<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerpen &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/category/cerpen/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Jul 2026 07:05:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>Cerpen &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Panggil Aku Tersangka </title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/refleksi/panggil-aku-tersangka</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2026 07:05:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Trending]]></category>
		<category><![CDATA[Unggulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ilhamdi Sulaiman]]></category>
		<category><![CDATA[Panggil Aku Tersangka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7617</guid>

					<description><![CDATA[Cerpen : Ilhamdi Sulaiman Matahari baru saja menaburkan panasnya. Sebuah teriakan terdengar memecahkan hari. &#8220;Maling&#8230;!&#8221; Suara itu lebih nyaring daripada azan subuh tadi pagi. Orang-orang berhamburan keluar rumah. Seorang lelaki tua berlari sambil memanggul tiga batang besi berkarat. Karung goni di punggungnya bergoyang. Sandalnya putus. Napasnya tersengal. Namanya Makmum. Ia belum sempat membuka mulut. Seseorang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Cerpen : Ilhamdi Sulaiman</strong></span></p>
<p>Matahari baru saja menaburkan panasnya. Sebuah teriakan terdengar memecahkan hari.<br />
&#8220;Maling&#8230;!&#8221;<br />
Suara itu lebih nyaring daripada azan subuh tadi pagi.<br />
Orang-orang berhamburan keluar rumah.<br />
Seorang lelaki tua berlari sambil memanggul tiga batang besi berkarat. Karung goni di punggungnya bergoyang. Sandalnya putus. Napasnya tersengal.<br />
Namanya Makmum.<br />
Ia belum sempat membuka mulut.<br />
Seseorang sudah lebih dulu menarik karungnya.<br />
Yang lain menendang lututnya hingga ia jatuh.<br />
Telepon-telepon genggam terangkat bergegas mengambil video,niatnya mereka viralkan.<br />
&#8220;Itu dia malingnya!&#8221;<br />
&#8220;Jangan lepas!&#8221;<br />
&#8220;Pukul saja!&#8221;<br />
Tak ada seorang pun bertanya.<br />
Tak ada seorang pun ingin mendengar.<br />
Sebuah kata telah lebih dulu menjatuhkan putusannya.</p>
<p>Makmum tinggal di sebuah gubuk sempit di pinggir rel kereta yang telah lama mati. Atap sengnya bocor. Bila hujan turun, ia dan istrinya memindahkan ember dari satu sudut ke sudut lain seperti sedang memainkan permainan yang tak pernah selesai.<br />
Istrinya, Ramlah, telah bertahun-tahun bergantung pada obat yang sering kali hanya bisa dibeli separuh dari resep dokter.<br />
Makmum tidak pernah mengeluh.<br />
Setiap subuh ia memanggul karung.<br />
Ia menyusuri proyek-proyek yang ditinggalkan, gudang-gudang tua, dan bangunan yang tinggal rangka.<br />
Ia memungut baut, mur, potongan seng, kawat, dan besi yang telah dilupakan pemiliknya.<br />
Bagi orang lain, itu sampah.<br />
Bagi Makmum, itu nasi.<br />
Itu obat.<br />
Itu umur yang diperpanjang sehari lagi.<br />
Ia hafal harga besi tua sampai rupiah terakhir.<br />
Namun ia tidak pernah hafal bunyi pasal-pasal hukum.<br />
Kemiskinan tidak memberi banyak waktu untuk belajar selain cara bertahan hidup.<br />
