan agar masyarakat tidak hanya terkesan ketika menyaksikan pertunjukan, tetapi juga memahami nilai yang dikandungnya.</p>
<p>Ia berharap tradisi Fan Nanggi didokumentasikan dan diwariskan melalui tulisan sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat dan generasi muda.</p>
<p>Besarnya jumlah pengunjung, yang menurut sejumlah narasumber mencapai lebih dari 14.000 orang, menjadi petunjuk penting bahwa kegiatan ini memiliki daya tarik sosial dan budaya yang besar. Pada saat yang sama, antusiasme tersebut perlu diimbangi dengan perencanaan makanan, pelayanan pengunjung, dan pengelolaan acara yang lebih matang.</p>
<p><strong>Lena Bagre: Fan Nanggi dapat menjadi jembatan kebudayaan di Tanah Papua</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12555" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-11.07.29-198x300.jpeg" alt="" width="198" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-11.07.29-198x300.jpeg 198w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-11.07.29-676x1024.jpeg 676w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-11.07.29-768x1163.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-11.07.29.jpeg 902w" sizes="(max-width: 198px) 100vw, 198px" /></p>
<p>Ibu Lena Bagre menilai Fan Nanggi memiliki kemiripan nilai dengan sejumlah tradisi masyarakat adat di Papua, termasuk di Merauke dan kabupaten/kota lainnya, meskipun istilah serta cara pelaksanaannya berbeda.</p>
<p>Ia mengusulkan agar momentum seperti Wor Fan Nanggi dimanfaatkan untuk membangun komunikasi antarpemerintah daerah dan masyarakat adat yang memiliki kesamaan nilai kebudayaan.</p>
<p>Menurutnya, perbedaan istilah dalam bahasa lokal tidak seharusnya menjadi alasan untuk memisahkan tradisi yang memiliki esensi serupa.</p>
<p>Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat memperkaya khazanah kebudayaan Papua. Setiap daerah tetap mempertahankan identitas dan istilah lokalnya, sembari membangun pemahaman bersama mengenai nilai syukur, persaudaraan, dan kebersamaan.</p>
<p>Lena bahkan membayangkan apabila Fan Nanggi dapat menjadi ruang pertemuan kebudayaan masyarakat adat di kawasan Saireri. Hal itu, menurutnya, akan menjadi langkah yang sangat berarti bagi penguatan hubungan antarmasyarakat adat.</p>
<p>Namun, ia juga menyoroti kekurangan makanan pada pelaksanaan kali ini. Ia berharap tahun depan makanan lokal diperbanyak dan tidak ada perlakuan khusus yang memisahkan pejabat atau tamu kehormatan dari masyarakat umum.</p>
<p><strong>Yan Piter Kafiar: Fan Nanggi adalah ujian pelayanan publik tanpa sekat</strong></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-12556" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.05-196x300.jpeg" alt="" width="196" height="300" srcset="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.05-196x300.jpeg 196w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.05-669x1024.jpeg 669w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.05-768x1175.jpeg 768w, https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-19-at-12.15.05.jpeg 893w" sizes="(max-width: 196px) 100vw, 196px" /></p>
<p>Yan Piter Kafiar menilai praktik Fan Nanggi perlu terus dievaluasi agar pelaksanaannya tidak bergeser dari nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur.</p>
<p>Ia menyarankan agar penyelenggaraan berikutnya tidak menggunakan meja khusus yang memisahkan tamu kehormatan dari masyarakat. Menurutnya, seluruh peserta sebaiknya duduk bersama dan menikmati makanan dalam suasana persaudaraan.</p>
<p>Bagi Yan Piter, seorang <em>mambri</em> yang mengayomi masyarakat seharusnya hadir di tengah rakyat, terutama ketika masyarakat sedang merayakan berkat yang diterima bersama.</p>
<p>Ia berharap Bupati dan Wakil Bupati Biak Numfor terus mendorong pelaksanaan Fan Nanggi dengan pendekatan yang mengutamakan kebersamaan.</p>
<p>Ia juga menginginkan agar tahun depan masyarakat tidak pulang tanpa menikmati makanan. Jika memungkinkan, makanan lokal disediakan dalam jumlah yang cukup sehingga pengunjung dapat makan bersama sampai kenyang, sesuai kemampuan penyelenggara dan ketersediaan sumber daya.</p>
<p>Dalam pandangannya, nilai Fan Nanggi akan semakin bermakna apabila diterjemahkan menjadi praktik pelayanan publik yang setara, terbuka, dan berpihak kepada masyarakat.</p>
<p><strong>Fan Nanggi: Dari tradisi syukur menuju pendidikan karakter dan keadilan sosial</strong></p>
<p>Berbagai testimoni tersebut memperlihatkan bahwa Wor Fan Nanggi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sebuah festival budaya.</p>
<p>Pertama, Fan Nanggi merupakan ekspresi syukur atas berkat kehidupan. Makanan yang dibagikan menjadi simbol bahwa hasil bumi dan rezeki tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi dapat menjadi sarana mempererat hubungan dengan sesama.</p>
<p>Kedua, Fan Nanggi menghidupkan kembali kekerabatan yang mulai melemah akibat perubahan sosial. Kesaksian tentang tetangga yang dahulu saling mengenal, saling membantu, dan berbagi makanan memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jawaban atas renggangnya hubungan sosial.</p>
<p>Ketiga, Fan Nanggi mengandung pesan ekologis. Hutan, laut, sagu, keladi, umbi-umbian, dan ikan merupakan bagian dari sistem kehidupan yang harus dipelihara. Rasa syukur akan kehilangan makna apabila manusia merusak sumber kehidupan yang menopang keberadaannya.</p>
<p>Keempat, Fan Nanggi merupakan ruang inklusivitas. Warga asal Manado, masyarakat Biak, dan pengunjung dari daerah lain dapat menemukan nilai-nilai yang saling berdekatan melalui tradisi berbagi dan makan bersama.</p>
<p>Kelima, Fan Nanggi dapat menjadi penggerak ekonomi keluarga, terutama melalui pengembangan kuliner lokal, usaha masyarakat, dan promosi pariwisata berbasis budaya.</p>
<p>Namun, terdapat catatan penting: tingginya jumlah pengunjung tidak otomatis menunjukkan bahwa semua tujuan kegiatan telah tercapai. Ketika makanan tidak mencukupi, sebagian pengunjung tidak memperoleh pengalaman makan bersama sebagaimana diharapkan. Persoalan tersebut perlu dilihat sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan, bukan sebagai alasan untuk mengurangi nilai positif kegiatan.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Wor Fan Nanggi pada 18 Oktober 2026 telah memperlihatkan tingginya minat masyarakat untuk mengenal kembali kebudayaan Biak. Pertunjukan drama kolosal membangkitkan ingatan terhadap kehidupan leluhur, sedangkan makanan tradisional menghadirkan gambaran tentang syukur, berbagi, dan kekerabatan.</p>
<p>Akan tetapi, berbagai kesaksian juga menyampaikan pesan yang tegas: pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan acara tahunan.</p>
<p>Fan Nanggi perlu dihidupkan dalam kehidupan keluarga, diajarkan di sekolah, didokumentasikan dalam buku, dikembangkan melalui usaha ekonomi masyarakat, serta diwujudkan dalam hubungan sosial yang tidak membedakan orang berdasarkan jabatan atau kedudukan.</p>
<p>Kekurangan makanan menjadi pengingat bahwa keberhasilan festival tidak cukup dinilai dari banyaknya pengunjung, kemegahan panggung, atau dokumentasi kegiatan. Keberhasilan juga harus diukur dari pengalaman masyarakat, keterlibatan pelaku budaya, pemerataan manfaat ekonomi, dan keberlanjutan pendidikan budaya.</p>
<p>Dengan demikian, Fan Nanggi berpotensi menjadi warisan hidup yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan orang Biak.</p>
<p><strong>Rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dan para pemangku kepentingan</strong></p>
<ol>
<li><strong> Menetapkan Wor Fan Nanggi sebagai agenda budaya tahunan yang berkelanjutan.</strong></li>
</ol>
<p>Pemerintah daerah bersama masyarakat adat perlu menyusun kalender kegiatan, tujuan pendidikan budaya, pembagian peran, serta mekanisme evaluasi setiap tahun. Pelaksanaan harus melibatkan tokoh adat, perempuan, pemuda, guru, pelaku usaha, dan komunitas masyarakat.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Menyusun perencanaan makanan berdasarkan perkiraan pengunjung.</strong></li>
</ol>
<p>Pengalaman tahun 2026 perlu menjadi dasar untuk memperbaiki perhitungan kebutuhan makanan. Penyelenggara dapat melakukan pendataan pelaku kuliner, memperkirakan jumlah porsi, menyiapkan cadangan yang memadai, menyediakan air minum, serta mengatur distribusi agar pengunjung memperoleh kesempatan yang lebih merata.</p>
<p>Penyediaan makanan perlu disesuaikan dengan anggaran, kapasitas penyelenggara, dan kemampuan produksi masyarakat lokal.</p>
<ol start="3">
<li><strong> Mewujudkan makan bersama tanpa sekat sosial.</strong></li>
</ol>
<p>Pemerintah dan panitia perlu mempertimbangkan konsep makan bersama yang mencerminkan nilai kekerabatan Fan Nanggi. Pengaturan tempat bagi pejabat dan tamu dapat disesuaikan dengan kebutuhan protokoler, tetapi tidak semestinya menghilangkan kesempatan masyarakat untuk berinteraksi dan menikmati hidangan dalam semangat kesetaraan.</p>
<ol start="4">