Pagi itu keberuntungan seolah berpihak kepadanya.<br />
Di belakang sebuah proyek yang terbengkalai berbulan-bulan, ia menemukan tiga batang besi berkarat tertutup ilalang.<br />
Tak ada pekerja.<br />
Tak ada mandor.<br />
Tak ada papan larangan.<br />
Ia menunggu beberapa menit.<br />
Burung pipit bahkan lebih berani mendekati besi itu daripada manusia.<br />
Makmum mengangkatnya perlahan ke pundak.<br />
&#8220;Alhamdulillah,&#8221; gumamnya.<br />
&#8220;Dua hari kami bisa makan.&#8221;<br />
Belum seratus langkah ia berjalan, suara itu datang.<br />
&#8220;Maling!&#8221;<br />
Seseorang menunjuk ke arahnya.<br />
Entah siapa yang pertama berteriak, tak ada yang pernah tahu.<br />
Tetapi seperti api yang menemukan rumput kering, teriakan itu segera membesar.<br />
&#8220;Maling!&#8221;<br />
&#8220;Maling besi!&#8221;<br />
Dalam hitungan detik gang sempit berubah menjadi ruang sidang.<br />
Seorang pemuda menampar pipinya.<br />
Yang lain menendang perutnya.<br />
Seorang ibu memaki sambil menarik anaknya menjauh.<br />
Anak-anak ikut berteriak meski tak mengerti apa yang sedang terjadi.<br />
Makmum mencoba menjelaskan.<br />
&#8220;Itu&#8230; besi bekas&#8230;.&#8221;<br />
Sebuah pukulan mematahkan kalimatnya.<br />
Darah mengalir dari pelipis.<br />
Karung goninya disobek.<br />
Tiga batang besi itu jatuh bergemerincing ke jalan.<br />
Suara besi beradu dengan aspal terdengar lebih jujur daripada mulut manusia.<br />
Di televisi, berita masih berlangsung.<br />
Penyiar  membacakan berita.<br />
&#8220;Lelaki berkemeja putih yang tempat usaha dan rumahnya baru saja digeledah polisi menyatakan akan menghormati seluruh proses hukum.&#8221;<br />
Kata proses hukum  terdengar begitu mulia.<br />
Sementara di gang kecil itu, hukum telah selesai bahkan sebelum polisi datang ke lokasi peristiwa.<br />
Tak ada penyelidikan.<br />
Tak ada pembelaan.<br />
Tak ada asas praduga tak bersalah.<br />
Yang ada hanya keyakinan bahwa orang miskin selalu lebih mudah dipercaya sebagai pelaku.</p>
<p>Seorang lelaki mengikat tangan Makmum dengan tali rafia.<br />
&#8220;Serahkan ke polisi.&#8221;<br />
&#8220;Kalau begini baru kapok.&#8221;<br />
Yang lain mengangguk puas.<br />
Mereka merasa telah menyelamatkan dunia.<br />
Padahal yang mereka selamatkan hanyalah prasangka mereka sendiri.<br />
Mobil patroli datang beberapa menit kemudian.<br />
Dua polisi turun.<br />
Kerumunan segera menjelaskan dengan suara saling bertumpuk untuk didengar.<br />
&#8220;Ketangkap basah.&#8221;<br />
&#8220;Mau bawa besi.&#8221;<br />
&#8220;Pasti sudah sering.&#8221;<br />
Polisi memandang Makmum yang wajahnya penuh darah.<br />
&#8220;Ada yang melihat dia mencuri?&#8221;<br />
Orang-orang saling menoleh.<br />
Tak ada jawaban.<br />
&#8220;Hilangnya dimana?&#8221;<br />
Sunyi.<br />
&#8220;Pemilik besinya siapa?&#8221;<br />
Sunyi kembali.<br />
Tetapi kesunyian tidak mengubah keyakinan mereka.<br />
Di mata mereka, wajah lusuh Makmum sudah cukup menjadi alat bukti.<br />
Polisi akhirnya membawa Makmum ke mobil.<br />
Saat pintu ditutup, ia sempat menoleh ke arah warung kopi.<br />
Televisi masih menyala.<br />