<li><strong> Memasukkan nilai Fan Nanggi ke dalam pendidikan lokal.</strong></li>
</ol>
<p>Dinas Pendidikan bersama tokoh adat, guru, dan pegiat budaya dapat mengembangkan bahan ajar muatan lokal yang menjelaskan sejarah, istilah, nilai, dan praktik Fan Nanggi. Materi dapat disampaikan melalui pembelajaran, cerita rakyat, wawancara dengan tetua adat, kunjungan budaya, dan kegiatan proyek siswa.</p>
<ol start="5">
<li><strong> Menerbitkan buku dan dokumentasi resmi Fan Nanggi.</strong></li>
</ol>
<p>Pemerintah daerah, lembaga adat, sekolah, dan media perlu bekerja sama mendokumentasikan sejarah lisan, kisah para tetua, ritual, makanan tradisional, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Dokumentasi perlu disusun melalui penelitian dan konsultasi dengan pemilik pengetahuan adat agar istilah, makna, dan praktik budaya tidak ditafsirkan secara keliru. Hasilnya dapat diterbitkan sebagai buku, modul pembelajaran, arsip digital, dan bahan bacaan untuk perpustakaan sekolah.</p>
<ol start="6">
<li><strong> Menghubungkan Fan Nanggi dengan pemberdayaan ekonomi keluarga.</strong></li>
</ol>
<p>Pelaksanaan festival perlu memberi ruang yang memadai bagi kelompok perempuan, petani, nelayan, pengolah sagu, pembuat makanan tradisional, dan pelaku UMKM. Mekanisme pengadaan makanan dan stan usaha hendaknya transparan, sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak.</p>
<ol start="7">
<li><strong> Mengembangkan kerja sama kebudayaan antardaerah di Papua.</strong></li>
</ol>
<p>Gagasan studi tiru dari Kabupaten Waropen dapat ditindaklanjuti melalui pertukaran pengetahuan, dokumentasi tradisi, dan dialog antarmasyarakat adat. Kerja sama dengan daerah lain di kawasan Saireri dan wilayah Papua yang memiliki tradisi serupa juga dapat dipertimbangkan.</p>
<p>Setiap daerah harus tetap mempertahankan nama, bahasa, dan identitas budayanya sendiri. Tujuannya bukan menyeragamkan tradisi, melainkan saling belajar dan memperkuat persaudaraan.</p>
<ol start="8">
<li><strong> Mengintegrasikan pelestarian budaya dengan perlindungan lingkungan.</strong></li>
</ol>
<p>Pesan tentang harmoni dengan alam perlu diterjemahkan melalui kegiatan nyata, seperti edukasi menjaga hutan dan laut, pengurangan sampah festival, penggunaan bahan pangan lokal, serta pengenalan praktik pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab.</p>
<ol start="9">
<li><strong> Melakukan evaluasi terbuka setelah kegiatan.</strong></li>
</ol>
<p>Pemerintah dan panitia perlu mengundang perwakilan masyarakat untuk mengevaluasi jumlah pengunjung, kecukupan makanan, keterlibatan pelaku lokal, kenyamanan lokasi, dampak ekonomi, dan manfaat pendidikan budaya. Hasil evaluasi dapat menjadi dasar perencanaan Wor Fan Nanggi berikutnya.</p>
<p><strong>Penutup: Warisan leluhur harus hidup dalam tindakan</strong></p>
<p>Fan Nanggi mengajarkan bahwa rasa syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan melalui kesediaan berbagi. Kekerabatan tidak cukup dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Harmoni dengan alam tidak cukup ditampilkan dalam drama kolosal, tetapi harus menjadi pedoman dalam menjaga hutan, laut, dan sumber pangan.</p>
<p>Karena itu, pesan masyarakat Biak melalui Wor Fan Nanggi layak menjadi perhatian bersama: <strong>jangan biarkan warisan leluhur hanya ramai dipentaskan, tetapi sepi dalam kehidupan nyata.</strong></p>
<p>Jika Fan Nanggi dilaksanakan secara berkelanjutan, diajarkan di sekolah, ditulis dalam buku, dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat, dan diwujudkan dalam pelayanan publik yang setara, tradisi ini dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi pembangunan manusia dan kebudayaan di Biak Numfor.</p>
<p>Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Fan Nanggi bukan semata-mata berapa banyak orang yang datang, melainkan berapa banyak orang yang pulang dengan memahami makna syukur, membawa semangat persaudaraan, dan bersedia menjaga warisan leluhur untuk generasi berikutnya.</p>
<p>Biak, 19 Oktober 2026</p>
<p><strong>Paulus Laratmase</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komaruddin Hidayat, Menulis Melawan Senja</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/komaruddin-hidayat-menulis-melawan-senja</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 23:57:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Komaruddin Hidayat]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis Melawan Senja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12538</guid>

					<description><![CDATA[Elza Peldi Taher &#8211; JAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI&#124; Komaruddin Hidayat kembali menulis buku. Kali ini judulnya Islam yang Saya Pahami. Buku ini hadir ketika usianya genap 73 tahun. Bagi Mas Komar, demikian saya biasa memanggilnya, bertambahnya usia bukan sekadar peristiwa biologis yang ditandai dengan ucapan selamat dan tiupan lilin. Usia adalah kesempatan untuk kembali [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Elza Peldi Taher</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>JAKARTA &#8211; SUARA ANAK NEGERI</strong>| Komaruddin Hidayat kembali menulis buku. Kali ini judulnya Islam yang Saya Pahami. Buku ini hadir ketika usianya genap 73 tahun. Bagi Mas Komar, demikian saya biasa memanggilnya, bertambahnya usia bukan sekadar peristiwa biologis yang ditandai dengan ucapan selamat dan tiupan lilin. Usia adalah kesempatan untuk kembali merenung, menengok perjalanan hidup, dan mewariskan sesuatu kepada generasi berikutnya. Sejak beberapa tahun terakhir, ia membangun tradisi yang menarik. Setiap kali usianya bertambah, lahirlah sebuah buku. Isinya bukan sekadar kumpulan gagasan, melainkan endapan pengalaman panjang seorang intelektual yang terus bergulat dengan persoalan agama, kebangsaan, kemanusiaan, dan makna kehidupan. Seakan-akan ia ingin mengatakan bahwa usia boleh bertambah, tetapi pikiran tidak boleh berhenti bertumbuh.</p>
<p>Tradisi itu mulai berkembang ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Ketika orang-orang terkurung di rumah, pertemuan dibatasi, dan kehidupan sosial seolah berhenti berputar, Mas Komar justru menemukan ruang baru untuk terus berdialog. Ia mendirikan forum Urban Sufism, sebuah ruang perjumpaan intelektual dan spiritual yang secara rutin menyelenggarakan webinar dua kali sebulan. Dalam forum itu, Mas Komar hampir selalu hadir sebagai pembicara. Namun, ada sesuatu yang menarik dari caranya berdiskusi. Ia tidak merasa harus mendominasi pembicaraan. Justru ia lebih senang mendengarkan narasumber lain, mengajukan pertanyaan yang menggugah, lalu membuka ruang bagi lahirnya pandangan-pandangan baru. Di tengah kebiasaan banyak orang yang ingin terus berbicara, Mas Komar memperlihatkan bahwa seorang intelektual juga harus memiliki kesabaran untuk mendengarkan. Barangkali di situlah salah satu tanda kedalaman ilmunya.</p>
<p>Kini buku terbarunya segera diperkenalkan kepada publik. Berbagai komunitas telah bersiap menyambut kelahirannya. Satupena akan mendiskusikan buku Islam yang Saya Pahami dalam webinar pada 22 Oktober 2026. Komunitas Caknurian juga merencanakan peluncuran buku tersebut pada akhir Oktober di kediaman seorang intelektual Muslim terkemuka. Sambutan semacam ini tentu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Buku-buku Mas Komar memang memiliki pembaca setia. Ia menulis dengan bahasa sederhana, jernih, dan mudah dipahami, tetapi di balik kesederhanaan itu tersimpan perenungan yang dalam.</p>
<p>Pembaca tidak merasa sedang digurui. Mereka seperti diajak duduk bersama, berbincang tentang Tuhan, manusia, dan kehidupan. Menariknya, buku-bukunya tetap mendapat sambutan di tengah anggapan bahwa zaman buku cetak sedang menuju senja. Mas Komar seolah membuktikan bahwa buku yang ditulis dengan hati dan pikiran yang jernih akan selalu menemukan pembacanya. Tidak mengherankan jika penerbit besar seperti Gramedia tetap menaruh kepercayaan pada karya-karyanya.</p>
<p>Bagi saya, Mas Komar bukan sekadar intelektual yang buku-bukunya saya baca. Ia adalah sahabat lama yang kehadirannya menyimpan banyak kenangan. Perkenalan kami bermula pada awal 1990-an, ketika ia baru menyelesaikan pendidikan doktornya di Turki dan mulai bergabung dengan Paramadina. Suatu hari, seusai memberikan kuliah dalam Forum Studi Islam Paramadina di Pondok Indah, Cak Nur tiba-tiba berkata kepada saya bahwa akan ada seorang anak muda pintar yang bergabung. Namanya Komaruddin Hidayat. Saya menyambut kabar itu dengan gembira. Meskipun belum pernah bertemu langsung, saya sudah cukup sering mendengar namanya. Tidak lama kemudian Mas Komar datang ke kantor Paramadina. Saya menyambutnya dan kami berbincang cukup panjang. Kesan pertama saya sangat kuat. Ia lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada berbicara. Tidak ada sedikit pun kesan ingin memamerkan pengetahuan, apalagi menggurui. Padahal, ia baru saja pulang membawa gelar doktor dari luar negeri.</p>