Penyiar masih mengulang kalimat yang sama.</p>
<p>&#8220;Status lelaki berkemeja putih itu masih sebagai tersangka. Masyarakat diminta mengedepankan asas praduga tak bersalah.&#8221;</p>
<p>Makmum memejamkan mata.<br />
Sepanjang hidupnya, baru kali itu ia menyadari bahwa sebuah kata dapat menjadi  melindungi untuk  seseorang.</p>
<p>Mobil polisi bergerak perlahan meninggalkan gang.<br />
Di belakangnya, anak-anak masih berteriak,<br />
&#8220;Maling&#8230;!&#8221;<br />
Suara mereka mengejar hingga lama, seolah lebih cepat daripada hukum itu sendiri.</p>
<p>Kantor polisi itu tidak besar.<br />
Cat dindingnya kusam. Kipas angin di langit-langit berputar lambat, mengaduk udara yang pengap.<br />
Makmum duduk di bangku kayu.<br />
Bibirnya pecah.<br />
Pelipisnya masih mengeringkan darah.<br />
Seorang penyidik membuka map tipis.<br />
&#8220;Nama?&#8221;<br />
&#8220;Makmum.&#8221;<br />
&#8220;Umur?&#8221;<br />
&#8220;Lima puluh delapan.&#8221;<br />
&#8220;Pekerjaan?&#8221;<br />
&#8220;Pemulung besi.&#8221;<br />
Penyidik mengangguk tanpa mengangkat kepala.<br />
&#8220;Kenapa mengambil besi itu?&#8221;<br />
Makmum menelan ludah.<br />
&#8220;Saya kira sudah dibuang.&#8221;<br />
&#8220;Kira-kira bukan jawaban hukum.&#8221;<br />
Makmum terdiam.<br />
Ia tak mengerti mengapa orang yang hidup dari barang buangan harus belajar bahasa hukum, sementara orang-orang yang memukulnya tak perlu belajar hukum untuk memukulnya.</p>
<p>Di rumah, Ramlah duduk di depan pintu.<br />
Ia menunggu.<br />
Bukan menunggu suaminya pulang.<br />
Melainkan menunggu seseorang membawa kabar yang lebih baik daripada desas-desus.<br />
Yang datang justru tetangga.<br />
&#8220;Makmum ditangkap.&#8221;<br />
&#8220;Katanya mencuri.&#8221;<br />
&#8220;Memalukan juga, ya.&#8221;<br />
Ramlah hanya tersenyum tipis.</p>
<p>Menjelang sore, seorang anak melempar batu kecil ke atap seng.<br />
&#8220;Lihat! Rumah maling!&#8221;<br />
Anak-anak lain tertawa.<br />
Ramlah menutup pintu.<br />
Bukan karena takut.<br />
Melainkan karena tak ingin tangisnya menjadi hiburan.<br />
Sementara itu, di televisi, lelaki berkemeja putih keluar dari sebuah gedung pemeriksaan.<br />
Wartawan mengerubunginya.<br />
&#8220;Bagaimana tanggapan Anda?&#8221;<br />
Ia tersenyum.<br />
&#8220;Saya menghormati proses hukum.&#8221;<br />
&#8220;Apakah Anda yakin tidak bersalah?&#8221;<br />
&#8220;Saya menyerahkan semuanya kepada pengadilan.&#8221;<br />
Kata-kata itu segera memenuhi layar.<br />
Malam itu para pengamat hukum diundang ke studio televisi.<br />
Mereka berbicara tentang asas praduga tak bersalah.<br />
Tentang hak setiap warga negara.<br />
Tentang pentingnya tidak menghakimi sebelum ada putusan hakim.</p>
<p>Keesokan harinya, dua penyidik mendatangi lokasi tempat Makmum mengambil besi.<br />
Rumput tumbuh setinggi lutut.<br />
Bangunan itu tinggal kerangka beton.<br />
Tak ada pekerja.<br />
Tak ada penjaga.<br />
Mereka mencari mandor proyek.<br />
Sudah pindah.<br />
Mereka mencari pemilik perusahaan.<br />
Nomor teleponnya berkali-kali tidak aktif.<br />
Baru menjelang sore seseorang mengangkat telepon.<br />
&#8220;Oh, besi-besi bekas itu?&#8221;<br />