<p>Tidak membutuhkan waktu lama bagi Mas Komar untuk menjadi salah seorang pengajar yang sangat disukai peserta kajian Paramadina. Cara mengajarnya hidup, bahasanya mudah dipahami, dan ia mampu menjelaskan persoalan filsafat maupun keagamaan yang rumit menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada masa itulah kami juga terlibat dalam sebuah pekerjaan penting, yakni mempersiapkan penerbitan naskah-naskah kuliah Cak Nur yang selama bertahun-tahun disampaikan dalam Klub Kajian Agama Paramadina. Setelah melalui proses penyuntingan, naskah tersebut kami kirimkan kepada Cak Nur yang ketika itu sedang berada di Turki untuk menjalankan tugas mengajar. Tidak lama kemudian datanglah kata pengantar dari Cak Nur. Pendek saja, sekitar tiga halaman. Mas Komar membaca pengantar itu dan merasa belum cukup. Ia mengusulkan agar Cak Nur menulis pengantar yang lebih panjang, yang sekaligus dapat menjelaskan kerangka besar pemikirannya.</p>
<p>Kami pun menunggu. Cukup lama tidak ada kabar. Namun, penantian itu ternyata menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Cak Nur akhirnya mengirimkan kata pengantar yang panjangnya hampir 50 halaman. Bukan lagi sekadar pengantar buku, melainkan sebuah uraian mendalam tentang gagasan-gagasan keislaman yang selama ini dikembangkannya. Buku itu kemudian terbit dengan judul Islam, Doktrin dan Peradaban, sebuah karya monumental yang menjadi salah satu rujukan penting dalam khazanah pemikiran Islam Indonesia. Hingga kini buku tersebut tetap dibaca, dikaji, dan menjadi referensi bagi kalangan akademisi maupun peminat studi Islam. Saya sering mengenang peristiwa itu. Bayangkan, seandainya Mas Komar tidak mendorong Cak Nur memperpanjang kata pengantarnya, mungkin kita tidak akan memperoleh sebuah tulisan penting yang begitu kaya. Kadang-kadang sebuah sumbangan besar terhadap dunia pemikiran justru bermula dari percakapan sederhana di antara orang-orang yang memiliki kegelisahan intelektual yang sama.</p>
<p>Sejak masa itulah persahabatan dan kerja sama intelektual kami semakin erat. Bersama Mas Komar, Budhy Munawar Rachman, dan Nafis, kami merancang berbagai kursus Studi Islam Paramadina sekaligus mempersiapkan penerbitan sejumlah buku. Kami ingin agar gagasan-gagasan besar tentang Islam tidak berhenti sebagai bahan perbincangan di ruang kuliah, tetapi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Paramadina ketika itu menjadi semacam rumah intelektual, tempat berbagai pemikiran dipertemukan, diperdebatkan, dan dikembangkan dalam suasana yang terbuka. Mas Komar memainkan peran penting dalam proses tersebut. Ia bukan hanya seorang pengajar yang disukai, tetapi juga kawan berdiskusi yang selalu menghadirkan gagasan segar. Bagi saya, masa-masa itu merupakan salah satu periode paling berkesan dalam perjalanan intelektual kami. Kami tidak sekadar bekerja bersama menerbitkan buku atau menyelenggarakan kursus, tetapi juga ikut merawat sebuah tradisi pemikiran Islam yang terbuka, kritis, dan menghargai keberagaman.</p>
<p>Ada satu kebiasaan Mas Komar yang selalu saya kenang sejak masa-masa di Paramadina. Setiap kali selesai mengajar, ia hampir selalu mengajak kami makan bersama. Dan seperti sudah menjadi hukum tidak tertulis, Mas Komarlah yang selalu menjadi juru bayar. Kami tinggal menikmati makanan dan melanjutkan obrolan yang sering kali tak kalah menarik dibandingkan diskusi di ruang kuliah. Dari persoalan agama, filsafat, politik, hingga cerita-cerita ringan kehidupan sehari-hari, semuanya mengalir begitu saja di meja makan. Menariknya, kebiasaan itu tidak pernah berubah hingga sekarang. Mas Komar tetap senang mengajak sahabat-sahabatnya makan, dan tetap pula menjadi orang yang paling cepat menyelesaikan tagihan. Bagi saya, di situlah salah satu keistimewaannya. Ia bukan hanya pandai merawat gagasan, tetapi juga pandai merawat persahabatan. Barangkali karena itulah orang selalu merasa nyaman berada di dekatnya. Ilmunya membuat orang menghormatinya, tetapi kehangatan dan kemurahan hatinya membuat orang menyayanginya.</p>
<p>Di luar kehidupan intelektualnya, Mas Komar adalah pribadi yang hangat, sederhana, dan menyenangkan. Ada kalanya ia menelepon hanya untuk menanyakan kabar. Pernah suatu hari, ketika masih menjabat sebagai rektor, ia tiba-tiba datang ke rumah saya sepulang bermain golf di lapangan yang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tidak ada acara khusus. Ia datang, duduk sebentar, berbincang santai, lalu pulang. Peristiwa sederhana semacam itu justru meninggalkan kesan mendalam. Saya melihat seorang intelektual yang tidak kehilangan kehangatan manusiawinya di tengah kesibukan dan kedudukannya. Ia tetap memelihara persahabatan, bahkan melalui perhatian-perhatian kecil yang sering kali lebih bermakna daripada pertemuan resmi yang penuh basa-basi.</p>
<p>Perhatian Mas Komar terhadap saya kembali terasa ketika saya menjalankan ibadah haji pada 2025. Selama berada di Tanah Suci, saya hampir setiap hari menulis pengalaman dan renungan tentang perjalanan spiritual tersebut. Mas Komar termasuk orang yang rajin membaca tulisan-tulisan saya. Sesekali ia memberikan komentar dan apresiasi yang membuat saya semakin bersemangat menulis. Sepulang dari Tanah Suci, ketika saya berkeinginan menerbitkan catatan perjalanan itu menjadi buku Mencari Tuhan di Tanah Suci, Mas Komar ikut membantu mencarikan jalan. Ia menghubungi dan menjajaki kemungkinan dengan pihak-pihak yang dapat mendukung penerbitannya. Alhamdulillah, buku itu akhirnya terbit dengan dukungan dana dari BPKH. Saya tahu, di balik terbitnya buku tersebut, ada perhatian dan ikhtiar seorang sahabat yang tidak pernah merasa perlu menonjolkan jasanya.</p>
<p>Ada satu kalimat Mas Komar yang terus terngiang dalam ingatan saya. Suatu ketika, dalam sebuah percakapan, ia berkata, “Elza, yang tetap harus kita lakukan di usia senja adalah menulis.” Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Saya membayangkan, bagi Mas Komar, menulis bukan lagi sekadar kegiatan intelektual, melainkan sebuah pengabdian sunyi yang harus terus dipelihara. Pada usia kami sekarang, ketika perjalanan hidup sudah begitu panjang dan waktu yang tersisa semakin terbatas, menulis menjadi cara untuk berdamai dengan usia sekaligus melawan kefanaan. Pada masa muda, orang mungkin menulis untuk mencari nama, membangun reputasi, atau memperjuangkan gagasan. Namun, ketika senja kehidupan mulai datang, menulis memperoleh makna yang berbeda. Ia menjadi cara untuk berbagi pengalaman, mewariskan kebijaksanaan, dan meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi yang datang kemudian. Tubuh boleh semakin renta, langkah boleh semakin lambat, tetapi pikiran harus terus berjalan. Sebab, apa yang telah kita pelajari sepanjang hidup tidak seharusnya ikut terkubur bersama usia.</p>
<p>Saya melihat Mas Komar menjalani keyakinan itu dengan penuh ketekunan. Ia tidak berhenti menulis setelah memperoleh gelar akademik, menduduki jabatan penting, atau dikenal luas sebagai intelektual Muslim. Justru semakin bertambah usianya, semakin terasa keinginannya untuk berbagi. Buku demi buku lahir, seolah menjadi penanda perjalanan hidup yang tidak pernah selesai mencari makna. Dalam tradisi intelektual, mungkin inilah salah satu warisan paling berharga: bukan hanya gagasan yang disampaikan, tetapi juga keteladanan untuk terus berpikir, membaca, berdialog, dan menulis. Sebab, peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang kekuasaan, tetapi juga oleh orang-orang yang dengan tekun merawat ingatan, menghidupkan gagasan, dan mewariskan pengetahuan melalui tulisan.</p>
<p>Selamat ulang tahun ke-73, Mas Komar. Selamat pula atas kelahiran buku Islam yang Saya Pahami. Semoga kesehatan, kejernihan pikiran, dan semangat berkarya selalu menyertai perjalanan hidupmu. Teruslah menulis. Sebab, buku bukan sekadar tumpukan halaman yang akan memenuhi rak perpustakaan. Di dalamnya ada pikiran yang terus berbicara, pengalaman yang terus mengalir, dan kebijaksanaan yang dapat melintasi batas usia. Suatu hari, ketika langkah kita tidak lagi sejauh sekarang dan suara kita mungkin tak lagi terdengar, tulisan-tulisan itulah yang akan melanjutkan percakapan kita dengan dunia. Manusia boleh menua, tetapi gagasan tidak harus ikut menua. Dan selama masih ada orang yang membaca, sebuah pemikiran akan terus hidup, melintasi waktu, menjaga nyala peradaban.</p>
<p>Pondok Cabe Udik 19 Oktober 2026</p>
<p>Elza Peldi Taher</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Awal Keruntuhan Dinasti Aliyev</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/internasional/awal-keruntuhan-dinasti-aliyev</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 23:50:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Awal Keruntuhan Dinasti Aliyev]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12533</guid>