Suara di seberang terdengar santai.<br />
&#8220;Kalau masih ada, silahkan saja. Memang sudah tidak dipakai.&#8221;<br />
Penyidik saling berpandangan.<br />
Mereka menatap foto barang bukti.<br />
Tiga batang besi berkarat.<br />
Nilainya bahkan tidak cukup untuk membeli seratus liter pertamax .</p>
<p>Makmum dibebaskan pada hari ketiga.<br />
Tak ada laporan kehilangan.<br />
Tak ada saksi yang melihat pencurian.<br />
Tak ada bukti bahwa besi itu masih menjadi milik siapa pun.<br />
Secara hukum, perkara selesai.<br />
Namun hukum hanya membuka pintu sel tahanan.<br />
Tidak membuka pintu hati manusia.<br />
Saat Makmum pulang, beberapa orang yang dulu memukulnya sedang bermain domino.<br />
Mereka melihatnya lewat.<br />
Tak seorang pun meminta maaf.<br />
Tak seorang pun merasa bersalah.<br />
Seorang hanya berbisik,<br />
&#8220;Untung saja dilepas.&#8221;<br />
Yang lain menjawab,<br />
&#8220;Bukan berarti dia bersih.&#8221;<br />
Makmum terus berjalan.<br />
Kadang-kadang fitnah tidak membutuhkan bukti.</p>
<p>Malam itu hujan turun.<br />
Air menetes dari atap seng.<br />
Ramlah menyuguhkan nasi dengan garam dan cabai.<br />
Hanya itu yang tersisa.<br />
&#8220;Kau tidak apa-apa?&#8221; tanya Ramlah.<br />
Makmum mengangguk.<br />
&#8220;Tadi polisi bilang aku tidak bersalah.&#8221;<br />
&#8220;Itu kabar baik.&#8221;<br />
Makmum tersenyum hambar.<br />
&#8220;Kabar baik untuk siapa?&#8221;<br />
Ramlah tidak menjawab.<br />
Mereka makan dalam diam.<br />
Di luar, suara televisi dari rumah tetangga terdengar samar.<br />
&#8220;&#8230;lelaki berkemeja putih itu kembali menegaskan komitmennya untuk mengikuti seluruh proses hukum&#8230;.&#8221;<br />
Makmum mengangkat wajah.<br />
&#8220;Ram&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Iya?&#8221;<br />
&#8220;Kalau orang kaya belum tentu bersalah sebelum diputus hakim&#8230;&#8221;<br />
Ramlah menatap suaminya.<br />
&#8220;&#8230;kenapa orang miskin sudah bersalah sejak diteriaki maling?&#8221;<br />
Tak ada jawaban.<br />
Hanya bunyi hujan yang jatuh di atas seng.<br />
Sejak hari itu Makmum kembali memanggul karung.<br />
Perut tidak mengenal rasa malu.<br />
Ia kembali mencari besi tua.<br />
Namun setiap kali melewati gang, anak-anak masih berbisik,<br />
&#8220;Itu maling besi.&#8221;<br />
Makmum tak pernah menoleh.<br />
Ia sadar, polisi dapat mencabut borgol dari tangannya.<br />
Tetapi tak ada yang mampu mencabut cap dari mulut manusia.<br />
Dan sejak saat itu ia mengerti satu hal, pengadilan yang paling kejam bukanlah yang berada di gedung megah dengan lambang timbangan di dindingnya.<br />
Pengadilan yang paling kejam adalah yang berlangsung di kepala manusia manusia.<br />
&#8220;Kalau besok kalian melihat aku membawa besi lagi&#8230; jangan buru-buru memanggilku maling. Panggil saja aku tersangka.&#8221;<br />
Makmum melangkah pergi.<br />
Karung goninya bergoyang di punggung, semakin kecil di ujung jalan.<br />
Di warung itu, televisi masih sibuk membicarakan hukum.<br />
Tak seorang pun menyadari bahwa yang paling keras mengadili bukan pengadilan,<br />
Tapi rakyat miskin.</p>
<p>Jakarta,13 Juli 2026.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