					<description><![CDATA[Secangkir Kopi Cak Mus &#8211; 19.10.26 &#8211; Selamat datang di Azerbaijan, sebuah negeri di mana definisi &#8220;Republik&#8221; berhasil didekonstruksi secara jenius menjadi sebuah kerajaan keluarga yang dibungkus dengan rapi oleh selembar kertas konstitusi. Jika Anda mengira drama politik di negara kita sudah mencapai puncak komedi nepotisme, luangkan waktu sejenak untuk menengok Baku. Dibandingkan dengan dinasti [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Secangkir Kopi Cak Mus &#8211; 19.10.26</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-12536" src="https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2026/10/mus-1.webp" alt="" width="512" height="512" /></p>
<p>Selamat datang di Azerbaijan, sebuah negeri di mana definisi &#8220;Republik&#8221; berhasil didekonstruksi secara jenius menjadi sebuah kerajaan keluarga yang dibungkus dengan rapi oleh selembar kertas konstitusi. Jika Anda mengira drama politik di negara kita sudah mencapai puncak komedi nepotisme, luangkan waktu sejenak untuk menengok Baku. Dibandingkan dengan dinasti Aliyev, apa yang terjadi di tanah air kita hanyalah latihan magang tingkat amatir.<br />
Mari kita bedah bagaimana cara kerja sebuah &#8220;Republik Rasa Kerajaan&#8221; yang sesungguhnya:</p>
<p>1. Estafet Takhta yang Estetis</p>
<p>Kisah suksesi di Azerbaijan adalah bukti nyata dari pepatah &#8220;buah jatuh tidak jauh dari pohonnya&#8221;—dan jika bisa, buahnya langsung jatuh ke kursi empuk kepresidenan. Ilham Aliyev telah berkuasa sejak 2003, mewarisi takhta (baca: jabatan presiden) langsung dari ayahnya, Heydar Aliyev, yang memerintah dari 1993 hingga 2003.<br />
Sebelum sang ayah turun takhta, Ilham sudah diberi posisi pemanasan sebagai Perdana Menteri. Transisi yang begitu mulus, dinamis, dan tentu saja, sangat &#8220;demokratis&#8221;.</p>
<p>2. Konstitusi: Adonan Kue yang Fleksibel</p>
<p>Di Azerbaijan, hukum dan konstitusi bukanlah harga mati, melainkan adonan kue yang bisa diulen kapan saja sesuai selera penguasa:<br />
* Tahun 2008: Konstitusi membatasi masa jabatan? Tenang, parlemen tinggal mencabut aturan pembatasan dua periode tersebut. Masalah selesai.<br />
* Tahun 2013: Sudah terpilih lagi, tapi merasa lima tahun terlalu cepat berlalu? Ubah saja undang-undangnya agar masa jabatan diperpanjang menjadi tujuh tahun.<br />
Hukum di sana tidak mengatur penguasa; penguasalah yang mendikte hukum dengan penuh kasih sayang.</p>
<p>3. Family Time di Istana Negara</p>
<p>Puncak dari romantisme politik global terjadi pada tahun 2017. Melalui amandemen konstitusi yang luar biasa efisien, Presiden Ilham diberi wewenang untuk menunjuk wakil presidennya sendiri. Siapa pilihan terbaik untuk mendampingi sang presiden mengurus negara? Tentu saja Mehriban Aliyeva, istri tercintanya.<br />
Maka, terbentuklah manajemen rumah tangga paling berkuasa di dunia. Rapat kabinet bisa dilakukan sambil sarapan pagi, dan evaluasi kinerja wapres bisa diselesaikan sebelum tidur. Harmonis sekali.</p>
<p>4. Anak Usia 11 Tahun dengan Aset London</p>
<p>Bagaimana dengan anak-anak mereka? Meskipun Leyla, Arzu, dan Heydar Aliyev tidak memiliki jabatan formal yang tertera di papan struktur pemerintahan, mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih konkret: jaringan perusahaan raksasa dan kepemilikan aset tanpa batas.<br />
Prestasi paling membanggakan jatuh kepada si bungsu, Heydar Aliyev. Di saat anak-anak usia 11 tahun di belahan dunia lain masih bingung menghabiskan uang jajan sekolah, Heydar kecil sudah tercatat memiliki portofolio properti komersial mewah di London. Sebuah bakat bisnis bawaan lahir yang luar biasa.</p>
<p>5. Masa Depan yang Sudah Terpeta</p>
<p>Bagi Azerbaijan, memikirkan masa depan negara tidak perlu repot-repot menggelar konvensi partai yang melelahkan.</p>
<p>Sang putri sulung, Leyla Aliyeva, kini sedang dipersiapkan dengan matang untuk melanjutkan estafet dinasti.<br />
Ditunjuk sebagai utusan khusus presiden, Leyla selalu hadir dalam setiap pertemuan internasional tingkat tinggi. Ini bukan nepotisme; ini hanyalah program management trainee keluarga yang kebetulan skalanya mencakup satu negara.</p>
<p>Melihat bagaimana dinasti Aliyev mengontrol eksekutif melalui suami-istri, mempersiapkan legislasi lewat parlemen yang penurut, dan menguasai ekonomi hingga ke tangan anak-anaknya, kita patut menarik napas lega.</p>
<p>Ternyata, dinamika politik, nepotisme, dan oligarki di negara kita masih tergolong &#8220;lucu-lucuan&#8221; dan amatir. Di atas langit masih ada Azerbaijan. Setidaknya, politisi kita masih harus berpura-pura menggunakan strategi rumit dan gimik politik demi kekuasaan. Sementara di Azerbaijan, kekuasaan diurus layaknya mengelola toko kelontong keluarga: dari ayah, ke anak, didampingi istri, dan asetnya disimpan atas nama cucu.</p>
<p>Prekondisi ini akan terakumulasi dan mencapai puncak ketidakpuasan rakyatnya. Tidak ada dinasti di dunia ini yang bisa bertahan seumur hidup.</p>
<p>Awal keruntuhan dinasti Aliyev dimulai dari larangan hijab di sekolah. Ini akan membesar dan membakar ke mana saja karena Gen Z bergerak tanpa bisa dikendalikan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membaca Pernikahan dari Halaman-Halaman Sastra</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/membaca-pernikahan-dari-halaman-halaman-sastra</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 23:27:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca Pernikahan dari Halaman-Halaman Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12528</guid>

					<description><![CDATA[Heri Isnaini &#8211; Pada hari pernikahan, kita kerap menyaksikan kata-kata yang diucapkan dengan penuh harapan: “Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.” Ucapan itu beredar dari mulut ke mulut, tertulis dalam kartu ucapan, disampaikan melalui pesan singkat, atau diselipkan di antara foto-foto pasangan pengantin yang tersenyum di hadapan kamera. Ada kebahagiaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Heri Isnaini</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Pada hari pernikahan, kita kerap menyaksikan kata-kata yang diucapkan dengan penuh harapan: “Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.” Ucapan itu beredar dari mulut ke mulut, tertulis dalam kartu ucapan, disampaikan melalui pesan singkat, atau diselipkan di antara foto-foto pasangan pengantin yang tersenyum di hadapan kamera. Ada kebahagiaan yang ingin dibagikan, ada harapan yang hendak dititipkan, dan ada doa yang dipanjatkan agar dua orang yang telah memilih satu sama lain mampu menjalani kehidupan bersama dengan tenteram.</p>
<p>Akan tetapi, saya selalu merasa bahwa kata-kata yang baik menyimpan pertanyaan yang tidak sederhana. Ketika kita mengucapkan sakinah, misalnya, apakah kita sedang mendoakan sesuatu yang akan datang atau sesungguhnya sedang mengakui bahwa ketenteraman merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan? Ketika kita menyebut mawaddah, apakah cinta akan selalu menemukan jalannya sendiri atau justru membutuhkan pengetahuan tentang orang lain yang tidak pernah selesai dipelajari? Dan ketika rahmah kita ucapkan sebagai bagian dari doa pernikahan, apakah kita telah sungguh-sungguh memahami bahwa kasih sayang juga berarti kesediaan merawat seseorang ketika ia tidak sedang menyenangkan, tidak selalu sependapat, dan tidak selalu memenuhi harapan kita?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya kepada sastra. Barangkali karena sastra tidak tergesa-gesa memberikan jawaban, melainkan menyediakan ruang bagi pengalaman manusia untuk diperiksa dari berbagai sisi. Dalam karya sastra, pernikahan tidak selalu hadir sebagai peristiwa yang membahagiakan. Pernikahan dapat menjadi ruang perjumpaan, tetapi juga arena pertentangan; dapat menjadi tempat seseorang menemukan dirinya, tetapi dapat pula menjadi tempat seseorang kehilangan kebebasan untuk menentukan siapa dirinya.</p>
<p>Kita dapat membaca persoalan itu melalui Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, novel yang pertama kali terbit pada 1922. Kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri sering dikenang sebagai cerita cinta yang tidak sampai. Namun, jika kita membaca lebih jauh daripada kesedihan sepasang kekasih, novel ini memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar: perkawinan dapat menjadi institusi yang mempertemukan kehidupan pribadi dengan kekuasaan sosial dan ekonomi. Sitti Nurbaya terpaksa menikah dengan Datuk Maringgih demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan utang. Pilihan yang tampak seperti keputusan pribadi itu sesungguhnya berlangsung dalam situasi yang telah membatasi kebebasannya.</p>
<p>Di hadapan kisah tersebut, doa sakinah memperoleh dimensi yang berbeda. Ketenteraman tidak cukup dibayangkan sebagai suasana rumah yang tenang atau kehidupan keluarga yang tampak baik-baik saja. Ketenteraman juga berkaitan dengan martabat, kebebasan, dan kemampuan seseorang untuk menjalani perkawinan tanpa kehilangan haknya sebagai manusia. Rumah tangga yang dibangun di atas pemaksaan mungkin memiliki upacara, saksi, dan pengakuan sosial, tetapi semua itu tidak dengan sendirinya menghadirkan kedamaian batin. Sastra mengingatkan kita bahwa status perkawinan dan pengalaman hidup dalam perkawinan merupakan dua hal yang tidak selalu berjalan seiring.</p>
<p>Dari sini, sakinah bukan sekadar kata yang kita titipkan kepada pasangan pengantin. Sakinah merupakan harapan etis tentang kehidupan bersama, tentang bagaimana seseorang dapat merasa aman tanpa harus mengecilkan dirinya di hadapan orang yang dicintainya. Ketenteraman tidak lahir dari ketiadaan perbedaan, melainkan dari cara dua orang menghadapi perbedaan tanpa mengubahnya menjadi alat untuk saling menguasai.</p>
<p>Persoalan mawaddah membawa kita kepada Emma Bovary dalam novel Madame Bovary karya Gustave Flaubert. Emma memasuki perkawinan dengan bayangan tentang cinta romantis, penuh gairah, dan sanggup mengubah kehidupan menjadi sesuatu yang istimewa. Akan tetapi, kehidupan bersama Charles Bovary tidak menghadirkan pengalaman sebagaimana yang ia bayangkan. Rutinitas domestik, kekecewaan, dan keinginannya terhadap kehidupan yang berbeda membentuk konflik yang semakin rumit.</p>
<p>Kisah Emma tentu tidak dapat diperlakukan sebagai rumus untuk memahami semua perkawinan. Ia adalah tokoh yang hidup dalam konteks sosial dan psikologis tertentu. Namun, melalui tokoh tersebut, kita dapat melihat jarak antara cinta sebagai bayangan dan cinta sebagai pengalaman. Manusia kadang-kadang mencintai bukan hanya seseorang yang hadir di hadapannya, melainkan juga gambaran tentang kehidupan yang diharapkannya melalui orang tersebut. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan gambaran itu, kekecewaan dapat tumbuh dari harapan yang sejak awal tidak pernah benar-benar diuji.</p>
<p>Mawaddah, dalam konteks ini, mengajak kita memikirkan cinta yang tidak berhenti pada daya tarik dan perasaan. Cinta memerlukan pengenalan, percakapan, serta kesediaan menerima kenyataan bahwa orang yang kita pilih tidak akan selalu sesuai dengan sosok yang kita bayangkan dalam pikiran. Kita dapat mengagumi seseorang, tetapi belum tentu memahami cara ia menghadapi kegagalan, mengelola kemarahan, memperlakukan orang lain, atau menyikapi perubahan. Pernikahan mempertemukan dua kehidupan yang masing-masing membawa sejarah, kebiasaan, luka, dan harapan yang tidak seluruhnya dapat diketahui pada masa berpacaran atau sebelum akad diucapkan.</p>
<p>Karena itu, mawaddah bukan jaminan bahwa hubungan akan selalu terasa indah. Mawaddah lebih dekat dengan upaya merawat kedekatan ketika kebaruan mulai memudar dan kehidupan sehari-hari menuntut perhatian. Ada cinta yang diuji oleh persoalan ekonomi, ada yang diuji oleh perbedaan cara berpikir, dan ada pula yang diuji oleh perubahan diri. Cinta tidak kehilangan makna ketika berhadapan dengan semua itu. Justru di sanalah manusia belajar membedakan antara keinginan untuk memiliki seseorang dan kesediaan untuk mengenalinya sebagai pribadi yang utuh.</p>
<p>Sementara itu, Pride and Prejudice karya Jane Austen memperlihatkan bahwa hubungan yang mengarah pada perkawinan juga membutuhkan keberanian untuk mengoreksi diri. Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy tidak serta-merta memahami satu sama lain dengan tepat. Penilaian, kebanggaan, dan prasangka turut membentuk cara mereka memandang orang lain. Hubungan keduanya berkembang ketika mereka mulai meninjau kembali anggapan yang sebelumnya dianggap benar.</p>
<p>Dalam pembacaan ini, rahmah dapat kita pahami sebagai kesediaan memberikan ruang bagi perubahan dan perbaikan. Kasih sayang tidak berarti membenarkan segala sesuatu yang dilakukan pasangan. Kasih sayang tidak menuntut seseorang mengabaikan ketidakadilan atau menanggung perlakuan buruk atas nama kesetiaan. Rahmah justru membutuhkan kejernihan untuk mengenali kesalahan, keberanian untuk mengakuinya, dan kemauan untuk memperbaiki cara memperlakukan orang lain. Memaafkan tidak menghapus tanggung jawab; memahami tidak berarti menyerahkan seluruh batas diri.</p>
<p>Ketiga karya tersebut memperlihatkan bahwa pernikahan tidak pernah sesederhana gambaran yang kita tempelkan pada hari perayaan. Ada persoalan kebebasan dalam kisah Sitti Nurbaya, ada jarak antara harapan dan kenyataan dalam kehidupan Emma Bovary, serta ada kebutuhan untuk mengoreksi prasangka dalam hubungan Elizabeth dan Darcy. Masing-masing karya menghadirkan dunia yang berbeda, tetapi semuanya mengajak kita melihat bahwa hubungan manusia dibentuk oleh lebih banyak hal daripada perasaan yang diucapkan.</p>
<p>Saya tidak bermaksud menjadikan sastra sebagai penjelasan langsung atas makna sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ketiganya memiliki landasan keagamaan yang perlu dihormati dalam konteksnya sendiri. Sastra menyediakan jalan lain untuk merenungkan bagaimana nilai-nilai tersebut berhadapan dengan pengalaman manusia: bagaimana ketenteraman dapat dirusak oleh kekuasaan, bagaimana cinta dapat tersesat dalam bayangan tentang kesempurnaan, dan bagaimana kasih sayang memerlukan kesediaan untuk belajar dari kekeliruan.<br />
Mungkin itulah yang perlu kita ingat ketika berdiri di hadapan pasangan pengantin dan mengucapkan doa. Kita tidak sedang memastikan bahwa kehidupan mereka kelak akan berjalan tanpa konflik. Kita juga tidak sedang menjanjikan bahwa cinta akan selalu hadir dalam bentuk yang sama. Kita sedang berharap agar mereka memiliki kebijaksanaan untuk menghadapi kehidupan yang tidak seluruhnya dapat direncanakan, keberanian untuk merawat hubungan tanpa menghilangkan martabat masing-masing, dan kesediaan untuk terus mengenali orang yang telah dipilihnya.</p>
<p>Sakinah, mawaddah, warahmah, dengan demikian, bukan tiga kata yang selesai ketika ucapan selamat diakhiri. Ketiganya dapat menjadi cakrawala etis bagi kehidupan bersama: ketenteraman yang tidak dibangun di atas ketakutan, cinta yang tidak berhenti pada bayangan, dan kasih sayang yang tidak memisahkan kelembutan dari tanggung jawab.</p>
<p>Di ruang pernikahan, kita mendoakan dua orang agar bahagia. Di ruang sastra, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak dapat dipahami hanya dari wajah yang tersenyum atau janji yang diucapkan. Ada kehidupan panjang yang menunggu untuk dijalani, ada perbedaan yang perlu ditafsirkan, dan ada diri yang harus terus diperiksa. Barangkali, doa yang paling sungguh-sungguh bukanlah doa yang menganggap perjalanan telah selesai, melainkan doa yang menyertai dua manusia ketika mereka mulai belajar hidup bersama.</p>
<p>Sebab, pernikahan bukan hanya peristiwa ketika dua orang dipertemukan di hadapan saksi. Pernikahan juga merupakan jalinan pengalaman ketika dua kehidupan berusaha membangun pengertian tanpa kehilangan jati diri masing-masing. Dan sastra, dengan segala kemungkinan tafsirnya, membantu kita memahami bahwa cinta yang matang bukanlah cinta yang terbebas dari persoalan, melainkan cinta yang bersedia menghadapi persoalan tanpa menjadikan manusia lain sebagai korban dari keinginannya sendiri.<br />
Bandung, 18 Oktober 2026</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>Penulis: Heri Isnaini</strong><br />
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Ia lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di berbagai media massa, baik daring maupun cetak. Ia dapat dihubungi melalui alamat email : heriisnaini.heriisnaini@gmail.com.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PETA AGAMA DUNIA 2026: Islam Tumbuh Paling Cepat, Bagaimana Komposisinya pada 2036?</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/sdgs/pendidikan-berkualitas/peta-agama-dunia-2026-islam-tumbuh-paling-cepat-bagaimana-komposisinya-pada-2036</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2026 23:37:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)]]></category>
		<category><![CDATA[Bagaimana Komposisinya pada 2036?]]></category>
		<category><![CDATA[PETA AGAMA DUNIA 2026: Islam Tumbuh Paling Cepat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12481</guid>

					<description><![CDATA[*(Oleh Dr. Satrio Arismunandar &#8211; Perubahan agama di dunia bukan sekadar persoalan jumlah orang yang memeluk suatu keyakinan. Di balik angka-angka statistik, terdapat perubahan demografi, tingkat kelahiran, struktur usia penduduk, migrasi, perpindahan agama, serta perkembangan sekularisasi di berbagai negara. Semua faktor itu ikut menentukan bagaimana peta agama dunia berubah dari satu dekade ke dekade berikutnya. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>*(Oleh Dr. Satrio Arismunandar</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Perubahan agama di dunia bukan sekadar persoalan jumlah orang yang memeluk suatu keyakinan. Di balik angka-angka statistik, terdapat perubahan demografi, tingkat kelahiran, struktur usia penduduk, migrasi, perpindahan agama, serta perkembangan sekularisasi di berbagai negara. Semua faktor itu ikut menentukan bagaimana peta agama dunia berubah dari satu dekade ke dekade berikutnya.</p>
<p>Salah satu pertanyaan yang menarik adalah: agama mana yang tumbuh paling cepat? Apakah Islam akan menjadi agama dengan jumlah pemeluk terbesar dalam sepuluh tahun mendatang? Bagaimana dengan Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi, dan kelompok yang tidak berafiliasi dengan agama, termasuk ateis dan agnostik?</p>
<p>Untuk menjawabnya, kita perlu membedakan data yang sudah terukur dari proyeksi masa depan. Rujukan komprehensif yang tersedia adalah laporan Pew Research Center yang diterbitkan pada Juni 2025, berdasarkan estimasi populasi agama dunia pada 2010 dan 2020. Jadi, angka global yang digunakan di sini menggambarkan kondisi 2020, bukan hasil sensus agama dunia pada 2026.</p>
<p><strong>Kristen masih terbesar, tetapi Islam semakin mendekat</strong></p>
<p>Pada 2020, umat Kristen diperkirakan berjumlah sekitar 2,3 miliar orang, atau 28,8 persen penduduk dunia. Dengan angka tersebut, Kristen masih menjadi kelompok agama terbesar secara global.</p>
<p>Islam berada di urutan kedua, dengan sekitar 2 miliar pemeluk atau 25,6 persen penduduk dunia. Selisihnya dengan Kristen semakin menyempit. Sementara itu, kelompok tanpa afiliasi agama mencapai sekitar 1,9 miliar orang, atau 24,2 persen populasi global. Kelompok terakhir ini mencakup orang yang tidak mengidentifikasi diri sebagai penganut agama tertentu, mulai dari ateis dan agnostik hingga orang yang sekadar menyatakan dirinya tidak beragama.</p>
<p>Di luar tiga kelompok besar tersebut, Hindu menempati posisi berikutnya. Pada 2020, pemeluk Hindu berjumlah sekitar 1,2 miliar orang, setara dengan 14,9 persen penduduk dunia. Mayoritasnya berada di India dan Nepal, meskipun komunitas Hindu juga tersebar di berbagai negara lain.</p>
<p>Buddha memiliki sekitar 324 juta pemeluk, atau 4,1 persen penduduk dunia. Agama dan kepercayaan tradisional, termasuk sejumlah kepercayaan lokal dan rakyat, mencakup sekitar 2,2 persen populasi. Sementara itu, kelompok agama lainnya secara keseluruhan diperkirakan sekitar 0,8 persen, dan umat Yahudi sekitar 0,2 persen atau kurang lebih 15 juta orang.</p>
<p>Angka-angka ini menunjukkan bahwa lanskap agama dunia tidak hanya terdiri atas persaingan antara Kristen dan Islam. Hindu tetap menjadi kekuatan demografis besar, Buddhisme memiliki basis penting terutama di Asia, sedangkan Yahudi dan berbagai agama minoritas memiliki jumlah pemeluk yang lebih kecil secara global, tetapi tetap mempunyai pengaruh historis dan kebudayaan yang signifikan. Persentase tersebut dibulatkan sehingga totalnya tidak selalu tepat 100 persen.</p>
<p>Islam menjadi agama besar dengan pertumbuhan tercepat</p>
<p>Di antara agama-agama besar dunia, Islam mencatat pertumbuhan demografis paling cepat dalam periode 2010–2020. Jumlah pemeluknya bertambah sekitar 347 juta orang, dari sekitar 1,7 miliar menjadi 2 miliar. Pertumbuhannya sekitar 21 persen, jauh di atas pertumbuhan penduduk dunia secara keseluruhan yang berada di kisaran 10 persen pada periode yang sama.</p>
<p><strong>Mengapa jumlah umat Islam bertambah begitu cepat?</strong></p>
<p>Penjelasan utamanya terletak pada demografi, bukan semata-mata perpindahan agama. Usia median Muslim dunia pada 2020 sekitar 24 tahun, sedangkan usia median penduduk non-Muslim sekitar 33 tahun. Artinya, populasi Muslim secara rata-rata lebih muda. Kelompok usia muda yang besar berarti lebih banyak orang memasuki usia menikah dan memiliki anak.</p>
<p>Faktor berikutnya adalah tingkat kelahiran. Dalam periode 2015–2020, perempuan Muslim diperkirakan memiliki rata-rata sekitar 2,9 anak sepanjang hidupnya, dibandingkan sekitar 2,2 anak pada perempuan non-Muslim. Perbedaan ini membantu menjelaskan mengapa populasi Muslim tumbuh lebih cepat daripada kelompok agama lain secara keseluruhan.</p>
<p>Pertumbuhan penduduk di sejumlah negara Afrika dan Asia juga berperan. Banyak negara di Afrika memiliki penduduk berusia muda dan tingkat kelahiran yang relatif tinggi. Di kawasan tersebut, jumlah Muslim bertambah, tetapi jumlah umat Kristen juga meningkat. Dengan demikian, pertumbuhan penduduk Afrika bukan hanya mengubah komposisi Islam, melainkan juga masa depan Kekristenan.</p>
<p>Apakah pertumbuhan Islam terutama disebabkan banyaknya orang yang berpindah agama? Data Pew menunjukkan bahwa perpindahan agama memiliki pengaruh jauh lebih kecil terhadap pertumbuhan populasi Muslim dunia dibandingkan faktor usia dan kelahiran. Ada orang yang masuk Islam, dan ada pula yang meninggalkannya, tetapi secara global pertumbuhan alami penduduk merupakan faktor yang lebih menentukan.</p>
<p>Meski demikian, tren tersebut bukan sesuatu yang akan berlangsung tanpa perubahan. Tingkat kelahiran di banyak negara Muslim juga mengalami penurunan seiring urbanisasi, peningkatan pendidikan, perubahan kondisi ekonomi, dan perubahan pola keluarga. Karena itu, pertumbuhan Islam pada masa depan kemungkinan tetap kuat, tetapi kecepatannya dapat berubah.</p>
<p><strong>Kristen bertambah, tetapi pangsanya menurun</strong></p>
<p>Kondisi umat Kristen memperlihatkan perbedaan penting antara pertumbuhan jumlah absolut dan pertumbuhan persentase.</p>
<p>Antara 2010 dan 2020, jumlah umat Kristen dunia justru bertambah sekitar 122 juta orang. Namun, pangsanya turun dari 30,6 persen menjadi 28,8 persen. Penyebabnya adalah pertumbuhan populasi Kristen tidak secepat pertumbuhan penduduk dunia dan populasi Muslim.</p>
<p>Selain faktor kelahiran, perubahan identitas agama juga berpengaruh. Di sejumlah negara Eropa dan Amerika Utara, semakin banyak orang yang dibesarkan dalam keluarga Kristen kemudian tidak lagi mengidentifikasi diri sebagai penganut Kristen ketika dewasa. Sebagian menyatakan dirinya tidak beragama, ateis, atau agnostik.</p>
<p>Fenomena ini dikenal sebagai religious disaffiliation, yakni pelepasan afiliasi agama. Proses tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan pangsa Kristen di beberapa masyarakat Barat.</p>
<p>Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa agama Kristen sedang menghilang. Pusat demografi Kekristenan semakin bergeser ke Afrika sub-Sahara, tempat populasi muda dan pertumbuhan penduduk turut memperbesar jumlah umat Kristen. Dengan kata lain, ketika afiliasi Kristen melemah di sebagian negara Barat, komunitas Kristen di sejumlah negara Afrika justru berkembang.</p>
<p>Hindu relatif stabil, Buddha menghadapi tekanan demografi</p>
<p>Hindu menunjukkan pola yang berbeda dari Islam maupun Kristen. Jumlah pemeluk Hindu bertambah selama 2010–2020, tetapi pangsanya relatif stabil, dari sekitar 14,9 persen penduduk dunia. Besarnya populasi Hindu terutama berkaitan dengan India, yang menjadi rumah bagi mayoritas pemeluk agama tersebut.</p>
<p>Ke depan, jumlah umat Hindu akan sangat dipengaruhi oleh perubahan demografi India, termasuk tingkat kelahiran, struktur usia, urbanisasi, dan perkembangan sosial-ekonomi. Karena itu, pertumbuhan jumlah pemeluk Hindu tidak harus diikuti kenaikan besar dalam persentase populasi dunia.</p>
<p>Buddhisme menghadapi tantangan yang berbeda. Jumlah pemeluk Buddha diperkirakan turun dari sekitar 343 juta orang pada 2010 menjadi 324 juta pada 2020. Dalam analisis Pew terhadap kelompok agama besar, Buddhisme merupakan satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan jumlah absolut pada periode tersebut.</p>
<p>Penurunan ini berkaitan dengan penduduk yang menua dan tingkat kelahiran yang rendah di sejumlah negara Asia Timur serta sebagian Asia Tenggara. Di beberapa tempat, perpindahan identitas agama ke kelompok tanpa afiliasi agama juga turut memengaruhi angka tersebut.</p>
<p>Jika tren ini berlanjut, pangsa Buddhisme dalam populasi dunia dapat menghadapi tekanan lebih lanjut. Namun, hal itu tidak otomatis berarti ajaran Buddha kehilangan pengaruh filosofis atau budayanya. Jumlah orang yang menyatakan diri sebagai pemeluk suatu agama tidak selalu sejalan dengan pengaruh ajaran tersebut dalam kehidupan masyarakat.</p>
<p>Bagaimana dengan Yahudi dan agama-agama lainnya?</p>
<p>Umat Yahudi diperkirakan berjumlah sekitar 15 juta orang pada 2020, atau 0,2 persen penduduk dunia. Secara proporsi, jumlah ini relatif kecil dibandingkan agama-agama besar lainnya. Namun, angka tersebut tidak mencerminkan keseluruhan pengaruh historis, intelektual, dan kebudayaan komunitas Yahudi.</p>
<p>Pertumbuhan populasi Yahudi dipengaruhi oleh faktor demografi, migrasi, perubahan identitas, dan kondisi khusus di negara-negara tempat komunitas Yahudi terkonsentrasi. Karena jumlah globalnya relatif kecil, perubahan populasi di beberapa negara dapat memberi dampak cukup terasa pada tingkat pertumbuhan keseluruhan.</p>
<p>Adapun agama-agama lain mencakup kelompok yang sangat beragam, seperti Sikh, Jain, Bahá&#8217;í, Shinto, Tao, dan berbagai tradisi keagamaan lokal. Tidak tepat memperlakukan semuanya sebagai satu komunitas dengan pola pertumbuhan yang sama. Ada yang memiliki basis kuat di negara tertentu, ada pula yang berkembang melalui migrasi dan komunitas diaspora.</p>
<p>Kepercayaan tradisional dan agama lokal juga tetap penting, meskipun jumlah pemeluknya sering lebih sulit dihitung. Dalam sejumlah masyarakat, seseorang dapat menjalankan tradisi leluhur sambil sekaligus mengidentifikasi diri dengan agama besar. Praktik keagamaan yang tumpang tindih seperti ini membuat statistik agama di sejumlah wilayah lebih rumit daripada sekadar menghitung satu identitas untuk setiap orang.</p>
<p>Apakah Islam akan menjadi agama terbesar pada 2036?</p>
<p>Pertanyaan ini tentu menarik, terutama karena selisih jumlah pemeluk Kristen dan Islam semakin kecil. Namun, kita perlu berhati-hati: belum tersedia proyeksi global resmi yang mutakhir dan lengkap dari Pew untuk menentukan komposisi semua agama secara pasti pada 2036 berdasarkan estimasi terbaru tahun 2020.</p>
<p>Meski demikian, arah perubahannya dapat diperkirakan dari faktor demografi yang telah diketahui. Islam berpeluang terus memperbesar pangsanya karena populasi Muslim relatif muda dan tingkat kelahirannya masih lebih tinggi dibandingkan penduduk non-Muslim secara keseluruhan. Akan tetapi, penurunan tingkat kelahiran di sejumlah negara dapat mengurangi laju pertumbuhannya.</p>
<p>Kristen kemungkinan tetap menjadi salah satu dari dua kelompok agama terbesar. Pertumbuhan di Afrika sub-Sahara dapat mengimbangi sebagian penurunan afiliasi di Eropa dan Amerika Utara. Hindu berpeluang mempertahankan porsi besar dalam populasi dunia, sedangkan Buddhisme menghadapi tantangan demografi di negara-negara dengan penduduk menua dan tingkat kelahiran rendah.</p>
<p>Untuk kelompok tanpa afiliasi agama, arah perubahannya lebih rumit. Di banyak negara Barat, jumlah orang yang tidak beragama meningkat akibat perubahan sosial dan perpindahan identitas. Namun, kelompok ini juga terkonsentrasi di negara-negara yang memiliki tingkat kelahiran rendah atau penduduk menua. Karena itu, peningkatan jumlah orang tanpa agama di beberapa negara belum tentu membuat pangsanya meningkat dengan kecepatan yang sama pada tingkat global.</p>
<p>Proyeksi Pew yang lebih lama, dengan titik awal 2010, memperkirakan bahwa pada 2050 Kristen akan mencakup sekitar 31 persen penduduk dunia dan Islam sekitar 30 persen. Kelompok tanpa afiliasi agama diproyeksikan sekitar 13 persen. Angka tersebut merupakan proyeksi lama, bukan prediksi resmi untuk 2036, dan perlu dibaca dengan mempertimbangkan perubahan data serta asumsi demografi sejak saat itu.</p>
<p>Karena itu, kesimpulan yang paling hati-hati adalah bahwa jarak antara Islam dan Kristen kemungkinan terus menyempit. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk memastikan bahwa Islam akan menjadi agama terbesar pada 2036.</p>
<p>Ateis, agnostik, dan kelompok tanpa agama: kekuatan yang tak bisa diabaikan</p>
<p>Di tengah pertumbuhan agama-agama besar, ada perkembangan lain yang tak kalah penting: meningkatnya jumlah orang yang tidak mengidentifikasi diri dengan agama tertentu di berbagai negara.</p>
<p>Ateis, agnostik, dan orang yang menyatakan dirinya tidak beragama sering dimasukkan dalam kategori statistik yang sama, yakni religiously unaffiliated atau tanpa afiliasi agama. Namun, ketiganya tidak identik.</p>
<p>Ateis umumnya tidak percaya pada keberadaan Tuhan atau dewa. Agnostik berpandangan bahwa keberadaan Tuhan tidak diketahui atau mungkin tidak dapat diketahui. Sementara itu, orang yang menyebut dirinya tidak beragama belum tentu ateis atau agnostik. Sebagian tetap percaya pada Tuhan, memiliki keyakinan spiritual, atau menjalankan praktik tertentu, tetapi tidak merasa terikat pada institusi agama.</p>
<p>Pada 2020, kelompok tanpa afiliasi agama berjumlah sekitar 1,9 miliar orang atau 24,2 persen penduduk dunia. Angka ini meningkat dari sekitar 23,3 persen pada 2010. Dengan demikian, kelompok tersebut hampir menyamai pangsa Islam dan mendekati pangsa Kristen, meskipun komposisinya sangat berbeda dari satu negara ke negara lain.</p>
<p>Di sebagian Eropa dan Amerika Utara, meningkatnya jumlah orang tanpa agama berkaitan dengan sekularisasi, melemahnya keterikatan pada lembaga keagamaan, perubahan nilai sosial, dan kecenderungan generasi muda untuk tidak mewarisi identitas agama orang tuanya.</p>
<p>Namun, sekularisasi tidak terjadi dengan kecepatan yang sama di seluruh dunia. Di beberapa negara, agama tetap menjadi bagian penting dari identitas keluarga, kehidupan sosial, dan politik. Di tempat lain, seseorang dapat menjauh dari institusi agama tanpa sepenuhnya meninggalkan keyakinan spiritual.</p>
<p>Karena itu, meningkatnya kelompok tanpa agama tidak otomatis berarti seluruh dunia sedang bergerak menuju ateisme. Data tersebut lebih tepat dibaca sebagai tanda bahwa hubungan manusia dengan agama menjadi semakin beragam.</p>
<p>Dunia masa depan: lebih religius atau lebih sekuler?</p>
<p>Jawabannya bergantung pada wilayah dan indikator yang digunakan.</p>
<p>Jika yang diukur adalah jumlah pemeluk, pertumbuhan penduduk di Afrika dan sejumlah negara Asia akan berperan besar dalam memperbesar populasi agama-agama besar. Islam dan Kristen sama-sama memperoleh keuntungan demografis dari populasi muda di berbagai negara berkembang.</p>
<p>Namun, jika yang diukur adalah identitas agama, praktik keagamaan, atau keterikatan pada lembaga agama, gambarnya bisa berbeda. Di sejumlah masyarakat maju, orang dapat semakin jarang menghadiri kegiatan keagamaan atau memilih tidak mengidentifikasi diri dengan agama, meskipun tradisi agama masih memiliki pengaruh dalam kebudayaan mereka.</p>
<p>Faktor demografi menjelaskan berapa banyak orang yang masuk dalam kategori agama tertentu, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan kedalaman iman, intensitas ibadah, tingkat toleransi, atau pengaruh agama dalam kebijakan publik. Begitu pula, tidak berafiliasi dengan agama tidak selalu berarti tidak memiliki nilai moral atau kehidupan spiritual.</p>
<p>Pada akhirnya, peta agama dunia pada 2036 kemungkinan akan memperlihatkan dua kecenderungan yang berjalan bersamaan. Di sejumlah wilayah, agama-agama besar tetap tumbuh karena dinamika demografi. Di wilayah lain, identitas nonreligius semakin menonjol karena perubahan sosial dan budaya.</p>
<p>Tantangan sesungguhnya bukan hanya menentukan agama mana yang memiliki pemeluk terbanyak. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat yang semakin beragam dapat hidup berdampingan, menjamin kebebasan berkeyakinan, serta mencegah perbedaan agama maupun ketiadaan agama menjadi alasan untuk saling merendahkan.</p>
<p>Sebab, angka populasi dapat menunjukkan arah perubahan dunia, tetapi tidak cukup untuk menentukan kualitas kemanusiaan di dalamnya.</p>
<p>Depok, 18 Oktober 2026</p>
<p>&#8211;<br />
<em>*(Satrio Arismunandar adalah lulusan S3 Filsafat FIB Universitas Indonesia. WA: 081286299061. </em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Reorientasi Spasial dan Rantai Kemiskinan Desa-Kota</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/lingkungan/reorientasi-spasial-dan-rantai-kemiskinan-desa-kota</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2026 15:38:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SDGs]]></category>
		<category><![CDATA[Mohammad Agung Ridlo]]></category>
		<category><![CDATA[Rantai Kemiskinan Desa - Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Reorientasi Spasial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=12462</guid>

					<description><![CDATA[Dapatkah Reorientasi Spasial Memutus Rantai Kemiskinan Desa-Kota? Oleh: Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T. &#8211; Masalah kemiskinan merupakan fenomena multidimensional yang menjadi tantangan mendasar dalam pembangunan nasional. Kemiskinan tidak sekadar dimaknai sebagai angka statistik kuantitatif, melainkan mencakup kompleksitas kualitas hidup manusia yang ditandai oleh tingginya tingkat pengangguran, keterbelakangan, ketimpangan sosial-ekonomi, serta terbatasnya akses terhadap pemenuhan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p>Dapatkah<strong> Reorientasi Spasial Memutus Rantai Kemiskinan Desa-Kota?</strong></p>
<p><strong>Oleh: </strong></p>
<p><strong>Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T.</strong></p>
<p>&#8211;</p>
<p>Masalah kemiskinan merupakan fenomena multidimensional yang menjadi tantangan mendasar dalam pembangunan nasional. Kemiskinan tidak sekadar dimaknai sebagai angka statistik kuantitatif, melainkan mencakup kompleksitas kualitas hidup manusia yang ditandai oleh tingginya tingkat pengangguran, keterbelakangan, ketimpangan sosial-ekonomi, serta terbatasnya akses terhadap pemenuhan kebutuhan dasar. Dalam diskursus pembangunan modern, kemiskinan kerap kali lahir sebagai dampak ikutan (<em>side effect</em>) dari strategi pertumbuhan ekonomi yang belum terdistribusi secara inklusif. Oleh karena itu, setiap formulasi kebijakan pembangunan nasional diwajibkan meletakkan agenda penanggulangan kemiskinan sebagai pijakan sentral.</p>
<p>Secara makro, Indonesia sebenarnya menunjukkan tren pemulihan ekonomi yang positif pascapandemi COVID-19. Jika pada September 2020 angka kemiskinan sempat melonjak hingga 10,19 persen atau setara 27,55 juta jiwa, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024 mencatat penurunan tingkat kemiskinan nasional menjadi 9,03 persen atau sekitar 25,22 juta jiwa. Kendati demikian, pencapaian positif tersebut masih menyisakan ketimpangan spasial yang mencolok, di mana tingkat kemiskinan di perdesaan tercatat masih relatif tinggi sebesar 11,79 persen, sedangkan di wilayah perkotaan berada pada angka 7,09 persen.</p>
<p>Disparitas wilayah ini kian diperparah oleh dinamika di sektor ketenagakerjaan. Berdasarkan data BPS per Agustus 2024, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional berada di angka 4,91 persen, yang berarti sekitar 7,47 juta jiwa dari total 152,11 juta angkatan kerja belum terserap secara optimal. Kondisi ini membuktikan bahwa penyerapan tenaga kerja usia produktif ke dalam sektor-sektor bernilai tambah tinggi masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi pemerintah.</p>
<p>Kemiskinan yang cenderung bertahan lama (<em>persistent poverty</em>) memperlihatkan adanya sumbatan struktural dan ketimpangan tata ruang yang belum terselesaikan. Permasalahan mendasar ini terbagi ke dalam empat rantai utama.</p>
<p>Pertama, ketimpangan sosial dan kesenjangan pendapatan. Indikator Gini Ratio nasional yang berada di kisaran 0,379 menandakan bahwa jurang pemisah antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi (Si Kaya) dan masyarakat berpenghasilan rendah (Si Miskin) masih cukup lebar.</p>
<p>Kedua, kerentanan masyarakat desa dan sektor agraris. Meskipun indikator Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) kerap menunjukkan peningkatan, pendapatan riil buruh tani dan nelayan di lapangan sering kali tergerus oleh laju inflasi bahan pokok dan kenaikan harga biaya input produksi (pupuk, bahan bakar, dan alat tangkap).</p>
<p>Ketiga, ketimpangan akses dan terjebaknya sektor informal. Masyarakat miskin perkotaan maupun perdesaan menghadapi keterbatasan akses terhadap kepemilikan aset produktif, permodalan, dan teknologi. Dampaknya, mereka kalah bersaing di pasar kerja formal dan terjebak menjadi buruh berupah rendah atau pekerja sektor informal tanpa perlindungan jaminan sosial.</p>
<p>Keempat, urbanisasi masif dan mekarnya kemiskinan perkotaan (<em>Urban Poverty</em>). Terkonsentrasinya pusat pertumbuhan ekonomi hanya di kota-kota besar (metropolitan) memicu migrasi penduduk desa ke kota. Ketidaksiapan kota besar dalam menyerap tenaga kerja unskill/semi-skilled berujung pada berkembangnya kawasan kumuh (<em>slums</em>) dan penumpukan beban kemiskinan di perkotaan.</p>
<p>Guna membedah kegagalan efek menetes ke bawah (<em>trickle-down effect</em>), dinamika kemiskinan di Indonesia dapat dianalisis secara komprehensif melalui perspektif teori struktural serta evaluasi ekonomi dari sisi makro dan mikro. Dari kacamata teori kemiskinan struktural, kemiskinan pada hakikatnya terjadi bukan akibat ketidakmauan atau kurangnya usaha individu, melainkan karena tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang menutup akses masyarakat bawah terhadap sumber daya produktif. Perspektif ini diperkuat oleh Teori Pusat-Pinggiran (<em>Core-Periphery Model</em>) dalam diskursus tata ruang, yang menjelaskan bagaimana wilayah perkotaan selaku pusat pertumbuhan terus menyedot sumber daya dari wilayah perdesaan di kawasan pinggiran tanpa memberikan redistribusi nilai tambah yang sepadan.</p>
<p>Ketimpangan struktural dan spasial tersebut kian diperjelas melalui evaluasi kebijakan ekonomi makro. Selama ini, strategi penanggulangan kemiskinan cenderung terlalu mengandalkan pendekatan dari atas ke bawah (<em>top-down</em>) yang berfokus murni pada pemacuan laju pertumbuhan ekonomi. Namun, orientasi pertumbuhan murni yang dibayangi oleh tantangan defisit anggaran serta ketidakmerataan distribusi pendapatan antardaerah terbukti gagal menetes secara otomatis hingga ke lapisan masyarakat terbawah, sehingga kebijakan perluasan lapangan kerja belum sepenuhnya presisi dalam menjangkau wilayah-wilayah yang menjadi kantong kemiskinan.</p>
<p>Sementara itu, pada tingkat ekonomi mikro, interaksi pasar sering kali merugikan masyarakat miskin akibat maraknya distorsi harga. Gejolak harga kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng, keterbatasan produksi pangan lokal, serta penentuan harga jual produk yang tidak mampu menutupi biaya peluang (<em>opportunity cost</em>) tenaga kerja secara terus-menerus menggerus daya beli (<em>purchasing power</em>) masyarakat bawah. Tanpa didukung oleh kepemilikan modal dan keahlian yang memadai, kelompok masyarakat rentan ini pada akhirnya selalu berada dalam posisi tawar (<em>bargaining power</em>) yang sangat lemah di dalam sistem perekonomian.</p>
<p>Guna memutus rantai kemiskinan secara sistemik dan rasional, pemerintah perlu melakukan reorientasi kebijakan yang berfokus pada pemerataan spasial dan pemberdayaan ekonomi lokal. Langkah ini diawali dengan memperkuat perekonomian perdesaan dan kota-kota kecil sebagai penyangga spasial dalam hierarki tata ruang kawasan, mulai dari wilayah metropolitan, kota besar, kota sedang, kota kecil, hingga perdesaan. Pembentukan pusat-pusat pertumbuhan baru (<em>growth centers)</em> di tingkat kota kecil akan memicu penyerapan tenaga kerja lokal, meningkatkan nilai tambah produk pertanian maupun perikanan, sekaligus menahan laju migrasi liar ke kota-kota besar sehingga permasalahan kemiskinan perkotaan (<em>urban poverty</em>) dapat diselesaikan secara mendasar dari hulunya.</p>
<p>Sejalan dengan penataan spasial tersebut, pemerintah juga harus menyesuaikan harga relatif faktor produksi agar industri di daerah lebih responsif terhadap biaya peluang (<em>opportunity cost</em>) modal dan tenaga kerja lokal. Orientasi investasi perlu digeser secara nyata ke sektor-sektor industri berbasis padat karya (<em>labor-intensive</em>) yang memiliki daya serap tinggi terhadap angkatan kerja berpendidikan rendah maupun setengah terdidik.</p>
<p>Upaya ini kemudian ditopang oleh pemberdayaan ekonomi kerakyatan serta perlindungan aset produktif bagi para pelaku UMKM, petani, dan nelayan. Bentuk dukungan konkret tersebut diwujudkan melalui kemudahan akses permodalan yang inklusif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan mikro, kepastian legalitas lahan melalui reformasi agraria, hingga pendampingan pelatihan manajemen dan digitalisasi agar usaha rakyat mampu naik kelas.</p>
<p>Sebagai penyempurna, kebijakan redistribusi pendapatan harus diharmonisasikan secara serasi antara jaring pengaman sosial dan program pemberdayaan. Meskipun bantuan sosial (<em>social safety net</em>) sangat penting sebagai bantalan jangka pendek untuk menjaga daya beli harian masyarakat bawah, intervensi ini wajib dipadukan dengan program pemberdayaan ekonomi (<em>social empowerment</em>) agar masyarakat tidak terjebak dalam pola ketergantungan pasif, melainkan mampu membina kemandirian ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.</p>
<p>Dengan demikian, kemiskinan bukanlah kenyataan abadi yang tidak dapat diselesaikan. Data objektif mengenai penurunan angka kemiskinan menjadi 9,03%, tingginya Gini Ratio di angka 0,379, serta ketimpangan persentase kemiskinan desa-kota (11,79% vs 7,09%) harus menjadi kompas utama bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang responsif dan presisi. Penanganan kemiskinan yang berkeadilan menuntut keselarasan antara pertumbuhan ekonomi makro yang stabil dan intervensi mikro yang tepat sasaran. Melalui penataan ruang berkelanjutan yang memprioritaskan kawasan perdesaan dan kota-kota kecil, penguatan sektor padat karya, serta jaminan aksesibilitas modal dan aset produktif bagi masyarakat bawah, Indonesia berpeluang besar menembus lingkaran kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan yang inklusif bagi seluruh rakyat. (Ed. LM-SAN)</p>
<hr />
<p><strong>Tentang Penulis</strong></p>
<hr />
<p>Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T., Ketua Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Fakultas Teknik Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Juga sebagai Sekretaris I Bidang Penataan Kota, Pemberdayaan Masyarakat Urban, Pengembangan Potensi Daerah, dan Pemanfaatan SDA, ICMI Orwil Jawa Tengah. Selain itu juga menjadi Ketua Bidang Teknologi Tradisional, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jawa Tengah.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
